Flashback:

"Aku berjanji Sakura, apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu."

Sakura mendongak, menatap Sasuke yang juga menatapnya.

"Meskipun dia adalah calon istriku atau bahkan istriku nanti, tapi hanya kau yang aku cintai itu janjiku."

..

"Pretend"

Created : Lavenderviolletta

Disclamer

Naruto by: Masashi Kisimoto

Hinata. H x Sasuke. U

Romance,Hurt/comfr

WARNING

..

OOC, MISS TYPO

..

Happy Reading

"Arigatou Hinata-sama." Minato mengulurkan tangannya untuk mengajak Hinata berjabat tangan karena kini perusahaannya telah menjalin kerja sama dengan Hyuuga, tentunya dengan suntikan dana cukup besar yang di dapat dari Hyuuga sehingga Namikaze bisa melewati masa-masa sulitnya.

Hinata tertawa kecil seraya menjabat uluran tangan Minato, "Selamat bergabung." Balasnya.

"Siang ini Naruto akan ke jepang, dia mengatakan bahwa dia sangat merindukanmu."

"Benarkah.."

Sasuke melirik Hinata dengan tatapan curiga ketika Minato mengatakan hal itu, seketika pikirannya tentang Sakura yang terus ia lamunkan saat kejadian di taman belakang sekolah itu hilang, "Naruto." Tanpa disadari dirinya bergumam, namun suaranya yang sangat kecil itu masih bisa di dengar jelas oleh Minato dan Hinata.

"Hm, Naruto adalah teman masa kecil Hinata-sama."

"…" Sasuke hanya menatap Minato datar, tanpa membalas penjelasannya.

Melihat pandangan Sasuke yang sulit diartikan membuat Minato merasa ia harus segera pergi meninggalkan ruangan Direktur, Hinata tau apa yang menjadi penyebab Minato begitu cepat undur diri, yah.. siapa lagi jika bukan calon suaminya yang minim ekspresi dan irit bicara.

..

PIP

Hinata menaikan suhu udara AC menjadi 16 derajat seketika ruangan itu menjadi dingin, ia membuka blazer hitamnya, memperlihatkan bagian tangannya yang terbuka karena kemeja yang dipakainya tak berlengan, ia melempar blezernya sembarang hingga mendarat di samping sofa dimana Sasuke duduk, kedua tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja formal yang ia pakai hingga memperlihatkan balutan tangtop yang dipakainnya, melihat Hinata seperti itu Sasuke sontak berdiri, ia mendecih seraya berjalan mendekati Hinata yang kini tengah berhasil melepas kemeja hijaunya sehingga memperlihatkan tangtop berwarna hitam itu dengan belahan dadanya yang sedikit terlihat.

"Apa yang kau lakukan, pakai pakaianmu !" Sasuke melempar blazer itu dengan Hinata yang menangkapnya dan membuangnya kembali di lantai.

Hinata mendecih, ia mendekati Sasuke dan melingkarkan tangannya pada leher suaminya.

"Aku tidak mau."

"Kau menggodaku hm?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Apa salah jika aku melepaskan pakaian di depan calon suamiku sendiri." Hinata semakin mendekatkan hidungnya di telinga Sasuke, "kenapa hanya berani menciumku ketika aku tertidur eh? PENGECUT !" bisiknya penuh penekanan pada akhir kata.

"Kau menantangku?" Sasuke terkekeh, seketika ia menarik tubuh Hinata hingga keduanya kini berada diatas sofa, Sasuke menindih Hinata seraya menciuminya kasar, Hinata meronta mencoba untuk melepaskan diri dari serangan Sasuke yang terus mencumbunya, "ARGH !" pekik Sasuke ketika Hinata mencakar lehernya, ia melepaskan Hinata seraya memegangi lehernya yang perih dan mengeluarkan darah, Hinata mempunyai kuku yang cukup panjang dan indah.

"BRENGSEK !" Hinata berdiri dan membanting pintu kamar mandi dengan kasar, ia mengganti pakaiannya disana.

