Baekhyun tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Malam semakin larut, tapi tak ada tanda-tanda dari Chanyeol untuk sekedar mengendurkan pelukannya. Kedua mata pria itu terpejam erat-erat, Baekhyun tak tau apakah Chanyeol tidur atau tidak, tapi napasnya terdengar teratur.

Kedua tangannya masih memeluk Baekhyun dengan erat, sedikit membuat Baekhyun sesak karena suhu tubuh Chanyeol yang panas menyentuh kulitnya.

Sementara mungkin Chanyeol masih diambang batas antara sadar dan tidak, pikiran Baekhyun berputar-putar jauh meninggalkan tubuhnya. Dari awal ia sudah berniat melupakan pria itu, meninggalkan semua kenangan buruk yang sudah Chanyeol goreskan untuknya, Baekhyun berniat membuang semuanya, termasuk perasaan dan rasa cinta bodoh yang sudah menutupi kerasionalan otaknya.

Baekhyun sudah bertekad untuk benar-benar melupakan Chanyeol, mengakhiri kisah hidup gelapnya yang menyedihkan, dan mulai menjalani kehidupan baru yang lebih baik dari ini.

Semua kebencian terhadap perlakuan Chanyeol kasar benar-benar sudah memuncak dalam hati Baekhyun. Ia sudah muak dengan apa yang Chanyeol lakukan, Baekhyun bosan dengan semua itu, ia ingin bebas dari semua belenggu yang Chanyeol berikan padanya.

Baekhyun ingin melepas semua hal tentang Chanyeol, meninggalkan itu semua jauh dibelakang dan bergerak maju menjemput hidup yang lebih baik tanpa bayangan Chanyeol lagi.

Melupakan Chanyeol bukan hal yang mustahil untuk dilakukan sekarang.

Tapi Baekhyun juga tak tau, sejak tadi sore saat melihat keadaan Chanyeol yang menydihkan, hatinya kembali menjerit. Seolah ia kembali terikat dengan Chanyeol tanpa alasan yang jelas. Melihat Chanyeol menderita sedikit membuat hatinya terusik, mau tak mau Baekhyun ikut merasakan rasa sakit yang pria itu rasakan.

Padahal selama ini, Chanyeol tak pernah merasakan rasa sakit yang Baekhyun rasakan. Lebih parahnya, rasa sakit yang Baekhyun rasakan itu berasal dari Chanyeol.

Miris sekali.

Baekhyun masih tak tau apa yang terjadi dengan Chanyeol hingga membuatnya tampak begitu lemah, sangat rapuh, bahkan tak tau apakah pria itu sadar atau tidak. Ini kali kedua ia melihat Chanyeol begitu menyedihkan, pertama kali ia melihat Chanyeol nyaris gila saat gadis yang dicintainya divonis menderita penyakit mematikan oleh dokter.

Saat itu Baekhyun muncul dalam kehidupan Chanyeol untuk menawarkan diri sebagai pelacurnya, hanya untuk sedikit menghibur agar pria itu tidak serta merta mengakhiri hidup. Karena jujur saja, saat itu Chanyeol kehilangan semangat hidup, ia nyaris terlihat seperti mayat hidup daripada manusia.

Dan Baekhyun berhasil menemani Chanyeol hingga pria itu terbiasa dengan keadaan hidupnya. Well, meskipun Baekhyun tau Chanyeol tak menganggapnya sebagai teman, tapi itu sama sekali bukan masalah. Chanyeol hanya menganggapnya sebagai pelacur tak berharga yang ia gunakan untuk melampiaskan nafsu-nafsu bejatnya.

Baekhyun sama sekali tidak mempermasalahkan itu pada awalnya.

Tapi sekarang, setelah titik jenuhnya sudah memuncak dan ia mulai bisa menemukan cara untuk melangkah menjauh dari hidup Chanyeol, keadaan pria itu kembali menyedihkan. Hal ini sedikit membuat Baekhyun berpikir ulang untuk meninggalkannya.

Baekhyun ingin meninggalkan Chanyeol sebenarnya, ia sudah bertekad, tapi tetap saja masih ada sedikit perasaan cinta tersisa untuk Chanyeol jauh di dalam lubuk hatinya.

Hal ini semakin membuatnya bingung.

Ingatkan Baekhyun pernah benar-benar menggilai pria itu.

Baekhyun sedikit menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari pelukan Chanyeol, ia benar-benar harus melakukan hal lain. Chanyeol meleguh dalam tidurnya, terlebih saat Baekhyun sudah berhasil duduk. Ragu-ragu, Baekhyun melihat Chanyeol, mata pria itu terpejam, bibirnya sedikit terbuka dan keningnya berkerut dalam seolah menahan sakit.

Hembusan napas berat keluar dari bibir Baekhyun, dengan gerakan perlahan ia menyentuh dahi Chanyeol yang panas, tapi tangan Chanyeol dengan cepat memegang tangannya –sedkit membuat Baekhyun terkejut karena ternyata pria itu belum terlelap. Chanyeol menarik tangan Baekhyun agar menyentuh pipinya, kemudian sedikit mengecup jemari lentiknya.

