Chapter 4 : Revenge from the past

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genki desu ka, Minna?

Saya sudah update lagi, dan saya menyadari satu hal... SAYA BELUM MENGUCAPKAN RASA TERIMA KASIH SAYA KEPADA SEMUA ACTIVE READERS DAN SILENT READERS!

Terima kasih ya kepada active readers yang aktif mereview, memberi saran kritikan dan pujian, dan silent readers yang membaca fict ini walau hanya sekedar membaca. Juga yang sudah mem-fav dan mem-follow serta orang orang yang hanya numpang membuka halaman web fict ini saja. TERIMA KASIH SEMUANYA!

Maaf ya update nya 6 hari kemudian, di tempat saya sekarang semua modem GSM ga ada sinyal, sedangkan modem CDMA sinyalnya penuh, terpaksa ganti AHA/Flexi deh, ekekekeke...

Langsung mulai, ga usah banyak bicara ya! Check this out!

A Fantasy Fict from me

~Dreamy Cherry Blossom~

Main pair : Kagamine Rin & Kagamine Len, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Cover : OrangeCornPuff from DeviantArt

Summary :

'Apa sebenarnya aku ini? Apa aku bukan bagian dari dunia ini? Apakah ada dunia lain yang tersembunyi?' 'Kau hanyalah mimpi, kau hanya makhluk ciptaan yang tidak nyata, kau hanya hidup di dunia sebagai bayangan. Tidak lebih setelah inangmu menghapus mu dengan yang baru.'

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje karena fict pertama, pendeskripsian kurang, kesalahan eja EYD dan teman-temannya.

'Abc' : flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
'Abc' : percakapan normal
'Abc' : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

Balas membalas review seperti biasa di bawah ya...

HAPPY READING MINNA!

Chapter 4 : Revenge from the past

Normal POV

...

"Ohayou, hajimemashite. Ore wa Hiyama Kiyoteru desu. Yoroshiku onegaishimasu! Oh iya, kalian bisa memanggil saya Hiyama-sensei atau Kiyoteru-sensei, nama panggilan kalian sendiri juga tak apa, asal jangan aneh-aneh ya!"

...

"Len..."
"Len..."
"Len... Halo? Apa ada orang disana?" Ucap Rin melambaikan tangan di hadapan Len. Yang sayangnya, Len tidak mengubrisnya sama sekali.
"Oh! Si tampan dan pacarnya! Kenapa hanya berduaan di kelas di jam olahraga? Kalian mau melakukan yang aneh-aneh ya~?" Tanya Luka yang masuk ke ruangan kelas Rin dan Len.
"O.. Oh... Luka-sensei. Saya dan Len tidak pacaran kok, dan saya bingung sejak tadi pagi ia suka melamun, kami meminta izin Ryuu-sensei untuk tidak ikut pelajarannya dulu. Len seperti berada di dunia lain ya? Hehe."
"Hmmm... Merepotkan ya? Bagaimana jika ciuman selamat datang? Itu pasti lumayan untuk dicoba, ya kan?" Usul Luka yang sedang bertopang dagu lalu menepuk kepalan tangan dan telapak tangannya, mendapat sebuah ide.
"I.. Itu tidak mungkin! Ma... Masa' aku mencium Le.. Len? La... Lagipula, kenapa Luka-sensei ada disini? Kenapa?" Tanya Rin mengalihkan topik.
"Oh! Sensei hanya mengambil berkas dokumen yang tertinggal di laci meja guru. Jika Rin-chan yang pacarnya tidak mau menciumnya, bagaimana jika sensei yang menciumnya?" Goda Luka sambil menjilati bibir bagian bawahnya, di mata Rin perlakuan Luka begitu seductive sebagai guru.
"Tenang, aku ini masih muda, aku baru 22 tahun dan masih mahasiswi. Jadi wajar kan jika aku tertarik dengan anak muda seperti Akane-kun ? Ia tampan dan shota!" Luka ber-fangirling ria.

