"Kau mengenalku?" Tanya Naruto.

Hinata tersenyum geli, "Tentu saja, kau anggota K-Five yang memberiku syal merah."

Naruto tersenyum kecil mendengar jawaban Hinata.

"Maksudku sebelum itu, apa kita pernah bertemu?"

Hinata terlihat berpikir lalu menggelengkan kepala, "Tidak. Itu pertama kali kita bertemu."

Sedetik kemudian Naruto berdiri lalu menarik Hinata ke dalam pelukannya. Sontak Hinata kaget mendapat perlakuan seperti itu. Dan ia sempat memekik pelan, dan badannya kaku karena terkejut juga takut.

"Na-Naruto-san ?" Ucap Hinata akhirnya setelah mencoba menahan rasa malu.

Naruto pun melepas pelukannya tapi kedua tangannya yang masih di biarkan memegang kedua tangan Hinata.

Sambil menatap Hinata lembut, Naruto tersenyum.

.

"Hinata, aku menyukaimu.-"

"dan . . maafkan aku."

-A Piece of Cake-

Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Story : Asli dari otak saya sendiri yang datang secara tiba-tiba.

Pairing : Naruto x Hinata

Genre : Romance

Rated : T

Warning !

Amatiran, Newbie, Typo sana sini, Abal, Bertele-tele ? Alur kecepetan ? POV yang berubah sendiri ? Ide pasaran? (maybe)

Enjoy~

While listening to : Baek Ah Yeon – A Lot Like Love 🎵

"Hinata, aku menyukaimu."

Hinata menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat mencoba menepis ingatan lusa lalu saat Naruto mengungkapkan perasaannnya kepada Hinata. Itu sudah dua hari lalu, tapi Hinata terus saja merasa bahwa itu baru terjadi beberapa jam yang lalu padanya. Tangannya terangkat memegang dada. Detak jantungnya masih berdetak tidak normal setiap kali ia mengingat kejadian itu. Bagaimana pun Naruto Uzumaki adalah seorang idol boyband. Dia artis terkenal, dan artis itu baru saja mengatakan bahwa dia menyukai Hinata. Hinata bahkan tidak tahu bagaimana Naruto bisa menyukainya.

"Ah . . sepertinya aku terlihat seperti orang aneh ya? Kau pasti merasa heran dan bingung. Tidak apa, aku hanya mengatakan apa yang kurasakan. Aku tahu itu aneh namun itulah kenyataannya dan itu benar." Naruto lalu melepaskan pegangan tangannya pada tangan Hinata lalu berdiri menuju ke arah pintu kamar Hinata.

Sebelum menutup pintu kamar, Naruto berhenti lalu mengucap tanpa berbalik ke arah Hinata sambil memegang kenop pintu.

"Aku harap saat semua ingatanmu kembali, kau masih mau setidaknya berteman denganku. Terimakasih dan Maaf."

KLAP, pintu kamar Hinata tertutup. Hinata membutuhkan waktu lima detik untuk menyadari apa yang baru saja terjadi lalu mulai bergerak turun dari kasurnya dan berjalan ke arah pintu.

Dibukanya pintu itu dan tidak memperlihatkan siapa-siapa. Naruto sudah pergi. Kunci rumah Hinata terlihat diletakkan di atas meja kecil didekat televisi. Dan ruangan itupun sunyi, sementara Hinata yang masih sibuk mencerna semua ucapan Naruto tadi.

.

.

.

"Hinata, kenapa melamun?"

Gadis yang dipanggil pun tersentak lalu menengok ke arah Tenten dan mulai mengulas senyum kecil.

"Ah, tidak." Jawab Hinata pendek.

Tenten mendengus pelan, lalu tangannya terangkat menjinjing satu kotak box berukuran sedang berwarna ungu muda dan diatasnya tertulis dengan cantik Lavor Cake.

"Kalau kau sedang senggang bisa tolong antarkan ini?"

Hinata menatap box yang dibawa Tenten lalu menerimanya, "Ditujukan untuk?"

"Ah! Tunggu sebentar." Tenten terlihat merogoh kantong celemeknya lalu mengeluarkan selembar kertas note kecil dan sebuah pulpen.

"Kaukan hari ini pulang cepat, tolong ya Hinata." Ucap Tenten sambil mengulurkan kertas note yang sudah terdapat alamat pelanggan yang dituju kepada Hinata.

