Toilet

.

Pair : KookMin

Main cast : Jeon Jungkook

Genre : humor, romance, drama.

Happy reading

Love and peace :3

.

.

.

JEON JUNGKOOK P.O.V

Buat ini salah.

Cerita ini salah.

Edit lagi!

Ubah lagi!

Ganti nama!

Ganti judul!

Halaman kelebihan.

Deadline sebentar lagi.

Telepon sana-sini.

"AKHHH!" teriakku kesal sambil menendang bebatuan di hadapanku. Kesal dengan editor sendiri yang mempunyai sifat perfeksionis. Menginginkan sebuah cerita yang sangat sempurna dan membuat aku harus berulang-ulang kali mengubah part kecil dalam cerita tersebut.

Frustasi!

Walaupun mempunyai editor seperti itu sangat membantu, tapi tetap saja manusia punya batas. Dan kurasa ini sudah batasku. Aku tau editor sialan itu bermaksud baik, pada akhirnya ceritaku menjadi seribu kali lipat lebih bagus karena saran-saran darinya. Hanya saja aku sudah lelah hari ini…

Aku memasuki lobby apartement dan menaiki salah satu lift yang ada. Sambil berpikir baik buruknya saran sang editor untuk novelku selanjutnya. Dan memikirkan betapa beratnya nanti malam jika aku harus bergadang lagi. Bahkan sekarang tanganku terasa sakit jika berada di atas keyboard.

Aku lelah…

Saat sudah mencapai lantai 6, pintu lift terbuka. Aku pun berjalan pelan di lorong yang lumayan sepi dan berhenti di salah satu pintu. Dengan kesal aku menekan beberapa tombol angka yang membuat adanya lampu hijau di ganggang pintu.

Waktu aku membuka pintu, aku mulai mendengar suara alunan piano yang membuatku sedikit kesal. Jangan bilang Jimin akan membuat lagu di apartementku. Aku langsung menuju kamar yang sengaja kami buat khusus untuk piano Jimin dan komputer serta papan tulis.

Biasanya, saat aku mengetik cerita. Maka Jimin akan menemaniku dengan memainkan beberapa lagu yang menenangkan pikiran. Tapi, aku paling kesal waktu Jimin sedang membuat lagu. Karena… seorang peseni musik yang sedang membuat lagu… sangat… amat… tidak enak untuk didengar.

Percayalah.

"Jungkook?" sahut Jimin sambil menghentikan permainannya. Dia hanya memandangi ku sebentar dan tersenyum kecil. Sebelum akhirnya menekan beberapa tuts piano lalu berhenti sejenak dan menuliskan sesuatu di kertas putih.

Terus seperti itu, berhenti di satu tuts lalu menuliskan sesuatu. Dan diulangi lagi dari awal lagu, lalu berhenti lagi. Nanti, ada saatnya dia menekan satu tuts piano secara berulang-ulang. Tentu saja mendengar nada yang berantakan dan tidak teratur membuat aku semakin kesal.

"Bisakah kau—"

"Jungkook, aku lupa bilang… kurasa kita nanti malam harus mengisi kulkasmu. Aku akan menginap di sini malam ini." Potong Jimin yang membuat aku semakin masam.

"Jangan memotong pembicaraanku kena—"

"Dan aku akan membuat lagu di sini, kau tidak terganggu bukan?" tanya Jimin sambil tersenyum manis. Nah loh, kalau sudah tersenyum begini…

Aku hanya bisa mengangguk pasrah…

Dengan langkah gontai dan berpikir sudah berapa kali aku kalah dengan senyuman malaikat Jimin, aku duduk di kursi lalu menghidupkan komputer. Membuka satu document lalu mulai mengeluarkan satu buku yang berisi ide-ide atau saran dari editor.

Aku mulai menulis acak di papan tulis yang tertempel di dinding di belakangku atau sesekali mengedit cerita di komputer. Mencoba untuk fokus dan mengabaikan nada sembarang yang keluar dari piano Jimin.

