DISCLAIMER : Masashi Kishimoto

RATE : T (Teen)

WARNING : AU, Bit OOC, Multichapter

.

.

.

Shino telah mengungkapkan seluruh keterangan yang sekiranya diperlukan. Terutama pada bagian alibi saat rentang waktu perkiraan kematian sang korban, Gaara. Kini gilirannya siapa?

.

.

.

~ Alibi Kedua ~

Butuh waktu hampir setengah jam guna mengorek seluruh keterangan yang dipunya oleh tersangka bernama panjang Aburame Shino itu. Sebagai seorang detektif profesional yang telah cukup lama berkecimpung dalam dunia pembunuhan berencana, kurang lebih hampir genap setengah dasawarsa, ia sudah terbiasa untuk bersabar dalam setiap kesempatan menginterogasi para tersangka yang ada.

Setiap tersangka yang ia hadapi tentunya memiliki watak, sifat, serta tabiat masing-masing. Unik. Oleh karenanya, tidak ada kecanggungan ataupun kecemasan dalam pikirannya untuk melanjutkan proses interogasi menuju ke tersangka berikutnya.

Pria yang hampir selalu ditemui memakai masker hitam itu melangkahkan sepasang kakinya pelan-pelan, menuju ke arah rumah tua dimana korban ditemukan tewas dengan posisi gantung diri namun dipenuhi beberapa kejanggalan. Bola matanya bergerak seirama ke kanan-kiri berulang-ulang. Menelusuri kata demi kata, kalimat demi kalimat yang belum lama ini ditulisnya sebagai bahan rangkuman dari seluruh keterangan plus alibi yang Shino ucapkan di dalam mobil.

Sepasang alisnya terangkat ke atas, lalu kepalanya mengangguk-angguk seperti menandakan bahwa otaknya sudah memahami akan sesuatu yang orang lain tidak ketahui. Terakhir dimasukkannya selembar kertas yang telah ia baca dengan durasi cukup singkat itu ke dalam saku yang ada pada dada sebelah kanan.

"Eh?" gumamnya pelan saat melihat empat orang yang tergabung dalam divisi penyidikan dari markas kepolisiannya keluar bebarengan dari dalam rumah TKP. Disusul oleh inspektur yang telah menjadi partner kerjanya semenjak tiga tahun lalu, Sarutobi Asuma.

Kakashi mendekati orang-orang itu. Darui yang berada tak jauh dari situ turut mendekat pula.

"Detektif Hatake Kakashi, lapor! Kami telah selesai menyisir lokasi tempat kejadian perkara, memfoto barang bukti sekaligus mengamankannya, terakhir menyidik sidik jari pada barang bukti senter dan barang bukti tali gantung itu." Ibiki selalu ketua tim penyidik segera memberi hormat sembari mengucapkan kalimat ini.

Detektif penyuka majalah erotis itu spontan membalas hormat Ibiki. Setelah itu mengacungkan kedua ibu jarinya ke depan, "Bagus sekali. Terima kasih banyak. Terutama aku ingin melihat bagian yang terakhir itu."

Seakan sudah mengerti betul dengan maksud rekannya, Asuma yang kebetulan menenteng tali gantung barang bukti dan senter barang bukti langsung memperlihatkannya kepada Kakashi. Kedua bukti tersebut tentunya sudah berada di dalam plastik yang sangat rapat.

Jari telunjuk kanan milik Hatake disentuhkan ke plastik yang membungkus barang bukti berupa senter berwarna merah terang, "Sidik jari yang ada di benda ini?"

Ibiki menjawabnya lugas, "Itu milik Gaara. Hanya ada sidik jari korban saja."

Anggukan simpel menjadi respon dari si detektif. "Lalu yang satunya?" tanyanya lebih lanjut.

Telapak tangan kiri Ibiki ditepuk-tepukkan ke permukaan plastik yang menyelimuti tali berwarna kecokelatan dengan perkiraan diameter 2 centimeteran itu, "Kalau yang ini juga sama pak. Cuma ... "

Alis kiri Kakashi naik.

"Yang ini sidik jarinya hanya berada di bagian tali yang lurus itu. Yang berada di atas simpul, bukan pada bagian yang melingkar di bawah simpul." kalimat lanjutan ini membuat Kakashi mendekatkan wajahnya ke barang bukti kedua tersebut.

Ia amati, ia perhatikan dengan kejelian tinggi.

Sepasang barang bukti itu diambil oleh anggota tim penyidik yang lain. Anak buah dari Ibiki Morino.

"Mungkin hanya itu saja yang dapat kami sampaikan sesuai dengan permintaan bapak. Kami pamit undur diri dulu." Ibiki mengangkat telapak tangan sebelah kanannya hingga menempel ke pelipis. Diikuti oleh ketiga anak buahnya yang lain.

Kakashi, Asuma, lalu Darui melakukan pose hormat serempak.