Hinata POV:

Bukan.. bukan ini yang aku inginkan, tch.. dia benar-benar pria brengsek yang pernah ku temui, tapi.. aku tak bisa memungkiri, aku menyukai sentuhannya, sentuhan yang lembut, bukan sentuhan kasar yang baru saja ia lakukan, aku ingin dia menyentuhku seperti malam itu, malam dimana aku bermimpi dia menciumku dan dia mengatakan bahwa dia memang menciumku,.. tunggu, apa mungkin ia berbohong? Apa ia hanya ingin mempermalukanku? Mempermainkanku? .. tch.. sadarlah Hinata, dia bahkan tak menyukaimu, yang dicintainya hanya Sakura, yah.. hanya wanita itu.

END of Hinata POV

Seolah tak terjadi apa-apa Sasuke kini sibuk dengan burger yang dimakannya, ia bahkan menawari Hinata untuk makan bersamanya tanpa memperdulikan wajah Hinata yang menatapnya kesal.

"Apa urusan kantormu sudah selesai?"

"…" tak menjawab Hinata malah sibuk sendiri dengan beberapa berkas dokumen yang ia tanda tangani di meja kerjanya.

"Aku bosan !"

PRANK !

Sasuke melempar gelas crystal itu hingga membentur dinding dan berserakan pecah, namun Hinata masih tak menggubris, ia tetap fokus dengan pekerjaannya.

Merasa kesal karena di acuhkan Sasuke mendekati meja kerja Hinata, ia memutar kursi Hinata mengambil dagunya menginginkan lavender itu menatapnya ketika berbicara.

"Aku MUAK ! kau pikir aku budakmu eh? Masih banyak hal yang lebih penting dari pada hal konyol ini !"

"Aku tak memintamu untuk terus berada disini."

"…"

"Jika kau ingin pergi, pergi saja.. tidak ada yang melarangmu pergi dari ruangan ini."

Sasuke mendecih, rasa kesal menyelimutinya saat ini, bagaimana tidak kenapa Hinata tak mengatakan hal ini dari tadi pikirnya, ia melepaskan dagu Hinata kasar dan berjalan untuk meninggalkan ruangan yang membuatnya jenuh, namun sepertinya ia harus berpikir ulang ketika ia membuka pintu, disana tepat berdiri seorang pria yang di kenalinya bersama sekertaris Hinata yang mengantarnya ke ruang meeting.

"Kau-"

"…"

"Uchiha-sama, dia adalah teman Hinata-sama, beliau yang menyuruhnya untuk menghadap direktur, apa Hinata sama ada di ruangannya?"

Gadis bermata emerlard itu tampak gelisah mengingat kekasihnya yang tak juga memberinya kabar, yah.. selepas pulang sekolah sampai petang sore ini Sasuke tak membalas satupun pesannya dan panggilan teleponnya, melihat sahabatnya yang gelisah Ayame mendekati Sakuraa, ia menepuk bahunya sehingga Sakura menoleh.

"Nee Ayame-chan, mengaggetkanku saja."

"Ada apa Sakura-chan? Kau sedang ada masalah?"

Sakura menggeleng lembut, "Tidak ada apa-apa."

"Benarkah? Aku merasa kau sedang tak baik, apa kau sakit?"

"Tidak Ayame-chan, aku baik-baik saja, ahh? Apa di depan sangat ramai? Aku harus kembali membantu.. jaa.."

Ayame hanya menghela nafas karena Sakura yang tak mau berbagi cerita dengannya, yah.. walau bagaimanapun ia adalah sahabatnya dan ingin berbagi, tapi jika Sakura tidak mau, maka ia juga tidak bisa memaksa bukan?

..

"Ahh.. Sabaku-san, masuklah, Hinata-sama mungkin sudah menunggumu."

"Arigatou."

Sasuke menyingkir, memberi jalan pada Gaara untuk bisa memasuki ruangan itu.

..

"Kenapa pria itu ada disini?"

"Hinata-sama menerimanya bekerja di perusahaan ini, tapi untuk bagian apa jabatannya saya tidak tau karena direktur sendiri yang akan mengatakannya."

"Bawa aku menemui bagian personalia."

"Eh? Untuk apa?"

"Kau tau? Pria itu-"

"Sabaku-san adalah tamu direktur, hanya itu yang saya tau, dan siapapun orang yang menjadi tamu nya harus di hormati selayaknya menghormati direktur, itulah peraturan di perusahaann ini."

