Jalinan Takdir

Chapter 4

^^Selamat Membaca^^

"kalau memang besok adalah hari itu tiba, maka kita harus bersiap-siap!" ujar Sasuke.

"kau yakin Hinata, besok?"

Hinata mengangguk lemah, "disaat ulang tahun mu, aku tidak percaya ini Hinata, aku benar-benar tidak percaya!"

"apa maksud mu Sakura?" tanya Naruto.

"haruskah di hari ulang tahun mu, kapan kau akan merayakan ulang tahun mu Hinata, ini tidak adil!"

"maksud mu, Hinata tidak pernah merayakan ulang tahunnya?" tanya Sasuke.

"maafkan aku Hinata! Dia sama sekali tidak pernah merayakan ulang tahunnya sejak menyadari bahwa dririnya mempunyai kekuatan itu. Alasannya adalah, karena indra keenamnya itu. Semakin dia bahagia semakin kuat indra keenamnya, dan jika indra keenamnya semakin kuat maka Hinata tidak bisa mengontrolnya. Dan jika itu terjadi, Hinata akan benar-benar hilang kendali dan jiwanya akan di rebut oleh indra keenamnya itu. Itu adalah timbal balik, kalian berdua mengerti?"

Naruto dan Sasuke hanya melongo, tapi sebenarnya mereka mengerti, "memang ada yang seperti itu, aku baru mendengarnya hari ini, jadi maksud mu Hinata akan jadi, gila?" ujar Sasuke. "yah seperti itulah." Sahut Sahut

"kau hebat karena menjadi teman yang setia untuk Hinata, kau tahu segalanya!" ujar Naruto.

"aku tahu karena aku sayang pada Hinata. Oh tuhan, terima kasih kau telah memberikan ku sahabat yang terbaik, batin Hinata. "haruskah aku membantu mu ke tempat tidur Hinata?" Hinata menggeleng pelan, "kau tidur saja dulua Sakura, aku masih belum mengantuk!" Sakura mengangguk pelan dia mengisyaratkan pada Sasuke agar meninggalkan mereka berdua.

"aku tidak pernah menyangka bahwa selama ini kau tidak pernah bahagia, apa yang dikatakannya benar, kau tidak pernah lagi merayakan ulang tahun mu sayang?"

"aku ingin, tapi kekuatan ini akan menjadi semakin kuat, aku tidak akan mampu mengontrolnya. Aku sudah mengalaminya sekali, dan aku hampir gila karenanya. Kau yakin ingin selalu bersama ku setelah mengetahui hal ini?"

"kenapa akau harus berubah pikiran, aku mencintaimu dan akan selalu membahagiakan mu, lagi pula, ini hanya di ulang tahun mu saja bukan!" Hinata mengangguk

"iyah, hanya diulang tahunku saja."

"itu berarti, kita tidak perlu merayakannya bukan, tapi..."

