Uncondituonally Plus (sequel)

.

.

.

.

Chapter 4

.

Shingeki no Kyojin by Isayama Hajime-sama

Unconditionally plus by Author Shigeyuki

Tadaaaaa! Author kembali~~~ uohohohohoho ^o^

Seperti biasa, author langsung nulis lagi setelah baca review kalian~ author mah emang gitu orangnya :'v

Review itu bagaikan kompor, kalo ga ada kompor.. masakannya ga akan mateng (?) Ya sekitaran sanalah perumpamaannya. Aneh banget ya? Soalnya author lagi laper -,- (malah curhat)

Yuk ah, keburu mood author ilang, kita langsung ke on de spot ajaa

Let's begin~

RnR

.

.

.

BUGHH!

Suara pukulan itu terdengar nyaring. Si objek pukulan hanya bisa menahan sakit di perutnya sambil meringis. Ia dengan senang hati menerima hadiah kepulangan sang tuan rumah untuknya, karena semua ini terjadi akibat kelalaiannya sendiri, membiarkan musuh bebuyutan tuannya bertamu.

Pelaku yang memberi pukulan itu tak lain adalah Rivaille. Dengan wajah yang jelas sedang murka, ia menatap Mike yang sudah merosot dari posisi berdirinya. Tentu saja ia menuntut penjelasan. Tidak menghiraukan Petra yang melebihi kata syok. Gadis itu terlihat sangat lemah meski masih kuat berdiri. Tak ada yang ia pikirkan selain Kiddo sekarang. Tidak ada yang lebih membuatnya kacau selain ini selama hidupnya.

"Jelaskan." Rivaille bersuara, tegas dan menusuk. Tidak ada yang tidak menyadari kemarahannya.

Mike tidak berani menatap langsung tuannya. Ia tetap menunduk. Berlanjut dengan penjelasan yang dinanti Rivaille.

"Kemarin malam.. Moses-san berkunjung kemari. Awalnya saya tidak akan memersilahkannya masuk, tapi ia bilang.. anda yang menyusuhnya bertamu."

"Jadi kau bawa dia masuk?"

"Rivaille.. dengarkan dia sampai selesai dulu.."

Merasakan Petra menggenggam tangan kanannya, Rivaille menghela napas. Menenangkan diri sendiri dengan cara itu.

Tak lama, Mike melanjutkan penjelasannya.

"Saat saya pergi ke dapur untuk membuat minuman, ternyata dia menggeledah semua ruangan dengan hati-hati dan tanpa suara. Setelah saya kembali, Moses-san sudah tidak ada ruang tengah. Saya cari ke ruangan lain, tapi saya hanya mendapati kamar anda yang tampak berantakan.. dan Kiddo juga tidak ada."

Mike mencoba melirik sekilas pada manik tajam yang masih menatapnya. Memberi sedikit jeda dalam penjelasanya itu.

"Saya langsung berlari ke halaman, mencari keberadaan Moses-san. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya, juga Kiddo. Saya memutuskan mencari keluar, sampai ke jalan raya. Dan saya benar-benar kehilangan jejaknya.. maafkan saya."

"Sudah mencari nomor teleponnya?"

"Mengingat dia rival anda yang sangat terkenal, mudah untuk menemukan nomor kontaknya. Tapi saya tidak berhasil mendapat respon. Moses-san sama sekali tidak menjawab teleponnya."

"Bagaimana dengan kantornya?"

"Dia tidak ada disana. Pegawainya bilang, Moses-san mengambil cuti selama 3 hari, tanpa alasan yang jelas. Saya juga sudah mendatangi kediamannya namun tidak ada orang sama sekali."

"Polisi?"

"Saya ragu untuk melibatkan polisi.."

Tampak Rivaille menahan-nahan amarah dalam kepalanya. Terlihat dari decihan yang ia keluarkan dengan cuma-cuma. Jika tidak ada Petra, mungkin Rivaille sudah membuat Mike babak belur di tempat. Istri memang pengendali emosi yang ampuh, atau sebaliknya?

Tiba-tiba Rivaille berbalik menghadap Petra, tetap dalam genggaman gadis itu.

"Petra, tunggulah disini. Aku akan pergi mencari si keparat itu."