"TCH…" Sasuke menatap Kurenai kesal.

"Gomene Uchiha-sama." Kurenai membungkukan setengah tubuhnya dan pergi meninggalkan Sasuke.

BRAK !

"Ku kira kau sudah pulang." Hinata terkekeh begitu melihat Sasuke membanting pintu ruangannya.

Tak menjawab perkataan Hinata Sasuke lebih memilih menatap Gaara yang tengah menatapnya datar.

"Hiashi-sama mengatkan bahwa kau hanya boleh pulang dan pergi denganku Hyuuga-sama." Sasuke menarik Hinata menyeretnya untuk ikut pulang bersamanya.

"Itu menurutmu." Hinata melepaskan tangannya kasar, "Mulai saat ini Gaara-kun yang akan mengantarku menggantikan Sasori, kau pikir hanya kau saja yang merasa muak eh?"

"…." Sasuke tak bergeming, ia tetap menatap Hinata namun pandangan itu menyiratkan kemarahan yang mendalam.

"Kau bisa keluar sekarang !"

Hinata menduduki sofa dengan mengusap wajahnya yang sedikit gusar setelah Sasuke membanting pintu dan pergi begitu saja.

"Kau baik-baik saja?"

Hinata tersenyum menatap Gaara yang kini telah berdiri di depannya, "umh.." jawabnya seraya mengangguk.

"Sepertinya aku harus segera menjalankan pekerjaanmu."

"EH?" Hinata memiringkan sedikit kepalanya bingung.

"Sudah saatnya kau pulang Direktur."

Hinata tertawa kecil, apa yang di katakan Gaara memang ada benarnya, dan sepertinya ia memang harus segera pulang karena tubuhnya membutuhkan istirahat.

KHS

Pagi ini KHS di kejutkan dengan kedatangan Hinata bersama Gaara, yahh siapa yang tak mengenal pria dingin dengan status sosial menengah bawah yang selalu menyendiri dan tak bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, Sabaku no Gaara kini keluar dari sebuah mobil mewah dengan gadis bersurai indigo yang merupakan calon suami dari pria terpopuler se KHS.

Hinata tersenyum ketika Gaara mengiringi langkahnya memasuki sekolah, keduanya terlihat sangat akrab, bahkan mereka sesekali tertawa bersama, kedua orang ini bisa di katakan sulit untuk tersenyum, tapi kali ini semua orang satu sekolah melihat kejadian langka dari dua orang yang tak pernah tersenyum itu kini tampak ceria.

"Aku akan menemuimu ketika istirahat nanti." Ujar Gaara dengan senyum tipis

"Hm, jaa.." Hinata melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan, Gaara mengacak puncak kepala Hinata seraya berjalan menuju kelasnya, Hinata menatap sejenak punggung Gaara sebelum dirinya memasuki kelas, ia menghela nafas kemudian berbalik untuk memasuki kelas akan tetapi sepasang onyx itu menghalangi jalannya, Sasuke berdiri diambang pintu kelas, mata obsidan itu menatap lavender penuh curiga.

Tak memperdulikan tatapan Sasuke yang menatapnya tajam ia menubruk bahu Sasuke untuk memasuki kelas namun Sasuke menarik tangannya dan menghentikan pergerakan kakinya, hal ini membuat Hinata berbalik.

"Apa maumu?" Tanyanya to the point.

"..."

Sasuke hanya menatap Hinata datar tanpa membalas pertanyaannya.

Adegan ini membuat isi kelas menjadi hening, mereka menatap kedua calon suami istri ini dengan berbagai pertanyaan, merasa di perhatika Sasuke memberi instruksi agar semua teman-temannya mengosongkan kelas, mereka mengerti walau hanya tatapan sebagai bahasa isyarat yang Sasuke berikan, seketika kelas pun kosong menyisakan keduanya.

BRAK !

Suara bantingan pintu itu membuat Hinata mengernyitkan alisnya, sekarang hanya tinggal dirinya dengan Sasuke yang berada di kelas, dia memang wanita yang tegar, tapi dia tetap seorang wanita, tatapan itu membuatnya takut, Hinata mengakui itu.

"Mencoba selingkuh eh?"

