Teman Tapi… Cinta Mati
.
NCT Mark x GS!Haechan Fanfiction
(Markhyuck rasa lokal)
© Rusa Aneh
.
.
Paska putusnya Haechan dengan Jaehyun, Haechan menjadi lebih fokus pada tahun terakhir SMA-nya. "Pengen cepet-cepet lulus deh," Keluh Haechan disela-sela bimbingan belajar mereka. Mark hanya memperhatikan gadis itu, kemudian kembali berkutat pada catatannya.
Mereka berdua sama sekali tidak berbicara mengenai Jaehyun, meski Mark gatal ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya di antara mereka. Pun mereka tidak menyinggung mengenai omongan Mark malam itu, di telpon, saat liburan kenaikan kelas.
Kalau Jaemin bertanya, "Kapan sih lu mau ngaku ke Echan kalo lu suka dia, Mark?" Mark hanya mengangkat bahu. Sudah berapa kali, ya, dia mau menyatakan cinta dan berujung gagal? Kadang keadaan yang sedang mengerjai, kadang juga nyalinya yang mengkhianati. "Keburu diambil orang," Peringat Jaemin.
Hari itu Haechan dan Mark tengah belajar bersama di ruang tamu rumah Mark. De javu, ya? tiga tahun lalu mereka juga seperti ini. Kertas berhamburan di karpet, Haechan yang tiduran di sofa sambil membolak-balik buku sosiologinya, dan Mark yang hilang dalam lautan pikirannya.
"Habis ini kamu mau ambil apa?"
Pertanyaan Haechan menyadarkan Mark. Ia menatap gadis itu lamat-lamat. "FEB, sih," jawabnya sambil garuk-garuk kepala. "Oh." Haechan menurunkan kakinya, kemudian menatap Mark. "Tetep di Bandung?" tanyanya lagi.
Ada jeda sebelum Mark menjawab, "Kayaknya iya."
"Kalo kamu?"
Gadis itu menatap plafon putih ruang tamu Mark, kemudian dahinya berkerut. "Ya… disini aja sih. Palingan gak kuliah. Fokus sama dunia entertain."
"Yah, LDR-an dong kita?" celetuk Mark tanpa mikir-mikir. Gadis itu tergelak. "Apasih, alay. Bandung-Jakarta deket-deket aja kok!"
Mark tersenyum dan menyetujui perkataan Haechan dalam hati. Haechan bilang deket-deket aja, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?
Hanya saja tidak semudah itu. Mark tetap saja kepikiran. Jadi malam itu, sebelum finalisasi SNMPTN, ia mengganti pilihan universitas dan jurusan yang sekiranya berpeluang besar untuknya diterima.
Hanya saja, lagi-lagi, doa Mark tidak dikabulkan. Dengan langkah gontai, Mark menghampiri kedua orang tuanya di ruang keluarga.
"Pah, Bun, Mark gak lolos SNMPTN."
Sang Bunda menarik tubuh Mark untuk duduk di antara keduanya. Kemudian beliau memeluknya hangat. Rasanya, saat itu juga, Mark mau menangis seperti bayi.
"Sabar ya sayang, namanya belum rejekinya Mark."
"Jangan putus harapan ya, nak. Harus terus semangat mencari jalan buat gapai cita-cita Mark. Kamu tetep jadi kebanggan papa sama bunda."
Akhirnya pertahanan Mark runtuh.
.
.
"Jangan lupa ya, prom hari Sabtu!"
Jaemin mengocok kaleng piloksnya sebelum menyemprotkan isinya ke kemeja putih Haechan. "Aman!" ujar Haechan seraya mengacungkan jempolnya. Sedangkan Mark hanya mengangguk. Ia sibuk mencoreti punggung Jeno.
"Kalian ikut gak? Kita mau konvoi."
"Eh, ikutaan!"
Jaemin dan Jeno sudah terlebih dahulu mengikuti teman-teman yang lain. Haechan hendak menyusul juga, namun bahunya ditarik oleh Mark.
"Chan, soal prom…"
Haechan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa? Jangan bilang lo gak bisa ikut?!" tanya Haechan dengan mata membulat. Mark menggelengkan kepalanya keras-keras. "Nggak! Bukan gitu! Gua berangkat bareng lu ya. soalnya gua gak punya gandengan."
Romantis banget sih? Mark Lee?