Petra tampak ragu. Melirik pada kebrutalan Moses untuk menggulingkan perusahaan Arck. Corp, ia jadi khawatir pada apa yang bisa dilakukan pria gila itu.

Belum sempat Petra merespon apapun, terdengar suara dering telepon. Suara yang berasal dari ponsel Rivaille itu langsung lenyap setelah si empu menerima panggilan dari sana.

"Siapa ini?"

Suara kekehan menjadi jawaban pertanyaan yang Rivaille lontarkan. Suara yang tak asing baginya, juga yang paling ia benci.

"Teme... dimana kau?!"

"Wah wah.. ada apa ini? Kau ingin bertemu denganku? Mungkinkah kau setuju dengan pengambil-alihan perusahaanmu olehku?"

"Jawab pertanyaanku."

"Kenapa kau sangat ingin tahu? Ada yang kau cari? Ahaa! Mungkinkah yang kau cari itu adalah hasil hubungan gelapmu dengan Petra? Kebetulan sekali. Dia memang sedang bersamaku."

Sontak Rivaille menegang di tempat. Ternyata dugaan Mike benar, bahwa yang menculik Kiddo adalah Moses. Lihat saja apa yang akan terjadi pada orang yang berani mengusik hidupnya, Rivaille akan dengan mudah menjatuhkan reputasi pria itu sekali mengedip.

"Sialan kau. Apa yang kau inginkan hah?!"

"Mudah saja. Mengundurkan dirilah dari posisimu dan biarkan aku mengambil alih perusahaanmu itu. Surat pengunduran diri sudah aku siapkan, kau tinggal datang kemari dan kau akan mendapatkan anakmu itu."

"Ks.. kau kira aku akan menurut begitu saja."

"Aku tahu kau keras kepala, itulah kenapa aku memiliki senjata sekarang. Anak ini bisa mati kapan saja berkat kekeras-kepalaanmu."

"Katakan lokasimu dimana."

"Ahahaha! Ternyata tidak sesulit yang aku bayangkan.. Aku ada di gudang besar di pinggiran kota. Yah kau pasti tahu karena gudang ini adalah bekas bangunan milikku yang kau hancurkan fungsinya."

"Jangan sentuh bocah itu sedikit pun sampai aku datang."

"Baik baik. Ah kau juga harus menukar anak ini dengan uang yang setara untuk membangun sebuah gedung bertingkat. Kurasa kau tidak akan keberatan dengan itu."

Rivaille langsung menutup telepon. Ia rasa sudah cukup mendengar suara sialan itu masuk ke telinganya. Akan ia pastikan sebelum kembali dari tempat itu, Moses akan mendapat hiasan lubang baru di kepalanya.

"Apa itu dari Moses?"

"Ya. Kiddo memang ada ditangannya, aku akan bawa dia pulang."

"Apa.. yang dia minta?"

Rivaille tersenyum pahit. Enggan untuk menjawab pertanyaan Petra.

"Kau tidak usah tahu. Aku akan menyelesaikannya sendiri."

"Tapi-"

"Aku akan berangkat sekarang. Mike, jaga Petra. Jangan sampai kau lalai lagi atau aku akan memecatmu."

"Baik sir."

Pria dengan suasana hati penuh emosi itu langsung melangkahkan kaki keluar rumah.

Seolah sudah terpaku di lantai, Petra sama sekali tidak bisa beranjak dari posisinya. Tangannya yang gemetar dan wajahnya yang sejak tadi berkeringat dingin hanya menyaksikan kepergian Rivaille.

"Pulanglah dengan selamat.." ucap Petra pelan.

.

X

.

Moses duduk dengan arogan di sebuah sofa yang entah kenapa bisa berada di gudang yang sudah tidak dihuni bertahun-tahun itu. Tak ada yang berani duduk disampingnya, 5 anak buahnya hanya berdiri di belakang Moses. Dan satu lagi berdiri tepat di samping Kiddo yang terikat di sebuah kursi kayu.

Kaki dan tangan yang diikat membuat Kiddo tidak bisa bergerak bebas. Untung saja Moses tidak menyumpal mulut Kiddo dengan kain ataupun menutupnya dengan selotip. Sepertinya Moses memang ingin menanyakan banyak hal pada Kiddo, meski sejak tadi ia tidak mendapat respon apapun selain delikan yang tak berbeda jauh dengan lawannya, Rivaille.