"memang seharusnya begitu. Tidak apa-apa aku sudah terbiasa. Tapi Sakura, dia sangat sedih sekali, setiap ulang tahunku dia selalu kecewa dan kesal padaku. Tapi aku yakin, semua itu adalah demi keselamatanku, dia sama sekali tidak pernah memberiku hadiah, dan disaat ulang tahunnya aku selalu memberinya hadiah, dia berpikir bahwa dia egois, tapi sebenarnya tidak, aku tidak menyalahkannya, ini semua sudah takdir."

~~~###~~~

Saat hampir tengah malam menjelang ulang tahun Hinata, mereka semua menunggu di satu kamar. Kamar Naruo dan Sasuke, mereka sedang mencoba menenangkan diri mereka masing-masing, "kau butuh minum sayang?" tanya Naruto, Hinata menggeleng, "tetaplah disini!" pinta Hinata. Sasuke dan Sakura mengamati laut yang tenang, "kalau benar semua ini akan terjadi, aku mau kau menjadi wanita terakhir dalam hidupku!" ujar Sasuke. Sakura terkekeh, "ini bukan saatnya melodrama Sasuke, aku sedang panik sekarang."

"huuuffft, kau tidak pernah serius sedikit pun Sakura." Sakura tersenyum geli.

Sementara itu pihak pengurus kapal tengah melihat-lihat kembali prakira cuaca di layar datar komputer, dengan teknologi canggih tersebut badai atau Tsunami pasti terdeteksi terlebih dahulu, tapi sampai saat ini tidak ada yang aneh, "aku menyesal karena sedikit percaa dengan omongan dua orang aneh itu, sial!"

"dua orang aneh itu, salah satunya adalah orang yang paling penting dan paling kaya se antero negeri Konoha kau tahu? Dan wanita itu mengaku kalau dia memiliki indra ke enam, mungkin aku percaya dengan kata-katanya!"

"benarkah... atas dasar apa kau percaya hal itu?"

"atas dasar..."

"kapten, saya melihat sesuatu." Ujar salah satu pemantau.

Pemantau itu memberika teropong itu pada sang kapten, ia melihat sesuatu, seperti air yang besar, sebuah ombak seperti Tsunami, "oh tuhan, tidak mungkin!"

Sebuah alaram peringatan berbunyi keras, "apa itu?" tanya Sakura.

"alarm peringatan, lihat itu!" tunjuk Sasuke.

Air itu mengarah tepat ke arah kapal pesiar, sang kapten kapal memerintahkan nahkoda untuk memutar kapal agar tidak menyamping, dengan keras dan kuat ia mulai mengendalikannya tapi saangnya air bah itu tak dapat dihindari. Begitu besar, tinggi dan... kapal itu tiba-tiba saja tergoleng menyamping karena benturan keras dari air itu. Semua penumpang terombang-ambing didalamnya, begitu juga dengan empat orang ini, mereka berusaha sekuat tenaga agar tidak terbentur oleh apa pun, dan oh sial, ada air yang masuk dalam kamar mereka.

Dilihat dari luar kapal itu kini sudah terbalik sepenuhnya, dan didalam kapal, tentu saja semua orang berpijak di atap kapal. Kini kapal itu telah terdiam sepenuhnya, penerangan di dalam kapal kini meredup, para penumpang kapal yang masih tersisa kini hanya bisa menangis menjerit melihat orang-orang yang berserakan, mereka semua tewas karena akibat guncangan tadi, ada yang tertindih besi, ada yang terbakar terutama di bagian dapur, dan ada juga yang terbentur, semuanya lengkap.

Di kamar mereka sepenuhnya sadar bahwa mereka berpijak pada atap, tidak ada yang terluka, syukurlah! Tapi air semakin meninggi, "kalian tidak apa-apa?" tanya Naruto. mereka semua mengangguk. "ao kita keluar dari sini, kurasa kapal ini terbalik!"