"Yaampun kirain apaan. Tenang aja… I'll be your promdate, Mark Lee, " Ujar Haechan genit seraya mengedipkan sebelah matanya. Mark tahu niatnya bercanda, tetapi membuat degupan di dada kirinya nyata.
.
.
Malam itu merupakan malam kenangan bagi Mark Lee. Haechan tampil cantik terbalut gaun kuning cerah. Mungkin Gigi Hadid langsung pensiun dari karir modelingnya saat melihat Haechan.
Haechan berpose di depan pintu rumahnya. Membuat mulut Mark menganga sangking terpukaunya. Rasa-rasanya ia ingin meminang Haechan di tempat saat itu juga.
"Sini, mama ambilin foto kalian berdua."
Haechan meloncat naik ke jok vespa milik Mark, kemudian berpose, siap untuk difoto. Mark memutar bola matanya, namun tersenyum dan melihat ke arah kamera yang dipegang oleh ibu Haechan.
"Have fun ya!" ujar ibu Haechan. Mark menyerahkan helm pada Haechan. "Hati-hati gaunnya." Setelah memastikan gaun Haechan aman, barulah ia menjalankan vespanya menuju gedung tempat prom diadakan.
Sesampainya disana, mereka langsung disambut oleh teman-teman mereka. Banyak yang mengajak berfoto, menari, dan mengobrol membuat Mark dan Haechan harus berpisah di sepanjang acara.
Setelah dioper sana-sini, Mark mengistirahatkan dirinya dengan bersandar di dinding, jauh di belakang orang-orang yang tengah menari di lantai dansa.
"Mark? Yaampun akhirnyaaa…."
Ia tersenyum lega kala Haechan berjalan menghampirinya. Meski poni Haechan sudah lepek, dan sanggulnya sudah agak berantakan, namun tetap tidak mengurangi kecantikannya. Mark memperhatikan fitur wajah gadis itu lamat-lamat. Dari dahinya yang tertutupi poni, alisnya yang terdapat bekas luka jahit, hidungnya yang suka Mark cubit, mata coklatnya, pipinya, bibirnya.
Seperti tersengat listrik, Mark mendorong tubuhnya dari dinding ke posisi tegak. Haechan kaget dengan gerakan Mark yang tiba-tiba itu. "Mark? Ada apa?" tanyanya bingung.
Suara-suara berdengung di dalam kepala Mark. Ia menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menenangkan dirinya. Mungkin inilah kesempatan yang selama ini ia tunggu-tunggu datangnya.
"Haechan, gua mau ngomong."
Ia menelan ludah. Mata bulat itu terpaku padanya.
"Haechan, gua—"
"Sstt!"
Haechan menempelkan jari telunjuknya di bibir. Jantung Mark berdebar-debar. Banyak pikiran bercampur aduk di dalam kepalanya, membuat Mark merasa mual.
"Ini tuh lagu kesukaan gue!"
Tubuh Mark lemas seketika. Namun Haechan sudah meninggalkannya dan merapat ke panggung. Gadis itu menari sambil tertawa tanpa tahu-menahu akan keadaan Mark saat ini.
Gagal. Gagal lagi.
Namun senyum cerah Haechan di sana mampu melunturkan rasa kecewa yang ia rasakan.
.
.
Pagi itu sangat tentram. Terlalu tentram bagi Mark. Sehingga kegugupannya bertambah berkali lipat. Ia duduk di atas kursi meja makan bersama papa yang ikut menemaninya membuka halaman-halaman koran. Sengaja Mark lambat-lambatkan. Ia tidak siap melihat pengumuman hasil SBMPTN hari ini.
Jari-jarinya menulusuri deretan nama, hingga telunjuknya berhenti pada deret huruf yang membentuk namanya.
"Selamat ya, nak! Papa bangga!"
Mark memeluk papanya sambil tersenyum.
Memberitahu Haechan tentang kabar ini ternyata sangat sulit. "Selamat Markie! Lo tuh jenius! Gue tau lo pasti bisa!" Mark mengangguk sambil tersenyum setengah hati. "Tapi gua takut. Apa gua gak usah ambil ya? gua masuk swasta yang di Jakarta aja."
Haechan kini menghadap ke arah Mark dengan tatapan marah. "Apaan sih lo?!"
"Ada banyak yang dying to have your position, tapi lo kayak gini?"