Cahaya matahati berhasil menembus pada lubang-lubang yang berada di atap bangunan tua ini.

"Hey! Kau bilang kau sahabat ayahku!" tiba-tiba Kiddo mengawali.

Yang diberi pertanyaan tampak tersenyum misterius. Lantas menopangkan kaki kanannya pada kaki kiri.

"Aku memang menganggapnya sahabatku. Tapi dia tidak. Lagipula untuk bisa menarik perhatian anak kecil aku harus bilang kalau aku orang terdekat ayahnya. Dengan begitu aku akan dipercayai."

"Aku tidak percaya padamu."

Moses mendelik, masih dengan senyuman dibibirnya.

"Yah.. kau memang mirip ayahmu. Tidak salah lagi kau memang anaknya."

"Kenapa kau membawaku kemari?"

"Tenang saja, nanti akan ada yang menjemputmu."

"Siapa?"

"Tentu saja ayahmu, bodoh."

Kiddo semakin mengerutkan kedua alisnya. Jika saja tangannya tidak diikat pada kursi, ia ingin sekali meninju wajah menyebalkan itu. Ia sudah sangat muak.

"Berharaplah ayahmu itu akan melakukan apa yang aku minta, agar kau baik-baik saja."

"Tch."

Perlahan Kiddo memerhatikan cahaya yang menerobos masuk dari atap. Dan disaat yang sama Moses meneguk segelas wine ditangannya. Ia juga memainkan pistol di tangannya yang lain. Seolah menganggap benda itu adalah mainan dan jika ia tidak sengaja menarik pelatuknya tidak akan ada yang terbunuh.

Tujuan Moses selama bertahun-tahun untuk menghancurkan seorang Rivaille Ackerman akhirnya sudah ada di depan mata. Berkat kedatangan orang yang tidak disangka-dangka kehadirannya. Selain untuk meraup kekayaan yang melimpah, Moses juga memiliki dendam tersendiri pada Rivaille.

Dulu mereka berada dalam satu sekolah yang sama. Walaupun tidak saling mengenal satu sama lain, Moses sangat tahu kehadiran Rivaille disana. Dan dalam hal apapun Rivaille selalu berada di atas Moses. Awalnya Moses tidak terlalu memedulikan hal itu, namun dari tahun ke tahun, sampai mereka berdua berada dalam kampus yang sama pun Rivaille selalu berada di atasnya. Moses mulai membencinya. Ditambah sang ayah yang terus membanding-bandingkan dirinya dengan Rivaille.

Moses semakin frustasi. Ia membunuh ayahnya sendiri dan mengambil alih perusahaannya -perusahaan yang bekerja sama dengan Arck. Corp-. Moses bertekad untuk terus mengembangkan perusahaannya dan melampaui Arck. Corp. Ia telah sengaja melakukan monopoli di balik kerjasamanya. Tak lama Kaney -presiden direktur sebelum Rivaille- mengetahui tindakan monopoli yang dilakukannya. Hubungan kerjasama langsung diputus. Awalnya Moses percaya diri akan bisa bangkit melebihi Arck. Corp, tapi nyatanya perusahaannya semakin lemah dan akhirnya bangkrut. Moses berusaha dengan segala cara untuk kembali membangun kejayaan perusahaannya. Akan tetapi selalu berakhir menyedihkan.

Akhirnya ia menunggu waktu yang tepat untuk menyerang sekaligus membalaskan dendamnya. Dan saat inilah datang. Tanpa direncanakan ia menemukan anak rivalnya dalam upacara pernikahan yang sebenarnya diam-diam ia datangi tanpa adanya undangan. Tidak mungkin Moses meninggalkan kesempatan emas. Cara terakhir yang akan ia lakukan. Pemerasan.

Sebenarnya ia juga bisa menggunakan Petra untuk rencananya ini. Tapi ia rasa menggunakan bocah ini akan lebih mudah. Moses sangat yakin ia akan berhasil.

"Jika saja ayahmu tidak cari gara-gara denganku, mungkin ini semua tidak akan terjadi." Moses berguman.

Merasa tidak terima, Kiddo memicingkan matanya. Secara tidak langsung memaki pria terkutuk itu.

