Naruto © Masashi Kishimoto
The Clans Conspiracy © liaprimadonna
Genre: Romance, Hurt/comfort, Action
Rated: T / PG-13
Pairing: NarutoxSasuke / Narusasu
A/N: OOC, Typo(s), violence, bloody, Shounen-ai, Non-canon, AU, aneh dan gaje (makasih)
A/N: Part lalu kacau ya bahasanya, maklumin aja ya, itu ngetiknya asal ngebut._.
.
.
.
Minato menjalin kedua tangan, menatap salah satu orang kepercayaannya dengan dahi mengerut. Berita yang baru saja didengarnya terdengar mengejutkan.
"Mereka berdua bukan Taka?"
"Benar, Tuan. Aku sangat yakin," jawab Sai, berdiri dengan tegak di depan meja Minato.
"Apa yang membuatmu begitu yakin?" Minato menatap lurus-lurus pria pucat di depannya, sembari berpikir keras akan keraguan berita itu. "Mereka jelas memakai haori dan topeng elang."
Sai tersenyum, ia sudah mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.
"Faktanya Taka hanya satu orang, Tuan. Taka bukan sebuah organisasi atau semacamnya, dia bermain sendiri," jelasnya, balas menatap Minato serius. "Tadinya kupikir salah satu di antara mereka adalah Taka yang asli, namun ternyata aku salah."
"Apa maksudmu?"
"Kedua orang penyusup itu hanya memanfaatkan eksistensi nama Taka. Mereka berdua memiliki ciri-ciri rambut yang panjang. Yang aku tahu, Taka tidak memiliki rambut seperti itu."
Minato mengangguk-angguk. Bagian itu luput dari pengamatannya, ia hanya melihat mereka sebagai Taka dengan haori putih andalannya. Benar-benar tertipu.
"Ada satu hal lagi," Sai menarik kembali atensi Minato. "Aku curiga dengan keterlibatan mereka dengan para Tahanan Besi. Kurasa mereka berdua adalah dua dari beberapa buronan yang sempat melarikan diri dari penjara."
Minato terkejut, analisa Sai memang masuk akal. "Coba kau sebutkan lebih jelas ciri-ciri mereka, Sai."
Sai mengambil kertas dan pena tanpa ijin dari meja Minato. Mulai menggambarkannya dengan detail yang dapat ia ingat. Lalu menyerahkannya pada Minato beberapa menit setelahnya.
"Ini—"
"Benar," sela Sai cepat-cepat. "Kedua Taka palsu itu berambut panjang, yang satu berwarna kuning terang dan yang satunya berwarna hitam."
Minato terdiam sesaat, memandangi gambar Sai. Gambar itu dibuat dengan mengambil angle belakang. Hanya rambut dan bagian ikat kepala yang terlihat. Namun Minato cukup mendapat gambaran.
"Aku akan memerintahkan Iruka untuk mengirim data para tahanan sekarang juga."
Sai tersenyum.
"Dan aku juga punya tugas untukmu, Sai. Bisakah kau keluar mencari Naruto? Anak itu pergi mencari Sasuke," pinta Minato, wajah Sai tidak berubah dan tetap mengumbar senyum. "Bawa Naruto kembali ke istana—dan juga Sasuke. Mereka berdua harus selamat."
Tak ada jawaban, Sai hanya mengangguk setuju.
Ini akan jadi misi melelahkan baginya.
.
.
.
Kuda yang ditumpangi Naruto meringkik keras saat mendaki bebatuan di perbatasan hutan, ia menarik tali kekang kuda mencegahnya melompat-lompat. Baru saja Naruto melewati sungai, kini ia sudah sampai pada perbatasan hutan. Intuisinya mengatakan kalau Sasuke ada di hutan itu, namun ia agak ragu untuk bergerak.
Akhirnya setelah berperang dengan dua sisi pemikiran yang berbeda, Naruto memutuskan untuk masuk. Hutan pagi itu sangat cerah. Naruto menyaksikan cahaya dari sela-sela pepohonan yang membentuk bayang-bayang di tanah.
"Kau dimana, Sasuke?" Naruto menuntun kudanya dengan pelan. Hampir saja ia membiarkan kudanya lari kalau saja tidak ingat banyak ranting tajam yang akan melukai kudanya.
Sekitar satu jam kemudian yang ditemui Naruto hanya kegelapan hutan, cahaya semakin menipis dan kabut mulai menebal. Naruto memperlambat langkahnya, mengumpulkan petunjuk apapun. Ia tidak menyerah meski yang didapatkan hanya nihil.
Tak ada jejak Sasuke sama sekali, ini hampir membuatnya frustasi.
"Kuso Teme! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak bisa kabur dari penculik rendahan itu!"
Naruto kembali menyusuri jalan dengan semak yang semakin meninggi, ia menyabetkan pedang curian yang dibawanya. Kudanya juga sudah ia lepas di tengah hutan tadi. Hewan itu hanya menyusahkannya.
Dari kejauhan Naruto mendengar suara desingan besi beradu dan langkah lari yang berdebum di tanah. Semakin lama suara itu terdengar seperti seseorang yang tengah bertarung. Seperti sesuatu yang melawan angin dan teriakan mengumpat-umpat.
Naruto memicing waspada, sialnya kabut semakin menebal dan ia hanya bisa bersembunyi di semak-semak.
"Hentikan, Kankuro, aku tidak mau melawanmu," kata sebuah suara yang Naruto jangkau.
"Jangan bernegosiasi dengan musuh, Gaara," sahut suara yang satunya lagi.