Wajah Haechan mengernyit. kini gadis itu melipat tangannya di depan dada. Mark menunduk menolak untuk memandang gadis itu.
"Tapi ini di Bandung…" lirih Mark.
"Terus kenapa kalo di Bandung?"
"Jauh.. "
Jauh dari lu Chan
"Deket! Lo masih bisa balik tiap weekend. Ayolah! Masa belum lo jalanin tapi lo udah nyerah duluan?"
Haechan menepuk-nepuk kedua pundak Mark. "Kalo takut kangen, kan bisa FaceTime. Kan lo udah ganti hpbaru." Haechan menyenggol bahunya, membuat Mark tersipu malu. Memangnya dia ganti iPhone demi siapa coba?
Suara klakson mobil yang amat familiar melunturkan senyum di wajah Mark. Matanya membulat, kemudian dengan patah-patah menoleh ke arah Haechan.
Gadis itu tengah mematut dirinya di depan cermin, kemudian buru-buru mengambil sepatu jalannya. "Aduh! Sorry ya Mark. Gue ada janji."
"Lu… balikan sama Jaehyun?"
Haechan menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Mark. Cengiran lebar terpaut di bibirnya. "Nggak, kita cuma friendly hangout. Gak balikan kok!"
Ia hanya diam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Yang jelas dadanya terasa sakit, dan merasa dikhianati.
"Yaudah, duluan ya Markie!" dengan begitu Haechan membuka pintu depan, meninggalkan Mark yang terduduk diam di ruang tamu.
.
.
"Terus lu maunya apa?" tanya Jaemin.
"Dia tuh berhak dapetin cowok yang lebih baik."
"Kalo gitu kenapa gak lu aja?"
Mark menatap Jaemin, lalu terdiam. Gadis itu menghela nafas dan menatap Mark jengah. "Haechan gak butuh cowok perfect, Mark," lalu menatap Mark tepat di matanya. "Selama ini lu terlalu sibuk berbenah diri biar merasa cukup bersanding di sebelah Haechan."
"Jadi jangan salahin Jaehyun karena dia duluan ngasih Haechan apa yang dia butuhin." Gadis itu menepuk pundaknya, bermaksud menguatkan. "Cinta, Mark."
.
.
Jauh dari Haechan akan mempermudah proses Move On, pikirnya. Sejauh ini semua berjalan lancar. Mark fokus dengan kuliahnya, fokus beradaptasi dengan lingkungan baru. Setelah merasa nyaman, ia mulai mengikuti klub basket, bergabung di band lagi, dan banyak kesibukan lainnya yang membuat ia lupa.
Diantara kesibukannya itu, ia menemukan sosok yang kini menyumbang sebagian warna pada hari-harinya di Bandung. Jungwoo namanya. Mahasiswi Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Gadis yang ia harap mampu membantunya bangkit, dan ada di setiap jalan yang ia ambil.
Semua berjalan mulus. Sesuai dengan harapan Mark. Setahun berlalu, dua tahun, tiga tahun, kemudian tahun-tahun kemudian. Ia berhasil melupakan Haechan. Kontak mereka hanya sebatas sahabat. Ia sudah mulai lupa dengan perasaan membuncah, kupu-kupu di perut, dan segala rasa menggelitik kulit saat bersama Haechan. Selama itu, Mark berhasil benar-benar hanya sahabat dengan Haechan.
Namun tidak selamanya ia bisa terus mengelak. Malam itu ia tengah berada di perjalan pulang dari makan malam bersama Jungwoo. Seusai acara perayaan atas diterimanya ia di sebuah perusahaan. Yang dihadiri Haechan, Jaehyun, serta ia dan Jungwoo tentunya. Jungwoo duduk di sebelah Mark, sibuk dengan ponselnya. Mark juga tengah berkonsentrasi pada jalanan. Jungwoo melepas pandangannya pada ponsel, kemudian menatap Mark. "Kamu sama Echan lucu banget ya? bisa gitu cowok cewek sahabatan seawet kalian?" Ia tidak tahu harus menjawab apa. Setelahnya Jungwoo terkekeh sambil kembali menggeser layar ponselnya. Ia pikir gadis itu hanya memberi komentar random. Lagipula Haechan dan Jungwoo sudah sering bertemu dan sudah saking akrab. Jadi Mark tidak berpikiran macam-macam.
"Selama itu, kamu gak ada rasa?"
