Naruto © Masashi Kishimoto

Summer © White Apple Clock

Rate: T

Genre: Romance, Drama

Chapter: 4, Latenight

Main Character: SaiIno

Warning: multi-chap, AU, OoC, typo, dll.

Inspired by: a korean drama "Lucky Romance" and taiwanese drama "Refresh Man"

DLDR!


Malam gelap seperti biasanya. Bintang-bintang tampak malu menunjukkan sinarnya, membiarkan rembulan menjalani tugas rutin sendirian. Begitu juga dengan Sai duduk di atas kursi empuk di meja kerja. Kembali menghadap pada tumpukan berkas yang tak luput ia baca, teliti, dan menorehkan tanda tangan. Saking banyaknya, merupakan hal yang lumrah jika ia mengacuhkan secangkir kopi lagi yang kini mulai tidak akrab dengan hawa panasnya. Air coklat gelap kopi beriak pelan, selaras dengan gerakan tangan Sai. Sampai akhirnya air tersebut kembali tenang seperti semula, tatkala lelaki itu bangkit dari duduknya dan menatap jendela apartemen. Mengarungi gemerlap malam kota bersama pikiran-pikirannya.

Orang-orang yang lalu-lalang di bawah sana mengingatkan ia pada sosok perempuan yang tak pernah absen singgah di kepalanya. Menyenggol hatinya, mengetuk pintu kekhawatirannya, dan beringsuk memasuki kepala hitam klimis miliknya dengan seenak saja. Sai berbalik, meraih cangkir kopi di meja dan menyeruput tanpa peduli akan suhu panas yang sudah menguap sia-sia. Matanya kini kosong menatap langit jelaga. Seolah-olah pendar-pendar cahaya gedung-gedung membentuk siluet perempuan itu.

"Apakah ia pulang dengan selamat?"

"Seharusnya aku mencegahnya untuk tidak lembur tadi."

"Dia tidak ketinggalan bus kan?"

"Semoga tidak ada kejadian berbahaya selama ia pulang ke apartemennya."

Sai menghela napas. Semua kalimat-kalimat yang tercetak di atas adalah wujud dari kekhawatirannya saat ini terhadap perempuan Yamanakan pujaan hatinya. Ia merasa terbelenggu oleh sikapnya sendiri. Dilema menghampirinya.

"Andai saja aku lebih perhatian dengannya, lebih mengerti dirinya, mungkin kami tidak akan secanggung ini. Mungkin juga dia tidak membenciku sekarang."

Lelaki itu kembali menyeruput kopinya lebih tenang, dengan sarat mata penuh penyesalan. Baginya, ia patut menerima apa yang telah ia lakukan.

"Aku pantas dibenci, terkhusus olehnya."

.

"Akhirnya aku bisa pulang sekarang."

Sepasang manik mata aquamarine menatap jam dinding dengan sumringah. Jarum jam menunjukkan angka sepuluh cukup membuat senyumnya mengembang, mengingat pekerjaannya sudah selesai dan ia bisa pulang tanpa dikejar-kejar wacana ketinggalan bus terakhir. Enam puluh hari lagi game virtual reality baru keluaran perusahaan tempat Ino bekerja akan menyapa masyarakat.

Semakin dekat dengan deadline berarti semakin dekat dia dengan perusahaanㅡtidur di kantor, maksudnya. Oleh sebab itu, Ino ingin semuanya cepat berakhir karena dalam waktu dekat ia akan merindukan kasur empuknya. Ia berharap setelah project ini selesai, perempuan itu bisa menikmati hidupnya.

Jari-jari lentik milik Yamanaka itu mulai membereskan bilik kerja yang ia tempati dan mematikan lampu meja yang merupakan satu-satunya penerangan di sana. Rekan-rekannya sudah pulang sedari tadi, begitu juga dengan direkturnya. Mereka lebih memilih membawa beban pekerjaan hingga ke rumah. Ino sangat tidak menyukai gagasan itu.

Sekarang, dari sisi manapun kantor gelap gulita. Mengharapkan pantulan cahaya bulan menyeruak sebagai penerang sementara, Ino melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan ruangan yang cukup besar itu. Ia sudah terbiasa sendiri, terlebih ia pemberaniㅡketurunan ayahnya. Bukan sesuatu yang perlu ditakutkan berjalan sendirian di tengah kegelapan. Kalau bisa, jika ada, makhluk-makhluk gaib itulah yang sepatutnya takut dengan Ino.

Akan tetapi entah mengapa, hari ini tidak seperti biasanya.

Mungkin karena hormonnya sedang naik atau memang benar-benar ada, Ino merasakan sesuatu yang mengganjal. Yamanaka Ino tetaplah Yamanaka Ino, ia berusaha menampik perasaannya saja, meskipun kadang rasa takut itu tetap ada sesedikitpun.

Aneh, ia tiba-tiba merasa sangat sensitif sekarang.