Naruto berusaha mengintip dan pandangannya agak buram. Ia hanya bisa menangkap dua pria yang mungkin seumuran dengannya saling berhadapan. Satu orang dengan tato di wajahnya, ia menggunakan panah dan yang satunya lagi memakai tongkat panjang yang tinggi melebihi tubuhnya—pria bertongkat itu memiliki rambut yang merah.
"Jangan buat aku menyetujui hubungan semacam ini, Kankuro. Kita bersaudara."
"Cih, aku tidak pernah percaya dengan yang namanya saudara," pria bernama Kankuro itu meludah ke tanah. "Saudara tidak akan menjebloskan saudaranya yang lain ke penjara."
Pria berambut merah tetap memasang wajah datar. "Taka sudah menggantikan tugasku dan Temari untuk membebaskanmu, bukan?"
Mendengar nama Taka disebut, Naruto segera memunculkan dirinya pada kedua orang tersebut. Jarak mereka terlampau jauh, sekitar tujuh meter mungkin. Namun, Naruto bisa melihat keterkejutan mereka bahkan satu panah spontan melesat ke arahnya.
Tanpa bisa menghindar, ujung panah itu menancap di pohon setelah menggores pipinya.
"Siapa kau?" Kankuro kembali menodongkan panahnya ke arah Naruto. Sedangkan Naruto tetap berjalan santai ke arah mereka dengan kedua tangan terangkat ke depan.
"Tenanglah, aku hanya sedikit penasaran dengan pembicaraan kalian," katanya.
"Jangan macam-macam, Bocah Tengik!" Kankuro bersiap melepas satu panahnya sampai Gaara menahan dengan tongkatnya.
"Hentikan, Kankuro!"
"Jangan memerintahku, Gaara!"
"Aku bisa saja memanggil para samurai Klan Nara untuk menangkapmu sekarang juga!" Pria bernama Gaara itu melirik ke arah Naruto sementara suaranya ditujukan untuk pria bernama Kankuro.
"Kuso!"
Pandangan Gaara tidak berubah, melihat Naruto dari atas ke bawah.
"Siapa kau?"
"Naruto," jawab Naruto cepat, ia segera meralat, "Uzumaki Naruto."
Terlihat kekagetan di wajah Kankuro, ekspresi yang sangat berbeda dengan Gaara. Pria merah itu tersenyum tipis. "Calon penguasa lima klan kah?"
Naruto membuang muka, tidak suka dengan julukan itu.
"Aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan kalian," Naruto menjawab, "Katakan dimana aku bisa menemukan Taka."
Kankuro melipat kedua tangannya. "Hooo, ternyata kau memang mendengar pembicaraan kami ya, Gaki."
Tangan Naruto mengepal berusaha untuk tidak mengumpati orang berbaju hitam itu. Informasi mengenai Taka lebih penting daripada kemarahannya kali ini.
"Kami tidak tahu dimana Taka berada."
"Bohong!"
"Kau bertanya pada orang yang salah."
"Jangan coba-coba membohongiku!"
"Hei, Gaki, kalaupun kami tahu keberadaannya, apa untungnya memberitahumu?" sela Kankuro cepat, ia lumayan jengah dengan percakapan antara Gaara dan pria kuning itu. Yang satu datar yang satu cerewet.
Naruto menundukkan kepalanya, rasa marah yang berusaha ditelannya menyeruak lagi.
"Hei—"
"Dia menculik temanku."
Kankuro mengerutkan dahi, "Benarkah?" lalu ia menatap ke arah Gaara, "Ne, Gaara, apakah kegiatan Taka sudah berubah menjadi penculik teman si kuning ini?"
"Aku serius!"
"Aku lebih serius!" Kankuro balas teriak, kemudian ia berdeham. "Dengar, ya, Kuning. Kau tidak akan menemukan Taka dimanapun," lanjutnya tak peduli.
Sebelum Naruto sempat menjawab, Gaara sudah menyela, "Taka adalah buronan kelas tinggi di Konoha. Ada yang bilang bahwa markas Taka berada di tengah hutan, namun berita itu selalu terbantahkan. Siapapun tidak akan semudah itu menemukan Taka—apalagi amatiran sepertimu."
Naruto tidak menjawab.
"Lebih baik kau ikulah dengan kami," lanjut Gaara, mengabaikan protesan kuat dari Kankuro. "Mungkin saja kami bisa membantumu."
Kelihatan sekali kalau Naruto belum bisa mempercayai kedua orang tersebut. Dilihat dari tampang mereka Naruto mencoba menarik beberapa kesimpulan; tampang mereka terlihat sangat seram dan juga terlihat kuat.
Apalagi Gaara, meskipun ia terlihat kurus, Naruto bisa melihat aura hitam yang ada di sekitarnya.
Pria ini sangat berbahaya jika ia mengajaknya bermain-main.
"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Naruto kemudian. Yang ada dipikirannya sekarang adalah kewaspadaannya yang mulai tinggi terhadap orang asing seperti ini. Ia sama sekali tidak berharap mati konyol di hutan sebelum menyelamatkan Sasuke.
Sasuke-nya.
Tidak ada perubahan ekspresi dari Gaara. Meskipun seharusnya ia tersinggung akan ucapan itu.
"Tidak."
"Tidak?" ulang Naruto, "Jadi, aku tidak bisa mempercayai kalian?"
Oh, yeah. Mati saja aku.
Kali ini Kankuro yang menjawab, "Kau tidak bisa mempercayai siapapun di dunia ini, Gaki. Meskipun itu saudaramu sendiri."
