—"Mengapa makananmu dibiarkan saja, memangnya kau tidak lapar?"
Lisannya masih terkunci sejak semalam. Tanpa Seo harus memfokuskan mata, lingkaran hitam itu terpampang jelas di sana, merusak pesona manik ungunya.
Tiga kali sudah Seo bertanya, sampai kini belum ada respons berarti dari sang tunangan. Entah apa gerangan pemenjara benaknya, satu yang jelas: tak sedikitpun ia taruh atensi pada seporsi omelet; hidangan sarapan pagi ini. Walau matanya tertuju pada lapisan jati kokoh penopang hidangan, tetap saja pandangannya kosong.
"Asano, lihat aku. Ada apa?" Cemas, mulailah Seo menekan lembut dagu Asano, menabrakkan pandangan kedua insan. Sontak sepasang ametis beralih ekspresi, sadarnya telah kembali, kini bergulir perlahan—mengelak dari panasnya obsidian. Namun tidak, kerongkongannya seakan tetap terhalang tembok imajiner.
"Haah—" Hembusan nafas berat mengerjapkan kedua iris ungu. "Makanlah, jangan sampai perutmu kosong. Keras kepalamu membuatku khawatir, Asano. Sungguh."
Sesaat sinyal memohon terdengar, ibu jari Seo pun membujuk belah ceri Asano untuk sedikit saja membuka. Tak lupa jemari kanannya menggenggam sendok, berupaya menyuapi tunangannya yang masih mematung sunyi. Sesuap dua suap tak mengapa, ia hanya tak mau tunangannya beraktivitas dengan perut kosong.
"Makan, ya. Sedikit saja tak apa. Please, dear?"
"...Baiklah..."
"Now that's my love."
Mendengar itu, bibir bawah refleks menekan sisi lainnya. Seo, tunangannya yang memang pandai menafsirkan tingkah Asano, apalagi keduanya saling kenal sejak SMP, rupanya dapat segera menebak tali ruwet pengganggu pikiran sang tunangan.
"Aku ingin pulang. Aku tidak mau di sini, aku tidak ingin dipanggil my love. Aku ingin bertemu Ren."
Sontak ametis terangnya membundar setara kapri.
"Haha. Aku memang tak pernah gagal membacamu, Asano." Seo tergelak, geli melihat mimik kaget langka di hadapannya. "Kau bahkan tak perlu repot-repot berterus terang. Tak apa kukatakan, 'kan? Toh orang tuaku sedang keluar."
Ck. Roman jengkel dibuang ke samping, sementara pipinya masih sibuk melumat nasi. Yah, bukannya Seo mengharapkan Asano membalas godaannya saat itu juga. Kadang ia cukup menikmati disikapi cuek macam sekarang. Masokis? Entahlah.
"Kau pikir aku akan memulangkanmu begitu saja, dear? Damn it, ceroboh benar aku. Tadinya kujadwalkan seks pada ujung private time kita, tapi terlanjur terjadi, deh~ Padahal hidangan ternikmat baiknya disajikan terakhir, 'kan?" Lagi, Seo memamerkan sepasang deret putih seolah-olah dirinya inosen, membuat Asano berjengit.
"Pada akhir jadwal, 'kan? Kau yang bilang. Berarti boleh saja aku pulang sekarang." balasnya ketus—masih dengan sorot beku. Marah sebenarnya, kala Seo membeberkan rentetan jadwal yang diatur seenak hati, mencakup rencana menidurinya—yang berarti: Seo memang berniat mematahkan janji keduanya sejak awal. Sialan dia dan bibir tebalnya.
Ingin rasanya merendam otak serta dirinya—secara general—dalam larutan suci. Sekalian menyikat organ pemroses memori milik Seo dengan deterjen, supaya bocah itu dapat setidaknya mengingat janji. Haah. Jika bersamanya, mustahil untuk mengaso, walau sedikit saja.
"Eits, where are you going?" Deret gigi yang masih dipajang semakin melebar saja, berbarengan dengan jatuhnya torso Asano pada dada bidang Seo. "Kalau kau sebegitu inginnya keluar dari rumah ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan berdua?"
.
.
.
.
.
Ketika Lonceng Berbunyi
the continuation
Assassination Classroom (c) Matsui Yusei
Part IV:
(3rd) wheel (s) go (es) round and round
Warning keras!
nggak dibaca ulang jadi ya gitu deh :') OOC typos dan kawan-kawan masih melekat bak upil (?)
