Aroma darah—sesuatu yang terasa amat amis dan besi berkarat di tangkap oleh indera penciuman Kui Xian—Kyuhyun, anak ketika dari kaisar Han di masa itu. Dia tak mengerti, apakah ia harus tersenyum atau harus menangis. Dia mendapat kemenangannya tapi disisi lain ia merasa ini menyedihkan. Kyuhyun memandang takut takut pada bungkusan yang di pegang oleh Zi Tao. Jubah yang awalnya berwarna hijau lumut itu kini berangsur memerah karena pekatnya darah dari kepala yang menjadi bingkisan untuk ayahnya di dalam sana.

Langkah kuda Kyuhyun memasuki gerbang utama kota Chu San. Kota yang di sekelilingnya terdapat tembok yang kokoh. Tembok yang kuat dari luar namun renta ketika dari dalam. Tembok itu seperti penjara tersendiri bagi orang orang di dalamnya. Pertahanan yang kuat tapi bagaikan pedang bermata dua bagi penguasanya.

Kyuhyun memandang iba pemandangan sekitarnya. Tidak terlalu banyak mayat yang bergelimpangan. Kai melakukan dengan baik, korban perang di minimalisir olehnya meski harus di akui remaja gila perang itu menempuh bahaya mengerikan dalam memenggal kepala gubernur Chu San. Kyuhyun harusnya memberi penghargaan untuk adik Kibum itu.

Para wanita dan anak anak tampak bersedih. Mereka duduk dan menangis—ketakutan terlihat di mata mereka. Kyuhyun tahu, mereka takut mereka akan di jadikan pelacur atau budak. Mungkin bagi mereka lebih baik di bunuh. Kyuhyun turun dari kudanya, dia mengulurkan tangannya pada seorang anak yang terlihat kotor yang menangis meraung di dekat tempatnya berdiri.

Kibum sendiri sudah siap dengan pedangnya, memenggal sang anak jika saja melukai Kyuhyun.

"Siapa namamu?" Kyuhyun bertanya. Suaranya terdengar lembut namun jelas. Seluruh menusia di sekitar mereka larut dalam keheningan. Anak itu menatap nyalang pada Kyuhyun. Dia takut orang tuanya akan di bunuh oleh orang asing yang tiba tiba menjajah kotanya. Dia tak terlalu mengerti, tapi ia tahu yang dihadapannya itu adalah orang yang menyebabkan tangis di negerinya.

Bocah itu menggigit tangan Kyuhyun. Menimbulkan ringisan kecil di bibir Kyuhyun. Kibum maju selangkah dan siap secepat kilat memotong bagian tubuh sang bocah. Kyuhyun menghentikannya, dia memberikan isyarat bahwa ia baik baik saja.

Kyuhyun masih tersenyum. Dia mengulurkan tangannya yang lain. Dia mengelus kepala sang bocah. "Maafkan aku!" kata Kyuhyun sarat akan kesedihan pada tatapannya. Gigitan anak itu mengendur, setetes darah Kyuhyun jatuh di tanah Chu San. Bocah lelaki kotor itu menghambur di pelukan Kyuhyun. Kota Chu San, bukanlah kota makmur yang memiliki kehangatan di dalamnya.

Rakyat banyak menderita di kota kokoh ini. Pejabat pejabat korup negeri tetangga mereka itu menghabisi rakyat dengan pajak besar dan melakukan kerja paksa untuk membangun tembok kota Chu San. Belum lagi derita kelaparan diantara rakyatnya dan penyakit diare yang tidak bisa di sembuhkan. Kota itu menyedihkan, dan kali ini mereka di serang oleh Negara lain.

Apa yang harus di lakukan oleh rakyat menyedihkan itu?

Kepada siapa mereka mengadu? Apakah mereka harus mengorbankan nyawa mereka untuk membangun kota yang lebih besar? Bekerja seharian penuh tanpa makan dan minum? Apakah mereka harus menderita sakit tanpa di obati?

Kyuhyun memberikan harapan pada mereka. Dia memeluk seorang bocah yang bahkan selalu di pukuli oleh orang tuanya dengan penuh kasih. Jika pria itu memberikan kasih sayang pada salah satu rakyat yang bahkan tak berguna apalagi pada mereka yang masih bisa bekerja. "Siapa namamu?" Kyuhyun bertanya.

"Guo Chi" anak itu menjawab. Membuahkan tawa di wajah Kyuhyun.