Rin langsung berpikir 'Ia esper atau apa? Dalam sejenak pikiranku terbaca! Gawat! Aku harus belajar cara membaca pikiran dari Okaa-chan!'.
Tepat saat Rin berpikir dengan wajah suram dan Luka berkata Shota di hadapan Len. Sontak Len langsung sadar dengan guratan empat siku-siku yang menyatu di dahinya, Len sedang kesal rupanya.

TWITCH! TWITCH!

"Siapa yang berkata Shota?" Tanya Len geram
"Wah? Siapa ya?"
"Le.. Len tenang lah, dia itu guru. Tahan emosimu." Cegah Rin dengan tubuh bergetar.
"Jika Rin yang berkata demikian, baiklah."

Saat Luka tertawa, Len sedang kesal, dan Rin yang menghela nafas lega, ada sesuatu yang mengamati mereka, benda seperti bola mata yang tertempel di dinding kelas. Sementara itu di suatu tempat...

"Hmmm, menarik. Sepertinya dopple itu sudah mengerti emosi, ia hampir seperti manusia. Pergilah menjadi Len, dan buat Akane Len atau siapalah dia itu pingsan lalu tarik ia paksa berasimilasi denganmu. Kau pasti penasarankan dengan kehidupan Len? Tentang temannya? Bagaimana ia berinteraksi? Seperti apa kehidupannya dengan salah satu agen kita?" Celoteh seseorang sambil memberi perintah kepada seseorang lagi yang berambut putih yang kelamaan berubah menjadi surai emas seperti Len.
"Baiklah, Master. Memang aku penasaran akan ku ambil alih dia sehari ini. Aku hanya tinggal menunggu waktu tepat. Lagipula kemana kedua orang itu? Code : Frozen Butterfly dan Code : Violet Stingray?" Tanya orang yang berubah warna rambutnya tadi.
"Mereka ya? Sepertinya mereka berdua terlalu terlena dengan kehidupan dunia ini. Apa mereka ingat apa kita ini sebenarnya? Dan apa tugas kita ke dunia ini? Sebentar lagi Nanohanagou akan mekar, dan kejadian ini hanya terjadi beberapa ribu tahun sekali." Ucap sang pria yang dipanggil Master.
"Entahlah, saya akan pergi mengerjakan tugas saya. Code : Silver Tiger undur diri."
"Baiklah, cepat kerjakan. Aku penasaran akan hasilnya. Khukhukhukhu..."

Len sedang berjalan pergi dari kelas, ingin ke kamar kecil. Saat sedang berjalan, ia melihat ada seseorang di depannya, Len kaget, orang itu mirip dengannya. Sesaat Len merasa tangan kirinya terasa terbakar, orang di depannya menunjukan mata yang begitu diingatnya, mata dingin dan tidak berambisi, begitu kosong dengan iris crimson yang membingkai sempurna di pupil matanya yang hitam.

Len lepas kendali, matanya kosong, menatap hampa orang di depannya. Punggung telapak tangan kirinya terbuka seperti sayatan dan muncul benda bulat yang berputar-putar seperti satu minggu yang lalu. Lengan kiri Len berubah bukan lengan manusia lagi. Lengan kirinya memiliki permukaan keras seperti baja, ada beberapa ujung tajam mencuat dari lengan kirinya dan lengan itu terbakar oleh sesuatu berwarna hitam.

Seketika Len ambruk dan lelaki yang ada di depannya menghampiri Len lalu menyentuh lengan kiri Len. Len menghilang tanpa sebab, hanya ada lelaki yang menyentuh Len tadi. Iris matanya menoleh ke belakang lalu tersenyum sinis entah pada siapa.

'Len' palsu ini berjalan ke lapangan dan menghampiri kelas olahraga Ryuu-sensei. Hanya dalam sekali tatap ke arah tengah lapangan atletik, lapangan itu langsung bergetar hebat. Lelaki ini hanya tersenyum sinis saat menatap orang-orang yang kebingungan kenapa lapangan bisa bergetar. Bahkan ada yang panik berteriak gempa.