Hinatapun menerima kertas itu dan langsung memasukkannya ke dalam kantong saku celana. "Oke, aku mengerti." Jawab Hinata sambil tersenyum.

'Baiklah Hinata, selesaikan dulu pekerjaan baru urusan pribadi.' Batin Hinata dengan mantap.

.

.

.

.

"Hinata, aku menyukaimu."

Naruto mendesah keras, lalu kembali melamun menatap tumpukan kertas dihadapannya tanpa tahu apa isi dari kertas itu yang memang sudah menjadi objek lamunannya sejak 15 menit yang lalu.

Sebenarnya Naruto benar-benar lega, sangat lega malahan. Setelah menahan diri selama satu tahun akhirnya Naruto benar-benar bisa mengucapkan kata-kata terkutuk itu kepada Hinata. Mau benci juga tidak bisa, mau kesal juga tidak bagaimanapun memang benar itulah perasaan Naruto kepada Hinata sejak dulu. Sejak pertama kali mereka bertemu, meski yah . . keadaannya sangat buruk saat itu.

"Ah . . sepertinya aku terlihat seperti orang aneh ya? Kau pasti merasa heran dan bingung. Tidak apa, aku hanya mengatakan apa yang kurasakan. Aku tahu itu aneh namun itulah kenyataannya dan itu benar."

Diacak dengan kasar rambut pirangnya itu, lalu mengerang frustasi. Wajahnya sedikit memerah mengingat kejadian itu. Benar-benar tidak bisa dipercaya, setelah mengatakan perasaan langsung kabur begitu saja.

"Aku harap saat semua ingatanmu kembali, kau masih mau setidaknya berteman denganku. Terimakasih dan Maaf."

Benar, meski Naruto malu, benar-benar malu berat saat itu. Namun satu hal yang pasti, hal yang menjadi pertanyaan Naruto sejak ia keluar dari rumah Hinata saat itu.

"Apa yang sedang dipikirkannya ?" Tanpa sadar pertanyaan yang memang sudah dipikirkannya sejak saat itu keluar dari mulutnya. Terucap begitu saja dengan pelan namun dengan nada melamun.

.

.

.

Dan disinilah Hinata, di salah satu restoran keluarga yang letaknya dekat dengan kampus. Dengan Sakura yang duduk di depannya dengan tatapan terkejut sekaligus entahlah sulit diartikan atau lebih tepatnya Hinata tidak memikirkan bagaimana ekspresi Sakura, karena yang dibutuhkannya adalah pendapat temannya itu dan saran apa yang akan diberikan kepadanya.

"Ini . . benar-benar tidak masuk akal." Ucap Sakura akhirnya.

Hinata tidak menjawab, dia hanya diam masih dengan menatap Sakura berharap bahwa temannya itu akan mengatakan sesuatu hal lagi.

"Maksudku Naruto Uzumaki itu seorang artis, anggota boyband terkenal. Kalian baru bertemu satu kali lalu setelah itu dia mengatakan suka padamu." Sakura terlihat tersenyum geli singkat lalu kembali menatap Hinata, "Ada yang aneh." Lanjutnya.

Hinata mendesah bingung, "Memang aneh, tapi kenapa aku merasa kalau itu tidak aneh . . maksudku entahlah seperti merasa wajar kalau Naruto menyukaiku?" Nada bicara semakin memelan, terutama di kata terakhirnya itu.

Sakura berkedip tiga kali, lalu senyumnya mengembang lebar. "Maksudmu karena kau cantik wajar saja seorang artispun bisa menyukaimu pada pandangan pertama?"

"Ah! Bu-bukan begitu." Hinata tersipu malu karena merasa sudah salah mengungkapkan maksudnya, "Ha-hanya saja aku merasa jika Naruto itu sudah wajar jika berada bersamaku. Walaupun dia seorang artis. Begitulah." Hinata mengernyit bingung dengan perkataanya sendiri. Apa-apaan ini?

"Dan aku tidak cantik." Gumam Hinata pelan.

Sementara Sakura memiringkan kepalanya bingung, "Sudah wajar bersamamu . . tunggu apa baru saja kau mengatakan bahwa kau sudah mengenal Naruto sejak lama?"

"Ku-kurasa begitu, eh entahlah." Hinata terlihat ragu-ragu.

