previous chapter...

Karena semalam Sehun mabuk, dan Chanyeol yang mengantarkannya pulang, otomatis mobil Sehun masih berada di tempat parkir nightclub. Jadi hari ini Chanyeol berbaik hati menyediakan tumpangan untuknya.

Dalam perjalanan ke kantor, mereka lebih banyak terdiam. Sampai Chanyeol mengucapkan satu pertanyaan yang membuat hati Sehun berdesir.

"Apa kau tidak ingin mengejar Luhan?"

"Tidak." Jawab Sehun pendek.

"Kau tidak keberatan kalau aku mengajaknya kencan?"

Aku keberatan.

"Aku tidak keberatan."

Jawaban Sehun sangat berlawanan dengan apa yang diucapkan isi hatinya.

Chanyeol tersenyum senang. "Thanks, sebenarnya aku akan mundur jika kau tertarik pada Luhan. Tapi kurasa... Kau tidak menginginkannya, jadi ini kesempatanku."

Sehun memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela, menyembunyikan rasa terbakar yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. Hanya Tuhan yang tahu, seberapa besar Sehun menginginkan Luhan.

Fairy girl-ku.

.

DON'T LIKE! DON'T READ!

.

REMAKE HUNHAN GS! ROMANCE DRAMA FAMILY MATURE

pichaa remake hunhan ver

Emptiness Of The Soul

by Andros Luvena

.

Chapter 4: Jealousy

.

.

.

Sehun sedang mempelajari file tentang DH Corp yang diberikan Chanyeol padanya, ketika lampu interkom yang berada di meja Sehun menyala...

"Ada apa, Yeri?"

"Nona Xi sudah berada di sini, Tuan." Jawab Yeri, sekretaris Sehun.

"Okay. Hubungi Chanyeol lalu antar Nona Xi ke ruang meeting."

"Baik."

Beberapa saat setelah Sehun selesai menyiapkan berkas-berkas, Chanyeol muncul dari balik pintu.

"Kau sudah siap?" tanyanya.

Sehun mengangguk dan menghampirinya, lalu mereka melangkah ke arah pintu kaca hitam yang menjadi penghubung antara ruangannya dengan ruangan meeting.

Chanyeol membuka pintu dan Sehun melihat Yeri sedang berbicara dengan seorang lelaki paruh baya. Di samping laki-laki itu berdiri seorang wanita yang membelakangi mereka.

Wanita itu mengenakan rok pensil berwarna abu-abu yang dipadukan dengan blazer warna peach, membalut tubuhnya dengan pas namun tetap terlihat sopan. Sehun memperhatikan rambut coklatnya yang tersanggul longgar di atas tengkuknya.

Tunggu... Sehun mengenali rambut itu.

"Tuan." Sapa Yeri yang melihat kedatangan mereka.

Wanita itu berbalik... Itu memang dia...

Fairy girl-ku.

Luhan terlihat terkejut melihat kehadiran mereka, itu terlihat dari mata coklatnya yang terbuka lebar.

"Wow, Luhan. Kejutan yang sangat menyenangkan."

Chanyeol yang berdiri di belakang Sehun berjalan melewatinya untuk menghampiri Luhan. Sehun menyusulnya dan berdiri di samping Chanyeol.

"Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi." kata Chanyeol .

Luhan tersenyum, gugup dan malu-malu.

"Kalian sudah saling kenal?" Tanya lelaki paruh baya yang mendampingi Luhan.

"Oh ya, maafkan saya. Saya melupakan Anda." Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah laki-laki itu, "Saya Chanyeol."

Lelaki itu tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan Chanyeol,

"Tidak apa-apa. Saya Hyunbin."

Sehun menahan sudut bibirnya yang terangkat, melihat muka Luhan yang memerah.

"Okay, Tuan Hyunbin. Oh ya, ini teman sekaligus rekan bisnis saya, Sehun."

Sehun menganggukkan kepalanya sopan.

"Ya, dan kalian sudah mengenal Luhan kan? Dia putri atasan sekaligus sahabat saya. Ini adalah kali pertamanya terjun langsung dalam dunia bisnis."

"Kami sudah mendengarnya."

Chanyeol membimbing Hyunbin ke meja yang berada di tengah ruangan.

"Sekarang, mari kita membicarakan bisnis."

Selama satu jam mereka membicarakan tentang konsep pembuatan supermall yang mereka inginkan. Jadi mereka akan membangun sebuah supermall 21 lantai, dengan 4 lantai basement yang akan digunakan sebagai tempat parkir. Yang di situ juga mencakup hotel dengan fasilitas 300 kamar, convention hall, bioskop dengan 4 studio. Atap yang akan digunakan sebagai kolam renang, helipad dan taman atap.

Di tengah-tengah pembicaraan itu, Sehun sesekali memperhatikan Luhan yang lebih banyak terdiam. Berbeda dengan saat pertama Sehun melihatnya, kali ini wajahnya dipoles dengan make up tipis.

Membuatnya terlihat lebih dewasa. Bibirnya yang tipis membentuk garis lurus saat Luhan serius menyimak pembicaraan mereka, dan mengetikkan beberapa hal yang dianggapnya penting dalam laptopnya.

Entah kenapa, hanya dengan melihatnya seperti ini, membuat Sehun merasakan kesejukan dalam hatinya. Mereka menutup pertemuan dengan kesepakatan untuk bekerja sama.

"Senang bekerja sama dengan kalian."

Kata Hyunbin sambil bergantian menjabat tangan Sehun dan Chanyeol dengan hangat. Sehun dan Luhan berhadapan, sesaat saling terpaku. Sampai Luhan mengulurkan tangannya dengan canggung,

"Terima kasih,"gumamnya.

Oh... Astaga, suaranya membuat jantung Sehun melompat.

Sehun membalas uluran tangannya, dan saat telapak tangan Luhan menyentuh telapak tangannya, sebuah sengatan listrik menjalar dari urat nadi Sehun menyebar pada seluruh tubuhnya dan berefek pada bagian tertentu yang membengkak.

Sialan. Sehun belum pernah ereksi hanya dengan menyentuh telapak tangan seorang gadis sebelumnya.

