Chapter 4
XOXO Class
Author: RyeoKaisoo / Park EunRim.
Cast: Member Exo.
Rated: T
Pairing: ChanKai, ChanSoo, HunKai, etc.
Genre: Romance, School, comedy, friendship, etc.
Disclaimer: EXO punya Tuhan Yang Maha Esa, SM Ent, EXO L, orangtua dll. Tapi cerita ini punyaku ^_^! Jadi aku pinjam EXOnya ya? Inspired by Korean Drama Sassy go go go and She Was Pretty.
Summary: Park Chanyeol murid tampan, kalem, pintar, dan popular di sekolahnya terutama di kelasnya, sedangkan Kim Jongin atau yang lebih dikenal Kai murid yang lumayang manis, tapi sangat badung, bodoh selalu di peringkat bawah, popular karena membuat masalah, dan namanya selalu menghiasi buku siswa. Apa jadinya jika mereka satu kelas di tahun ajaran akhir dan terjebak perasaan yang tidak seharusnya? (ChanKai lagi)
Warning: Yaoi, typo, tidak sesuai EYD, cerita pasaran, alur kecepetan dll.
"Kalau begitu… cium aku"
"Geure!"
...
"Aku… aku terlambat mengatakan kalau aku mencintaimu… aku sangat terlambat… hiks"
"Hiks…"
"Aku sangat mencintaimu, tapi aku terlambat…"
NO FLAME! NO BASH! NO PLAGIAT!
HAPPY READING ^_^
.
.
.
.
Chanyeol memutuskan untuk duduk di taman, perlahan dari atas langit turun air yang awalnya rintik-rintik menjadi sangat deras seiring dengan air mata Chanyeol yang jatuh. Dirinya sebenarnya tidak mau menangis tapi air mata itu sudah tidak bisa ia tahan.
.
Jongin menatap malas hujan malam ini, untung saja dia membawa payung. Jongin terjebak dengan tipuan Taemin dan akhirnya begini Jongin harus ke supermarket membeli beberapa bahan makanan.
"Namdongsaengku itu" gerutu Jongin. Tidak sengaja Jongin melihat seorang namja sedang duduk di bangku taman sendirian, tubuhnya nampak gemetar mungkin karena kedinginan.
"Chan gila" panggil Jongin pelan, ia menghampiri Chanyeol lalu berdiri di hadapannya. "Geure! Chan gila" gumam Jongin pelan, tapi ia mengernyit melihat Chanyeol tidak membalas ataupun menatapnya.
"Kau kenapa? Sudah berapa lama kau seperti ini?" Tanya sebuah suara yang muncul tiba-tiba, ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama dirinya duduk seperti ini kehujanan. Pemilik suara itu-Jongin memayungi Chanyeol lalu duduk di sampingnya.
"Gwenchanayo?" Tanya Jongin pelan. Chanyeol menoleh sebentar lalu berubah menjadi tatapan sendu dan entah apa itu. Jongin menyernyit melihat perubahan ini, saat kencan itu Chanyeol Nampak konyol, tadi Nampak beringas sekarang menyedihkan. Apa Chanyeol memiliki kepribadian ganda?
"Jongin"
"Ne?" Chanyeol memeluk Jongin membuat Jongin terkejut hingga menjatuhkan payungnya. Matanya membulat sempurna mendapat pelukan dari orang yang sering ia katai. Jongin yang kasihan dan iba balas memeluk Chanyeol, menepuk-nepuk pundaknya pelan sambil tersenyum.
"Aku tidak tahu kau kenapa… tapi apapun masalahmu… semua akan baik-baik saja" ucap Jongin lembut. "Gwenchana… Gwenchana… Gwenchana" entah delusi atau apa tapi Jongin merasakan Chanyeol menangis.
"Gwenchana… Gwenchana… Gwenchana…"
Siluet seorang bertubuh mungil muncul dan menatap mereka seksama, payung ia pegang ia remas sangat kuat menyalurkan kemarahan dan rasa kesalnya.
"Gwenchana…"
Chapter 4
Pemilik siluet itu adalah D.O, dirinya sengaja datang bertamu ke rumah Chanyeol sebelum menemui Sehun untuk melakukan penelitian. Tapi ia bergegegas keluar dari rumah Chanyeol saat mendengar pemuda itu belum pulang dan D.O menemukan Chanyeol sedang berpelukkan dengan Jongin di bangku taman di haru berhujan.
"Kau benar-benar tidak bisa belajar? Aku akan mengajarimu"
.
