Main Cast : ChanBaek
Other Cast : HunHan, WonChul, V (Taehyung BTS)
Disclaimer: Cerita ini Pure milik Gloomy Rosemay a.k.a CupidKyumin
.
.
.
Previous Chapter
Tapi mengapa begitu mudah Ia meruntuhkannya. Tidak! Dirinya tak pernah meruntuhkannya...Chanyeol tau Ia terlalu mencintai Bai Xian lebih dari apapun itu.
Dan semua yang terjadi saat ini...tak lain karna keberadaan Baekhyun.
Namja tampan itu membuka kedua matanya. Dan menatap Baekhyun acuh...
.
"Pergilah dari rumah ini"
.
ChanBaek
YAOI
Fanfiction
(Gloomy Rosemary)
Chapter4
Warning NC di dalam
Take Care Of My Boyfriend
...
Kedua caramel eyes itu perlahan meredup, terbenam air mata yang perlahan merembas dari pelupuknya. Tak mampu sedikitpun mengalihkan kepala yang tetap tertunduk itu, bahkan untuk sekedar terisak pun Baekhyun sama sekali tak sanggup.
Semua terlihat berbayang... semua terdengar berdengung, kecuali...
Detak jantung yang kian berdetak cepat, kala sosok tinggi di hadapannya begitu lugas menyentaknya pergi. Meski terdengar lirih, namun Baekhyun cukup meresapi makna kata-kata itu.
"Pergilah...Bai Xian akan terusik dengan adanya dirimu"
Baekhyun memejamkan mata begitu suara bass itu kembali terdengar, terasa ngilu saat menyadari langkah kaki jenjang itu turut menggema meninggalkannya.
"Tuan.." Bisiknya lirih.
Tapi percuma...
Chanyeol sama sekali tak mendengar, lebih-lebih memutar tubuh demi merengkuhnya dan mengucapkan kata maaf untuknya.
Ia hanya melihat punggung bidang yang polos itu, semakin jauh meninggalkan dirinya.
"Bai Xian—
Gumam Baekhyun seraya menatap lantai atas, tepat pada bayangan Chanyeol yang menghilang di balik pintu kamar.
"Yang memintaku untuk menjagamu di sini" Lanjutnya lagi, sambil menarik kemeja Chanyeol... berusaha mengenakannya demi menutupi tubuhnya yang telanjang.
Sejenak Baekhyun terlihat menarik nafas, dan begitu tertatih untuk bangkit berdiri. Mencoba melangkah menuju pintu utama. Tentu saaja! Ia ingin pergi...tidakkah itu yang diinginkan Chanyeol?
Persetan dengan semua janji untuk Bai Xian, jika hanya membuat dirinya semakin terinjak.
CKLEK
WUSSSHHHH!
Namun begitu Baekhyun membuka pintu, seluruh rambut coklatnya terkibas kebelakang, saat angin kencang berhembus...bahkan hingga membuat kemejanya tersingkap, tak hanya itu
Angin itupun turut membuat selapis kemeja itu kebas.
Ya! Hujan badai terlihat sangat buruk malam ini.
Baekhyun sempat mengedarkan pandangan bingung, Ia benar-benar ingin melarikan diri saat ini. Tapi...
Baekhyun terlalu takut dengan angin yang berhembus sehebat itu, hingga membuat namja kecil itu kembali melangkah ke dalam dan menutup pintu serapat mungkin.
Baekhyun berlari cepat menyambar blanket di sofa, menyeretnya lalu bersembunyi di bawah kolong meja. Seakan...namja mungil itu benar-benar lupa, apa yang mengacaukan batinnya beberapa saat lalu. Ah...badai itu benar-benar membuatnya takut bukan kepalang.
"A-aku akan pergi besok!" Serunya sembari mengeratkan blanket membungkus tubuh mungilnya, dan semakin menenggelamkan diri di dalamnya, hingga hanya terlihat ujung rambut hazelnya saja.
Lama Ia menunggu badai itu mereda, hingga tanpa tersadar olehnya...Ia jatuh tertidur begitu saja dengan posisi meringkuk di dalam selimut tebalnya.
.
.
.
.
.
