Chapter 4 update. Happy reading ^^
Chapter 4
Seperti biasa, pagi-pagi sekali Kris datang ke sekolah dan melakukan kebiasaannya sebelum masuk ke dalam kelas. Sekolah masih tampak sepi karena belum banyak siswa yang datang.
Ia berdiri tepat di depan loker Tao, menempelkan sebuah sticky note yang telah ditulis dengan sebuah pesan. Setelah itu ia berjalan menuju ruang kelasnya sebelum ada yang melihatnya menempelkan sticky note di depan loker Tao.
Sebenarnya Kris masih memikirkan kejadian kemarin. Kris sangat khawatir dengan Tao. Ia tidak tahu apa Tao masih marah padanya. Dan jika Tao belum memaafkannya, Kris bertekad agar Tao mau memaafkannya dengan cara apa pun.
.
.
Mianhae T.T
-your future boyfriend-
Tao menatap secarik kertas yang menempel tepat di lokernya. Satu lagi sticky note dari Kris. Tapi untuk yang kali ini Tao tidak bereaksi apa pun. Tao mengambil sticky note itu, menyobeknya kecil-kecil, lalu membuangnya sembarangan. Ia masih sedikit kesal dengan kejadian kemarin.
Kemudian Tao berjalan memasuki kelasnya dengan muka cemberut. Kai yang melihatnya merasa bingung karena tidak biasanya Tao seperti itu. Biasanya Tao berteriak histeris saat memasuki kelas dan segera mencarinya untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Kau kenapa Tao?"
"Kris ge menyebalkan!" balas Tao seraya duduk di kursinya.
"Memangnya kenapa? Ceritakan padaku!"
Tao memandang sinis sahabatnya itu. Ia sudah malas menceritakan kejadian menyebalkan itu. Terlebih lagi pada Kai. Pasti Kai akan menertawakannya dan bukan memberikan solusi.
"Aku malas membicarakannya," tolak Tao pada Kai.
Tao sepertinya sedang sensitif hari ini. Panda yang imut dan lucu pun terkadang bisa menjadi panda yang mengerikan. Pada akhirnya Kai tidak berkata apa pun lagi pada Tao. Ia takut kalau nantinya Tao akan menendangnya atau memukulnya atau bahkan menyabetnya dengan tongkat wushu. Karena hey, jangan salah. Meskipun Tao bersikap sangat innocent, tapi sejak kecil ia sudah berlatih wushu.
"Hmm.. Ok baiklah Tao, aku tidak akan bertanya lagi.." ucap Kai.
Tao tidak menjawab apa-apa. Tao hanya diam sambil memandang keluar jendela. Kai pikir, mungkin ini ada hubungannya dengan Kris, yang waktu itu menanyakan berbagai hal tentang Tao padanya.
.
.
Kris yang hari ini bukan seperti Kris yang biasanya. Kris memang sedang mengincar Tao dan sering bertemu saat jam istirahat. Tapi Kris hari ini malah terus mengikuti Tao kemana pun ia pergi. Dan tidak hanya itu, Kris juga terus-menerus berkata maaf pada Tao tapi Tao berusaha menghindar dan tetap diam.
"Hey my sweetie panda, kau mau kemana?"
"..."
"Tao, jeongmal mianhae..."
"..."
"TAO, kumohon jawab aku!"
Tao tetap tidak menjawab. Meskipun ia sedikit risih karena Kris terus mengikutinya. Hari ini sisi lain seorang Kris terungkap. Hampir seluruh siswa yang melihat mereka merasa sangat terkejut. Kris yang biasanya dikagumi para siswi karena sifat cool nya, benar-benar terlihat berbeda saat terus mencoba mengikuti dan meminta maaf pada Tao.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi di antara Kris dan Tao. Tapi beberapa siswi merasa sangat patah hati saat melihat hal itu. Ada juga yang tertawa melihat Kris yang terus-terusan meminta maaf pada Tao. Kris memang menyadarinya, tapi ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang. Yang paling penting saat ini adalah cintanya. Ia tidak ingin kehilangan panda kesayangannya.