Tangan Mark yang memegang setir mobil terpeleset menyebabkan mobil oleng. Namun Mark mampu mengendalikannya lagi. Jantungnya berdegup kencang. "Mark, pinggirin dulu mobilnya." Tanpa berkata apapun, ia menuruti permintaan Jungwoo untuk meminggirkan mobilnya.
Setelah mobil berhenti, Jungwoo mengecilkan volume radio. Gadis itu membuka sabuk pengamannya, lalu helaan nafas terdengar.
"Kenapa? Kok kamu kayaknya kaget?"
Mark menghadap Jungwoo. "Nggak," gelengnya pelan. "Cuma, kenapa tiba-tiba nanya gitu?" ujar Mark dengan suara lembut.
Jungwoo menggigit bibir bawahnya yang bergetar. Mark merasa bersalah. "Aku udah lama bareng sama kamu, Mark. Aku cukup mengenal kamu."
Mark mengalihkan tatapannya ke depan. "Boleh aku tanya sekali lagi?" tanya Jungwoo pelan. Mark mengangguk untuk mempersilakan gadis itu bertanya. "Apa kamu masih punya rasa sama Echan?"
Pertanyaan ini lagi. Mark lelah menjawab pertanyaan ini. Baik yang ditanyakan orang lain kepadanya, atau yang ditanyakan diri sendiri. "Perasaan itu udah gak ada lagi, Jungwoo. Itu dulu."
"Terus kenapa?" Kini mata Jungwoo berair. "Kenapa kamu gak bisa jawab waktu mereka tanyain kapan kita ke jenjang serius?"
Mark mengusap wajahnya. "Karena kita memang belum tau, kita belum siap."
"Aku siap kok. Kamunya aja yang gak akan pernah siap," potong Jungwoo.
"Sampai kapan, Mark? Sampai kapan kamu mau lari terus? Kapan aku selesai jadi pelarianmu?" Jungwoo menatap dalam-dalam menembus jiwa Mark. "Selama ini aku mikir aku pasti bisa ngalahin Echan. Kamu pasti akan menerima dan bisa mencintai aku. Tapi ternyata, selamanya aku gak bisa menang."
"Maaf Mark, tapi aku gak sanggup," Jungwoo menarik nafas dalam-dalam seraya mengelap air mata yang berjatuhan di pipinya. "Haechan terlalu banyak ngambil porsi di hati kamu."
Sisa perjalanan mereka lewati dalam diam. Jungwoo turun dari mobil Mark tanpa berkata apa-apa. Mark menatap tubuh Jungwoo yang menghilang dari balik pintu kayu rumahnya. Malam itu, terakhir kalinya ia bertemu dengan Jungwoo. Kisah mereka berdua terpaksa ditutup.
.
.
Dini hari Mark terbangun dengan perasaan mengganjal di dada. Semalam ia tidur di bagasi mobilnya ditemani para bintang. Ia mengeratkan selimutnya hingga di atas dagu. Ditatapnya bintang-bintang itu yang hampir pudar. Ia merindukan Haechan.
"Kangen Haechan," bisiknya pada sang bintang.
Bertahun-tahun mencoba melupakan perasaannya pada Haechan. secara tidak sengaja Mark juga mengikis interaksinya pada Haechan. Kini ia tahu semua itu sia-sia, dan perasaan itu jelas masih ada, mengapa masih mengelak? Padahal ia lelah menjadi seorang pengecut. Sampai kapan ia mau terus dilanda dilema yang mengerak di dalam hati.
Ia masih takut. Ketakutan itu semakin besar tiap harinya. Tidak pernah hilang, terus membuat gelisah. Satu-satunya cara untuk mengenyahkan ketakutan itu adalah dengan menghadapinya.
Maka dari itu, di hari Sabtu yang cerah, Mark dan Haechan bertemu di sebuah kafe. Mark menghembuskan nafas gugup saat Haechan duduk di seberangnya. Gadis itu menampilkan senyum menawan yang selalu membuat Mark bertekuk lutut.
"Apa kabar?" tanya mereka berbarengan. Mark tertawa disusul oleh Haechan, menyibak canggung yang awalnya menyelimuti keduanya. "Oh iya Mark, gue mau ngasih tau lo sesuatu!" Haechan berkata dengan wajah berseri-serinya. "Eh samaan dong? Gua juga ada yang mau diomongin."