"Eh?"

Seketika rasa takut itu berubah menjadi sesuatu yang menurutnya lucu, Hinata tertawa kecil hal ini membuatnya geli.

"..."

Sasuke menatap Hinata datar ketika wanita itu menertawai pertanyaannya, ia merutuki dirinya dalam hati, bagaimana mungkin ia bisa mengeluarkan pertanyaan bodoh seperti ini.

"Kau cemburu?" Ujar Hinata seraya menaruh tas nya diatas meja.

"Tch.. Selamat."

"..."

"Dengan begitu kau bisa menikahi pria itu dan aku tak harus menikahi wanita angkuh sepertimu, aku berharap kau segera mengatakan ini pada ayahmu, batalkan perjodohan bodoh ini !"

Hinata tercekat mendengar penuturan Sasuke yang diluar dugaannya, entah kenapa hatinya merasa tercabik ketika Sasuke mengatakan itu, apa Sasuke memang tak pernah sedikitpun menyukai dirinya.

Dengan tenang Hinata kembali mengontrol emosi dirinya, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.

"Baiklah." Ia tersenyum menatap Sasuke.

Kedua alis Sasuke bertautan, jadii Hinata memang benar-benar serius dengan perkataannya yang ingin menikah dengan Gaara pikirnya.

"Hn, segera hubungi ayahmu."

"Aku bahkan telah mengirim pesan padanya." Ujar Hinata dengan memainkan ponselnya.

"Aku juga telah menyuruh Sasori-kun untuk membereskan barang-barangku di rumahmu."

Hinata terkekeh seraya memasukan ponselnya.

"..." Sasuke terdiam, apa yang dilakukannya saat ini benar-benar fatal .. Bagaimana jika Fugaku tau, matilah dia.

"Kau membuatku menjadi tontonan."

Sasuke melemparkan pandangannya ke arah jendela, ia melihat siswa-siswi itu tengah menontonnya lewat jendela kelas, ia berdecih sebal.. Bisa-bisanya mereka menguping di saat seperti ini.

Ia berjalan mendekati pintu dan membuka kelasnya, gerakan tangannya mengisyaratkan agar semua siswa-siswi itu kembali memasuki kelas, mereka memandang Hinata dan juga Sasuke heran, yahh .. Mereka tau antara Hinata dan Sasuke sedang tidak baik.

TRENG ... !

Jam istirahat berbunyi, Sasuke meninggalkan kelasnya dengan cepat , ia ingin menemui Sakura dan mengatakan bahwa ia tidak ǰǰαϑΐ menikahi Hinata.

Dan kini Sasuke berpapasan dengan Gaara yang juga akan menemui Hinata, kedua pupil berbeda warna itu saling menatap dengan tatapan kosong.

"Kau baik-baik saja." Gaara mencoba untuk membuyarkan lamunan Hinata.

"Hai." Hinata mengangguk seraya tersenyum.

"Ada masalah dengan suamimu?"

Hinata terkikik, "Dia bukan suamiku."

"Hm.. Tapi akan menjadi suamimu."

"Tidak, itu tidak mungkin."

Gaara menautkan kedua alisnya, kali ini ia menatap Hinata serius.

"Aku tidak ingin memiliki suami yang tidak mencintaiku sama sekali, dia hanya mencintai Sakura, mencintai kekasihnya bukan calon istrinya."

"..." Gaara terus menatap Hinata,

"Dan dia, baru saja memintaku untuk membatalkan perjodohan ini."

"..."

"Dan aku menyutujuinya."

"Kau mencintainya." Ujar Gaara seraya menghapus air mata yang Hinata sendiri tak menyadarinya. "Jika tidak, ini tak mungkin keluar." Ujarnya lagi.

Hinata mendecih, "Seorang sepertiku bisa menangis di depanmu, ini memalukan."

Gaara tersenyum, "Menangislah, aku bisa menjaga rahasia, bukankah aku pernah mengatakan itu padamu sebelumnya."

Gaara membalikan tubuhnya, ia memunggungi Hinata, "Aku tak akan melihatmu." Ujarnya lagi.

