Disclaimer : Masashi Kishimoto
Title : Masked Bitch
Main cast : Sakura/Sasuke/Hinata
Rate : T ++
Genre : Drama/Romance/Psychology
WARNING KERAS : SASUSAKU ONE SIDED
.
.
Chapter 3
"Sakura…, dia hamil…."
Kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang dalam otak Sasuke yang kini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah wanita yang telah membuat Hinata menangis.
Begitu tiba di kediaman Haruno, ia segera melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Ia menggedor-gedor pintu seperti orang kesetanan.
Sasuke bisa mendengar derap langkah cepat menuju pintu, dalam hitungan detik pintu itu terbuka lebar dan menampakkan figur seorang wanita berambut merah muda tengah berdiri dan menatapnya dengan senyuman yang terkembang.
"Sasuke-kun, kau kembali!" Sepasang mata berwarna zamrud milik Sakura berbinar penuh haru. Ia meraih tangan Sasuke, dan mencoba memeluk orang yang dicintainya, namun pria itu menepis tangannya secara kasar.
"Cukup, Sakura! Aku sudah muak dengan ini semua!" Sasuke memberikan tatapan tajam dan menusuk tepat ke arah manik emerald Sakura, "Aku ke sini bukan karena aku ingin kembali bersamamu, tapi aku butuh penjelasan darimu." Sekuat tenaga Sasuke menahan ledakan amarahnya.
"Penjelasan…, apa…?" Sakura memandang heran ke arah Sasuke.
"Kau mengatakan pada Hinata kalau kau sedang hamil, apa maksudmu berbohong seperti itu!?" Sasuke menggertakkan gigi, masih mencoba mengendalikan diri.
Sakura membelalakkan mata, terkejut mendengar ucapan Sasuke, terlebih saat mendengar nada suaranya yang sarat akan emosi.
"Aku tidak berbohong Sasuke." Ia menarik tangan Sasuke, membawanya tepat ke perutnya, "Aku memang sedang mengandung anakmu! Anak kita!" Bulir-bulir air mata menetes perlahan dari sudut mata Sakura.
"Jangan membual! Hentikan semua kepalsuan ini!" Sasuke mendesis kesal. Ia tak habis pikir kenapa Sakura sampai nekad berbohong mengenai kehamilannya itu.
"Sakura... dengar..." Sasuke menghela napas kasar, mengumpulkan segenap kesabaran yang hampir mencapai titik terendah, Sasuke kemudian melanjutkan, "Kau. Tidak mungkin. Hamil."
Air mata sakura semakin mengalir deras saat mendengar perkataan itu meluncur dari mulut suaminya sendiri. Salahkah dirinya telah mengandung benih dari cinta mereka? Kenapa Ayah dari anak yang dikandungnya seolah ingin lepas dari tanggung-jawab dan tidak mau mengakui anaknya sendiri.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?!" Dengan penuh rasa frustrasi Sakura mencengkeram kerah kemeja Sasuke, "Aku benar-benar mengandung anakmu!"
"Bukan. Itu bukan anakku," balas Sasuke datar.
"A-aw…!" Tiba-tiba Sakura merintih sambil memegang perutnya. Tentu Sasuke menjadi panik.
"Sakura, kau kenapa?" Tanyanya dengan hati-hati.
"Pe-perutku…, perutku sakit sekali, Sasuke…," jawab wanita itu sembari menarik lengan baju pria di hadapannya seolah ingin meminta pertolongan.
"Perutmu? Ada apa dengan perutmu, Sakura?" Melihat Sakura yang seperti itu membuat Sasuke semakin kebingungan. Ia menyanggah tubuh Sakura yang melemas itu dengan bahunya.
Wanita itu tak menjawab, dia hanya meringis seperti sedang menahan sakit dan sesekali berteriak kecil sambil meremas lengan baju Sasuke.
"Apa kau mau kubawa ke rumah sakit, Sakura?"
"Tidak usah…, tolong bawa aku ke kamar saja…."
"Baiklah…."
Sasuke dengan sigap menggendong wanita itu ala bridal style dan membawanya menuju ke kamar. Dengan hati-hati ia meletakkan Sakura di atas tempat tidur, seolah-olah tubuh wanita itu bisa saja hancur berkeping-keping kalau sampai ia ceroboh.