Chanyeol sedikit membuka mata, ia menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan, sedangkan Baekhyun memandanginya dengan bingung. Bibir pria itu nyaris berwarna putih karena pucat dan wajahnya seperti orang sekarat. "Kau baik-baik saja?" tanya Baekhyun, memastikan Chanyeol sudah sadar sekarang.

Dengan senyuman ringan, Chanyeol mengangguk. Ia berusaha bangkit untuk duduk dan Baekhyun membantunya, kedua tangan masih memegangi tubuh Chanyeol, seolah-olah takut pria itu akan jatuh. Chanyeol sedikit mengerang, ia menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa dan memejamkan mata lagi.

Baekhyun berdiri, melepaskan pegangannya pada tubuh Chanyeol, membuat pria itu memandanginya dengan tatapan bingung. "Aku hanya akan mengambil barangku yang tertinggal," ucap Baekhyun, seolah memberikan alasan pada Chanyeol mengapa ia kembali.

Dengan cepat, Chanyeol menahan tangan Baekhyun, membuatnya berhenti bergerak dan berdiri mematung membelakangi Chanyeol. "Jangan pergi, Baekhyun," suara Chanyeol terdengar parau.

Jangan dengarkan dia, Baekhyun. Keraskan hatimu.

Baekhyun memejamkan mata, berusaha menelan rasa simpatinya terhadap Chanyeol. Dalam pikirannya mulai membayangkan rasa bencinya terhadap Chanyeol, mendorong perasaan itu hingga menguasai dirinya sendiri. Baekhyun berusaha melepaskan rasa ibanya, berusaha tidak peduli dengan Chanyeol lagi.

Meskipun itu sulit, Baekhyun mencoba.

"Jangan seperti ini, Chanyeol," ucap Baekhyun, terdengar begitu dingin. Dengan cepat ia menyentak tangan Chanyeol yang masih menahannya.

Baekhyun berusaha mengatur napas, ia mengeraskan rahangnya, berusaha tidak kembali menaruh rasa iba pada pria yang sudah banyak menyakitinya itu.

"Kumohon, jangan pergi," bisik Chanyeol dengan suara nyaris habis, terdengar begitu lemah.

"Hentikan, Chanyeol. Kumohon," balas Baekhyun sedikit membentak, ia kembali menyentak tangan Chanyeol yang berusaha menyentuhnya lagi. "Jangan buat ini semakin sulit," Baekhyun berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar saat mengucapkannya. "Aku lelah," tambahnya dengan nada bicara malas.

"Baekhyun, kumohon," suara Chanyeol terdengar mengerikan, ia sedikit menarik tangan Baekhyun, membuatnya membalikkan tubuh agar memandang Chanyeol. Dan Baekhyun menatapnya tanpa ekspresi, rahangnya mengeras, sedangkan matanya sama sekali tidak menunjukkan perasaan nyaman. "Jangan pergi dariku lagi,"

Sial, jangan menatapku seperti itu Chanyeol. Kau tak pantas dikasihani.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan miring, seolah mengabaikan hati dan pikirannya yang sedang berdebat. "Sepertinya kau belum sadar, Park Chanyeol," bisiknya dengan suara datar.

"Aku sadar dengan apa yang kukatakan," Chanyeol sedikit meringis menahan sakit saat mengatakan itu dengan suara sedikit keras, perlahan ia sedikit bergerak untuk menjatuhkan tubuhnya di atas lantai berlapis karpet tebal. Chanyeol duduk bertumpu pada kedua lututnya, kepalanya tertunduk, tidak menatap Baekhyun yang sedang berdiri didepannya.

Pria itu berlutut dihadapan Baekhyun.

Apa yang kau lakukan, Chanyeol?

"Chanyeol, berdiri. Apa yang kau lakukan?" perintah Baekhyun dengan suara yang terdengar nyaris seperti bentakan, ia sedikt menarik tubuh Chanyeol tapi pria itu sama sekali tak bergerak.

Chanyeol masih menundukkan kepala, kedua tangannya berada diatas paha seolah sedang menjalani hukuman. "Maafkan aku, Baekhyun, kumohon,"

Apa kau bilang?

"Hentikan Chanyeol," bisik Baekhyun, gadis itu masih meremas lengan Chanyeol, berusaha menariknya berdiri.

"Tuhan sudah menghukumku. Aku harus membayar mahal atas semua kesalahan yang sudah kulakukan padamu," Chanyeol mengatakan itu dengan suara bergetar. "Tuhan mengambil semua yang kumiliki. Kumohon, maafkan aku," ucapnya lirih, mengulangi kalimat permohonan maaf itu beberapa kali dengan suara yang mirip gumaman tidak jelas.

