Aku hanyalah seorang yang beruntung bisa memilikinya

Begitu beruntung hingga rasa cintaku berubah menjadi 'Keobsesian'

Tak rela jika dirinya berbicara dengan orang lain

Tak rela jika dirinya tertawa dengan orang lain

Tak rela jika dirinya dekat dengan orang lain

Tak rela jika dirinya berpelukan dengan orang lain

Hingga tanpa kusadari aku telah menyakitinya

Menyakitinya terlalu dalam….

.

.

®KyuMinHyuk1019

Present

.

.

Ego

Author : KyuMinHyuk1019

Main cast :

Lee Minhyuk

Yook Sung Jae

Other cast : all member BtoB dan beberapa tambahan lainnya

Rating : T (untuk sementara)

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Summary : Lee Minhyuk, sosok yang sangat membenci ayahnya terpaksa menerima perjodohannya dengan seorang guru baru berparas tampan namun dingin di Sekolahnya. Akankah keberuntungan berpihak padanya? /Yaoi/AU/author newbie/OOC/

Disclaimer : BtoB punya Cube Entertainment, punya melody, punya orang tua masing-masing. Author hanya meminjam mereka sebagai cast dan ff ini murni punya saya. Meskipun saya berharap kalo mereka juga jadi milik saya/plakk/

Warning : Yaoi, AU, OOC, typo(s)

a/n : sebelumnya, saya mau minta maaf sama readerdeul semua. Ada kesalahan di chapter 3 kemaren. harusnya Love at first sight malah author tulis Love at first time. Mianhae ne?

Previous Chapter :

Tanpa berfikir panjang, Sung Jae mendudukkan dirinya diatas bangku tanpa menyadari kejanggalan disana. Membuat kelima siswa 'nakal' itu terkikik menahan tawa.

"buka halaman 79, kita akan mempelajari kembali tentang Logaritma" perintahnya sambil mengambil sebuah spidol dan berdiri hendak menerangkan, namun….

Krakk….

"hahahahahhhaaaa….."

"kalian berlima, keluar dari kelasku sekarang!"

.

.

Part 4 of ?

"huahaahahahahahahaha lihat saja tadi ekspresinya" kikik Minhyuk

"hahahaha kau benar Minhyuk hyung, ekspresinya tadi seperti induk ayam yang telurnya dicuri seekor burung gagak"

"hahaha…. Kau ada-ada saja Hyunsik"

Lima 'bocah' nakal itu masih saja tertawa tanpa henti. Hey, bukankah 'prestasi' yang mengagumkan bisa membuat guru killer macam Yook Seongsaeng malu?

"eh karena kalian sudah membantuku mengerjai Yook Songsaeng, aku akan mentraktir kalian semua makan di kantin" seru Minhyuk pada keempat temannya

"yeay! Gomawo Minhyukie~"

.

.

.

Sementara itu….

"Aishh…. Dasar bocah nakal! Bagaimana ini?" keluh Sung Jae sambil memperhatikan celana hitam miliknya yang dipenuhi dengan lendir berwarna kuning kecoklatan itu.

"mana tebal lagi, Aish…. Telpon eomma saja lah." Putusnya merogoh ponsel hitam miliknya

"Tapi, kalau telpon eomma bisa-bisa diketawain" lanjut Sung Jae mengurungkan niatnya

"Aish… eotokhae?" bingungnya sambil berjalan kesana kemari

Setelah beberapa lama...

"aish…. Telpon sajalah" putusnya

Tuutt…. Tutt….

"yeoboseyo Sungie~ waeyo?"

"yeoboseyo eomma, bisakah eomma menyuruh pak Kim mengambilkan celana kain hitam di almariku?"

"memangnya ada apa dengan celanamu chagi?"

"terjadi bencana dengan celanaku eomma"

"eh? Bencana? Apa maksudmu?"

" 'dia' dan teman-temannya baru saja mengerjaiku eomma"

"maksudmu Minhyuk?"

"Ye"

"apa yang dilakukannya?"

"berjanjilah eomma tidak akan tertawa jika aku menceritakannya"

"eum…. baiklah chagi. Ceritakanlah"

Dan diceritakanlah semua 'bencana' yang baru dialami Sung Jae pada sang eomma, namun setelah cerita itu selesai….