Hinata memandang punggung Gaara itu tak percaya, tapi saat ini dia juga membutuhkan tempat untuknya menangis, air matanya sudah tak bisa ia bendung, Hinata menyentuhkan dahinya disana, ia menangis tanpa bersuara, Gaara merasakan cairan hangat membasahi blezer sekolahnya, ia sebenarnya ingin membalikan tubuhnya dan membawa Hinata ke pelukannya, mengusap air matanya dan menenangkannya, namun ia tau siapa dirinya, terlebih saat ini statusnya adalah sebagai pengawal Hinata.

...

"Kau serius?"

"Hn."

Sasuke dapat melihat raut wajah Sakura yang begitu bahagia mendengar ia tidak akan menikahi Hinata, akan tetapi wajah Sakura berubah kembali menjadi sedih, matanya tampak sayu.

"Tapi, apa kau akan baik-baik saja?"

"Ini keputusanku, dan apapun yang terjadi aku akan tetap menikah denganmu."

"Ibumu bahkan tidak menyukaiku, sepertinya."

"Dia hanya belum mengenalmu."

"Tapi-"

"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja."

Sakura tersenyum mendengar Sasuke yang begitu meyakinkannya, ia mengangguk seraya kembali membenamkan wajahnya pada bidang Sasuke.

"Arigatou Sasuke-kun, Aishiteru."

...

Sore hari menjelang, Kedatangan Hiashi dengan sirat kemarahan di wajahnya itu membuat semua penghuni Manshion Uchiha itu berkumpul, Itachi yang kebetulan berada di Jepang juga ikut hadir di ruangan klasik bergaya eropa itu, namun dua insan yang akan di sidang sore ini tak kunjung tiba, baik Hinata maupun Sasuke, masih belum ada yang kembali.

"Kemana mereka !" Hiashi tampak kesal, ia mengusap wajahnya sambil melirik Neji yang berulang kali mencoba menghubungi Hinata, namun ponsel Hinata tak juga di aktifkan oleh si pemilik.

"Sudah ada kabar dari Sasuke, Itachi?" Kali ini Fugaku yang bersuara seraya melirik Itachi yang juga sibuk dengan ponselnya.

"Masih tidak aktif."

"Kami-sama, ada apa dengan mereka." Mikoto terlihat sangat paniik.

"Gomene, mungkin Hinata-sama ada disana." Sasori berkata, membuat seluruh onyx itu menatapnya.

"Aku akan menyusulnya,"

"Aku ikut denganmu." Ujar Neji, Sasori mengangguk, keduanya akhirnya pergi meninggalkan Manshion.

"Aku juga sepertinya tau dimana Sasuke berada sekarang."

"Benarkah?" Ucap Mikoto pada anak sulungnya, penuh harap.

"Tapi aku tak yakin dia ada disana, hanya saja aku penasaran dengan wanita itu."

"Wanita." Hiashi menatap Itachi curiga.

Merasa keceplosan Itachi menyangkal perkataannya. "Wanita itu mengejar Sasuke, tapi Sasuke tak menyukainnya."

Fugaku menghela nafas, walau bagaimana pun ia tidak ingin membuat Hiashi murka.

"Baiklah, aku pergi."

..

Mikoto berkutat dengan pikirannya sendiri, dari awal ia memang mencurigai hubungan antara Sasuke dengan wanita bernama Sakura, Ia tak yakin Sasuke hanya berteman dengan wanita itu, apa wanita itu yang menjadi penyebab Hinata memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini begitu saja, bahkan membatalkan lewat pesan, seperti membatalkan sesuatu yang mudah. Mikoto tau Hinata begitu menuruti Hiashi, bahkan ia sangat heran Hinata bisa melakukan ini, membantak Hiashi dengan mengatakan ingin membatalkan pernikahan.

..

"Kau yakin akan baik-baik saja?"

Hinata mengangguk, "Aku tau sekarang mereka pasti sedang menungguku, ahh .. Mungkin Otousaan akan sangat murka, jika aku besok mati, maka aku di bunuhnya." Hinata terkikik.

"Hinata, Apa kau benar-benar mencintai Sasuke?"

"Eh? Apa maksudmu? Tidak mungkin aku menyukai pria brengsek itu."

"Lalu? Apa kau menyukaiku?"