Baekhyun menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ikut berlutut di hadapan Chanyeol, seolah masih belum yakin pria itu mengatakannya dengan sadar. "Hentikan, Chanyeol. Ini bukan dirimu," suaranya terdengar keras. Baekhyun sedikit mengguncang bahu Chanyeol kasar, berusaha menyadarkan pria itu meskipun sebenarnya Chanyeol sudah benar-benar sadar.

Tentu saja, Baekhyun belum pernah melihat Chanyeol yang seperti ini.

Chanyeol tampak begitu lemah, rapuh, sangat menyedihkan. Seolah-olah sikap angkuh yang selama ini Baekhyun tau dari pria itu tak pernah ada dalam diri Chanyeol.

"Jangan meninggalkanku, kumohon. Kau satu-satunya yang kumiliki sekarang," suara Chanyeol terdengar seperti bisikan lemah.

Apa kau bilang? Jadi gadis yang kau cintai itu benar-benar sudah mati sekarang?

Oke, itu pemikiran jahat. Tapi Baekhyun terlalu malas untuk peduli.

"Hentikan, Chanyeol," bentak Baekhyun dengan suara keras. Ia sedikit menarik wajah Chanyeol agar menatapnya, baru menyadari bahwa tatapan mata Chanyeol benar-benar menyedihkan. Karena cahaya lampu yang sedikit menerangi wajah pria itu yang mendongak, Baekhyun baru tau Chanyeol memiliki lebam bekas luka dipipi kanan, juga disudut bibirnya.

Apa yang terjadi?

"Jangan meninggalkanku lagi, Baekhyun. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu," bisik Chanyeol.

Dan Baekhyun menamparnya, cukup kuat hingga membuat Chanyeol nyaris tersungkur. Sebenarnya Baekhyun tak tau mengapa ia menampar Chanyeol, hanya saja ia butuh penguatan bahwa pria itu benar-benar sudah sadar. Juga, Baekhyun benci mendengar kalimat itu keluar dari bibir Chanyeol, seolah ia tak pernah melakukan dosa pada Baekhyun.

Lucu sekali, bukan?

Dan juga karena kalimat yang baru saja Chanyeol lontarkan hampir mengikis rasa tega dalam dirinya. Baekhyun tak boleh terpedaya oleh ucapan itu.

Sadarlah, Baekhyun. Berapa banyak rasa sakit yang sudah pria brengsek ini berikan padamu?

"Berhenti bicara," bentak Baekhyun kasar saat Chanyeol hendak bersuara lagi. Kedua tangannya mencengkeram lengan Chanyeol, menguncangnya beberapa kali kuat-kuat. "Sadarlah, Park Chanyeol. Ini bukan dirimu. Kemana Chanyeol yang angkuh, Chanyeol yang kuat, Chanyeol yang selalu mengendalikan. Kau bukan pria menyedihkan seperti ini, Chanyeol," Baekhyun masih mengguncang pria itu dengan kasar.

"Baekhyun, kumohon," bisik Chanyeol dengan suara nyaris habis. "Jangan pergi,"

Baekhyun mendengus keras, kembali tangannya menampar pipi Chanyeol kuat-kuat. "Sadarlah, Park Chanyeol. Kumohon. Kembalilah menjadi Chanyeol yang angkuh, jangan seperti ini. Kau tak pantas dikasihani," jerit Baekhyun.

Chanyeol sedikit mengerang merasakan tamparan Baekhyun, ia menatap Baekhyun dengan pandangan sayu, matanya penuh permohonan, penuh kesedihan, terlihat sangat lemah. "Kumohon, jangan pergi," bisik Chanyeol dengan mata terpejam.

Tiba-tiba saja, tubuh pria itu terkulai lemas, tubuhnya jatuh kearah belakang, membuat Baekhyun dengan cepat meraih kepalanya sebelum membentur lantai. Chanyeol kembali tidak sadarkan diri.

Meninggalkan Baekhyun dengan perasaan campur aduk tidak jelas.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

.

.

Baekhyun menyadari bahwa Chanyeol benar-benar terguncang. Meskipun tak mengatakannya secara jelas, Baekhyun tau gadis yang pria itu cintai sudah tiada. Ia sempat melihat jas hitam Chanyeol yang berserakan dilantai, pria itu pasti dari pemakaman.

Seharusnya Baekhyun senang karena itu berarti ia tak merasa sakit hati lagi, hanya saja, ini membuat Chanyeol seperti orang gila menyedihkan. Cukup menyedihkan hingga membuat Baekhyun kembali menaruh rasa iba padanya.

Baekhyun belum tau apa yang membuat Chanyeol merengek padanya, padahal sebelumnya, pria itu sama sekali tidak menganggapnya sebagai manusia.

Dan Baekhyun terlalu bodoh untuk tetap tinggal. Gadis itu menunggui Chanyeol sepanjang malam, ia berusaha menurunkan suhu tubuh Chanyeol yang tinggi karena pria itu demam dan mulai mengigau tidak jelas.