Sebentar lagi lift di depan mata. Tanpa melakukan gerakan yang mencolok, pelan-pelan Ino mempercepat irama berjalan. Membuat hak sepatunya sedikit keras bergemeletuk dengan lantai. Semakin cepat ia berjalan semakin besar rasa tidak enak itu hinggap di hatinya. Cepat-cepat ia menekan tombol lift.

TING!

"ASTAGA, SIALAN!"

Refleks Ino melayangkan tas sandang merah kesukaannya itu. Menghantam sosok pria yang berada di depan pintu lift yang tengah terbuka, berdiri tepat di samping tubuh perempuan terpejam dengan sangat erat, menyembunyikan sorot mata penuh ketakutan. Cukup lama ia berdiri di tempat dengan gerakan yang samaㅡmematung seolah kehilangan napas.

"Ino-san."

Tunggu.

Suara berat ini, Ino seperti mengenalnya.

Lambat laun Yamanaka pirang tersebut membuka matanya. Betapa terkejutnya ia pada seseorang yang telah ia hantam barusan. Matanya membola, kalau bisa jatuh dari sangkarnya saat itu juga. "Direktur Shimura!"

Jantungnya merasa akan jatuh mencium lantai, menyusul kedua bola matanya itu. Jelas saja, orang yang barusan ia pukul itu adalah direkturnya sendiri. Bayangkan, direkturnya sendiri! Oh, tamatlah riwayat Ino. Dalam waktu dekat ia akan menjadi pengangguran setelah dua tahun bekerja. Bagaimana ia bisa menghidupi kulitnya agar tetap mulus jika ia pengangguran?

Sai masih mengelus pipinya dengan sayang setelah bersentuhan dengan tas merah Ino yang permukaannya kasar. Dalam balutan jaket kulit hitam dan celana joger abu-abu, lelaki bermarga Shimura itu memandang pegawainya dingin.

"M-maafkan saya, Direktur Shimura!" Ino membungkuk sembilan puluh derajat, mengabaikan pintu lift yang akan kembali tertutup. "S-sa-saya tidak tahu kalau ada Anda di sini."

Tangan kekar Sai menahan pintu lift tidak menghiraukan aksi pegawai pirangnya. "Masuklah."

Ino bangkit dan menatap sejenak direkturnya yang telah masuk terlebih dahulu. Ino masih mematung di tempat dengan was-was. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah ia masih bisa melihat Tenten di kantor esok hari atau sekedar menikmati secangkir kopi dengan bumbu-bumbu gosip di jam makan siang.

"Kau tidak mau masuk, Ino-san?"

Dengan linglung Ino menyusul Sai. Kini gravitasi membawa mereka merendah ke lantai dasar bersama keheningan yang canggung. Hanya deru mesin lift yang berbicara, mengisi kekosongan di antara Shimura Sai dan Yamanaka Ino. Ino memandang sekeliling, berusaha menghindari kalau-kalau ia berkontak mata dengan direktur yang dulunya teman satu SMA-nya.

"Yamanaka Ino."

"Ya, Direktur?"

"Sudah perbaiki yang saya minta di restoran kemarin?"

"Sudah, Direktur."

"Besok kau susun jadwal pertemuan dengan ambassador kita itu. Mari diskusikan karakternya dan minta persetujuan darinya," perintah Sai datar.

"Kenapa saya, Direktur?" Ino akhirnya memandang direkturnya itu, bermaksud professional.

"T-tidak apa, pokoknya kau yang susun. Untuk besok."

"Baik, Direktur."

Suasana kembali hening. Akan tetapi, suasana itu kembali pecah karena Ino tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk kali ini. "Omong-omong, Direktur Shimura. Ada apa ke kantor malam-malam begini?"

Lelaki yang kulitnya seperti mayat tersebut menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Arah pandangnya menuju CCTV di pojok atas lift. "Ada berkas yang ketinggalan."

Ino kembali diam. Ia tidak tahu apalagi yang harus ia katakan untuk memperpanjang konversasi agar tidak lenyap begitu saja. Sebenarnya si Yamanaka itu tidak menyukai kecanggungan. Entahlah, dia juga tidak mengerti mengapa begini. Toh, seharusnya ia tidak peduli karena lelaki itu sangat ia benci.

"Pulanglah denganku hari ini–ekhm."

TING!

Coba hitung, berapa kali Ino terkejut malam ini?

Dua kali!

"Apa katanya? Pulang dengannya? Yang benar saja! Aku tidak mau!"

"Terima kasih, Direktur. Tapi maaf sebelumnya, saya bisa pulang dengan naik bus. Saya takut nanti merepotkan Anda, Direktur Shimura."

"Begitu," respon Sai pendek. "Jam segini masih ada bus?"

"Masih, Direktur," jawab Ino dengan mantap. "Kalau begitu saya pamit dulu, Direktur Shimura. Selamat malam."