Sakura menghela napas pelan, "Baiklah, aku mengerti. Tenangkan dirimu Hinata."

"Sebaiknya kau pulang, dan beristirahatlah hari ini." Lanjut Sakura tersenyum menenangkan.

Hinata menggeleng. "Tidak bisa, aku harus mengantar pesanan dulu."

"Pesanan? Oh . . bos mu itu benar-benar aneh Hinata. Sebaiknya kau keluar saja."

Hinata tersenyum, lalu terlihat memasukan ponsel ke dalam tas dan mengeluarkan dompet. "Tidak, tidak. Ini bukan permintaan bos, rekan kerja ku meminta tolong padaku."

Sakura hanya mengangguk-ngangguk paham, "Eh, tidak perlu Hinata. Aku traktir."

Hinata menatap Sakura, lalu tersenyum geli. "Benarkah? Kenapa? Ada kabar baik?"

"Yah . . entahlah. Mood ku sedang baik saja, mungkin? Atau kau ingin aku berubah pikiran?" Ucap Sakura sambil tertawa kecil.

"Oh ayolah Sakura. Oke thanks, maaf aku pergi dulu ya." Hinata melambaikan tangannya lalu mulai berjalan pergi keluar dari restoran.

"Bye . . " Sakura yang membalas lambaian tangan Hinata. Setelah Hinata benar-benar tidak terlihat lagi, Sakura tersenyum lalu mengambil ponsel dari tas yang sedari tadi tersampir di samping kursinya.

Kurasa aku mulai bodoh, bahkan hal kecil seperti tatapan matamu saja dapat membuat hatiku berdebar-debar.

Status itu baru dua jam yang lalu terupdate dari akun twitter Uchiha Sasuke, aktris favoritnya. Dan entah kenapa status yang tidak berarti apa-apa padanya itu terus menganggu pemikirannya dan Sakura tak bisa menahan diri untuk tersenyum membaca ataupun mengingatnya.

"Benar, kurasa aku juga mulai bodoh." Guman Sakura pelan.

Dan entah Sakura berani berharap atau tidak, ia tidak yakin.

.

.

.

.

Hinata melangkahkan kakinya dengan pelan, atau bisa dibilang dengan malas. Sambil memandang sekeliling, langit sore mendominasi semuanya. Masih terlihat beberapa orang yang terlihat sibuk masing-masing. Lalu tangan kanannya terangkat yang memperlihatkan box kotak yang bertuliskan Lavor Cake. Ya, itu memang berasal dari toko kue tempat dirinya bekerja. Sebenarnya Hinata sudah menemui pelanggan yang memesan kue itu. Namun entah kenapa Ibu itu dengan santainya memberikan kue pesanannya itu kepada Hinata. Awalnya Hinata mengira pelanggannya itu marah karena keterlambatan Hinata dalam mengantar pesanannya. Namun Ibu itu bersikukuh memberikan kue itu kepadanya dan tetap membayar kue itu.

Karena malas berdebat, dan Hinata memang sudah tidak tahu mau berdebat apa lagi akhirnya iapun menerima kue dan uang pembayaran kue tersebut.

'Mungkin aku sedang beruntung, sudah dapat traktiran Sakura dapat kue gratis pula.' Pikir Hinata.

Hinata memang sudah cukup lama bekerja di Lavor Cake, namun percaya atau tidak ia baru satu kali merasakan kue di tokonya itu. Dan Hinata akui kue buatan toko tempatnya bekerja itu memang benar-benar enak. Tak diragukan lagi, sering mendapat pesanan mendadak yang berbondong-bondong.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, lalu menatap box kotak yang dibawanya dengan pandangan melamun.

"Victoria Sponge." Ucap Hinata pelan.

Lalu ia mengernyit heran, tiba-tiba saja ia merasa dadanya sesak.

Dan entah bagaimana saat itu juga pikirannya melayang pada seseorang.

Seseorang yang sudah mengejutkannya dengan kejadian-kejadian beberapa waktu yang lalu.

Kejadian yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.

Kejadian dimana dirinya telah mendapatkan sebuah pengakuan rasa suka dari seorang artis sekaligus anggota boyband K-Five.

Uzumaki Naruto.

.

"Victoria Sponge?"