"Dia tidak pernah dengan sengaja mencampuri urusan orang lain. Kecuali jika orang lain itu yang mencari gara-gara dengannya."

"Hahahaha! Kau pandai bicara juga ya. Itulah yang aku benci dari seorang Ackerman."

Moses berjalan mendekati Kiddo. Ia sudah menyimpan pistol ditangannya ke dalam saku. Digantikan dengan sebuah pisau lipat yang mengkilap saat terkena pantulan sinar matahari.

Secara kasar Moses mencengkram erat helai milik Kiddo sampai bocah itu terperangah menatap wajah didepannya. Kiddo sedikit meringis akibat tindakan dadakan orang itu. Mata caramelnya menyipit karena kesakitan, namun masih bisa menangkap objek tajam yang mulai menyentuh pipinya dengan perlahan. Gerakannya yang disengaja itu membuat rasa sakit yang bertubi. Sekarang Kiddo bisa mencium sendiri bau anyir darah miliknya.

Baru satu goresan dalam yang Kiddo dapatkan, tak disangka ia langsung memajukan kepalanya untuk menggigit tangan Moses. Dengan sekuat tenaga Kiddo terus menekan giginya di tangan pria itu. Membuat lawannya berteriak kesakitan dan secara refleks langsung mendorong Kiddo menjauh.

Masih dalam posisi terikat di kursi, Kiddo bisa menyentuh lantai berlumut dengan pipinya yang berdarah.

"Dasar bocah sialan!" umpat Moses.

Moses melanjutkannya dengan menendang-nendang tubuh Kiddo di lantai. Kapan lagi ia bisa melakukan hal seperti ini? Dengan alasan itulah Moses berhasil berubah menjadi psikopat sungguhan dan tidak mengindahkan peringatan Rivaille untuk tidak menyentuh Kiddo sedikitpun.

"Ahahahaha! Rasakan ini!" Moses mulai menemukan kesenangannya sendiri. Sampai tidak menyadari seseorang sudah masuk dengan 2 buah koper besar ditangannya.

"Sudah membeli tiket menuju neraka, teme!" ucap seseorang yang tiba dengan suara rendah namun mencekam.

Moses langsung berbalik, ia menemukan kesenangan lain yang akan ia nikmati tak lama lagi.

"Rivaille, ternyata kau benar-benar datang. Hahaha! Kau memang pria yang hebat!"

"Jangan banyak bicara. Aku sudah membawa uang yang kau minta. Sekarang lepaskan bocah itu."

"Hah? Kau tidak berniat untuk menandatangani surat pengunduran diri?" Moses mempermainkan nada bicaranya sendiri. Terdengar seperti mencibir.

Rivaille mengeratkan tangannya yang masih menggenggam koper. Tak lama menyimpan barang itu dan melangkah semakin mendekat. Sekilas ia melihat kondisi Kiddo yang sedang terengah menahan sakit tak jauh dari posisi Moses berdiri.

"Jangan paksa aku untuk melakukan hal brutal padamu." Rivaille mendesis.

Seringai andalan Moses kembali terlihat. Dengan gaya yang arogan ia menggerakkan jari telunjuknya sebagai tanda agar 6 anak buahnya mendekati Moses.

"Sehebat apapun kau, jika melawan banyak orang tidak akan sanggup."

"Banyak? Hah. Itu hanya 6 orang. Dan aku yakin kau tidak akan bisa bertarung melawanku. Itulah kenapa kau selalu menjadi parasit dan memanfaatkan orang-orang disekitarmu. Disaat kau tidak lagi memiliki pegangan, kau akan mati."

"Jaga bicaramu."

"Kau yang harus menjaga perkataanmu sendiri, parasit."

Moses segera berlari membabi buta ke arah Rivaille. Pisau lipat masih dalam genggamannya. Ia mengarahkan pisau itu padanya. Sekali tusuk saja akan membuat lawan kehilangan keseimbangan berdiri. Dengan begitu ia bisa melanjutkan kesenangannya dan kembali ke rumah dengan cerita bohong tentang tewasnya presiden direktur Arck. Corp tanpa klonologis yang jelas. Skenario terbaik baginya dan terburuk bagi Rivaille.