'
"Baekhyun~ah..."
bocah mungilitu menegakkan kepala, dan mengedarkan pandangan ke sekitar. Namun begitu merasa tak ada siapapun Ia kembali merunduk dan memainkan ranting di tangannya, membuat goresan absurd di atas tanah itu.
"Sayang...kau tak mendengar Eomma?"
Kali ini Baekhyun benar-benar berjengit, bahkan berdiri untuk menemukan asal suara tersebut. "EOMMAAA?!" Panggilnya keras, berusaha mencari sosok yang dirindukannya itu.
"Ssshh...Eomma di sini sayang"
Sosok anggun itu muncul lalu menangkup cepat pipi Baekhyun, dan secepat itu pula Baekhyun memeluk wanita itu, seolah tak menginginkannya beranjak pergi sedikitpun.
"J-jangan pergi... Tetaplah di sini... Ku mohon Eommaa!" Serunya seraya memeluk lebih erat tubuh ibunya.
Wanita cantik itu hanya terkekeh pelan mendengarnya, dan beralih kembali menangkup paras manis putranya.
"Sayang—
"Bawa aku bersamamu! Jangan tinggalkan aku sendiri di sini...aku tak ingin hidup seperti ini... semua—
Baekhyun tercekat dan terisak. "Semua orang membenciku Eomma...mereka membenciku!"
"Kedua mata ini sangat indah sayang..." Wanita cantik itu menyentuh dagu Baekhyun dan menatap lekat ke dalam kedua caramel eyes itu.
Baekhyun hanya tertegun dan mengerjap cepat. Merasa ...itu bukanlah jawaban yang diharapkannya.
"E-Eomma—
"Lihatlah baik-baik...kau akan menyadari betapa indah hidupmu saat ini"
"Benar..." Sosok menyilaukan tiba-tiba saja muncul di sisi Wanita itu dan tersenyum manis padanya.
"B-Bai Xian? " Baekhyun tergagap dan berjalan gemetar mendekati sosok persis dengannya.
Ia mencoba memegang kedua pundak Bai Xian, begitu goyah kala ia benar-benar bisa menyentuhnya.
"Jangan menyiksaku! Aku tak sanggup memenuhi janjimu" Racau Baekhyun sembari menundukkan kepala dalam-dalam.
"Chanyeol akan baik-baik saja bila itu dirimu...jaga Dia—
"Andwaeyo! Dia kekasihmu! Jagalah sendiri!" Sentak Baekhyun penuh emosi.
"Kau harus bersamanya...Jaga Dia...tetaplah bersamanya"
"Tidak mau!kau menyiksaku!"
"Jaga Dia...Tetaplah bersamanya"
Suara Bai Xian mendadak menggema, semakin lama semakin cepat dan melengking.
"Tetaplah bersamanya...Tetaplah bersamanya"
"Hentikan!" Gertak Baekhyun sembari menutup kedua telinganya.
"—Bersamanya...Tetaplah bersamanya...tetaplah bersama—
"ANDWAEEE! HENTIKAN!" Jerit Baekhyun semakin ketakutan kala bayangan Bai Xian mengepung dan mengelilinginya memutar.
"BERSAMANYA...TETAPLAH BERSAMANYA!" tiba-tiba saja Bai Xian mengikis jarak dengannya. Baekhyun pun menjerit ketakutan begitu melihat darah segar mengalir deras dari kedua mata Bai Xian dan semuanya berubah menjadi lautan darah.
.
.
.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!"
"Baekhyun!"
"ANDWAE! PERGII! HENTIKAN!" Baekhyun terus meronta, dan menggeleng gelisah. Tak peduli seseorang sedari tadi mengguncang tubuh mungilnya, berusaha menyadarkannya.
"Baekhyun! Buka matamu dan sadarlah!"
"HAA! PERGI—
"BAEKHYUN!"
Gertakan keras itu cukup menyentaknya, Ia membulatkan mata lebar-lebar. Spontan Baekhyun bangkit dan merangkul leher sosok itu erat-erat.
"Hhh..hhhh...hhhh"
Pria itu – Park Chanyeol- hanya diam tak melakukan gerakan apapun, dan membiarkan namja mungil itu menggelayut padanya dengan nafas tersengal-sengal.
"Nightmare hn?" Gumam Chanyeol setelahnya.