Luhan segera menarik tangannya dengan muka memerah. Itu tidak luput dari perhatiannya, Luhan merasakan hal yang sama dengan Sehun. Lalu Luhan berpaling pada Chanyeol dan menjabat tangannya. Chanyeol menggenggam tangan Luhan lama, membuat hati Sehun bergejolak menahan rasa tidak suka.

"Apa kau keberatan, jika aku mengajakmu makan siang hari ini?"

Oh... Demi langit dan bumi, jangan sekarang. batin Sehun.

Luhan tergeragap, "Saya..."

"Tentu saja dia bersedia. Ya kan Luhan?"

Itu Hyunbin yang memotong ucapan Luhan.

"Okay, aku akan menjemputmu nanti."

Chanyeol melepaskan genggaman tangannya dari Luhan, yang entah kenapa membuat sesuatu yang menghimpit hati Sehun terlepas begitu saja. Chanyeol mengantar Hyunbin dan Luhan sampai di pintu lift. Sedangkan Sehun hanya terpaku di tempat.

"Tuan, Anda masih mau di sini?" Sehun lupa dengan kehadiran Yeri di ruangan ini.

"Eh ya...Tidak. Maksudku, ya saya mau keluar."

Setelah meninggalkan Yeri yang Sehun yakini masih menatapnya bingung, Sehun bergegas menyusul Chanyeol. Dengan langkah panjang, Sehun menjajari langkahnya.

"Apa maksudmu dengan mengajaknya makan siang?"

Chanyeol tersenyum misterius, "Seperti yang kubilang tadi pagi, aku akan mengajaknya berkencan."

"Jadi, ini adalah kencan?"

"Bukan. Ini adalah batu loncatan menuju kencan," gumam Chanyeol.

Hati Sehun bagai di pukul dengan palu godam. Ada apa dengan hatinya? Hatinya telah kembali padanya tapi selalu membuat Sehun merasakan sakit yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.

Apa hatinya ini sedang ingin membalasnya karena selama ini Sehun telah membuangnya?

.

.

.

Menunggu jam makan siang terasa sangat lama untuk Sehun, maka 15 menit sebelum jam makan siang, Sehun sudah keluar dari ruangannya dan menuju tempat parkir.

Berdiri di tengah terik matahari dengan bersandar pada mobil Chanyeol. Saat Chanyeol datang, dia terlihat mengerutkan keningnya ketika melihat Sehun yang sudah menunggunya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Menunggumu," Sehun melirik jam tangannya. "Bukankah ini sudah jam makan siang?"

"Kau lupa? Aku ada janji makan siang dengan Luhan, aku tidak bisa menemanimu."

Sehun menatapnya dengan pandangan tak bersalah.

"Aku tidak membawa mobil, jadi kurasa, aku harus ikut denganmu."

Chanyeol tersenyum, "Aku tadi sudah menyuruh Mark mengambil mobilmu. Itu, di sana."

Chanyeol menunjuk sebuah mobil -yang Sehun yakini memang miliknya, yang terparkir tidak begitu jauh dari mobil Chanyeol.

Kenapa tadi Sehun tidak melihatnya?

"Oh itu. Ya, tadi aku sudah mencobanya, tapi ternyata bensinnya habis."

Sehun mengangkat kedua bahunya, berusaha meyakinkan Chanyeol dengan tatapannya. Chanyeol menatap Sehun dengan pandangan menyelidik,

"Kau sedang tidak ingin mengacaukan usahaku mendekati Luhan, kan?"

"Tentu saja tidak," jawab Sehun cepat.

Aku hanya ingin mengawasimu, sambung Sehun dalam hati.

"Okay, masuklah."

Chanyeol memasuki mobilnya dan Sehun memutar untuk duduk di kursi penumpang.

.

.

.

Chanyeol mengendarai mobilnya dengan lincah, menembus kemacetan ibu kota. Sampai mobilnya memasuki halaman gedung perkantoran yang sangat megah.

Setelah memarkirkan mobil, Chanyeol turun. Sehun mengikutinya dan memakai kacamata hitamnya, ini berguna saat nanti Sehun bisa memperhatikan Luhan tanpa takut diketahuinya. Mereka berjalan beriringan menuju gedung tersebut, dan memasuki pintu putar yang langsung menuju lobby utama.

Sehun menunggu di tempat yang agak jauh, saat Chanyeol menghampiri meja resepsionis dan berbicara dengan seorang wanita yang berada di sana. Wanita itu memperhatikan Chanyeol dan kemudian tampak menghubungi seseorang.

Beberapa saat kemudian Sehun melihat Luhan ke luar dari pintu lift. Terlihat sangat cantik. Chanyeol menghampirinya dan terlihat membicarakan sesuatu dengannya, kemudian dia menunjuk ke arah Sehun. Sehun melihat Luhan memandangnya sekilas dan menganggukkan kepalanya pada Chanyeol. Kemudian mereka menghampiri Sehun.

"Sehun, kita akan langsung berangkat." Kata Chanyeol.

Sehun menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti mereka yang mendahuluinya. Luhan berjalan tepat di depan Sehun, dan meskipun Sehun mencoba untuk berpaling dari pantatnya yang sempurna, Ia tidak bisa. Bayangan bisa meremas pantatnya dalam keadaan telanjang membuat sesuatu yang berada di balik celananya menggeliat, memohon untuk dibebaskan.

Saat mereka sampai di samping mobil Chanyeol, Chanyeol membukakan pintu belakang mobilnya untuk Luhan, dan menutupnya kembali saat Luhan sudah masuk ke dalamnya. Sehun hampir membuka pintu penumpang ketika Chanyeol melemparkan kuncinya padanya. Sehun menangkap kunci itu, dan menatap Chanyeol tak mengerti.

Tapi Chanyeol hanya mengangkat bahunya dan menyebutkan nama sebuah restoran Prancis. Lalu dia berjalan memutari mobilnya dan duduk di samping Luhan.

Sekarang Sehun mengerti.

Sialan Chanyeol

Dia menjadikan Sehun supirnya. Setengah mendengus Sehun berjalan memutar, membuka pintu kemudi dan memasukinya. Sehun duduk dan memasang sabuk pengamannya.

Sebelum menjalankan mobil, Sehun melirik Luhan melalui kaca spion yang ada di atas dashboard mobil. Luhan memperhatikannya, Sehun merasakan letupan dalam hatinya. Sehun mengangkat sudut bibirnya menahan senyum, dan mulai melajukan mobil Chanyeol.

