Title: Knotty

Anime: Kuroko's Basketball

Rated: T

Genre: Family, Romance, Drama (?)

Cast: Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuurou

Disclaimer: Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi. I just own the plot.

Warning: Incest!AkaKuro, Slow Plot!

Author Notes:

Halo~

Chapter empat rilis~

Chapter ini khusus saya persembahkan:

Untuk Midoririn chann yang tengah berkutat menyalurkan inspirasi! Semangat! Aku tunggu karyamu! :D

Untuk Yuna Seijuurou yang baru ulang tahun kemarin lusa. Anggap saja ini kado yang telat (banget) datangnya. XD Semoga sukses dan bahagia selalu!

Dan juga untuk seluruh pembaca Knotty~ :D

Oke. Dua bersaudara SeiTetsu kembali!

Happy reading, minna~


"Aku mencintaimu, Tetsuya-cchi."

Tiga kata itu diucapkan hanya satu kali. Namun, bagi lelaki biru terdengar menggema di dalam rongga kepala tanpa henti. Terekam otomatis di bilik memori dan dimainkan berulang kali.

Kepala biru tertunduk menatap rumput yang telah disiangi di bawah kaki. Warna hijau daun bertransformasi menjadi biru gelap karena suasana temaram yang mengelilingi.

Bohong...

Kise-kun pasti tidak serius dengan ucapannya.

Sudah berapa kali dia mengatakan menyukaiku? Bahkan meniru Momoi-san dengan acara peluk-dekap anak beruang.

Kali ini juga pasti sama saja...

Wajah putih pucat mendongak. Sedikit sorong beberapa derajat untuk mengintip ekspresi yang tertera di wajah tampan model remaja.

Jantung Tetsuya berhenti. Benar-benar berhenti dalam sepersekian detik, bagai tersentuh permukaan defibrillator. Serangan kejutan yang membuat air mukanya makin pucat pasi.

Kepalanya kembali terkulai. Pandangan jatuh menatap ujung pantofel yang mengkilat ditimpa cahaya lampu taman. Dilema melandanya sekarang.

Benar apa yang Kise katakan beberapa saat lalu.

Mata itu... Tidak pernah berbohong.

Kali ini Tetsuya sungguh merasakannya ketika melirik manik emas yang selalu berbinar ceria. Tapi, keras kepala memang sudah menjadi sifat dasarnya. Mau hati meyakini sampai mati, bibir terus menyangkal dan tega mengkhianati.

"... Kise-kun."

Pemuda bersurai kuning cerah kembali menaruh atensi.

"Sudah cukup. Bercandamu keterlaluan. Aku tidak akan termakan apa pun yang Kise-kun katakan."

Mata emas melebar beberapa saat, sebelum tertutup rapat karena bersinggungan dengan tawa pendek yang keluar. "Hh... Sampai kapan kau akan terus menganggap pernyataanku tadi candaan, Tetsuya-cchi? Apa aku tidak bisa terkesan serius di matamu?"

"Tapi aku laki-laki, Kise-kun. Aku harap Kise-kun tidak lupa kita pernah ganti pakaian di ruang yang sama. Dadaku rata."

Sekarang, tawa lepas benar-benar berkumandang. Tawa yang sangat Kise Ryouta. Tawa yang membuat Tetsuya selalu jengah dibuatnya dan hari ini berhasil membuat lega.

Kise menyeka air mata yang mengintip di sudut kelopak akibat terlalu banyak tertawa. Lelaki beranting perak itu kini benar-benar menghadap Tetsuya sepenuhnya.

"... Tentu saja aku tahu itu! Aku tidak buta untuk mengetahui Tetsuya-cchi itu pria."

"Lantas kenapa? Aku... Kita punya gender yang sama. Ini... Tidak wajar... Terasa... Salah..."

Pemuda jangkung mengangkat alis kanannya, heran. "Tidak wajar? Salah? Menyimpang pun, tidak menutup fakta bahwa Tetsuya-cchi juga tengah merasakannya pada Seijuurou-cchi, kan? Katakan. Di mana letak kesalahan ucapanku."

Skakmat.

Tetsuya diam di tempat. Merasa kalah berdebat.

Pemuda hiperaktif di sisi kanan mencengkeram pundaknya, memaksa mereka saling bertemu pandang. "Lihat mataku, Tetsuya-cchi. Apa ada sebersit saja kebohongan yang bisa kau tangkap?"

Kedua manik cerah sekali lagi dipertemukan dalam satu garis lurus. Hanya beberapa detik sebelum Tetsuya berpaling ke arah lain. Sama seperti jungkat-jungkit yang tertangkap matanya sebagai objek pengalihan. Batinnya turut mengalami fluktuasi yang didominasi rasa segan.

Meski enggan mengakui, namun, Tetsuya tidak bisa mengingkari realita bahwa Kise jauh lebih peka darinya untuk urusan hati.

Merasa sungkan menjawab, ia berdalih. "... Kapan?"

Rupanya masih terjebak lingkaran penasaran.

Kise berkedip, berusaha mencerna maksud di balik pertanyaan lelaki biru yang selalu menguji kewarasan. Wajah tampannya kembali ke depan. Tidak luput dari senyum tipis nan menawan. Nostalgia lawas mulai memberontak dari tahanan.

"Aku tidak ingat kapan persisnya. Kurasa sejak tiga tahun lalu."

Tetsuya fokus menyimak. Diam-diam mengagumi konsistensi pemuda itu dalam menyukai seseorang. Maksudnya, siapa yang tidak ingin bersama Kise Ryouta? Remaja rupawan yang tengah meniti karir di dunia modelling. Bertalenta dalam basket dengan skill tiruan luar biasa yang mampu membuat mata juling. Belum juga ia pandai berbahasa asing meski nilai di mata pelajaran lain selalu miring.

Gadis-gadis pasti rela mengantri untuk menjadi pendamping hidup. Dan bukan perkara sulit bagi seorang Kise Ryouta untuk memilih salah satu, atau bahkan seluruhnya.

Tapi...

Kenapa harus dia?

Kenapa harus Akashi Tetsuya yang jadi subjek pilihannya?

Ia gagal mengerti.

"Aku mengetahuimu dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Berhubung jadwal kerjaku juga padat, aku mengetahuimu hanya sebagai sosok pembimbingku selama perekrutan anggota baru. Hanya sebatas itu. Siapa yang tahu jika Tetsuya-cchi adalah adik dari Seijuurou-cchi? Titisan iblis bergunting merah?"

Tetsuya nyaris tertawa mendengar julukan abstrak untuk kakaknya.

"Aku baru paham ketika Seijuurou-cchi mengatakan akan menguburku hidup-hidup saat selesai dengan misi menembak Tetsuya-cchi."

Lelaki pendek tersenyum. Membayangkan wajah pucat pasi Kise ketika menyadari relasi di antara dirinya dan Seijuurou dalam satu marga Akashi.