"Apa perlu kupanggilkan dokter?" Pria itu memandang wajah Sakura yang sangat pucat. Jujur saja, ia sama sekali tidak mengira hal seperti ini akan terjadi, dan dia tetap berharap Sakura baik-baik saja.
"Tidak perlu…,urgh…." Sakura masih menolak untuk dibantu pertolongan medis.
"Tapi kau terlihat sangat sakit Sakura…." Sasuke menatap resah. Entah apa yang dipikirkan Sakura sampai menolah perawatan dari dokter.
"Aku tidak apa-apa, asalkan kau di sini bersamaku, Sasuke…." Sakura mencengkram tangan Sasuke, "Tetaplah bersamaku, kumohon…," ucapnya dengan tatapan memohon.
Akhirnya hari itu Sasuke malah menemani Sakura semalaman, dan tanpa disadarinya ia tertidur tepat di samping tempat tidur.
.
.
.
Pagi itu sinar mentari masuk dari jendela kamar dan memantulkan cahayanya tepat ke wajah Sasuke yang masih tertidur. Laki-laki itu mengerjapkan matanya sebentar hingga akhirnya benar-benar terbangun.
'Apa aku sudah tidur semalaman di sini….'
Sasuke agak terkejut menyadari kalau hari sudah berganti. Ia segera bangkit dari tempat duduknya. Untuk sesaat ia masih menatap Sakura yang masih tertidur dengan pulas. Wajahnya masih terlihat pucat.
Sasuke bergegas pergi meninggalkan ruangan kamar. Tak lama setelah laki-laki itu keluar, Sakura yang sedari tadi tidur ternyata sudah terbangun. Ternyata wanita itu memang sudah bangun dan hanya berpura-pura tidur.
'Kau tidak akan pergi kemana-mana Sasuke…,' ucapnya dalam hati sambil meremas kain selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. 'Aku tidak akan membuat anakku kehilangan Ayahnya…!' Lanjutnya sambil menyentuh bagian perutnya.
Sementara itu Sasuke sedang berada di dapur, membuatkan bubur untuk Sakura. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat keadaan Sakura yang lemah seperti itu. Ia berniat untuk membuat sarapan dulu, baru setelah itu ia pergi.
"AKU PULANG!"
Terdengar suara seseorang berteriak dari arah luar, dan suara itu sudah tidak asing lagi di telinga Sasuke maupun Sakura.
'Sepertinya aku kenal suara itu….' Sasuke yang penasaran segera meninggalkan dapur, mengecek keadaan di depan.
"Sakura, apa kau ada di rumah?"
Seorang pemuda berambut merah terlihat sedang mencari-cari wanita yang bernama Sakura itu. Kegiatannya itu terhenti saat sepasang iris coklat madunya bertemu pandang dengan sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Sasuke…."
"Sasori…."
Keduanya terlihat sama-sama terkejut.
"Sasori-nii!" tiba-tiba saja Sakura keluar kamar dan langsung berlari memeluk pemuda itu.
"Sakura-chan! Hei, apa kabar? Apa kau baik-baik saja?" Balas Sasori yang perhatiannya kini hanya terpusat pada sang adik, seolah telah melupakan kehadiran Sasuke di sana.
"Aku baik!" jawab Sakura dengan senyuman yang mengembang.
"Aku senang sekali mendengarnya." Sasori tersenyum. Dengan lembut tangannya mengacak pelan kepala kapas sang adik.
"Ne, Sasori-nii. Kenapa kau tidak mengabariku dulu kalau mau pulang ke Konoha?" Sakura mulai berceloteh, bertanya ini dan itu pada Sasori sambil bergelayut manja.
"Aku tidak ingin mengganggu bulan madumu. Selain itu aku memang sengaja ingin memberi kejutan," jawab Sasori sedikit terkekeh melihat sikap manja Sakura yang masih belum berubah sekalipun ia sudah menikah.
"Tapi aku juga punya kejutan untukmu!" Sakura terlihat sumringah, dan wajahnya menjadi semakin terlihat cerah.
"Oh, ya? Kejutan apa memangnya?" Alis pemuda itu mengernyit. Penasaran dengan kejutan yang dirahasiakan Sakura.