Baekhyun bisa saja memanggil ambulans, membiarkan Chanyeol mendapat perawatan di rumah sakit, dan pergi meninggalkannya untuk memulai hidup baru.

Tapi, Baekhyun tidak melakukan itu.

Mungkin masih ada sedikit rasa iba dalam hati Baekhyun agar tidak meninggalkan pria itu, atau mungkin perasaan cintanya kembali muncul, menggeser rasa bencinya. Baekhyun sendiri tak yakin dengan hal ini. Ia harus mencari tau bagaimana perasaanya sendiri sekarang.

Pagi menjemput, Baekhyun sudah menyibukkan diri dengan dapur. Tubuhnya benar-benar lelah karena tidak istirahat sejak terbang dari Jepang. Bahkan malam tadi ia tidak bisa tidur nyenyak karena harus terus menerus memeriksa keadaan Chanyeol.

Demamnya sudah turun pagi ini dan Baekhyun terpaksa harus membuat bubur untuk pria itu. Bagaimanapun, ia tidak bisa menelantarkan Chanyeol dengan keadaan seperti itu. Sisi kemanusiaan masih menempel erat didalam diri Baekhyun.

Baekhyun bisa mendengar suara-suara berisik dari belakang tubuhnya, ia sedikit menoleh kebelakang untuk melihat apa yang terjadi. Chanyeol berdiri disana, ia sedikit menabrak sesuatu, kemudian mengerang tipis sambil memegangi kepala.

"Kau baik-baik saja?" teriak Baekhyun dari dapur, ia mematikan kompor dan sedikit berjalan mendekati Chanyeol.

Suara erangan Chanyeol terdengar lagi, pria itu berjalan terhuyung-huyung menuju meja makan, tangannya mencengkeram pinggiran meja agar tidak jatuh, sementara ia susah payah duduk di kursi. "Senang melihatmu pagi ini," bisiknya dengan suara parau.

Wah, luar biasa.

Baekhyun nyaris tak mempercayai pendengarannya sendiri. Ini kali pertama Chanyeol mengucapkan hal itu, bahkan Baekhyun tak pernah membayangkan akan mendengar Chanyeol mengatakannya.

Baekhyun tidak menjawab, gadis itu kembali menyelesaikan masakannya. Dengan cepat, memindahkan bubur itu kedalam mangkuk, ia mengambil beberapa peralatan makan dan menyusul Chanyeol duduk di meja makan.

Ia menyodorkan bubur itu kehadapan Chanyeol. "Masih panas, tiup dulu," Baekhyun belum sempat berjalan menjauh, tapi Chanyeol sudah memeluknya erat-erat. Pria itu menyusupkan wajahnya ke perut Baekhyun. "Lepaskan aku dan cepat makan," Baekhyun mengingatkan.

Oke, jujur saja Baekhyun sedikit gugup saat Chanyeol memeluknya seperti ini.

"Jangan pergi, kumohon," rengek Chanyeol.

Baekhyun mendesah malas, ia sedikit mendorong Chanyeol agar melepas pelukannya, kemudian duduk disebelah pria itu. Jemari Baekhyun sedikit terangkat untuk menyentuh dahi Chanyeol yang masih sedikit panas. "Jangan melakukan hal bodoh dulu dan sekarang makan," perintah Baekhyun tanpa tersenyum.

Chanyeol memandangi gadis itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. "Baekhyun aku–,"

"Berhenti bicara tentang omong kosong dan mulailah makan, aku sudah mendengar omong kosongmu semalam," potongnya, entah mengapa Baekhyun benar-benar berani mengatakan hal itu sekarang. Sebenarnya Bakehyun malah berharap Chanyeol marah dan menendangnya keluar.

Tapi Chanyeol tersenyum, pria itu mengangguk ringan dan mulai meniup-niup buburnya. Baekhyun mendesah ringan, memandangi Chanyeol dengan tatapan bingung. Seolah-olah ia belum mempercayai bahwa Chanyeol sudah benar-benar sadar seratus persen.

Baekhyun masih merasa itu bukan seperti Chanyeol.

"Chanyeol," panggil Baekhyun, ia melihat Chanyeol terlihat kesakitan saat menelan makanannya. "Jangan dimakan jika memang sakit," bisiknya, sebenarnya tidak tega melihat keadaan Chanyeol yang menyedihkan. "Kita bisa ke rumah sakit,"

Chanyeol menggeleng, kembali menelan buburnya susah payah. "Aku baik-baik saja," bisiknya.

Baekhyun hanya membuang napas berat. "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa sikapmu begitu berbeda, Chanyeol?" tanya Baekhyun, benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya lagi.

Chanyeol melirik Baekhyun sedikit, kepala pria itu sedikit menunduk menghindari tatapan Baekhyun. "Aku benar-benar melakukan dosa besar, Baekhyun. Maaf karena memperlakukanmu dengan buruk selama ini,"

Yah, kau sudah terlambat hampir satu tahun untuk menyadari hal itu, Park Chanyeol.