Jelas, kalimat itu ditujukan untuk Gaara, namun Gaara tidak peduli.
Benar juga, yang bisa dipercaya Naruto sekarang adalah dirinya sendiri. Naruto mengakui, bahkan Sasuke saja tidak bisa dipercaya olehnya. Pria itu menyembunyikan rahasia kelam yang sangat ingin Naruto ketahui.
Itu berarti Sasuke juga tidak bisa percaya padanya—pada siapapun.
"Lalu kita akan kemana?"
Daripada bertanya; mereka akan kemana dan untuk apa, Naruto lebih memilih kemana tujuan mereka akan tertuju. Taka tidak akan terdeteksi semudah itu, akan lebih meyakinkan jika mereka menyisir semua tempat. Meskipun itu akan memakan waktu yang lama.
Naruto berharap Sasuke bisa menunggu.
"Kita akan ke barat dan menuju jalan utama," jawab Gaara kalem, pria itu berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu keduanya. Mau tak mau mereka mengikuti jalanan yang ditempuh dan semakin dalam ke jantung hutan.
Tempat itu semakin jarang ditemukan semak-semak dan ada banyak pohon-pohon buah di sana. Selain itu banyak juga hewan yang melintas, kebanyakan tupai dan monyet. Salah satu tupai yang Naruto lihat tampak menggembungkan pipi karena makanan di mulutnya.
Luar biasa, segala macam buah ada di dalam sini.
Mereka berjalan semakin dalam dan menemukan sebuah danau kecil. Mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti sebentar dan Naruto memanfaatkan kesempatan itu untuk memakan buah yang sempat mereka ambil.
Naruto melirik Gaara yang tengah membersihkan tongkatnya dengan air, lalu ia menghampiri pria itu. "Kau tidak makan?"
Gaara menggeleng sebagai jawaban, membuat Naruto mendengus. Ia akhirnya tahu sifat pria ini; dingin dan irit bicara.
"Kalian bersaudara? Kau dan Kankuro?" tanya Naruto.
"Ya, kami tiga bersaudara."
Naruto mengangguk. "Apa nama klanmu?" baru setelah Naruto menanyakan itu, gerakan tangan Gaara berhenti. Naruto menduga pria itu tidak akan menjawab, tapi Naruto mendengar suaranya.
"Klan Sabaku. Klan itu sudah musnah."
Naruto terkejut. Melihat ada kilat kemarahan di mata pria berwajah datar itu.
"Tetapi, itu sudah lama berlalu," nada bicara Gaara kembali terdengar santai. "Kami adalah bagian dari Klan Nara sekarang."
Dahi Naruto mengerut. "Nara? Bagaimana bisa?"
"Sepupuku, Temari, menikah dengan calon pemimpin Klan Nara," jawab Gaara.
Naruto melotot. "Maksudmu Shikamaru?"
"Kau kenal Si Pemalas itu, Gaki?" Kankuro menyahut tanpa membuka matanya yang tertutup. Ia berbaring di salah satu batu besar.
"Dia temanku," jawab Naruto masih tidak percaya.
"Seberapa luas desa ini sebenarnya?" Naruto bergumam, namun Gaara mendengarnya.
"Konoha itu kecil bila kau bandingkan dengan Ame."
"Ame?"
Gaara telah selesai dengan tongkatnya saat mendengar pertanyaan itu, ia mengambil posisi duduk di depan Naruto dan menatap lurus-lurus mata pria kuning itu. Menurut Gaara, mata biru milik Naruto terlihat sangat jernih.
"Ame adalah desa dimana Klan Hyuuga berada."
Naruto tidak menjawab.
"Suna adalah milik Klan Nara, Kiri adalah Klan Yamanaka dan Oto adalah milik Klan Senju," lanjut Gaara menjelaskan, "Semua desa itu mengelilingi hutan ini, jadi bisa dikatakan hutan ini adalah pusat dari kelima aliansi desa."
"Maksudmu?"
Gaara melempar satu batu ke danau, membuat genangan airnya tak beraturan. "Pusat kerajaan para tetua ada di hutan ini, tepatnya di sebelah barat hutan—sangat dekat dengan gerbang perbatasan menuju kota."
Naruto terdiam sembari mengingat-ingat jalan yang dilaluinya saat menuju ke tanah Konoha, namun ia tidak menemukan satupun kerajaan besar. Hanya sebuah tempat kemiliteran dan pusat berbagai macam kendaraan yang akan dipakai menuju desa. Dimana letak kerajaan itu tepatnya?
Sepertinya Gaara menangkap kebingungan Naruto, "Kerajaan para tetua berada di kemiliteran perbatasan."
.
.
.
"Apa yang kau pikirkan?" Sasuke bertanya pada Deidara setelah memergoki pria berambut pirang itu melamun di bawah pohon besar. Sasuke mengambil duduk tak jauh dari pria itu dan menyandarkan tubuhnya.
"Tidak ada," jawab Deidara, matanya menerawang ke depan.
Sasuke tidak percaya dengan jawaban itu. Namun, ia memilih untuk tidak berkomentar. Tak lama kemudian Itachi keluar dari dalam gubuk dengan peralatan berburu yang lengkap. Ia menggunakan ikat kepala melingkar di dahinya, berbagai macam benda tajam; pisau kecil dan besar, tombak, serta kampak. Ada juga satu keranjang besar yang ditemukan Itachi dalam gubuk tak terpakai itu.
"Mau kemana kau?" tanya Deidara.