Tunggu.

Ada yang terlewat...

Tetsuya menatap Kise lamat-lamat. Sukses untuk membangun lirikan gugup diiringi gelagat gelisah dari tubuh milik lawan. "Kise-kun... Pernah melakukannya?"

Kali ini bulu mata lentik mengerjap bingung. Tidak ingin salah menerjemah, bibirnya kembali berucap resah, "M-maksud Tetsuya-cchi?"

"Kau... Pernah mengutarakan perasaanmu padaku sebelumnya, kan? Kenapa aku tidak ingat sama sekali?"

Sunyi mengisi waktu selama beberapa detik ke depan. Namun, tawa Kise memecah suasana. Sekali lagi, Tetsuya dibuat heran.

Sebenarnya apa yang salah dari pertanyaanku?

Pemuda berambut kuning sibuk mengendalikan dirinya sendiri, sedangkan Tetsuya sudah dongkol setengah mati.

"Kise-kun."

"Maaf, maaf, Tetsuya-cchi. Aku hanya teringat kebodohanku dulu. Kau bukan tidak ingat sama sekali, hanya saja memang tidak menyadari."

Tanda tanya imajiner di kepala lelaki yang lebih pendek makin membesar.

"Lagipula, seharusnya aku tahu jika Tetsuya-cchi tidak peka terhadap hal-hal seperti ini."

Sudut siku-siku bertengger samar di kening pemilik manik biru tanpa permisi. Merasa mengalami penghinaan terbuka oleh seseorang yang mengaku mencintai.

"Tiga tahun lalu. Tepat saat ulang tahunku dirayakan oleh tim inti, aku mengutarakan perasaanku pada Tetsuya-cchi yang berujung paksaan sakit hati untuk pertama kali."

Tetsuya diam. Mencoba mengingat kilas balik peristiwa tiga tahun ke belakang. Ada bayangan di mana Kise menariknya menjauh dari yang lain. Menyembunyikan diri di balik gedung olahraga. Tapi, apa yang terjadi?

"Saat itulah aku menyatakannya."

Memori samar Tetsuya mulai terbentuk. Kabur.

Adegan di mana ia menyelamati Kise yang mulai bertambah usia terlintas. Dan berlanjut pada acara peluk berdurasi panjang yang jauh dari kata sesak napas. Hanya dekapan ringan yang enggan dilepas.

Seingatnya Tetsuya hanya mengucapkan selamat dan mengatakan semoga Kise senantiasa bahagia ke depannya. Tidak lupa tuntutan untuk satu gelas vanilla shake yang menggugah selera.

Lantas, kapan Kise-kun mengutarakan perasaan?

"... Kebahagiaanku belum sempurna tanpa Tetsuya-cchi di sisiku. Aku membutuhkanmu, Tetsuya-cchi."

Repetisi cinta dilakoni.

Tetsuya rasanya ingin mati berdiri.

Salah menafsirkan balasan Kise sebagai pengungkapan hati yang mempertaruhkan harga diri.

Ah... Jadi, sebenarnya pernyataan waktu itu adalah penembakan hati? Selama ini aku salah mengerti...

"Aku mengatakan itu. Tapi Tetsuya-cchi malah menolakku dengan alibi kalau vanilla milkshake lebih manjur menaikkan kadar bahagia seseorang."

Tetsuya sekejap merasa menjadi oportunistis. Alih-alih menyadari maksud hati, ia justru salah memberi solusi. Meminta traktir lagi. Wajar saja bila Kise merasa keki.

Tubuh semampai berdiri dari bandul ayunan. Melangkahkan kaki dan memposisikan diri tepat di depan pemuda pirang nan rupawan. Memancing Kise pada rasa penasaran.

"Tetsuya-cchi...?"

Lelaki bermata lautan membungkuk dalam. "Maaf..."

... Karena tidak menyadari maksud tulus dari hatimu.

Iris topaz melebar. Mungkin tidak menyangka jika kata itulah yang keluar.

Jadi, itu jawaban perasaanku selama tiga tahun digantung dan terkungkung? Aku sudah mengira. Namun, kenapa sakitnya masih tak bisa diduga?

Tawa paksa dilepas. Akashi bungsu yang mendengar seketika merasa kebas. "Ah. Ahahaha... Kenapa jadi berat begini?"

Sejujurnya pertanyaan itu lebih ditujukan pada diri sendiri. Atmosfer di sekitar mereka memang lebih alot dibanding sebelumya dan Kise membenci itu.

"Tetsuya-cchi tidak perlu sekaku itu. Perasaan itu... Hanya masa lalu." Dusta kecil mulai berperan sebagai bumbu. "Tidak apa-apa. Aku sudah mengalaminya. Jika kau tak menyadari apa maksudku, artinya kau tidak tertarik. Lagipula, aku sudah mengubah cara pandangku pada Tetsuya-cchi. Jangan lupa. Aku tetaplah Kise Ryouta yang masih suka mendekapmu meski pun sama sekali tidak dinotis."

"... Dan kau tetap saja masokis, Kise-kun." Tetsuya memutuskan turut andil memperbaiki situasi.

"Tetsuya-cchi kejam-ssu!" Suara protes itu nyatanya memang tidak berubah.

Senyum lembut menggantikan kemudian. "Jangan lupakan bahwa aku tetaplah Kise Ryouta yang sama. Dulu mau pun sekarang. Selamanya akan tetap seperti itu. Malam ini... Jangan Tetsuya-cchi jadikan sebagai alasan untuk menjauhiku."

Karena itu sama saja dengan menggorok leherku dengan pisau tumpul. Memberi rasa sakit berkepanjangan.

Senyum tipis mengembang. "Tidak akan, Kise-kun."

Itu cukup. Bagi Kise, melihat Tetsuya dari dekat sudah cukup menjadi obat untuk membasmi bakteri sakit hati yang lancang menggerogoti. Sama halnya dengan menyingkirkan garam inggris dari daftar obat pencuci perut dan menentukan alternatif lain melalui kastroli. Sama-sama berfungsi, yakni untuk mengobati.

Seulas senyum ceria tersungging. Menutup paksa kelopak mata hingga membentuk garis melengkung.

"Jadi, apa Tetsuya-cchi ingin pulang sekarang?"

.

.

.

"Dari mana saja kau, Tetsuya?"

Lelaki berambut biru menoleh ke arah pintu kamar. Matanya menangkap sosok pemuda sepantaran dirinya bersandar pada kambi berbahan kayu mahoni yang disulap pipih menjadi bingkai pintu penyekat ruangan. Tangan berbalut kemeja putih bersidekap, kaki bersilang indah. Memberi kesan angkuh bagi siapa pun yang memandang.

Tetsuya tidak menggubris. Ia justru menjatuhkan diri ke atas ranjang empuk setelah melempar tas selempangnya serampangan. Berbaring tengkurap dengan muka mencium bantal selembut sutra.