"Eh?" Hinata terlonjak kaget, namun ia juga sedikit blushing.

"Aku tak mempunyai apa-apa, tapi aku akan berusaha melindungimu."

"Apa maksudmu Gaara-kun."

"Kita menikah saja."

"Apa ?!"

...

Pukul delapan malam, Sasuke akhirnya pulang, ini sudah dugaannya, keluarganya menunggunya untuk masalah ini, ia menjatuhkan dirinya pada sofa seraya melempar tas nya sembarang tak memperdulikan tiga pasang mata yang menatapnya, Fugaku mengambil ponsel di sakunya, ia menghubungi Itachi.

"Itachi kembalilah, dia sudah pulang."

..

Sekembalinya Itachi bebarengan dengan Neji dan juga Sasori, Namun Mereka tak melihat Hinata disana, ini sudah jam sembilan malam lewat, tapi Hinata masih belum kembali.

"Kita tak dapat menemukannya." Ujar Neji dengan perasaan kecewa.

Hiashi mengusap wajahnya gusar, "Sejak kapan dia menjadi liar seperti ini HAH ! " Bentak Hiashi entah pada siapa, mereka yang ada di ruangan itu terdiam, Mikoto tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Hinata jika ia pulang nanti, saat ini Mikoto berharap agar Hinata tidak muncul sampai kemarahan Hiashi mereda, biarlah Mikoto dan semuanya mengatasi hal ini, dia sangat takut Hiashi melakukan hal buruk pada Hinata.

Tik .. Tok .. Tik .. Tok .. Teng ! Tengg ! Tengg !

Suara bunyi jam di ruangan Uchiha itu berbunyi saat waktu menunjukan pkl 00.00, Neji dan Sasori tampak Gusar, kemana perginya Hinata pikir keduanya, berbeda dengan Sasuke, dia lebih memilih menutup matanya #tidur.

Suara deruman mobil pertanda bahwa seseorang memasuki manshion Uchiha, mereka yakin itu adalah Hinata, suara langkah kaki kecil itu semakin mendekat. Semuanya tegang, Itachi mengguncangkan tubuh Sasuke, dengan malas Sasuke harus kembali membuka matanya.

"Mohon tenangkan diri anda Hiashi-kun, apapun yang terjadi, jangan sampai anda melakukan hal buruk pada Hinata-chan." Mikoto memelas,

"Hm, aku tau apa yang harus aku lakukan."

Mikoto merasa lega mendengar Fugaku mengatakan itu.

Gadis bersurai indigo itu kini tengah berdiri di hadapan semuanya, Hinata menatap Hiashi takut, ia menundukan wajahnya seraya meremas rok seragam sekolah yang dipakainya, tubuhnya sedikit bergetar.

"Go- gomene, Otousaan."

Sasuke menatap Hinata tak percaya, gadis yang terlihat angkuh itu kini terlihat ketakutan, ini untuk yang pertama kalinya ia melihat Hinata seperti ini, jika ketika kejadian Sasori Hinata masih bisa berani menatap Hiashi, tapi sekarang, ia bahkan hanya bisa menunduk dengan tubuh yang bergemetar, apa se mengerikan itukan Hiashi Hyuuga.

PLAK !

"Wanita Jalang !"

Hiashi menampar Hinata hingga Hinata tersungkur, tamparan itu membuat ujung bibirnya mengeluarkan sedikit darah.

"Apa yang kau lakukan hingga baru kembali tengah malam HAH ! Memalukan !"

"Hinata-chan." Mikoto hendak beranjak, namun Fugaku menahannya, "Biarkan, itu cara Fugaku mendidiknya."

Sasuke sontak melirik sang ayah, apa tadi katanya? Cara mendidik? Ini bahkan lebih terlihat seperti menyiksa batinnya.

"Go- gomene Otousan-sama, Hikss.." Hinata menunduk seraya meneteskan air matanya.

"Bangun !" Suara Hiashi terdengar memerintah, Hinata perlahan berdiri, namun masih tak berani menatap Hiashi.

"Apa yang kau katakan tadi siang?"

Hinata melirik Sasuke yang tengah menatapnya, namun ia kembali menunduk.

"Aku ingin membatalkan pernikahan ini Otousaan, Gomene."

PLAK !