"huahahahahahahhhaaa"

"eomma kau berjanji tidak akan menertawakanku!"

"hahaha…. Habis eomma tidak bisa membayangkan ekspresi putra eomma ini"

"Ya eomma!"

"baiklah…. Baiklah…. Eomma akan berhenti tertawa, lalu apa yang kau lakukan setelah mengusir Minhyuk dan teman-temannya dari kelas?"

"aku memberi mereka –siswa yang masih ada di dalam kelas- tugas, kemudian keluar dari kelas. Untung saja aku menggunakan ransel yang ya… setidaknya bisa menutupi bagian belakang celanaku"

" hahahahahha…. Minhyuk dan teman-temannya memang hebat"

"berhentilah tertawa eomma"

"Lalu sekarang kau ada dimana?"

"aku sedang berada di toilet guru eomma, minta Pak Kim mengantarkannya kemari"

"baiklah akan eomma sampaikan"

"gomawo eomma"

"cheonma sayang"

Pipp

Dengan ditutupnya percakapan itu lewat ucapan terima kasih, berakhir pula lah sesi bercerita antara ibu dan putra laki-lakinya itu. Membuat sang putra meruntuki nasibnya hari ini yang begitu tidak mengenakkan.

"lihat saja Lee, pembalasan akan segera datang"

.

.

.


.

.

"kau yakin mau pindah sekolah Gayoon~ah? Eomma rasa sekolahmu yang sekarang lebih bagus daripada sekolah namja tengil itu" Tanya Hyunna saat sang putri tengah mengganti baju hendak pergi mengurus kepindahannya

"aku yakin eomma. Kau tidak tau seberapa aku menyukai Yook Sung Jae itu. Tak akan kubiarkan Minhyuk tengil itu mengambilnya dariku" jawab Gayoon sambil merapikan bajunya

"baiklah, terserahmu saja. Eomma mendukungmu" ucap Hyunna

"oh ya eomma, apa eomma tau alasan appa menjadikan Minhyuk tengil itu tunangan Sung Jae oppa?"

"entahlah sayang, eomma juga tidak tau. Appamu selalu mengalihkan pembicaraan jika eomma menanyakannya"

"aku rasa ada yang ditutupi appa"

"eomma rasa juga begitu sayang"

"sudahlah aku berangkat dulu eomma"

"eum…. Hati-hati sayang, jangan lupa nanti sore kita shopping bersama. Eomma rasa baju kita sudah ketinggalan jaman sekali, kau mau kan?"

"dengan senang hati eommaku sayang~"

.

.


.

.

Tok…. Tok…. Tok….

"masuklah"

Cklek….

"maaf Yook Seongsaeng, saya diminta Kang Seongsaeng untuk memberikan dokumen ini kepada anda" ujar salah seorang staf sambil memberikan dokumen yang terlindung dalam balutan map berwarna merah.

"terima kasih Han-ssi maaf merepotkan"

"tidak apa-apa Yook seongsaeng saya tidak merasa direpotkan, lagi pula karena kelas XII E sekarang sudah berpindah menjadi tanggung jawab anda"

"eum…. Terima kasih. Apakah semua dokumen mereka sudah ada disini?"

"ya semua dokumen siswa kelas XII E selama lima semester ada disana."

"terima kasih Han-ssi"

"ne, saya permisi dulu seongsaeng"

"ne"

Satu, dua, tiga, dokumen sudah dipelajari Sung Jae, mempelajari beberapa dokumen prestasi belajar milik kelas yang dipegangnya itu tak lebih dari lima menit per dokumen. Sung Jae berhenti di satu nama yang membuatnya membuka matanya lebar-lebar. Lee Minhyuk.

Setelah beberapa menit Sung Jae masih membolak-balikkan dokumen yang ada digenggamannya, tak percaya dengan apa yang dibacanya saat ini. Selama dua puluh satu tahun dia hidup, dia tak pernah dan belum pernah menemui kasus seperti ini. Satu pertanyaan yang ada dibenaknya, Apa sebegitu bodoh namja'nya' itu hingga selalu mendapat nilai kurang dari lima setiap kali ulangan Matematika berlangsung?