"Jadi kamu keturunan Inggris ya?" Chanyeol membuka percakapan dengan Luhan.

"Ibuku memang orang Inggris, tepatnya Sheffield."

Oh Tuhan... Sehun suka mendengar suaranya.

"Wow itu kota yang indah, Sheffield dekat dengan Edensor, kan?"

"Ya, sekitar satu jam dari Sheffield. Sewaktu kecil, saat mengunjungi Grandma, aku paling suka piknik ke Edensor. Di sana menyenangkan sekali, banyak kawanan domba Derbyshire yang sedang merumput dalam perjalanan ke sana."

"Ya, dan hamparan rumput-rumput hijau serta perbukitan yang sangat indah."

"Kau pernah ke sana juga? Menyenangkan sekali bukan?"

Sehun melirik mereka dan melihat Luhan tampak bersemangat saat menceritakan negara kelahiran Ibunya. Itu membuatnya tidak terlihat canggung lagi. Chanyeol tersenyum dan mengangguk,

"Aku pernah berlibur ke sana. Belum lama, itu karena kakak perempuanku tergila-gila dengan Edensor."

Chanyeol memutar bola matanya seakan berbicara 'dasar perempuan',

"...Jadi dia memaksa kami sekeluarga untuk berlibur ke sana. Sangat indah."

Luhan mengangguk menyetujui, "Aku paling suka ke sana saat menjelang musim gugur. Pada saat itu, dedaunan mulai berwarna merah. Sangat indah."

Jadi musim gugur ya...

Sehun menghentikan mobil di depan sebuah restoran Prancis. Membuka sabuk pengaman dan segera ke luar dari mobil, mendahului Chanyeol membukakan pintu untuk Luhan.

Chanyeol yang baru ke luar dari mobil menatapnya tajam, tapi Sehun pura-pura tidak melihatnya dengan menyerahkan kunci mobil. pada petugas valet. Saat mereka sampai di depan pintu, Chanyeol seperti baru mengingat sesuatu. Dia menghampiri Sehun dan berbisik padanya.

"Sorry hun, aku lupa sudah reservasi untuk dua orang."

Sehun terbelalak. Double shiiittt...!!!

"Kalau kau mau, kau bisa mencoba untuk masuk, siapa tahu masih ada meja yang kosong. Tapi..."

Chanyeol menggantung kalimatnya,

"...biasanya tempat ini selalu penuh," katanya dengan nada menyesal -yang Sehun yakini itu di buat-buat.

"...Atau...Kau menunggu saja di mobil, aku janji akan membelikan makan siang dan membungkusnya untukmu."

Sehun melepas kacamatanya dan menatapnya gusar, melirik Luhan yang berdiri agak jauh dari mereka.

"Sialan kau Yeol," bisik Sehun geram.

Lalu Sehun berbalik dan menghampiri petugas valet untuk meminta kembali kunci mobil Chanyeol. Menolaknya dengan kasar saat dia menawarkan diri untuk mengambilkan mobil tersebut.

Sehun berjalan agak jauh untuk sampai ke tempat parkir di mana mobil Chanyeol diparkirkan. Sesampainya di samping mobil, Sehun membuka pintu dengan kasar dan duduk di kursi kemudi.

Sehun buka jendela mobil bagian penumpang lebar-lebar, lalu Sehun memilih lagu pada stereo mobil Chanyeol. Saat musik mulai mengalun, Sehun merebahkan tubuhnya di atas jok mobil dan menjulurkan kakinya ke luar jendela.

Entah berapa lama Sehun tertidur. Saat ia membuka matanya, Sehun sudah melihat Chanyeol yang sedang berusaha menyingkirkan kakinya dari jendela mobil. Sehun bangun dan menarik kakinya,

"Sudah?"

Sindir Sehun sambil membetulkan letak duduknya. Chanyeol hanya menyeringai dan menyerahkan makan siang yang dia belikan untuknya. Sehun menyambar bungkusan tersebut dan meletakkannya di atas dashboard.

Sekilas Sehun melihat Luhan yang sedang masuk ke mobil, terlihat seperti menahan senyum. Sehun melirik kaca spion dan melihat dirinya yang berantakan. Rambut perunggunya terlihat acak-acakan dengan sebagian rambut menutupi dahinya, matanya terlihat merah karena Sehun baru saja bangun tidur.

Sehun meraih kacamata hitam yang tadi ia kaitkan pada kerah kemeja dan memakainya. Lalu mencoba merapikan rambut dengan tangannya meski Sehun tahu itu tidak akan merubah banyak.

Saat Luhan dan Chanyeol sudah masuk ke mobil, Sehun menstarter mobil dan menjalankannya. Melaju dengan kecepatan tinggi, menyalip setiap kendaraan yang ada di depannya, dan membelok dengan mulus saat melewati tikungan tanpa mengurangi kecepatan mobil. Sehun ingin Luhan cepat sampai ke kantornya dan tidak duduk di samping Chanyeol lagi.

Sehun melirik dari kaca spion dan melihat Luhan memejamkan matanya, sedang Chanyeol terlihat pucat dengan tangan yang menggenggam sabuk pengaman. Bagus, itu juga suatu keuntungan baginya, karena mereka tidak lagi saling bicara.

Sehun berhenti tepat di depan kantor Luhan dengan bunyi ban yang berdecit. Luhan terlihat sedang menenangkan dirinya, lalu dia membuka matanya dan ke luar dari mobil tanpa menunggu dibukakan pintu.

Chanyeol melepas sabuk pengamannya dan menggeser duduknya ke kursi yang tadi diduduki Luhan, lalu dia menjulurkan lehernya ke luar jendela.

"Terima kasih, Luhan," kata Chanyeol.

Luhan mengangguk, kemudian, tanpa Sehun duga, Luhan menatapnya dari kaca spion.

"Terima kasih, Sehun,"

Gumamnya pelan, tapi terdengar sangat keras di telinganya. Sehun melongo tidak percaya, sampai Luhan menghilang dari pandangan.

"Tutup mulutmu,"

Kata Chanyeol sambil membanting pintu saat dia pindah ke samping Sehun,

"Jalan."

Sehun tersadar, dan segera menutup mulutnya. Lalu menjalankan mobil dengan senyuman yang tak bisa hilang dari bibirnya. Kali ini Sehun menjalankan mobil dengan pelan. Tak ia pedulikan Chanyeol yang mengutukinya karena kegilaannya dalam mengendarai mobilnya di jalan raya.