Kini Tao dan Kris sedang duduk di rerumputan danau belakang sekolah. Sebenarnya yang ingin ke tempat ini adalah Tao. Kris hanya mengikuti saja. Kali ini Kris tidak mengatakan apa pun seperti saat mereka berjalan di koridor tadi. Kris mempelajari satu hal baru tentang Tao yaitu, Tao suka berkunjung ke belakang sekolah untuk melihat danau. Atau mungkin lebih tepatnya lagi untuk menenangkan pikiran, begitulah yang Kris coba terka.
"Tao, mianhae..." Kris kembali angkat bicara. Ia belum mau menyerah, dan tidak akan pernah menyerah jika itu untuk Tao.
"Aigo Kris ge.. Sejak tadi gege terus mengatakan hal itu. Dan sejak tadi juga gege mengikutiku!" kali ini Tao membalas ucapan Kris.
"Itu karena kau belum memaafkanku Tao..." ucap Kris dengan lembut. Kris meletakkan tangannya di pundak Tao. Tapi Tao bangun dari tempatnya dan berlari meninggalkan Kris.
Rasanya seperti dicampakkan. Tapi memang begitu kenyataannya. Hanya karena sebuah film horor masalah seperti ini tiba-tiba muncul. Kris menyesal, sangat menyesal. Tapi apa yang harus Kris lakukan?
"Kris ge, kau sedang apa disini?" sebuah tepukan di pundaknya membuat Kris menoleh.
"Yixing.. Aku harus bagaimana?" ucap Kris setelah menyadari yang memanggilnya adalah sahabatnya.
Yixing merasa kasihan pada Kris. Tampaknya Kris benar-benar frustasi.
"Mungkin akan lebih baik jika kau move on saja ge."
Kris membelalakkan matanya. Tidak, ia tidak mau menyerah sekarang. Kris yakin Tao adalah cinta sejatinya. Dan Kris tidak mau kehilangan cinta sejatinya.
"Aku tidak mau, Yixing.."
"Kalau begitu, jangan lepaskan dia. Mudah kan?" jawab Yixing sambil tersenyum.
"Xie xie yixing. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."
.
.
Kris berjalan lemas sendirian. Jam pelajaran sudah selesai beberapa menit yang lalu. Selama pelajaran Kris sama sekali tidak menyimak pelajaran yang disampaikan oleh seonsaengnim nya. Ia terlalu sibuk dengan memikirkan Tao.
Ketika Kris melewati perpustakaan, ia melihat dari balik pintu, ada namja manis yang disukainya sedang berkutat dengan kedua buku dihadapannya. Bahkan ketika Tao sedang serius pun ia tetap terlihat cute.
Tanpa ragu, Kris masuk ke perpustakaan dan duduk disamping Tao.
"Tao.."
'DEG' Tao menghentikan kegiatannya. Ia tidak sadar kalau Kris duduk disampingnya. Tapi Tao tidak menghiraukannya dan kembali menulis sesuatu di bukunya.
"Tao ya..."
"..." Tidak ada jawaban dari Tao.
"Taozi..."
"..." Masih tidak ada jawaban.
"Tao-er..."
"..."
"Panda..."
"..."
"Chagiya..."
'BRAAK' Tao menutup bukunya dengan keras lalu menatap tajam Kris yang duduk disampingnya. Kris terus saja memanggil Tao dengan nama panggilan yang berbeda-beda. Bukannya Tao tidak suka, tapi Kris terus saja mengganggunya yang sedan serius belajar.
"Kris ge! Minggu depan Tao ada ulangan, ditambah lagi dengan tugas yang menumpuk. Sedangkan gege terus saja mengganggu Tao! Hump!" ucap Tao marah dan menggembungkan pipinya.
Bukannya Kris merasa bersalah, ia malah menganggap Tao benar-benar terlihat cute, bahkan saat ia sedang marah.
"Aku bisa mengajarimu Tao," balas Kris.
Tao tidak menghiraukan ucapan Kris. Ia memasukan semua bukunya ke dalam tas.
"Hump! Tao mau pulang saja!"