Sung Jae menjentikkan jarinya saat menyadari sesuatu. 'Ah…. Sepertinya aku mendapat cara untuk membalasmu Lee'

.

.

Seperti biasa, Minhyuk memasuki masion keluarga Lee dengan langkah gontai. Entah mengapa setiap menginjak lantai mansion mewah itu neraka yang ada di dalam bayangannya. Seperti saat ini, dia ditunjukkan dengan pemandangan yang sukses membuatnya ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Tanpa memperdulikan tatapan Appanya, Minhyuk terus melangkah menuju kamar pribadinya.

"Lee Minhyuk, ada yang ingin appa katakan!"

Mendengar ucapan sang Appa membuat Minhyuk menghentikan langkahnya tanpa menatap sang appa.

"setidaknya duduklah dulu Minhyuk~ah, Appamu ingin bicara sesuatu" perintah Hyunna

"apakah aku harus menurutimu?"

"apa maksudmu? Tentu saja kau harus menurutiku. Aku ini eommamu"

"eomma kau bilang? Kau bukan eommaku. Eommaku sedang di rumah sakit. Bukankah kau sendiri yang memintanya?"

"LEE MINHYUK! JANGAN MEMBUATKU MEMBERI TANDA TANGAN DI PIPIMU! AKU SEDANG TIDAK INGIN MENGOTORI TANGANKU!"

"cih! Bukankah tanganmu itu sudah kotor APPA?"

"sudahlah yeobo~"

"sudah katakan saja apa yang ingin kau katakan Appa, aku ingin segera beristirahat"

"besok pergilah ke sekolah dengan yeodongsaengmu. Mulai besok dia akan bersekolah ditempat yang sama denganmu"

"bukankah menurut kalian sekolahnya lebih baik daripada sekolahku?"

"entahlah ini kenginginannya"

"baiklah…. –

-jika aku tidak lupa"

.

.

.

.


.

Keesokkan harinya….

Minhyuk berjalan menuju taman sekolah mendekati segerombolan namja yang bisa dipastikan gengnya, hari ini dia sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari yeoja ulat yang berstatus sebagai yeodongsaengnya itu. Kedua sudut bibirnya tertarik kala salah satu temannya melambaikan tangan menyadari keberadaannya. Namun senyumnya lenyap kala mendapati sosok yeoja yang dihindarinya berada ditengah teman-temannya. Mengerti arti tatapan teman-temannya yang berkata –tolong-kami- atau bawa-yeoja-ini-pergi-dari-sini- membuat Minhyuk semakin mempercepat langkahnya.

"apa yang kau lakukan disini?" tanyanya

"bukankah Appa dan Eomma sudah memberitahu kalau mulai hari ini aku bersekolah disini?" ucap Gayoon -sok- polos

"aku tahu itu, maksudku apa yang kau lakukan ditengah teman-temanku?"

"aku hanya ingin mengakrabkan diri saja kok. Lagipula oppa kan jarang mengajak teman-teman oppa ke rumah"

"asal kau tahu saja ya, mereka itu risih denganmu. Kau pikir hanya aku saja yang mengetahui sifat aslimu itu, mereka juga tau"

"oppa~"

"hah…. Sudah sana ke kelasmu kurasa kau tidak inginkan tidak memiliki 'teman' disini kan?"

Dan dengan ekspresi yang dibuat-buat Gayoon meninggalkan tempat itu dan melangkah menuju kelasnya, menyisakan kelegaan bagi keempat teman Minhyuk.

"huft…. Beruntung kau cepat datang, kalau tidak entah bagaimana nasib kami" ucap Eunkwang menghela nafas

"ihh…. Kau benar hyung" setuju Peniel

"ada apa denganmu Peniel~ah?" Tanya Minhyuk

"Asal kau tau saja hyung, Peniel baru saja mendapat belaian dari yeoja ulat itu" jawab Hyunsik sambil bergidik ngeri

"Ya! Jangan membahasnya lagi!"

"baiklah…. Baiklah…. Bagaimana jika kita ke kantin?" tawar Hyunsik

"kajja!"

.

.

.

Sung Jae menatap kosong berkas ditangannya, pikirannya melayang menuju kejadian tadi pagi, saat dirinya melewati taman sekolah.