Sehun turun dari mobilnya saat mereka sampai di kantor, dan menyerahkan kunci mobil Chanyeol padanya. Tapi sebelum Chanyeol menerimanya, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, lalu menyerahkannya pada Sehun.

Itu kunci mobil Sehun.

"Kunci mobilmu," kata Chanyeol, "Dengan bensin yang terisi penuh saat Mark mengambilnya."

.

.

.

Sehun sampai ke apartemen dalam keadaan sangat lelah. Jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan Sehun ingin cepat-cepat tidur sekarang. Sehun membuka pintu apartemen dan menyalakan lampu. Lalu melangkah ke dalam.

Sehun terkejut ketika melihat HyunA duduk di sofa ruang tengah, seketika Sehun teringat dengan kata-katanya tadi pagi. HyunA berdiri dan menyambutnya,

"Kau pulang malam sekali," HyunA melirik jam dinding. "Maksudku pagi."

Sehun menghampirinya dan mencium pipinya,

"Maaf HyunA. Hari ini aku mendapatkan proyek besar dan baru selesai membahas rancangannya bersama Chanyeol."

HyunA menggeleng, "Tidak apa-apa." Dia melepas jas dan dasi Sehun. "Aku hanya khawatir kau menghindariku karena ucapanku tadi pagi."

Sehun menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

"Apa yang kuucapkan tadi pagi, tidak usah kau pikirkan dulu Sehun."

HyunA duduk di sampingnya. "Aku memang mencintaimu dan mengharapkan bisa bersamamu selamanya, tapi aku tidak ingin memaksamu."

HyunA menempelkan pipinya pada rahang Sehun dan menggesek-gesekkannya di sana. Jari-jari tangan HyunA membuka kancing kemejanya satu persatu, lalu dia menelusupkan tangannya ke dadanya dan memutar-mutar ujung jarinya di sana, membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Membangkitkan gairah Sehun.

Sehun menengadahkan kepalanya, menikmati sentuhan tangan HyunA yang terawat. Lidah HyunA menelusuri lehernya, naik ke cuping telinganya, menghadirkan rasa geli yang terasa sangat familiar.

Jari-jarinya mulai turun ke pinggang Sehun dan membuka kancing celananya, lalu HyunA memasukkan tangannya ke balik boxernya dan meremas kejantanan Sehun yang mulai mengeras.

"Terima kasih, Sehun."

Kalimat pendek yang tadi siang diucapkan Luhan tiba-tiba terngiang kembali di telinganya. Menghadirkan seraut wajah dengan senyum gugupnya dalam bayangan Sehun. Membuat kejantanannya yang sudah mengeras, melemas secara tiba-tiba.

Sehun tidak menginginkan HyunA.

HyunA menghentikan aksinya, dia mengerutkan keningnya dan menatap Sehun bingung. Sehun segera menegakkan tubuhnya dan membenahi kancing celananya. Lalu menatap Hyun, meminta maaf.

"Aku lelah sekali HyunA. Maafkan aku, tapi aku ingin istirahat."

HyunA mengangguk mengerti,

"Istirahatlah," gumamnya.

Sehun membungkuk, mencium pipi HyunA . Lalu berdiri dan meninggalkannya menuju kamarnya. Di dalam kamar, Sehun termangu. Memikirkan kejadian demi kejadian saat pertemuannya dengan fairy girl-nya... Luhan.

Satu lagi yang membuat Sehun yakin kalau dia adalah seorang peri, karena sekecil apapun sikapnya, gerakannya, dan suaranya itu, memberikan pengaruh yang sangat kuat bagi tubuhnya. Terutama pada tubuh bagian bawah.

Namun kesadaran kembali menghantamnya... Siapa Sehun ini? Anak yang terbuang? Gigolo?

Rasa nyeri kembali menyelimuti hatinya. Apakah Sehun pantas untuk Luhan? Masa lalu yang ingin Sehun lupakan melintas dalam pikirannya. Mengingatkannya...

Sehun tidak pantas untuk Luhan.

.

.

.

Beberapa hari yang lalu, Sehun adalah Sehun yang penuh rasa percaya diri, berpengalaman dan tidak pernah bermain hati. Tapi sekarang, Sehun seperti tidak mengenal dirinya lagi. Sehun tidak pernah bisa memuaskan HyunA lagi, Sehun tidak bisa fokus pada pekerjaannya, dan Sehun jadi seorang yang pemarah.

Ini semua hanya karena seorang gadis bernama Luhan. Gadis yang sudah mengacaukan hidupnya, yang selalu membangkitkan gairahnya hanya dengan memikirkannya, dan juga yang mematikan hasratnya terhadap wanita lain. Gadis yang membuat Sehun tidak menginginkan wanita manapun, bahkan HyunA sekalipun.

Seperti hari ini, Sehun terduduk lemas di atas kursi kerjanya. Menyesali kejadian semalam, saat Sehun memaksakan diri untuk melupakan Luhan.

Malam itu Sehun pergi sendirian ke nightclub. Seperti di tahun-tahun saat Sehun belum mengenal Chanyeol. Duduk di meja bar dan mengawasi setiap wanita yang berusaha menarik perhatiannya.

Sehun pikir 'one night stand' adalah satu-satunya jalan agar ia bisa melepaskan hasratnya. Bersama HyunA, itu tidak mungkin saat ini. Sehun akan merasa menjadi seorang bajingan ketika bercinta dengannya, Luhan-lah yang ada di dalam pikirannya. Lagipula, HyunA belum ke apartemen lagi sejak kejadian Sehun menolaknya beberapa malam yang lalu.

"Tequila sunrise."

Suara seorang wanita di samping Sehun menarik perhatiannya. Sehun menoleh dan melihatnya duduk di sampingnya. Postur tubuhnya mengingatkannya pada Luhan. Sehun rasa dia bisa jadi teman kencannya malam ini.

"Aku yang akan membayar minuman Nona ini," kata Sehun pada bartender.

Gadis itu menoleh dan tersenyum.

"Terima kasih," gumamnya.

"Tidak masalah."

"Kau sendirian?" tanyanya.

"Seperti yang kau lihat."

"Mau bersenang-senang?"