'Len' dengan langkah tegap dan ketukan kaki yang menggema di koridor sekolah berjalan kembali ke ruang kelasnya. Di sana masih ada Rin dan Luka yang berbincang-bincang dengan serunya. Rin dengan wajah memerah dan Luka yang terus menggoda Rin, sejenak 'Len' berdecih sambil menatap mereka horror.

"Rin, Luka!" Panggil 'Len'.
"Oh Len! Dan jangan panggil sensei dengan nama depannya! Itu tidak sopan tau!" Jawab Rin.
"Hmmm, ini menarik. Mau menggoda ya tampan?" Goda Luka dengan wajah yang dibuat-buat.
"Aku bukan mau menggoda, bagaimana jika kita 'bersenang-senang' malam ini, manis?" Jawab Len dengan senyum sinis dan memegang dagu Luka.
"Le... Len?! Ka... Kau tidak sopan! Maafkan dia Luka-sensei,dia memang tidak sopan! Len! Hentikan!" Jerit Rin.
"Tidak apa-apa, aku suka lelaki possesive seperti Akane-kun. Akane-kun daripada bersamaku malam ini, kenapa kau tidak mengajak pacarmu kencan saja? Ia masih muda dan menarik, aku sudah punya pacar. Jadi, maaf ya. Khukhukhu..." Jawab Luka.
"Hmmm, boleh juga. Rin ayo kita ke rumah ku sepulang sekolah. Aku ingin memperkenalkan mu dengan Yuki, dan Gakupo tidak pulang malam ini. Aku takut ia kesepian." Pinta Len dengan nada mengharap dan senyum memelas.

Rin terkejut dengan perubahan sifat Len. Ia khawatir, Len seperti bukan Len saja. Len yang cool dan acuh tak acuh berubah menjadi Len yang possesive lalu berubah lagi dengan perilaku seperti anak kucing? 'Ini aneh' Pikir Rin.

Bel sekolah telah berbunyi sedari tadi. Rin masih terus menatapi Len yang menata bukunya ke dalam tasnya. Rin masih penasaran dengan apa yang ditanya Luka tadi dengan berbisik pada Rin 'Rin-chan, apa iris mata Len berwarna crimson bukannya azure ya? Apa ia menggunakan lensa kontak?'.

"A... Ano Len. Apa kita jadi ke rumah mu?" Tanya Rin gugup.
"A... Aku sebenarnya ada janji sama Teto mau menjenguk Miku ke rumahnya." Lanjut Rin.
"Kalau begitu, aku ikut. Aku ingin melihat BaKaito dan pacarnya. Hihihihi." Canda Len.
"Ba... Baiklah, setelah itu kita bisa ke rumah mu." Jawab Rin dengan helaan nafas.

Rin makin merasa aneh dengan Len. Sepanjang perjalanan Len diam, biasanya ia mengeluh jika berjalan kaki karena hari ini Rin tidak bawa sepeda. Len hanya diam, memandang jalanan kosong sambil sesekali tersenyum sinis saat melihat sesuatu yang mencurigakan. Karena sepanjang perjalanan ini begitu banyak kejadian aneh. Mulai dari seorang anak kecil yang jatuh dari dahan pohon saat Len menatapnya, tiang listrik yang tiba-tiba meledak trafonya saat Len juga menatapnya, atau air sungai yang tiba tiba menjadi keruh darah seperti ikan-ikan di dalamnya mati semua saat Len menatapnya.

Rin curiga, semua hal aneh terjadi bertepatan saat Len menatapnya, setiap kali Len ingin menatap Rin, Rin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Satu kata, takut.

...

Rin's POV

...