'kenapa dia begitu tega membentak yeodongsaengnya seperti itu?' pikirnya.

Teng…. Teng…. Teng….

Bel masuk telah berbunyi sudah waktunya Sung Jae memasuki kelas yang akan diajarnya, kelas XII E. Dengan segera dia merapikan bahan ajarnya dan melangkah menuju kelas yang terkenal akan kenakalannya itu.

.

Suasana kelas riuh seperti biasa, namun kelima namja 'icon' kelas XII E itu masih berada dalam naungan mimpi indah mereka. Dan seperti biasa pula, kelas akan sepi, tegang, dan menakutkan kala sang guru matematika memasuki kelas dan memulai pelajarannya. Seperti saat ini, Sung Jae memasuki kelas dengan aura kelam yang menyelubunginya.

Bukan pemandangan yang Langka bagi Sung Jae saat menemukan kelima siswa 'kesayangannya' itu tertidur dalam kelasnya, terlalu sering malah. Dan seperti hari-hari sebelumnya, dengan 'sedikit' tindakan kelima siswa itu akan terbangun. Dan….

Satu….

Dua….

Tiga….

Byurrr….

"Hua!"

Berbekal seember bekas mengepel lantai –yang baru saja digunakan- diteras kelas, Sung Jae sukses membuat kelima siswa 'tersayangnya' itu terbangun dari mimpi indah mereka.

"sudah puas bermimpinya?" ucap Sung Jae –sedikit- sinis

"Y-Yook seongsaeng-"

"keluar dari kelas saya dan temui saya ketika istirahat nanti" perintah Sung Jae mutlak

"nde seongsaeng"

Kelima siswa itu keluar kelas dengan wajah yang –dibuat- bersedih, berbeda dengan isi hati mereka yang sedang berpesta karena terlepas dari 'tempat mengerikan' bak neraka itu.

.

.

Setelah dua jam pelajaran mengajar kelas Minhyuk, Sung Jae melangkahkan kakinya menuju ruangannya yang berada tak jauh dari kelas Minhyuk. Dikeluarkannya kunci daun pintu berwarna coklat kehitaman itu….

Ckrek….

Dengan santai Sung Jae berjalan memasuki ruangan yang cukup luas itu, namun langkahnya terhenti kala sepasang lengan merengkuh tubuhnya dari belakang….

"Sung Jae Oppa~"

Eh?

.

.

.


.

Seorang namja berparas tampan namun 'sedikit' manis dan imut sedang duduk bersantai di teras mansion mewahnya, Jangan lupakan sebuah majalah bisnis yang berada dalam kedua gengaman telapak tangannya. Namun kegiatannya terhenti kala mendengar suara eommanya….

"kau yakin mau mengurusi cabang yang ada di Korea sendiri sayang?" Tanya sang eomma

Si namja tersenyum simpul "Nde eomma. Selain menemani Sohyun belajar disana, aku ingin membuktikan pada appa dan eomma hasil belajarku selama ini. Lagipula aku merindukan tanah kelahiranku itu" jawabnya

"baiklah kalau itu maumu. Eomma akan menyusul jika pekerjaan appamu sudah selesai"

"gomawo eomma"

"oh iya, kapan kau dan dongsaengmu akan berangkat?"

"mungkin seminggu lagi eomma, aku harus mempersiapkan semuanya dengan baik"

"baiklah kalau itu maumu, kalau begitu eomma tinggal ne? eomma harus menghubungi appamu dan membicarakan ini dengannya"

"nde, gomawo eomma~ saranghae~"

"nado saranghae chagi~"

'Korea, aku datang'

.

.

.


.

"seharusnya kau tidak boleh melakukan hal seperti tadi Gayoon-ssi" nasihat Sung Jae pada 'calon adik iparnya' itu

"tapi Op-"

"dan berhenti memanggilku oppa!! Disini aku songsaengmu!" potong Sung Jae tegas

"nde seongsaeng" ucap Gayoon –terpaksa-

"dan jangan pernah memberlakukanku seperti tadi. . " lanjut Sung Jae dengan tekanan dikalimat akhirnya

"baiklah tapi kalau diluar sekolah bolehkah kau kupanggil 'oppa', seongsaengnim?" tawar Gayoon sambil mengeluarkan tatapan memelasnya

"…."