Sehun suka wanita agresif. To the point. Selanjutnya, Sehun sudah berada di kamar mandi dengan kejantanannya yang berada di dalam mulut wanita itu.

"Ya babe, seperti itu...Ya bagus..."

Gadis itu dengan bersemangat menghisap kejantanannya yang sudah mengeras. Tangannya menggenggam pangkalnya dan menggerakkannya naik turun, sesekali diselingi gerakan memutar.

"Sialan. Lebih keras babe..."

Setelah sekian lama hanya menerima blue balls, Sehun merasakan kenikmatan luar biasa pada kejantanannya. Sehun hampir saja selesai, tapi kejadian selanjutnya sungguh diluar dugaannya.

Wajah Luhan muncul begitu saja dalam pikirannya, lengkap dengan senyum gugupnya dan tatapan malu-malunya.

Oh sial! Jangan sekarang... Kumohon jangan sekarang...

Tapi yang di bawah sana tidak mendengarkan perintahnya. Dia lemas begitu saja. Ya, begitu saja. Membuat gadis yang sedang mengulum penisnya merasa bingung karena benda yang tadi terasa penuh di mulutnya kini mulai mengecil.

Dia menjulurkan lidahnya, menelusuri batang lemasnya yang berada dalam genggamannya. Sungguh suatu usaha yang mengesankan. Tapi Sehun tidak akan bangun lagi. Tidak akan bisa.

"Sudah, hentikan."

Kata Sehun kesal, ketika gadis itu tidak juga berhenti menjilati penisnya. Gadis itu melepaskan tangannya dari kejantanannya.

"Kau impoten?"

Oh Tuhan, apa yang dia katakan? Apa dia tidak pernah tahu kalau impoten itu berarti tidak akan pernah bisa ereksi, tapi dia baru saja mengulum penis yang keras dan tegang bukan?

Well, itu sebelum Sehun terkena LE... Luhan Effect, seharusnya tidak mudah baginya untuk memvonisnya...

I M P O T E N.

Sehun membenahi celananya, dan membuang rasa malunya saat menatapnya.

"Sorry babe, sepertinya aku agak bermasalah malam ini..." Sehun belai pipinya sekilas, "Tapi aku tidak impoten, hanya ada, sedikit masalah."

Sehun memposisikan jari telunjuk di atas Ibu jarinya dengan menyisakan sedikit ruang diantaranya. Menekankan maksudnya saat mengatakan 'sedikit'.

"Okay, mungkin lain kali."

"Thank you."

Dia menyelipkan kertas, yang Sehun yakini adalah kartu namanya, pada saku jaketnya. Sehun hanya tersenyum, lalu meninggalkannya. Di depan nightclub Sehun membuang kertas itu tanpa membacanya. Sehun tidak menginginkannya. Sehun hanya menginginkan Luhan...

Fairy girl-nya.

.

.

.

Sekarang di sinilah Sehun, terduduk lemas di kantornya tanpa memiliki keinginan untuk menjalani kehidupannya seperti biasanya.

Chanyeol jarang menemuinya, dia sibuk dengan usahanya untuk mendekati Luhan. Kalau mau jujur, hal itulah yang paling mempengaruhi Sehun. Membayangkan Chanyeol berkencan dengan Luhan...

Huh, sama sekali tidak ingin ia bayangkan. Sehun rasa, ia harus melakukan sesuatu. Sehun tidak bisa hanya duduk begitu saja tanpa berbuat sesuatu. Mungkin sedikit berolahraga akan menjernihkan pikirannya. Ya, itu benar.

Sehun segera ke luar dari ruangannya dan menuju lift untuk turun ke bawah. Ada tempat fitness di sekitar sini, Sehun akan ke sana.

"Selamat sore, Tuan."

Minhyun, salah satu satpam di gedung ini menyapanya saat Sehun sudah berada di halaman gedung. Sehun hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum.

"Saya panggilkan petugas valet?" tanyanya sopan.

"Tidak usah, saya hanya ingin jalan-jalan."

Minhyun mengangguk dan beranjak meninggalkannya. Sehun melangkahkan kakinya menyusuri jalan kompleks perkantoran. Di samping jalanan ini dipenuhi dengan pepohonan besar. Hembusan angin yang kencang membuat beberapa daun yang gugur berterbangan di sepanjang jalan.

Sehun menghentikan langkahnya di depan sebuah tempat fitness. Lalu Sehun memasuki toko olahraga yang terletak di sebelah tempat fitness tersebut, dan membeli sebuah kaos oblong tanpa lengan dan celana longgar sebatas betis.

Sehun memasuki ruangan fitness setelah mengganti bajunya, dan langsung menuju treadmill yang ada di sudut ruangan. Memulai pemanasan, Sehun berjalan santai selama lima menit, kemudian perlahan Sehun mulai menaikkan kecepatan hingga batas maksimal.

Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk mengeluarkan semua keringat dalam tubuhnya, Sehun memelankan laju kecepatan secara bertahap, dan berhenti tepat ketika seorang gadis berdiri di depannya.

"Hayoung?"

Sehun mengenali gadis itu sebagai teman Luhan.

"Hai," sapa Hayoung, "Sendirian saja?"

Sehun mengangguk dan turun dari treadmill lalu mendekati bench press. Hayoung mengikutinya. Sehun memulai latihan untuk otot dadanya dan melihat Hayoung masih di depannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Hayoung mengangkat bahunya, "Melihat-lihat."

"Sendirian?"

"Bersama teman."

Sehun menghentikan aktivitasnya, tertarik dengan ucapannya.

"Luhan?" tanya Sehun berharap.

Hayoung menggeleng, "Luhan tidak akan suka ke tempat ini."

"Begitu?" Sehun kembali melanjutkan latihannya.

"Dia agak aneh, kau tahu?"

Bukankah Hayoung teman Luhan? Kenapa dia tidak bersikap layaknya seorang teman?

"Dia yang menyebabkan saudara kembarnya hilang."

"Luhan punya saudara kembar?"

"Ya, tapi hilang saat berumur 5 tahun."

"Kenapa kau bilang, Luhan penyebabnya?"

Hayoung kembali mengangkat bahunya,

"Luhan mengajaknya ke tengah hutan saat mereka sedang piknik, dan meninggalkannya begitu saja."