THIS LYFE IS SUCH A MENYE SHOJO MANGA! INGAT ITU! #dikemplang
.
.
.
.
.
Asano merengut. Kaki jenjangnya saling silang, sesekali menghentak jengkel permukaan. Pahit perusak pesona pihak submisif takkan luntur begitu mudahnya, Seo rasa. Yah, hal itu biar berlalu saja di retina, ia tetap asyik menyetir Porsche kesayangannya sambil diiringi siulan. Seo tidak ingin raut kusut yang terlalu rutin dipampang di hadapan umum itu merusak hari indah mereka.
"Now then, where should we visit first? Kalau ada tempat yang ingin kau datangi, bilang saja!"
"Mi casa." Nada ketus dilepehkan sembari membuang muka. Seo tergelak.
"Seharusnya aku tahu kalau kau pandai melawak!" semburnya di sela tawa. "Nope, dear. Mobil tidak dapat terbang ke Amerika—ke rumah kita, sayang."
Decak kesal kembali terdengar di pagi ini. Sebodo amat, kini 'sirene' emosi itu sudah bagai melodi indah bagi telinga Seo. Tunanganmu ini terlanjur kebal, sayang sekali, Asano. Sekuat apapun Asano merajuk, atau merengek sekalipun, Seo takkan goyah.
"Aku benci keluar rumah."
"Hoo. Sungguh janggal mendengar itu dari orang yang hobi mengoleksi harem internasional." Seo menyeringai tipis, menghalau jingga penyekat kedua pasang bibir. Kecup gemas didaratkan, sampai Asano kembali memprotes.
"Lebih baik berjalan kaki daripada disopiri orang yang tak peduli keselamatan berkendara." Sebagai pembalasan, Asano menyentil kencang hidung sang lawan bicara kemudian membalas sarkas, "Ah, Tomoya sayang, matamu masih tergeletak di dashboard ya, jadi meleng kesana kemari?"
Mendengar itu, dulu mungkin darahnya akan langsung naik membanjiri ubun-ubun, namun hei, dirinya bukan bocah yang seperti itu lagi.
"It's your fault, dear, karena tak kunjung menjawab." Pedal gas diinjak sekuat tenaga, bersama terbitnya sabit pada roman pemuda obsidian. "Kalau begitu, hakku untuk menentukan tempatnya. Am I wrong?"
Tanpa bosan, Asano memajang tampang kusut.
"That sulking face is strangely adorable." ucap Seo jenaka, sebelum mengganti gigi untuk melesat ke destinasi mereka.
.
.
.
.
"...Gereja? Besar juga, ya... Aku tidak pernah sadar ada bangunan ini." Asano terperangah mendapati bangunan beige tinggi di hadapan mereka berdua. Air mukanya terlampau sumringah, retinanya lekat pada arsitektur megah gedung peribadatan tersebut. Seo tersenyum puas kala mendengar bisik kagum dari bibir sang tunangan.
"Kalau di sini, kurasa satu Kunugigaoka muat. Tak sebesar di luar negeri, sih." Ia memamerkan gigi, merangkul pujaan hatinya penuh sayang. "Dan... Sekalian membook hall Kunugigaoka juga, yang luasnya bukan main itu. Kurasa Pak Direktur takkan keberatan."
Sepasang ametis mengerjap singkat. "Maksudmu... Hall di samping gedung SMP kita?"
"Yap. Karena SMP Kunugigaoka-lah yang mempertemukan kita, 'kan?"
Detik itu, suam menggerayangi pipi sang pirang-stroberi. Ah, ini yang pertama kalinya... Kalimat Seo menyelimuti hatinya dengan hangat. Tak lebih dari seuntai frasa sederhana, namun mengapa?
"Bagian dekorasi kuserahkan padamu, Asano. Tak pernah bosan kulihat desain ruangan yang kau gambar di notebook sewaktu SMA."
"Tu—Kau mengintip, ya?!"
"Of course. You often makes it during lessons, right?" Seo terkikik geli, membelai mahkota jingga Asano dengan kelima jarinya. "Ah, dengan warna rambutmu yang cantik ini, pasti cocok memakai wedding veil."
"...Pengucapanmu membuatnya terdengar seperti wedding fail."