Sakura melepaskan pelukannya dari Sasori. Kemudian, ia berlari kecil menghampiri Sasuke yang masih berdiri di sana. Wanita itu merangkul lengan laki-laki itu dengan mesra. Tak lama tangannya yang satu memegang ke arah perutnya sendiri. Sasori memiringkan sedikit kepalanya. Masih bingung dengan maksud dari sang adik.
"Sebentar lagi, aku dan Sasuke akan memiliki anak," ucapnya dengan senyum kebahagiaan.
Sasori terdiam. Perlu beberapa detik baginya untuk mencerna kalimat yang baru saja diucapkan Sakura. "Maksudmu, ka-kau…,hamil…?" Tanyanya dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Benar sekali!" Sakura mengangguk antusias.
Saat itu Sasuke dengan cepat melepaskan diri dari rangkulan Sakura sambil berkata, "aku harus menyelesaikan masakanku dulu. Silahkan kalian berdua ngobrol-ngobrol."
Sakura menghela napas berat saat melihat suaminya bersikap dingin seperti itu kepadanya. Padahal tadinya, ia berharap Sasuke ikut bahagia atau sekedar menimpali atas kehamilannya. Tapi ternyata responnya datar-datar saja. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau sang suami bersyukur atas karunia yang telah hadir di dalam perut Sakura.
"Sakura, kau jangan sedih, ya." Sasori menepuk pelan pucuk kepala adiknya, dan mengusapnya secara perlahan.
"Apakah Sasuke akan meninggalkanku…?" Sakura merunduk sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mencoba menahan tangisnya agar tak keluar. Ia tak ingin membuat kakaknya cemas dengan kondsi rumah-tangganya yang nyaris hancur.
"Itu tidak akan terjadi Sakura. Sudah, sekarang kau mandi dan besiap-siap, karena hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Benarkah? Apa…, Sasuke boleh ikut?"
"Tentu saja. Makanya, sekarang kau bersiap-siap. Biar aku yang bicara pada Sasuke."
Sakura dengan langkah gembira segera berlari memasuki kamarnya. Sasori menghela napas lega. Setidaknya ia sudah berusaha ntuk membuat adiknya merasa jauh lebih baik. Setelah merasa yakin Sakura sudah sibuk di dalam kamar sana, Sasori kemudian berjalan menuju dapur.
.
.
.
Di dapur ia melihat Saske yang sedang menata meja makan, dan meletakkan dua mangkuk bubur di atasnya.
"Sasuke, aku ingin bicara denganmu. Ini mengenai kehamilan Sakura."
Laki-laki yang dipanggil itu segera meghentikan aktifitasnya. Kini pandangannya beralih pada sosok pemuda yang tengah menatapnya tajam.
"Tak ada yang perlu dbicarakan. Sudah jelas, itu bukan anakku," jawab Sasuke datar.
"Tapi dia terlihat begitu yakin kalau itu adalah anak kalian berdua!" Sasori mengepalkan tanganya kuat-kuat. Menahan diri agar tak lepas kontrol. "Kalian tinggal satu atap dengan status pernikahan, bagaimana mungkin kau bisa bilang itu bukan anakmu!?" Ucap Sasori dengan geram.
"Seharusnya kau sudah bisa menebaknya tanpa perlu bertanya padaku!" Balas Sasuke dengan perasaan kesal atas tuduhan Sasori.
Sasori terdiam, tak mampu membalas kata-kata Sasuke barusan. Tapi kalau anak yang dikandung bukan anak Sasuke, lantas itu anak siapa? Satu hal yang dia tahu, Sakura tidak mungkin tidur dengan laki-laki lain selain dengan Sasuke. Berarti hanya ada satu kemungkinan. Salah satu diantara mereka berdua ada yang sedang berbohong.
Di dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Sakura masuk menuju meja makan. Matanya berbinar ketika melihat mangkuk berisi bubur dengan hiasan daun Sakura di atasnya sudah tertata apik di atas meja.
"Kau membuatkan bubur untukku, Sasuke?" Wanita itu mengangkat mangkuk bubur tersebut dan menciumi aromanya. "Wah, baunya saja sudah membuatku sangat lapar!" Sakura meletakkan kembali mangkuk tersebut di atas meja, kemudian duduk di bangku. "Selamat makan!" Ucapnya dengan rasa bahagia.