Dengan refleks yang bagus Rivaille bisa menghindar dengan mudah. Salahkan saja Moses yang menyerang dengan teknik terang-terangan seperti itu, akan sangat mudah dibaca lawan.

Setelah berhasil menghindar, Rivaille berlari menuju tempat Kiddo. Tapi tentu saja dihadang oleh 6 orang bertubuh besar yang siap menerkam kapan saja Rivaille bergerak.

Baiklah, Rivaille kini dikepung oleh orang-orang itu. Ditambah Moses yang sudah bangkit dari kegagalannya menyerang. Rivaille melirik mereka satu per satu, sambil memperhitungkan segala akibat yang akan tersuguh padanya.

"Dasar pengecut." Dengan satu perkataan itu Rivaille memulai aksinya.

Menendang, memukul, mengunci, semuanya ia lakukan dengan baik. Namun bagaimanapun mereka semua bersenjata. Jika mau, mereka bisa menarik pelatuk di tangan untuk menghabisi Rivaille segera. Tapi sebelum itu terjadi, Rivaille menjatuhkan mereka tanpa jeda.

Melawan dengan tangan kosong membuatnya sedikit kewalahan. Apalagi gerakan Moses yang membabi-buta ingin sekali menggoreskan pisau miliknya pada Rivaille.

4 orang tumbang dan dapat dipastikan tidak akan bisa bangkit lagi untuk melawan, terlihat dari terkulai lemasnya semua otot mereka setelah mendapat hadiah dari seorang Ackerman. Dari senjata lawan yang berserakan, Rivaille menyempatkan diri mengambil salah satu pistol untuk ia gunakan. Langsung saja Rivaille mengunci sasaran pada Moses.

Dalam posisi itu pula Rivaille mendapat todongan benda yang sama di kedua sisi tubuhnya. Jika ia berhasil menembak Moses, 2 bawahan pria itu akan turut menembak Rivaille, dan nasib Kiddo tidak diketahui akan seperti apa. Lalu jika Rivaille menyerah dan mengangkat kedua tangan, ia bisa menendang kaki si bawahan dan kembali menyerang dengan sigap. Atau ia harus melakukan keduanya dengan cepat, kurang dari 2 menit.

"Nah, apa yang akan kau lakukan, Rivaille?"

Kiddo yang menyaksikan sendiri bagaimana Rivaille terdesak, semakin mengeluarkan tenaga untuk melepaskan ikatan ditangannya.

"Kau mau menandatangani suratnya atau mati disini?"

"Kau tidak berhak memberiku pilihan."

"Arogan sekali! Jadi kau datang kemari untuk menghabisi kami tanpa mengorbankan apapun huh? Naif.."

"Aku sudah membawa tambahan uang yang kau minta, tapi kau tetap menyakiti bocah itu. Kau telah mempermainkan semuanya."

Seringai di wajah Moses menurun. Ini bukan mengenai harga diri dalam menepati janji diantara pria, Moses lebih tertantang jika berani melanggar janji itu.

Mereka saling berpandangan dengan sengit. Tanpa menyadari bahwa Kiddo sudah lepas dari ikatannya di kursi. Dengan cekatan ia langsung mengambil pisau lipat milik anak buah Moses yang tergeletak sembarangan, berlari menuju Moses berada.

"Kiddo! Jangan gegabah!" Rivaille berseru, melihat Kiddo dengan lancar melewatinya dan berlari sekuat tenaga ke arah lawannya.

Merasa perhatiannya pada Rivaille teralihkan, Moses menyambut serangan Kiddo dengan sekali hentakan. Ia bisa mengunci Kiddo hanya dengan satu tangannya. Tangannya yang lain ia gunakan untuk mendekatkan pisau lipatnya pada leher Kiddo.

"Nah, dewi kemenangan sedang berpihak padaku sekarang. Apapun caramu untuk menyelesaikan ini, tetap saja kau tidak akan menang. Lihat saja ini, anakmu sendiri yang datang menghampiriku. Siapa namanya tadi? Kiddo ya? Ahaha! Nah bagaimana?"

Rivaille mengepal tangannya yang bebas. Perlahan ia menyimpan kembali tangannya yang menodongkan pistol di samping tubuh. Salah tindakan sedikit saja, Moses bisa membuat Kiddo menjadi perisainya dan mengakhiri nasib anak itu. Tidak.. Rivaille tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Masih banyak waktu yang harus ia lalui bersama Kiddo dan Petra dalam keterbatasan pertemuan mereka.