"Yah, aku tau. Tak perlu minta maaf lagi, aku lelah mendengarnya," balas Baekhyun dengan angkuh. "Aku hanya penasaran, apa yang membuatmu sadar," Baekhyun tidak bisa menghindari ucapannya yang terkesan tajam dan sarkas.

"Aku baru saja kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku," lirih Chanyeol, perlahan ia menatap Baekhyun. "Dan aku menyadari, kau sama berharganya,"

Jadi kau masih membandingkanku dengan gadis itu? Luar biasa!

"Aku hanya pelacurmu, Chanyeol. Kau selalu menganggapku seperti sampah," Baekhyun terkekeh ringan, terdengar seperti ejekan. Dan Chanyeol mengangguk beberapa kali, mengakuinya tanpa suara. Wajah Chanyeol menyiratkan penyesalan yang jelas.

"Maafkan aku, Baekhyun. Aku benar-benar bodoh telah melakukan itu padamu. Aku benar-benar menyesal," Chanyeol mengatakannya dengan suara tipis dan kepala yang kembali menunduk.

Baekhyun mendesah ringan. "Kau terlalu terlambat untuk menyesali itu, Chanyeol," Baekhyun berhenti sebentar untuk tertawa angkuh. "Apa kau sadar dengan semua rasa sakit yang kau berikan padaku selama ini?" lambat, Chanyeol mengangguk. "Selama ini aku menahannya karena kupikir aku mencintaimu,"

"Baekhyun,"

"Tapi kurasa sekarang aku tak bisa mencintaimu seperti dulu. Aku sudah muak, Chanyeol. Semua rasa sakit yang kau berikan benar-benar sudah menguapkan perasaan cintaku yang bodoh itu. Aku tak akan bisa memandangmu dengan tatapan yang sama seperti dulu, aku tak bisa mencintai sebesar dulu. Kuharap kau mengerti itu," jelas Baekhyun. "Jadi jangan berharap apapun dariku,"

"Ya, aku tau, Baekhyun," bisik Chanyeol dengan suara tipis. "Tapi kumohon, jangan meninggalkanku lagi. Itu nyaris membunuhku,"

Dan Baekhyun tertawa mengejek. "Lucu sekali Chanyeol. Bukankah kau pikir itu terlalu jauh?" Baekhyun tertawa lagi, sedangkan Chanyeol memandanginya dengan kening berkerut bingung. "Kau nyaris mati karena kehilangan gadis yang kau cintai, bukan aku," ucap Baekhyun dengan seringaian mengejek yang jelas, tak peduli Chanyeol akan sakit hati karena hal itu.

"Aku juga mencintaimu,"

Apa kau bilang?

.

.

Baekhyun sama sekali belum bisa pulih dari keterkejutannya saat sikap Chanyeol seratus persen berubah. Ditambah lagi, beberapa saat yang lalu, pria itu menyatakan cinta padanya. Baekhyun benar-beanr tak habis pikir dengan apa yang sedang Chanyeol rencanakan, apa yang sebenarnya ada dalam otak Chanyeol.

Perubahan itu teramat besar, bahkan nyaris mustahil.

Chanyeol sadar saat mengucapkan itu, hanya saja, semua masih terlalu aneh untuk dinalar. Apa yang harus Baekhyun lakukan sekarang, ia masih belum bisa menentukan sikap sama sekali. Kembali dalam pelukan Chanyeol tidak bisa ia lakukan, tapi pergi dari pria itu, juga tak bisa ia lakukan.

Rasanya, Baekhyun berhenti dititik nol, tanpa bisa bergerak lebih jauh lagi.

Hari sudah beranjak siang saat Baekhyun duduk bersantai di depan televisi yang menyala, ia menonton acara masak yang tidak penting hanya untuk sekedar memecah keheningan. Chanyeol sedang tidur dengan kepala berada diatas pangkuannya. Pria itu terus menerus menempel padanya agar tidak ditinggal pergi, dan Baekhyun tak punya pilihan lain selain membiarkan Chanyeol tidur diatas pahanya.

Demamnya sudah turun, tapi Chanyeol masih tampak begitu lemah. Jadi Baekhyun membiarkan pria itu membolos bekerja hari ini, beruntungnya, Baekhyun mendapat sedikit libur setelah bekerja di Jepang selama satu minggu. Entah mengapa, tapi ia juga tak bisa meninggalkan Chanyeol sendiri dalam keadaan seperti ini.

Baekhyun hanya takut Chanyeol akan semakin parah saat ditinggal sendiri.

"Baekhyun," suara Chanyeol membuat Baekhyun menundukkan kepala untuk menatap pria itu. Ia bergumam sedikit untuk menjawab panggilan itu. Chanyeol tersenyum, ia menyapukan jemarinya yang dingin di sepanjang tulang pipi Baekhyun.