"Iya, iya, tuan gila bahasa." dengus Seo, merubah belaian jadi beraian. "Katakan, Asano. Apa kau khawatir soal itu? Soal wedding fail?"
"Ti-tidak juga. Dan jangan perlakukan aku seperti perempuan. Coba kau bayangkan saja, paduan jas dan wedding veil?"
"Aah, padahal menurut bayanganku, akan manis sekali." Sepotong keluhan lolos dari katup daging penghalangnya. Pemiliknya menggeleng-geleng, menyayangkan penolakan mentah-mentah sang tunangan.
"Jadi? Kau lebih memilih untuk memakai wedding veil bersama wedding dress?"
"Hentikan!" Asano memekik tertahan.
"Oh ayolah. Jangan serius menanggapinya, dong. Aku 'kan hanya bercanda." Seo merajuk, menekan usil batang hidung Asano dengan telunjuknya. Ah... Asano, Asano. Pemuda itu tidak pernah mau meladeni... Atau setidaknya 'mengerti' gurauannya. Sedikit kecewa memang, tapi roman sang ketua ketika jengkel pun sebuah eyecandy bagi manik obsidiannya.
Dan ia berharap dapat terus menikmatinya.
Sampai kapanpun.
.
"Kau tahu? Ini impianku sejak dahulu."
"...Maksudmu?"
"Begini..." Seo menghela napas sebelum melanjutkan. "Aku menemukan gereja ini... Sewaktu aku memacari Kaho. Waktu itu masih dalam tahap pembangunan. Dan saat itu aku berfirasat, bahwa gereja ini akan menjadi sebuah bangunan yang menawan."
Asano diam, berfirasat bahwa kalimat sang tunangan belum tuntas.
"...Lalu saat itu, aku berpikir alangkah indahnya jika aku dapat menikahi sosok yang kucintai di tempat ini. Dan orang itu, kurasa adalah... Tidak, aku yakin sekali kalau orang itu adalah kau, Asano."
Dekap penuh arti diberikan selembut mungkin, seolah tertuju pada setangkai lili rapuh, kontras dengan lakunya yang biasa. Hanya untuk Asano seorang. Sementara yang didekap nampak bimbang menghadapi disimilaritas sikap Seo tadi dan kini. Tanyakan saja pada sisa Virtuoso—tak pernah sedikitpun lelaki itu tunjukkan sisi melankolisnya sebelum sekarang.
"...Orang itu... Diriku? Bukan Tsuchiya yang kau pacari saat itu?"
"Memangnya siapa yang tengah kupeluk?"
"..."
"Asano... Kumohon jangan hancurkan satu-satunya mimpiku."
Sepasang obsidian berkilat redup, kontra dengan titik-titik salju yang menghujani kedua pemuda. Mereka masih di sana, berpandangan satu sama lain, bersama iringan desir angin penyayat sunyi.
Ketika dada saling berhimpitan, barulah Asano sadar akan selisih tinggi yang tak ada bertahun-tahun lalu. Ah... Kini Seo sudah melampaui tingginya. Liku leher serta garis pipinya semakin tegas saja, mencipta harmoni dengan bingkai obsidiannya yang telah menajam. Begitu pula lengan yang melingkari punggungnya—otot bisep milik Seo begitu padat, bukti kerja kerasnya dalam bela diri—
—demi melindunginya.
Berapa lama sudah ia tak memerhatikan Seo sebegini detilnya? Bahkan jika ia cermati, perilaku pemuda obsidian itu pun perlahan beranjak dewasa.
Ia telah berubah. Sejak kapan?
Sejak kapan Seo berubah untuknya?
.
"Ah... Tak kusangka aku perlu berjinjit untuk menyetarakan tinggiku denganmu." Ia tersenyum, sembari menumpukan keseimbangannya pada pundak Seo. Dan sebelum tunangannya sempat membalas, ia hadiahkan padanya ciuman pasif; sekali ini saja.
Barulah kali itu ia rasakan jelas, bahwa dirinya adalah tunangan seorang Seo Tomoya.
Tidak lama—kontak antara kedua pasang bibir hanya berlangsung sekelebat mata, sampai seberkas senyum membangun jarak diantaranya. Seo mengerjap berulang kali, tercengang akan perlakuan Asano barusan. Tidak menyangka pemuda manis itu akan berinisiatif duluan, tentu saja.
"Asa—"
"Terwujud. Kau ingin menciumku di gereja ini, 'kan?"