"Ya, cobalah. Aku yakin tuan akan merasa lebih baik."

"Benarkah?"

"Ah, dan ini adalah cake kesukaanku."

.

Ting!

Hinata tersentak kaget, reflek ia memegang kepalanya yang sedikit berdenyut pusing itu. Lalu menyadari bahwa ponselnya bergetar, dan segera mengambilnya dari saku jaket.

From : Naruto Uzumaki

Apa kau ada waktu luang? Ayo bertemu.

Hinata menghela napas kesal,

'Apa lagi ini?' Pikirnya heran. Hinata mengerang pelan, kesal karena kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing ditambah dengan pesan masuk dari Naruto yang memintanya untuk bertemu. Setelah kejadian kemarin, ia harus bagaimana. Apa jangan-jangan Naruto menuntut jawaban? Yang benar saja.

Bagaimana pun Naruto itu artis terkenal, seorang anggota boyband. Hinata harus mengingatkan diri sendiri bahwa orang yang mengatakan suka padanya dan mengajaknya bertemu itu adalah seorang artis. Semua orang mengenalinya, dan Hinata bukanlah artis. Ia tidak mengharapkan kejadian seperti ini terjadi.

Oke, mungkin itu sedikit berlebihan. Hinata juga manusia biasa, tentu saja pernah terbesit rasa berkhayal ada seorang artis yang menyatakan suka kepadanya. Tapi hanya itu, ia tidak pernah memikirkan bagaimana kelanjutannya. Ditambah ia bukanlah fans berat dari Naruto. Hinata akui suaranya memang bagus, sangat bagus malah. Bagaimanapun Hinata memang menyukai lagu-lagu ballad. Dan Naruto memang ahlinya dalam lagu ballad. Itu salah satu hal yang diketahui Hinata tentang Naruto. Tidak lebih, apalagi kepribadiannya.

Dan sekarang ia harus menyadari bahwa Naruto itu menyukainya dan meminta bertemu dengannya?

"Oh Kami-sama, aku harus bagaimana?" Ucap Hinata bingung. Saking bingungnya, iapun tidak sadar bahwa masih berdiri ditengah jalan dan tidak menyadari tatapan para pejalan kaki lainnya.

To : Naruto Uzumaki

Baiklah, kapan dan dimana?

Dan tepat tiga puluh lima detik kemudian pesan balasan dari Naruto pun datang,

From : Naruto Uzumaki

Hari Sabtu ini, di Cafe Bonjour pukul delapan malam tepat.

Hinata mengernyit, entah kenapa perasaannya langsung aneh membaca pesan Naruto. Cafe Bonjour, ia tahu betul tempat itu. Tapi dia tidak tahu apapun mengenai cafe itu. Meskipun dulu ia pernah bekerja disana. Apalagi mengingat insiden yang membuatnya tidak ingat apapun yang terjadi saat ia bekerja disana.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N : Pendek? Pendek nggk sih? A... gomen, kalau iya pendek. Peace #:v

Bocoran : Episode depan full Flashback.

Special Thanks to :

Rikudou Pein 007 : Siap!

hayaaeeh : :v?

dindra510 : Ahaha, gomen and thank you. Ikuti terus ceritanya yaa

Bill Arr : Iya nih Naruto, pake ada bilang maaf segala. *Nunjuk-nujukNaruto

ana : iya kk ^^ baca terus ya

the ereaser : kalau sampah, jangan di baca atuh. Ntar sakit matanya.

Durarawr : Aih, makasih Durarawr-san #Blushing, dan semoga chapter ini penulisannya jadi 500% lebih bagus #plak :v. Ikutin terus ceritanya ya..

Alim : Oke senpai!, Ane paling deg"an d chap 3 pas Naru meluk Hina malah :'v apalagi ditambah dengerin musik A Lot Like Love (Mencoba mendalami cerita)

Amanda651, Avra Elliosa, Hagoromo604, Namikaze632, NataHiru, Rehan773, Sandal784, ShirouAmachi, afika chia, anirahani, cheeseburgerslayers, endahs442, jujumi chan, 17, thessaaths, burger keju, didiksaputra, endahmaulana428, oshrj94, thirty30, tonyfa77, tsukihime4869, UI21, Second09

Thank you for reading, and following this story.

Hope you like it. ^^

Review Plis?

Intan Dewi Cahaya