"Berburu," Itachi melemparkan kampak dan beruntung Deidara menangkapnya dengan tepat. Tapi setelah itu pria berambut kuning tersebut mengumpat dengan segala macam serapah. "Kau juga akan ikut, Sasuke."
Sasuke menerima tombak yang panjangnya sekitar dua meteran, ujungnya terlihat sangat lancip. Pasti kakaknya itu baru saja mengasahnya.
"Kita akan berburu apa?"
Itachi melihat Sasuke berdiri dari posisinya. "Kau akan menangkap ikan di danau, Deidara akan mencari kayu dan aku mencari buah-buahan."
"Kenapa aku harus mencari kayu?!" umpat Deidara yang tidak dihiraukan oleh Itachi. "Aku yang mencari buah saja, Itachi!"
"Tidak!"
"Kenapa?!"
Itachi melirik Deidara tajam, namun tampaknya tidak ada ketakutan sama sekali di mata pria kuning itu. Ia malah balas menantang.
"Pokoknya aku yang akan mencari buah! Dengan begitu aku bisa langsung memakannya jika aku lapar," Deidara memberi alasan.
Cukup masuk akal, namun Itachi tetap tidak peduli.
"Kita berangkat sekarang," suruh Itachi.
"Tunggu dulu, tunggu dulu! Kenapa tidak ada yang mau mendengarkanku?!" Deidara melirik ke arah Sasuke, "Hei, kau, kita bertukar tempat. Aku yang mencari ikan."
Karena Sasuke merasa dirinya paling muda, ia hanya menurut saja. Dan itu membuat Itachi marah lalu merebut tombak Sasuke sebelum jatuh ke tangan Deidara.
"Aku hanya akan menjelaskannya satu kali," katanya dingin, Deidara meneguk ludahnya. "Danau akan lebih dekat dari tempat persembunyian kita dan kayu bisa ditemukan dimanapun. Aku mengatur formasi ini bukan tanpa perhitungan. Hutan buah letakkan lumayan jauh dari danau dan di sana banyak binatang buas, itulah mengapa biar aku yang akan ke sana."
Deidara terlihat akan menyela, namun Itachi menyahut lebih cepat. "Aku tidak ingin dibantah, meskipun kau bukan bawahanku, tapi aku yang lebih kuat di sini. Tolong jaga Sasuke sementara aku mengambil buah," katanya dengan nada final.
"Tsk. Bagaimana mungkin kau percaya padaku? Aku bisa saja membunuh adikmu ini," balas Diedara tak acuh mengabaikan pelototan dari Sasuke.
Itachi membalas dengan nada berbahaya, "Sebelum kau melakukannya, aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu."
Tanpa repot-repot menunggu jawaban Diedara, Itachi segera melesat menggunakan kaki-kaki panjangnya memasuki area hutan yang lebih lebat dan penuh semak berduri. Deidara menghela napasnya dengan kasar, apa-apaan pria bernama Itachi itu?! Dengan berkata begitu sama saja ia menganggap Deidara lemah bukan?
"Kau masih ingin bertukar?" goda Sasuke, namun nada yang digunakan sangat datar dan membuat Deidara mendengus keras.
"Kau mau melihatku mati dibunuh Itachi, ya?"
Sasuke akhirnya tertawa. "Itachi tidak seperti itu. Dia adalah orang yang baik."
Lagi-lagi Deidara mendengus. "Bunuh saja Itachi jika dia tidak baik pada adiknya sendiri!"
"Kenapa begitu?"
"Tidak ada," Deidara mengangkat bahu. "Itachi itu orang yang berbeda, ketika semua orang mengalami krisis kepercayaan pada keluarganya, hanya dia sendiri yang mati-matian berkata bahwa dia percaya padamu."
Sasuke tidak menjawab, ia merasa bersalah karena menjadi bagian dari keluarga durhaka itu dan membiarkan Itachi menderita di penjara. Semua klan yang terbuang dan melakukan pemberontakan akhirnya memang mengalami nasib yang sama seperti Itachi. Dan keluarga mereka tutup mata dengan kejadian itu.
Selalu.
Selalu seperti itu—termasuk Sasuke, mungkin?
Deidara melirik Sasuke. "Kau tahu, berkali-kali Itachi berkata bahwa kau tidak akan meninggalkannya, itulah yang membuatnya kuat dan selalu membuat strategi yang baru setiap harinya. Menurutmu berapa kali dia mencoba lolos dari penjara?" Deidara memutar bola mata jengah. "Puluhan kali mungkin."
"Tetapi kalian tidak lolos."
Ucapan polos itu membuat Deidara tertawa terpingkal-pingkal. "Melawan penjaga dari dalam penjara tidak semudah ketika kita berada di luar, Kawan." Deidara menepuk-nepuk bahu Sasuke. "Kau akan mendapat kesulitan beberapa kali lipat."
Mereka sudah hampir dekat dengan danau ketika Sasuke mendengar suara air mengalir.
"Kita berpisah di sini saja," putus Deidara, namun Sasuke tidak setuju. "Ada apa?" tanya pria kuning itu.
"Aku akan membantumu mencari kayu, setelah itu aku akan mencari ikan."
Deidara mengerling sinis. "Jadi, kau menganggapku lemah juga?"
"Tidak."
"Tapi aku tidak mau membantumu mencari ikan lho."
Sasuke mengangkat bahu. "Aku tidak keberatan."
Ada semacam perasaan aneh dalam benak Deidara, bantuan ringan yang ditawarkan Sasuke seolah mengingatkannya pada teman-temannya yang saat ini masih berada dalam penjara Tahanan Besi di wilayah Klan Hyuuga—entah mereka masih hidup atau tidak.