Untuk sesaat kedua laki-laki yang ada di ruangan itu hanya memerhatkan Sakura yang makan dengan lahap. Sasori yang memandang Sakura sambil tersenyum, dan Sasuke yang setengah melamun karena teringat akan sosok Hinata.
"Eh, kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Sakura setelah sadar dirinya menjadi perhatian kedua laki-laki di sekitarnya.
"Tidak apa-apa, Sakura. Makanlah," balas Sasori menyuruh Sakura melanjutkan sarapannya.
"Sasuke, kau tidak mau makan? Masih ada satu mangkuk lagi, tuh." Sakura melirik pada satu mangkuk lainnya yang belum tersentuh.
"Aku tidak suka bubur. Kedua bubur itu untukmu."
Sakura tertegun setelah mendengar pernyataan Sasuke barusan. Kedua bola mata emerald gadis itu berkaca-kaca. Sakura sudah tak bisa menahan haru di dadanya. Meski akhir-akhir ini ia dan Sasuke sering bertengkar, tapi nyatanya pria itu masih memedulikannya. Buktinya, meski ia tak suka bubur, tapi Sasuke tetap membuatkan makanan tersebut untuk dirinya.
"Kau kenapa, Sakura?" Tanya Sasori khawatir saat menangkap satu tetesan air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"A-ah, aku tidak apa-apa. Hanya kelilipan debu," ucapnya sambil terkekeh.
"Sasuke, kau jangan pergi dulu. Aku ingin mengajak kalian berdua jalan-jalan sekalian nostalgia."
"Hn, aku mau mandi dulu," balas Sasuke mengangguk.
.
.
Apartemen Hyuuga
Hal yang terjadi di dalam keluarga Haruno berbeda sekali dengan yang dialami Hinata. Gadis itu meringkuk sendirian di dalam kamarnya. Ia merasa hampa tanpa keberadaan Sasuke di sisinya. Enam bulan ia bertahan dalam keadaan seperti ini. Apakah sekarang dia harus mengalami hari-harinya dalam penderitaan lagi setelah Sakura hamil.
'Aku tidak bisa seperti ini terus…,' ucapnya seraya menghela napas.
Hinata beranjak dari atas ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Gadis itu memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar sekalian menjernihkan hati serta pikirannya.
Konoha Land, Pukul 10:00
Atas permintaan dari Sasori, Sasuke ikut pergi bersama dengan Haruno bersaudara itu meskipun sebenarnya dalam hati ia malas dan mengkhawatirkan Hinata. Tapi ia tak bisa menolak dan tidak ada waktu untuk berdebat dengan Haruno tertua yang dulu merupakan salah satu sahabat terbaiknya.
Ketiganya berjalan beriringan dengan Sakura yang berada di tengah. Senyuman bahagia terkembang pada wajahnya. Bagaimana tidak? Ia bisa berjalan bersama dengan suami juga kakak laki-lakinya. Hal ini benar-benar seperti mimpi.
"Eh, kita ke toko buku dulu, yuk! Aku ingin membeli buku panduan untuk wanita hamil," ujarnya sambil menunjuk ke salah satu toko dan menuntun kedua laki-laki itu untuk ikut bersamanya.
.
.
Di dalam sana Sakura segera meminta bantuan pada salah seorang pelayan toko untuk mengantarkannya ke bagian buku khusus untuk ibu hamil. Pelayan itu dengan senyum ramah mengantarkan ketiga orang tersebut ke tempat yang diinginkan.
"Silahkan dipilih-pilih bukunya Nyonya. Selamat menikmati hari anda," ucap pelayan itu dan segera meninggalkan ketiganya di sana.
"Banyak sekali, aku jadi bingung mau memilih yang mana…." Sakura menengok ke kiri, juga ke kanan. Sepasang mata hijaunya memerhatikan tiap-tiap judul buku yang ia lihat.
Saat itu mereka belum menyadari kalau di rak buku sebelahnya ada Hinata yang juga sedang mencari buku khusus memasak. Tapi tak butuh waktu lama bagi ketiganya untuk dipertemukan dengan wanita indigo tersebut, karena Hinata sendirilah yang tiba-tiba pindah ke bagian sebelah.
