Akutagawa Ryuunosuke, 20 tahun, 11 April.
.
Nafasku memburu, aku melihat pada kedua tanganku yang bernoda darah. Warnanya masih merah terang, bau amis juga masih tercium dengan jelas. Tiba-tiba tubuhku terasa lemas, dan aku mulai kehilangan keseimbangan. Tapi seseorang menangkap tubuhku dari belakang.
Sinar matahari sore menembus ruangan yang suram ini. Gin menangis, Chuuya-san berdiri tanpa suara. Peralatan rumah kotor dan berantakan seperti biasa. Masih ada jejak alkohol semalam, dan selimut yang tergeletak dilantai dengan becak noda coklat permanen.
Namun aku tidak menemukan ayahku disini. Entah bagaimana dia pergi, aku tidak tahu.
Perasaan marah dan sedih saat aku menyerangnya beberapa menit yang lalu masih terasa didalam diriku. Aku tidak tahu apa yang menahanku untuk tidak menikam dirinya. Aku tidak tahu bagaimana bisa hatiku melepaskannya, ini tidak seperti diriku yang biasanya.
Sejujurnya aku tidak ingin membunuh ayahku, aku juga tidak ingin dia mati. Tetapi, sikapnya belakangan ini semakin membuatku muak, tutur kata dan sikapnya benar-benar diluar kemanusiaan. Aku ingin menangis untuk Gin, tapi tidak bisa.
Aku ingin berteriak, aku ingin memukul, aku ingin menedang dan menghancurkan semuanya. Tapi nyatanya aku tidak berbuat apa-apa sejak tadi.
"Chuuya-san maafkan aku, aku baik-baik saja. Pergilah."
Suaraku keluar dengan kering, sangat kontras dengan hatiku yang masih menahan amarah. Itu tidak terdengar seperti suaraku pada hari-hari biasa.
Hening sejenak sebelum Higuchi dan Tachihara datang membawa Gin keluar. Aku masih berada ditempat yang sama, kali ini aku duduk bersandar tembok. Sedangkan Chuuya-san ikut mengantar mereka keluar ruangan.
Darah segar masih mengalir dari luka sayat ditelapak tanganku. Alih-alih aku menusuk ayahku dengan pecahan botol alkohol, aku hanya berakhir membantingnya dan melukai tanganku sendiri. Dan saat itu Chuuya-san berteriak keras, menahan diriku yang sudah terluka.
Aku menarik rambutku frustrasi, tidak peduli jika bercak darah akan menempel disana. Tolong katakan sesuatu, aku tidak tahu harus bagaimana untuk saat ini. Aku menatap nomor Dazai-san sejenak. Aku tidak peduli lagi dengannya, nyatanya dia pasti akan menganggap ini seperti hal biasa terjadi. Tapi sejujurnya aku tidak merasa begitu. Aku butuh seorang pendengar. Seseorang yang cukup baik untuk mengerti diriku.
Jika ada.
Aku kembali menggeser layar ponsel, dan menemukan nomor Atsushi. Bahkan disituasi seperti ini aku lebih menginginkan kehadirannya. Aku ingin melihat matanya, aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin memberitahukannya, bahwa aku sendiri memiliki masalah didalam diriku. Aku hanya bersikap seolah semua baik-baik saja.
Hei, aku nyaris membunuh ayahku sendiri, ayah yang membesarkanku, ayah yang membiarkan aku tumbuh hingga saat ini, dan ayah yang memukulku setiap hari. Ayah yang melihatkan neraka dunia padaku setiap aku dan Gin kembali dari sekolah.
Sejujurnya aku sudah membunuhnya, aku sudah membunuhnya didalam hatiku berkali-kali sampai aku lupa berapa kali aku sudah membunuhnya. Sungguh, aku ingin membunuhnya. Tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk sekarang. Kepalaku masih terasa berat.
.
'Atsushi, aku ingin bertemu denganmu sekarang.'
.
#
. end.
a/n: Akutagawa X HyyH notes. Maaf anggep aja ini AU(?) authornya oleng soalnya.
BTW malah jadi kangen shin skk /heleh/ tak adakah yang mau ngasih hasup shin skk /heh/
Thank you for all your kind comment, ga mungkin dibales satu-satu kayaknya (atau udah ku bales tapi lupa LOL) pokoknya makasih buat yang udah komen entah di ff ini atau yang lain. hjhjjhjkjjk
…
ok this done.. I think. Harusnya sih~ Bye~~