Baekhyun menatapnya dengan kening berkerut dalam, sama sekali tidak bisa membalas senyuman pria itu. "Serius, Chanyeol. Seharusnya kita ke rumah sakit dan membawamu ke psikiater," Baekhyun menarik jari Chanyeol dari wajahnya, sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan dari lebam kebiruan jelas yang menghiasi beberapa sudut wajah pria itu.

"Aku tidak gila, Baekhyun," bisik Chanyeol dengan suara pelan.

Baekhyun mendesah ringan, jemarinya menyentuh lebam di wajah Chanyeol –sedikit membuat pria itu meringis menahan sakit. "Apa kau bertengkar dengan seseorang?"

"Kau belum tau?" pertanyaan Chanyeol hanya membuat Baekhyun semakin bingung. "Kupikir dia sudah menceritakannya padamu,"

Kening Baekhyun berkerut dalam, benar-benar tak bisa menyembunyikan kebingungan. "Apa maksudmu, aku tidak mengerti,"

Chanyeol mendesah ringan, ia menarik tubuhnya untuk duduk dan menghadap Baekhyun. "Malam saat kau pergi dari sini, seseorang mendatangiku," Chanyeol menghembuskan napas berat, semakin membuat Baekhyun tak mengerti. "Dia mengancamku, bahkan nyaris membunuhku. Aku tau pantas mendapatkan itu darinya karena benar-benar sudah menyakitimu, Baekhyun. Jadi aku tidak melawan,"

"Tunggu dulu, Chanyeol. Apa yang terjadi sebenarnya?"

Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat-erat. "Beberapa hari yang lalu pria itu datang lagi saat aku baru pulang dari pemakaman. Dia hanya memastikan aku sudah berubah, dia memintaku berjanji untuk memperlakukanmu dengan baik mulai sekarang," jelas Chanyeol. "Dan aku akan melakukan itu mulai sekarang,"

Baekhyun masih mengerutkan kening bingung, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi. "Siapa dia, Chanyeol?"

Channyeol tersenyum tipis, ia mengecupi jemari Baekhyun dengan lembut. "Dia mengancamku akan membawamu pergi jika aku tidak berubah. Dan mungkin itulah yang membuatku sadar, aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, Baekhyun,"

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Siapa yang mengancammu, Chanyeol?" desak Baekhyun, ia membiarkan Chanyeol masih mengecupi jemarinya, Baekhyun tak peduli lagi.

"Kris," dan Baekhyun membulatkan mata lebar-lebar.

Kris? Bagaimana dia bisa tau semua ini?

Baekhyun menarik tangannya dengan cepat. "Aku harus pergi," ia berdiri dengan cepat dan menyambar jaket tebalnya, kemudian berlari keluar dari apartemen Chanyeol.

Baekhyun harus menjelaskan ini pada Kris.

.

.

Agak tidak sabaran, Baekhyun mengetuk pintu Kris dengan keras beberapa kali. Setelah turun dari taksi beberapa menit yang lalu, ia berlari menuju depan pintu apartemen Kris, mengabaikan napasnya yang berantakan, juga mengabaikan kakinya yang sedikit kram karena lelah.

Kris membuka pintu dengan senyuman lebar. "Baekhyun?" tanyanya, sama sekali tak terkejut saat melihatnya berdiri didepan pintu dengan napas tersengal.

"Kris, kita perlu bicara," ucap Baekhyun.

"Ya aku tau, aku sudah menunggumu daritadi," balas Kris dengan cengiran khasnya, mempersilahkan Baekhyun masuk.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Kris?" tanya Baekhyun langsung.

Kris sedikit tertawa, perlahan, menarik tubuh Baekhyun agar duduk di sampingnya. "Ceritanya panjang sekali," balas Kris.

Baekhyun sedikit menghembuskan napas berat, merasa Kris sudah membodohinya selama ini. "Bagaimana kau bisa tau tentang Chanyeol?" desak Baekhyun.

"Entahlah, dari awal aku bertemu dengan Chanyeol di rumah sakit saat kau pingsan, aku tau ada yang salah dengan pria itu," Kris berhenti sebentar untuk mendesah ringan. "Bagaimanapun kau mencoba menutupinya, matamu tak akan pernah bisa menipuku, Baekhyun. Aku tau semuanya. Bajingan itu yang membuatmu sakit, kan?" Kris sedikit meninggikan suaranya.

Baekhyun tercekat, tanpa sadar menelan ludah gugup saat melihat keseriusan dalam wajah Kris. Tapi Baekhyun tak bicara apapun, tidak menyela, tidak mengajukan pertanyaan, juga tak memberikan Kris jawaban.

Menurutnya itu sudah tergambar jelas diwajahnya sekarang.

"Aku benar-benar tak bisa menahannya lagi saat kau mengunjungiku dengan bekas luka malam itu," Kris meringis. "Aku tak bisa melihatmu seperti ini, Baekhyun. Bajingan itu benar-benar harus sedikit disadarkan," Baekhyun bisa mendengar geraman dalam nada suara Kris yang dingin.