Hujan mulai reda, begitu pun Chanyeol yang mulai tenang dan melepas pelukkan Jongin.
"Chanyeol" panggil Jongin pelan, Jongin memutuskan untuk mengantar Chanyeol sampai ke rumah karena ia sedikit khawatir karena wajah pemuda itu nampaknya sedang kacau daripada terjadi sesuatu.
"Soal yang tadi lupakan saja" ucap Chanyeol pelan lalu masuk ke area halaman rumahnya.
"Chanyeol, sepertinya kau akan kena flu minumlah obat" saran Jongin dengan nada suara sedikit berteriak. Jongin terkesip menyadari teriakannya barusan, untuk apa dirinya menasehati pria tiang listrik itu.
"Lebih baik aku tidur"
.
Mata bulat itu menatap malas Sehun yang terus menanyai pemilik café di ujung jalan sekolah mereka. Kelompok mereka akan melakukan presentasi seperti jadwal, tapi D.O sama sekali tidak bekerja dalam penelitian ini, dia sibuk berpikir kenapa Chanyeol seperti itu?
"Baiklah, aku sudah menanyai pemilik café ini. Aku juga sudah memfoto beberapa bagian café ini yang bisa kita tiru" ucap Sehun setelah memasukkan data rekaman dan beberapa foto ke dalam laptopnya. Sehun menghela nafas sambil memutar bola matanya malas.
"Ada apa? Kau sepertinya memikirkan seseorang" celetuk Sehun yang membuat D.O tersadar dari lamunannya.
"Ne?"
"Kau menyukainya, kau menyukai seorang Park Chanyeol" ucap Sehun membuat D.O terkesip, tapi ia berusaha menyembunyikannya.
"Kau bicara apa?" Tanya D.O dengan senyum kikuknya, Sehun tersenyum melihat ekspresi D.O.
"Kau tidak bisa berbohong di hadapanku, semenjak diskusi kau memperhatikannya dengan seksama tapi dia melirikmu saja tidak" D.O menahan nafasnya mendengar ucapan Sehun yang membuatnya sangat tersinggung.
"Apa aku sangat terlihat mengejar-ngejarnya?" Tanya D.O pada akhirnya jujur dengan murid tetap XOXO Class ini. Sehun mengangguk sambil meminum kopi nya.
"Apa aku terlihat gampangan sekarang?" Tanya D.O.
"Cinta tidak bisa dipaksakan, aku sengaja memilih konsep cinta agar kau sadar membedakan antara tertarik dan cinta. Aku kasihan melihatmu seperti ini" ucap Sehun sekarang terlihat seperti menasihati D.O.
"Aku sudah berusaha keras melupakannya tapi perasaan ini malah semakin dalam, sejak itu aku memutuskan untuk mengejarnya…"
"Dan kau berakhir seperti namja gampangan?" ucap Sehun melanjutkan kalimat D.O, D.O mengangguk lemah.
"Kau itu manis dan pintar pasti banyak namja yang mengantri untuk mendapatkanmu" ucap Sehun memberesi laptop, kamera dan alat perekamnya. "Aku pulang dulu ya" ucap Sehun lalu berjalan keluar café meninggalkan D.O yang diam tidak bisa menjawab ucapan Sehun.
.
.
.
"Aku dan teamku berencana akan membuat stand utama dalam bentuk café seperti ini, beberapa bagian akan dihiasi dengan beberapa tumbuhan hijau, peralatan dapur masa lampau sebagai pajangan dan wallpaper, kami berpikir akan menggunakan wallpaper berwarna kalem seperti pastel dll, serta beberapa lukisan yang di buat pelukis yang menggambarkan cinta"-Sehun
"Menurut kami café ini tidak mencolok dan jauh dari kesan glamour dan klasik yang sangat klise. Meskipun kami menggunakan konsep simple tapi ini akan membuat orang penasaran dengan lukisan-lukisan yang akan kami pajang, mereka akan tertarik dengan makna dan apa maksud dari lukisan ini"-D.O
"Akhirnya, mereka akan masuk dan mereka tidak akan kecewa karena konsep café selaras dengan makanan yang di sajikan"-Sehun
Chanyeol terus memencet pulpennya dengan mata mengarah ke layar projector yang menampilkan foto-foto wallpaper café, lukisan-lukisan yang akan di pajang dan peralatan dapur masa lampau serta beberapa barang-barang yang sedang trend.
"Oke, kita akan gunakan. Besok kalian mulai bekerja mempersiapkan stand utama ini dan mengumumkan pada kelas-kelas lain agar membuat stand yang berhubungan dengan konsep cinta kemarin" perintah Chanyeol, ia mematikan layar projector lalu berdiri menatap semua anggotanya.