Dan benar saja, Tao membawa tasnya, pergi meninggalkan Kris. Kris mengacak-acak rambutnya frustasi. 'Kenapa aku bisa menyukai Tao? Kenapa?!' jeritnya dalam hati.
.
.
Keesokan harinya...
To: Kkamjong Kai
Kai, kirimkan nomor kontak Tao padaku sekarang juga.
From: Kkamjong Kai
Aigo Kris hyung. Ini masih sangat pagi dan hari ini hari minggu! Tapi... Hwahaha :D Jadi hyung belum bertukar nomor dengan Tao? Kekeke
To: Kkamjong Kai
Jangan tertawa kau Kim Jongin! Sudah, cepat kirim nomor ponsel Tao!
From: Kkamjong Kai
Ne hyung.. Kekeke :D
Sekitar 2 menit kemudian, Kris mendapatkan nomor Tao. Kris menatap lurus ke bawah dari atap gedung sekolah, begitu menakutkan. Menurut Kris, orang yang akan atau sudah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri adalah orang yang paling bodoh di dunia. Dan kali ini, Kris menyadari kalau dia juga termasuk orang yang bodoh. Tapi ia tetap harus melakukannya.
.
.
'Tao, apa kau masih belum memaafkanku?'
Tao menatap kaget layar ponselnya. Apa ini Kris? Ya, ini tentu saja dari Kris. Siapa lagi yang akan mengatakan hal seperti itu jika bukan Kris? Tapi kenapa bisa Kris tahu nomor ponselnya?
'DRRTT DRRTTT'
Sekali lagi Tao mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang sama. Tapi kali ini yang ia dapatkan adalah pesan bergambar dan menampilkan sebuah foto di tempat yang sepertinya tidak asing lagi bagi Tao. Di bawah foto itu tertulis:
'Melihat pemandangan dari atap sekolah memang indah. Tapi di tempat ini juga aku bisa mengakhiri hidupku.'
Shock. Itulah yang Tao rasakan. Air mata pun jatuh di pipinya. Kenapa Kris ingin mengakhiri hidupnya? Tapi Tao akhirnya sadar, ini semua salahnya. Ia terlalu egois. Kris sudah melakukan berbagai cara agar ia bisa memaafkan Kris. Tapi Tao tidak peduli. Dan karena kesalahannya, Kris berniat untuk mengakhiri hidupnya.
Tao segera berlari keluar rumahnya dengan tergesa-gesa. Atap sekolah adalah tujuannya saat ini. Tao takut jika ketika ia sampai disana, semuanya sudah terlambat. Tao tidak ingin kehilangan Kris.
Tao terus berlari hingga pada akhirnya ia sampai di depan sekolahnya. Tapi ini belum selesai, Tao harus menaiki tangga menuju atap gedung sekolah. Tao tidak peduli dengan kakinya yang sudah semakin lelah karena berlari. Ia hanya ingin menemui Kris sebelum semuanya terlambat.
Ketika sampai disana, Tao melihat seorang namja yang dikenalnya berdiri di tepi gedung dan pandangannya menatap lurus ke tanah. Syukurlah, Tao belum terlambat. Tanpa berpikir panjang, Tao kembali berlari mendekati sosok namja tinggi itu dan memeluknya dari belakang.
"Kris ge, kumohon jangan lakukan ini! Jangan terjun gege! Hwaaa!" Tao kembali menangis keras di punggung Kris.
Kris pada awalnya terkejut dengan Tao yang tiba-tiba saja muncul dan memeluknya. Kris tersenyum penuh kemenangan. Rencananya berhasil. Tentu saja ia tidak akan terjun dan menyia-nyiakan hidupnya. Dan jika Kris mati, itu berarti ia tidak akan pernah mendapatkan cinta Tao.
Kris membalikkan badannya dan menatap Tao. Ia mencoba untuk terlihat sesedih dan sefrustasi mungkin.
"Jadi, kau memaafkanku Tao?"
"Ne, gege. Tao juga ingin meminta maaf. Tao terlalu egois. Ini semua salahku gege! Mianhae!" ucap Tao. Suaranya terdengar serak dan air mata masih terus mengalir dari matanya. Kris mengusap air mata Tao dan mengelus pipinya lembut.