Hari ini begitu aneh. Pertama, Len terkejut dengan kedatangan guru baru. Kedua, Len sering melamun di kelas. Ketiga, Len pergi ke toilet dan saat kembali sifatnya mendadak berubah dan ia juga mamakai lensa kontak atau apalah itu karena iris matanya menjadi crimson. Dan saat ini, banyak hal aneh terjadi sepanjang perjalanan kami. Aku khawatir Len tidak fokus dan tengah mengalami masa sulit, ia banyak diam lalu berubah tempramen dengan cepat. Menurutku kejadian seperti ini khas anak puber, tapi sifatnya sekarang lebih serius untuk ditanggapi. Apa ada hal dari Len yang tidak ku ketahui?

"Rin, sudah sampai."

Aku terhenyap hingga berjalan terlalu jauh, aku segera menghampiri Len hingga ada satu hal yang membuatku sadar. 'Sejak kapan Len tahu rumah Miku?'

"Hey Rin! Len! Cepat masuk!" Teto berteriak memanggil ku dan Len dari jendela kamar Miku di lantai dua.
"Hai'! Ayo Rin kita masuk." Ajak Len, sejenak ku tepis pikiran khawatir ku pada Len, sekarang Miku lebih penting.

Rumah Miku selalu sepi, kata Miku orang tuanya bekerja dari pagi hingga malam. Terkadang mereka pulang cepat dan membawakan beberapa hadiah untuk Miku. Keluarga Miku tidaklah buruk, itu pikirku.

"Ayo, ayo! Miku dan Kaito di atas sini!" Ajak Teto.

Apa Teto sudah tau penyebab Miku demam ya? Aku saja belum tahu tapi sepertinya ini berhubungan dengan Kaito, ia bersedia menjaga Miku saat orang tua Miku tidak ada dan ia pun berani absen dari sekolah. Untung saja tadi ada pergantian wali baru, untuk hari ini sepertinya nasib sedang berpihak dengan gelagat Kaito. Jika dia alasan absen hanya untuk menjaga Miku saat wali kelas masih Kotomi-sensei, habislah ia di ruang konseling selama 3 jam penuh.

Saat kami sampai, Kaito tengah memegang telapak tangan Miku dengan wajah khawatir, Miku sendiri bernafas tersendat-sendat dan banyak keringat bercucuran dari dahinya. Aku yakin ia banyak pikiran dan terlalu lelah hingga menjadi seperti ini.

"Wah, wah. Sang pangeran menjaga putrinya? Manis sekali sikapmu, khukhukhu..." Ejek Len tiba-tiba.
"Diam kau Le..." Ucapan Kaito terhenti saat menatap Len, apa ada yang salah ya?
"Yo, aku di sini. Kaito..."

Kaito kalut, tubuhnya menegang sedikit. Nyalinya untuk memarahi Len hilang seketika. Apa ada yang salah? Kaito langsung berdiri tegap dan menarik lengan Len. Setelah 5 menit mereka keluar, Kaito kembali dengan wajah terkejut dan agak terlihat takut, sedangkan Len tetap tenang dengan hiasan senyum sinis di wajahnya. Apa yang terjadi ya?

Pukul 4 sore lewat 20 menit kami pulang dari rumah Miku. Len menatap benci sekelilingnya, mata nya tidak menunjukan ambisi di sekitarnya. Daripada benci mungkin lebih bisa disebut tatapan bosan .

"Rin, apa kau suka dengan dunia ini? Begitu banyak kebencian dan penderitaan, tidak ada tempat berbagi dan saling menerima di sini. Mereka yang katanya berteman, lambat laun akan lupa. Mereka yang katanya saling suka, lambat laun akan saling benci. Mereka yang niatnya hidup dengan sebaik-baiknya, jika sudah mengetahui hal lebih dari yang mereka perlu, lambat laun akan kehilangan semangat hidupnya. Apa kau suka dunia seperti ini?" Tanya Len tiba-tiba.
"Eh? Aku tidak mengerti apa maksudmu. Bisa kau perjelas?" Jawabku.