Deidara sempat mendengar kabar bahwa Tahanan Besi merupakan tahanan yang dijaga ketat dan penjaganya sering kali menggunakan kekerasan, jeruji untuk satu tahanan saja sampai dialiri arus listrik. Benar-benar kejam.
Atau tidak? Tidak sekejam Tahanan Peti milik Klan Senju atau Tahanan Paku milik kemiliteran 'sih.
"Kau kumpulkan kayunya, bagianku hanya memotong," teriak Deidara yang sudah naik di atas pohon.
Sasuke mulai mengumpulkan kayu-kayu kering yang mudah di bakar dalam satu ikat. Ia memanfaatkan batang pohon pisang untuk membuat talinya. Selama hampir duapuluh menit mereka dapat mengumpulkan dua ikat kayu.
"Kurasa cukup," kata Deidara tersenggal-senggal.
"Baiklah, aku akan mencari ikan. Kau kembalilah ke gubuk," saat Sasuke akan pergi, Deidara segera menarik tangannya. Sasuke mengerutkan dahi. "Ada apa?"
Deidara berdecak. "Kau benar-benar ingin aku mati, ya? Aku harus menjagamu tahu."
Sekarang giliran Sasuke yang memutar bola mata. Ia mengabaikan bagaimana Deidara mengikuti langkahnya menuju danau kecil tempat para ikan berkumpul. Dari kejauhan Sasuke melihat ada orang selain mereka yang berada di danau. Langkahnya berhenti tiba-tiba.
Deidara mengumpat saat ia menabrak punggung Sasuke. "Ada apa, Brengsek?!"
Wajah Sasuke terlihat sangat gelisah.
"Sasuke?"
"Ada orang."
Deidara melongo. "Hanya orang?"
Bodohnya Sasuke mengangguk dan itu justru membuat Deidara kesal setengah mati. "Hanya orang, Sasuke! Kupikir kau melihat hantu atau hewan buas semacamnya."
Perkataan Deidara sama sekali tidak membuat Sasuke tenang. Ia semakin terlihat gelisah bahkan ingin pergi dari sana kalau Deidara tidak mencegahnya. Akhirnya Deidara melihat sendiri ke arah danau, jaraknya agak jauh, tidak terlihat jelas. Namun, tidak sulit bagi Deidara mengenali satu di antara mereka.
"Itu Kankuro," lalu melirik Sasuke. "Kau mengenalnya?"
Sasuke menggeleng.
"Tenang saja, dia tidak akan melukaimu," bujuk Deidara.
Sasuke memang tidak berpikir seperti itu. Lagipula bukan orang bernama Kankuro yang membuatnya gelisah, tapi pria yang memakai yukata oranye dengan rambut kuning seperti matahari di sebelahnya.
Itu Naruto. Uzumaki Naruto.
'Kalau kau mendekatinya, aku akan membunuhnya.'
Tidak.
Meskipun Sasuke membenci Naruto, ia sama sekali tidak mau pria itu mati. Pria itu tidak akan melakukan hal yang akan membuat posisi Sasuke terancam. Naruto tidak seperti itu, ia orang yang baik. Namun, peringatan Itachi sudah cukup tegas, Sasuke tidak mungkin melanggarnya.
Sasuke tergelincir saat kakinya melangkah mundur. Kakinya tersandung satu ikat kayu bakar membuatnya terjatuh ke belakang dan merasakan tulang ekornya agak nyeri. Ia memandang Deidara yang hampir saja melepaskan tawanya.
"Apa yang kau lakukan, Sasuke?" tanyanya setengah geli.
Belum sempat Sasuke menjawab, ia melihat seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya berada, begitu Sasuke mendongak, matanya membelalak.
"Sasuke?!"
Sasuke tidak berani menjawab apapun dan segera berlari menjauhi tempat tersebut. Ia tidak peduli jika akan menemui jalan buntu atau terjatuh ke jurang. Yang Sasuke inginkan hanya satu yaitu tidak bertemu Naruto. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika pria itu bertemu dengan kakaknya.
Selama ini Itachi tidak pernah bermain-main dengan perkataannya, Sasuke tidak mau Naruto terluka karena dirinya.
"Sasuke, jangan lari!"
"Hei, Gaki, mau kemana kau?! Gaara, cepat!"
Terdengar sahutan lagi. "Sasuke! Berhenti kubilang!"
Sedangkan Deidara mematung di tempatnya berdiri tanpa bisa bergerak kemanapun. Ia tidak memperkirakan kejadiannya akan segawat ini. Anak dari penguasa lima klan langsung yang datang ke hutan mencari keberadaan mereka—tidak, tepatnya mencari Sasuke.
Ya—tentu saja, bocah itu adalah bocah yang semalam melawan Itachi untuk merebut Sasuke dari gendongannya. Sekarang Deidara mulai bingung, apakah dirinya harus melaporkan ini pada Itachi?
Tanpa berpikir dua kali, Deidara segera melesat ke arah dimana Itachi berada. Masalah dibunuh atau tidaknya oleh Itachi nanti, itu akan menjadi masalah belakangan. Sekarang ini ia sama sekali tidak sengaja membiarkan Sasuke sendiri.
Deidara hanya tidak ingin kedok mereka terbongkar secepat itu.
"ITACHI!" teriak Deidara ketika melihat Itachi dari kejauhan tengah memakan pisang dan bermain dengan monyet. Deidara hampir saja mengumpat kalau tidak ingat situasi gawat yang terjadi. Ia berlari menghampiri Itachi yang kebingungan.