Dong Hai—Donghae, anak kedua kaisar Han itu tersenyum lega melihat interaksi adiknya dengan penduduk kota. "Jangan sakiti mereka, berikan mereka makanan dan obat!" perintah Kyuhyun yang dilakukan dengan senang hati oleh para prajuritnya. Mereka tak menyesal telah meninggalkan kesetiaan mereka pada putra mahkota dan beralih pada si pangeran bungsu berhati mulia itu.

God Of War

.

.

KIHYUN

Pesta yang meriah di gelar oleh Kyuhyun di malam kemenangannya di kota Chu San. Besok pagi pagi sekali ia dan pasukannya akan kembali ke ibu kota, menghadap kaisar dan memberikan laporannya. Seorang pria tua menghampiri Kyuhyun. Seluruh rakyat memang di undangnya ke pesta tersebut tanpa pengecualian.

"Maafkan hamba bila hamba lancang yang mulia" pria tua itu buru buru bersujud ketika beberapa prajurit yang mengawal Kyuhyun mengarahkan senjata pada sang pria tua. Suho yang bertugas menjaga Kyuhyun malam itu. Dia melirik Kyuhyun, wajah sang pangeran terlihat lucu ketika ia terkejut dengan suara tombak yang dipegang prajuritnya saling beradu, mencoba mencegah kakek tua itu mendekat demi keselamat pangeran mereka.

"Hei, bagaimana mungkin kalian kasar kepada orang tua" Kyuhyun tak percaya dengan bawahannya. Dia segera memerintahkan mereka mundur. Ia mengambil sebotol sake di meja, ia membawa salah satu cawan pada sang kakek. "Duduklah kek!" katanya ramah. Ia memberikan cawan yang sudah ia tuangkan sake pada sang kakek.

Terharu.

Kakek itu menangis saat meminum sake yang di berikan oleh Kyuhyun. "Maafkan hamba yang mulia"

"Ah, iya" Kyuhyun sedikit canggung. "Makanlah lebih banyak. Kau sangat kurus"

"Apakah paduka akan membebaskan kami semua?"

"Tentu saja. Aku memberikan kebebasan untuk kalian semua. Kalian bisa keluar dari kota ini, dan mencari tempat tinggal di daerah lain atau apapun yang kalian inginkan"

"Bisakah hamba tinggal di sini?"

"Jika itu yang kau inginkan tidak masalah. Tapi aku ragu, tidak ada yang bisa kalian makan di sini"

"Kami akan mencarinya paduka. Biarkan kami tinggal untuk paduka. Biarkan kami mengabdi padamu!"

Kyuhyun terdiam. Dia bisa merasakan betapa prajuritnya terlihat bangga padanya ketika masyarakat di kota itu menatap harap padanya. Kyuhyun tertawa kemudian. "Kalau begitu bisakah aku memberikan perintah pertamaku sejak aku menjajah kota ini?"

Seluruh penduduk terdiam. Tapi seorang anak menghampiri Kyuhyun, memberikan sebuah jeruk di tangan Kyuhyun. "Hiduplah dengan baik dan tumbuhlah menjadi Chu San yang makmur" Kyuhyun menghapus noda di mulut sang anak. Tersenyum dengan manis sambil menitahkan hal yang sangat baik.

Ika. Zordick

Malam ini, rembulan tidak penuh di atas sana. Kyuhyun bisa melihat, rasanya rembulan itu bersinar begitu terangnya. Apakah rembulan itu berbahagia karena kemenangan Kyuhyun atas Chu San ataukah—

Suara pintu geser kamar Kyuhyun di rumah mendiang gubernur Chu San terdengar terbuka. Angin ikut berhembus dari pintu itu, berhembus masuk dan membuat api pada lilin lilin di kamar itu bergoyang. Kyuhyun menoleh, menemukan Kibum—sang suami yang berdiri di ambang pintu. Dia kembali menutup pintu dan Kyuhyun tak mengerti kenapa ia tersenyum begitu manis untuk lelaki itu.

"Besok, kita akan menempuh jalan malam ke ibukota agar pagi hari kita sampai di sana." Kibum menjelaskan hasil rapatnya dengan pangeran kedua dan adik adiknya. "Apa yang mengganggumu hingga kau belum tidur?" Kibum bertanya kemudian ketika Kyuhyun tak kunjung merespon ucapannya.

Lelaki berwajah tampan dan berkarisma itu terlihat berkelas dengan pakaian baru yang ia kenakan. Bukan dari sutera, tapi setidaknya kain itu lebih baik dari pakaian ala petani yang di gunakan oleh Kibum sebelumnya. "Kau tampak hebat dengan Jubah itu"

"Hm" Kibum merasa Kyuhyun tak terlalu tertarik dengan tema Negara ataupun kepulangannya ke ibu kota. "Sebaiknya kau tidur, hari akan semakin dingin"

"Ji Fan" Kyuhyun memanggil lelaki yang baru saja duduk di salah satu kursi di meja yang berbentuk lingkaran. "Kau sendiri tidak tidur?"