"ya?"

"baiklah terserahmu, jangan mengulanginya lagi. Kau bisa keluar dari ruanganku sekarang" usir Sung Jae. Jujur saja dia sudah muak dengan yeoja itu

"Eh?"

"tunggu apa lagi?" usir Sung Jae –mulai kasar-

"baiklah seongsaeng, saya permisi"

Dengan langkah menghentak-hentak Gayoon keluar dari ruangan Sung Jae, meninggalkan sang seongsaeng yang sedang menggerutu dengan sikap yeodongsaeng 'calonnya' itu. Jujur saja jika bukan karena 'dia' mana mungkin dia akan mengusir secara halus –menurutnya- untuk yeoja yang berani memegang-megangnya.

'bisa kena virus aku' gerutunya sambil mengusap kemeja yang sempat tersentuh si lalat pengganggu itu.

Dilihatnya jam dinding berbingkai hitam itu, Sesaat kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringaian di wajah tampannya. Pukul dua belas siang. Bukankah ini waktu istirahat?

.

.

.


.

"hey, ini sudah istirahat. Apa kalian berniat ingin menemui Yook Seongsaeng?" Tanya Chang Sub saat kelima sahabat itu sedang duduk bersantai di kantin sekolah.

"tidak, untuk apa?" sahut Minhyuk sambil menyeruput(?) minumannya

"aku setuju dengan Minhyuk hyung" ucap Peniel yang diamini dengan anggukan oleh Eunkwang dan Hyunsik

"tapi kan-" sanggahan Changsub terpotong ketika salah seorang teman kelasnya menghampiri kelima sahabat itu

"Minhyuk~ah, kau dan teman-temanmu diminta Yook Seongsaeng ke ruangannya" ucapnya

"aish…. Mau apa guru itu? Belum puas dikerjai ya?" gerutu Minhyuk

"sudahlah ayo kita kesana" ajak Changsub sambil merangkul bahu Minhyuk

Tok…. Tok…. Tok….

"masuk"

"Yook seongsaeng kam-"

"kalian berlima duduklah" perintah Sung Jae. Kelima sahabat itu pun duduk di sofa yang disediakan. "kalian tau kenapa aku meminta kalian kemari?" lanjutnya

"apa itu karena kami mengerjaimu? Oh ayolah~ itu Cuma becanda. Lagipula itu hiburan untuk kami, kelasmu itu membosankan tau!" jawab Minhyuk meremehkan

"Lee Minhyuk-ssi, tolong jangan campurkan masalah pribadi dengan sekolah, mengerti?" ucap Sung Jae tegas

Minhyuk mendecih, "hah…. Baiklah. Apa maumu?"

"bisakah kau lebih sopan"

"tidak, denganmu"

"Minhyuk~ah, jaga bicaramu" tegur Changsub

"hyung, ada apa denganmu?"

"tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tau apa yang Yook Seongsaeng ingin sampaikan. Apa begitu pentingnya hingga dia memanggil kita ke ruangannya" jawab Changsub tenang membuat Sung jae menyunggingkan senyumnya sesaat "jadi, apa yang ingin seongsaeng katakan pada kami?" Tanya Changsub kemudian

"baiklah dengarkan baik-baik. Aku ingin kalian mengikuti ulangan perbaikan."

"ap-"

"Jangan protes dulu Lim-ssi, Asal kalian tau saja ya, kemarin aku baru saja mendapat laporan belajar kalian selama lima semester ini dari Kang Seongsaeng. Dan menurutku itu sangat menyedihkan, Apalagi milikmu Lee Minhyuk-ssi"

"jangan asal-"

"kapan ulangan perbaikan itu dimulai?" Tanya Eukwang memotong protes Minhyuk

"aku ingin hari ini, kalau bisa sekarang"

.

.

.

"Ny. Lee ada kunjungan untuk anda" seorang suster menghampiri perempuan paruh baya yang sedang duduk membelakangi menikmati udara di taman rumah sakit terkenal itu. Mendengar kata kunjungan membuat perempuan paruh baya itu berbalik dan menyunggingkan senyum lebar dikedua belah pipi merahnya, akan tetapi senyum itu lenyap digantikan dengan raut kecemasan kala melihat sosok berjas hitam yang datang menghampirinya.