Puh. Di luar dugaan Asano, Seo menahan tawa.
"Maksudku ciuman setelah sumpah kita. Lagipula, ini di luar ruangan gereja." Lama kelamaan tawanya semakin menggelitik, sampai harus memegangi perut. "Asano, mengapa makin ke sini kau makin gemar melucu?"
"Aku tidak—" Haah. Seo tidak mengerti, percuma saja. "Perkataanmu tadi, maaf saja tapi aku tidak bisa mewujudkannya. Maafkan aku."
"Tak perlu terburu-buru, kau bisa membiasakan diri mulai sekarang. Dengan bertunangan denganku, tentu saja. Supaya lancar nantinya, ketika impian kita terwujud." Seo membentangkan syal miliknya, melindungi leher Asano dari dingin yang menusuk.
"Tapi aku senang, ini pertama kalinya aku mendapat ciuman darimu."
Refleks, Asano kembali kecut. Merundukkan kepala, menyembunyikan ekspresi di balik syal rajut dan gerai jingga. Terkadang ia mempertanyakan apakah Seo—dan Ren tersayangnya—seorang esper, karena tetap dapat melihat wajahnya serapat apapun ia sembunyikan. Sejujurnya itu menyebalkan.
Dan orang itu tetap bersikeras agar Asano menikahi dirinya. Tak peduli Asano telah terbiasa dengan kasih sayangnya atau secara paksa.
"Nah, kita pasti tidak ingin kedinginan, 'kan? Ayo kembali ke mobil." Sembari berkata, Seo menggandeng telapak Asano, berinisiatif membawanya ke tempat hangat. "Nah, setelah ini, sebaiknya kita ke mana? Sekarang kau yang tentukan."
"Rumah." ujar yang ditanya sembari menutup pintu mobil. Masih dengan pilihan yang searti dengan sebelumnya, walau kini lain bahasa. Seo mengangkat bahu, memaklumi opsi yang dipilih sang tunangan. Ya, pasti ia lelah setelah aktivitas kemarin malam—Seo rasa ia telah kelewatan. Karena dalam hatinya pribadi, ia tahu pasti Asano sudah bermain dengan kekasihnya kemarin hari, peringatan ulang tahun ketujuh hubungan kasih keduanya. Dan ia pun telah berjanji, bahwa ia hanya akan memonopoli tunangannya satu malam saja.
"Pilihan yang bagus. Terima kasih sudah menemaniku hari ini." Pemuda bermahkota ungu itu tersenyum tulus, sembari tangannya bersiap memutar kunci mobil. "Hei, Asano, kau tahu tujuanku mengajakmu jalan-jalan ke tempat ini?"
"Tidak." jawab Asano simpel. Seo mengerutkan dahi mendengar respon tunangannya yang begitu terburu-buru.
'Dia malas berpikir, ya... Ya sudahlah.'
Dengan sigap, pemuda itu menekan kuat tuas penggerak kursi penumpang, yang pastilah mengejutkan bagi Asano karena kini dahi Seo bertimpangan dengan miliknya. Terasa benar nafas hangat pemuda itu meresap dalam pori-pori, memicu ruam pada belah persiknya.
"Tentu saja aku tengah berusaha membuatmu jatuh cinta padaku, dear. Dan aku takkan melakukan kecerobohan seperti kemarin, membuatmu menangis."
"Ck, aku takkan membiarkanmu. Tidak semudah itu, bocah naif."
"Aku tidak pernah membenci tantangan. Tidak ingat ketika kita ditantang kelas E, hmm?"
"H-hei! Kau terlalu dekat... Panas—"
"Memang begitu niatanku. Bukannya kau kedinginan?" Alih-alih menjauh, Seo kini melekatkan dahinya dengan dahi Asano, berbagi suhu yang semakin menanjak dalam ruang tertutup. "Dan bukannya sudah anjuran umum, kalau hidangan sebaiknya dinikmati selagi masih hangat?"
Usai membebaskan tuas jok, kini telapak lebar Seo berpindah posisi untuk menopang kepala sang tunangan, menjaganya stabil dalam jarak yang dapat ia raih. Sementara itu, tangan kiri sukses memborgol pergelangan tangan Asano dengan jemarinya, membatasi zona pertahanan sang tunangan—tentu saja agar tak lolos dari terkamannya.