"Aku harus memastikan kau aman sebelum aku tidur" Kibum menjawab seadanya. Kyuhyun mungkin berpikiran terlalu banyak. Kibum itu mungkin menikahinya agar memiliki alas an untuk melindungi saja, bukan karena mencintainya seperti yang ada dipikirannya. Kyuhyun merasa dirinya aneh sekarang, dia seorang pria yang merupakan anak kaisar. Pernikahan tanpa cinta adalah hal biasa di kalangan istana.

"Kau tertarik untuk jalan jalan keluar? Aku ingin melihat kolam ikan di depan kamar ini" Kyuhyun tak boleh banyak berharap, tapi berbicara dengan Kibum di dalam kamar berdua hanya membuat Kyuhyun menjadi lebih canggung.

Kibum menyanggupi.

Ika. Zordick

Menengadah, Kyuhyun berkata ia ingin melihat kolam ikan. Tapi yang ia tatap tak lebih hanya pergerakan awan yang mencoba menutupi rembulan di atas sana. Kibum sendiri tak punya tujuan lain selain menjaga Kyuhyun. Pangeran bungsu itu tak boleh sampai terluka sedikitpun. Itu kewajibannya sebagai pengawal Kyuhyun sejak ia bersumpah setia untuk menggapai visi hidup lelaki itu.

Tapi sepertinya Kibum lupa. Jika ia berjanji satu hal lagi.

Berjanji untuk menjaga Kyuhyun secara pribadi. Bukan sebagai abdi Negara. Melainkan suami dari lelaki itu.

"Ji Fan" Kyuhyun kini menatap lurus pada riak gelombang di kolam saat ia menjatuhkan sebuah batu kerikil ke dalamnya. Kyuhyun baru sadar, ia bisa melihat bulan tanpa harus menyakiti lehernya dari pantulan air di kolam. "Bagaimana jika sesampainya di istana ayahku akan menikahkanku dengan gadis bangsawan?"

Kibum melepas jubahnya. Memasangkannya pada tubuh mungil Kyuhyun—mencegah angin jahat di malam itu mengikis kesehatan Kyuhyun. "Bagaimana jika aku tidak bisa setia padamu?"

Kibum memeluk lelakinya dari belakang. Mengambil kesempatan memberi kehangatan pada Kyuhyun. "Aku pria yang berambisi. Aku hanya ingin kau menjadi kaisar suatu hari nanti" Kyuhyun memejamkan matanya ketika pelukan Kibum semakin erat di tubuhnya. Pelukan nyaman yang terasa begitu melindunginya. "Dibandingkan dengan ambisi itu, cintaku hanya nomor sekian untukmu"

"Kau tidak mencintaiku?" Kyuhyun merasa dia benar benar bodoh menanyakan ini.

"Untuk menjadi kaisar kau tak membutuhkan cinta dariku Kui Xian, kau butuh anak yang dilahirkan oleh permainsuri."

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Ia tahu, ia bahkan sangat tahu. Tapi jika mendengarnya sendiri, rasanya tidak ia sangka akan sesakit ini. "Tidak ada laki laki yang menjadi permainsuri" Kibum tersenyum. Mengecup pipi Kyuhyun sekilas. Membuat jantung Kyuhyun kembali merasakan detakan ganjil itu. "Tapi percayalah, lelaki ini akan menjagamu dan negaramu lebih baik dari permainsuri yang dapat lakukan. Kita butuh symbol itu."

"Apa yang harus ku lakukan?" Kyuhyun membalik tubuhnya. Menatap dalam ke dalam bola mata sekelam malam milik Kibum. Menyelaminya, mencoba menarik kejujuran dari dalam sana. Kyuhyun tak menemukannya, karena lelaki itu tak pernah berbohong sekalipun padanya. Kibum itu orang yang jujur. Dia bahkan terlalu jujur tentang perasaannya dan mendesak Kyuhyun menikah dalam waktu yang sangat singkat.

