Hari – hari sekolah telah kembali…

Siang itu seluruh murid di sekolah berjalan menuju aula. Sudah menjadi tradisi sekolah itu untuk mengadakan teater drama pada satu hari di minggu awal masuk sekolah. Drama teater kali ini bercerita tentang kisah cinta klasik antara Thiebe dan Pyramus.

Aula sudah dipenuhi oleh semua murid sekolah itu. Yong Hwa dan MinHyuk sudah duduk rapi di barisan penonton. Jong Hyun ikut bermain peran dalam teater yang akan dimainkan beberapa menit lagi dan Jung Shin berperan sebagai tim panitia pelaksana drama. Yong Hwa dan Min Hyuk duduk berdampingan di shift paling kanan. Di samping kursi tempat Min Hyuk duduk ada tangga yang memisahkan shift kanan dengan shift tengah -yang memang lebih besar tempatnya daripada shift kiri maupun kanan-.

Saat Yong Hwa sedang asyik mengobrol dengan teman-temannya yang lain, Min Hyuk menengok ke kiri-kanan, atas-bawah tanpa henti. Ia mencari sosok yang ia rindukan selama liburan hanya untuk mengetahui di mana sosok itu duduk dan dengan siapa sosok itu bersama. Sudah beberapa menit sejak ia masuk ke ruangan itu dan melakukan 'scanning' ke seantero aula. Sayangnya, Hyukkie tidak dapat menemukan sosok tersebut dengan mudah karena ada banyak sekali orang-orang di aula tersebut yang berseliweran.

Di saat acara sudah mau dimulai, Kepala Sekolah datang dan memberikan sambutan. Kehadiran beliau membuat semua murid kembali ke tempat duduknya dan mulai diam memperhatikan ke arah panggung. Begitu juga dengan Min Hyuk dan Yong Hwa yang mulai memperhatikan ke depan. Di saat itu, pandangan beberapa orang teralih dengan masuknya sosok yang dicari Min Hyuk. Ia berjalan dengan kepala tertunduk dan langsung menempati kursi di arah jam 10 Min Hyuk (shift tengah, barisan ketiga dari depan). Min Hyuk terus memperhatikan sosok yang baru mengambil duduk tersebut. Rambut sebahu gadis itu membuat Min Hyuk rindu untuk membelainya, leher perempuan itu juga makin terlihat 'enak dipandang'. Sekelebat Min Hyuk jadi berpikiran sedikit kotor karena leher itu.

Sesaat kemudian muncul satu orang lagi. Pria. Begitu pria itu masuk ke aula, ia segera duduk di samping Ji Hyun. Mengetahui siapa cowok itu, Min Hyuk sangat kesal melihatnya. Semakin kesal lagi saat ia melihat bagaimana cowok itu berbicara pada Ji Hyun : senyum dan tatapan matanya. Min Hyuk sudah cukup terbakar cemburu saat itu. Tanpa ia sadari, Yong Hwa juga memperhatikan cowok dan cewek yang duduk di arah jam 10 mereka.

Yong Hwa berbisik pada Hyukkie. "Itu Woo Hyun dan Ji Hyun, kan?"

Min Hyuk menggangguk. Dengan tatapan masih ke arah Ji Woo couple.

Mendapat kepastian dari Hyukkie, Yong Hwa mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat. Setelah selesai ia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku dan memperhatikan sambutan kepala sekolah yang masih berlangsung.

Beberapa detik kemudian kepala sekolah selesai memberi sambutan dan semuanya bertepuk tangan. Setelah kepala sekolah pergi ke belakang panggung, Woo Hyun mengambil ponselnya dan memeriksa folder pesan. Woo Hyun penuh dengan ekspresi tanda tanya saat membaca satu pesan baru dan ini membuat Ji Hyun penasaran.

"Kenapa?" tanya Ji Hyun pada Woo yang duduk di sampingnya.

Woo tidak menjawab.

Ji Hyun akhirnya ikut melihat ke arah monitor ponsel Woo Hyun. Keduanya saling bertatapan dan dengan kompak mereka mencari keberadaan Yong Hwa yang jauh ada di atas mereka. Saat Ji Woo couple menemukan sosok tersebut, Yong Hwa melambaikan tangan. Tanpa sengaja mata Ji Hyun bergerak sedikit ke kanan dan ia melihat ada Min Hyuk di sana. Min Hyuk segera memalingkan wajah begitu ia merasa Ji Hyun sedang melihat ke arahnya. Ia terlalu cemburu untuk melihat Ji Woo couple yang sedang duduk berdampingan. Matanya pun –entah mengapa- ingin sekali melirik ke arah lain padahal baru beberapa detik yang lalu ia bergumam ingin melihat wajah Ji Hyun.