Haechan menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia menjulurkan jemarinya, dimana salah satu jari tersebut tersemat cincin berlian yang cantik. "Jaehyun dan gue mau nikah! Seminggu yang lalu dia ngelamar gue!"
Melihat perubahan drastis di wajah Mark membuat Haechan bingung. Ia mengernyitkan dahinya, kemudian mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Mark. "Mark? Mark?" panggilnya berulang-ulang.
Mark menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian memasang senyum lebar. "Congratulations!" ujarnya dengan suara pecah. Matanya tak lepas dari cincin di jari Haechan. Benda tersebut bersinar mengejek Mark. "Gua seneng banget denger kabar ini dari lu. Gua berharap yang terbaik buat lu berdua. Semoga lancar sampai hari H!"
Setelah mengatakan hal itu kerongkongannya berubah kering. Ia buru-buru menegak minumannya. Sekaligus meredakan detak jantungnya yang hampir meledak.
Haechan memberikan tatapan itu. Tatapan yang selalu membuat Mark gagal marah padanya. "Thank you. Lo emang sahabat terbaik gue!"
Sakit. Memang sakit.
"Oh iya, tadi lo mau cerita apa ke gue?" Haechan bertanya seraya memasang senyum lebar. Mark tahu diri bahwa kabar yang akan ia bawa ini hanya akan menghancurkan senyum manis milik gadis itu. Jadi ia menarik nafas sambil menahan sesak di dada, kemudian tersenyum tulus. "Nggak, gua sebenernya cuma mau ketemu lu aja. Udah hampir sebulan kita gak ketemu. Gua kangen." Setidaknya yang ini dia berkata jujur.
Haechan menelisik wajah mark, seolah mencari suatu pertanda. Namun gadis itu menyerah sebelum Mark tersadar. "Oh iya, kita udah lama gak catch up. Kalo gitu kita ngobrol-ngobrol aja."
.
.
Sekarang apa? pikirnya. Sudah terlambat, ya kan? Sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Mark. Mungkin kesempatannya sudah dulu sekali, saat Haechan pertama kali menyapanya. Mungkin saat ia dan Haechan keterima di SMA favorit. Mungkin saat acara Promnight di sekolah. Mungkin juga saat ia berpelukan dengan Haechan di hari keberangkatannya ke Bandung.
Sudah banyak sekali kesempatan yang terbuang percuma. Barusan ia sudah membuang satu kesempatan lagi di dalam kafe itu. Apakah setelah ini ia akan pulang sambil mengutuki diri sendiri? Tidak! Mark tidak akan membiarkan kesempatan terakhir ini lolos dari genggamannya. Ayo, Mark, ayo.
"Echan!"
Haechan menoleh. Dibaliknya badan menjadi berhadap-hadapan dengan Mark. Nafas Mark tercekat. Haechan, dengan helai rambut terbang terbawa angin sore serta kulit tan-nya berkilau keemasan, menatapnya dengan teduh.
Ia tersadar akan sesuatu. Meskipun bukan lagi perasaan meledak-ledak, bukan lagi perasaan kupu-kupu di perut, bukan lagi perasaan yang menyengat di permukaan kulit. Cinta itu berubah menjadi semudah bernafas, senatural darah yang mengaliri tubuhnya, sesering detak jantung yang menghidupinya, sehangat suhu tubuhnya. Ia mencintai dengan seluruh hidupnya. Ia cinta mati pada Haechan.
Semua itu memberikannya kekuatan. Bibir Mark melengkung membentuk sebuah senyum lembut yang Haechan tidak pernah lihat sebelumnya.
"Gua cinta sama lu, Chan." Ujar Mark dengan mantap. "Selama 12 tahun, gua cinta mati sama lu, Chan."
Dilihatnya Haechan terdiam, menatap kosong ke arahnya. "Lo egois, Mark," bisik Haechan lemah.
"Lo gak pernah dewasa, ya? selalu kekanakan. Lo pikir cinta itu hal yang main-main, hah?"
Air mata mulai jatuh perlahan dari mata gadis itu. cepat-cepat Haechan berjalan ke arah mobilnya. Tidak mempedulikan teriakan-teriakan Mark yang memanggil namanya. Ia masuk ke dalam mobil, mengunci pintunya, dan menyalakan mesin. Mark menggedor-gedor jendela mobilnya, namun Haechan masa bodoh. Ia tetap menjalankan mobilnya menjauhi Mark dan pernyataan cintanya.