"Cukup Hiashi-kun, dia anakmu." Mikoto berkata seraya berdiri ia ingin menghampiri Hinata, namun Fugaku menarik tangannya.

Itachi mengulurkan ponsel nya pada Sasuke, dia menulis notepad untuk Sasuke disana.

"Baka Otouto.. Kau tak memiliki hati sama sekali, wanita itu di hajar ayahnya habis-habisan hanya untuk menutupi kesalahanmu, kau pikir kau bisa membodohiku? Kau yang menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan ini, dia melindungimu, dia tak ingin kau yang disalahkan, dia mencintai seorang pengecut sepertimu, kau pecundang !"

Tamparan kedua kembali di terima Hinata, sekarang bahkan pipinya terlihat memar, Hiashi menamparnya dengan kekuatan.

"Kau tau apa yang kau lakukan HAH !"

"Otousaan-Gomene.. Hiksss." Hinata memegangi pipinya yang terasa panas.

"Hinata-sama." Sasori bergumam, ia ingin menolongnya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa, jangankan dirinya, Neji saja yang notabene adalah kakak sepupunya tak bisa berbuat banyak jika Hiashi sudah murka.

"Benar-benar Memalukan, kau tak berhak menyandang nama Hyuuga lagi !"

Tamparan ketiga baru saja akan diterima Hinata jika Sasuke tak menghentikan tangan Hiashi yang akan menamparnya,

"Kau benar, sebentar lagi marganya akan menjadi Uchiha, Hinata Uchiha, karena dia akan menikah denganku."

"Eh?" Hinata membelalakan matanya tak percaya.

"Bagus Baka Otouto." Batin Itachi dalam hatinya,

"Sasuke." Lirih Mikoto.

Hinata merasa sekujur tubuhnya melemas, ia memegangi kepalanya yang terasa berat, tubuhnya limbung seketika, Sasuke dengan cepat menahan Hinata ketika dirinya akan terjatuh, Hinata merasakan sesuatu menahannya, ia melihat wajah Sasuke samar-sama hingga akhirnya menjadi gelap, ia pingsan setelah ditampar Hiashi dua kali.

"Hinata-sama." Teriak Neji dan Sasori bersamaan.

"Sepertinya dia butuh istirahat." Sasuke menggendong Hinata ala bridal style, "Hari ini kami sempat bertengkar, mungkin dia kesal padaku, untuk itu dia mengatakan ini, Gomene Hiashi-sama, Okaasan Otousaan."

Seketika Sasuke membawa Hinata pergi dari ruangan itu.

"Ku rasa apa yang di katakan Sasuke benar, mereka masih terlalu anak-anak, kita harus bisa memakluminya." Mikoto berujar, dan mendapat anggukan dari Fugaku yang membenarkan.

"Kau terlalu kasar mendidik anakmu Hiashi." Fugaku berkomentar.

"Tidak ada cara lain, kita harus mempercepat pernikahan mereka sebelum Hinata berulah lagi." Hiashi berkata serius.

"Ide bagus." Timpal Itachi.

"Tapi, mereka masih berstatus murid sekolah." Neji seolah tak setuju.

"Itu tidak masalah, yang terpenting hanyalah mengikat hubungan keduanya, bukan begitu kan? Hiashi-kun."

Hiashi mengangguk mendengar penuturan Mikoto.

"Baiklah, untuk urusan seperti ini serahkan saja padaku dan Itachi, tapi .. Kapan kira-kira mereka akan melangsungkan pernikahannya?"

"Besok lusa."

"Eh?" Semua serentak menoleh pada Hiashi.

"Secepatnya, aku tidak ingin menunggu terlalu lama, Hinata seorang yang keras kepala, aku akan mengirimkan bodyguard untuk menjaga Hinta, pastikan dia terus berada di kamarnya sampai pernikahannya, tidak menutup kemungkinan untuknya kabur, dia seorang yang nekat."

...

Sasuke membaringkan Hinata pada tempat tidurnya, ia melihat ujung bibir Hinata yang terluka karena tamparan Hiashi, pipinya juga terlihat sedikit kebiruan, tamparannya sangat kasar, Hiashi menggunakan tenaga, jika tau akan seperti ini jadinya, ia menyesal mengatakan untuk ingin membatalkan pernikahan ini, ia tak menduga Hinata yang akan menanggung semuanya, ia bahkan nyaris di tendang dari kediaman Hyuuga.