Baekhyun membulatkan mata lebar, namun rengkuhan yang begitu hangat itu membuainya untuk semakin melesakkan kepala demi mencari perlindungan. Lebih dari appaun itu, Ia benar-benar merasa nyaman saat ini. Dan sejenak melupkan apa yang telah pria itu lakukan padanya semalam. Chanyeol memeluk tubuhnya saat ini, mungkin saja...itu bentuk permintaan maaf atas sesuatu yang terjadi semalam.
Ya! Baekhyun yakin itu.
"N-nde" Gumam Baekhyun lirih.
Namja tampan itu terlihat tertegun, samar-samar Ia melihat visual Bai Xian meringkuk gemetar dalam rengkuhannya. Namun tak berlangsung lama, begitu isakkan Baekhyun menyentak sadarnya.
Ia sedikit berdehem, dan menjauhkan tubuh mungil itu dengan tatapan tak suka. "Kau sudah merasa baik sekarang?" Ucapnya dingin.
Baekhyun mengerjap .. menyadari sikap Pria itu mendadak dingin, tapi setelahnya Ia mengangguk pelan...sadar diri, Chanyeol hanya sedikit merasa iba padanya. "A-ah, t-terima kasih banyak Tuan—
"Bagus...akan lebih baik jika kau berkemas dan segera pergi dari rumah ini" Sergah Chanyeol cepat, membuat namja mungil itu menatap getir padanya.
"Kenapa hn? Ada yang ingin kau tanyakan?"
Baekhyun mengalihkan tatapannya kebawah, dan menahan nafas begitu sadar Ia terbangun tanpa sehelai kainpun yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Hanya selapis kemeja Chanyeol yang Ia kenakan saat ini.
"A-anda benar-benar mengusirku?"
"Aku hanya memintamu pergi. Terserah apa yang akan kau simpulkan dari kalimat itu. Ah! satu hal lagi, aku tak pernah menarik apa yang telah kukatakan" Chanyeol beranjak berdiri lalu menatap Baekhyun lekat-lekat.
"Kuharap kau mengerti, karena dengan wajah itu—
Chanyeol terdiam, lalu mengalihkan pandangan cepat dari paras baby face Baekhyun. "Kau tau? Wajahmu itu hanya menyiksaku. Dan hanya Bai Xian...satu-satunya yang kucintai di dunia ini"
Baekhyun kembali tertunuk, Ya...Ia memang menyadari penuh, Siapa dirinya di mata Chanyeol. Tapi Ia tak meminta untuk dicintai, lebih-lebih menggantikan Bai Xian! Haruskah Ia menerima semua ini, setelah apa yang telah Dokter itu lakukan padanya semalam?
"S-semalam —
"Tentang semalam...kau tau itu bukan? aku mabuk. Semua yang kulakukan bukan atas sadarku. Terlebih...sepertinya kau baik-baik saja. Aku tak melakukan hal yang lebih jauh pada tubuhmu"
Baekhyun makin ciut, meski benar Chanyeol memang banyak bicara kali ini... tapi ia tak memiliki nyali lebih untuk menyentak Chanyeol. Hanya diam tertunduk dengan tangan yang tak pernah berhenti menarik ujung kemeja demi menutupi paha polosnya.
"Aku akan menghubungi Sooyong untuk menjemput—
BRAKKKKKK
"ANYBODY'S HOOOOOOOOME?"
Seorang namja kecil tiba-tiba saja merangsak masuk tanpa permisi dan berteriak memekakkan. Sontak Chanyeol mengernyit penuh emosi melihatnya. Ah sial! Sepertinya Ia lupa tak mengunci pintunya semalam.
"BAEKHYUUUUNN EODINIII?!" Teriak namja kecil itu lagi dan makin terdengar rusuh begitu Ia melihat siluet Baekhyun.
"Ah! Kau di sana—O-mmooo! Pakaian macam apa yang kau kenakan?!"
"Vi.." Baekhyun memutar tubuh membelakangi Taehyung, dan meremas cemas kedua tangannya. Merasa...V hanya akan membuat pelik suasana.
"Kau mengenalnya?! Siapa anak ini?!" Sentak Chanyeol seraya menatap Baekhyun tajam.