.
.
Haechan mengunci diri di kamar sesaat setelah sampai. Kemudian ia membiarkan apa yang ditahannya tadi tumpah ruah. Diabaikan panggilan telpon dari ponselnya itu dan memilih untuk menutupi kepalanya dengan bantal.
Kenapa Mark begitu egois? Tanyanya dalam hati. Kenapa Mark tidak memikirkan perasaannya juga?
Bertahun-tahun Haechan memendam perasaannya pada Mark. Terus-terusan mendoktrin diri bahwa rasa itu hanyalah naksir cinta monyet anak SMP. Berusaha mengikhlaskan saat Mark mulai berpacaran dengan beda-beda cewek di SMA. Disaat ia sudah menerima perannya yang hanya sebagai sahabat Mark, dan ketika ia sudah membuka hatinya untuk Jaehyun, Mark datang menyatakan cinta bodohnya.
Haechan sudah hampir sampai menuju akhir cerita bahagianya, namun Mark datang dengan segala keegoisannya. Haechan benci Mark.
Beberapa jam setelah air matanya habis, Haechan bangkit dari kasur. Matanya perih akibat terlalu keras menangis. Ia berjalan menuju pojok kamarnya, dimana ia menggantung bermacam-macam foto. Ia mengusap pigura yang membingkai foto-foto tersebut, kemudian beralih melihat foto-foto berbingkai putih yang ada di atas meja riasnya.
Haechan menghela nafas keras-keras, kemudian ia menggeret sebuah kardus besar. Pada akhirnya ia harus memilih. Salah satu diantaranya harus ia akhiri.
.
.
Haechan berdiri canggung di depan rumah Jaehyun. Tangannya mengambang di udara hendak memencet bel, namun dirinya belum siap. Ia menjatuhkan tangannya kemudian menarik nafas dalam-dalam. Baru setelah ia meyakinkan diri sekali lagi, pintu depan sudah dibuka oleh sang empunya rumah.
"Masuk," ujar Jaehyun dengan senyum kalem yang biasanya ia tunjukkan. Haechan membuntuti tuan rumah dari belakang dengan kepala terus menunduk. Perasaan bersalah kian membesar pada setiap langkahnya memasuki kediaman Jung.
"Aku udah tau," Ujar Jaehyun saat mereka berdua duduk di sofa. "Dari aku kenal kalian berdua, aku udah tau." Haechan memainkan cincin yang tersemat di jari manisnya. "Aku melamar kamu jadi kekasih hidupku karena aku udah merelakan hidupku ada di bawah bayang-bayang Mark seumur hidup. Sangking cintanya aku sama kamu, Haechan."
Omongan Jaehyun berikutnya membuat Haechan susah mengendalikan emosinya. "Maaf aku egois karena aku menghalangi kamu buat sama dia."
Haechan mengangkat kepalanya, kemudian menggeleng pelan. "Aku yang minta maaf. Aku gak bisa ngelepas kalian berdua." Jaehyun tertawa kecil. "Kayak mau lebaran aja, maaf-maafan segala." Haechan meringis, mengapresiasi usaha Jaehyun melunturkan suasana tidak enak di antara mereka berdua.
Kemudian Haechan melepaskan cincin di jarinya dengan hati-hati. Pria itu menatap Haechan. Ada kebesaran hati yang terlampau besar saat ia melihat cincin itu terlepas dari jari kekasih yang dipilihnya untuk menjalani hidup.
"Jae, aku minta maaf."
Cincin yang sudah terlepas dari jari Haechan itu kini berpindah tangan. Ditatapnya cincin itu sambil tersenyum ikhlas. "Aku harap kamu bahagia, Haechan," Bisiknya.
.
.
Malam itu Mark meratap di balkon apartemennya. Melihat langit yang sama mendungnya dengan suasana hatinya selama tiga hari ini. Ia mereka ulang adegan dimana ia menyatakan cintanya pada Haechan beberapa hari lalu. Tetapi kenapa masih terasa mengganjal? Bukannya lega, malah semakin memberatkannya.
Apalagi Haechan tidak bisa dihubungi. Mungkin semua akses atas dirinya ke gadis itu sudah diblokir. Jadi begini kisah akhirnya? Mark menyesal. Andai ia bisa menarik kembali kata-kata itu.