Len tiba-tiba mendorongku ke sudut tembok, tangannya menahan kedua tanganku. Tangan lainnya memegang daguku. Salah satu kakinya berada di selangkangan ku. Ia tak berniat melepaskanku, ada apa denganmu... Len?

"Akan ku perjelas, Rin." Bisiknya di telingaku.

Aku bisa merasakan ada sesuatu yang lembut dan basah membasuh telingaku yang lambat laun turun ke leherku. Aku menutup mata, tidak berani melihat apa yang terjadi.

"Nghh... Aahh, Le... Len." Tanpa sadar aku mendesah dengan perlakuan Len. Sebenarnya apa yang ia inginkan sih?!
"Len... Cu.. Cukup!" Sentak ku.
"Tenanglah Rin, ini tak akan lama." Jawab Len.

Aku hanya pasrah diperlakukan Len seperti ini. Jalan ini begitu sepi, tak akan ada yang menolongku. Len, Len kau kenapa?

"Len... Ahh... Lepaskan."
"Sebentar lagi Rin. Aku tidak akan menyakitimu."

Saat kurasakan tangan Len menyusup ke dalam baju ku, tanpa sadar aku menamparnya, mencoba mengembalikan rohnya ke dunia ini.

PLAKK!
"Len! Len! Sadar! Apa kau mengerti dengan yang kau lakukan?!" Gertak ku dengan wajah marah.
"Ayolah Rin, bahkan Dewi Fortuna juga tahu jika kau menikmatinya tadi." Jawab Len enteng, seakan tamparanku hanya bagaikan hembusan angin di pipinya.
"Len... Hiks, hiks... Kau kenapa Len? Apa aku berbuat salah kepadamu? Apa aku terlalu cengeng di matamu? Len, jawab aku!" Aku menangis, mencoba menahan rasa kesalku pada Len. Kemana Len yang dulu? Apa ada sesuatu yang terjadi, namun tidak ku ketahui?
"Kau... Hanya alat dihadapanku, Rin."

Sontak aku menangis, bulir demi bulir air mata tak kuasa lagi ku tampung di kelopak mataku. Apa ini? Kenapa begitu sakit? Walau tubuhku tidak terluka, namun sakit ini... Begitu menusuk.

"Kemana..."
"Kemana Len yang dulu?"
"Kau kemanakan Len yang dulu?!"

Seketika aku berlari dari kenyataan, pergi meninggalkan Len yang terkejut. Aku berlari dan sesekali menoleh ke belakang, Len memegangi kepalanya terus menerus, sempat terbesit pikiran untuk menolongnya, aku begitu khawatir. Namun, entah kenapa kakiku terus berlari dan tidak memilik keinginan hanya sekedar untuk berhenti melangkah. Apa yang salah denganmu, Len?

...

Len's POV

...

'Dimana aku? Tempat apa ini?'

Hal pertama yang bisa kulihat adalah hitam, hitam hingga ada sebuah cahaya yang menunjukan Rin. Ia sedang menangis sambil berkata 'Len, Len', Sontak aku bingung, aku disini dan ia mencariku? Aku mencoba merasakan sekitar, dan kembali menatap cahaya yang menampilkan sosok Rin di hadapanku.

Saat itulah aku sadar, lelaki itu. Lelaki yang kutemui di koridor sekolah, ia membuatku pingsan hanya dengan tatapan. Aku mengerti, tubuh ini tubuhku namun, jiwanya entah perasaan atau apa, aku merasa jika jiwa di dalam tubuh yang diajak bicara oleh Rin itu bukan aku, bukan jiwaku. Aku tidak mungkin meninggalkan Rin, aku tidak mungkin membuat Rin menangis, dan aku tidak mungkin membiarkan Rin berlari sendirian.

'Keluarkan aku.'
'Panggil aku.'
'Gunakan kekuatanku.'

'Pandora'

Dan saat aku mencoba mengartikan kata-kata bisikan barusan. Aku merasa tangan kiriku terbakar oleh sesuatu berwarna hitam. Lalu semua gelap.