Baekhyun membuang napas berat, tanpa sadar menggenggam tangan Kris lebih erat lagi. "Maaf Kris. Aku sudah membohongimu tentang hal ini," Baekhyun sedikit menundukkan kepala, benar-benar merasa malu sekarang.

Kris tersenyum, ia mengusap kepala Baekhyun dengan lembut beberapa kali, berhasil membuat detak jantung Baekhyun sedikit berpacu. "Itu bukan masalah, pasti sulit bagimu untuk mengatakan hal ini kepada orang lain. Tapi aku tak bisa membiarkanmu terus menerus seperti ini, aku benar-benar jatuh cinta padamu, Baekhyun,"

Apa kau bilang?

"Kris,"

Kris memandangi Baekhyun dengan senyuman lembut. "Aku ingin membuatmu bahagia Baekhyun, lepas dari belenggu bajingan itu. Aku ingin kau melupakannya. Jujur saja, aku bisa membuatmu bahagia. Kau tak pantas hidup seperti ini,"

Baekhyun kehilangan kata-kata, sama sekali tak bisa memikirkan apapun.

Kemudian ris sedikit tertawa. "Tapi aku tau kau benar-benar mencintai bajingan itu. Jadi aku tak akan mengambilmu darinya," Kris tersenyum lagi, mengusap pipi Baekhyun dengan sayang, dan Baekhyun memandanginya dengan tatapan mata bingung. "Beberapa hari yang lalu aku menemuinya lagi, dan sepertinya bajingan itu ingin berubah,"

Yah, Chanyeol sudah berubah.

"Dia mencintaimu, Baekhyun, bahkan tanpa ia sadari," dan Baekhyun tercekat mendengarnya. "Aku hanya berusaha menyadarkan Chanyeol, karena kau sangat berharga Baekhyun. Bajingan itu tak seharusnya memperlakukanmu seperti ini,"

"Kris," Baekhyun tercekat mendengar ucapan Kris yang terdengar begitu tulus.

"Jadi aku akan melepaskanmu mulai sekarang. Aku akan membiarkan Chanyeol mencintaimu Baekhyun," Kris menggenggam jemari Baekhyun lagi, mengusapnya beberapa kali. "Tapi aku hanya memberi satu kali kesempatan untuknya. Aku benar-benar akan membawamu pergi jika bajingan itu memperlakukanmu dengan kasar lagi,"

Baekhyun benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya yang tumpul mulai berpikir selama ini ternyata Kris sangat memperhatikannya. Baekhyun terlalu bodoh untuk menyadari apa yang sudah Kris lakukan untuknya.

Diam-diam, pria itu banyak berkorban untuk Baekhyun.

Kemana saja aku selama ini?

"Mulai sekarang, kau harus hidup bahagia, Baekhyun. Kau pantas mendapatkannya," Kris mengusap pipi Baekhyun dengan lembut. "Aku akan menyerah dengan perasaanku padamu, tapi aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan selalu ada untukmu,"

"Terima kasih, Kris," Baekhyun tak bisa mengatakan hal lain.

Kris mengangguk beberapa kali dengan senyuman bersahabat. Ia menarik tubuh Baekhyun dalam sebuah pelukan hangat, kemudian mengusap punggung gadis itu beberapa kali. "Maaf aku datang terlambat," bisik Kris. "Tak seharusnya kau merasakan semua rasa sakit ini," ia sedikit mengecup puncak kepala Baekhyun dengan sayang.

Dan Baekhyun tenggelam dalam pikirannya sendiri –dalam pelukan Kris.

.

.

TBC (Epilog setelah Author's Note)

.

.

Karma does exist, right?

Authornya jahat /biarin/

Gimana readers? Minta saran dong ini kedepannya enaknya diapain /Authornya masih bingung/

Oh ya, untuk FF yang lain, Author usahain semua update sebelum Januari. Soalnya, masuk Februari mungkin Authornya sudah sibuk ngurusin SKRIPSI /Author usahakan tidak meninggalkan hutang sebelum hiatus, nggak lama kok hiatusnya cuma tiga bulan/

Jangan lupa komentar dan review ya semuanyaaa~

Sekian dulu chapter ini, semoga tidak mengecewakan.

With love,

lolipopsehun

.

.

EPILOG

Kris berjalan cepat menelusuri koridor apartemen yang masih asing baginya. Dengan kedua tangan ia menggedor pintu bercat putih dengan angka 8120 tertera disana. Kris terlalu marah untuk peduli jika ada orang yang mungkin terganggu karena suara berisik itu.

Pintu dibuka, menampilkan sosok yang sudah tak asing baginya. Pria dihadapannya sedikit bingung karena melihat Kris berdiri di depan pintu dengan wajah bersungut-sungut menahan amarah. Rahangnya mengerang, sementara kedua tangannya terkepal kuat disamping tubuh.

