"Apa kau bercanda?" Naruto merapatkan gigi - giginya dan mengepalkan kedua tangannya erat. Kalau bisa, Ia benar - benar sangat ingin menghancurkan rumah sakit yang mempermainkan dirinya.

"Maafkan kami, Tuan. Tapi darah anda tidak cocok dengan Nona Hinata. Dan stock darah di rumah sakit kami yang mempunyai kecocokan dengan nona Hinata sedang kosong." ujar sang perawat berusaha menjelaskan.

"Aku saudara kembarnya! Bagaimana mungkin darah kami tidak cocok?! Jika kau bercanda semua ini tidak lucu! Akan kutuntut rumah sakit ini jika terjadi sesuatu pada adikku! Kau paham?!" teriak Naruto murka.

"Hentikan Dobe! Kau membuat keributan di rumah sakit!" Sasuke menahan tubuh Naruto yang hendak kelepasan menghajar perawat itu.

"Pakai saja darahku." ujar Sakura menawarkan diri. Gadis merah jambu itu masih mengingat jelas saat ketika Ia dan Hinata pergi untuk mendonorkan darah mereka tiga bulan yang lalu. Dan kalau Ia tak salah ingat, golongan darahnya sama persis dengan golongan darah sahabat indigonya.

"Silahkan ikut kami, Nona. Kami akan memeriksa kecocokan darah anda dengan Nona Hinata." Perawat itu mempersilahkan Sakura untuk masuk ke dalam ruangan.

Sementara Sasuke membawa Naruto untuk keluar, menghirup udara segar demi menenangkan sahabat pirangnya yang saat ini sedang dalam kondisi kacau.

•••

"Apa yang ada dalam pikiranmu, dobe?" tanya Sasuke saat melihat sahabat kuningnya memijat pelipisnya, memutar otak tentang apa yang baru saja dikatakan oleh dokter dan para perawat kepadanya.

"Entahlah teme. Kedua orang tuaku mempunyai golongan darah AB begitu pula denganku. Namun Hinata - "

"Apa kau baru menyadarinya sekarang dobe?" ucap Sasuke dengan tawa remeh. Ia tak menyangka sahabatnya se-naif itu sampai baru menyadari fakta tentang kembarannya.

"Maksudmu? Hinata bukan?"

"Itu sudah terlihat jelas dari fisik yang kalian berdua miliki. Apa kau tidak menyadari perbedaan iris mata dan surai indigonya yang tampak sedikit lebih unik daripada Minato Jii san, Kushina Baa san dan dirimu?"

"Hentikan teme. Aku tak mau membahas omong kosong ini lagi. Hinata adikku dan tak akan ada fakta lain yang mampu merubahnya." ujar Naruto.

Dalam hati kecilnya, pemuda itu akan sangat senang jika Hinata bukanlah bagian dari keluarga Uzumaki sehingga Ia mampu untuk mengutarakan perasaan yang sudah lama Ia pendam namun Ia tak mampu membayangkan betapa sedihnya Hinata jika gadis itu mengetahui bahwa selama ini Ia hidup dengan orang tua dan kakak yang bahkan tak memiliki ikatan darah dengannya.

"Bukankah kau akan bisa menyatakan perasaanmu padanya? Toh kalian tak terikat hubungan darah apapun." timpal Sasuke sambil menyesap kopi hangatnya.

"Ya kau benar. Belakangan ini aku merasa seperti orang aneh. Aku menginginkan dirinya, tubuhnya serta kehangatannya. Dan aku terhalang oleh status kami yang adalah saudara kandung. Namun meski Ia bukan saudara kandungku, aku pun tetap tak akan pernah melakukan hal itu karena ada satu hal yang perlu kau tahu teme." Naruto menghela nafasnya.

"Aku tak akan pernah mengorbankan kebahagiaannya demi memuaskan egoku sendiri. Tidak lagi." ucapnya mantap.

•••

Sudah lebih dari tiga jam berlalu, Hinata sudah berhasil melewati masa kritisnya berkat Sakura yang mendonorkan golongan darah langkanya pada gadis indigo itu.

"Bagaimana keadaanmu sayang?" Sasuke menghampiri Sakura yang terbaring lemas akibat menyumbangkan cukup banyak darah pada sahabat indigonya.

"Aku baik - baik saja, hanya sedikit pusing. Bagaimana dengan Hinata?" tanya Sakura.

"Dobe sedang menemaninya." ujar Sasuke, tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan Sakura dan mengelusnya pelan.

"Syukurlah." ujar Sakura lega sembari memejamkan iris emerald-nya.

"Beristirahatlah, aku akan menjagamu." ujar Sasuke sambil mengecup dahi sang kekasih dengan lembut, membuat Sakura tersipu malu.