Panik tentu dialami sang jingga saat ini. Apa mampu ia pertahankan tenangnya dalam situasi terpojok macam ini? Seo rasa tidak.
"Ap—tunggu!"
"Kalau begitu, selamat menikmati."
.
Ya Tuhan, ini bisa membuatku gila.
Dan mengapa saat itu... Jantungku berdebar karenanya?
Aaargh, kuatkan hatimu, Asano Gakushuu!
.
.
.
.
.
"Aku pulang." desahnya kala menginjak genkan. Ah, ia bersyukur dapat membebaskan diri dari rumah itu—berlama-lama dengan Seo sungguh memusingkan, demi semesta alam. Setelah ini, ia ingin sekali langsung menanggalkan pakaian kemudian bertapa di bak mandi, sekaligus menghapus jejak kepemilikan dari sang tunangan. Ia tidak ingin Sakakibara sampai menemukannya, walau ia tahu jelas sang kekasih terlanjur mendengar aktivitas intimnya dengan Seo.
"Selamat datang, Gakushuu-kun. Kebetulan sekali, sebentar lagi makan siang siap."
Ia disambut dengan bass yang tak lagi asing, namun ia tahu benar bukan milik penghuni rumah alias ayahnya. Tak lain, pastilah milik sosok yang ia kenal dekat, sampai nyaris dapat ia sebut keluarga,
"Karasuma-san. Aku tidak tahu kalau anda berkunjung hari ini. Apa sejak pagi?" balas Asano—tidak, di kediaman ini, Gakushuu—sembari meletakkan barang bawaannya di bawah meja.
"Sejak kau berangkat menjemput Seo." Pria raven itu berucap jelas, walau kedua tangannya tengah sibuk menata hidangan di meja makan. "Oh ya, ayahmu sedang sibuk dengan pekerjaannya, sebisa mungkin jangan ganggu dia, ya."
"Aku tidak mengerti, apakah ayah begitu kesepian kalau ditinggal sendiri di rumah?" Gakushuu duduk menopang dagu, mencermati Karasuma dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cukup lama dan ia tak menemukan hal menarik. Aha, tanda serupa dengan miliknya tertangkap mata. Mestinya ia sadar dari awal kalau sudut bibir Karasuma sedikit membengkak.
"Ah, sekarang aku mengerti. Ternyata ayah hanya ingin puas membuat berisik rumah mumpung anaknya sedang pergi." Gakushuu menarik lengkung curiga, sekaligus menggoda yang lebih tua dengan tatapannya.
"Jadi, apa aku akan mendapat adik? Ah ya, hari ini giliranku mencuci lho, Karasuma-san."
"Gakushuu-kun, kau cukup mencuci tangan sebelum makan siang. Lagipula, aku ke sini untuk membantu pekerjaan rumah." sergah Karasuma cepat, membuat Asano muda tertawa lepas. Ah, lucu sekali melihat pria kaku itu salah tingkah. Kesan saat keduanya pertama bertemu memang canggung, namun berkatnya, kini Gakushuu dapat rasakan hangat sebuah keluarga. Terutama dari sang ayah, yang merubah perilaku terhadapnya, walau hanya sedikit saja.
Atau terlalu sedikit, mungkin.
"Tadi itu hanya gurauan, Karasuma-san." Gakushuu masih terkikik geli, ketika Karasuma menghela napas sambil menyodorkan seporsi kare di piring favoritnya. Pria itu mengedip beberapa kali, kini membalas perlakuan Gakushuu padanya dengan tudingan pada leher mulus anak itu.
"Gakushuu, kau juga sama saja."
"Apanya?"
Lagi, Karasuma menghela napas, sebelum kembali membalas. "Jadi... Orang bernama Seo itu melanggar janjinya?"
Gakushuu terperanjat, pertanyaan Karasuma menusuk tepat di ulu hatinya. Langsung mimiknya beralih mendung, kala memori buruknya kembali membelit otak seperti kaset rusak. Ah, ia benar-benar tak berharap akan diingatkan lagi mengenai hal itu. Balas dendam yang mengerikan, Karasuma.
Mendapati sosok yang sudah seperti putranya itu berkusut muka, Karasuma menepuk-nepuk bahu Gakushuu, berharap dapat menenangkannya. Entahlah mengapa, namun pada keadaan seperti ini ia dapat memahami mengapa Takaoka berlaku layaknya seorang ayah—walau sedikit perbedaan: Takaoka adalah tiran kejam berkuku besi, yang hobi menghukum anak-anaknya.