Sehun mengernyitkan dahinya, Hayoung bercerita seolah-olah Luhan melakukannya dengan sengaja. Hei, mereka masih berumur 5 tahun saat itu.

"Dia sangat aneh..."

"Kau sudah mengatakannya tadi,"

Sehun memotong ucapannya, lalu melirik jam tangannya,

"...Okay Hayoung, aku rasa aku harus pergi sekarang."

Sehun tidak ingin berlama-lama mendengarnya menjelek-jelekkan Luhan.

"Tunggu."

Hayoung memegang lengannya. Sehun melirik tangannya yang menempel di lengannya, dan Hayoung segera melepasnya.

"Aku sering melihatmu di nightclub," Hayoung tersenyum, "Apa nanti malam kau mau mengajakku ke sana?"

Oh, Hayoung sudah mulai mengganggunya.

"Tidak."

Jawab Sehun ketus, menghilangkan senyuman di wajahnya. Sehun tidak peduli dan bergegas meninggalkannya. Kembali ke kantornya dengan langkah yang lebih cepat.

.

.

.

Sehun baru mengenakan jasnya kembali ketika Chanyeol memasuki ruangan.

"Kau baru mandi?" Tanya Chanyeol heran, lalu duduk di sofa yang berada di ruangan Sehun.

"Aku berkeringat." Jawab Sehun pendek.

"Sehun, aku butuh bantuanmu."

"Apa?" Sehun menghampiri Chanyeol dan duduk di sampingnya.

"Aku mengajak Luhan makan malam."

Sehun tertegun, "Kapan?"

"Malam ini."

"Apa katanya?"

Jantung Sehun berdegup kencang saat menunggu jawaban Chanyeol.

"Dia bersedia..."

Matilah Sehun.

"Tapi dia mengajak Hayoung juga."

Sehun menghela nafas lega.

"Karena itu aku minta bantuanmu, ikutlah denganku. Kau bisa menemani Hayoung, jadi dia tidak akan mengganggu kami."

Sehun mengerutkan keningnya, kenapa harus Hayoung? Sehun ragu berurusan dengan Hayoung setelah pertemuannya dengannya tadi. Tapi, kalau Sehun menolaknya, ia tidak akan bisa mengawasi Chanyeol dan Luhan. Bagaimana kalau mereka memutuskan untuk... tidak!

"Sehun?"

"Okay, aku mau."

Chanyeol tersenyum senang. Dia bangkit dari duduknya,

"Thanks sobat. Kau memang bisa diandalkan. Jam tujuh kau jemput Hayoung, kita bertemu di Le Bridge."

"Tunggu, kita berangkat terpisah?"

Chanyeol menatapnya, "Tentu saja, aku ingin benar-benar berkencan dengan Luhan. Oh ya, alamat Hayoung nanti kukirim lewat email."

Lalu Chanyeol melangkah meninggalkan Sehun. Oh bagus, Sehun mempunyai kesempatan untuk bersama Luhan, tapi harus menjaga jarak dengannya.

Sekarang, apa yang akan Sehun lakukan? Menunggu. Itu satu-satunya jawaban.

.

.

.

Hayoung menggandeng tangan Sehun saat mereka melewati jembatan untuk sampai ke Le Bridge.

"Tempat ini sangat indah. Aku senang sekali bisa ke sini bersamamu Sehun."

Hayoung menggelayut manja di pundaknya. Sehun ingin menepisnya, tapi itu akan terlihat sangat tidak sopan.

"Menurutmu, apa ini bukan suatu pertanda? Tadi siang kau menolak ketika kuajak ke nightclub, tapi sekarang kita berada di sebuah restoran yang sangat romantis."

Sehun hanya diam saja mendengar ocehannya, pikirannya tertuju pada Luhan dan Chanyeol yang sudah menunggunya.

"Maksudku, apa ini berarti kita berjodoh?"

Kali ini ucapan Hayoung menghentikan langkahnya. Sehun berpaling, menatapnya tajam dan meloloskan tangannya dari bahunya.

"Kita – tidak– berjodoh."

Kata Sehun menekankan setiap suku kata untuk menjelaskan maksudnya pada Hayoung. Lalu melangkah cepat meninggalkannya.

"Sehun! Tunggu!"

Hayoung berteriak memanggilnya, tapi Sehun tetap melangkahkan kakinya. Lalu ia dengar Hayoung mulai berlari menyusulnya.

Di ambang pintu masuk Sehun mengawasi sekeliling dan melihat Chanyeol yang melambaikan tangannya ke arahnya. Sehun menghampirinya, Hayoung masih setengah berlari di belakang.

Ada empat kursi di meja itu. Chanyeol duduk di depan Luhan, dan meskipun Sehun ingin duduk di sampingnya, pada akhirnya Sehun memilih untuk duduk di samping Chanyeol. Hayoung menyusul dengan nafas terengah-engah dan duduk di samping Luhan.

"Kau meninggalkanku, Sehun." Gumam Hayoung kesal.

Sehun tidak mempedulikannya, tatapannya terpusat pada Luhan. Dia mengenakan gaun hitam yang memperlihatkan bahunya, rambut coklat ikalnya tergerai dengan kepang kecil yang melingkar di atas kepalanya. Sangat cantik...

"Kau sangat cantik..."

Gumam Sehun tanpa sadar, menatap intens pada mata coklatnya yang memancarkan kegugupan.

"Ehm..."

Chanyeol berdeham mengingatkannya. Membuat Sehun berpaling dan mengalihkan perhatiannya dari Luhan.

"Aku akan memesan untukmu,"

Gumam Chanyeol, lalu dia beranjak berdiri dan menuju tempat pemesanan.

Tidak ada yang bersuara saat mereka makan, bahkan Chanyeol sekalipun. Sesekali Sehun melirik Luhan yang juga tak banyak bicara, hanya kadang-kadang berbisik pada Hayoung, entah apa yang mereka bicarakan.

Kadang Sehun merasa gemas ingin menyingkirkan anak rambut yang tertiup angin dari pipinya, dan menyelipkan di balik telinganya. Atau menghapus noda saus pada bibirnya dengan lidahnya.

Pikiran untuk menghapus noda saus di bibirnya dengan lidahnya membuat Sehun mengeras.

"Aku akan ke luar sebentar dengan Luhan." Kata Chanyeol membuyarkan lamunan mesumnya.