Senyum Ji Hyun pudar begitu mendapati Min Hyuk bersikap dingin kepadanya.

Ji Woo kembali melihat ke depan. Min Hyuk pun kembali melihat ke depan.

"Hyukkie, bagaimana pendapatmu mengenai Ji Woo couple? Mereka cocok, kan?" Yong Hwa berbisik.

"Biasa saja," jawab Min Hyuk singkat. Tatapannya masih ke depan, ke panggung di mana Jong Hyun mulai mengumbarkan aktingnya.

"Hei, kau tidak berpikir kalau kau dan Ji Hyun akan menjadi pasangan yang lebih cocok kan?"

Min Hyuk heran dengan pertanyaan hyung-nya. Ia melirik. "Maksud hyung apa?"

"Kau kan selalu menganggap biasa hal-hal lain jika kau tidak menjadi bagian dari hal itu."

Min Hyuk hanya menghembuskan nafas dan kembali menonton pertunjukan.

Keputusan Hyukkie dan Yong Hwa untuk menonton pertunjukan memang tidak patut disesalkan. Jong Hyun bermain sangat bagus dalam perannya sebagai tokoh utama pria yang sangat mencintai wanita pujaannya. Percintaan antara seorang tertampan dengan seorang perempuan tercantik dari Babylonia.

Hyukkie yang melankolis merasa ikut masuk ke dalam cerita tersebut. Ia akan tersenyum senang setiap ada adegan di mana kedua tokoh utama itu bermesraan. Sebaliknya, Min Hyuk akan sedih dan patah hati setiap ada adegan di mana sang pria dan sang wanita tersiksa karena cinta mereka yang tidak direstui siapapun. Lebih ekstrim, Min Hyuk menjadi sangat geram ketika adegan bercerita mengenai orang-orang yang dengan berbagai usaha mencoba memisahkan kedua sejoli dalam cerita tersebut.

Namun tidak hanya Hyukkie, ternyata semua murid terpesona dengan teater kali ini. Mata Ji Hyun -yang terpana dengan kebolehan akting para pemain teater- terus menatap ke depan tanpa berkedip. Woo Hyun yang duduk di sampingnya merasa 'gatal', ingin sekali melirik perempuan di sampingnya. Woo hanya tersenyum saat ia melihat ekspresi Ji Hyun yang begitu serius hingga mematung. Dengan modal sedikit agresif, Woo memberanikan diri untuk menyentuh tangan perempuan berkulit kuning di sampingnya. Saat tangan Woo menyentuh tangannya, Ji Hyun berpaling dari teater di depannya dan menatap Woo. Woo hanya tersenyum charming. Karena malu, Ji Hyun tidak sanggup membalas pandangan Woo. Ia hanya menunduk.

Merasa ada sesuatu yang bergerak di arah jam 10, Hyukkie segera melihat ke arah itu. Ia jadi lupa adegan teater di depannya saat ia melihat tangan Woo yang berada di atas tangan Ji Hyun, perempuan yang sebenarnya masih ia minati dengan sangat. Min yang kesal mengepal tangan dan menaruhnya di depan dahi. Karena Hyukkie adalah sosok yang emosional dan sensitif, ia tidak menyadari kalau air mata kini tengah mencuat dari sudut kelopak matanya yang kecil.


Hari sudah malam. Ji Hyun sudah sampai di depan rumahnya dengan Woo Hyun yang telah bersedia mengantar menggunakan motor baru.

"Terima kasih," ujar Ji Hyun sembari menyerahkan helm yang baru saja dipakai olehnya.

"Sama-sama. Kau yakin tidak mau ditemani? Diam sendiri di rumah tidak membuatmu takut? Aku bisa menemanimu sampai waktu tidur kalau kau mau," tawar Woo Hyun.

Ji Hyun menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku sudah biasa, kok. Kau pulang saja. Besok ada kompetisi, kan? Kau harus cukup beristirahat."

