Shikamaru tak pernah suka ke sekolah. Memang, banyak hal bisa ia pelajari di sana, tapi.. ayolah! Segala Teori ini bisa ia uraikan sendiri dengan logikanya.

Walau semembosankan apapun, sekolah tak pernah semenyebalkan ini untuk Nara kecil. Ucapan Iruka-Sensei terasa menggema tanpa tepi di telinganya, tulisan di papan seakan melayang di sekitarnya. Tapi semenakjubkan apapun hal itu, satu berada di benak Shikamaru : si gadis kecil berkuncir empat.

Dan hari ini, gadis itu pergi. Ia pergi secepat ia datang, Pikir Shikamaru sambil menggelengkan kepalanya pelan. Seperti apa ya?

Kelas mulai makin ribut. Anak-anak rupanya masih membicarakan kedatang utusan Suna di kemarin hari.

"Hei! Shikamaru!" terdengar bisikan memanggilnya, Kiba.

"apa?" Tanya Shikamaru, sementara Iruka-sensei berdehem menegur.

Tapi toh Kiba tak peduli, "aku punya tempat bolos baru! Tak kan ada yang menemukan kita di sana! Ku jamin!"

Haah.. hal ini lagi. Pantas akhir-akhir ini Kiba tak terlihat. Rupanya ia mencari tempat baru untuk bolos. Yah wajar sih, tempat mereka yang dulu, di dekat hutan, tak mungkin lagi di gunakan. Selain karena insiden 'dikejar anjing gila' tempat itu rupanya di jaga oleh bushin Iruka-sensei setiap mereka menghilang.

"yah terserah kau lah. Merepotkan!"

SNT

Bel istirahat berdering, semua anak berhamburan keluar. Saat bangkit akan berdiri, bagian belakang kaus Shikamaru di tarik Naruto. "Hei Shikamaru! Ayo kita ke tempat baru!"

Dan berangkatlah satu tim aneh itu. Kiba di depan, Naruto sibuk mengoceh di belakangnya, Shikamaru menghela napas lelah sementara Chouji di belakang sibuk mengunyah.

Mereka rupanya tidak meninggalkan sekolah. Malahan naik ke tingkat paling atas, ke atap akademi.

"wah! Tempatnya luas, Kiba!" seru Naruto sambil berlari-lari mengelilinginya.

Chouji duduk di lantai, "tapi membosankan.. nggak ada apa-apa.."

Kiba menggaruk kepalanya, "iyaya.. lebih asik di hutan, kita bisa jalan-jalan. Kalau di sini, rasanya terkurung.."

"iya! Ke bawah jauh, ke atas adanya Cuma awan!"

Awan?

Shikamaru menengadah. Di sana langit terlihat begitu dekat. Awan-awan itu mengambang perlahan di latar belakangi warna biru lembut.

"yah udah! Nanti aku cari tempat lain lagi. Sekarang kita balik aja dulu!"

SNT

Tapi saat yang lain kembali ke kelas, Shikamaru diam-diam menyelinap kembali ke atap. Awan yang sedekat itu mengingatkannya pada sang gadis kecil. Dan ia ingin sekali kembali memperhatikan awan-awan itu.

Saat sampai di atas, ia mengelilingi atap tersebut. Lalu menemukan sebuah tempat duduk-duduk beratap di sana. Ia berbaring, matanya menerawang..

Awan itu..

Enak.

Tinggal mengambang mengikuti angin, tak perlu repot memikirkan apapun.

Tapi ia lalu terduduk. Biarpun masih kecil, tapi ia sadar: jadi awan itu nggak mungkin!

Dan saat terduduk, matanya menyapu pemandangan Konoha di bawah sana. Yah kalau ia jadi awan, akan sulit berbakti melindungi desanya. Rupanya tempat ini cukup tinggi, bagian-bagian konoha terlihat dari sana. Dari mulai hamparan gunung batu Hokage sampai penginapan Onsen jauh di sana.

Dan saat itu, matanya menatap penginapan. Terlihat kerumunan orang di sana, mengerumuni sesuatu.

Kalau kau ada di sebelahnya, kau akan mendengar sekrup-sekrup di dalam kepala shikamaru berputar cepat. Ia tiba-tiba mengambil kesimpulan bahwa orang-orang itu mengerumuni utusan Suna!

Shikamaru kelabakan. Ia ingin cepat-cepat turun, tapi rasanya mustahil bisa keluar tanpa tertangkap guru-guru. Menyelinap bukan keahliannya. Itu adalah kelebihan Naruto yang bisa mencoret-coret patung Hokage sampai hancur dan baru kemudian mendapati dirinya di kejar semua jonin di desa. Keributan semacam itu memang Cuma Naruto yang bisa memancingnya.

Keributan?

Tiba-tiba ia mendapat ide gila..

