M. Kishimoto own Naruto & all the characters
Au & typos
.
.
.
.
Dan ketika kematian merupakan titik awal bagiku untuk bangun, di sinilah aku merasa begitu kosong. meratapi mayat seseorang yang telah mengikat janji padaku,tak jadi sebuah pukulan. Tak ada yang pernah bilang bahwa hidup bersama dengan seseorang di bawah sebuah atap mengindikasikan adanya cinta. Keangkuhan dia tak pernah memberiku efek yang berarti. Semua tugas sebagai mana mestinya telah kukerjakan dengan amat baik dan rapi; dia tak pernah mengeluh. Dan aku tak pernah meminta lebih.
Dan ketika takdir berbicara, sesuatu yang ku nantikan.
Krisis telah selesai, Rhode Island bukan hal sulit jika ada uang. Aku akan pergi menemui Sasuke.
.
.
.
Awan mendung, taxi yang ku naiki terasa begitu dingin.
Apartemen ini sederhana; jauh dari perkiraanku. Catnya terkelupas pada pilar-pilar, bangunan lama. Meja resepsionis itu terlihat lusuh, pas dengan wanita natives di belakang mejanya. Memandangiku angkuh dan membiarkan matanya berbicara; apa lihat-lihat?
"Selamat pagi. Aku ingin bertemu dengan Sasuke Uchiha."
Wajahnya lagi-lagi menunjukkan sikap barbar, salamku tiak dibalas. Dia membuka buku besar di hadapannya, mencari-cari.
Matanya meneliti penampilanku. Tidak nyaman. "Dengan siapa?"
"Haruno Sakura."
"Keluarga Uchiha telah lama pindah, Mrs. Mikoto meninggalkan surat untuk Ms. Haruno empat tahun yang lalu."
Ini jelas diluar ekspektasiku. "A-apa?"
Wanita itu menatapku malas, cocok dengan jas merahnya yang membosankan. Ia berbalik kearah belakang dan membuka kunci salah satu dari sel-sel kayu itu.
Kotak terbuka, sebuah amplop coklat berdebu seolah bisa bernapas menghirup oksigen. Ia menyerahkannya padaku.
Amplop itu begitu usang, seolah berabad tak tersentuh. Ku buka pelan-pelan.
Ada bunga cosmos kering yang tak lagi jelas warnanya, mirip sepertiku diusia senja ini.
.
.
.
Kepada Sakura
.
Aku percaya kau akan datang kesini cepat atau lambat. Satu hal yang kuyakini; kau akan datang dimana aku tak lagi berpijak di atas tanah yang sama denganmu.
Maaf, kita berbeda.
Sejak awal hidupmu penuh warna pelangi. Dominasi jingga begitu terpancar dari wajahmu, kau memang gadis musim panas favoritku. Tapi tidak denganku, warnaku kelabu. Penuh riak keangkuhan.
Aku sakit.
Kami pergi untuk memperpanjang usiaku, dan kau teruslah kejar mimpimu.
Pada akhirnya, Tuhan tak mengizinkanku menghirup oksigen lebih lama. Mungkin kau tertawa membaca suratku, mungkin menangis. Tidak pernah menyangka aku menulis surat?
Semua suratmu ku simpan rapi dan kubaca berulang. Aku tidak ingin menghancurkan mimpimu dengan keadaanku.
Selamat atas pernikahanmu keduamu.
Aku tak pernah mengatakannya, tapi kau tahu kan kalau aku mencintaimu? Rasanya masih sama seperti pernikahan kita waktu aku masih setinggi pinggang ibuku, di antara tulip-tulip kuning Gardenia saat itu.
Dan jika pada akhirnya surat ini tak sampai di tanganmu, aku percaya pada semesta yang akan menyampaikan cintaku. Kau mengerti maksudku kan?
Aku mendoakan untuk kebahagiaanmu. Dan ingatlah kalau kau pernah dicintai.
.
.
.
Uchiha-mu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya, kita tidak lagi bertemu.
Semesta tidak bekerja sama mempersatukan kita.
Tapi aku terus hidup dalam bayang-bayangmu.
Jadi katakanlah pada penghuni surga;
Semesta telah menyampaikan padaku bahwa
Aku pernah dicintai
Olehmu
.
.
.
.
.
.
.
.
終わり
owari