Seijuurou mendecih pelan. "Aku sedang tidak berbicara sendiri, Tetsuya."

Tubuh dalam bungkusan seragam sekolah itu berbalik enggan. Melempar pandangan ke langit-langit, tidak ingin menatap balik mata rubi yang sudah mengeluarkan aura hitam. Helaan napas menjadi pembuka jawaban. "Bukankah aku sudah mengatakannya sebelum keluar gimnasium tadi?"

"Jangan pernah berpikir kau mampu mengelabuiku, Akashi Tetsuya."

Si Bungsu hanya melirik dari ekor mata, lalu menutup kedua matanya dengan lengan kanan. Bicara pun percuma. Kalau sudah seperti ini, Seijuurou pasti telah memiliki bukti konkrit disertai rumus empiris untuk mematahkan semua argumennya. Oleh karena itu, Tetsuya lebih memilih diam membisu daripada mengatakan yang tak perlu.

"Apotek? Itu alasan terdungu yang pernah kudengar dari bibirmu. Kau tahu benar satu-satunya tempat di mana kau bisa mendapatkannya."

Tetsuya bungkam. Berpura-pura tidak mendengar. Meski pun tahu usahanya hanya akan berbuah sia-sia.

Pemuda pendek tersentak pelan tatkala merasakan kakinya ditarik. Mata biru mengintip, menyaksikan kakaknya yang tengah berkutat dengan sesuatu di bawah sana. Ternyata melepas kaos kaki putih yang masih melekat di pergelangan kaki.

"Jika ingin marah, jangan melakukan hal seperti ini."

Kaos kaki putih meluncur mulus ke dalam keranjang pakaian kotor di depan kamar mandi. Tembakan tepat sasaran, tidak mengherankan.

"Marah? Untuk apa aku marah?" Tetsuya akhirnya tidak tahan untuk membalas.

Seijuurou melirik dari balik bahu. Kemudian mengaduk isi lemari adiknya sebelum menjawab, "Aku tidak bodoh untuk menganalisa bahwa kau tidak suka dengan tindakanku tadi."

"Tindakan apa?" Masih berpura-pura tolol ternyata.

"Aku yang membela Tsumugi."

Tetsuya menghela napas separuh hati. Tidak menyangka, mendengarnya saja bisa mengakibatkan nyeri.

"Oh."

Seijuurou mengernyit. Kata-kata yang biasa dilontarkan bila ia sudah malas menanggapi sesuatu kini jadi bumerang. Rupanya cukup mengesalkan untuk didengar.

"Tetsuya payah." Satu setel pakaian diletakkan di sisi ranjang. "Asal kau tahu, aku tidak ada niat membela gadis itu. Terlebih, kalau Tetsuya tidak suka, kau bisa langsung mengatakannya. Tidak perlu dengan acara ngambek begini. Seperti wanita saja."

Tidak terima, anak ayam biru sigap bangkit dari tidurnya. Menatap nyalang Seijuurou yang berekspresi tanpa dosa. "Aku laki-laki, Sei-nii. Kupikir kepalamu masih cukup waras untuk mendeteksi jenis kelaminku."

"Oh. Kukira kau menjalani operasi transgender kemarin lusa."

"Sei-nii!"

Si Sulung tertawa ringan. Kedua pipi empuk seputih salju jadi sasaran cubit dari jepitan jari tangan. "Lihat. Bukankah lebih baik seperti ini? Tetsuya yang protes jauh lebih manis dari kulit manggis dibanding diam masam seperti orang bengis."

"Itu pujian atau hinaan?"

"Kenapa Tetsuya bertanya? Sudah jelas, kan? Tentu saja hinaan."

Bantal besar dilemparkan ke arah lelaki yang lebih tua. Meleset. Serat empuk membentur dinding berlukiskan ombak bergulung. Kesal, punggung kecil bergerak membelakangi. Merasa jemu dengan olok-olok mengenai kepribadiannya. "Aku tidak ingin bicara dengan Sei-nii lagi. Titik."

"Terus saja kau besarkan omong kosongmu. Ini sudah ke-11 kalinya Tetsuya berkata tidak ingin bicara denganku dan tidak pernah terealisasikan."

"Kali ini sungguhan!"

"Woh. Lihat siapa yang beberapa detik lalu berujar tidak ingin bicara padaku."

Tetsuya bungkam. Menyadari kesalahan atas kelepasan bicara yang ia lakukan. Ia yakin, Seijuurou pasti tengah tersenyum penuh kemenangan dalam kompetisi tidak resmi yang muncul secara dadakan.

"Baiklah. Terserah Tetsuya. Yang jelas, kau harus mandi sekarang. Minimal, ganti pakaianmu yang penuh keringat itu."

Tetsuya ingin sekali mengabaikan, sayangnya puncak kekesalan sudah di ubun-ubun dan meronta ingin dilepas. "Apa peduli Sei-nii?"

"Tidak ada. Tapi Tetsuya tahu benar kalau aku tidak suka penolakan. Siapa tahu kau besok ambruk dengan alasan masuk angin akibat tidur dengan seragam yang dibasahi keringat?"

Punggung ringkih itu tidak bergerak. Seijuurou berdecak. Lelaki beriris langit di hadapannya memang berpotensi membuatnya mencak-mencak.

"Tetsuya. Jangan pura-pura tidur."

"Siapa bilang aku pura-pura tertidur? Aku hanya ingin melindur."

Wajah tampan diusap kasar oleh telapak tangan. Ingin mencoba sabar, tapi ususnya tidak cukup panjang untuk menahan. Tetsuya memang satu-satunya orang yang mampu membuatnya tertekan. Terlalu riskan.

"Jangan membuatku melucuti pakaian Tetsuya secara paksa."

Tubuh semampai berbalik, mencoba memberi peringatan dini. "Jangan macam-mac-NIISAN!"

Terlambat. Tubuh atletis itu telah menjulang di atas badannya. Ranjang empuk semakin menenggelamkan kedua anak manusia akibat tekanan dan massa berlebihan. Seijuurou mengunci celah pelarian diri dengan menumpu kedua tangan di sisi kepala biru. Mata sewarna darah menghujam tajam ke dalam penglihatan. Menembus saraf optikus yang membuat Tetsuya meremang. Posisi mereka sama sekali tidak menguntungkan, setidaknya bagi anak ayam biru jantan.

Menelan ludah dalam getaran pelan, Tetsuya menahan dada bidang kakaknya dengan kedua tangan. "Menyingkirlah dari tubuhku, Sei-nii. Kau berat."

"Kalau aku tidak mau?"

Tetsuya bergidik. Pasalnya Seijuurou bicara tepat di samping telinga. Suara berat itu setengah berbisik. Menggoda salah satu hormon di dalam tubuh yang tak pernah terpancing muncul.

Kepala bergeser ke kanan, berusaha menjauhi tersangka pemicu efek mati muda. Kedua tangan di dada lawan berangsur mencengkeram garmen kirmizi. Berusaha menafikan gemetar dalam suaranya. "A-aku akan menggigit telinga Sei-nii sampai putus."