•••

"Hinata, kenapa kau selalu melakukan hal - hal bodoh, kenapa?" cicit Naruto pilu. Kedua tangannya menggengam erat pergelangan tangan sang adik yang tertancap oleh selang infus.

Self injury.

Sejak kapan Hinata mulai melakukan kebiasaan berbahaya itu?

Sementara dalam tidur lelapnya, air mata rasa bersalah mengalir dari dalam pelupuk mutiara lavender Hinata. Naruto hanya mampu terdiam, jari - jarinya mengusap air mata itu dengan lembut, menangkup tangan dingin sang adik dalam dekapannya dan menunggu waktu yang tepat untuk meminta penjelasan pada sang adik.

•••

Hanya butuh waktu dua hari sebelum akhirnya Hinata diperbolehkan untuk pulang oleh pihak rumah sakit yang merawatnya. Dengan pulangnya Hinata, maka masa liburan mereka di Iwa pun telah usai.

Sasuke harus segera pergi mengunjungi kakak laki - lakinya di New York untuk mempelajari perkembangan bisnis perusahaan Uchiha di sana sementara Sakura harus menghabiskan sisa liburan musim panasnya untuk mempelajari ilmu kedokteran di rumah sakit yang dikelola oleh neneknya.

"Maafkan aku." Hinata menundukan kepalanya pada Sakura dan juga Sasuke, gadis itu merasa bersalah sudah mengacaukan liburan singkat musim panas kakaknya sekaligus bersama kedua sahabatnya itu.

Rencananya untuk membahagiakan sang kakak kembar malah berubah menjadi bencana akibat kecerobohannya. Ditambah lagi, sekarang semua orang akan tahu perihal kebiasaan buruknya mengiris urat nadinya demi melampiaskan emosi dan mendapat kepuasan semu.

Tapi ada sesuatu yang janggal, mengapa tidak ada seorang pun yang membahas tentang hal itu kepada Hinata? Bahkan kakaknya memilih untuk bungkam dan tak lagi membahas permasalahan kelainan Hinata.

"Sudahlah Hinata chan, kau sehat saja sudah cukup bagi kami." Sakura memeluk sahabat indigonya erat. Tidak apa baginya tidak dapat melanjutkan liburan asal mampu melihat sahabatnya kembali dalam keadaan selamat. Karena saat itu, Sakura merasa begitu ketakutan kala melihat kondisi Hinata di ambang hidup dan mati.

"Thanks to you, Sakura chan." ujar Hinata lembut sambil membalas pelukan sahabat musim seminya.

•••

"Jaa, Hinata chan, Naruto, sampai ketemu di sekolah beberapa minggu lagi." Sakura melambaikan tangannya pada Hinata dan Naruto yang berdiri di depan halaman rumah mereka.

"Arigatou Sakura chan, Sasuke kun." Hinata ber-ojigi empat puluh lima derajat ke arah Sakura dan Sasuke.

"Arigatou teme, Sakura chan." Naruto balas melambaikan tangannya.

"Hn, dobe. Jaga dirimu, Hinata." ujar Sasuke sebelum akhirnya memacu mobilnya, meninggalkan kedua bersaudara itu dalam situasi canggung kembali.

"Ayo masuk." ujar Naruto sambil membawakan barang bawaan Hinata. Gadis itu hanya mengangguk sambil terus memegang pergelangan tangannya. Takut - takut jika kebiasaan buruknya itu sampai diketahui oleh kedua orang tua mereka.

•••

"Tadaima."

"Okaeri, tumben kalian cepat sekali pulangnya." sambut Kushina pada kedua anak - anaknya.

Sialnya, Ibu mereka tidak pergi ke kantor hari ini dan Ayah mereka pun sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Keringat dingin bercucuran pada dahi Hinata. Apa yang akan dikatakannya? Bagaimana jika kakaknya berkata jujur pada Ayah dan Ibunya? Apa yang akan Ayahnya lakukan jika sampai Ia ketahuan membuat onar pada saat liburan?

"Ano - "

"Sakura chan dan si teme mempunyai acaranya sendiri - sendiri, jadi kami memutuskan untuk pulang lebih awal." jawab Naruto pada sang Ibu saat melihat ekpresi panik pada wajah adiknya.

"Aku permisi untuk pergi ke kamar duluan Kaa san, aku sangat lelah ." Hinata membungkuk pada sang Ibu, berusaha menghindari pembicaraan yang akan membuat dirinya terpojok.

"Ada apa dengan adikmu, Naruto? Dia tidak terlihat seperti biasanya." tanya sang Ibu.

"Jangan khawatir Kaa san, Hinata hanya kelelahan." jawab Naruto bohong.