Sentuhan alkohol yang di berikan Sasuke untuk mengobati luka Hinata membuatnya meringis, ia terbangun.

"Gomene membangunkanmu."

Hinata menepis tangan Sasuke kasar. Tatapan matanya seolah menyimpan kebencian yang mendalam, namun Sasuke dapat melihat raut kesedihan disana.

"Pergilah .. Sudah tak ada siapa-siapa sekarang, jadii berhentilah bersandiwara."

"Gomene Hinata."

"Tch.."

"Karena aku kau-"

"Bukan karenamu, aku melakukan ini karena memang aku tak menginginkan pernikahan ini."

"..."

"Kau memuakan."

"..."

"Apa yang kau lihat?"

"..."

"Keluar !"

"Gomene Hinata, aku mencintaimu."

"Eh?"

"Aku tak bisa menghindarinya lagi, ketika di kelas, aku ingin mengatakan bahwa aku memang cemburu melihat kedekatanmu dengan Gaara, tapi keegoisan membuat akal ku berkata lain, dan aku menyakitimu, Gomene."

"..."

"Siapa yang bersandiwara sekarang?"

"..."

"Aku tau kau melakukan ini juga karena kau mencintaiku."

"..."

"ǰǰαϑΐ, kita mulai semuanya dari awal."

Hinata menautkan kedua alisnya saat Sasuke mengulurkan tangannya.

"Hai, namaku Uchiha-Sasuke aku adalah calon suamimu."

Hinata menatap Sasuke tak percaya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa dia sedang bermimpi?

"Maukah kau menikah denganku? Hime."

Tetesan air mata keluar begitu saja membasahi pipinya yang perih, dan membuatnya semakin perih, namun .. Semuanya tak terasa, semua sakitnya hilang, ia merasa bahagia..

"Hei kenapa menangis?"

Sasuke menghapus air mata yang membasahi pipinya yang putih,

"Kami-sama" lirih Hinata.

"Hm?" Sasuke memiringkan kepalanya seraya terus menatap Hinata.

"Apakah ini perasaan bahagia?"

Kini berbalik Sasuke yang terbelalak, segera ia mendekap Hinata ke pelukannya seraya mengecup keningnya lembut.

"Gomene Hinata, aku tak akan menyakitimu lagi, tolong untuk memberiku kesempatan."

Tak ada jawaban, Hinata terus menangis dalam pelukan Sasuke, ia menyadari dia memang mencintai Sasuke, bagaimanapun ia menghindar, ia menepis, ia mengabaikan, namun perasaan tak bisa membohonginya.

"Bagaimana dengan Sakura?"

Hinata melepaskan pelukan Sasuke seraya menatapnya sendu, "Dia masih kekasihmu."

Sasuke terdiam, "Aku yang akan menjelaskannya."

"Tapi, bagaimana kau bisa mencintaiku? Sedangkan kau juga mencintai Sakura?"

Sasuke menggeleng, "Awalnya ku pikir aku memang mencintai Sakura, tapi melihatmu bersama Gaara membuatku hampir mati."

Hinata tertawa kecil. "Kau berlebihan."

Sasuke memeluk Hinata kembali, "Jadii?" Tanyanya.

Hinata menatap Sasuke tak mengerti

"Mau kah kau menjadi Nyonya Uchiha? Direktur?"

Hinata mengangguk, "Tentu." Balasnya.

Sasuke mengambil dagu Hinata menyatukan bibir mereka dengan Hinata yang juga membalas setiap ciumannya menyalurkan perasaan masing-masing .. Kini tak ada lagi yang di tutupi, memang.. keduanya terlalu egois, terlalu keras kepala, terlalu gengsi untuk memulai, tapi benang merah yang menyatukan mereka, sekuat apapun mereka menolak mereka tak bisa menghindarinya, karena tulang rusuk seseorang tak akan tertukar dengan pemiliknya, percayalah ..

..

.

...

TBC

Arigatougizaimass Minaa .. Give your Opinion and Review anymore .. See u ^-^