Perempuan itu menoleh ke kiri ke kanan mencari dimana para suster berada, namun nihil, ia tak menemukan seorang pun disana. Kecuali dia dan sosok berjas hitam itu.

"lama tidak bertemu, Yeobo~"

.

.

"kerjakan soal-soal itu, Itu hanya tentang bilangan bulat kalian bahkan sudah mendapat materi itu sejak di Junior high school. jangan ada yang mencontek. Karena sudah kupastikan masing-masing anak mendapat soal berbeda dengan anak lainnya" ucap Sung Jae sambil melirik Minhyuk yang sedang mencuri kesempatan menyontek.

"Minhyuk Lee! Percuma kau berusaha menyontek, soalnya tidak sama" tegur Sung Jae membuat Minhyuk memutar bola matanya -malas-.

Sudah dua jam berlalu, tetapi Minhyuk masih bergerak gelisah ditempat duduknya. Hey, bukanlah rahasia umum jika dia SANGAT MEMBENCI MATEMATIKA. Terbukti dari nilai ulangannya yang selalu medapatkan nilai tak lebih dari lima puluh saat mata ujian matematika.

"kalau sudah selesai bawa kemari dan kalian bisa keluar dari tempat ini"

Satu persatu teman-teman Minhyuk meninggalkan ruangan Sung Jae, meninggalkan Minhyuk yang terlihat frustasi dengan soal yang diberikan. Tatapan-tatapan –mianhae- atau pun –fighting- diberikan teman-temannya guna menyemangati namja manis itu.

"sudah dua jam lebih dan kau masih mengerjakan dua soal dari sepuluh soal yang kuberikan?" Tanya Sung Jae sambil melirik kertas jawaban Minhyuk

"jangan menggangguku seongsaeng" ketus Minhyuk

"baiklah, aku akan berhenti bicara" ucap Sung Jae mengalah

Jam dinding menunjukkan pukul lima sore namun Minhyuk masih juga belum selesai mengerjakan soalnya, ditemani Sung Jae yang membaca majalah Minhyuk nampak masih frustasi dengan soal itu. "huft…." Nampaknya Minhyuk menyerah

"sudah selesai?" Tanya Sung Jae

"eugh…." Geleng Minhyuk dengan wajah memelas

"kau…. Benar-benar tidak mengerti materi itu?" Tanya Sung Jae lagi yang dijawab gelengan dari Minhyuk

"kemarilah!"

"Eh?"

"kemarilah! Mau diajari tidak?"

.

.

.

"apa yang kau inginkan?" Ny. Lee memandang sengit sosok didepannya

"tenanglah yeobo~ jangan menatapku seperti itu" jawab sosok namja paruh baya itu "aku hanya ingin menyampaikan kabar tentang putra 'kita'" lanjutnya

"ada apa dengan Minhyuk?" Tanya Ny. Lee gusar

"putramu itu akan kutunangkan minggu ini"

"Mwo?"

.

.

"sekarang kau mengerti?" Tanya Sung Jae setelah satu setengah jam mengajari Minhyuk, tak jarang sebuah jitakan 'sayang' mampir di kepala namja manis itu.

"ya, sedikit" jawab Minhyuk sambil menganggukkan kepalanya namun….

Pletakk….

Sebuah jitakan berhasil mendarat di kepalanya, membuat namja manis itu meringis kesakitan.

"YA! Kenapa memukul kepalaku!" protesnya

Brakk….

Dengan emosi Sung Jae menggebrak meja dihadapannya dan berdiri di sebelah namja manis itu.

"Hey! Mulutku sudah berbusa begini dan kau bilang hanya mengerti sedikit? tidak bisa dipercaya!" ejek Sung Jae hendak memberikan jitakan 'sayangnya' lagi namun Minhyuk menahan tangan namja berumur dua puluh tiga tahun itu "Ya!"

"apa?" tantang Sung Jae sambil menatap Minhyuk yang ada di bawahnya

Dengan posisi yang sama, Kedua mata itu saling bertatapan. Entah setan jenis apa yang ada ditubuh Sung Jae, mata yang awalnya menatap mata hitam Minhyuk beralih menatap bibir pink namja manis itu. Detik berikutnya, Sung Jae mulai berani mendekatkan wajahnya pada wajah Minhyuk, mempertipis jarak antara keduanya. Dan Minhyuk? Namja manis itu hanya membatu melihat wajah sang seongsaeng yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah manisnya itu.