"Benar? Yakin?" Woo Hyun memastikan.

Ji Hyun mengangguk sambil tersenyum.

"Ya sudah. Kalau kau butuh aku, telpon saja, ya? Aku ada di rumah Sung Jong untuk latihan sekarang."

"Baiklah."

Woo Hyun tersenyum dan segera melaju dengan sepeda motornya. "Daaahhh!"

"Dadaahhh~…" Ji Hyun melambaikan tangan dengan sedikit tertawa.

Setelah sosok Woo Hyun sedikit demi sedikit menghilang, Ji Hyun segera memasuki area rumahnya. Saat ia berbalik setelah menutup pagar, ia dikejutkan oleh seorang tinggi di hadapannya yang menghalangi jalan. Ji Hyun mendongak ke atas.

Kang Min Hyuk, dengan tatapan datarnya.

Ji Hyun masih cukup terkejut saat itu, tapi ia berusaha tenang dan mencoba melewati Min Hyuk. Min Hyuk menghalangi.

Ketika Ji Hyun berniat lewat dari sisi yang lain, MinHyuk menghalanginya lagi. Terus begitu hingga berkali-kali.

Ji Hyun menghirup nafas dan menghembuskannya dengan kencang.

"Kau mau apa?" tanyanya dengan sedikit intonasi acuh.

Min Hyuk menatap perempuan di depannya dengan ekspresi datar. Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini ia memandang perempuan itu dari jarak yang sangat dekat setelah kemarin terasa sangat jauh. Ada rindu dan benci di hatinya yang tersamar. Matanya mulai berlinang air. Ia masih menatap perempuan itu.

"Kau kenapa?" tanya Ji Hyun lagi sembari melihat ke mata Min Hyuk. Hyukkie sendiri dapat melihat ada aura kebencian di mata perempuan itu.

Ingin sekali Min Hyuk mengatakan kalau ia masih menginginkan Ji Hyun untuk mengisi hari-harinya lagi tapi entah mengapa, sulit sekali.

Ji Hyun menunggu.

Saat ia merasa ia sudah terlalu lama menunggu, ia melewati Min Hyuk untuk masuk ke dalam rumahnya. Min Hyuk yang menyadari bahwa Ji Hyun akan masuk ke rumah segera mengejar Ji dan memeluknya dari belakang.

"Jangan.. jangan masuk dulu.."

Suara bergetar itu membuat Ji Hyun sedikit tersentuh.

"Tolong. Jangan lagi pergi.. aku tidak mau..," tambah lelaki yang memeluknya.

Ji Hyun melepas pelukan Min Hyuk, membalikkan badan dan menatap wajah lembut lelaki itu. Mata Min Hyuk sudah merah dan bengkak serta ada air yang turun dari sudut dalam matanya. Wajah lelaki itu pun memerah. Min Hyuk yang manja kini sudah kembali di mata Ji Hyun.

Ji sangat tersentuh melihat Min Hyuk seperti itu.

"Maafkan aku. Kemarin saat aku berkata kasar, kau harus tahu kalau sebenarnya aku benar-benar cemburu. Kau tahu kan aku tidak bisa melihatmu berdiri dengan cowok lain seperti itu. Aku masih menyukaimu, aku tidak mau kita putus. Maafkan aku…," ujar Hyukkie.

Ji Hyun hanya terdiam. Mulutnya tidak bisa terbuka, suaranya tidak bisa keluar. Setelah menunggu beberapa lama tanpa jawaban, Min Hyuk akhirnya menyerah.

"Kau lebih menyukai Woo Hyun daripada aku, ya?"

Ji Hyun masih terdiam, lidahnya terasa kelu sekali.

"Ya sudah.. tidak apa-apa," tambah Min Hyuk.

Min Hyuk mengambil tas yang ia simpan di kursi dekat pohon di halaman rumah itu. "Maaf sudah mengganggu dan membuatmu marah waktu itu."

Min Hyuk membungkukkan tubuhnya dan berjalan menuju pagar.

Ji Hyun yang masih bingung dengan suasana hatinya mencoba berpikir jernih. Ia ingin sekali berkata kalau ia masih menyukai Min Hyuk. Sangat amat suka. Namun, ia merasa ada lubang di hatinya yang harus ia tambal terlebih dulu. Ia berprasangka kalau ia menerima Min Hyuk kembali, Min Hyuk akan membuat lubang itu semakin besar. Saat ia mengangkat kepala, Min Hyuk sudah tidak ada di halaman rumahnya lagi.


Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Semuanya dengan antusias membereskan apa yang ada di atas meja mereka dan memasukkannya ke dalam tas. Sedikit demi sedikit para murid keluar dari kelas dengan penuh semangat. Berbeda dengan yang lain, Min Hyuk memasukkan semua perlengkapannya ke dalam tas dengan perlahan, wajah lesu, dan tidak bergairah. Jika diperhatikan, mata kecil Min Hyuk penuh dengan aura dendam yang begitu dalam.

Saat Min Hyuk sudah siap untuk meninggalkan kelas, tiba-tiba..

"Min Hyuk-ssi?"

Min Hyuk menoleh ke sumber suara. Di kelas kini hanya tinggal dirinya dan seorang perempuan yang tidak pernah ia 'lihat' sebelumnya.

"Ada apa?" tanya Min Hyuk dengan mimik tidak ramah.

Perempuan di hadapannya terlihat canggung dan malu-malu. Ia menunduk dan seolah ingin mengatakan sesuatu. Sementara itu, lelaki muda di depannya menunggu dengan ekspresi wajah tidak suka.

"Kau masih ingat aku? Aku pernah mengirim pesan kepadamu saat kau habis manggung di Mark's Saturday. Aku mengatakan kalau aku ingin mengenal dirimu lebih jauh-"

"Ada seratus orang yang mengirimiku pesan singkat seperti itu. Kau yang keberapa?" Min Hyuk balik bertanya dengan ketus.

Perempuan itu makin merasa tidak enak. "Ohh.. ehmmm… Aku… aku menyukaimu setelah melihat CN Blue tampil di malam inagurasi tahun pertama. Selama ini aku tidak berani mengatakannya langsung karena aku malu. Aku hanya ingin mengenalmu saja karena aku menyukaimu, apa tidak boleh?"

Min Hyuk menatap datar wajah penuh harapan di depannya. Ia tidak menjawab dan langsung melewati gadis itu untuk keluar dari kelas.


"Ji Hyun~!"

Ji Hyun menoleh. "Ah, iya?"

Jong Hyun berlari menghampiri Ji Hyun dan tersenyum, lalu mereka jalan bersama.

"Kau melihat teater yang aku mainkan kemarin?"

"Ah.. iya, aku melihatnya." Ji Hyun menjawab sambil melihat ke depan. Ia tidak berani menatap Jong Hyun.

"Bagaimana menurutmu?"

"Bagus. Romantis klasik. Aku suka. Aktingmu juga bagus sekali." Ji Hyun menjawab dengan senyum.

"Terima kasih~. Hmm.. katanya kau pernah ikut teater saat SMP ya?" Jong Hyun mencoba agar percakapan tidak berhenti.

"Ahh.. itu.. sebenarnya itu bukan club atau pertunjukan. Sekolah memang membuat kelas seni. Ada 4 kelas, sih. Karena teater menarik, aku pilih teater. Bukan pertunjukan sepertimu, hehe.."

"Oh begitu. Hey, Min Hyuk…!" mendadak Jong Hyun berteriak memanggil seseorang di depannya.

Mendengar nama Min Hyuk, Ji Hyun terdiam. Mendengar suara Jong Hyun, Min Hyuk membalikkan badannya di kejauhan. Ia baru saja keluar dari kelas saat itu.

Jong Hyun dengan segera menarik lengan Ji Hyun dan menghampiri Min Hyuk yang berdiri beberapa meter di depan mereka.

"Min Hyuk, dengan resmi aku perkenalkan kau dengan Kim Ji Hyun. Kalian belum saling kenal secara personal, kan?" Jong Hyun dengan senyum penuh bangga mendekatkan kedua insan yang ada di sisi kanan dan kirinya. Min Hyuk menatap lurus gadis di depannya sementara bola mata Ji Hyun bergerak kesana-kemari.

Jong Hyun memperhatikan mereka bergantian. Karena kedua 'kerabatnya' terdiam sangat lama, dengan inisiatif penuh Jong Hyun meraih tangan Ji Hyun dan Min Hyuk lalu memosisikannya saling berhadapan. "Ayo.. kenalan dulu dong~..."