Ino terlebih dahulu melangkah keluar dari lift dengan terburu-buru meninggalkan Sai yang masih berdiri diam tak bergerak sesentipun. Mulutnya terbungkam, tetapi niatnya ingin menghentikan langkah Ino. Apa daya, langkah Ino yang lebar cepat membawa tubuh ramping perempuan itu di ambang pintu keluar kantor.

Pupus sudah.

Si Shimura menghela napasnya sebelum keluar dari lift dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di dekat pintu keluar kantor. Setidaknya, usaha dia untuk menjaga Ino sudah terlaksana meskipun tidak sampai ke wacana mengantarnya pulang.

Dia lamban memang, dan dia mengakui itu. Lampu jalanan yang menerangi langit hitam Tokyo menjadi saksi Sai merutuki dirinya sendiri dalam kungkungan mobilnya.

.

.


.

.

Apapun ituㅡsenyaman-nyamannya kursi kantorㅡtidak ada yang bisa menandingi kasurnya Ino. Ia merebahkan dirinya dengan bebas ke atas tempat tidur kesayangannya dengan senyum damai terukir di wajah cantiknya. Piyama bunga mawar merah yang ia kenakan memantul-mantulkan cahaya lampu di atas sana. Setiap malam adalah hal yang paling indah tatkala tulang belakangnya dapat bersentuhan dengan tempat tidur yang empuk itu.

Terdengar seperti kakek-kakek, kan? Namun, memang begitu situasinya.

Sesuatu melintas di kepala pirang Ino, menyapa rasa penasaran dan mengundang kebingungan bertandang.

Siapa lagi kalau bukan direkturnya tersayangㅡehm, maksudku ter-nyebelinShimura Sai.

Bukankah ia merasa belakangan ini Sai agresif padanya? Atau ia melakukan serentetan kegiatan yang menurut Ino aneh hanya karena mereka satu sekolah dulu? Jangan-jangan dia menyesal?

Ino menggelengkan kepalanya kuat–dia hampir pusing karena itu. Pertanyaan terakhir adalah suatu kemustahilan, yang tak mungkin seorang Sai merasakannyaㅡmeskipun Ino juga tidak yakin dengan jawaban yang lainnya. Lihat saja kepribadiannya, sifat dinginnya itu menunjukkan bahwa kata menyesal tidak ada dalam kamus lelaki itu. Egonya pasti sangat tinggi.

Tubuh Ino kini berbalik, menghadap lemari baju yang berdiri menyender dinding kamarnya. Sejauh ini pandangannya menangkap kemeja yang sudah ia setrika untuk digunakan besok. Akan tetapi, pikirannya jauh dari itu.

Ia melayang bebas, terbang entah ke mana hingga akhirnya singgah ke masa lalunya.

Delapan tahun yang lalu, sebulan menjelang UAS.

"Sungguh, Sai. Aku tidak melakukannya."

Ruangan organisasi begitu hening. Sesekali burung berkicau melewati jendela bersama mega-mega cakrawala. Kala itu sedang sore dan semua anggota sudah pulang. Menyisakan Ino dan Sai dalam ketegangan yang mereka ciptakan.

"Jangan berbohong, Ino. Hanya kau yang ada di sana kemarin. Yang lain sedang sibuk mengurus persiapan pensi di auditorium," tukas Sai, raut wajahnya pelan-pelan mengeras.

"Bersaksilah besok di rapat besar keanggotaan. Aku harap situasi dan kondisi khalayak ramai anggota kita mampu membuatmu mengakui kesalahanmu." Sai melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan mengintimidasi. Gerak-geriknya menyudutkan Ino.

Ino memajukan dirinya satu langkah. Tubuhnya membentuk ancang-ancang dengan alami. "Memang hanya aku yang ada di sana tapi saat aku datang itu memang sudah tidak ada. Ayolah Sai, aku mengatakan yang sejujurnya."

"Aku tidak bersalah, Sai. Percayalah, kumohon." Ino berimbuh dengan nada meyakinkan.

"Kita lihat besok, apa aku tetap tidak mempercayaimu atau sebaliknya."

Sai meninggalkan Ino sendiri, bersama tatapan tajamnya yang menghilang di balik pintu.

"Cih, lelaki itu. Dia pasti berbuat baik kepadaku agar ia bisa mengungkitnya di waktu yang tepat. Mencoba mendesakku untuk mengakui yang seharusnya tidak kukatakan."

Lampu tidur dimatikan. Ino mulai menyamankan dirinya di balik balutan selimut.

"Brengsek. Kekanakan sekali."


TO BE CONTINUE


A/N: Hai, readers! Happy Ied Mubarak 1439 H.


Thanks to:

Amu B, xoxo, Azzura Yamanaka, gekanna87, Cloesalsabilahh, gwenyth, Rizumo Hitoyara

Mind to review?