"Hinata!" Sakura berseru riang saat melihat wanita itu berjalan melewatinya.
"Sa-Sakura…!" Tentu saja Hinata sangat kaget. Ia terperanjat, lebih-lebih ia juga bertemu dengan Sasuke dan Sasori.
Kedua laki-laki itu sama terkejutnya seperti Hinata, akan tetapi mereka berusaha untuk bersikap senormal mungkin di depan Sakura agar wanita yang tengah berbahagia karena kehamilannya itu tidak curiga.
"Kenapa diam saja di situ? Ayo cepat kemari!" Sakura berlari kecil menghampiri Hinata yang masih mematung dan menariknya.
"Selamat siang, Sasuke-san, Sasori-san," ucap Hinata di depan Sasori dan Sasuke.
"Hinata, tidak usah seformal itu! Anggap saja kita keluarga!" Sambar Sakura. "Oh, ya ini kebetulan sekali. Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau tidak mungkin sedang mencari buku untuk wanita hamil 'kan?" Tanya Sakura setengah bercanda sambil menyenggol lengan wanita tersebut.
"Tentu saja tidak. Aku kemari sedang mencari buku resep masakan saja," jawab Hinata merasa agak canggung dengan candaan dari Sakura.
"Oh, ya! Apa kau bisa membantuku untuk memilih buku? Aku bingung harus membeli yang mana. Bantu aku sebentar, ya!"
Pada akhirnya Hinata agak terpaksa membantu Sakura memilih buku, walau jujur rasanya ia sakit sekali setiap wanita itu bercerita mengenai anak yang sedang dikandungnya. Hatinya perih bagai teriris.
Kedua wanita itu menghabiskan kurang lebih dari satu jam untuk memilih buku. Setelah mendapatkan buku panduan yang cocok, keduanya bergegas membayar di kasir dan berjalan keluar menghampiri Sasori dan Sasuke yang sedang menunggu dengan bosan.
"Habis ini kita mau kemana lagi?" Sakura bertanya pada kedua laki-laki itu dengan senyum bahagia. "Hinata, habis ini kau mau kemana?" Kemudian ia menoleh ke samping, menatap Hinata.
"Mungkin aku pulang saja," jawab Hinata dengan senyuman yang dipaksakan.
"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kebetulan aku agak lapar lagi." Sakura mengelus-ngelus perutnya, seolah ingin mengatakan kalau ia sedang mengidam. "Hinata juga ikut, ya. Kita 'kan sudah lama tidak bersama-sama seperti ini semenjak lulus kuliah."
Sekali lagi Hinata akhirnya terpaksa mengikuti kemauan Sakura dan terjebak di dalamnya. Wanita itu mengangguk kecil.
.
.
.
Keempatnya kini sudah berada di dalam restoran sushi, tempat di mana dulu mereka suka berkumpul pada masa-masa kuliah dulu.
"Aku benar-benar senang. Rasanya seperti kembali ke masa-masa kuliah!" Seru Sakura dengan antusias. "Seandainya saja ada Ino dan Sai, pasti jauh lebih seru!"
"Ma-maaf, aku ingin ke toilet dulu." Hinata berdiri dari tempat duduknya dan bergegas pergi.
"Aku juga." Sasori juga berpamitan dan segera menyusul ke arah perginya Hinata menuju toilet.
Sasuke yang melihat sikap aneh Sasori merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia khawatir kalau Sasori akan berbuat sesuatu yang tidak baik pada Hinata. Sebenarnya ia ingin menyusul tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan Sakura sendirian dan membuat wanita itu malah curiga.
.
.
"Hinata tunggu!" Sasori mempercepat langkahnya dan segera menarik tangan wanita tersebut dari belakang.
"A-aw! Apa-apaan ini? Lepaskan aku!" Hinata dengan kasar melepaskan tangannya dari genggaman Sasori dan menatapnya tajam.
"Aku ingin bicara serius mengenai Sasuke," ucap Sasori blak-blakan.
"Kau mau bicara apa?" Tanya Hinata dengan nada ketus.
"Tinggalkan Sasuke."
TBC