SNT

"SHIKAMARU! DARI MANA SAJA KAU?!"

Bukan jawaban memuaskan yang di terima Iruka, melainkantatapan mata malas dan jari di telinga.

"cepat duduk sana! Kita mulai belajar lagi!"

Si bocah berkuncir tinggi buru-buru menuju mejanya, diantara Naruto dan Chouji.

"kau dari mana Shikamaru?" bisik Chouji.

"aku melihat ada yang aneh waktu kita di atas sana, jadi tadi aku pergi mengeceknya.." jawab Shikamaru dalam bisikan juga.

"memangnya ada apa?"

"tadi aku lihat ada barisan panjang di bawah sana, dan kau tau nggak? Barisan itu rupanya antrian di depan Ichiraku Ramen!"

Dengan sengaja, shikamaru mengeraskan suara dua kata terkahirnya. Spontan saja mata Naruto berkilat-kilat. "Hei Benar nggak tuh?!" tanyanya nyaris histeris, "memangnya ada apa di Ichiraku Ramen?"

"bisa apa saja kan? "

"apa maksu-..?"

"yah mungkin ada makan ramen sepuasnya, atau resep baru. Mungkin juga lomba makan Ramen yang menentukan siapa yang menjadi Hokage. Yang kulihat sih barisan itu kacau banget! Orang-orang itu sepertinya nggak sabar pengen masuk ke Ichiraku Ramen.."

Cukup sudah. Lebih dari cukup malah. Kata-kata itu sudah membuat Naruto kecil gelisah. Pandanganya terus mengarah ke pintu kelas dan jendela.

"kayaknya sih mereka semua nggak sabaran banget. Mungkin apapun yang terjadi di Ichiraku Ramen, nggak akan berlangsung lama.."

"HUAAA! Aku tak tahan lagi!!" teriak Naruto.

"naruto! Apa-apaan Kau ini?!"

Tapi saat Itu juga Naruto bangkit dan berlari ke luar kelas. Iruka pun saat itu juga berlari menyusulnya, "Naruto! Berhenti kau!"

Tapi saat itu yang bisa anak-anak dengar dari kelas hanya teriakan yang perlahan menghilang menjauh berbunya: "RAMEEEEEEEEEN!"

SNT

Anak-anak lainpun mulai hilang kendali tanpa guru mereka. Keributan terjadi saat Ino dan Sakura kembali meributkan siapa yang berhak duduk di sebelah Sasuke. Tak lama kemudian ocehan mereka mulai berganti menjadi pukulan dan cakaran. Anak-anak lain tak hanya diam menyaksikan, satu persatu bangkit dari kursinya dan mulai memberi semangat pada dua gadis kecil itu. Tak ada seorangpun yang menyadari raibnya Shikamaru Nara.

Shikamaru terus berlari. Bukan kea rah penginapan, tapi ke gerbang desa. Karena ia sadar, jarak sekolahnya lebih dekat ke sana dari pada ke penginapan.

Tapi saat ia sampai di sana jalanan telah ramai oleh orang-orang yang hendak mengantar kepergian para utusan desa-desa tetangga. Dan saat itu, akhirnya Shikamaru melihatnya lagi.

Diantara arak-arakan tandu itu, di bawa dalam tandu terbuka, seorang gadis kecil dengan kimono resmi duduk di atasnya. Di sebelahnya, anak lelaki seumur Shikamaru memandang sekitarnya sambil tersenyum. Dan di belakangnya, tandu lain membawa, tak salah lagi, Kazekage sendiri mengenakan jubah dan topinya. Di pangkuannya tertidur seorang anak lain berambut merah.

Dan mata mereka bertemu. Shikamaru member tanda agar gadis itu turun.

"paman?" panggilnya ke bawahnya, seorang pria berwajah lembut menatap balik gadis itu.

"ada apa?"

"aku harus pergi. Eh.. toilet! Sebentar saja!"

"tapi kita akan segera berangkat.."

"kumohooon.."

Tanpa menunggu jawaban, ia melompat turun dan berlari ke arah Shikamaru.

SNT

Mereka tak saling berbicara. Kedunya Cuma berlari. Lima kuncir, yang empat mengikutinya yang satu. Tanpa tau kemana ia akan di bawa. Tapi entah kenapa, ia tau ia harus ikut. Selain itu entah sejak kapan, tapi keduanya kini berlari sambil saling menggandeng tangan.

Mereka menuju sekolah.

Masuk, naik. Naik terus dan terus.

Sesampainya di atap, Shikamaru berjalan ke arah pondok kecil tadi.

"kenapa kita kesini?" Tanya gadis Suna itu.

"karena di sini tempat paling tinggi aku bisa membawamu. Di sini awan terlihat lebih dekat. Bukannya kau suka Awan?"