•••

Hinata menghembuskan nafas leganya. Untung saja tidak ketahuan. Karena jika sampai Ayah atau Ibunya tahu tentang kebiasaannya, maka bisa dipastikan Hinata akan dikurung dan diawasi selama dua puluh empat jam penuh sehari, tujuh hari seminggu dan dua belas bulan setahun.

Dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, Ayahnya bisa saja mengirimkan dirinya ke rumah sakit jiwa. Membayangkannya saja Hinata sudah ngeri. Dan gadis itu akan mematiskan bahwa hal mengerikan itu tak akan pernah menimpa dirinya.

"Ukh, perbanku basah. Kurasa sudah waktunya aku mengganti perban ini." Merasakan lembab pada pergelangan tangannya, Hinata memutuskan untuk membuka perbannya dengan perlahan dan lembut.

Namun ikatan yang cukup kuat membuat gadis itu sedikit kesusahan. Ia pun mengambil sebilah gunting tajam dari lacinya dan bersiap untuk memotong perban yang menghalanginya sampai -

"Hinata." Satu suara menusuk yang mengerikan mengagetkan serta menghentikan kegiatan gadis itu.

"Na.. Naruto."

"Apa yang mau kau lakukan dengan gunting tajam itu?!" Naruto menaikkan satu oktaf nada suaranya. Apa - apaan adiknya itu. Baru saja pulang dari rumah sakit, Ia sudah ingin membuat ulah lagi dengan gunting tajam yang digenggamnya itu.

"I.. Ini tidak seperti yang kau pikirkan Naruto." Hinata menggoyangkan kedua tangannya, berusaha meyakinkan sang kakak agar tak salah paham dengannya.

Naruto merebut gunting tajam itu dari tangan Hinata, mengunci kedua tangan gadis itu erat dan mendorongnya jatuh ke atas lantai. Saat ini posisi Naruto-lah yang mendominasi, menindih tubuh sang adik yang hanya bisa menatap tingkah aneh sang kakak.

"Na.. Naruto?" Hinata merasa tak nyaman dengan posisinya saat ini. Meskipun mereka berdua bersaudara, namun tetap saja mereka mempunyai jenis kelamin yang berbeda dan posisi ini adalah posisi yang tak lazim dilakukan oleh kakak beradik.

"Jelaskan semuanya padaku, Hinata. Mengapa kau berbohong selama ini?!"

"A.. Apa maksudmu? Aku tidak berbohong tentang apapun! Aku benar - benar ingin mengganti perbanku yang sedikit lembab!" ujar Hinata.

Shapire Naruto menatap tajam ke dalam mata sang adik, mencari kebohongan yang terdeteksi mata lavender gadis itu. Hinata tidak berbohong. Naruto kemudian melepaskan cengkramannya dari tangan Hinata dan berdiri untuk mengambil kotak P3K dan mengeluarkan beberpa botol antiseptik serta perban baru yang higenis. Ia lalu mengambil alih gunting tajam yang terjatuh tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Apa yang kau laku - " Hinata sesikit meronta saat sang kakak menahan pergelangan tangannya. Sebenarnya gadis itu merasa malu dan tidak percaya diri atas tindakan bodohnya melukai diri sendiri.

"Diam." Naruto membuka perban itu dengan hati - hati. Memperlakukan tangan Hinata dengan sangat lembut, seakan - akan Hinata terbuat dari kaca yang tipis yang akan pecah jika Ia tidak hati - hati dalam menyentuhnya.

Melihat Naruto yang memperlakukannya dengan lembut membuat hati Hinata sedikit terenyuh. Entah sudah berapa tahun Ia tak merasakan kelembutan kakak kembarnya. Apalagi sisa - sisa kejadian sepuluh tahun lalu membuat Hinata selalu bertindak hati - hati di depan Naruto. Takut kalau - kalau Ia melukai hati Naruto kembali, seperti saat waktu itu.

"Sudah selesai."

"Arigatou Naruto." jawab Hinata singkat. Gadis itu menundukan kepalanya menghindari kontak mata dengan sang kakak.

Naruto menghela nafasnya panjang, menyibak surai indigo panjang Hinata yang menutupi wajah gadis itu dan mengelus pipinya dengan lembut ; "Apa kau tidak ingin menceritakan semuanya padaku?"

"Tidak ada yang perlu kuceritakan saat ini." Hinata menghindar. Lagi dan lagi, membuat Naruto begitu muak akan sikap sang adik. Naruto tak menjawab. Untuk apa Ia menghabiskan waktu dan tenaga mengurusi orang yang bahkan tak peduli dengan dirinya sendiri.

"Baik, terserahmu saja."

•••

Hari terus berlalu tanpa mampu dihentikan, perlakuan dan kebiasaan yang dilakukan oleh seorang gadis indigo demi melampiaskan emosinya pun semakin menjadi. Meski kerap kali sang kakak menghalau dan memarahinya namun gadis itu tetap saja tak berdaya melawan apa yang sudah menjadi pelampiasan hasratnya selama sepuluh tahun belakangan ini.