"kau benar," ujar Sasuke, "lihat!" dia menunjuk ke luar, air sudah semakin tinggi, mereka berjalan melintasi lorong dengan badan yang terasa sakit akibat benturan keras, "kemana semua orang?" tanya Sakura, "mungkin mereka ada di pesta, kau lupa, hari ini tahun baru." Sasuke memperingatkan. Mereka sudah menjauhi air itu, kini tujuan mereka mencari peta, "mungkin bagian kemudi sudah tenggelam sepenuhnya, jadi aku mencurinya." Ujar Naruto.

"oohh bagus sekali, sejak kapan?" tanya Sakura.

"saat aku dan Hinata meyakinkan mereka. Kini kita punya peta, yang seharusnya kita lakukan adalah mencari bagian baling-baling kapal ini, dan kita akan keluar dari sana!"

"apa?" teriak Sakura.

"itu hal yang harus kita lakukan Sakura, Naruto benar!"

"jangan-jangan kau melihatnya!" tebak Sasuke. Hinata mengangguk, "haaaaahhh, kalau begitu, syukurlah!"

"kau lega sekali Sakura, saat Hinata sudah melihatnya."

"karena aku percaya!" ujar Sakura sambil melototi Sasuke.

"bagaimana dengan semua orang?" tanya Hinata.

"sayang, kita tidak mungkin mengajak mereka semua, itu tidak akan mungkin. Begini saja, jika menemukan seseorang yang masih hidup, kita akan mengajak mereka oke?" Hinata mengangguk.

Mereka melanjutkan langkah mereka, begitu banyak halangan dan rintangan yang mereka temui, api yang menyala-nyala dan air yang semakin mengejar mereka kini lebih dekat. Mereka telah sampai di lambung kapal, dan mendengar seseorang meminta tolong, "tolong suami ku, kakinya terjepit!" wanita berusia setengah baya, ia setia menemani suaminya yang sedang kesakitan karena kakinya terjepit besi yang di duga berasal dari lambung kapal yang patah.

"kita akan mengungkitnya dengan besi ini, akan ku hintung... 1,2,3.."

Mereka berdua, Naruto dan Sasuke menekan besi itu sehingga besi yang menjepit kaki suami wanita itu kini terlepas, "ooh syukurlah, terima kasih anak muda, kalian telah menyelamatkan suamiku!"

"terimakasih, nama ku Yahiko dan ini istriku Conan, kami ingin pergi ke pesta untuk merayaka tahun baru, tapi sayang kami tersesat."

"itu sebuah keberuntungan tuan, karena kalian tersesat, nama saya Hyuuga Hinata, ini Sakura, dia Sasuke, dan ini Naruto."

"Naruto? Naruto Namikaze itu, benarkah?" tanya Yahiko.

"anda tidak salah orang tuan." Ujar Naruto.

"ooh tuhan, beruntung sekali, aku dan istri mu bertemu di sini, tapi dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Perkenalkan saya, saya ingin mengajukan sebuah bisnis dengan anda, tapi jika kita selamat tentunya."

Naruto terkekeh, "baiklah, dan mungkin seharusnya kita bergegas!"

Mereka kini berjalan terus menuju lambung kapal, tidak ada orang di lorong itu, tapi kini kapal mulai lagi berguncang, dan Hinata merasakan sesuatu, dalam penglihatannya, "sayang!" Naruto memeluk Hinata, Hinata melihat semua orang tenggelam beserta dengan kapalnya, namun tidak dengannya dan teman-temannya mereka semua selamat, "hey, tenanglah sayang, ada apa, ceritkan pada kami!" Sakura tersenyum melihat sahabatnya mempunyai sesorang yang mengkhawatirkannya.

"mereka semua akan tenggelam!" mereka terkejut mendengarnya, terutama pasangan suami istri itu, "apa maksud mu nak, bagaimana mungkin kau tahu?" Sakura menjelaskan semuanya pada dua orang itu, dan mereka langsung saja percaya, "lihat istriku, kita menemukan seseorang seperti Nagato, dia adalah seseorang yang mempunyai kemampuan yang sama seperti dirimu, dia bisa melihat masa depan, tapi sekarang dia telah tiada."