Gadis Suna itu tersenyum, senyum yang membuat detak jantung Shikamaru berdenyut cepat sampai terasa sakit. Senyum yang membayar keringatnya saat berlarian ke sana kemari dari tadi.

"kau tau? Kau seperti angin.." kata Shikamaru sambil memalingkan wajahnya yang memerah

"Kenapa?"

"karena kau datang dan pegi dengan cepat. karna kau berisik…"

Gadis itu menggembungkan pipinya, marah.

"karena kau akan pergi tanpa meninggalkan apapun untuk kulihat dan ku sentuh. Yang kau tinggalkan Cuma.. Cuma rasa nyaman.. "

"sekarang aku punya hal lain yang lebih kusukai dari pada awan" kata gadis itu.

"apa?"

"angin, karena kau bilang aku seperti mereka!"

Keduanya menatap langit lebar di atas kepala mereka. Menatap awan-awan yang tertiup angin pelan. Dimana dua hal yang mereka sukai bertemu, dan di bawahnya, mereka menatap dengan senyuman.

"aku.. aku ingin di sini lebih lama, tapi kurasa aku harus pergi sekarang, orang-orang menugguku.." kata gadis itu.

Dan saat itu, saat Shikamaru yakin ia akan menunggu lama untuk melihat wajah itu lagi, saat ia berpikir kalau kemungkinan besar mereka takkan bertemu lagi, Shikamaru menunduk, ia mulai.. mulai menangis pelan.

"kau.. kau akan pergi?" Tanyanya diantara tangisanya. Berusaha keras menyembunyikan isakanya.

"aku masih bisa ke sini lagi lain besok-besok. Sekarang aku harus pulang! Tapi aku nggak akan kesini kalau kau cengeng begitu! Jaa nee!"

Dan setelah itu, Shikamaru menatap punggung gadis itu yang berlari menjauh. Tapi bila ia menatap wajahnya sekali lagi saja, ia akan tau kalau ada tangisan di sana.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang penting:

"HEI! NAMAKU SHIKAMARU, Kau siapa?"

belum sempat Shikamaru melanjutkan ceritanya, sebuah suara menginterupsi. "kau di sini rupanya!"

Rei dan Shikamaru menengok, di sebelah meja mereka berdiri seorang Kunoichi Suna. Rei buru-buru berlutut di hadapanya, "Temari-sama!"

Temari mengangguk ke arahnya, lalu berpaling pada Shikamaru, "aku Cuma berpikir apakah seseorang lupa hari ulang tahunnya?"

Shikamaru tersenyum, "tidak, tapi ia berpikir apakah ada yang ingat?"

"mana mungkin aku lupa? Ini bukan hanya hari ulang tahunmu, tapi juga hari pertama kita bertemu, dan juga hari seseorang mengungkapkan perasaanya padaku, dan satu lagi.."

Saat itu semua jelas bagi Rei. Sambil tersenyum tapi tanpa mengatakan apapun, ia meninggalkan mereka berdua. Kini apa dan kenapa awan menjadi satu hal yang spesial bagi temannya itu terjawab sudah.

SNT

Mereka kini duduk di bukit tempat tadi Shikamaru tertidur, Temari menyerahkan sebuah gulungan ke hadapan Shikamaru, "kado ulang tahu, dari Suna bersaudara.."

Shikamaru membukanya dengan penasaran, Temari bilang ini dari Suna besaudara. Berarti dari dia sendiri, Kankuro dan Gaara. Apa yang bisa mereka berikan padanya? Sambil mewaspadai kutukan, Ia mebaca isinya perlahan.

Dan ia tak percaya hingga membacanya berulang kali.

Dengan ini,kami, Kankuro, Sabaku No Gaara—kazekage--, adik dari Temari telah merestui hubungan kalian.

Ps. Buat dia menangis kalau kau berani dan berharaplah masih ada sesuatu dari dirimu yang tersisa untuk di kuburkan di makammu nantinya.

Bertanda tangan di bawah ini:

Temari Kankuro Gaara

Air mata bahagia menetes di pipi Shikamaru.

"ini.. serius?"

"tentu saja mereka serius, cowok cengeng! Kalau mereka berani bercanda dalam siituasi begini, aku yang akan membunuh mereka!"

Dan di bawah langit, mereka berpelukan. Keduanya menangis bahagia. Dan hari itu bertambah satu hal spesial lagi bagi mereka: ulang tahun Shikamaru, hari Shikamaru menyatakan perasaanya, dan hari turunya izin pacaran dari Kankuro dan Gaara :D

Hahahaha.. akhirnya selsai juga nih fic. Makasih buat semua yang telah setia membacanya. Buat yang nge-review ataupun sekedar baca. Makasih sekali lagi. Dan maafkanlah keterlambatan update dari author. Tak ada hardisk yang tak bervirus, salahkanlah para virus maker karena telah menghancurkan memory hardisk gw! Next update: konflik neji hyuuga!