Keempat orang yang memiliki tugas utama untuk melakukan penyidikan pada TKP ditambah barang bukti itu telah pergi menjauh dari pelataran rumah tua itu. Namun kebalikannya, sebuah mobil sedan bercat biru tua melaju dari arah jalan raya di depan sana menuju ke arah situ.

"Apa ada yang mengganggu pikiran anda, Kakashi-san?" selidik Darui saat menyadari jika tatapan laki-laki bermata sayu itu terpaku ke depan. Seakan sedang menganalisa suatu hal.

"Kakashi-san?" tanya sang kepala Kepolisian Yugakure untuk kali kedua. Dan sukses membuat pria bermarga Hatake itu terperanjat kaget.

"Eh?! Ti..tidak ada apa-apa kok. Haha." guraunya garing.

Tapi Asuma mampu menyadari jika ada yang sedang disembunyikan di dalam isi tempurung kepala rekan dekatnya itu.

Mobil sedan yang memiliki tulisan stiker kecil warna putih 'Polisi Sektor Yugakure' pada bagian atas kaca depannya itu berhenti. Dari luar dapat terlihat seorang opsir yang berada di belakang stir dan seorang laki-laki berkacamata tebal yang duduk di samping jok pengemudi.

"Sepertinya tersangka yang paling muda itu sudah kembali." tutur Darui singkat saja.

"Kakashi." Asuma menepuk siku orang yang dipanggilnya.

Kakashi menengok.

"Aku kembali dulu ke markas kita. Aku akan mengawasi tim forensik yang pastinya sudah mulai bekerja." ujarnya sambil mengambil sebuah cerutu besar dari wadahnya.

Tak disangka lelaki paruh baya itu menepuk jidatnya, "Astaga, aku sampai lupa tentang investigasi fisik korban oleh forensik. Baik, hati-hati."

Pria bercambang itu melambaikan tangannya sebelum ia beranjak pergi dari situ. Tentunya tak luput untuk menyalakan cerutu favoritnya sebelum pergi. Mungkin sebagai teman perjalanan.

Polisi yang bertugas mengawal Choujuro menghadap kepada pimpinannya. "Lapor pak, saya telah selesai melaksanakan tugas sederhana dari anda."

Ditanggapi dengan anggukan penuh rasa puas oleh Darui, "Bagus-bagus."

Anak itu, si Choujuro, berjalan menghampiri orang-orang kepolisian dengan langkah gugup. Kedua tangannya sibuk menenteng sekresek besar makanan dan minuman yang entah jenisnya apa saja serta jumlahnya seberapa banyak. Yang sengaja dibelinya dari sebuah minimarket di desa sebelah.

Leher Kakashi menengok ke arah hamparan ladang jagung yang berada persis di samping jalan setapak, di seberang lokasi TKP. Ia menoleh lagi ke arah depan hingga sepasang maniknya menyorot wajah Choujuro.

"Ikuti aku, Choujuro-kun."

Perintah singkat barusan membuat bocah itu kebingungan. Ditambah mentalnya yang bisa dibilang cukup lemah membuatnya ragu untuk mengikuti instruksi dari sang detektif.

Kaki-kaki Kakashi melangkah sejauh beberapa meter ke depan, lalu gerak-gerakkan jempol kanannya ke arah kanan, "Ke ladang jagung itu."

Yang diajak hanya bereaksi mengangguk pasrah, "Untuk ... apa?"

Bibir Kakashi yang terlindungi masker membentuk seringaian, "Tentu saja untuk menginterogasimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

- TSUZUKU -

Maaf sekali kalau tulisan bersambung ini terlalu mendadak.

Author minta waktunya untuk sedikit curhat. Jujur saja, fic ini merupakan fic pertama author yang dibuat dengan energi sangat 'maksimal' namun hasilnya terbilang 'minimal'.

Tidak seperti fic-fic yang lain, khususnya genre humor/parody, yang tidak terlalu menguras waktu plus pikiran namun dirasa hasilnya setimpal. Baik dari segi review, favourite, follow, terakhir traffic graph.

Dua fic genre yang sama dan tema sama pula dengan ini, yang ada di fandom tetangga Fairy Tail, hampir sesuai dengan ekspektasi awal. Antusiasme pembaca sudah oke semenjak chapter-chapter awal.

Tapi ini berbeda. :(

Author tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Padahal sudah author upayakan sebaik mungkin dari berbagai segi. EYD, diksi, plot, typo, lalu ide. :(

Yang paling mengenaskan dari segi traffic graph-nya. Cuma 136 saat author tengok sebelum merilis chapter empat ini. :(

Sekian saja.

Mungkin akan author update suatu saat nanti *karena kerangka ceritanya sudah lengkap sampai akhir* jika mood-nya memenuhi dan yang terpenting, ... readers cukup banyak yang tertarik dengan fic yang sudah banyak menyita waktu & pikiran author. *karena membuat sinkronisasi bukti satu dengan bukti lain dan alibi satu dengan alibi lain susah banget*

Terima kasih telah membaca. :)