"Ah! Aku rasa memberikan perusahaanmu memang terlalu berat, bagaimana kalau aku ganti dengan anak perusahaanmu yang ada di Perancis itu?"

"Tidak. Itu milik ibuku."

"Wah wah, lihat Kiddo-kun! Ayahmu tidak bisa melepas apapun untuk menyelamatkanmu! Egois sekali bukan?"

Awalnya Kiddo tidak terlalu menanggapi pernyataan itu. Namun melihat dari situasi yang terjadi, itu memang sebuah kenyataan. Atau Rivaille menyimpan rencana rahasia untuk ini.

"Jangan dengarkan dia, Kiddo"

"Naa Kiddo-kun! Jika ayahmu benar-benar menyayangimu dan menganggapmu penting, tidak mungkin dia ragu untuk melepas segalanya."

Kiddo terdiam sejenak. Sembari menatap Rivaille yang berada sekitar 3 meter di depannya.

"Tidak.. aku memang bukan siapa-siapa untuknya.." tiba-tiba Kiddo berkomentar. Tatapannya berubah muram, tidak terlihat berapi-api seperti sebelumnya.

"Bukan siapa-siapa bagaimana? Tidak bisa dipungkiri lagi kalau kau adalah anaknya kan."

"Tidak! Dia bukan ayahku!"

Mendengar teriakan Kiddo yang membantah, Moses semakin menyeringai penuh maksud.

"Ha! Lihat Rivaille! Dia sudah tidak mengakuimu sebagai ayahnya! Bagaimana rasanya hm? Menyakitkankah?! Ahahahaha!"

"Diam, teme. Akan kupastikan kau tidak bisa menghirup udara lagi."

Moses mulai menyayat kulit leher Kiddo, menimbulkan hiasan merah disana.

Rivaille membelalak. Ia kembali menodongkan pistolnya dan langsung menarik pelatuk. Suara tembakan terdengar. Meskipun sedikit meleset, peluru itu berhasil melukai lengan atas Moses yang digunakannya untuk memegang pisau. Pisau itu terjatuh setelahnya, dan Moses hanya bisa meringis menahan sakit sembari terus bertahan memegang Kiddo.

2 bawahannya yang masih tersisa langsung beraksi melihat Moses mendapat serangan mendadak. Rivaille tidak merasa kewalahan seperti sebelumnya, meski jelas badan lawannya jauh lebih besar. Dengan lihai ia menghindar dan membalas serangan tanpa kesalahan. Sampai sebuah tembakan tiba-tiba menghentikan gerakannya.

Tidak salah lagi. Darah yang keluar sebagai hasil dari tembakan itu adalah darah Rivaille, tepat di perut sebelah kanannya.

"Tch.. sial.."

Rivaille melanjutkan aksinya, mengambil alih kelalaiannya dengan 2 tembakan tepat sasaran. Tinggal satu lagi yang harus ia habisi.

"Wah wah, kau melukai mereka semua! Tapi tunggu saja, satu menit lagi kau akan tumbang juga."

Napas Rivaille yang memburu tak menghalangi kefokusannya. Tinggal menarik pelatuk terakhirnya pada kepala Moses maka semuanya selesai. Dan saat tangannya benar-benar akan menarik pelatuk itu, Rivaille mulai merasakan mati rasa. Sangat kepayahan untuk sekedar bergerak sederhana.

Sensasi itu terus menjalar dengan cepat menuju kakinya. Dan jujur saja, rasa sakit bekas tembakan di perutnya semakin terasa memilukan, rasa perih yang melebihi kata sakit. Rivaille akhirnya tumbang dengan posisi telungkup dan kepalanya masih menghadap Moses.

"Sial.. apa yang kau tambahkan di pelurunya hah.." seru Rivaille menuntut penjelasan. Napasnya tersenggal hebat.

"Peluru itu hanya dipesan khusus dengan sebuah racun yang melapisi bagian luarnya. Efek samping tidak akan jauh dari kelumpuhan, kehancuran organ, atau apapun lah yang sangat mungkin terjadi oleh tubuh yang telah dilalui peluru itu."