Seringai tidak bisa tidak muncul. Melihat saudara yang biasa sekeras batu kini mengkeret di bawah kuasanya, memberi imaji baru dalam konteks kejahilan.

"Heeh... Apa Tetsuya ingin berubah menjadi maneki neko sekarang?"

"Maneki neko tidak menggigit, Sei-nii." Meski tubuh tertawan dalam penjara tangan, lelaki pendek itu tetap kukuh untuk melawan. "Lekaslah menyingkir sebelum kucakar wajah congkakmu."

Seijuurou tertawa pelan. "Apa aku tengah mengurus anak kucing bandel yang sulit untuk disuruh mandi? Padahal kita dulu sering mandi sama-sama."

"Jangan membahas masa lalu! Itu memalukan. Lagipula Sei-nii lebih cocok dengan sebutan anak kucing. Sekarang cepatlah menying-SEI-NII!"

Tangan yang semula meremas kemeja, beralih menangkup tangan yang akan merobek sweater musim dingin miliknya.

Seijuurou tidak pernah main-main dengan ucapannya.

"Salahmu sendiri. Kenapa begitu sukar dibujuk, Tetsu-"

Iris dengan pupil vertikal memanjang terpaku. Merasakan hangat yang melingkupi tangannya, fokus matanya merambat naik menyelami mata biru yang juga membatu. Saling bertubrukan melalui garis lintas transparan sebagai tempat untuk menyatu. Saling menyuarakan emosi dalam bentuk kata-kata bisu.

Lelaki yang berbaring telentang meremas tangan lain di atas dadanya tanpa sadar. Bahasa tubuh atas pengharapan sesuatu. Sementara tangkupan itu terjadi, mata birunya menelisik apa yang tersimpan dalam permata rubi.

Mata itu... Tidak pernah berbohong.

"... Sei-nii..." lirihnya di ambang kesadaran. Sepasang kornea bekerja keras menyasar ke dalam bola mata merah yang menawan. Mencari-cari apa yang mungkin bisa ditemukannya dalam bentuk kejujuran. Sesuatu seperti yang bisa ia temukan dalam manik emas dan bersifat atraktan.

"... Tetsuya?"

Panggilan Seijuurou menyentakkan diri pada kesadaran. Tetsuya-sekali lagi-memandang lekat-lekat kedua bola mata interesan. Hingga hembusan napas lelah dan gumaman kecewa menyusul kemudian.

Tidak ada...

Kening pemuda merah berkerut heran. Tangkupan jari-jari panjang di atas tangan diangkat lemah dan terjatuh membentur busa kasur. Semakin mencurigakan dengan mata terkatup frustasi.

"Apa yang terjadi."

Itu bukan sekadar pertanyaan. 90 persen telah menuntut jawaban pasti yang tengah disembunyikan dalam hati.

Tetsuya menggeleng. Melarikan pandangannya ke arah lampu tidur bernuansa hijau pastel. "Tidak. Bukan apa-apa."

Sudah jelas ia menyembunyikan sesuatu dariku.

"Apa kau sedang bermain kode rahasia denganku? Katakan sekarang, Tetsuya. Apa masalahmu."

Si Bungsu tidak mengindahkan kalimat kental otoritas di sana. Tangan kirinya menggapai-gapai setelan pakaian di samping ranjang. Tidak diizinkan. Tumpukan garmen disorong menjauh dari jangkauan.

Mata besar melirik protes, merasa tidak dalam suasana hati yang baik untuk dipermainkan. "Tolong hentikan Sei-nii. Kurasa aku mulai masuk angin karena terlalu lama mengenakan seragam basah ini."

Tidak dihiraukan. "Jika kau memintaku untuk berhenti, maka Tetsuya juga harus berhenti menyembunyikan sesuatu di belakangku."

Dan mengumbar perasaan yang baru kupahami ini? Tidak, terima kasih.

"Memangnya apa yang Sei-nii pikir sedang kusembunyikan? Aku tidak menyembunyikan apapun." Kedua tangan terangkat di samping kepala dalam keadaan terbuka. "Lihat? Aku tidak menyembunyikan benda tajam. Bisa kau lepaskan aku sekarang?"

Seijuurou menggeram pelan. "Berhentilah berpura-pura polos, Tetsuya. Kau tahu benar apa maksudku."

Gelengan cepat ditunjukkan. "Tidak. Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu."

"Tetsuya!"

"Kenapa? Bukankah Sei-nii sendiri yang mengatakan bahwa kehidupan kita berbeda?"

"Berhentilah menggunakan frasa itu untuk menyerangku."

"Menyerang? Tidak. Aku hanya mengulangi kebenaran. Bukankah kau selalu mendeklarasikan dirimu sebagai pihak yang selalu benar? Aku hanya mempertegas kebenaran yang kau nyatakan, Sei-nii. Kau tidak akan menariknya, kan? Seorang pria dilarang untuk menjilat ludahnya sendiri."

Manik kontras berserobok. Saling membaca isi pikiran satu sama lain.

Mengalah, Seijuurou bangkit dari tubuh saudaranya, beranjak menuju pintu kamar. Punggung lebar yang menjauh jadi perhatian Tetsuya yang mulai bangkit mendudukkan diri.

Lelaki bersurai merah itu berhenti sesaat, mengusik Tetsuya yang tengah merakit harapan. Pergelangan tangan melesak masuk ke dalam saku celana, merogoh sesuatu. Beberapa detik kemudian, sebuah botol kaca mungil dilempar dan mendarat ke atas kasur. Tangan Tetsuya mengambil otomatis tanpa aba-aba.

Suplemen CoQ10. Ubiquinone.

"Sei-nii..."

"Kau bahkan tidak mengatakan bahwa botol itu telah kosong sejak sebulan yang lalu. Aku baru tahu jika setipis itu kepercayaan Tetsuya terhadapku." ujar Seijuurou. Tatapannya masih lurus ke depan, menuju jalan keluar. Tidak berbalik sama sekali.

Jarum beracun mulai bermain tusuk menusuk tanpa ampun. Meninggalkan rasa ngilu.

Apa sekarang Seijuurou membenciku?

Tetsuya menggeleng lemah. Menampik kemungkinan terburuk yang melintas kurang ajar di dalam kepala. Tangannya terjulur, berusaha menggapai punggung tegap yang bergeser menjauh.

"Tidak! Bukan begi-"

BLAM.

"-tu maksudku, Sei-nii..." Akhir kalimat diinterupsi debaman pintu tertutup. Kepalanya jatuh menunduk begitu saja. Ia meremas seprai di bawah tubuh hingga kusut.