Karena keduanya merasa tidak enak pada Jong Hyun, keduanya memutuskan untuk bersalaman.

"Kang Min Hyuk."

"Kim Ji Hyun."

Dengan perlahan Ji Hyun melepas tangannya kemudian mereka terdiam lagi.

"Nah~, karena kalian berdua sudah saling kenal, ayo kita ke ruang band bersama-sama~..!" Jong Hyun merangkul kedua orang itu di samping kiri dan kanan.

"Ruang band?" Ji Hyun menegaskan.

"He-uhm, lihat kami main band, yuk? Jangan khawatir, akan aku antar kau pulang sesudahnya." Jong Hyun menjawab sangaaaaaaaat ramah.

Ji Hyun hanya nyengir. Ia nampak bingung, "tapi akuuu…"

"Woi.. Ji Hyun..!"

Mendengar suara itu Ji Hyun segera memutar badannya. Dari tempat ia berdiri, ia melihat Woo Hyun sekitar satu meter ada di belakangnya.

"Jadi pulang bareng tidak?" Woo Hyun menambah pertanyaan dari jauh.

"Ahh.. iyaaa!" balas Ji Hyun. "Maaf, tapi hari ini aku sudah janji dengannya. Lain kali?" tanya Ji Hyun pada Jong Hyun.

"Yaaah, sayang sekali. Baiklah. Hati-hati, ya?" Jong Hyun membalasnya sambil mengacak-acak rambut Ji Hyun.

Ji Hyun cukup 'terkesan' dan merasa aneh dengan tingkah Jong Hyun. Ia membalas dengan senyum dan segera berlari ke belakang menghampiri Woo Hyun. Dari jauh, tersurat senyum persaingan antara Woo Hyun dan Jong Hyun.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Jong Hyun dengan penuh keceriaan sambil menyenggol Min Hyuk.

"Apanya?" Min Hyuk bertanya balik dengan ekspresi ditekuk.

"Ji Hyun. Aku bicara padanya barusan dan mengajak ia menonton latihan band kita." Jong Hyun menjawab dengan setengah berbisik.

Min Hyuk setengah tertunduk dengan ekspresi datar, cukup cemburu. "Kenapa musti dia sih?"

"Maksudnya?"

"Hmph! Kau tidak lihat dia tadi pulang dengan siapa? Woo Hyun menyukai Ji Hyun itu berita lama. Mereka juga sudah dekat sejak tahun awal. Peluang Woo Hyun dengan Ji Hyun itu lebih besar dari pada Ji Hyun denganmu, kan?"

"Ohhh, jadi karena itu. Buatku selama dia masih berstatus 'bukan pacar Woo Hyun', aku akan mengejarnya," jawab Jong Hyun dengan senyum penuh percaya diri.

"Terserah kau saja lah."

Setelah kejadian Min Hyuk dan Ji Hyun yang 'berkenalan' kembali, suasana di ruang band terasa makin memanas bagi Min Hyuk. Jong Hyun kini banyak bercerita mengenai Ji Hyun : Ji Hyun yang terpeleset di kamar mandi, Ji Hyun yang tidur di kelas, Ji Hyun yang datang kesiangan, Ji Hyun yang mendapat nilai tertinggi untuk ujian biologi, Ji Hyun yang menjawab presentasi proyek dengan lancar, Ji Hyun yang membaca buku tentang kucing saat istirahat, Ji Hyun yang mendengarkan lagu-lagu klasik The Bee Gees saat guru tidak ada, Ji Hyun yang banyak makan saat istirahat makan siang, Ji Hyun yang sekelompok dengan si A dan si B, Ji Hyun yang akan melukis wajah Jong Hyun untuk tugas seni rupa nanti, dan blablabla. Semuanya serba Ji Hyun!

Min Hyuk hanya bisa diam berpura-pura mendengarkan sambil menahan emosi di hati dan panas di kepalanya. Di luar dugaan, Yong Hwa dan Jung Shin cukup tertarik dengan 'kehidupan Ji Hyun' yang diceritakan oleh Jong Hyun. Min Hyuk jadi bertanya pada dirinya : jika dia yang 'mengenalkan' Ji Hyun pada Yong Hwa dan Jung Shin terlebih dulu, akankah reaksi mereka berdua seantusias ini?

Jujur, Min Hyuk menyesal tidak melakukan itu.