Ditengah lamunannya, ia dikejutkan dengan suara teriakan seseorang yang memanggil namanya. Ia celingukan mencari-cari sumber suara. Lalu terhenti tepat di balkon seberang.
"Mark!" seru orang tersebut. "Sori gue lupa kamar apartemen lo nomor berapa!" teriaknya. "Tunggu bentar! Jangan kemana-mana!"
Mark melongo. Ia mengucek-ucek matanya. Meyakinkan diri jika sosok yang dilihatnya barusan itu nyata. Saat ia membuka mata, sosok itu sudah menghilang dari balkon seberang. Mark kini berdiri dengan tidak yakin. Apa yang harus ia lakukan? Diam? Samperin balik? Atau nyiapin makanan kayak mau menyambut tamu?
Sebelum ia memutuskan apa yang harus dilakukan, bel apartemennya berbunyi. Mark berbalik, melangkah perlahan dengan jantung berdebar kencang. "Sebentar!" teriaknya sedikit bergetar.
Dibukanya pintu perlahan hingga menampilkan sosok Haechan. "Hai Mark!" Gadis itu tersenyum ceria, tidak tahu jika tangan mark gemetar memegang gagang pintu. "Echan?" bisiknya. Gadis itu mengangguk. Meyakinkan Mark bahwa sosoknya bukan ilusi. "Boleh masuk?" tanyanya. mark mengangguk mempersilakan.
Sesaat setelah Haechan berada di dalam apartemen Mark, mereka berdua berdiri dalam canggung.
"Gua minta maaf!"
"Gue juga cinta sama lo!"
Mata keduanya membulat, kemudian mereka berdua terdiam. Semburat kemerahan menjalar dari leher Mark menuju ujung kupingnya. Sedangkan Haechan menunduk, menatap lantai.
"Pernikahan lu? Jaehyun?" tanya mark hampir tersedak ludah sendiri. Haechan menggelengkan kepalanya pelan. "Gue gak jadi nikah sama Jaehyun."
"Kenapa?" bisik Mark.
Haechan mengangkat kepalanya, kemudian menatap Mark. Bibirnya membentuk seutas senyum hangat. "Karena gue cinta mati sama sahabat gue sendiri."
Perasaan hangat menjalar di sekujur tubuh Mark. Bibirnya tergerak otomatis membentuk senyum lebar. Diraihnya pelan-pelan tubuh Haechan ke dalam dekapan. Jantungnya berdegup kencang, namun dia masa bodoh. Biar Haechan rasakan detakan jantung yang menggila karena ialah penyebabnya.
"Beneran kan? gak boong kan?" bisiknya.
Kepala Haechan menggeleng pelan di dalam pelukan Mark. "Beneran. Aku serius."
"Coba bilang lagi?"
"Aku cinta sama kamu, Mark."
Tubuh mereka mengayun pelan. Menari dalam senandung hening malam. Mark mengecupi pucuk kepala Haechan. "Echan, nikah yuk?" Bisik Mark pada surai Haechan. Gadis itu merenggangkan pelukan mereka. Wajahnya setengah kaget, setengah bingung. "Hah? Buru-buru banget?" Dikecupnya ujung hidung Haechan, sehingga hidung itu mengkerut lucu.
"Aku kan udah mencintaimu seumur hidupku. Buat apa nunggu-nunggu lagi?"
Haechan terkikik geli, kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Mark. "Gombal," bisiknya. Mark mempertemukan wajah mereka di tengah-tengah, kemudian mengecup bibir Haechan sambil tersenyum.
Mulai sekarang, saat Mark membuka mata dan menutup mata, akan selalu ada Haechan.
.
.
TAMAT
Hello!
akhirnya saya hadir lagi untuk menuntaskan hutang saya T_T
it was an enoyable journey to write this fiction. I hope you enjoy it as much as i do!
maaf saya banyak kekurangan, baik dalam tata bahasa, tanda baca, maupun keseluruhan isi cerita. Maaf kalau beberapa scene kurang nendang. i tried as hard as i can.
Oh iya, kan fiksi ini terinspirasi dari film Teman Tapi Menikah. Nah, namanya terinspirasi, gak semua adegan saya masukin disini. sisanya murni dari otak saya hehehehe.
so, farewell, i guess? see you guys in another chaptered-story!
mucho love,
rusa