Luhan terlihat terkejut, tapi dia tetap berdiri dan meyambut uluran tangan Chanyeol. Chanyeol melingkarkan lengannya di pinggang Luhan saat berjalan meninggalkannya. Sehun hanya menatap mereka dengan pandangan nanar.

"Pasangan yang sangat serasi," Gumaman Hayoung menohok tepat di ulu hati Sehun. "...Sepertinya Luhan menyukai Chanyeol."

Sehun melirik Hayoung kesal, ia yakin wanita jalang itu hanya ingin melukai hatinya. Dengan sabar Sehun menunggu, 10 menit... 15 menit... 30 menit... Oh yeah, ini sudah terlalu lama.

Sehun bangkit dan berdiri, tanpa mempedulikan Hayoung yang masih mengoceh entah membicarakan apa, dan bergegas ke luar dari restoran itu.

"Sehun." Hayoung memanggil Sehun dan mengikutinya.

Sehun berkeliling dan mencari mereka, tapi ia tidak melihat sosok Luhan maupun Chanyeol di antara orang-orang yang lalu lalang. Mendadak Sehun menjadi panik, dan saat ia berlari menuju mobilnya, ponselnya bergetar.

Gugup, Sehun membuka ponselnya dan mendapati pesan dari Chanyeol.

Sorry, Sehun. Luhan memutuskan untuk menghabiskan malam bersamaku. Tolong antar Hayoung ke rumahnya. -CY

Tidak mungkin. Sehun lari menuju mobilnya.

"Sehun!"

Astaga, Sehun lupa dengan keberadaan wanita jalang itu. Sehun berbalik dan menyeret tangannya, menghentikan taksi dan menyuruhnya naik. Lalu memberi uang pada supir taksi tersebut dan menyebutkan alamat rumah Hayoung.

"Tunggu Sehun, kau tidak boleh memperlakukanku seperti ini."

Tapi taksi itu sudah melaju kencang dan teriakan Hayoung hilang terbawa angin. Sehun bergegas masuk ke mobilnya dan melajukannya dengan kencang. Seperti orang gila, Sehun mendatangi club-club yang biasa dikunjungi Chanyeol. Menembus lautan manusia dan berharap bisa menemukan Luhan. Tapi nihil.

Lalu ketika sudah tidak ada lagi daftar nightclub yang bisa ia kunjungi, dengan putus asa, Sehun mendatangi hotel-hotel. Menanyakan kepada setiap resepsionis hotel, mencari jejak keberadaan Chanyeol.

Tapi sudah sekitar 15 hotel yang Sehun datangi, tidak ada setitikpun tanda-tanda Sehun bisa menemukan Chanyeol. Sudah pukul tiga dini hari ketika Sehun berjalan gontai ke luar dari hotel ke 16 yang ia datangi.

Kau bawa kemana Luhan, Yeol...?

Sehun menyandarkan keningnya pada roda kemudi, hatinya diselimuti rasa was-was dan kepedihan, memikirkan apa yang mungkin diperbuat Chanyeol pada Luhan.

Sehun merasa putus asa, mungkin ini memang takdirnya untuk tidak bersama Luhan. Sehun rasa ia harus pulang ke apartemen.

Apartemen? Tunggu.

Seketika kesadaran menyentaknya, Sehun sama sekali belum ke apartemen Chanyeol. Kenapa itu tidak terpikirkan olehnya sebelumnya?

Sehun segera memundurkan mobilnya dari tempat parkir dan membelokkannya, lalu melaju dengan kencang menuju apartemen Chanyeol.

.

.

.

Sehun menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen, dan langsung berlari ke dalam. Masuk ke dalam lift dan menunggu dengan gelisah di dalam lift yang bergerak naik, segera menerobos ke luar ketika pintu belum sepenuhnya terbuka.

Sehun berlari di lorong...109... 110... 111... 112... 113...Ini dia.

Sehun berhenti dan menekan bel pintu berkali-kali. Namun pintu sama sekali tidak terbuka. Karena panik Sehun menggedor-gedor pintu itu, tapi gedorannya malah membuat pintu itu terdorong dan terbuka sedikit.

Hei, pintu ini tidak tertutup sempurna.

Sehun mendorong pintu tersebut, dan langsung terbuka lebar. Sehun menerobos masuk, memanggil-manggil Chanyeol. Tidak ada sahutan, Sehun mendengar alunan musik erotis dari kamar Chanyeol. Dengan langkah lebar, Sehun menuju kamar Chanyeol, dan menghampiri pintunya yang setengah terbuka.

"Oh yeah babe, teruskan. Sialan, ini luar biasa, milikmu terasa nikmat..."

Sehun meradang mendengar ucapan Chanyeol yang bercampur dengan desahannya. Lalu Sehun mendengar suara perempuan mengerang.

Sialan Chanyeol.

Sehun akan membunuhnya.

Sehun dorong pintu kamar Chanyeol, dan ia melihat Chanyeol sedang menggoyang pantatnya di atas tubuh seseorang -yang Sehun yakini adalah Luhan.

Sehun meraih bahu Chanyeol dan menariknya kasar, hingga membuatnya terhuyung-huyung di hadapannya, dan sebelum Chanyeol menyadari apa yang terjadi, Sehun sudah melayangkan tinjunya pada rahangnya. Membuatnya terjengkang dan jatuh terduduk. Chanyeol menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah,

"BRENGSEK KAU SEHUN!! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

"KAU YANG BRENGSEK!"

Teriak Sehun, lalu meloncat ke arahnya dan memukulinya secara bertubi-tubi.

"Beraninya kau meniduri Luhan, beraninya kau bercinta dengannya. Dia milikku! Kau dengar itu! Luhan milikku!"

"Hentikan! Kumohon hentikan!"

Suara seorang wanita memohon pada Sehun. Sehun menghentikan tinjunya di udara, dan tertegun mendengar suara yang menghentikannya. Sehun berbalik dengan cepat dan mendapati seorang wanita berambut hitam yang terduduk di ranjang menangis ketakutan. Tangannya gemetar, menggenggam selimut yang menutupi dadanya.

Bergantian Sehun memandangi Chanyeol yang telanjang dan gadis itu dengan bingung. Sehun tidak mengerti... Chanyeol... Tidak bersama Luhan...