5 cm….

4 cm….

Minhyuk mulai menutup mata saat merasa deru nafas Sung Jae menyapa permukaan wajahnya.

3 cm….

2 cm….

Satu sentimeter lagi dan kedua bibir itu akan bertemu. Namun, melihat Minhyuk yang terlihat pasrah dihadapannya saat ini membuat Sung Jae melukiskan sebuah seringaian di wajah tampannya. 'bukankah ini saat yang tepat eoh?'

Satu….

Dua….

Tiga….

Pletakk….

"auuwh…."

.

.


.

.

Namja manis nan imut itu berjalan memasuki kamar miliknya dengan senyum yang tersemat di kedua belah sudut bibirnya. Namun langkahnya terhenti kala suara sang dongsaeng menginterupsinya….

"oppa kau sudah mengatakannya pada eomma?" Tanya sang dongsaeng yang berjalan mendekatinya

"ne, Sohyun~ah" jawab si namja imut

"baguslah kalau begitu, aku sudah tidak sabar bertemu Minhyuk oppa" ucap Sohyun –si dongsaeng- sambil tersenyum penuh harapan

"jangan terlalu mengharapkannya Sohyun, belum tentu dia masih mengenal kita" ucap sang oppa memperingatkan

"entahlah" Sohyun mengangkat kedua bahunya "tapi apa mungkin Minhyuk Oppa melupakan yeoja manis sepertiku ini?" lanjutnya

"Ya! Kenapa kau narsis sekali!" marah sang oppa dengan ekspresi yang dibuat-buat sambil mendekat hendak mencubit pipi Sohyun

"eh?" menyadari apa yang akan terjadi Sohyun berlari

"Ya! Jangan lari~"

"hahaha…."

Sepasang kakak beradik itu berlari, saling mengejar satu sama lain. Senyum dan tawa tak lepas dari sudut bibir keduanya, berharap agar yang diinginkan bisa terkabul. Ya, semoga saja.

.

.


.

.

Diawasi sang bulan yang memancarkan sinar pantulannya, Minhyuk masih setia mengelus kepalanya menghiraukan Sung Jae yang mati-matian menahan gelak tawanya. Kini kedua namja dengan status 'akan bertunangan' itu tengah berjalan dikoridor sekolah, rupanya kegiatan -mari-mengajari-Minhyuk-matematika- yang berakhir mengenaskan itu sudah berakhir dengan sebuah jitakan 'sayang' dari sang seongsaeng.

"kalau ingin tertawa, tertawa saja! Jangan ditahan" kesal Minhyuk menyadari Sung Jae yang menahan tawanya. Dan….

"Muahahahahahahhaaa" tawa itu pun lolos dari guru –sok- dingin itu

"Ya! Berlebihan sekali!" keluh Minhyuk sambil mengerucutkan bibirnya

"hahaha…. Dasar murid mesum! Kau pasti berfikir aku akan menciummu kan?" goda Sung Jae

"Ya! Kau yang memulainya! Seongsaeng mesum!" sangkal Minhyuk kesal, memang benar kan?

"Ya! Kau-"

"sudahlah, aku pulang saja" potong Minhyuk tak tahan dengan ejekan sang seongsaeng

Menyadari Minhyuk sudah beberapa langkah didepannya membuat Sung Jae berlari kecil menyusul calon tunangannya itu.

"hey, bagaimana kalau kuantar pulang saja?"

.

.

.


.

.

SKIP TIME

Hari ini tepat seminggu setelah pertemuan keluarga Yook dan keluarga Lee, sesuai dengan kesepakatan mereka bersama hari ini pesta pertunangan itu berlangsung. Tak sia-sia persiapan yang dilakukan, Setelah beberapa hari kedua keluarga itu nampak sibuk dengan persiapan pesta pertunangan sang putra, malam ini pesta agung itu tergelar dengan mewahnya.