Tidak. Seijuurou salah sangka. Aku percaya padanya. Sangat percaya. Tapi karena aku terlalu percaya padanya itulah yang membentuk sebuah ketakutanku akan realita. Membuatku terus menafikan kenyataan di mana aku takut menyadari pandangan kita berbeda. Di mana perasaanku hanya berjalan satu arah tanpa sambutan. Di mana kita tidak bisa bersama-sama.

Kepalanya terangkat. Menatap daun pintu yang tertutup rapat dengan perasaan gamang. Dinding tinggi menjulang arogan, memisahkan dua bersaudara bermodalkan sekat tinggi yang entah mengapa menjadi sulit diraih.

Wajah terbenam di antara kedua lutut kaki yang ditekuk. Katun celana beralih fungsi menjadi penadah air mata yang mulai jatuh silih berganti. Tetsuya merasa harga diri telah hancur karena bulir bening yang keluar tanpa permisi. Bagaimana pun, ia benci menangis. Air mata hanya membuatnya merasa dipecundangi diri sendiri.

Ia menjambak rambut yang menghiasi kepalanya kuat-kuat. Membiarkan beberapa helai rontok dengan mudah ke atas kasur berwarna putih bersih.

"Kenapa kau tidak pernah bisa adil Sei-nii? Kakak macam apa yang tega meninggalkan adiknya terpuruk di belakang?"

Tawa kecil muncul, mengiris hati. "Kupikir sebagai saudara kita harus pandai berbagi. Tapi... Kenapa aku tak mampu membagi perasaan ini? Aku ingin kau tahu apa yang tengah kurasakan... Membantuku mencari solusi terbaik untuk mengusirnya bersama-sama."

Sweater dicengkeram erat-erat sebagai bentuk pelampiasan emosi. "Tapi aku takut, Sei-nii... Takut. Aku takut jika kau justru akan pergi menjauh dari jangkauan tanganku. Tanpa sudi berbalik lagi... Seperti tadi..."

Bibirnya terus meracau tanpa henti. Untaian air mata diseka sekenanya. Menghapus jejak memalukan bagi seorang pria. "Dulu kau bilang akan selalu ada untukku ketika ketakutan melandaku. Tapi, bagaimana kalau Sei-nii sendiri sumber ketakutanku?"

Kepala biru menengadah, menatap lamat plafon putih setinggi dua meter di atasnya. Berharap benda mati itu mungkin mampu menjawab seluruh rasa gundah yang betah bersemayam di dalam tubuhnya.

Sepintas, senyum lemah menyambangi wajah-

Aku bahkan mengharapkanmu tanpa tahu titik di mana aku harus menyerah...

-dan luntur dengan sengguk pelan di pangkal tenggorokan. Bersamaan dengan muka kacau yang tertunduk membentur lutut, pundaknya bergetar tanpa mampu lagi bertahan.

"Apa yang harus kulakukan... Sei-nii..."

.

.

.

Merah. Merah. Merah.

Penglihatannya dipenuhi warna merah. Menjilat dan mengganyang habis tanpa ampun. Membakar semuanya tanpa memberi toleransi. Ia mengerang, merasakan rasa sakit di sekujur tubuh yang mulai menyerang.

Jangan sekarang. Nyawanya sedang terancam.

Kaki-kaki kecil terus berlari menyusuri jalan raya yang sepi. Bahkan setelah ledakan besar itu, dia tetaplah berstatus tawanan yang sedang dalam pencarian. Apakah Paman Malaikat menjadi korban, bukanlah sesuatu yang patut dipikirkan sekarang apabila ia tidak ingin segera ditemukan.

"Jangan sampai kehilangan jejaknya!"

Sahutan itu terdengar hingga ke tempat di mana ia berlari. Ingin menambah kecepatan, namun apa daya, kakinya sudah tidak sanggup untuk memenuhi. Maka ia hanya berbelok dan mencari gang tersudut untuk bersembunyi.

Detak jantungnya sudah tidak bisa dikatakan normal. Ia terlalu lelah, memaksakan diri kabur dari mereka yang menginginkannya. Liontin di atas dada digenggamnya sekuat tenaga. Seolah benda itu sanggup memberinya jalan keluar dari masalah luar biasa mencekam ini. Tangannya tremor, efek karena kelelahan dan ketakutan.

Suara derap kaki terdengar lagi. Ia terkesiap. Semudah itukah bagi para pria dewasa itu untuk menyusulnya?

Kaki diseret menjauh kendati nyeri mulai meminta untuk berhenti. Sekali lagi, tungkai kecil menapaki jalan raya dengan kaki telanjang. Mencari tempat persembunyian paling aman.

"Lihat! Dia di sana!"

Sial.

Geletar ketakutan kembali menyambangi pikiran. Ia kalut bukan main. Fisik dan batinnya kacau, berantakan tak karuan. Bagaimana pun, ia tetaplah seorang bocah bawang yang belum banyak mengerti arti dunia. Bukan sosok superhero yang mampu terbang mengelilingi angkasa.

Lagi, tubuhnya protes secara serempak. Merasa lelah karena terus digunakan tanpa henti. Dengan langkah limbung, ia memaksakan diri untuk bergerak maju. Tidak. Ia tidak boleh menyerah sekarang atau semua pesan Paman Malaikat hanya akan berubah sia-sia belaka.

Satu langkah lemah memijak tanah beraspal tepat tatkala lengkingan panjang klakson menyeruak gendang telinga dan menyebabkan polusi suara. Ia hendak menoleh sebelum rangka besi itu menabrak keras tubuhnya. Membuatnya melayang beberapa saat dan menghempaskannya ke aspal kasar.

Bulu mata bergerak seiring bau anyir yang memasuki teritorial penciuman. Keras kepala untuk membuka kelopak, namun sudah tidak berdaya.

Apa ini akhirnya? Jika memang begitu, bukankah ia bisa bertemu lagi dengan Paman Malaikat di surga nanti? Meminta maaf karena tidak mampu bertahan seperti yang diamanatkan padanya. Kemudian hidup bahagia di alam baka.

Jika memang harus seperti ini, tidak masalah, kan? Tidak ada pihak yang akan merasa dirugikan. Karena ia bukan siapa-siapa dan dunia yang besar ini tidak akan kehilangan satu titik kecil sepertinya.

Senyum mengambang, menyambut gelap yang siap menuntun menuju dimensi yang berbeda. Diikuti rasa sakit terkikis perlahan oleh kesadaran yang menghilang...

"Akh!" Tetsuya tersentak dari tidurnya. Pegal di sekujur tubuhnya ditepis oleh tanda tanya imajiner yang menyala terang.

Apa ini akhir dari mimpi anehnya? Tapi, kenapa ia tidak bisa mengambil kesimpulan apapun sebagai wujud pencerahan? Atau... Mimpi itu memang bukan apa-apa untuknya? Hanya bunga tidur seperti yang disyairkan para pujangga?

Pusing yang menghantam isi kepala menepis pertanyaan yang datang beruntun begitu saja. Tetsuya menyibak selimut. Mungkin secangkir teh hangat dengan madu buatan Akiyama mampu mengusir penat untuk mengawali hari ini.