'Kau tahukan, jika semua murid XOXO Class menempati peringkat paling bawah. Kami memberi kesempatan ini untuk menambah poin nilai mereka karena kami tahu dalam pelajaran mereka sangat rendah. Jadi, usahakan penghasilan dari festival sekolah ini dan beberapat event sekolah mereka bisa menyiapkan dan menghasilkan penghasilan yang lebih dari VVIP Class tahun lalu'-Luhan
'Jika mereka gagal?'-Chanyeol
'Bisa dipastikan mereka akan keluar dari sekolah semester depan atau tidak lulus, kau memiliki 2 kesempatan besar dalam semester ini. Ini sudah kesepakatan bersama dan kepala sekolah sudah bosan mengurusi mereka, kau yang bertanggung jawab'-Xiumin
Chanyeol menghela nafas mengingat percakapannya dengan Luhan dan Xiumin beberapa minggu lalu, ia sengaja dipindah kemari karena ia diberi tanggung jawab oleh dua guru itu. Chanyeol mengambil nafas dalam-dalam lalu memukul meja cukup keras.
"Entertainment Team" panggil Chanyeol
"Kami berencana untuk membuat sebuah drama musical yang pemerannya berasal dari anggota team, drama musical sederhana tentang seseorang yang memiliki trauma tentang cinta berkeliling dari kota satu ke kota lainnya mencari orang yang bisa menjawab pertanyaannya dan perjalanan itu diakhiri dengan dia bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya menghilangkan trauma itu"-Suho
"Di anggota team kami ada beberapa yang mengikuti club dance, teater, dan menyanyi itu sangat membantu anggota lain yang belum mempunyai pengalaman"-Baekhyun
Chanyeol mengangguk.
"Promotion team" panggil Chanyeol lantang dan keras.
"Kami berencana memasarkan festival dengan design seperti ini di televise, internet, dan selebaran" ucap Lay mempresentasikan diskusi mereka semalam.
"Cinta biasanya identic dengan warna pink atau merah serta gambar hati, kemarin kami berpikir warna putih juga melambangkan cinta. Menurut kami arti cinta tidak satu orangpun yang tahu, oleh karena itu kami memlih dominant warna putih. Selain itu, cinta bisa menjadi negative jika orang salah mengartikan dalam praktek hidupnya dan warna putih menjadi tidak suci lagi saat warna itu dicampur warna lain"-Lay
"Gambar kami lebih memilih lambing abstract dan kubus karna cinta seperti yang dibilang sebelumnya orang tidak mengetahui makna dan artinya. Jadi, kami memilih gambar itu"-Chen
"Oke, kita gunakan. Promotion team mulai bekerja hari ini, bukan tapi detik ini juga" perintah Chanyeol.
"Nde!" balas Promotion Team serempak lalu keluar kelas bersama-sama.
"Stage Team"
"Kami berencana akan membuat latar panggung saat opening bukan dengan gambar, melainkan tullisan-tulisan murid SM High School tentang apa itu cinta dan beberapa foto-foto tentang sepasang kekasih, hewan bersama pasangannya, orangtua yang mencintai anaknya dan masih banyak lagi" ucap Kris menjelaskan konsep yang ia pikirkan bersama teamnya kemarin meskipun diselingi adu mulut antara dirinya dan Tao. Chanyeol sempat tertegun mendengar kata 'Orangtua', tangannya ia gerakkan memainkan pulpen dengan jari-jari tangan lainnya bergerak di atas meja.
"Oke, semua team mulai bekerja sekarang" perintah Chanyeol.
Semua team mengangguk paham lalu bergegas keluar, pertama Chanyeol mengawasi team Promotion karena mereka bergerak lebih dulu.
.
.
Chen menatap beberapa orang yang menolak menerima selebarannya, lebih banyak yang menolak daripada menerima.
"Gamsahamnida"
"Gamsahamnida"
"Gamsahamnida"
Chen semakin merapatkan jaketnya merasakan udara mulai dingin meskipun ini siang hari, karena ia tidak mau bergabung dengan Promotion Team tapi anggota tidak bisa dirubah. Lay yang memperhatikan Chen sedari tadi merapatkan jaket berdecak kesal, ia menghampiri namja berwajah kotak itu.
"Kau kedinginan?" Tanya Lay, Chen menoleh sekilas lalu menggeleng. Lay memutar bola matanya malas, ia hadapkan Chen ke arahnya lalu melepaskan jaket miliknya.