"Apa ini?" tanya seorang pemuda bersurai pirang dengan intonasi nada yang tajam dan penuh amarah. Aura saudara kembarnya benar - benar mengerikan. Padahal gadis itu sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang membuat kakak laki - laki nya itu bersedih.

"Naruto, ini tidak seperti yang kau lihat." Hinata berdalih, mencari pembenaran diri atas perbuatan salahnya.

"Hinata, aku lelah mendengar semua alasan dan omong kosongmu." ujar Naruto, Ia mencengkram kedua pundak gadis itu erat, safir birunya menatap lekat lavender sang adik.

"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Sejak kapan kau mulai melakukan hal - hal bodoh seperti ini dan mengapa?" tanya Naruto.

"A.. Aku, aku.." Hinata menunduk, menutupi matanya dengan poninya yang panjang, tak mampu sedetik pun menatap wajah kakaknya yang diliputi emosi.

"Maafkan aku." Satu kalimat yang selalu terucap dari bibirnya di kala Ia terdesak.

Naruto menghela nafas, Ia kenal betul dengan sikap sang adik yang keras kepala dan tak bisa dipaksa. Dengan perlahan Naruto melepaskan tautannya pada pundak Hinata, tangannya berpindah pada pergelangan tangan gadis itu. Dengan lembut Naruto mengusap antiseptik yang sebelumnya telah Ia tuang ke atas kapas pada pergelangan tangan Hinata yang bengkak dan penuh luka yang masih belum kering.

"Aw," Pekik Hinata saat merasakan perih pada tangannya.

"Tahan sebentar." ujar Naruto lembut. Dengan telaten lelaki itu meniup pergelangan tangan Hinata dan memasangkan perban baru yang bersih dan steril pada tangan putih Hinata.

Sementara Hinata hanya terpana melihat kembarannya yang memperlakukannya bak seorang putri. Ingatannya kembali pada masa lalu di saat mereka masih kecil, sebelum Naruto merubah sikapnya seratus delapan puluh derajat dan memperlakukannya secara kasar dan sikap tak acuh.

"Kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?" tanya Naruto saat melihat wajah Hinata yang sudah semerah kepiting rebus sambil memegang kening gadis itu untuk memeriksa keadaannya.

"Ti.. Tidak." ucap Hinata gugup. Gadis itu meremas dadanya dengan kuat. Kenapa rasanya begitu berdebar - debar? Namun gadis itu menepis jauh - jauh pikirannya. Tidak mungkin. Bagaimana pun Ia sama sekali tidak boleh jatuh cinta dengan kakaknya sendiri.

Karena hal itu dilarang.

Apa yang akan terjadi jika Hinata benar - benar jatuh cinta dengan Naruto? Kedua orang tua mereka pasti akan merasa sangat kecewa, belum ditambah dengan gunjingan dan masyarakat yang akan mengucilkan mereka. Dan hal tabu itu, dilarang oleh agama.

"Hinata? Apa terjadi sesuatu?" tanya Naruto saat melihat wajah adiknya yang tiba - tiba murung sembari meremas dadanya erat.

"Tidak, aku baik - baik saja." ujar Hinata memaksakan senyuman lembutnya pada Naruto.

"Sudah selesai, lebih baik kau segera tidur." Naruto mengalihkan wajahnya. Tangan kanannya menutupi wajahnya yang tak kalah memerah kala melihat senyuman manis Hinata. Degupan jantungnya semakin tidak terkontrol.

"Ba., Baik. Arigatou Naruto Nii chan." lirih Hinata.

"Kenapa kau memanggilku dengan embel - embel seperti itu?" tanya Naruto saat mendengar ucapan sang adik.

"Bukankah kau senang dipanggil seperti itu?" Naruto tak menjawab. Entah mengapa mendengar Hinata yang memanggilnya kembali dengan sebutan Nii chan membuat hati Naruto terasa nyeri. Padahal dulu Ia sendiri yang mewajibkan Hinata untuk memanggilnya dengan sebutan itu.

'Sampai berapa lama lagi aku harus menahan semua perasaan ini?' batin Naruto dan Hinata bersamaan dalam kedua hati kecil mereka.

[•••]

つづく

18.10.17 ©Yuki Hime

•••

Nico Andrian - Arigatou Nico :3

Gummy chan - Belum gummy, masih sedikit lebih lama untuk tamat :3 iya kasian T^T

Indrakun - Ah, perasaanmu saja :v asal permasalahannya usai ya tamat :3

Ameyukio2 - Arigatou yukio :3

Ryuki - Uh, kalau ceritanya sama persis ya berarti authornya tetap saya :3 sip, ga akan discont kok