.

.

.

Kaki-kaki pendek tertatih menaiki tangga bercabang dengan suasana temaram. Sesekali tersandung ringan akibat ditarik paksa untuk meniti dua anak tangga sekaligus. Bahkan sudah tiga kali nyaris jatuh menggelundung.

Kakinya pegal, napas tersengal, tapi tetap tidak sanggup menolak tuntutan kuda pirang binal. Mungkin setelah ini, ia harus segera mencari tukang urut dan obat herbal.

"Kise-kun, pelan-pelan."

"Mau sepelan apalagi, Tetsuya-cchi? Kau terlalu lambat."

"Kise-kun saja yang terlampau bersemangat. Bukankah kita sudah kemari dua hari lalu?"

Menulikan pendengaran, pemuda berambut sewarna padi menguning makin mengeratkan seretannya pada manusia yang jauh lebih mungil darinya.

"Akh!" Sebelah kaki menyandung anak tangga entah untuk kali keberapa. Lelaki pirang berhenti, hanya untuk memastikan bahwa makhluk biru baik-baik saja, lalu kembali menariknya tanpa perhitungan.

"Kubilang berhenti, Kise-kun!" Sahutan tegas berhasil menghentikan aksi lari sprint di tangga sekolah.

Kise menoleh. Mencoba menahan kesabaran yang hanya sepanjang sumbu lampu teplok. "Ayolah, Tetsuya-cchi. Apa kau jelmaan siput terbang? Jalanmu lelet sekali."

"Siput tidak bisa terbang, Kise-kun." bantah Tetsuya setengah bersungut. Tangan besar dihempaskan dari lengannya. Memilih memijit tungkai yang mulai terasa keram karena diajak berlari naik turun tangga. "Kakiku sakit."

Kise turun beberapa langkah, mendekati sahabat-tapi cinta-dekatnya di dekat dinding belokan. Panik dan cemas kentara di wajah yang biasa penuh senyum ceria. Bagaimana pun, hati Kise masih semurni malaikat. Mudah tersentuh dengan orang lain.

"Kau tidak apa-apa, Tetsuya-cchi?"

Ia tidak membalas. Seharusnya Kise sudah tahu jawabannya jika pria itu memang belum buta.

"Apa sangat sakit?"

Tetsuya meringis. Tidak cukupkah ekspresinya menunjukkan kesimpulan? Ah. Benar. Ia lupa satu hal. Ekspresinya terbatas.

"Ah... Sepertinya parah. Haruskah kuhubungi rumah sakit?! Mengirim ambulans kemari? Sial. Di mana ponselku?" Tangan merogoh-rogoh saku seragam. Mencari alat komunikasi dengan buliran keringat yang banjir menuruni pipi.

Sepertinya kadar perhatian mulai berlebihan.

"Ah. Bagaimana ini?! Aku harus mencari bantuan. Tidak, tidak. Tetsuya-cchi harus lebih dahulu diselamatkan. Jangan pingsan dulu, Tetsuya-cchi! Ah. Pingsan pun tidak apa-apa. Aku bisa berikan napas buatan."

Satu sikutan melayang pada tulang rusuk depan. Membuat erangan yang tak bisa dikatakan ringan. Ternyata sikap mulia ala malaikat tanpa sayap tidak lebih dari sekadar modus kacangan.

"Tidak, terima kasih. Aku lebih memilih dilindas kendaraan daripada dicium Kise-kun." Kaki dipaksa berdiri. Melewati pemuda tinggi yang polahnya lebih menggelikan dari cacing kremi.

"Hee... Kenapa? Kupikir aku tidak buruk dalam berciuman." Kise masih belum menyerah. Mengekor di belakang pemuda biru yang mulai menjeblak pintu atap.

"Berhentilah bicara yang tidak-tidak Kise-kun. Atau kusumpal mulutmu dengan-" kalimat terpotong di ujung lidah. Tetsuya berbalik cepat. "Apa yang kau rencanakan, Kise-kun?"

Sementara yang dimaksud hanya bisa tersenyum canggung, suara timbre berat menyahut dari belakang punggung.

"Oi, Tetsu! Kemarilah."

Oh, sial.

Tetsuya berbalik. Mendekat, menghapus jarak antara dirinya dan ketujuh manusia lain yang tengah duduk melingkar di lantai atap.

"Doumo." sapanya dengan suara mencapai taraf infrasonik.

"Tunggu apalagi, Tetsuya? Bergabunglah." Kali ini suara itu datang dari salah satu teman sekelasnya yang lain.

Tetsuya tidak bergerak. Pandangan dilemparkan meneliti suasana.

Kise Ryouta, Kagami Taiga, dan Aomine Daiki selaku teman sesama kelas B di tingkat pertama duduk berjajar. Ada Momoi Satsuki juga dari kelas A. Gadis itu mengambil tempat di sebelah Aomine yang notabene teman sejak masih dalam gendongan.

Setidaknya, itu masih wajar menurutnya. Mereka memang sering makan siang bersama ketika bel istirahat pertama berdentang. Justru hal yang menurutnya fenomena langka justru kehadiran empat orang lainnya.

Murasakibara Atsushi, rekan satu tim basket angkatan menengah. Ia duduk di samping gadis merah muda dengan segepok makanan ringan yang digelar memenuhi tempat. Ceceran remah makanan sanggup memancing omelan panjang dari lelaki bersurai hijau di samping kanan. Midorima Shintarou, yang diketahuinya berada dalam kelas unggulan yang sama dengan saudaranya mengakhiri gerutuan dengan dengusan. Pemuda beriris emerald dan kakaknya memang bertempat dalam kelas yang berbeda dengan titan ungu kelaparan. Ia masuk jajaran orang cerdas. Otaknya diakui sebagai generasi masa depan yang gemilang. Sombongnya, ia peraih peringkat kedua setelah ketua dewan kesayangan.

Bahkan sosok siswa teladan pun ada di sini. Sibuk dengan teh hijau yang tengah disesap ringan. Alih-alih menyapa, pemuda merah itu bahkan sama sekali tidak ingin merepotkan diri untuk menoleh sekadar menyambut kedatangannya. Tidak biasa melihatnya ada di sini. Kantin sekolah yang bersih tentu pilihan yang lebih baik daripada atap tempat debu berlalu lalang. Lebih higienis.

Baiklah. Lupakan soal Seijuurou. Tetsuya memang sulit menebak cara berpikirnya. Mata biru bergulir pada gadis mungil di sisi kanan Si Sulung. Terapit oleh Seijuurou dan Midorima Shintarou. Ia menatap lekat. Tidak habis pikir dengan kehadiran entitas itu di sana. Apa mulai sekarang anggota 'geng' mereka akan bertambah satu? Sebagai member baru atau kekasih Mr. Perfect yang baru?