5 menit pertama, aku masih bisa menahan emosiku saat Jimin berbicara tentang beberapa film bagus yang keluar di bioskop sambil memainkan pianonya.

10 menit kemudian, aku mulai merasakan sedikit emosi saat melihat cerita yang aku tulis dengan ide-ide dari editorku membuat cerita sedikit kehilangan sifat unik si tokoh utama. Ditambah nada yang Jimin buat membuat aku semakin ingin berteriak saat ini juga.

15 menit berlalu, aku kehabisan kadar kesabaran saat mendapat telepon dari editor. Bahwa deadline sudah seminggu lagi. Nada yang dimainkan Jimin semakin terdengar menyebalkan di telingaku.

JENG!

Suara piano yang sangat kuat membuat aku sedikit terkejut dan ingin memaki Jimin. Tapi saat aku melihat Jimin, Jimin sudah berdiri di ambang pintu.

"Jungkook… kurasa toilet apartementmu rusak. Kenapa kau tid—"

"DIAM!" teriakku secara spontan. Yang membuat Jimin terdiam di tempat dan menatapku bingung. Aku bahkan bingung kenapa aku berteriak. Tapi entah mengapa aku merasa begitu emosi sama semua hal saat ini.

"JUNGKOOK INI, JUNGKOOK ITU, KAU BISA KAN KERJAKAN SENDIRI?! KENAPA KAU BISING SAJA DARI TADI?! DAN JUGA… SUARA PIANO SIALAN ITU MEMBUAT AKU TIDAK BISA MENULIS!" teriakku keras sambil memukul meja dengan kuat.

"MENGANGGU! KAU MENGANGGU! BISA TIDAK KAU LENYAP SAJA HUH?!" aku mengakhiri perkataanku sambil mengacak rambut pelan.

Dadaku naik turun, nafas sudah tidak teratur, dan bisa kurasakan raut wajah Jimin yang berubah. Sebelum akhirnya dia menarik nafas panjang dan tersenyum tipis.

"Ok, aku pergi saja…" gumamnya kecil dan membuka pintu lalu menutupnya pelan. Saat itu juga kedua lututku lemas. Aku langsung terduduk di kursi lalu mengusap wajahku kasar.

Sedetik kemudian, rasa bersalah menyerang hatiku. Mengingat perkataanku yang sangat kejam tadi, pastilah melukai hati Jimin sendiri. Bagaimana bisa aku meluapkan rasa kesal dengan pacarku yang bahkan tidak bersalah sama sekali?

Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya aku bisa berpikir jernih. Tubuhku mulai bergerak dan keluar apartement untuk mencari Jimin. Dengan cepat aku menelpon Jimin, tapi semua panggilan tidak diangkat. Membuat aku semakin takut kalau Jimin benar-benar kecewa dengan sikapku.

Pemikiran pertama adalah mendatangai apartement Jimin yang terletak di lantai 7. Apartement kami yang hanya berbeda satu lantai, hal itu membuat Jimin jadi sering tinggal di apartement ku semenjak kami pacaran. Malah, aku sudah merencanakan untuk tinggal bersama. Tentu saja saat aku sudah melamarnya tahun depan.

Tapi, bagaimana aku bisa menjadi suami yang baik kalau masih bisa mengontrol emosi dengan benar? Terkadang… aku sangat membenci diriku sendiri.

Setelah sampai di lantai 7, aku langsung lari menuju apartement Jimin dan masuk dengan cepat.

"JIMIN?!" teriakku kuat lalu mengecek semua ruangan. Aku langsung melihat ruang tengah dan hanya melihat piano serta furniture yang lain. Kemudian aku pergi ke kamar Jimin dan melihat ruangan itu juga kosong.

Aku sedikit terkejut saat melihat ponsel Jimin yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur, menandakan Jimin ada mampir ke apartementnya lalu sengaja meninggalkan ponselnya di sini dan pergi entah kemana. Aku semakin berpikir bahwa Jimin benar-benar marah dan berpikir untuk menjauh dariku.

Aku semakin panik.