"Ini bukan salahmu Tao," jawab Kris dengan senyuman. Tangisan Tao akhirnya berhenti.
Dan selama beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang diucapkan. Tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati Kris. Tao bukanlah temannya. Mereka memang saling mengenal, tapi tidak dalam arti berteman. Dan Tao juga bukan namjachingu nya. Ralat, Tao belum menjadi namjachingu nya.
"Jadi... Bagaimana kalau kita menjadi teman?" tanya Kris.
Ya, mungkin ia bisa memulai dari sesuatu yang lebih kecil, seperti menjadi teman Tao. Tao membalas dengan senyuman kemudian mengangguk. Teman? Itu bukan hal yang buruk.
"Tapi Kris ge harus janji sama Tao!" Tao menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji?"
"Janji agar Kris ge tidak akan seperti ini lagi. Tao takut..." ucap Tao pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Kris. Dan pipinya juga memerah.
"Takut untuk apa Tao?" Kris tidak tahu apa yang dipikirkan Tao.
'Aku takut kehilangan Kris ge. Lebih baik aku menonton ratusan film horor daripada harus kehilangan Kris ge,' pikir Tao.
"Tao?"
"Ah! Mmm... Sudah yuk gege, kita pergi dari sini!" ajak Tao, menggandeng tangan Kris.
.
.
Berjalan-jalan di hari minggu yang cerah memang sangat menyenangkan. Terlebih lagi jika orang yang kau sukai ada disampingmu. Setelah kejadian menegangkan tadi, Kris mengajak Tao untuk berjalan-jalan sejenak.
"Tao, apa kau lapar?"
"Ne gege. Tadi Tao belum sempat sarapan," jawab Tao sambil mengelus-perutnya.
"Bagaimana kalau kita ke restoran itu?" tunjuk Kris pada suatu restoran.
"Ne, Kris ge. Aku mau mau mau!" Tao berjingkrak-jingkrak penuh semangat.
"Kajja! Kita kesana!"
Mereka masuk ke dalam restoran itu dan duduk berhadap-hadapan di dekat jendela. Kemudian seorang yeoja yang erupakan pelayan dari restoran itu menghampiri mereka dan memberikan sebuah daftar menu. Tao memegang daftar menu itu terlebih dahulu.
"Pesanlah apa pun yang kau mau Tao. Aku yang traktir," ucap Kris sambil tersenyum.
"Jinjja Kris ge? Kalau begitu aku mau pesan bulgogi, samgyetang, naengmyeong, chocolate cake untuk makanan penutup, dan dua gelas jus strawberry untukku dan Kris ge!"
Kris begitu terkejut karena Tao begitu banyak memesan makanan. Ini salahnya, karena ia bilang Tao boleh memesan apa pun yag dinginkannya. Dan pada akhirnya, inilah yang terjadi.
"Tao, kau yakin bisa menghabiskan semuanya?"
"Tentu saja gege. Tao akan habiskan semuanya!"
Kris tidak percaya. Benarkah Tao bisa menghabiskan semuanya? Tapi yang pasti, hari ini Kris akan kehabisan seluruh uangnya, dengan tambahan dimarahi orang tuanya karena terlalu boros dalam menggunakan uang. Tapi ini untuk Tao. Dan Kris bertekad untuk selalu bisa membuat tao merasa senang, meskipun Tao belum resmi menjadi namjachingu-nya.
Makanan pun datang. Di depan mereka tersaji berbagai makanan yang terlihat sangat lezat. Tao menepuk-nepuk tangannya penuh semangat. Sedangkan Kris hanya diam memandang makanan di hadapannya. Memikirkan berapa yang harus dibayarnya untuk semua makanan ini.
.
.
Setelah beberapa menit menyantap makanan pesanan masing-masing, mereka mulai merasa kenyang. Dan ajaibnya, Tao bisa menghabiskan makanannya dengan cepat. Kris percaya kalau Tao bisa menghabiskan semuanya.