"Kita harus menjadi kejam, Kui Xian. Menikahlah secepatnya dengan permainsurimu, dapatkan kekuatan politiknya dan ambillah anakmu. Setelah kau cukup kuat, kau boleh mendapatkan segalanya, termasuk aku sebagai seseorang yang sah untukmu"

Ika. Zordick

"PANGERAN KEDUA DAN KETIGA TIBA!" teriakan membahana terdengar menyambut kepulangan Kyuhyun dan Donghae ketika memasuki ibukota. Sorak sorakan pujian mulai bersahutan. Kerajaan baru saja mendapat berita kemenangan dan betapa bangganya masyarakat kepada pangeran mereka.

Kyuhyun dan Donghae memakai tudung sungkup mereka. Tak ada yang boleh melihat wajah ke duanya—itulah yang diputuskan oleh kementrian istana prihal kematian orang penting istana yang terjadi beruntun belakangan. Tidak ada yang tahu bahwa salah satu diantara ribuan rakyat yang tulus menyambut ada seorang pembunuh diantaranya.

Xiang Ri Kui—kelompok itu terlihat mendudukkan wajah mereka. Sepertinya mereka malu, sudah terlalu lama mereka tidak mendapat pujian. Pemilik mereka sebelumnya tak pernah membiarkan mereka di kenal oleh rakyat. Kyuhyun tanpa sadar meneteskan air mata, dia bangga tapi sekaligus malu pada dirinya sendiri. Dia menatap beberapa keluarga yang meraung menangisi beberapa pejuang yang gugur. Meskipun diantara mereka adalah penghianat. Tapi tetaplah mereka adalah rakyatnya.

Di dalam kepalanya berputar beribu pertanyaan. Seperti—

Bagaimana cara menghentikan tangis mereka? Bagaimana agar mereka bahagia? Bagaimana mereka bisa makmur?

Semuanya menjadikan motivasi tersendiri bagi Kyuhyun.

Dia menatap langit di atas sana, terlalu cerah untuk menyambut duka namun pas untuk kemenangan mereka. Kyuhyun ingin bertanya pada langit, apakah kematian para prajuritnya adalah takdir?

Ataukah itu bisa di cegah?

Kyuhyun rasa ia perlu mendatangkan filosofi handal agar ia bisa mengetahui jawabannya. Ia terlalu takut untuk kehilangan rakyatnya lebih dari ini.

Langit biru terkadang seolah bercerita padanya. Inilah alas an mengapa Kyuhyun suka melihat langit. Tempat itu terlihat sangat luas dan mempunyai beragam misteri serta menyimpan jutaan jawaban. Kyuhyun yakin dia akan mendapatkan kuasa langit itu. Tapi sebelum itu bukankah ada yang harus ia lakukan?

Ia menatap sekelilingnya. Sebuah ambisi memenuhi relung hatinya. Sebuah kenyataan juga ikut menamparnya. Dia bergumam—tak ada satupun yang mendengar mungkin hanya angin yang akan menyampaikannya pada langit.

"Apakah Putra mahkota dan kaisar melihat ini? Apakah mereka mampu membuat mereka menjadi lebih baik?" –Ya, Kyuhyun harus menjadi penguasa suatu hari nanti.

Ika. Zordick

Heran.

Kyuhyun melirik pada Kibum yang kini bersujud di depan kaisar China—ayahnya. Seluruh pejabat istana berbisik satu sama lain, tak percaya bahwa pangeran ketiga sungguh berhasil merebut Chu San dan datang dengan prajurit pribadinya. "Kau benar benar membanggakanku" suara sang ayah membuat Kyuhyun tersadar dari pemikirannya. Dia menatap sang ayah yang tersenyum padanya.

"Pangeran kedua lah yang memberikan bantuan pada hamba" Kyuhyun menundukkan wajahnya—gestur seseorang yang merendah dan sangat berterima kasih pada manusia yang tengah duduk dengan angkuhnya di singgasananya.

"Lalu siapakan ke lima orang ini, anakku?" Kaisar bertanya penuh antusias. Anaknya sepertinya belajar banyak dari perang pertamanya. Terbesit juga kekecewaan di benaknya, kenapa ada rakyat di belakangnya yang sepertinya berusia muda. Apakah anaknya cukup bijak membawa orang orang itu ke hadapannya.

"Mereka adalah petani yang tidak hanya bisa mengayunkan cangkul yang mulia" Kyuhyun diajari sebelumnya untuk berbicara seperti ini. Dia harus berhasil membujuk ayahnya membuat Xiang Ri Kui menjadi kaki tangannya di dalam istana. Dahi kaisar berkerut, tampak berpikir. "Mereka adalah orang yang ikut mengangkat pedang setelah kematian Jendral Ju Ren"

Kaisar kehilangan minatnya. Petani yang tidak sengaja bertemu.

"Ju Ren seorang yang berani. Berikan keluarganya seratus tael emas" ucap Kaisar memerintahkan.