"Brengsek," desis Kris, dengan cepat menarik kerah kemeja Chanyeol. Ia mendorong tubuh Chanyeol hingga membentur dinding apartemen pria itu. Membuatnya sedikit meronta memegangi tangan Kris yang mencekiknya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol, tercekat. Ia berusaha menarik tangan Kris dari lehernya, tapi pria itu sama sekali tak membiarkannya bergerak.

Geram melihat wajah Chanyeol, Kris melayangkan satu pukulan dengan kepalan tangan –tepat mengenai pipi kiri Chanyeol– cukup kuat hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Chanyeol belum siap dengan situasi ini, jadi ia sama sekali tidak bisa menghindar.

"Kau benar-benar sampah. Bagaimana seorang pria bisa melakukan hal itu?" Kris nyaris berteriak. Ia menendang perut Chanyeol kuat-kuat, suara erangan memilukan terdengar di seluruh ruangan yang sunyi. Chanyeol batuk-batuk, tersungkur di lantai, kedua tangan memegang perut bekas tendangan Kris.

Dengan satu gerakan cepat, Kris menarik kerah kemeja Chanyeol hingga kepalanya terangkat. Kemudian kembali menghujani Chanyeol dengan pukulan bertubi-tubi pada wajah piasnya. Chanyeol mengerang, terdengar sangat menyedihkan, tapi Kris tak peduli, ia masih saja memukuli Chanyeol hingga darah segar keluar dari bibir dan wajah pria itu.

Chanyeol sama sekali tidak melawan, entah bagaimana menggambarkan ini, bagi Kris, Chanyeol terlihat sangat lemah sekarang.

Dan itu bagus karena Kris bisa membantu membuat Chanyeol sadar tentang apa yang sudah ia lakukan terhadap Baekhyun.

Chanyeol mengerang lagi, sedikit memuntahkan darah dari mulutnya. Dan Kris menariknya berdiri, menyeret Chanyeol hingga punggungnya membentur tembok lagi. Ia menyudutkan Chanyeol dengan cekikan kuat di leher, matanya menatap wajah Chanyeol yang sudah dipenuhi lebam dengan tatapan tajam mengancam.

"Dengar, aku tak ingin Baekhyun terus menerus hidup dengan sampah sepertimu. Kau bajingan memalukan, Chanyeol," desis Kris tepat di depan wajah Chanyeol, sedangkan pria itu masih saja mengerang merasakan sakit disekujur tubuh. "Aku tak akan membiarkan Baekhyun kembali padamu jika sikapmu belum berubah. Dan selama kau belum sadar akan kelakuan bejatmu itu, jangan pernah berharap bertemu dengan Baekhyun,"

"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?" ucap Chanyeol susah payah, kembali tercekat saat Kris mengeratkan pegangan tangan dilehernya.

Kris tersenyum mengejek. "Aku bisa membuatnya bahagia. Aku lebih pantas untuknya daripada bajingan brengsek sepertimu," balas Kris dengan suara geraman rendah. "Baekhyun benar-benar bodoh karena sudah mencintai sampah,"

"Kumohon, Kris. Biarkan Baekhyun kembali padaku," bisik Chanyeol dengan suara lirih.

Kris tertawa keras, terdengar sangat mengejek. "Aku tak akan meminta Baekhyun meninggalkanmu. Dia pergi karena kehendaknya sendiri. Baekhyun akhirnya sadar bahwa kau tak lebih dari seorang pria menyedihkan, Chanyeol. Percayalah, Baekhyun tak pantas hidup denganmu,"

"Kris," Chanyeol berusaha meraih tangan pria itu, tapi dengan cepat Kris menyentaknya.

"Dengarkan aku baik-baik," ucap Kris dengan suara menyeramkan, menyudutkan Chanyeol. "Selama kau belum merubah sikapmu, aku sama sekali tak akan membiarkan Baekhyun menghirup udara dalam ruangan yang sama denganmu. Kau hanya sampah, Chanyeol. Kau tidak pantas untuknya. Baekhyun berhak bahagia. Pikirkan itu baik-baik." desis Kris, ia melemparkan tubuh Chanyeol yang lemah ke lantai, diiringi erangan memilukan pria itu.

Tanpa melihat lagi, Kris berjalan keluar, meninggalkan Chanyeol yang mungkin sedang sekarat sekarang.

Ponselnya bergetar saat sampai di tempat apartemen Chanyeol, senyumnya mengembang saat melihat nama Baekhyun tertera dilayar. "Ya, Baekhyun. Ada apa?" tanya Kris dengan suara riang.

Baekhyun mendengus kesal diseberang sana. "Kau bilang hanya membeli kopi. Cepat kembali, aku takut di rumahmu sendirian,"

Kris sedikit tertawa, mulai memacu mobilnya lebih cepat. "Jalanan macet, Baekhyun. Aku akan segera sampai," balasnya.

"Cepatlah, bodoh. Rumahmu benar-benar menyeramkan," dan Kris hanya tertawa mendengar celotehan Baekhyun yang menurutnya menyenangkan itu.

Baekhyun benar-benar terlalu berharga untuk disakiti.