"Wuah gege! Tao kenyang sekali!" ucap Tao sambil menepuk-nepuk perutnya.
"J-jinjja?"
"Ne gege. Kris ge benar-benar orang yang baik," balas Tao seraya tersenyum.
Kris berpikir, asalkan Tao merasa senang, ia pun akan merasa senang. Dan itu menandakan Tao akan segera ia dapatkan. Semoga saja.
"AYO WASSUP KRIS!"
Suara berat seorang namja terdengar memanggil nama Kris. Kris mencari sosok yang memanggilnya dan ternyata namja itu baru saja masuk ke restoran yang sama dengannya. Ia juga membawa namja lain bersamanya.
"Chanyeol? Kenapa dia bisa disini?" gumam Kris.
Namja tinggi bernama Chanyeol itu melambaikan tangannya ke arah Kris dan berjalan mendekatinya. Tao juga terkejut saat ia melihat Baekhyun. Tapi Tao tidak tahu siapa namja tinggi yang berjalan di samping Baekhyun.
"Hey Tao! Aku pikir kau masih bertengkar dengan Kris, tapi kalian sekarang ternyata sedang berkencan?" ucap Baekhyun sambil merangkul bahu Tao lalu duduk di kursi kosong di samping Tao. Sedangkan Chanyeol duduk di samping Kris.
"A-aniyo hyung! Kami tidak berkencan," jawab Tao pelan. Semburat merah muncul di kedua pipinya.
"Lalu apa jika bukan kencan?" tanya Baekhyun dengan seringaian yang muncul di bibirnya.
"Itu, tadi Kris ge ada di atap sekolah dan ia ingin te- Hump!" Dengan cepat Kris menutup mulut Tao dengan tangannya sebelum Tao mengatakan semuanya. Sangat memalukan jika orang lain tahu jika ia akan bunuh diri dengan cara terjun dari atap gedung sekolah hanya karena masalah cinta.
"T-tadi aku berada di atap sekolah dan ingin tertidur disana. Benar begitu kan Tao?" Kris menatap Tao penuh harap agar Tao menganggukkan kepalanya. Oleh karena itu Chanyeol dan Baekhyun tidak akan mengetahui kejadian itu.
"Humfhsfthm," ucap Tao tidak jelas. Mulutnya masih ditutup oleh tangan Kris. Kris yang menyadari hal itu, akhirnya melepaskan tangannya dari mulut Tao.
"Fyuh! Kris ge! Bukan begitu ceritanya! Jadi, tadi Kris ge ingin bunuh-"
"KECOA! Saat aku terbangun, ada kecoa ditanganku, jadi aku membunuhnya!" kali ini Kris kembali menimpali kata-kata Tao membuat wajah Tao menjadi cemberut.
Chanyeol dan Baekhyun saling menatap. Banyak tanda tanya muncul dipikiran mereka. Mereka bingung, apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Kris dan Tao.
Kris berdiri dari tempat duduknya dan menggenggam tangan Tao, mengisyaratkan Tao untuk segera berdiri.
"Kami masih ada urusan lain, jadi annyeong!" Kris menggandeng tangan Tao dan mengajaknya untuk pergi. Tapi sebelu itu mereka membayar makanan yang tadi dipesan.
"Jadi semuanya 500.000 won," ucap sang pelayan.
"WHAT?!" teriak Kris.
Chanyeol dan Baekhyun yang mendengar itu terus tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana rasanya dirampok Kris hyung?" ucap Chanyeol pada Kris.
Tiba-tiba saja Tao menundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan namja bermata besar itu. Tao merasa bersalah. Mungkin ia terlalu banyak memesan makanan. Kris menatap Tao yang tiba-tiba saja murung. Lalu ia mengelus kepala Tao.
"Aku baik-baik saja Tao. Kalau kau senang, aku juga senang. Sudah, jangan dengarkan mereka," Kris mencoba menenangkan Tao yang terlihat murung. Seketika wajah Tao berubah cerah.
"Benarkah itu gege?"
"Tentu saja Tao. Kau tidak usah khawatir," jawab Kris lembut.