Itachi kelihatan was-was begitu Deidara mendekat. "Ada apa, Dei? Dimana Sasuke?"
Tangan Deidara menunjuk ke arah dimana dirinya berasal tanpa bisa mengeluarkan suara. Berlari sejauh itu membuat udara di paru-parunya menipis dan tersenggal-senggal. Namun, sepertinya Itachi menangkap maksud itu dan berlari ke arah danau tanpa menunggu Deidara.
Sampai di sana, ia tidak menemukan siapapun. Itachi terus menyisir ke bagian yang berlawanan. Ia berusaha menahan diri untuk tidak berteriak, ia akan menyerang tanpa diketahui.
"Sial!" umpatnya.
Sayup-sayup Itachi mendengar seseorang meneriakkan nama adiknya. Dengan gerak terlampau waspada, Itachi memelankan langkahnya dan membiarkan telinga dan matanya dalam sikap siaga. Pegangannya pada pisau mengerat.
Siapapun itu yang melukai adiknya, akan habis dengan pisau kecil itu.
"Menjauh dariku, Naruto!"
Itu suara Sasuke! Adiknya! Itachi mempercepat langkahnya tanpa melemahkan kewaspadaan. Ada lebih dari dua orang di sana. Itachi bersembunyi di balik pohon beringin yang besar dan menemukan dua orang lain yang di kenalnya, Gaara dan Kankuro.
Sasuke juga di sana, berada sekitar dua meter di depan pria berambung kuning spike. Uzumaki Naruto.
"Jangan konyol, Teme! Kemarilah!" Naruto berujar sambil melongok ke jurang yang tidak terlihat dari tempatnya berada, namun Naruto tahu jurang itu pasti sangat dalam.
Sasuke menggeleng, terlihat tidak takut sama sekali. Ia justru mengkhawatirkan kalau kakaknya melihat mereka.
"Pergilah, Dobe."
"Tidak. Tidak tanpamu," Naruto maju selangkah yang otomatis membuat Sasuke mundur satu langkah. Kakinya tidak menggapai pijakan apapun, nyaris tergelincir. "Berhenti! Kubilang berhenti, Sasuke!"
Sasuke menengok ke bawah, ada air terjun yang deras di sana. Kalau ia melompat, ia tidak akan mati, melainkan terbawa arus.
Kankuro yang berada tak jauh di belakang Naruto mulai menyikut perut Gaara, "Naa, bukankah itu Uchiha Sasuke? Tangan kanan Namikaze Minato."
Gaara menoleh ke arah Sasuke sebentar sebelum akhirnya mengangguk membenarkan.
"Oh, ya ampun apa yang dilakukan bocah-bocah ini di hutan?" Kankuro memutar bola mata. "Hei, Uchiha, bisakah kau hentikan main-mainnya? Kau tidak sadar sedang bertaruh nyawa?"
Di sana, di tengah-tengah kecamuk batinnya, sempat terpikirkan oleh Naruto untuk melompat dan menangkap tubuh Sasuke. Jatuh ke jurang, kalau perlu. Naruto sangat ingin memberi pelajaran kepada anak Uchiha itu. Berdua saja.
"Kalau kau tidak kemari dalam hitungan ketiga, Sasuke, aku sendiri yang akan menyeretmu," ancam Naruto. Ia mulai menghitung, "Satu..."
Pria kuning itu membuat satu langkah ke depan.
"Dua..."
Ia kembali melangkah satu kali lagi. Sedangkan di balik pohon Itachi sudah mulai berang karena melihat Sasuke tersudut.
"Ti—Argh!"
Itachi menerjang, melempar pisaunya dan mengenai betis kanan Naruto. Pria kuning itu terjatuh dan berteriak kesakitan bersamaan dengan Sasuke yang tergelincir di ujung tebing. Tubuhnya terperosok dan hampir terlempar jatuh kalau saja tangan Itachi yang hangat tidak memegangnya.
Saat itu pula Sasuke mendongak, tangannya sudah sangat dingin ketika berada dalam genggaman Itachi.
"Aniki?" gumam Sasuke, ia berusaha keras melawan gravitasi bumi ketika Itachi menarik tubuhnya. Ia langsung terduduk dengan wajah pucat—bukan karena baru saja melihat kematian, namun karena melihat pisau yang menancap di kaki Naruto.
Tubuh kakaknya sudah berdiri tegak membelakanginya, Sasuke berusaha mengeluarkan suara namun tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Jangan, Aniki, kumohon.
"Kau," tunjuk Itachi dengan pisau lain yang lebih besar dari yang dibawanya tadi. Gaara segera memasang badan di depan Naruto dan mengacungkan tongkatnya. "Menyingkirlah, Gaara. Jangan sampai aku memasukkan namamu ke dalam daftar orang yang akan kubunuh."
Gaara sama sekali tidak gentar. "Kau tidak mungkin melawan orang yang sedang terluka, Uchiha-san."
"Itu bukan urusanmu," sahut Itachi dingin.
"A-Aniki," panggil Sasuke dengan sangat pelan. Tubuhnya berusaha bangkit dengan agak gemetar. Tanpa membuang waktu, ia memanfaatkan tenaganya untuk berdiri di depan kakaknya. "Jangan, kumohon."
"Minggir, Sasuke!"
Sasuke menggeleng.
"KUBILANG MINGGIR!"