"Kalau begitu kau juga akan merasakannya karena aku sudah berhasil mengenaimu juga.."

"Tidak. Kau tidak menyadari bahwa hanya aku yang memiliki senjata dengan peluru beracun itu. Kau tahu? Aku yang menembakmu tadi."

Napas yang tersenggal itu terdengar memburu sekarang. Terlihat sangat kesulihat hanya untuk menghirup udara.

Kiddo melihat semua itu. Dan kejadian ini hampir menyerupai mimpi buruknya, mimpi yang paling buruk. Ia mulai merasa sesak karenanya. Kakinya yang menggigil tak dapat lagi menopang berat tubuh Kiddo. Ia terduduk memandangi Rivaille yang hampir kehilangan fokus pandangannya, buram.

"Nah, dalam detik-detik menyakitkanmu ini bagaimana kalau kau membubuhkan tanda tanganmu di surat yang aku bicarakan? Aku jamin kau tidak akan menyesal dan anak ini akan aku pulangkan dengan selamat."

"Kau benar-benar... biadab.."

"Hahahaha! Itulah akibatnya karena sudah merebut segalanya! Kau tidak tahu aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang aku mau!"

"Jika kau bisa melakukan apa saja.. kenapa kau masih saja seperti dulu? Pecundang?"

Moses menodongkan pistolnya pada Rivaille lagi. Tatapannya yang tajam menyiratkan ketidak-terimaannya akan apa yang dikatakan Rivaille.

"Baik jika kau tidak mau menanda-tangani suratnya." Moses berjalan mendekat. Dan saat tepat berada di depan tubuh Rivaille, ia melanjutkan perkataannya.

"Aku bisa membunuhmu disini agar kau tidak menghalangi jalanku lagi."

Tembakan itu meluncur tak lama setelah Moses tersenyum menyindir. Tembakan yang berhasil mengenai kaki lawannya terlihat memang disengaja. Agar Rivaille bisa mati perlahan dengan racun yang menyebar di sekujur tubuhnya.

Merahnya darah merembes membasahi celana berwarna tanah milik Rivaille.

Diam-diam, dengan fokusnya yang sudah minim itu Rivaille meraih pistol yang berada sangat dekat dengan tangannya. Ia harus memaksakann kelemahan otot untuk bisa meraih senjata itu, agar semuanya berakhir.

Rivaille memberi isyarat pada Kiddo yang masih menatapnya dengan ekspresi syok berat agar pergi dari tempat ini. Setidaknya ia tidak mau membiarkan Kiddo melihatnya tengah membunuh orang.

Tepat setelah rasa ragu untuk pergi yang Kiddo ungkapkan dengan air muka yang berbeda, ia mulai berdiri dan mundur perlahan. Merasa gerakan Kiddo sangatlah sia-sia, Rivaille memutuskan untuk langsung menembak sasarannya. Kepala Moses.

Semuanya berjalan dengan cepat. Peluru yang berhasil menembus kening musuhnya itu membuat Moses tidak bisa menjaga keseimbangannya. Dia lalai hanya karena ingin menyaksikan dulu tersiksanya Rivaille akibat racunnya. Tapi sepertinya ia tidak akan menyaksikan itu, selamanya.

"Sialan kau... Rivaille.."

Melihat Moses sudah tumbang dan tidak bergerak lagi, Kiddo berhenti mundur dan berlanjut menghampiri Rivaille dengan cepat. Kekhawatirannya tak bisa dipungkiri lagi.

"Kau.. tidak apa-apa..?" tanya Rivaille.

Kiddo mengangguk cepat. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia terlalu takut untuk melakukan tindakan pengobatan. Yang ia tahu, racun akan cepat menyebar jika banyak bergerak.

"Kau boleh membenciku.." Rivaille kembali bersuara.

"Tapi jangan benci Petra.." lanjutnya.

Perlahan Rivaille menyentuh kening bocah itu, merasakan rasa hangat yang menjalar saat bersentuhan dengannya.

"Kau masih demam. Pulanglah.. agar Petra bisa menjagamu."

Kiddo menunduk, ia menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan tangis. Bukan saatnya untuk terisak dalam kesedihan dan rasa trauma yang mengambil alih semuanya. Ia harus tahu bagaimana caranya agar ia bisa mendapat pertolongan sesegera mungkin. Tenaga medis akan sangat membantu dalam menangani racun yang menyebar akibat peluru bersarang di tubuh Rivaille.