"Mwo?" Tanya Chen heran melihat Lay melepaskan jaketnya.
"Kau lebih membutuh kannya daripada aku"
Chen terkesip merasakan tubuh Lay berada dekat dengannya dan jaket tebal milik Lay berpindah ke tubuh mungilnya, tidak sampai disitu Lay mengenakan hoodie jaket itu di kepala Chen.
"Kau manis juga ya" puji Lay tanpa sadar.
"Kajja!" Lay mendorong tubuh Chen untuk kembali membagikan selebaran festival sekolah mereka. Chen sedikit merona mengingat tindakan Lay barusan, tubuhnya sangat dekat dengannya sampai-sampai dirinya bisa mendengar deru nafas dan detak jantung Lay.
"Palli!" teriak Lay memperingati Chen yang masih bengong di tempat.
"Ha? Nde" Chen tersenyum menyadari jaket Lay terpasang ditubuhnya, ia kembali membagikan selebaran itu dengan senyum mengembang yang membuat orang menerima selebarannya dengan senyum, mungkin mereka berpikir Chen sedang jatuh cinta. Lay yang melihat itu tersenyum, tingkah pemuda mungil itu berbeda saat ia melaporkannya 2 tahun lalu, sekarang pemuda itu manis dan benar-benar beda.
.
.
Tao tesenyum membaca isi-isi kertas di hadapannya ini, kertas dengan berbagai warna ini berisi tentang arti cinta menurut murid SM High School. Menurut Tao mereka sangat lucu mendeskripsikan cinta, ada yang mengatakan cinta itu uang, cinta itu, kepintaran, cinta itu sesuatu yang misterius bahkan Google tidak tahu, dan masih banyak lagi.
"Kyeopta" gumam Tao lagi, awalnya ia di suruh mengeluarkan kertas-kertas itu dari amplop, terlaksana tapi Tao seperti orang gila karena tertawa tidak jelas.
"Hihihi… kyeopta…" tanpa Tao ketahui sepasang mata hitam kelam memperhatikannya dengan seutas senyum yang sangat lebar. Dia adalah Kris, Kris tidak mendekati Tao karena wajah Tao yang seperti itu sangat langka.
"Sebaiknya aku segera menempelnya" Tao kembali bermonolog sendiri, ia menempelkan kertas-kertas itu menggunakan lem ke panggung bagian kiri.
"Kau sedang apa?" Tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul di belakang Kris, pemilik suara itu Jongin nyengir melihat objek yang dipandangi Kris.
"Kau menyukainya?"
"Anni!" elak Kris cepat lalu berjalan menghampiri Tao berusaha mengusili pria itu. Jongin menyeringai setan melihat kebohongan Kris, Jongin adalah orang yang sulit di tipu jadi sangat jelas pria tiang listrik itu menyukai Tao.
"Kris Wu" desis Jongin pelan, ia menghampiri dua orang itu lalu ikut membantu menempeli kertas-kertas itu di dinding.
"Jong, kaukan wakil kenapa tidak ikut Chanyeol mengontrol saja?" Tanya Tao, Jongin berdecih mendengarnya itu sama saja mengusirnya.
"Wae? Kau tidak suka aku di sini? Aku tidak mau bersama Chan gila itu" ucap Jongin ketus.
"Ya! Aku Cuma Tanya, itu lebih baik. Jadi, aku tidak harus dengan naga ini" ucap Tao dengan mata melirik tajam Kris, entah kemana rasa tidak enak dan malunya sekarang Tao benar-benar sengit melihat pemuda ini.
"Kau benar-benar ingin memanggilnya dengan Chan gila?" Tanya Kris,
"Geurae, dia itu sangat menyebalkan. Kau tidak ingat saat pertama diskusi tempo hari? Dia langsung menolak ide kita tanpa memikirkan sedetik atau mempertimbangkannya" cerocos Jongin.
"Anni" ucapan Tao membuat Jongin mengernyit heran termasuk Kris.
"Anni? Wae?"
"Saat diskusi aku memperhatikan gerak-geriknya, saat dia menerima ide dari Sehun dan D.O dia memencet pulpen nya berulang kali. Aku sudah paham kebiasaannya itu, saat dia memutuskan baik atau buruk pasti dia memencet pulpennya… itu pasti kebiasaannya. Ada beberapa yang lolos tapi entah dipakai kapan" jelas Tao membuat Jongin ber'oh' ria. Kris mengangguk, ia yang temannya saja tidak tahu.