Chanyeol bangkit dan menghampiri gadis itu. Membisikkan sesuatu untuk menenangkannya. Gadis itu mengangguk dan menyeka air matanya. Lalu Chanyeol memakai boxernya dan berbalik menatap Sehun.

"Kau..." tuding Chanyeol pada Sehun, "Ikut aku."

Lalu Chanyeol ke luar dari kamarnya. Sehun mengikutinya setengah linglung. Chanyeol menutup pintu kamarnya dan mengajak Sehun ke bar pribadinya. Chanyeol mengambil dua buah gelas kecil dari lemari beserta sebotol wine. Lalu dia mengisi gelas itu dengan es batu dan menuang wine ke dalamnya.

Chanyeol menghampiri Sehun yang terduduk lemas di sofa dan memberikan segelas wine itu padanya. Sehun menerima gelas itu dan meneguk habis isinya. Mengendurkan kembali syaraf-syarafnya yang menegang.

Chanyeol berdiri di hadapan Sehun, meneguk minumannya, dan matanya mengamatinya, menyelidik ke dalaman isi hatinya.

"Jadi benar, kau mencintai Luhan?" tanyanya pelan, lebih seperti gumaman.

"Kau tidak bersama Luhan?" Sehun balik bertanya.

Chanyeol menggeleng. "Aku mengantarnya pulang tidak lama setelah kami ke luar dari restoran."

"Tapi kau tadi..."

"Aku memancingmu Sehun, aku ingin melihat reaksimu. Tidak kusangka, rasa penasaranku membuat mukaku jadi babak belur."

Chanyeol mengusap lebam yang ada di pipinya.

"Maafkan aku," Sehun menunduk dan meremas rambutnya dengan kedua tangannya, "Aku..."

"Cemburu." Chanyeol memotong ucapan Sehun.

Sehun terhenyak, aku cemburu? Benarkah?

Sehun merasakan perasaan marah yang tidak tertahankan saat melihat Chanyeol sedang bercinta dengan gadis yang ia kira Luhan, Sehun merasakan sakit di dalam dada, seakan-akan ada yang meremas jantungnya.

Seperti inikah rasanya cemburu?

"Kau cemburu buta Sehun." Chanyeol kembali meneguk minumannya.

"Tapi kenapa?"

"Kau masih belum mengerti? Karena kau mencintainya."

"Aku tahu." Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. "Aku tahu aku mencintai Luhan. Rasa ingin memilikinya, begitu kuat di dalam sini."

Sehun menunjuk dadanya, "...Tapi kenapa aku mencintai dia? Kenapa harus Luhan?"

Chanyeol terkekeh, "Karena cinta tidak memilih."

"Aku tidak pantas untuk Luhan."

"Apa yang kau katakan?"

Sehun berdiri tegak di hadapan Chanyeol, merentangkan tangannya ke samping.

"Lihat aku Yeol, siapa aku? Aku pria simpanan, gigolo, atau apapun orang menyebutnya," Lalu Sehun terduduk kembali, lemas tak berdaya, "Aku bajingan... Bajingan kotor yang tidak ada artinya."

"Omong kosong! Kau manusia seperti yang lainnya Sehun, kau berhak memiliki cinta."

"Kau tidak mengerti..." gumam Sehun pelan.

"Aku mengerti." Chanyeol menunduk dan menatap Sehun tajam. "Aku mengerti dirimu, lebih daripada yang kau tahu."

Lalu Chanyeol berdiri dan berbalik, berjalan ke meja bar dan menuang kembali wine ke dalam gelasnya.

"Kejar dia Sehun. Kalau kau laki-laki, kejar Luhan. Dapatkan cintanya, dia pantas untukmu."

Sehun terdiam, tekad yang kuat muncul dalam dadanya.

"Aku akan mengejarnya."

"Bagus... dan satu lagi,"

Chanyeol menghampiri Sehun. Lalu tiba-tiba, dia melayangkan tinjunya ke pipinya, hingga membuat Sehun terlempar ke samping.

"Itu tadi sakit tahu."

Seringainya puas. Lalu Chanyeol berbalik dan melangkah menuju kamarnya,

"Sekarang kau boleh pulang, atau tidur di situ kalau mau. Aku akan meneruskan apa yang tadi kau kacaukan."

Sudut bibir Sehun terangkat, membentuk senyuman kecil. Lalu Sehun menyeka darah yang menetes di sudut bibirnya.

Bersiaplah Luhan, aku akan mengejarmu.

.

.

.

tobe continue

.

.

.

16 Januari 2018

Iya beneeer, luhan itu anaknya donghae ama yoonaaaa. kkkk~

Pasti kalian sebel banget ya sama hyuna dan ngerasa baca ini tu malah kek pair sehun hyuna, no guys, kenapa bagian mereka gak aku skip aja? soalnya biar kalian tau seberapa besar mereka saling ketergantungan, hyuna ada masalah ama suaminya dan sehun udah nganggap hyuna penyelamatnya. Dan... Sehun itu paling gak bisa nolak hyuna. Makanya dia selalu ngikutin apa yg hyuna mau, sehun tu udah ngerasa gak punya harga diri lagi(sebenernya, minder), kasarnya tu kek, ya mau gimana lagi, mau gak mau harus dia dituruti. Balas budi... mungkin.

Ka, ini tu TRILOGY yah? Mau diremake semuanya gak? Hmm, pengennya sii gitu, karena kebiasaanku dari dulu klo remake novel serian, gak berhenti di 1 seri. Cuman ini agak panjang ceritanya dan per chapter ada judul masing2. Mungkin aku bakal remake, cuman aku butuh waktu buat remakenya ya guys, jadi ditunggu aja.

Ka, ini emang segini ya per chapternya? Iya sayang, makanya itu aku usahain fast update. Ada bagian yg aku sambung, ada bagian yang emang kudu di pisah, jadi tetep sesuai dengan judul per chapternya. Jadi kadang aku sesuaikan dengan jalan ceritanya.

Kok makin curiga sii ama hyuna setelah chanyeol ngomong gitu, ada apakah?? Jangan2 hyuna mantan chanyeol lagi? Ini, bakal terjawab guys hohohooo

Oke segitu dulu yaa jawaban dari pertanyaan2 yg ada di review. Makasih makasih bangeeet. Kalian bikin aku jadi semangat nih buat update nya hehe

See yu next chaaap