"Maaf kalau kalimat barusan membuatmu sedih." Layaknya seorang ibu, tangan kekarnya mengusap lembut strawberry-blonde milik Gakushuu. "Tapi aku yakin, Gakushuu-kun, kalau yang Seo lakukan itu atas dasar cintanya padamu. Cintanya yang meluap-luap. Aku sedikit mengerti mengenai hal semacam itu."
"Terima kasih, Karasuma-san. Hmm... Ayah sering mengasarimu, ya?" Respon berupa senyum nakal dilayangkan. Karasuma berdeham singkat.
"Sikap kasar wajar dilakukan saat pasanganmu melawan. Kadang mereka takkan mengerti jika tidak dipaksa. Mungkin ada beberapa hal yang Seo ingin kau mengerti maksudnya."
Seakan lupa lara yang diderita, Gakushuu kembali terkekeh. "Karasuma-san sadar sendiri ya, kalau anda sering melawan?"
"Itu dalam situasi bela diri. Saat pertahanan dan menahan seseorang. Kau lupa dengan pangkatku, Gakushuu-kun?"
Yang berhelai jingga mendesah pelan, kala mendengar untai kata yang tak sesuai harapnya. "Karasuma-san lihai sekali dalam menghindar, ya. Pantas ayah cepat lelah kalau memadu cinta dengan anda. Walau memang, ayah bukan orang yang cepat merasa puas."
"Gakushuu, jaga mulutmu."
"Ayolah, aku bukan anak kecil lagi, Karasuma-san. Aku sudah masuk umur legal untuk membuka topik itu. Walau situasi sekarang seperti tengah membahas hubungan intim ayah dan ibuku, ya." ujar Gakushuu setengah merajuk, setengah tertawa. Perlahan ia seruput kuah kare dengan sendok, menikmati harum bumbu racikan kekasih ayahnya itu.
Karasuma sukses menjadi koki yang andal sejak berhubungan kasih dengan Gakuhou—demi kesehatan Gakushuu juga (walau dalam beberapa aspek, tidak menyehatkan Gakushuu juga). Tak kuasa Gakushuu bayangkan kalau sampai dewasa ini skill memasak pria itu sedatar ekspresinya—hidupkah keluarganya hanya dengan onigiri atau ramen instan?
"Sekali lagi terima kasih, Karasuma-san. Anda memang mahir sekali menghiburku. Maaf ya, jadi bermain-main dengan anda. Mau apa lagi, anda terlalu menggiurkan untuk digoda."
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya—kuakui itu tepat sekali. Nah, sebaiknya kau habiskan kare itu, kemudian mandi dengan air hangat yang nyaman. Itu akan membuatmu lebih baik."
Gakushuu tak lagi punya ibu di sisinya, namun Karasuma dengan senang hati mengisi kekosongan itu. Dan Gakushuu tak hentinya mengapresiasinya, dengan bisikan murni dari lubuk hatinya.
.
.
.
.
TUUUUUT TUUUUUUT TUUUUUUT
.
"...Halo? Asano?"
"Ren... Maaf, aku tahu kau sedang tidak enak hati, tapi...
Aku tak sanggup lagi. Aku ingin bertemu denganmu sekarang juga. Bolehkah aku?"
"...Tentu saja, sayang. Aku akan selalu menantikan kedatanganmu. Datanglah kapan saja kau merasa ingin menemuiku. Mengerti?"
.
Termasuk pada waktu kau telah menjadi milik orang lain...
Temuilah diriku, Gakushuu sayang.
.
.
.
.
.
.
Ketika Lonceng Berbunyi [4]
A/N
Well hello lagi semuanya :') kiyoha kembali dengan chap yang ga kalah menye (?) tapi ga baper kan? nggak kan? :''))) (dalam masa keemasan bapertas yang tak mengandung romens namun malah nyasar ke ide baper romens #plok) dan belum sempet dibaca ulang gegara mepet ngejar kuota (?) ya begitulah hiks #ambiltisu #empatlembar
pokoknya aku cinta seo yang gentle, cihui #tabokin DAN AAAAH LAGI CINTA KARACHUMAMA NIH DONT STOP ME OOOOOUUUUHHHHH
doakan chap besok gakushuu ketemu Ren, ya ^^ (senjoem)
Thanks for reading!
kiyoha