Itachi melepaskan tendangannya kuat dan dengan mudah membuat Sasuke terlempar menabrak pohon. "Akh!" erang Sasuke kesakitan. Ia merasa tidak bisa bergerak lagi sekarang. Sambil berusaha berdiri, mata Sasuke tidak lepas dari Itachi yang tengah bergulat dengan pria berambut merah.
Pandangannya mengarah pada Naruto, pria itu sudah berdiri dengan goyah dan kakinya mengeluarkan banyak darah. Sosok pria lain berambut hitam memegangi lengannya. Sasuke tidak mendengar apa yang Naruto teriakkan, telinganya berdenging.
"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Sasuke menoleh dan menemukan Deidara di sampingnya. "Kau bisa berdiri? Kita harus segera pergi dari sini."
Sasuke tidak menjawab dan melihat ke arah mereka, sekarang Naruto sudah bergerak melawan Itachi dengan tertatih-tatih. Lalu ia merasakan tubuhnya terangkat dan ia dibawa menjauh dari tempat itu.
"Aniki," lirihnya, Sasuke hampir tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi.
Deidara mendengus. "Kau benar-benar menyusahkan. Kalau aku tidak ingat balas budi padamu, akan kutinggalkan kau di sini."
Sasuke tersenyum tipis, dan ia tidak mengerti kenapa ia melakukan itu. Ia hanya berharap agar Itachi tidak benar-benar membunuh Naruto.
Karena ia percaya Itachi tidak akan melakukannya.
.
.
.
Kemarahan masih melanda Itachi, keputusannya untuk melawan tiga orang sekaligus tidak seimbang. Apalagi ada Gaara dan Kankuro, kedua pria itu adalah petarung hebat dari Klan Nara—setelah Shikamaru. Dan Itachi tidak ingin membuang-buang tenaga di sini.
Berbeda dengan Naruto, pria itu justru tersenyum di tengah sisa tenaganya. "Kau berhasil menyelamatkan Sasuke, Itachi-san."
Itachi tidak suka dengan nada kelewat senang itu.
"Aku tahu kau pasti bisa menyelamatkannya."
"Omong kosong apa yang kau bicarakan?" sahut Itachi dingin.
Naruto berjalan tertatih mendekati Itachi. "Kedatanganku ke hutan ini adalah mencari Sasuke. Dia diculik oleh dua elang busuk," marah Naruto. "Tapi, aku lega kau sudah menyelamatkannya, Itachi-san. Aku tahu kau pasti datang."
Tidak ada keraguan saat Naruto menaruh kedua tangannya di bahu Itachi. Ia tidak peduli kalau pria itu bisa membunuhnya kapanpun. Ia terlalu senang melihat Sasuke baik-baik saja di tangan pria itu, namun ketika ia menoleh ke arah dimana Sasuke berada, senyumnya menghilang.
Sasuke tidak ada di sana.
"Sasuke? Dimana Sasuke?" tanya Naruto.
Kankuro ikut-ikutan bingung, lengan pria itu terkena pisau Itachi dan itu lumayan perih. "Aku melihatnya di sana tadi. Kau lihat, Gaara?"
"Kurasa dia sudah pergi."
"Tidak mungkin!" Naruto menggeleng, "Pergi kemana—"
"Kuperingatkan padamu, Uzumaki Naruto," potong Itachi dingin. "Kupastikan ini adalah peringatan yang terakhir kali kau menemui adikku. Menjauhlah dari Sasuke karena dia bukan bagian dari Klan Uzumaki lagi."
Naruto tertegun.
"Apa maksudmu? Apakah kau marah karena ayah memenjarakanmu di—"
"Lebih dari itu, Tuan Muda. Kau tidak akan bisa menghitung seberapa besar kebencianku pada mereka. Seluruh darah warga Konoha pun tidak akan pernah cukup untuk membayarnya rasa sakitku."
Mereka? Siapa?
Itachi menangkap kebingungan Naruto. "Suatu saat kau akan mengerti. Suatu saat kau akan tahu seberapa pantas kau dekat dengan adikku."
Sebelum Naruto sempat menyela, sosok Itachi sudah menghilang di tengah lebatnya hutan. Menimbulkan banyak pertanyaan lain di benak Naruto.
.
.
.
"Aniki?" panggil Sasuke begitu melihat kakaknya masuk ke dalam gubuk.
"Kita akan makan buah hari ini, kalian pasti tidak sempat mendapatkan apa yang kuminta."
Sasuke menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Itachi. Kakaknya sama sekali tidak mau membahas apa yang telah terjadi tadi. Wajahnya masih terlihat mengeras dan menahan amarah.
Itachi tengah membereskan beberapa perlengkapan seadanya milik mereka dan memasukkannya ke dalam kantung kain yang dialihfungsikan sebagai tas. Gerakannya terlihat tenang namun terkesan buru-buru.
"Deidara, kita akan pergi dari sini sejauh mungkin. Kau ingin ikut denganku?"
Yang ditanya hanya menggaruk kepalanya bingung. Ia ingin menahan, tetapi tidak punya keberanian melihat Itachi dalam mode seperti itu.
"Aku di sini saja," jawabnya asal.
Begitu Itachi meliriknya dengan dingin, Deidara punya firasat buruk. "Kau ikut denganku. Aku berjanji akan menyelamatkan rekanmu di Tahanan Besi."
"Kau gila!"
"Tidak segila dirimu," balas Itachi tak acuh. "Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke wilayah Klan Hyuuga seorang diri."
"Hei, hei, aku ini kuat, Kawan," Deidara mencibir geli sambil menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya. Ucapan Itachi membuatnya terharu.