Sung Jae begitu menikmati berlangsungnya pesta, Sementara Minhyuk? Namja manis itu hanya memasang senyum tipisnya sambil sesekali mengumpat pelan sosok yang berdiri disampingnya. Bagaimana tidak? Sudah beberapa hari ini Minhyuk menjadi sasaran Sung Jae untuk mengerjakan soal matematika di depan kelas. Dan hasilnya? Jitakan 'sayang' tak jarang diperolehnya dari Sung Jae. Bahkan, bekas kemerahan itu –walaupun samar- masih tersemat di kening putihnya.

"berhenti mengumpat! Aku tau kau sedang mengumpatiku" bisik Sung Jae pada Minhyuk

"baguslah kalau kau sadar" bisik Minhyuk balik

"hey, boleh aku meminta tolong padamu?" Tanya Sung Jae –masih berbisik-

"Apa?" Tanya Minhyuk sambil menaikkan kedua alisnya

"katakan pada adikmu, berhenti mengikuti dan menatapku seperti itu" jawab Sung Jae sambil melirik Gayoon yang sedang menatap 'lapar' padanya

"kau takut padanya?" Tanya Minhyuk meremehkan

"tidak, hanya risih" jawab Sung Jae

"jangan malu, katakana saja kalau ma-"

"Minhyuk~ah" potong teman-teman Minhyuk

"hai Hyung~" sapa Minhyuk sambil meninggalkan Sung Jae menuju teman-temannya

"syukurlah" ucap Sung Jae sambil mengelus dada

Jujur saja, seminggu ini dia cukup terganggu dengan Gayoon yang menempelinya kemana-mana. Yeoja itu bahkan sudah berkali-kali dipermalukan didepan umum oleh Sung Jae, tapi nyatanya bukannya menjauh, tapi yeoja berumur tujuh belas tahun itu malah semakin mendekati Sung Jae. Ck….

"baiklah, hadirin sekalian. Marilah kita mulai acara inti kita malam ini" ucap sang MC yang membuat semua tamu pesta mengalihkan pandangan mereka padanya.

.

.

.

Mengamati keadaan pesta, yeoja bernama lengkap Kim Gayoon yang beberapa tahun belakangan ini berubah menjadi Lee Gayoon itu menyeringai dalam hati. Baru saja seseorang disebrang sana menghubunginya, Mengatakan sebuah kabar yang sukses membuatnya merasa melambung ke udara.

'Tunggu saja, cepat atau lambat aku akan mengambilnya darimu Oppa'

.

.

.

.

TBC

Akhirnya saya bisa apdet juga hehe...

Mianhae lama /bow/

okey, waktunya bales-bales ripiu ...

Anggun : hehe... Mianhae ne chingu baru bales ripiunya chapter ini /bow/

fb author? eum... add aja nama akunnya : Anna Vhia (KyuMinhyuk) atau bisa

lewat e-mail : KyuMinHyuk1019

gomawo ripiunya ^^

Lee Seungtae : hehe... Mianhae ne? gomawo ripiunya ^^

Daniellee2193 : Kya! eonnie! kenapa baru ripiu sekarang? dicariin tau!

gomawo ne uda diingetin ^^

CassieMelody : kekekekk... mereka emang jail banget chingu sama kayak author /narsis/

dihukum apa ya ama Sung jae?

tuh /lirik-lirik adegan diatas/

gomawo ripiunya ^^

dewdew90 : Sung Jae oppa jahat apa gak author gak bisa jamin. karena tregantung mood

author yang naik turun kayak gunung itu. hehe...

pengen pukul adiknya Minhyuk Oppa? sama! saya juga mau :D

Gomawo ripiunya ^^

lee minji elf : saya pengennya juga gitu chingu, ditunggu chappie-chappie depan aja ya?

nunggu moment yang tepat soalnya kekekekk...

Gomawo ripiunya ^^

woo jihye : Hai~ hai~ chingu /lambai2tangan/

gomawo ripiunya ne ^^

FS Cassie : Wah... iyakah? hehehe... gomawo chingu ^^

eh iya.. gomawo buat semangatnya ne ^^

Gomawo ripiunya ^^

.

.

.

.

Sip, untuk chappie depan saya akan usahakan lebih cepat lagi

So...

.

.

Wanna Review (again) ?

.

.

Sign,

.

.

.

KyuMinHyuk1019 ^^