"Gunakanlah ponselku.. ada di saku celana." Seru Rivaille, seolah bisa membaca pikiran Kiddo.

Anak itu menurut dan merogoh saku yang dimaksudkan. Setelahnya ia tinggal mendengar interuksi lain agar bisa terhubung dengan seseorang, setidaknya seseorang yang bisa mengobati luka dengan benar.

.

X

.

Kiddo duduk tanpa daya di kursi tunggu bersama Petra. Luka sayatan yang ia dapatkan sudah diobati dan diplester. Seharusnya ia juga berada di ruang perawatan karena demamnya tak kunjung turun, namun Kiddo bersikeras untuk berada disana menunggu hasil operasi.

Dengan pandangan samar, Kiddo bisa menyadari gerakan gelisah kedua tangan Petra yang dimainkan. Ini memang berat. Setelah beberapa jam lalu menerima panggilan dari Kiddo, ia harus menerima kenyataan bahwa Rivaille tidak berada dalam keadaan baik-baik saja. Jauh dari kata baik-baik saja.

Petra belum memberi tahu siapapun akan hal ini selain Mike yang tengah mengurus masalah Moses di kepolisian. Juga pada Kuchel. Petra tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Apalagi saat sampai di rumah sakit keadaan Rivaille sangatlah buruk. Keadaan kritis akibat racun itu.

"Maafkan aku.." suara lirih terdengar dari mulut Kiddo.

Petra langsung menoleh. Ia kemudian mengusap pucuk kepalanya penuh perhatian.

"Ini bukan salahmu.."

"Tapi.. jika saja aku melawan sendiri.. jika saja aku tidak ceroboh.. jika saja aku, tidak datang dan mengganggu kehidupan kalian disini.. semuanya tidak akan terjadi. Ayah tidak akan-"

"Jangan berkata seperti itu. Kami sangat senang kau sengaja datang kemari. Percayalah."

Senyuman yang dipaksakan itu memang tidak dapat menghiburnya. Meski dalan ucapan Petra tidak ditemukan sedikitnya kebohongan, Kiddo tetap merasa itu sangatlah menyakitkan.

Suasana kembali hening. Tidak ada topik yang bagus dibicarakan disaat seperti ini. Mereka hanya perlu menunggu. Menunggu hasil operasi dan keadaan Rivaille sekarang. Semoga jauh lebih baik dari harapan.

Denting suara jam yang sengaja dipasang di dinding lorong terdengar seakan menyekik. Kebisingan seakan lenyap ditelan suara jam itu. Mengusik perasaan tidak tenang.

Penantian yang lama ini ternyata tidak ada yang lebih baik.

Detik berikutnya lampu yang menandakan dilaksanakannya operasi padam. Menyadari itu, Petra segera berdiri dan mendekati dokter bedah yang baru saja keluar dari sana.

"Bagaimana, dokter?"

Awalnya dokter itu terdiam. Menimbang-nimbang apa ia harus mengatakannya sekarang atau tidak. Itulah sulitnya menjadi dokter, harus bisa mengatakan keadaan seburuk apapun pada keluarga pasien.

"Operasinya berhasil. Namun ada kemungkinan Rivaille-san tidak akan bisa bangun dulu untuk beberapa hari karena dosis racunnya yang tinggi."

"Apa.. maksudnya.."

"Dia akan koma."

Sesuatu yang terlampau sakit sudah tersuguhkan. Bagaimana bisa Petra menikmati ini. Dalam keadaan hancur seperti sudah mendengar akhir dunia. Dunianya sendiri..

.

X

.

-TBC-

.

.

.

Bagaimana nih? Bang Rivaille-nya koma tuh (kok author kaya yang seneng ya?)

Kira-kira nanti bakalan gimana ya? Author pun tak tau... ._.

Ha~ mengerjakan ini dalam 2 hari itu rasanya..~~

Ditambah ngeditnya subuh-subuh

Nikmati perjuangan author yang hampir mentok gara-gara ngantuk ini yaaaaa

Love youuuuu~~ lalalalala

Ja neeeeeeeee ^o^

-authot shigeyuki-