Dengan cepat aku keluar dari apartement Jimin dan memutuskan mencari Jimin di sekitar daerah sini. Kalaupun Jimin pergi, pasti dia tidak akan pergi jauh-jauh. Aku harus, mencari Jimin dan memeluknya dengan kuat lalu menghujani wajahnya dengan ciuman dan meminta maaf.

Karena kalau Jimin kenapa-kenapa di luar nanti…

Aku yang bisa gila!

.

.

.

Dan sekarang aku bener-bener sudah gila…

Mukaku semakin kusut.

1 jam keliling dan pergi ke tempat yang biasa dikunjungi Jimin, hasilnya nihil! Aku tidak menemui Jimin sama sekali!

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke partement dan menunggu Jimin pulang dengan sendirinya. Setelah itu, aku akan meminta maaf dengan berbagai cara.

Saat aku membuka pintu apartement, aku dikejutkan dengan suara televise yang terdengar. Membuat aku langsung ke ruang tamu dan mendapati Jimin yang sedang baring dengan santai di sofa sambil memakan snack.

"Eh, Jungkook… sudah pulang?" tanya Jimin sambil tersenyum lebar dan menatapku dengan wajah bingung. "Kau lari dari tempat editormu sampai ke sini? Kok keringatan?"

Tubuhku lemas seketika, membuat aku langsung terduduk dan menimbulkan suara yang cukup kuat. Jimin berdiri kaget dan menghampiriku cepat.

"Kenapa? Ceritamu ada yang salah lagi?" tanya Jimin khawatir lalu mengusap kedua pipiku pelan.

"Kau… kau kemana saja tadi?" kataku pelan sambil mencium kedua pipinya berkali-kali.

"Huh? Aku tadi hanya ke apartement ku saja… tidak kemana-mana, saat aku balik ke sini kau sudah tidak ada, jadi kukira kau pergi menemui editormu." Jelasnya yang membuatku mengkerutkan dahi.

"Aku tadi mencari di apartement mu… terus kau tidak ada di sana… aku hanya ingin mengatakan, aku minta maaf Jimin… sudah berbicara kasar denganmu." Kataku sambil memeluk pinggang Jimin dan masih menghujani wajahnya dengan ciuman kecil.

"Loh! Kau ke apartementku?! Jadi yang teriak memanggil namaku itu dirimu?! Ku kira hantu!" teriak Jimin histeris yang membuatku semakin bingung.

"Loh, kau ada di apartement waktu itu? Kok aku tidak melihatmu? Aku hanya lihat ponselmu saja tergeletak di tempat tidur! Ku kira kau pergi entah kemana! Aku hampir mati tau tidak mencarimu selama satu jam di sekitaran sini! Ternyata kau bersembunyi dariku di apartementmu huh? Kau bersembunyi dimana Jimin?" tanyaku gemas sambil mengigit hidung kecilnya, yang membuat dia tertawa kecil.

"Aku tidak bersembunyi Jeon Jungkook…"

"Lalu?"

"Aku di kamar mandi, buang air besar."

Aku terdiam, pikiranku tiba-tiba menjadi kosong.

"Kan sudah kubilang, toilet di apartement mu ini rusak! Dan aku sudah sakit perut waktu itu. Tapi kau malah marah-marah tidak jelas. Padahal aku hanya ingin bilang kalau aku ingin buang air besar di apartementku." Jelas Jimin dengan muka polosnya.

Membuat aku semakin merasa bodoh. Kenapa aku tidak mengecek kamar mandi waktu itu? Kenapa aku berpikir yang tidak-tidak waktu itu?

Sungguh aku… sungguh bodoh…

"Kau pasti berpikir aku menangis lalu kabur seperti di drama-drama? Jujur saja Jungkook, kalau aku tidak sedang sakit perut waktu itu… aku sudah menghajarmu lalu mengikatmu di gudang karena sudah berkata kasar sama pacar sendiri." Jelas Jimin sambil mengerucutkan bibirnya.