Apapun itu, tak mampu mengenyahkan fakta ia akan menghabiskan waktu lebih banyak bersama dengan si gadis pencuri hati Seijuurou. Haruskah ia mengambil langkah mundur? Sebelum ia jatuh terlalu dalam pada depresi dan berakhir mati bunuh diri.

"Tetsuya-kun? Kenapa tidak duduk?"

Mata berisikan bola safir mengerjap pelan. Terbuka beberapa saat hanya untuk saling bertukar pandang dengan sepasang mata cokelat.

Biru langit bertemu cokelat almond.

Ia tidak ingin mengingkari kalau senyum yang ditujukan padanya begitu manis. Hanya saja indera penglihatnya memang mengalami anomali, mungkin. Senyum manis bisa ditranslasikan ke dalam tawa sadis. Siapa yang tahu?

Tetsuya menundukkan kepala sopan. Bagaimana pun ia masih ingat tindak tanduk anak bangsawan. "Maaf. Sepertinya aku datang di saat yang salah. Tujuanku kemari hanya untuk mengambil Nigou. Lanjutkan saja acara makan kalian."

"Tetsuya-cchi..."

Merasa terpanggil, ia hanya menoleh dan mengangguk pelan sebagai isyarat permintaan maaf. Sayangnya, Kise terlanjur tak enak hati. Anak itu terombang ambing sekarang.

Derap langkah terdengar disusul bunyi pintu besi yang ditarik pelan. Satu makhluk menggemaskan meloncat dan masuk dalam pangkuan. Menggonggong sebentar lalu menjilati pipi majikan. Tetsuya tersenyum senang. Setidaknya ia masih punya kawan, meski pun dikategorikan sebagai hewan.

Tetsuya mulai melakukan rutinitasnya bersama teman kecil hasil pungutan dari jalanan. Memberi pakan, bermain sebentar, sebelum kembali memasukkannya ke dalam kandang colongan. Tidak menghiraukan atmosfer di belakang punggung yang mulai temaram, kecuali bunyi gilasan makanan ringan dari dalam mulut pemuda jangkung super rakus yang memberi latar suara.

"Duduk."

Perintah itu disuarakan dengan nada tenang, namun mencekam. Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa yang berujar dan kepada siapa perintah ditujukan.

Beberapa pasang mata secara otomatis melirik ke arah lelaki biru yang pura-pura tidak mendengar atau memang tuli sesaat.

"Jangan membuatku mengulangi perkataanku, Akashi Tetsuya."

Helaan napas mengisi sunyi. Tidak keras, tapi sangat kentara dengan suasana yang menyaingi area pemakaman.

Tetsuya berbalik, masih dengan Nigou di gendongannya. "Aku kotor. Nanti Sei-nii bisa muntaber kalau dekat-dekat denganku."

"Apa-ppfffttt..." Tawa tertahan terdengar dari pemuda berambut biru gelap cepak. Kemudian, terpaksa dipotong oleh tusukan sinar laser dari pancaran mata merah.

"Turuti aku atau kulaporkan anjing itu pada staff kesiswaan."

Tetsuya mengumpat dalam hati. Oh, terkutuklah Seijuurou dan gelar yang disandangnya. Apa pria itu lupa peristiwa tadi malam? Tidakkah Seijuurou mengerti bagaimana Tetsuya berjuang menyingkirkan canggungnya setengah mati? Bagaimana Seijuurou bisa bersikap seolah tidak ada apa-apa yang terjadi?

Atau... Ia saja yang terlalu paranoid?

Tetsuya melepaskan Nigou dari gendongan dan membiarkan anjing itu berlarian di sekitar atap. Kakinya mendekati Kise yang tengah menyedot jus jeruk dari kotak minuman.

"Kise-kun, bisa kau bergeser? Aku ingin duduk di sebelahmu."

SREK.

Suara itu datang bukan dari pemuda kuning. Lelaki beriris setajam kucing menggeser badannya pada Kise. Menciptakan spasi yang cukup lebar di antara dirinya dan gadis berambut cokelat.

"Duduk di sini."

Alis Tetsuya menukik meski tak terlalu jelas. Mungkin tak masalah duduk di samping Seijuurou. Tapi, gadis ini? Haruskah ia diapit seperti ini?

Memantapkan hati, ia menuruti perintah. Memosisikan diri di antara Seijuurou dan Kotori. Mendadak Tetsuya merasa menjadi perusak hubungan orang. Maksudnya, tidakkah Seijuurou paham jika gadis ini tentu lebih ingin bersama pria itu ketimbang dirinya?

Memutuskan untuk meredakan resah, ia memberi perhatian penuh pada tumpukan kotak makan siang yang terbentang di depan matanya. Siapa yang membuat bekal sebanyak ini?

"Tsumugi yang membuat semuanya." Tetsuya melirik dari ekor mata. Apa saudaranya itu sungguh seorang cenayang?

"Tetsuya-kun. Maaf..." Kali ini bola matanya bergulir pada gadis di sisi kanannya. Tangan yang semula menggenggam sumpit terpaksa diletakkan kembali.

"Atas semua hal yang terjadi padamu belakangan ini, aku minta maaf."

Tetsuya terus menyimak.

"Tidak sepantasnya aku mengatai Tetsuya-kun seperti apa yang orang lain gunjingkan tentangmu. Aku teman sekelasmu, tapi aku bahkan tidak tahu Tetsuya-kun sama sekali. Seenaknya mengambil konklusi tidak jelas mengenai Tetsuya-kun. Tidak heran jika kau kesal atau bahkan benci terhadapku. Tidak apa-apa. Aku pantas menerimanya. Jika Seijuurou-kun dan yang lain tidak membuka mataku, mungkin aku akan terus buta tentang Tetsuya-kun."

Tetsuya melirik dalam diam sisi kirinya. Mencuri pandang pada pemuda berambut merah terang yang masih hanyut dalam ketenangan bersama dengan teh hijau antioksidan. Apa Seijuurou sengaja memaksanya kemari dengan perantara Kise untuk menjelaskan semua ini? Membenarkan kesalah pahaman antara dirinya dan Kotori Tsumugi? Pikirannya berkecamuk. Sampai kapan pun ia tak pernah paham jalan pikir Seijuurou.

Dibandingkan Tetsuya, mungkin justru Seijuuroulah yang paling mengerti tentang perasaan wanita.

"... Padahal seharusnya aku tahu jika Tetsuya-kun hanya ingin melindungi Seijuurou-kun. Dia saudaramu, kan? Seharusnya aku paham bahwa kalian memang saling memiliki sejak dulu. Pasti mengejutkan bila tali di antara kalian mendadak merenggang karena bertambahnya kehadiran satu orang."

Kedua alis Tetsuya terangkat. Baiklah, sepertinya gadis ini masih salah paham. Tapi, Tetsuya tidak ada maksud untuk membenarkan. Biarkan hal itu menjadi rahasianya dan Kise sementara waktu.