"Daebak, kau pintar sekali mengamati orang" puji Kris, Tao meliriknya tajam seharusnya ia senang mendengar pujian itu tapi kalau pujian itu keluar dari mulut Kris tidak ada rasa senang sama sekali. Kris yang melihat itu tersenyum kecut.
"Kim Jongin"
"Nde" balas Jongin lalu berbalik ke belakang ke arah suara yang memanggilnya, ternyata Chanyeol yang memanggilnya.
"Ada apa?" Tanya Jongin.
"Kau tidak usah membantu timmu, kau ikut aku mengawasi saja" perintah Chanyeol lalu berjalan mendahului Jongin. Jongin berdecak kesal, bisa-bisanya dia memerintah langsung seperti itu memang siapa dia? Mentang-mentang dia ketua dan murid paling pintar.
"Cih! Chan gila!" cibir Jongin lalu menyusul Chanyeol berjalan di belakangnya. Tapi Chanyeol tiba-tiba berhenti lalu berbalik menatap Jongin.
"Apa kau maid?" Tanya Chanyeol, Jongin menggeleng kuat apa wajahnya ini mirip pembantu?
"Kenapa jalan di belakangku? Di sampingku" Chanyeol kembali berjalan menghiraukan Jongin yang pasti akan berteriak di depan wajahnya lalu menoyor-noyor kepalanya.
"Sikapnya berubah, kemarin dia menangis di pelukanku sekarang dia jadi beringas lagi. Chan gila itu kenapa? Dia sok bergaya Amerika" cibir Jongin dengan nada pelan.
"Aku dengar ucapanmu" Jongin terdiam mendengar ucapan dengan nada dingin menusuk itu, rasanya Jongin ingin memukul orang yang berjalan di hadapannya ini.
Mereka berjalan mengelilingi sekolah mengawasi Team yang sedang bekerja, Jongin yang berdiri di samping Chanyeol mengernyit heran melihat pemuda tinggi itu seperti menahan sakit. Apa dia sakit? Atau demam?
"Chanyeol" panggil Jongin, Chanyeol menoleh lalu ke arah Jongin. Jongin dengan ragu menempelkan telapak tangannya di kening Chanyeol.
"Kau sedikit demam" ucap Jongin, Chanyeol menggeleng lalu menyingkirkan tangan Jongin dari keningnya yang menurutnya sangat mengganggu.
"Tidak usah mengurusiku" ucap Chanyeol ketus lalu berjalan pergi begitu saja. Jongin memasang wajah jengah dan kesal melihat Chanyeol bersikap ketus padanya, dan kenapa dirinya khawatir dengan pemuda yang selalu membuatnya kesal itu. Jongin memukul kepalanya lalu kembali berjalan sejajar dengan Chanyeol
'Tapi dia sedikit pucat, aku juga tidak melihatnya makan siang saat semua makan. Tentu saja tidak ada yang mengajaknya sikapnya seperti itu' batin Jongin menatap wajah Chanyeol yang sedikit pucat dari biasanya. Kembali Jongin memukul kepalanya karena khawatir dengan Chanyeol.
'Jongin, biarkan saja dia' batin Jongin lagi lalu memalingkan wajahnya dari Chanyeol.
.
.
Entertainment Team melakukan tugasnya di aula bersama beberapa anggota Stage Team. Mereka sedang menentukan siapa yang menjadi pemeran utama, pemeran pembantu, cameo, dan penari serta memilih lagu dan membat koreografi.
"Pemeran utama ada dua orang dan pemeran utama kedua ada dua orang juga" ucap Suho setelah membaca skrip yang dibuat oleh team mereka. Baekhyun berdecih melihat tingkah Suho yang berlagak ketua, membuatnya ingin muntah.
"Bagaimana kalau Byun Baekhyun saja pemeran utamanya bersama Suho"
Baekhyun tersedak air liurnya sendiri mendengar usulan anggota teamnya, orang itu seenak jidatnya mengusulkan.
"Kenapa kau mengusulkan itu?" tanya Suho, untuk pertama kalinya Baekhyun berharap kepada Suho agar menolak usulan itu. Dirinya sangat tidak ingin beradu acting dengan orang yang mencari masalah dengannya beberapa hari lalu, Baekhyun memukul kepalanya sendiri membayangkan hal itu terjadi.
"Kau bisa bernyanyi dan Baekhyu juga, sepertinya itu cocok" Suho diam memikirkan usulan anggotanya itu, sepertinya dia lupa taruhannya dengan Baekhyun tempo hari lalu.