"KAISAR SUNGGUH MULIA DAN MURAH HATI!" teriak para pejabat. Kyuhyun menghela nafas, bukan hanya itu yang dibutuhkan oleh jendralnya yang begitu setia itu. Bagi ayahnya satu nyawa hanya seharga seratus tael, begitu menyedihkan.

"Lalu anakku, pangeran Kui Xian, biarkan aku memberikanmu istana barat yang lebih besar dengan beberapa selir dan pelayan sebagai tambahannya" Kyuhyun bersujud pada sang ayah. Kemurahan hati yang sungguh tidak pada tempatnya.

"Terima kasih yang mulia. Tapi hamba menolak" Kyuhyun begitu berani. "Bisakah hamba meminta sesuatu yang lain sebagai imbalan kemenangan hamba?" Kyuhyun bertanya kemudian.

Kaisar menegakkan tubuhnya. Dia mengelus janggut panjangnya—sedikit tertarik dengan penawaran sang anak yang begitu ia harapkan. "Katakanlah!"

"Biarkanlah kelima petani ini menjadi pelayan keamanan hamba di istana dan medan perang" Kaisar kembali bingung dengan permohonan anaknya itu. Dia yakin ia bisa memberikan jendral yang lebih baik dari Ju Ren dan kelima petani itu jika Kyuhyun meminta. "Dan hamba meminta untuk memilih satu lulusan terbaik ujian pelajar istana untuk dijadikan penasihat hamba"

"Apakah kasim Shen Dong tidak cukup menjadi penasihatmu?" Putra mahkota ikut mencampuri percakapan antara ayah dan adiknya. Dia sedikit tidak suka Kyuhyun berlaku seenaknya. Meminta ini dan itu—seolah ayahnya akan mengabulkan apapun untuknya.

Kyuhyun mendelik. Dia memohon izin pada ayahnya "Bisakah aku sedikit memberikan nasihat pada putra mahkota, yang mulia"

"Tentu saja, putra mahkota perlu banyak nasihat agar menjadi kaisar yang bijak" ucap sang kaisar membuat Kyuhyun menatap pada sang kakak.

"Apakah putra mahkota sudah lama tidak membaca buku dan mempelajari politik negeri ini. Siapapun tahu, kasim dan penasihat adalah kedudukan yang berbeda. Putra mahkota seperti menyamakan sebuah jeruk dengan pemetik jeruk. Sangat tidak bijaksana jika anda mengenal pedang dengan baik tapi tidak mengenal politik. Hingga anda meletakkan seorang pengasuh dan cendikiawan sejajar"

"LANCANG!" teriak kasim yang berdiri di pihak putra mahkota. Dia tidak bisa diam saja ketika melihat mata sang putra mahkota sudah bergerak liar karena takut. Putra mahkota yang sudah ia besarkan sejak kecil itu seolah di ancam oleh seorang bocah yang baru saja mengalami langkah pertama kedewasaannya. "BERANI SEKALI ANDA MERENDAHKAN PUTRA MAHKOTA"

Kai sudah siap ingin menikam sang kasim jika saja Kibum tidak menghentikannya. Dengan cepat pemimpin Xiang Ri Kui itu menarik tangan Kai, membuat lelaki itu tak jadi menerjang. Kyuhyun tersenyum. Dia menarik pedang yang diberikan kaisar padanya dan menodongkannya pada sang kasim. "Kau pantas mati!" ucapnya dingin.

Kasim itu terdiam. Putra mahkota menatap tajam Kyuhyun yang menyeringai padanya. "Kau yang pantas mati mengangkat pedang di depanku, Kui Xian!" dia siap dengan pedang yang sama di tangannya. Kaisar masih betah menatap kedua anaknya yang selalu memberikan hiburan tersendiri baginya.

"Apa bedanya aku denganmu, di nadiku juga ada darah kaisar. Bukankah sangat tidak adil jika kau boleh mengangkat pedang padaku tapi aku tidak boleh?" Kyuhyun menatap ayahnya kali ini. "Dan apakah kau tak merasa direndahkan ketika seorang kasim meninggikan nadanya pada anakmu ini, kaisar?"

Kasim itu mundur beberapa langkah. Dia menunduk ketakutan. "Apa bedanya aku dengan putra mahkota yang mulia?" Kyuhyun melirik kakaknya yang tak percaya dengan apa yang dilakukan adik kecilnya itu. "Aku dan dia bukanlah seseorang yang lahir dari Rahim permainsuri, mengapa dia yang duduk di sampingmu bukan pangeran Dong Hai?"