"Dan aku lebih kuat darimu," sahut Itachi saat sudah menyelesaikan kegiatannya. Ia mengambil dua buah jambu dan melemparkannya satu pada Deidara. Lalu memberikannya lagi pada Sasuke, ia mendekati adiknya yang duduk berselonjor di karpet. "Apakah aku terlalu keras?" katanya sambil melihat setitik darah di dahi Sasuke.
Adiknya hanya menggeleng.
"Makanlah, setelah itu kita akan pergi," katanya dengan lembut, mengusap kepala adiknya sampai Sasuke meringis. "Maafkan aku, Sasuke. Aku terpaksa melukaimu lagi."
Sasuke menggeleng lagi, memegang tangan kakaknya yang terasa amat dingin dan berkeringat. Ia sudah memutuskan untuk tidak bertanya mengenai Naruto sekarang. Ia hanya meyakinkan diri bahwa Si Blonde itu tidak mungkin mati semudah itu.
"Kemana tujuan kita selanjutnya?"
Itachi menatapnya, tersenyum. "Ke Ame. Taka mendapatkan misi penting dari Tuan Muda Deidara," godanya pada si empunya.
"Aku mendengarnya," Deidara memutar bola mata. Kali ini Itachi berulah seperti seorang bipolar.
"Aku siap!"
Itachi menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti.
Sasuke segera meralat, "Taka siap menjalankan misi ke Ame."
.
.
.
Gaara membebat luka Naruto dengan kain seadanya. Setidaknya darah dari luka itu tidak mengalir lebih banyak lagi. Mereka di tengah-tengah hutan dan tidak memungkinkan bisa mendapat tenaga medis segera.
"Kau pulanglah besok, aku akan mencarikanmu kuda."
Naruto tersenyum terimakasih pada Gaara, sungguh tidak disangka kalau pria yang Naruto anggap dingin itu memiliki hati yang baik. "Sebenarnya aku tidak ingin pulang."
Gaara tidak merespon.
Pria itu menyapukan pandangannya ke liang gua, terdapat banyak kelelawar yang menggantung terbalik di atas. Di luar tiba-tiba hujan deras, mereka masih sangat beruntung menemukan gua kosong itu sebagai tempat berlindung.
"Gaara, buatlah api," perintah Kankuro, pria itu sibuk memakan buah sisa-sisa mereka tadi. Keadaan cuaca yang bertambah dingin membuatnya kelaparan.
Sebenarnya Kankuro tidak peduli apa yang terjadi pada Si Blonde, tapi ia kasihan juga melihatnya seperti orang awam saat bertarung. Cara pria itu melawan Itachi masih masuk level rendah. Ia seperti tidak terlatih.
Ia tidak percaya kalau anak penguasa lima klan selemah ini.
"Kau mendapatkan kayu?" Naruto melihat Gaara mengangguk.
Pria berambut merah itu baru saja kembali dari bagian dalam gua dan membawa beberapa kayu. Dilihat darimana pun kayu yang dibawanya tidak akan bisa mereka gunakan untuk membuat api. Teksturnya terlihat basah dan lembab, kayu itu pasti sudah lama ada di dalam sana.
"Sepertinya kita harus menahan dingin malam ini," Gaara melupakan kayunya dan merebahkan diri di samping Naruto.
"Oh, yang benar saja." Kankuro balas menggerutu seraya membungkus tubuhnya rapat dengan jubah hitamnya. Ia segera memejamkan matanya. Beruntung ia selalu memakai jubah itu kemanapun dirinya pergi.
"Gaara?" panggil Naruto tiba-tiba, si empunya hanya bergumam. "Kemana tujuanmu setelah ini?"
Gaara melirik ke arah Naruto yang tengah bersedekap memeluk dirinya sendiri. Lalu ia alihkan matanya ke langit-langit gua, gerombolan kelelawar itu memiliki mata yang bercahaya. Hewan kecil itu mungkin terganggu dengan kehadiran mereka.
Sembari mendesah, Gaara mulai menghimpun kepercayaan pada pria kuning itu. Meskipun yang dikatakannya nanti adalah sebuah paham yang bertolakbelakang, Gaara sudah sangat menerima resikonya. Di sini, di hutan ini pria kuning itu tampak seperti orang yang berada di tengah jalan yang memiliki dua cabang.
Tidak tahu dimana tujuan. Tidak bisa menentukan arah.
"Aku juga ingin bertemu dengan Taka," Gaara menjawab, benar-benar menarik perhatian Naruto.
"Kau ingin membunuhnya?"
Gaara menggeleng. "Lebih baik dari itu."
Ya, lebih baik dari itu, namun cara penyampaian Gaara terdengar sangat ambigu. Lebih baik dari sudut pandang yang mana?
"Aku tidak mengerti," sahut Naruto sambil sesekali melirik ke arah Kankuro dan menduga pria itu sudah tertidur dengan lelapnya.
Tanpa pernah diduganya, Naruto melihat Gaara tersenyum. "Aku akan berterimakasih padanya. Bagi para anggota klan terbuang seperti kami, Taka diibaratkan sebagai seorang penyelamat."
"Penyelamat?"
"Ya, penyelamat."
TBC...
Cuap-cuap; Makasih buat semua yang review, especially yang namanya yassir ;3 Duh, sampek pingin saya cekek (karna cium sudah terlalu mainstream) di sini juga NS nya tipis, mengecewakan yaaa :') buat yang banyak pertanyaan soal Minato mungkin akan dijawab di chap depan. Daaaaan sy akan ngaret apdet sampai hari sabtu/minggu. Soalnya skrg kerjanya office hour, maklumin ya ;)