"Baik, aku dan Baek-"
"Aku tidak bisa ikut menghibur" ucap Baekhyun memotong ucapan Suho, semua langsung menatapnya. Mereka cukup terkejut mendengar penolakan Baekhyun, setahu mereka Baekhyun orang yang paling semangat mendapat peran utama dalam sebuah teater atau drama musical, tapi hari ini dia menolaknya.
"Wae Baekhyun?" tanya temannya, belum sempat Baekhyun bicara Suho sudah menariknya keluar dari aula menuju tempat yang sepi.
"Aw! Appo!" Suho meghela nafas melihat Baekhyun berperilaku seperti tadi.
"Wae? Kenapa kau tidak mau?" tanya Suho menahan geraman marahnya.
"Kau lupa taruhan kita waktu itu? Kalau aku kalah aku tidak bisa bernyanyi seperti tempo hari dan aku tidak mau kalah dari mu. Arra?" jawab Baekhyun dengan mata melotot kesal, Suho menghela nafas mendengar ucapan Baekhyun tentang taruhan yang ia buat tempo hari.
"Arasseo, kita undur saja taruhan itu"
"Ne?" teriak Baekhyun tidak terima.
"Kita undur selama 3 bulan saja, setelah itu kita lanjutkan taruhan itu. Arra? Urusan selesai" ucap Suho cepat lalu pergi, ia tidak mau mendengar bantahan Baekhyun dengan suara melengkingnya. Baekhyun menatap tidak percaya Suho yang memutuskan secara sepihak itu sama saja tidak menghargainya, dengan kesal Baekhyun melepas salah satu sepatunya lalu melemparnya dan terjatuh di hadapan Suho.
"YA! Seharusnya kau bertanya dulu padaku, apa aku setuju atau tidak? Dasar Egois!" marah Baekhyun, Suho memandangi sepatu mungil Baekhyun lalu memungut sepatu berwarna biru dengan kombinasi putih, jingga dan abu-abu. Ia berbalik lalu berjalan kembali ke tempat Baekhyun.
Baekhyun melotot kaget melihat Suho menghampirinya lalu mendorongnya hingga membentur dinding di belakangnya setelahnya Suho menghimpitnya.
"Mwo?" tanya Baekhyun pelan, Suho mencubit bibir Baekhyun lalu memasangkan sepatu Baekhyun di kaki mungil pemuda eyeliner ini. Baekhyun mengerjapkan beberapa kali matanya, dirinya terlalu terkejut. Awalnya ia kira Suho akan memukulnya atau apalah karena dirinya hampir saja membuat Suho merasakan sepatu miliknya itu.
Suho tersenyum kecil setelah berhasil memasangkan sepatu itu lagi ditempatnya, Baekhyun masih diam tidak bergerak memandangi kakinya lalu wajah Suho yang lumayan dekat dengannya.
"Kau setuju kalau taruhan itu diundur?" tanya Suho memenuhi keinginan Baekhyun. Baekhyun semakin terkejut, dia benar-benar tidak marah atau kesal pada Baekhyun.
"Mmmph!" Baekhyun berusaha bicara tapi mulutnya tetap dicubit oleh Suho membuat pemuda berkulit putih itu tertawa kecil.
"Setujukan? Urusan selesai" ucap Suho lalu melepas cubitannya setelahnya menarik Baekhyun untuk masuk lagi ke dalam aula.
"Baekhyun bersedia menjadi pemeran utama bersamaku" ucap Suho mengumumkan pada anggotanya. Mata Baekhyun membulat sempurna, ia setuju kalau taruhan mereka diundur tapi bukan berarti ia mau menjadi pemeran utama bersama Suho.
"Su-"
Lagi, Suho mencubit bibir Baekhyun agar bungkam. Baekhyun menatapnya tajam lalu memukul-mukul tangan Suho agar menyingkir dari bibir indahnya, sementara Suho tertawa melihat Baekhyun seperti itu.
.
.
Sehun, D.O dan anggota teamnya sedang mendekor sebuah ruangan kosong dekat pintu masuk dengan barang-barang yang mereka sudah pesan. Sehun terus memperhatikan D.O yang sedang memilih lukisan mana saja yang akan ditempel. Setelah mendapat satu, D.O berusaha memasang kannya ke dinding yang sedikit tinggi, Sehun tertawa kecil melihat D.O yang nampaknya kesulitan untuk menempel lukisan itu.
"Astaga! Seharusnya aku ikut ekskul basket agar tinggiku bertambah bukan penelitian remaja" rutuk D.O kesal pada dirinya sendiri, D.O terus meloncat-loncat berusaha menggapai paku yang sudah ada di dinding itu.