Hening—

Pangeran bungsu itu sudah mengeluarkan taringnya ternyata. Seluruh menteri mulai menundukkan wajah mereka. Kekuatan politik putra mahkota—beberapa pejabat istana yang ada di pihaknya terdiam. Kaisar bahkan menutup mulutnya untuk itu. Tapi dimatanya terlihat api yang bergelora—seolah ia begitu merasa kuat karena anaknya yang begitu cerdik.

Kyuhyun sudah membuktikan dirinya. Dia pangeran cerdas yang sangat hebat berpolitik dan kini dia sedang melakukan politik adu domba. Dia mengadu domba antara pihak putra mahkota dan permainsuri. Bagaimana caranya sang kaisar tidak bisa tak tersenyum. Dia yang memiliki kekuatan politik istana yang nyaris tidak ada itu bisa memiliki kemampuan membuat suasana ruangan kerja sang ayah menjadi mencekam.

"Maafkan hamba yang mulia!" Kyuhyun bersujud di tempatnya berdiri. "Tidak ku sangka hamba memiliki mulut seberbisa ular hanya karena berhasil merebut Chu San. Itu takkan dapat di bandingkan dengan putra mahkota yang sudah banyak berbakti pada Negara." Ada nada sindiran di dalam kalimat permohonan maaf Kyuhyun.

"Berdirilah anakku!" Kaisar tak mengerti. Ia bahkan rela turun dari singgasananya dan menghampiri anaknya itu. "Lakukanlah apa yang kau inginkan tadi!" Kaisar membantu Kyuhyun berdiri. "Kau sangat hebat berpolitik ternyata. Aku bahkan terkejut untuk itu. Jadi bisakah kau yang mengabulkan permintaanku kali ini?"

"YANG MULIA SANGAT MURAH HATI" para pejabat kembali berteriak.

"Terimakasih, kaisar. Saya pantas mati jika tidak bisa mengabulkan permintaan yang mulia"

"Menikahlah!" suasana kembali ricuh. Siapapun tahu, arti menikah di kerajaan adalah membentuk fraksi. Siapakah gerangan yang akan dinikahkan oleh kaisar dengan pangeran ketiga untuk menjadi kekuatan pangeran ketiga itu untuk memiliki kekuasaan istana? "SIAPAPUN YANG MEMILIKI ANAK PEREMPUAN, KENALKANLAH DENGAN PANGERAN KETIGA" titah sang kaisar mutlak.

Kyuhyun melotot menatap ayahnya. Dia langsung berbalik. Menatap Kibum yang masih betah menundukkan tubuhnya.

Ika. Zordick

Sebuah pelukan hangat di terima Kyuhyun ketika dia sampai di kediamanannya. Selir Yue menyambutnya, sementara kasim Shen Dong sudah siap meneteskan air matanya. "Dewa mengabulkan doaku, ketika kuntum bunga pohon persik mekar, kau sungguh akan kembali" Kyuhyun hanya memberikan senyuman pada ibunya.

Selir Yue menangkup pipi Kyuhyun, sungguh takjub melihat sang anak yang sepertinya sudah berbeda sebelum pergi berperang beberapa waktu yang lalu. "Aku mendapatkan bisikan dari dewa, lingkungan di luar istana tak seindah yang kubayangkan" Kyuhyun membalas ibunya. Membuat selir Yue meneteskan airmata. "Tidak ada yang lebih indah dari dirimu diluar sana, untuk apa aku tak kembali?" dia selalu menjadi pujangga dadakan jika berhadapan dengan ibunya itu.

"Siapakah mereka?" Selir Yue melirik lima lelaki yang di bawa Kyuhyun ke dalam kediamannya. Mereka membungkuk sopan dan sebuah senyuman dapat di tangkap Selir Yue ketika matanya bertemu dengan mata seseorang yang ia rasa paling gagah diantara kelimanya. Seseorang yang tampak sebagai lelaki dewasa di sana. Dia sedikit tersipu, lelaki itu tampan meski penampilannya terlihat kusam.

"Mereka teman temanku" Kyuhyun menggenggam erat tangan selir Yue. Xiang Ri Kui harus mengakui kecantikan wanita itu. Bagaikan dewi yang turun dari kahyangan. "Dan ini ibuku serta kasim Shen Dong, orang yang merawatku"

"Senang bertemu anda" Suho adalah seseorang yang lupa berpijak di tanah jika berhadapan dengan wanita cantik.