"mengapa tuan?" tnaya Sasuke.

"obsesinya yang terlalu berlebihan akan kemampuannya itu membuatnya lupa diri, dan akhirnya kekuatannya sendirilah yang mengantarkan dia pada kematiannya. Malang nasibnya!"

"temanku tidak akan seperti orang itu tuan!" ujar Sakura, ia memeluk Hinata erat, "kau baik-baik saja sekarang?" Hinata mengangguk, "apakah kita akan selamat?" tanya Sakura, dan Hinata mengangguk lemah, "bagus, itu adalah keajaiban dari kemampuan mu itu Hinata, aku tidak akan menyia-nyiakan hidup kita, kau percaya, kita akan bersama-sama!" Hinata tersenyum, teman tersayangnya selalu bisa mendamaikan keadaannya.

Naruto dan Sasuke saling menatap dan tiba-tiba berdecak, "baiklah-baiklah, kita semua akan selamat, tapi sekarang kita harus berusaha terlebih dahulu, ayo kita pergi!" ujar Sasuke.

Mereka melanjutkan perjalanan, lambung kapal itu sangat gelap, hingga Sasuke dan Naruto terpaksa meninggalkan mereka dulu untuk mencari senter, setelah mereka menemukan senter, masing masig dari mereka memegang satu. Mereka mulai berjalan dengan air yang mengelilingi mereka hingga mencapai pinggang, "oh tidak!" teriak Sakura. Ia melihat beberapa penumpang tewas terapung, "jangan melihatnya!" perintah Sasuke, ia pun menuntun Sakura.

"kita harus melewati jalur ini, dan hanya ada satu cara yang tersisa, lift." Ujar Naruto.

Saat mereka mencapai lift, kini lift itu telah rusak, dan hanya ada api yang membara di bawahnya, "bagaimana mungkin kita melewatinya?" Sasuke menenangkan Sakura, "dengan ini!" ujar Naruto, ia menemukan bangku besi panjang yang dimana semua kaki bangkunya patah, mereka bisa menggunakannya sebagai jembtan, "ooh kerja bagus nak!" ujar Yahiko.

"Sasuke, kau duluan!"

"baiklah," Sasuke mulai menyebrang, "ayo tuan, giliran anda!" dia sudah menyebrang, kini giliran istrinya, "tidak apa-apa, ayo raih tanganku!" suaminya menenangkannya. Kini giliran Saskura, "ayo Sakura, kau pasti bisa, ayo pegang tangan ku!" Sakura mulai menyebranginya, ia hanya melihat Sasuke, "tangkap aku!" ujar Sakura, "aku akan menangkap mu!"

Setelah Sakura kini Hinata, "jangan takut, aku dibelakang mu, dan ingat, jangan melihat ke bawah!" Hinata melintasi jembatan itu, dia diam ditengah-tengah, melihat sesuatu dari penglihatannya, lift yang berada diatasnya akan segera jatuh, tepat saat Hinata menyebrang, dia tidak akan meninggalkan Naruto, "kenapa sayang, kenapa kau diam, ayo terus jalan!"

Hinta mengulurkan tangannya, "berjalanlah bersama ku, aku mohon!" Naruto menuruti permintaannya, dia mulai berjalan ke arah Hinata, bangku itu sedikit olenng, tapi seimbang kembali. Naruto sampai dan sudah berada di dekat Hinata, mereka berdua saling berpegangan tangan, lalu mulai berjalan kearah Sakura, "kalian semua mundurlah!" lalu mereka semua mundur, "Naruto, durung tubuh kita bersama-sama, ayo cepat lakukan!"

"baiklah, 1,2,3..." brughh.. mereka berdua terjatuh bersamaan dengan Hinata yang berada diatas Naruto. mereka terkejut melihat lift yang terjatuh itu, sungguh di luar dugaan, pintu lift itu tertutp api sepenuhnya"kau baik-baik saja, kenapa tiba-tiba aku yang jatuh diatas mu?" tanya Hinata, "apakah itu penting, yang terpenting sekarang adalah kau selamat, dan kau juga menyelamatkanku!"

"syukurlah, kau pasti melihatnya ya kan?" tanya Sakura, Hinata mengangguk lemah.