"D-dia—" Baekhyun gemetar, terlalu kacau dengan bentakan keras seperti itu. Dan Ia tak tau harus memulai dengan kata apa untuk menjawab Chanyeol. Bahkan dirinyapun tak menyadari bocah kecil dibelakangnya mulai aktif, menelisik dan mengintip kemejanya dari bawah.
"BWAHHH! Kau tak memakai celana?!" Namun teriakan memekakkan Taehyung, mendadak mengacaukan semuanya. Baekhyun terlonjak lalu jatuh terduduk...tak bisa menahan rasa malu. Apapun itu Baekhyun benar-benar kewalahan dengan cara bicara Taehyung saat ini.
"Y-yya! kau baik-baik saja?" Panik Taehyung, seraya menarik Baekhyun untuk berdiri dan begitu tergesa melepas jaket miliknya.
"Aisshhh...mengapa kau bisa seperti ini?! Kau bukan anak kecil!" Lanjut namja ulzzang itu lagi, sambil melilitkan jaketnya di pinggul Baekhyun hingga menutup penuh paha polosnya.
Chanyeol hanya terkekeh remeh melihatnya, merasa ...dua bocah itu tengah memainkan lelucon di hadapannya. Ia beralih berjalan mendekati Taehyung, bermaksud menyeretnya keluar dari kediamannya...namun kalah cepat begitu namja kecil itu menyentak tangannya.
"Ahjjushii! Kembalikan celana Baekhyun!" Sentak Taehyung sambil menengadah...menatap tajam kedua obsidian Pria itu
Tapi Chanyeol sepertinya mengabaikannya, Pria itu lebih memilih mencengkeram bahu sempit Baekhyun, menghentakknya hingga mengguncang tubuh mungil itu . "Kau sengaja membawanya kemari? Apa rencanamu selama ini?!"
"T-tuan aku tidak—
"OH! Kau ingin memerasku?!"
Baekhyun membulatkan mata lebar, tak menduuga...Chanyeol akan sejauh itu menaruh prasangka terhadapnya. Ia tak pernah sedikitpun berniat mengacaukan Chanyeol lebih-lebih memerasnya.
"Yya Ahjushii! mengapa kau marah padanya?! Kembalikan celana Baekhyun!"
"DIAM KAU!" Bentak Chanyeol keras, lalu kembali manatap Baekhyun begitu berhasil membuat Taehyung terlonjak terkejut
"Mengapa kau tak menjawabku Byun Baekhyun?Aku benar...Kau sengaja membawa temanmu dan memerasku?! Aku tau temanmu telah merekam apa yang terjadi semalam! Kau sengaja menjebakku Hahhh?!"
Baekhyun makin menatap nanar...apa lagi sekarang? Mencerca dirinya tanpa jeda bahkan dengan tuduhan yang benar-benar meremukkan hatinya kali ini.
"Aku t-tidak seperti itu" Ucap Baekhyun sambil mengepalkan tangannya sendiri.
Membuat Chanyeol lekas terkekeh remeh 'Kau mengambil peruntungan dengan wajah itu. Berapa yang kau minta untuk rekaman itu Byun Baekhyun?'
Baekhyun tergugu kala mendengar suara hati itu, Ia yang seharusnya menuntut atas semua perlakuan rendah yang Chanyeol lakukan padanya. Tapi mengapa...dirinya yang harus dipersalahkan atas semua ini.
"Aisshh Jinjja! Apa yang kau bicarakan?! Mengambil celananya dan sekarang kau membentaknya seperti itu! PERSETAN DENGAN REKAMAN YANG KALIAN BICARAKAN! KAJJA PERGI BAEK!" Taehyung mendadak gusar dan menarik paksa tangan Baekhyun, memaksanya lekas pergi dari hadapan Chanyeol. Entahlah...Ia benar-benar tak tahan dengan perlakuan Chanyeol dan muak melihat sikap diam Baekhyun. Tak bisakah Ia melawan, atau sekedar menyentak pria angkuh itu?!
Sementara, Chanyeol hanya menggebrak meja keras-keras...merasa payah, Ia begitu mudah meradang hanya karna dua bocah itu.
"Shit!"
.
.
.