"Jaga sikapmu, Shi di!" ucap Kibum memperingatkan dan Suho tak jadi menyanyikan sajak cinta untuk Selir Yue. Kibum harus mengusahakan dia selalu tampak baik di depan mertuanya.

"Ibunda, dia Jin Ji Fan" rasa senang itu membuncah di hatinya. Akhirnya ia memperkenalkan orang yang ia cintai pada ibu dan kasih Shen Dong. "Dia suamiku, kami sudah di nikahkan oleh Er Ge"

Hening.

Dan selir Yue tidak sadarkan diri.

Ika. Zordick

Pagi yang cerah di istana.

Kyuhyun menatap berbinar Kibum yang kini mengenakan pakaian mewah khas bangsawan. Pria tampan itu terlihat semakin tampan dan gagah dengan setelan yang memang sesuai dengan piawainya tersebut. Sebuah pedang tersarung apik di pinggangnya dan ingatkan Kyuhyun untuk memuji rambut hitam Kibum yang panjang dan indah.

Selamat tinggal Kibum yang seperti gelandangan sebelumnya. Petani miskin yang pintar berpedang itu sungguh terlihat bak pangeran di istananya. Kyuhyun ingin bersorak tapi ia mencoba menahannya. Ia seorang pangeran yang sebenarnya. Dia harus menjaga teladannya.

"Apakah penampilanku terlihat lucu?" itu pertanyaan yang sepertinya tidak ingin di tanyakan Kibum. Sejujurnya, ia sangat malu dengan penampilannya sekarang. Kyuhyun hanya berdehem. Dia kemudian melihat kea rah adik adik Kibum yang sungguh bertransformasi menjadi pendekar pendekar tampan dengan pesona yang luar biasa.

"Ayo kita ke aula istana, aku harus pastikan kita memiliki cendikiawan itu dan tentu saja kekuatan politik"—Kyuhyun enggan jika harus mengatakan ia akan menimbang dengan seksama tentang permainsurinya. Dia tidak suka harus menyinggung Kibum, dia lebih takut jika Kibum tidak tersinggung dan malah menyakiti hatinya sendiri. Kibum itu pria sejati yang mengutamakan ambisinya.

Kasim Shen Dong membuka tandu yang akan membawa Kyuhyun. Kyuhyun langsung memasukinya dan Kibum berjalan di sisi Kyuhyun. Para penghuni istana membungkukkan tubuh mereka ketika tandu yang membawa Kyuhyun lewat di hadapan mereka. Kibum menundukkan wajahnya canggung. Kyuhyun itu bukan hanya seorang bangsawan, darahnya lebih mulia dibandingkan dengan keluarga bangsawan.

Mereka sampai di aula kerajaan. Sebanyak lima puluh pelajar telah di kumpulkan untuk bersumpah setia pada Kyuhyun—sang pangeran ketiga. "PANGERAN KETIGA TIBAAAA!" suara gong di tambah dengan teriakan kasim Shen Dong menjadi pertanda bahwa Kyuhyun telah sampai di aula dimana sayambara sebagai seorang cendikiawan istana di gelar.

Kyuhyun keluar dari tandunya, dibantu oleh Kibum. Dia menatap ke seluruh manusia yang bersujud padanya. Hari ini, dia adalah manusia yang berkedudukan paling tinggi di acara ini. Kyuhyun di tuntun untuk duduk di singgasana dengan payung dan kursi yang indah. Para dayang sudah siap dengan kipas besar di tangan mereka, menjaga agar matahari tak membuat pangeran mereka kepanasan.

Para pengawal istana sudah berjejer mengintari aula istana, mencoba mengamankan aula pertemuan tanpa atap tersebut. Teriknya matahari tak menghalangi para calon cendikiawan terbaik untuk mendapatkan promosi berada di samping Kyuhyun.

"Selamat datang untuk kalian semua" Kyuhyun memberikan senyuman terbaiknya. "Angkat wajah kalian dan kenali siapa orang yang akan kalian layani!"

Kyuhyun bisa melihat seseorang yang ia kenal di sana, beberapa diantaranya adalah anak pejabat istana. Mereka pasti akan mengalami masalah karena secara tak langsung, ayah dan anak memiliki jalur diplomatic yang berbeda ataukah mereka di kirim hanya untuk menguji Kyuhyun. Kyuhyun menyeringai, hasilnya untuk sayembara ini pun sudah sangat jelas. Dia menatap Yifan—pria keturunan roma yang bergabung dengan Xiang Ri Kui itu berada di sana, dengan wajah kaku tampannya, memainkan kipas di tangannya.