"baiklah, sekarang kearah mana kita?" tanya Sasuke.

"ayo lihat peta. Disini adalah lambung kapal, dan disini adalah mesin, kita bergerak dari sisi timur menuju mesin, disana baling-baling itulah berada, dan kita akan keluar melewatinya, berdo'sa saja semoga tidak terjadi kebakaran!"

"ooh ya tuhan, semoga itu terjadi!" ujar Conan.

Dalam perjalanan mereka masih mendengar teriakan para penumpang, "ya tuhan, selamatkanlah mereka!" ujar Conan. Itu membuat Hinata menghembuskan napas berat, ia menangis, "sayang, sudahlah, ini bukan kesalahan mu, tolong jangan menangis!"

"bagaimana mungkin aku tidak bersalah, aku tahu semua ini akan terjadi, tapi aku hanya dia saja dan tak berbuat apa-apa!"

"kita sudah berusaha keras untuk menolong merka, kau lihat, para penggerak kapal ini tidak percaya sama sekali pada kita, dan kau juga lihat, Sakura da Sasuke sudah memberitahu sebagian dari para penumpang saat acara pesta."

"yah dan itu memalukan sekali," ujar Sakura, "aku tidak peduli lagi denga mereka semua Hinata, mereka merehmehkan peringatan kita, aku dan Sasuke mengikuti ucapan mu, benarkan?"

"yah Hinata, Sakura benar, kau bilang nikmati saja. Kami menikmatinya walau dalam hati kami ketakutan, lihat aku jujur padamu!"

Kejujurannya itu membuat Hinata tersenyum, "nak, jika mereka tidak mendengar mu, maka biarkanlah, aku setuju dengan teman-teman mu!"

"terimakasih tuan!" ujar Hinata.

"ayo kita lanjutkan!" Naruto mengeratkan pegangannya pada tubuh Hinata, air semakin meninggi, dan mereka belum mencapai lambung kapal. Mereka menemukan jalan buntu, tapi tidak jalan yang seharusnya mereka lalui kini tergenang air. Mereka harus menyelam jika ingin sampai ke lambung kapal, "pegangi senter ini, aku akan melihat peta. Lihat, ini jalan yang harus kita tuju, dan air sudah menggenanginya, kita harus berenang dan melewati air itu!"

"tidak! Itu tidak mungkin!"

"kenapa Sakura..."

"Hinata tidak bisa berenang." Ujarnya.

"sayang, kenapa kau tidak memberitahu ku sebelumnya?"

"maafkan aku!" ujar Hinata.

"baiklah, Sasuke, kau tahu harus kemana kau pergi kan, tuntun mereka agar sampai ke tempat itu, aku dan Hinata akan menyusul!"

"berhati-hatilah!" Naruto mengangguk, "Hinata, jangan takut, Naruto ada disampingmu, aku akan menunggumu disana!" Hinata mengangguk. mereka mulai menyelam satu persatu melewati pintu itu, dan kini tinggallah Naruto dan Hinata, "sayang dengar, kau harus menarik napas sedalam mungkin, dan jangan sampai kau membuka mulut mu ketika dalam air, kau mengerti," Hinata mengangguk, "aku akan memegangi mu!"

Mereka mulai menyelam, oh ya tuhan banyak sekali mayat di sekita mereka Hinata mulai menagis, tapi dia melihat Naruto mengglengkan kepala, itu pertanda, kuatkan dirimu! Hinata menenangkan dirinya, dia tidak kuat lagi, napasnya habis. Naruto memberi napas buatan dalam air, ia mulai melihat Hinata membuka matanya, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Mereka hampir sampai, tapi kaki Hinata keram, dan Naruto memegangi Hinata semakin erat, Naruto melihat Hinata menutup matanya.

"oh tuhan, jangan!" ujar Naruto dalam hati.

Mereka berdua sampai di permukaan, Hinata kini tengah berbaring dengan Naruto yang memeberinya napas buatan, "sayang ku mohon bangunlah, ku mohon!" ia memberi napas buatan lagi dan lagi, lalu hinata membuka matanya, "ooh syukurlah!" ujar Conan.