"Xie xie gege.."
Setelah itu Kris membayar semua pesanan Tao dan dirinya sendiri. Dan kemudian mereka keluar dari restoran.
.
.
"Tadi itu siapa ge?"
"Maksudmu namja yang memanggilku tadi?"
Tao mengangguk.
"Dia adalah Chanyeol. Temanku dari club basket," jawab Kris.
"Ooh... Eh, Kris ge! Tao mau itu!" Tao menunjuk ke arah penjual bungeoppang (kue berbentuk ikan) yang ada di pinggir jalan. Tao berlari terlebih dahulu sebelum akhirnya Kris mengikutinya.
"Ahjumma, aku mau dua bungeoppang nya."
"Ne. Ini bungeoppang nya. Masih hangat," jawab bibi penjual bungeoppang itu dengan ramah.
"Ini uangnya ahjumma. Gamsahamnida."
Setelah itu Tao berbalik pada Kris yang berdiri di belakangnya. Tao memberikan salah satu bungeoppang itu pada Kris. Kris menunjukkan ekspresi yang terlihat bingung.
"Ini untuk gege. Tao merasa bersalah karena sudah menghabiskan uangmu ge." Tao menundukkan kepalanya.
"Kan sudah kubilang. Aku tidak apa-apa Tao." Kris mengelus kepala Tao lalu menerima bungeoppang dari Tao.
"Xie xie Tao."
"Seharus nya aku yang berterimakasih ge. Hwah, bungeoppang ini enak sekali!" Tao menggigit sedikit kue itu dan merasakan rasa manis dari isi kacang merah didalamnya.
'DUAAK'
Seorang namja asing tiba-tiba saja menabrak Tao dari belakang. Tampaknya namja itu terlihat terburu-buru. Dengan cepat Kris memegang pundak dengan satu tangan Tao agar ia tidak terjatuh.
"Eoh? Joeseonghamnida," ucap namja asing itu meminta maaf seraya membungkukkan badannya lalu ia pun kembali berlari.
Tapi Tao diam terpaku. Air mata muncul di pelupuk matanya.
"Tao. Kau baik-baik saja?" tanya Kris cemas.
"Bungeoppang nya jatuh ge."
"Tao..."
"Tao baru makan sedikit ge."
"Tao..."
"Hwaaa!"
Tao menangis. Kris merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan. Terlebih lagi mereka berada di tengah keramaian. Banyak orang yang memperhatikan mereka.
"Tao, kau bisa memakan punyaku. Aku belum menggigitnya."
"Tapi itu untuk Kris ge. Hiks.."
"Ini untukmu saja. Hm?"
Kris menunjukkan bungeoppang itu di depan wajah Tao. Tao menghentikan tangisannya dan menatap Kris.
"Jinjja gege?"
"Ne. Ambilah Tao."
Tao mengambil bungeoppang dari tangan Kris. Kemudian Kris mengusap air mata Tao dengan tangannya.
"Kris ge! Kenapa kau sangat baik? Xie xie Kris ge!" Tao memeluk Kris erat. Kris tampak terkejut, tapi pada akhirnya ia membalas pelukan Tao. Kris tersenyum bahagia. Hari ini ia mendapatkan dua pelukan dari Tao.
.
.
"Apa kau lelah Tao?"
"Ne Kris ge. Tapi aku senang sekali ge! Eh, sepertinya ada yang baru saja pindah rumah ge."
Tao menunjuk ke sebuah rumah di sebelah rumahnya. Terlihat beberapa mobil yang membawa barang-barah rumah tangga seperti lemari, kursi-kursi, meja dan sebagainya.
"Sepertinya aku akan mempunyai tetangga baru. Hm, Kris ge sudah dulu ya. Sampai jumpa besok di sekolah gege!"
"Ne, sampai jumpa besok Tao!"
Tao melambaikan tangannya pada Kris kemudian ia masuk ke rumahnya. Tao benar-benar menikmati hari ini. Meskipun ada sebuah insiden pada awalnya. Tapi itu tidak masalah. Menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan bersama Kris memang sangat menyenangkan.
.
.
TBC