Keputusan ini di ambil Kibum agar para pejabat istana tidak mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah anggota Xiang Ri Kui yang pernah menghancurkan sebuah dinasti beberapa tahun lalu. Wajah Yifan yang tidak oriental akan membuat mereka sedikit kesulitan untuk menutupi jati diri sebagai seorang petani. Yifan seolah ditakdirkan menjadi bangsawan sejak awal.

"Ji Fan!" Kyuhyun memanggil Kibum. "Menurut kalian, siapa dia?" dia baru saja memberikan soal ujian Negara yang sangat mudah sekaligus menjebak. Para pelajar yang berdiri berbaris di sana saling berpandangan. Mereka mulai berpikir dan para remaja kalangan menengah atas itu mulai memutar otak mereka.

"Namaku Song Sheng Min" Kyuhyun bisa menilai. Dia adalah anak laki laki tertua dari keluarga Song. Pintar berpedang, berotak pintar dan memiliki idealisme yang bagus. Ayahnya berada di fraksi ratu, tapi karena keidealismeannya itu dia tidak mengikuti jalur politik sang ayah. "Beliau adalah seorang berwibawa yang pintar menggunakan pedang. Beliau sangat di percaya oleh yang mulia dan dapat di pastikan beliau begitu setia. Beliau pemimpin yang hebat dengan mata setajam elang"

"Penilaianmu bagus" Kyuhyun tertawa. "Jika aku menyuruhnya memenggal kepala keluargamu, kepada siapa kau akan mendendam, kepadaku atau kepadanya?"

Sheng Min—Sungmin terdiam. Dia tergagap mendengar pertanyaan mengerikan itu. Seluruh cendikiawan yang berdiri di sana menundukkan wajah mereka, siapapun tahu Sungmin adalah yang terpintar diantara mereka. Siapa yang akan mampu menjawab pertanyaan seperti itu. Tapi ada yang satu membuat Sungmin harus membanggakan dirinya, meskipun ia gagal ia akan tetap mengabdi pada pangeran ketiga. Pangeran ini hebat, dia bahkan berpikir layaknya seorang kaisar.

"Namaku Wu Yifan" Yifan mengangkat tangannya. Seseorang yang asing diantara para pelajar. Mereka mencoba mengingat ingat, siapa gerangan keluarga Wu di antara pejabat istana. Sejak kapan mereka memiliki anak setampan yang tinggi itu. Seperti keturunan roma. "Jika saya menjawab saya tidak mendendam, saya adalah seorang anjing yang sangat menjilat pada anda yang mulia. Jika saya menjawab saya mendendam pada anda, anda akan mengatakan saya anjing yang tidak setia dan jika saya menjawab saya mendendam pada Pengawal Ji Fan, anda akan mengatakan saya anjing yang kurang pintar"

Kyuhyun tersenyum. Dia tidak menyangka Yifan memang sepintar ini. Kalau begini ceritanya, siapa yang tak menginginkan cendikiawan itu. Ayahnya juga pasti akan meminta Yifan padanya suatu hari nanti. "Lalu apa yang akan ingin kau bicarakan?"

"Kesetian adalah ujung tombak seorang yang lemah, kejujuran adalah akar dari sebuah pemerintahan dan cinta adalah buah yang kekuasaan hadiahkan. Apa gerangan anjing seperti kami pikirkan jika harus mendendam karena keluarga. Kami tidak punya hak untuk itu. Jadilah anjing yang bisa memberikan cinta dari anda dengan kesetiaan dan kejujuran, maka kami tidak akan memperoleh kemurkaan"

Sungmin langsung menoleh kepada Yifan, dia tak percaya jawaban itu begitu sempurna. Berlogika dan cerdas. "Apakah kau mengaguminya?" Sungmin terkesiap ketika Tao tiba tiba berada di sampingnya. Lelaki dengan paras sangar itu tersenyum—manis, "Aku juga mengaguminya" katanya. Sungmin sepertinya tak kehilangan harga dirinya ketika dikalahkan oleh pria itu.

"Sheng Min" Kibum memanggil pria itu. "Terima kasih atas penilaianmu padaku." Itu bentuk ucapan yang tulus. "Kudengar keluarga Song memiliki seorang putri, bisakah kau memperkenalkannya pada pangeran ketiga" biarkan Kibum sendiri yang mengatur pernikahan untuk Kyuhyun.

Mengangguk. "Dan akan sangat menyenangkan jika kau membawa Tuan besar Song pada jamuan pangeran ketiga"

TBC

Gomennasaiiiii~~~

Lama update wakakaka

Doakan ka segera dapat balasan untuk penulisan skripsi ka ya xD

Terima kasih.