"Hinata kau tidak apa-apa, aku hampir saja jantungan melihat mu seperti itu, ya tuhan!"

"aku tidak apa-apa Sakura!" Hinata menatap Naruto, "aku baik-baik saja!" Naruto menggelengkan kepalanya, "aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau... aku akan mati!"

"aku mohon jangan berkata seperti itu, tidak akan ada yang mati diantara kita, aku berjanji!"

"baiklah, kau sudah berjanji Hinata. Bisakah kita melanjutkan perjalanan, aku sangat ingin keluar dai tempat ini!" ujar Sasuke.

"iyah, ayo!"

Mereka telah sampai di lambung kapal tapi sepertinya sangat sulit untuk mencapai bagian balingbaling kapal karena tertutupi banyak benda berat. Mesin mesin itu hancur lebur dan bila mereka beruntung keluar dari lambung itu mereka akan selamat dari bahaya api yang kapan saja bisa membakar tubuh mereka, "kita harus berhati-hati, sesuatu yang berbau tajam atau apapun yang menjadi pemantik api, harus kita singkirkan!"

"lihat itu!" tunjuk Sasuke.

"ini tidak mungkin, bagaimana bisa ada bahan bakar disini!"

"ya ampun Sakura, tentu saja bahan bakar di perlukan, kalau tidak dengan apa kapal sebesar ini bisa melaju. Tidak bisa hanya mengandalkan angin!" ujar Sasuke sambil menggelengkan kepalanya pada Sakura.

"kita harus menyingkirkannya, ayo Sasuke!"

"disini terlalu panas, aku tidak tahan!" ujar Conan

"kau bisa beristirahat disini, aku dan anak-anak itu akan mengatasinya!" ujar Yahiko

"Sayang," Naruto menggenggam tangan Hinata, "tunggulah disini, jangan menyentuh apa pun, kau mengerti?" Hinata mengangguk.

Mereka berdua cukup berhati-hati dengan menyingkirkan bahan-bahan bakar itu, "kau lihat mereka berdua Hinata, sepertinya mereka akur sekali sebagai teman, apa kau melihat sesuatu tentang mereka?"

"entahlah Sakura! Tapi... aku melihat dirimu berada di pelaminan... dengan Sasuke."

"apa?" teriak Sakura, "itu tidak mungkin, tapi... dia kan seorang playboy, akankah..."

"percayalah pada takdir Sakura, aku tidak tahu apakah penglihatan ku ini benar atau tidak, itu yang aku lihat!" Saat mereka masih menyingkirkan bahan bakar itu, tiba-tiba kapal bergoncang, lalu mereka kembali ke tempat semula, "Naruto ayo cepat pergi!" ujar Sasuke. Sasuke dan Yahiko pergi terlebih dahulu dan tidak menyadari kalau Naruto tertinggal. Ia masih harus menyingkirkan bahan bakar itu dari dan mesin, tapi sayangnya kebakaran tak terelakan. Suara ledakan itu membuat semuanya terkejut, "Naruto!" ujar Hinata.

"ya tuhan, dia benar-benar nekat!" umpat Yahiko.

"Naruto kau bisa dengar aku!" teriak Sasuke, "apa yang terjadi, suara apa itu?"

"ini jalan keluar kita, aku harus membuat baling-baling itu berhenti berputa, dan aku akan meledakannya!"

"apa dia bilang, meledekannya, bagaimana kalau terjadi ledakan besar?" ujar Sasuke.

"tidak akan, bahan bakar yang lain sudah aku singkirkan. Ini hanya untuk meledakan bagian dalam baling-baling kapal."

Kemudian terdengarlah ledakan, "ya tuhan, apa dia baik-baik saja?" ujar Conan. Hinata mengeluarkan air mata, ia tak dapat menahan air matanya lagi. "Naruto!" teriak Hinata. Tak ada jawaban, "aku harus segera kesana..." Hinata mendapati tangannya dicengkram erat Sakura, "jangan coba-coba Hinata, dia baik-baik saja, kau harus yakin itu!" Hinata sangat yakin Naruto baik-baik saja, tapi dia harus melihat keadaannya.