"Kau itu pendek, lebih baik kau menata tumbuhan saja" saran Sehun dengan nada usilnya, D.O memutar bola matanya malas mendengar ledekkan Sehun.
"Berhenti bicara dan kembali kerjakan tugasmu tadi" perintah D.O, Sehun memasang wajah pura-pura takut sedikit membuat D.O tertawa kecil.
"Neo yeppeo" D.O menoleh ke arah Sehun mendengar ucapan Sehun tadi, sepertinya ia salah dengar tidak mungkin pemuda kurang saraf ini memujinya.
"Ne?" Tanya D.O lagi berusaha memastikan. Sehun tersenyum kecil lalu mengacak-acak rambut hitam D.O.
"Aku bilang kau cantik, karena sejak datang ke XOXO Class kau tidak pernah tersenyum. Jadi, aku puji senyummu" jelas Sehun, D.O ber'oh' ria mendengar penjelasan Sehun ternyata memuji senyumnya. Ia tidak senang sama sekali mendapat pujian seperti itu, andai saja pujian seperti itu keluar dari mulut Chanyeol akan dengan senang hati D.O menerimanya.
"Memikirkan Chanyeol lagi?" Tanya Sehun, D.O menggeleng pelan lalu kembali berkutat dengan lukisan yang ada di tangannya yang belum ia pasang. "Kau tidak ingat ucapanku wak-"
"Lebih baik kau diam" pinta D.O tanpa menatap wajah Sehun, ia masih mencoba memasangkan lukisan ini. Sehun yang kasihan melihat itu berdiri di belakang D.O.
"Mwo?" Tanya D.O heran melihat Sehun ada di belakangnya, lalu memeluk pinggangnya.
"Kau itu pendek, aku bantu" D.O membulatkan mata bulatnya melihat Sehun mengangkat tubuh mungilnya tinggi-tinggi hingga wajahnya berada tepat di depan paku yang tertancap di dinding. D.O masih diam mencerna semua yang terjadi dengannya.
"Kau tidak mau memasangnya?" tanya Sehun, D.O tersadar dari lamunan panjangnya karena terlalu asik dengan pikirannya yang berpikir kenapa Sehun melakukan ini untuknya?
"Nde" jawab D.O pelan, ia memasangkan lukisan itu lalu memposisikannya sedikit miring. Sehun tersenyum lalu menurunkan D.O.
"Lukisan mana lagi yang harus dipasang?" tanya Sehun, D.O menunjuk beberapa lukisan yang ada di atas meja lalu menunjuk beberapa bagian dinding yang akan dipasang lukisan itu.
"Aku bantu"
"Chogi" cegat D.O menarik lengan Sehun.
"Wae?" tanya Sehun, D.O menjeda kalimatnya sembari mengatur nafas.
"Kau membantu seperti tadi?" tanya D.O pelan hampir seperti berbisik. Sehun tertawa keras membuat D.O menatap bingung dan berpikir mungkin Sehun tertawa karena secara tidak langsung D.O seperti berharap kepada Sehun agar membantunya seperti itu.
"Hahaha… kau berpikir seperti itu? HAHAHA!" tawa Sehun semakin keras membuat D.O ikut tertawa untuk menutupi rasa malunya.
"Hahahaha… astaga aku ini siapa kenapa berperilaku seperti yeoja puber? Hahahaha…" ucap D.O semakin menambah keras tawa Sehun.
"Nde, aku memang akan membantumu seperti itu" ucap Sehun kali ini tanpa tawa membuat D.O terdiam kaku di tempat, Sehun tersenyum lebar lalu menarik tangan D.O agar mengikutinya.
"Kajja" ajak Sehun semangat, D.O hanya pasrah saja saat Sehun menaik turunkan tubuhnya untuk memasang lukisan-lukisan ini.
.
.
.
Jongin membaca komik yang sedang ia baca dengan seksama, sesekali tangannya bergerak mengambil cemilan yang berada di samping ponselnya. Malam hari memang pas seperti ini membaca komik, memakan cemilan sambil mendengarkan music setelah seharian tadi berjalan tidak jelas dengan Chan gila itu.
"Kim Jongin, dipanggil Eomma! Kau tidak dengar?" teriak Taemin yang masuk ke dalam kamar Jongin yang sedikit berantakan. Taemin menghela nafas melihat kebiasaan Jongin seperti itu, ia menghampiri Jongin lalu melepas earphone kakaknya dengan paksa.