"Tapi Tetsuya-kun tenang saja. Seijuurou-kun belum sepenuhnya jatuh kepadaku. Dia begitu sulit ditaklukkan. Tapi aku tidak akan menyerah tentang itu!"

Bola mata biru membulat.

Terang-terangan sekali...

Tiba-tiba rasa iri lancang menyusup ke dalam batinnya. Seandainya ia bisa seberani ini mengungkapkan perasaannya...

Tangan putih pucat melayang dan mendarat pada mahkota sewarna buah badam. Menepuk beberapa kali di sana. "Terima kasih Kotori-san... Karena menyukai kakakku sepenuh hati..."

Rona merah sekejap memenuhi sisi wajah gadis cantik itu. Sayangnya, Tetsuya tidak menyadari. Perhatiannya tersedot pada Kise yang menunduk, menatap onigiri dengan tatapan kosong. Sedikit banyak, ia mampu menebak apa yang lelaki itu pikirkan perihal perasaan yang menyangkut mereka berdua tanpa sepengetahuan Seijuurou.

Saudara semata wayangnya sendiri hanya memejamkan mata dalam diam.

"Ah! Sebagai permintaan maafku, biarkan aku menyuapi Tetsuya-kun hari ini, ya! Ayo, buka mulutmu. Katakan aaah..." sahut Kotori mencerahkan suasana. Air mukanya berseri-seri seketika. Apa gadis ini baru menyerap aura ceria yang biasa dipancarkan Kise Ryouta?

"Tidak perlu. Aku bisa makan sendiri, Kotori-san." Tetsuya menolak halus. Kepalanya bergerak menghindar dari potongan nasi gulung dalam jepitan sumpit yang siap menubruk mulutnya.

"Tetsuya-kun tidak mau memakannya? Ah, sayang sekali. Padahal aku sudah membuat sushi nori yang lezat hari ini." ujar Kotori kecewa.

Rasa bersalah mau tak mau mulai menyelubungi jantungnya. Hanya sebentar, sebelum gadis itu tampak kembali bersemangat. "Ah. Kalau begitu, bagaimana denganmu, Seijuurou-kun? Kemarilah dan makan ini."

"Eh?" Mata biru dan merah melebar serempak.

"Kenapa? Ayo katakan aaah... Hei, hei, hei!" Lengan berbalut seragam wanita mundur lantaran tarikan tangan yang menggenggam sweater feminin. Potongan nasi gulung berbungkus nori batal masuk ke dalam mulut Si Sulung dan terdorong memasuki gua Akashi Bungsu.

Seluruh pasang mata mendadak mengabadikan momen itu dalam memori otak. Menunda asupan masuk ke perut dan beralih melihat tingkah Tetsuya mendadak berubah seperti anak anjing yang melindungi majikannya. Posesif dan protektif.

Tetsuya mengunyah sushi di dalam mulutnya pelan-pelan. Mencoba beradaptasi dengan rasa yang dibenci indera pengecapnya. "... Sei-nii, tidak suka rumput laut. Biar aku saja yang memakannya." ucapnya dengan mulut penuh. Kemudian, menelan masakan itu hati-hati seakan katup epiglotisnya tidak berfungsi.

"He? Benarkah? Kalau begitu, Tetsuya-kun habiskan, ya?"

Pemuda biru itu hanya mengangguk sekilas dan tersenyum canggung. Kembali membiarkan Kotori menyuapinya dengan potongan sushi yang diiris rapi.

Sementara itu, Seijuurou di sisi kiri hanya menatap sejoli di dekat mata tanpa berkedip. Terutama adiknya. Atensinya terenggut polah Tetsuya yang lain dari biasanya.

Satu pertanyaan mengalir dan menggelitik batin.

... Bukankah kau juga membenci rumput laut sama sepertiku, Tetsuya?

.

.

.

...TBC...


Balasan Reviews Non Login:

adelia santi: Ahaha... Memang begitulah kenyataannya. Sedikit komplikasi nggak papa, kan? Tapi jangan lupa main pair di sini tetep AkaKuro. ;D Paman Malaikat itu... Silahkan ditebak sendiri, yah? Ahaha...

Aziichi: Mm... Apakah itu pendapat Aziichi-san? Saya simpan dulu, ya? Lihat kebenarannya selama beberapa chapter ke depan. XD Benarkah menghanyutkan? Aduh. Terima kasih... J Ini sudah lanjut. Selamat menikmati! :D

Chii: Jangan dijitak. Nanti otak jeniusnya Seijuurou kabur dan diganti pentium tiga. Ahaha... Kise mah selalu siap untuk berperang. XD

akashiseiju: Woh! Sedikit?! Saya selalu apdet lebih dari 5k loh... Apa itu masih kurang? Nanti kalau Kotori mati, nggak seru dong. Kurang cast. Heheh... Lama, ya? Maaf, yah... Semoga chapter yang keluar mampu membayar penantian akashiseiju-san. Tebakannya gitu, yah? Oke. Saya simpan tebakannya. Biarkan chapter dan waktu yang membongkar. Ahaha... Oke. Ini sudah lanjut. Selamat menikmati! :D

Diandelion: Sayanya aja yang sadis, kok. Ahaha... /bangga. Aduh. Saya tidak tahu harus komentar apa jika sudah dikaitkan dengan zat psikotropika dll. Yang jelas, saya malu berat kalau bisa secandu itu! XD Terima kasih banyak.

Kouricchi: Terima kasih banyak atas dukungannya. Ini sudah lanjut. Selamat menikmati! :D

.

.

.

Untuk para reviewers yang login, saya balas lewat PM, ya?

Special thanks for:

Reishi 915| Midoririn chann | fachan desu | Kuroiza Reika | aeon zealot lucifer | Furoshiki | Mashiro Io | momonpoi | versetta | SuzyOnix | macaroon waffle | Akashi lina | ikizakura | Freyja Lawliet | Hiruko Hikari | Zhyeekyu | adelia santi | Aziichi | Chii | akashiseiju| Diandelion | nik4nik | Shiznami | Jakaningrum | viichan32 | fantasialive | Kouricchi | Aiko Hikari Fujoshi

Juga untuk seluruh pembaca yang telah mem-fave dan meng-alert fanfiksi ini.


A/N: Aduh. Saya mengakui, kok. Saya emang nggak jago buat fluff. Bawaan suka menyiksa chara sih, mau gimana lagi? /ditendang.

Semoga nggak semaso chapter dua, ya? Lagipula drama tidak akan lengkap jika kesakitan tidak mengambil peran. /abaikan

Untuk rumput laut, anggap saja Seijuurou dan Tetsuya sama-sama benci rumput laut. XD

Oh, ya. Apa ada yang sudah menebak kalau Generation of Miracles tidak dalam satu angkatan?

Last, terima kasih banyak untuk seluruh pembaca yang berkenan meluangkan waktu membaca karya saya ini~

Salam hangat,

azurefey