Tiba-tiba saja aku jadi tertawa lebar, entah kenapa aku sungguh bodoh saat ini. Tidak seharusnya aku meremehkan mental Jimin yang seperti baja ini. Dia tidak akan mungkin menangis hanya gara-gara hal sepele, apalagi menghilang secara tidak jelas.

"Hei, kenapa ketawa?"

Tanya Jimin yang juga ikut-ikutan tertawa karena melihatku tertawa. Walaupun di sela-sela tawanya dia akan berkata "kenapa sih?" tapi tetap saja aku tidak bisa menjawabnya.

Aku hanya merasa begitu bodoh saat ini.

Sangat amat teramat bodoh.

Well, kurasa aku tidak terlalu bodoh. Waktu tubuhku bergerak memeluk Jimin lalu menghentikan tawa dan mencium bibir Jimin lembut. Tidak lupa mengatakan betapa beruntungnya aku mendapatkan pacar seperti Jimin…

Membuat aku berpikir, bahwa aku tidak bodoh.

Karena sudah memilih Jimin sebagai orang yang sangat kucintai.

.

.

.

END

Terpikir tidak sih? Kalau di scene2 ff atau drama gitu yang tokoh utama cowok mencari ke rumah si cewek, lalu gak nemu si cewek? Aku selalu terpikir… bagaimana jika cewek itu hanya sedang boker di kamar mandi…

Akhirnya… terbuatlah cerita gaje ini…

BTW, nanti malam rain of darkness apdet! Yeayyy… mana tau dari kalian ada yang suka hopekook(?)

Balasan review :

IoriNara, film apaan? Iya kok… chap dua semalem hanya oneshoot aje~~

Mphiihopeworld, tumor kok bisa di udel sih mak -,- cieeee yang rindu ff akuhh~~~ aku sih rindu emak aja :* wkwkwkwkwk. Aku selalu terbayang, apa yang akan emak review di chap ini? Gak sabar lihat review khotbah emak lagi. Wkwkwkwk

Sanaa11, endingnya itu… si tae ngebunuh kookie sebenarnya. Dan kata2 terakhir itu yang ngebuat jimin tau kalau tae lah yang ngebunuh kookie (suara tae kan gampang dikenali). Lalu akhirnya Jimin ngalamin trauma dan amnesia deh akhirnya.

Hobiehopie, ini dah lanjut!

Amiracarlin2, hahahaha. Thanks for your compliment (ceilah sok inggris)

Sersanjung, aku memang sering buat yang sadistic sih… baca deh yang a doll atau a mask (promosi) wkwkwkwk.

Keymingi02, aku juga bingung mau balas apaan… gara2 kamu nge review nya seperti itu… aku jadi gak tau mau balas apaan XD

chimSza95, hmmm… bakal ada sequel gak yah? Nanti aku pikir-pikir lagi deh… gak kepikiran soalnya mau sequel apaan.

Wujimommy, cinta itu buta… dan bisa mengubah segalanya… ciewlah

JiminVivi, sepertinya gak bakal ada sequel… aku juga bingung sequelnya mau seperti apa…

Esazame, terimakasih kompor gasnya… di rumah aku kompornya dah tua soalnya… wkwkwkwk

Hotchocomilk, benerkah itu keren? Wah… gomawoo pujiannya! Btw, jangan panggil kak deh… jangan-jangan kita seumuran…

Gummysmiled, kalau chap ini suka gak? Semoga suka lah yah…

Kumiko ve, hahahahha mian mian mian… next chap itu vmin yang roman kok… jadi tenang aja.

Minsoo kim, kali ini kookmin nih~~ semoga perasaanmu bercampur aduk juga di sini XD

Avis alfi, karena tae sudah dibutakan oleh cinta #ceilah

Jchimchimo, tae mah gak mikir sampe jimin inget apa kagak. Yang penting dia bisa dapatin Jimin! Tae telah dibutakan oleh cinta~~

Hyoae, makasih ya atas pujiannya… aku juga seneng mendengarnya~~

Curw, ok, kali ini kookmi~~ next chap is Vmin! Yeay

Review kalian semua membuat hati ini senang…

Love and peace guys