"Ya! Kim Taemin!" bentak Jongin kesal, Taemin berdecak kesal lalu menyerahkan kotak entah berisi apa pada Jongin'.
"Ige Mwoya?" tanya Jongin menunjuk kotak yang ada di tangannya. Taemin melipat tangannya di dada lalu menunjuk rumah Chanyeol.
"Antarkan itu ke ruamh Chanyeol Hyung, Eomma mendapat telfon dari Chanyeol Eomma kalau Eommanya tidak pulang jadi, dia meminta tolong pada Eomma agar mengirim makanan pada Chanyeol" jelas Taemin, Jongin segera menggeleng lalu mengembalikan kotak itu ke Taemin.
"Anniyo! Kau saja!" tolak Jongin lalu kembali duduk di bangkunya. Taemin menggeram kesal lalu menarik Jongin untuk kembali berdiri.
"Kau yang disuruh bukan aku! Kau antarkan sebelum Appa dan Eomma marah, Arra?" tanya Taemin kesal lalu berjalan keluar dari kamar Jongin.
Jongin menggeram kesal memandangi kotak yang ada di hadapannya ini, helaan nafas berat keluar dari bibir tebalnya. Ia malas masuk ke rumah itu, pasti ia akan ingat kejadian tempo hari.
.
Jongin terus memencet bel beberapa kali sambil berteriak-teriak dari Chanyeol, Park Chanyeol, sampai Chan gila. Jongin menggeram kesal lalu memutar knop pintu dan secara bersamaan muncul Chanyeol yang menatapnya lalu ambruk di pelukannya.
"Chanyeol! Chanyeol! Park Chanyeol! Ireona, Ireona, Ireona" panggil Jongin panik, ia berusaha sekuat tenaga membawa Chanyeol masuk lalu menidurkannya di sofa. Jongin yang melihat begitu banyak keringat bercucuran di tubuh Chanyeol khawatir, ia membukar beberapa laci lemari yang ia lihat untuk mencari thermometer.
"Dia itu demam sudah aku duga, dasar keras kepala" omel Jongin kepada Chanyeol yang masih menutup mata. Jongin meletakkan thermometer itu di telinga Chanyeol lalu melihat suhu tubuh Chanyeol empat puluh derajat.
"Ommo, dia demam tinggi" gumam Jongin pelan, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Taemin sepertinya ia harus menginap di rumah ini.
"Taemin, aku ada tugas kerja kelompok bersama Chanyeol aku akan menginap disini, sampaikan pada Appa dan Eomma" ucap Jongin cepat lalu mematikan ponselnya. Jongin mengelus kepala Chanyeol lembut lalu tersenyum getir.
"Malangnya…" lirih Jongin, ia bangkit berdiri menuju dapur untuk mengambil baskom berisi air hangat kuku dan handuk, dengan telaten Jongin mengompres kening Chanyeol.
"Dia ada obat tidak ya?" tanya Jongin entah pada siapa, ia kembali berjalan ke lemari-lemari mencari kotak obat.
"Obat demam… demam"
"Eomma…" Jongin menoleh mendengar suara Chanyeol, ia segera menghampiri pemuda itu yang masih menutup mata dia mengigaukan Eommanya. Jongin mengelus kepala Chanyeol sambil menepuk-nepuk lengan Chanyeol.
Tanpa diduga, Chanyeol memegang tangannya lalu menarik dirinya hingga terjatuh menimpa tubuh Chanyeol yang sedikit basah karena keringat.
"Chan…" Jongin tidak meneruskan kalimatnya merasakan tubuh besar Chanyeol mendekapnya lebih erat daripada saat di taman. Apa Chanyeol mengira dirinya Eomma nya? Dia merindukan Ibunya.
Jongin balas memeluk Chanyeol sambil menepuk-nepuk lengan Chanyeol, dan berbisik pelan.
"Tidurlah…"
Jongin berusaha melepas pelukan Chanyeol tapi Chanyeol malah semakin erat memeluknya hingga akhirnya Jongin menyerah dan terus menepuk-nepuk lengan Chanyeol.
"Jaljayo Chagiya… jaljayo"
RnR
To Be Continue
(Next Chapter)
"Aku menyukainya"
"Mwo?"
...
"Kau mau membuatku cemburu? Tapi sepertinya kau salah sasaran, sekarang kau yang terlihat cemburu mengingat semua itu"
...
"Aku sedikit tertarik denganmu"
"Mwo?"
...
"Nugu?"
"Seseorang, Wae?"
...
"See you, Zen"
'See you too, Chen'
...
"Gomawo"
"Mwo? Ulangi lagi?"