Hinata melepaskan tangannya dari Sakura dan pergi menyusul Naruto. naruto berhasil membuka jalan dari bali-baling itu, ia terlempar cukup jauh dari tempatnya, dan rasa sakit di sekujur tubuhnya itu tak bisa ia tahan lagi. Samar-samar ia mendengar namanya di ucap, "Hinata." Gumam Naruto.

Hinata datang dan melihat Naruto tergeletak, "Naruto, kau tidak apa-apa?" Hinata memeluk Naruto erat, "aku baik-baik saja, kita harus memanggil mereka semua, aku sudah membuat jalan!" Hinata mengangguk, "aku akan memanggil mereka!" Hinata berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama mereka satu persatu, dan kemudian...

Sesaat kemudian kapal bergoncang kembali, "kapal ini akan tenggelam!" ujar Hinata. Naruto menggenggam tangan Hinata. Mereka semua datang dan berkumpul di balik celah baling-baling itu, "kita harus cepat keluar, kapal ini akan tenggelam!" ujar Naruto. mereka semua terkejut mendengarnya, "baiklah, Sasuke, kau duluan, tuntun mereka semua!" Sasuke mengangguk. dia menuruni baling-baling itu dan terjun ke laut. Ya tuhan betapa dinginnya air laut sekarang.

Sasuke melihat perahu karet yang terapung, dia mengambil perahu itu, Yahiko dan Conan terlebih dulu sampai dan mereka langsung menaiki perahu, setelah itu Sakura dan...

"kita melompat bersama-sama, ayo!"

Naruto menggenggam erat tubuh Hinata agar tak terlepas dari pelukannya, saat Naruto berenang ke perahu itu tiba-tiba tubuhnya mati rasa. Hinata panik, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, "Naruto!" Hinata menangis, "jangan menangis sayang, aku tidak apa-apa!" Naruto terus berjuang agar sampai ke perahu, Sasuke melihat Naruto yang sebentar lagi sampai, tapi turun dari perahu dan membantu mereka berdua, "ayo cepat!" ujar Sasuke.

Hinata telah naik ke perahu, disusul dengan Naruto yang di bantu Sasuke. Naruto tergeletak, badannya lemah, "Naruto!" ujar Hinata sambil mengelus pipi Naruto, "aku tidak apa-apa!" ujarnya.

"oh tidak, kapalnya!" teriak Sakura.

"kita harus mendayuh perahu ini, cepat!" teriak Sasuke.

Kapal pesiar itu bergerak cukup cepat, kapal yang semula terbalik tersebut kini membalik lagi seperti asalnya sebuah kapal, akan tetapi tak berapa lama kemudian kapal itu perlahan-lahan jatuh tenggelam ke dasar laut. Syukurlah perahu yang mereka tumpangi kini menjauh dari kapal yang tenggelam itu dan mereka tidak tertarik oleh tenggelamnya kapal, "ya tuhan, ampunilah dosa mereka!" ujar Conan.

"apa ini yang dimaksud dengan pembalasan dari tuhan, seberapa besarkah kesalahan mereka!" ujar Conan, dia sangat berduka cita untuk para penumpang yang lain, begitu pun Hinata dan yang lain. Jika ia bisa memilih, maka ia tidak ingin memiliki kekuatan ini, hatinya sangat perih melihat semua jiwa itu terenggut begitu saja, ia tahu, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

"ya tuhan Conan, aku tidak percaya kita selamat, kita beruntung bertemu dengan anak-anak ini, kami sangat berterima kasih pada kalian semua karena telah mengajak kami!"

"ini semua karena takdir nyonya, aku berusaha untuk tidak melawannya!" ujar Hinata lemah.

"kau anak yang baik!" ujar Yahiko.

Mereka mulai menyalakan kembang api peringatan, dan saat kembang api diluncurkan kehidupan baru akan mereka mulai dari sini.

^^Bersambung...^^