...

Normal POV

...

'Len' terus memegangi kepalanya, ia sadar jika dopplenya memberontak lagi. Dalam sekali tatap, hal mengerikan terjadi. Tubuh Len terbakar api hitam dari dalam api muncul sosok dengan lengan kiri penuh sudut tajam yang mencuat dan lagi-lagi bola mata di punggung telapak tangannya. Sedangkan tubuh Len yang terbakar berubah, warna rambutnya menjadi putih dan bentuk bajunya pun berubah. Sosok mengerikan tadi lama kelamaan memudar dan berganti wujud seperti Akane Len yang biasanya, dengan surai emas dan iris azure.

"Cih, sulit menangkapnya paksa."
"Paling tidak aku harus membunuhnya untuk mau berasimilasi denganku." Ujar lelaki berambut putih tersebut.

Lelaki berambut putih itu menggerakan tangannya seperti membelah udara, dari gerakan tersebut udara seakan terbagi menjadi dua dan membuat lubang hitam. Lelaki itu memasukan tangannya ke dalam saku, lalu melewati lubang itu.

"Heh, kita akan bertemu lagi, Len."

Lelaki itu hilang bersamaan dengan tertutupnya lubang di udara tadi.

...

"Cepat pergi cebol! Aku akan melindungimu!"
"Ta... Tapi Len! Itu berbahaya!"
"Cepat tangkap anak itu! Sebelum ia kabur lagi!"
"Len, Len!"
"Pergi cebol! Kau tak mau orang tua mu khawatir kan?!"
"Len! Ikutlah, ikutlah bersamaku!"
"Tidak! Tugasku di sini, dan di sinilah aku akan melindungimu! Kaburlah, mereka tidak ada urusan denganmu, mereka ada urusan denganku!"
"Hiks, hiks... Aku pasti, pasti akan selalu menunggu di taman ini Len!"
"Akan ku tunggu kau juga."
"Setiap malam! Akan ku tunggu!"
"Hey! Bocah satunya akan kabur!"
"Biarkan! Kita hanya butuh youkai sialan di depan itu!"
"Pergilah. Akan selalu ku ingat janjimu..."

...

"Hah, hah, hah. Dimana aku?" Len tersadar dari mimpinya barusan. Ia baru bangun dari pingsannya.
"Huh? Kenapa aku ada di sini? Seingatku aku tadi masih di sekolah?"
"Ah! Lelaki, lelaki di koridor!" Len langsung sigap berdiri, saat ia mau berlari. Ia baru sadar sekarang sudah malam, ia tak tahu pastinya jam berapa.
"Mimpi barusan? Seperti film dokumenter, selalu berputar dan pasti ada lanjutannya. Taman? Aku bermimpi tentang taman di kota ini?" Len bertanya pada dirinya sendiri, kakinya berjalan dengan sendirinya hingga sampai di taman yang ada dalam mimpinya.

Len mencoba duduk di salah satu bangku taman, semilir angin menenangkan hati Len. Ia mencoba untuk tertidur di taman itu 'masa bodo dengan keadaan' itulah yang ada di pikiran Len. Hingga seseorang dengan baju Miko datang ke taman dan berhenti sambil memegang mulutnya dengan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca ia menangis antara senang, takut, dan bingung.

"Huh? Rin?" Panggil Len ke orang yang diam di pintu taman tersebut.
"Rin? Apa itu kau?"
"Rin, Hey! Rin!"

Rin berlari saat melihat jika yang duduk di bangku taman adalah Len. Len bingung dan frustasi dengan yang terjadi dengan hidupnya.

"Sebenarnya, sebenarnya apa yang terjadi dalam hidupku?"

...

Chapter 4 completed!

Akhirnya yang saya takutkan muncul juga, kenaikan rating. Saya tidak akan menaikan rating fict ini ke M, saya hanya akan membumbui fict ini agar selain genre Fantasy dan Romance, genre Hurt/Comfortnya juga terasa sebagai genre ke 3. Jadi maaf jika terkesan memaksa.

Di sini Luka berperan sebagai guru PKL pada tau kan PKL apa? Jadi sebenarnya Luka masih kuliah dan ia satu universitas dengan si bakanasu :3 ~~

Saatnya balas review :

-To reviewer named Hikari-me

Ini updatenya dan makasih reviewnya ^^.
Aku juga nunggu fict kamu loh, yang If ghost fall in love sama yang Childish. Hehehehe.
Fict aku cuma pakai istilah awam kok, ga sampai istilah rumit kaya syair dari Shakespear, ekekeke.
Tetep aja nulis humor itu, sesuatu yang sulit bagiku... Bingung aja cara nulisnya gimana..
Makasih lagi ya atas reviewnya!

-To reviewer named Shiroi Karen

Miku emang begitukan? Selalu over di semua masalah? Hahahahaha
Kaito punya tugas, nanti juga tahu ^^ dan saya tidak mau spoiler #Dorrr
Rin dan Len sudah bertemu sejak kecil? Mungkin ^^ dan...
MIKU MEMANG PERVY #PLAK
Makasih atas reviewnya, ini updatenya!

-To reviewer named Alfianonymous22

Ceritanya keren? Makasih!
Saya sudah berusaha agar fict ini mudah dibaca tanpa terlalu banyak istilah rumit, apa sudah demikian?
Jadi inget main pokemon di GBA, loadnya pake password yang supeeeeeeeeeeeer panjang! Hehehehe.
Yosh! Ini updatenya! Makasih ya reviewnya!

-To reviewer named CoreFiraga

Konsep? Kenapa sama konsepnya? Jelek yah? Atau bagus? (PeDe amat sih kamu, Aprian... -_-)
Kaito nolak Miku? Itu diawal, saya ga berani jamin kelanjutannya, hehehehe..
Yosh! Ini updatenya! Makasih ya reviewnya!

-To reviewer named Chifa

Suka sama ceritanya? Makasih!
Kamu ga suka LenMiku? Padahal aku suka sih, Cuma kalau ada yg ga mau ngelanjutin ya ga apa deh, toh di arsip (cielah, arsip) saya nulisnya sudah terlanjur LenRin ^^
Kaito jahat? Mungkin hanya di awal, hehehehe.
Yosh! Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Namikaze Kyoko

Len mungkin akan lebih 'gila' dari yang sekarang, lihat saja nanti, khukhukhu...
Emang sih, Len itu pantesnya kalo ga sama Dell, Kiyo, atau nggak Rei kalau mau dijadiin hero ama villain, kalo sama chara lain kurang gimana gitu.
Yosh! Ini updatenya! Makasih reviewnya!

-To reviewer named Chalice07

Hehehehe, saya niatnya mau bikin Luka itu, tsundere nggak, yandere juga nggak (nah loh, terus apa dong?) ya pokoknya begitu deh...
Len itu gentleman! Ga akan sembunyi dari Kiyo, ekekekeke (SFX : Gentleman – PSY)
Ya itu mungkin kalau si cebol di mimpinya Len itu Rin... kemungkinannya 99% (Woy itu mah udah pasti bukan kemungkinan!)
Main audition? Kangen dah, charanya ada di temen semua sih. Sekarang main dragon nest itu juga di laptop, bukan PC. Karena PC sudah dijual monitornya yang entah uangnya mau buat apa, Cuma ada CPUnya di rumah T_T...
Yosh! Ini updatenya! Makasih reviewnya!

Maafkan saya kalau ada cara membalas yang kurang berkenan di hati para reviewer.. saya mohon maaf.
Dan akhir kata, pembaca yang baik selalu meninggalkan pesan dan kesan ^^ jangan terlalu pedas ya! Karena review kalian adalah penyemangatku untuk menulis! Dadah!

Best regards,
Aprian