"A-ack! Sakit! Le-lepaskan aku V" Rintih Baekhyun, sembari berusaha melepaskan cengkeraman Taehyung dari pergelangan tangannya. Namun bocah ulzzang itu sama sekali tak mengindahkannya...dan tetap menariknya berjalan lebih jauh meninggalkan kediaman Park.
"Ku—kumohon ...lepaskan, ini saki—ah!" Pekik Baekhyun begitu Taehyung melepaskan pegangannya.
"Ada apa denganmu sebenarnya?! Apa kau selalu hidup seperti ini? Diam... meski orang lain merendahkanmu? Dan merintih saat merasa sakit?!"
"..." Baekhyun hanya diam dan menundukkan kepala.
"Aisshhhh...teruslah diam seperti itu! Kau hanya bisa diam bukan?! Orang lain hanya akan melempar semua kesalahan dengan sikap lembekmu ini!"
"..." Baekhyun mengedarkan pandangan dengan raut bingung, entahlah batinnya benar-benar kacau saat ini. tak cukupkah dengan Chanyeol? dan kini seorang anak yang lebih muda darinya pun juga memarahinya seperti ini.
Taehyung menghela nafas berat, melihat Baekhyun makin menciut di hadapannya. Ah! Ia terlalu terbawa emosi hingga lepas kendali seperti ini. Mau bagaimana lagi? Ia benci melihat sikap tak berdaya Baekhyun di hadapan pria... rekan kerja Luhan itu.
'Seharusnya kau marah! Atau pukul saja Ahjussi itu pabbo!' gerutu Taehyung dalam hati.
Suara batin itu terlalu jelas, membuat Baekhyun menutup kedua telinga dan menggeleng kasar, tak peduli Taehyung mengernyit heran melihatnya
"A-apa? kau sakit?" Tanyanya seraya menyentuh lengan Baekhyun.
"Ku—mohon hentikan...aku memang bodoh...aku memang bodoh!" Racau Baekhyun masih dengan menggeleng kasar.
Sontak membuat Taehyung membulatkan mata lebar mendengarnya. Ini bukanlah suatu kebetulan atau bagian yang tak di sengaja...tapi Ia benar-benar yakin, Baekhyun baru saja mendengar suara batinnya.
Namja kecil itu begitu was-was mengedarkan pandangan ke sekitar...cemas kalau-kalau seseorang melihat keduanya, dan melihat kondisi Baekhyun saat ini. Ah sungguh! itu akan sangat merepotkan.
"Maafkan aku... ayo pulang Baek" Bujuk Taehyung, sembari merangkul pundak Baekhyun dan membimbingnya pulang, bersikap seolah Ia tak merasakan apapun yang berbeda dari diri Baekhyun.
,
,
Beberapa Jam Kemudian
"Ah Johta! tak kusangka ukuran tubuh kita sama, kau bisa memakai pakaianku Baek" Ucap V sembari mematut tubuh Baekhyun di depan sebuah cermin besar.
"T-terimakasih" Lirih Baekhyun sambil menundukkan kepala.
"Tck! kau melakukannya lagi?! Tegakkan kepalamu dan katakan dengan lebih keras...kau bukan wanita!" Sentak V, tak peduli dirinya lebih muda dari Baekhyun.
"Terima kasih"
"Lebih keras!"
"Terima kasih"
"Kurang!"
"TERIMA KASIH!"
"Ah..ya, seperti itu" Ucap Taehyung seraya menaik turunkan alisnya, Ia meringis sesaat lalu beralih mendorong tubuh Baekhyun hingga terhempas ke ranjangnya.
'BRUGH'
"Ugh—
"Pejamkan matamu lalu tidur" sergah Taehyung cepat, sambil menarik selimut sebatas leher Baekhyun.
"a-apa?"
"Yyaa~...lihat lingkaran mengerikan di matamu itu, aku tak ingin melihat panda china di rumahku! Tidur..ppali..ppali" Taehyung beralih mematikan lampu kamarnya lalu berlari keluar dan menutup pintu rapat-rapat. Sikap aktif yang sedikit aneh itu memang membuat Baekhyun merasa kikuk dan mungkin heran, ah yah! Tentu...darah AB yang mengalir dalam tubuh Taehyung, sedikit banyak memberi pengaruh pada kepribadian yang tak biasa dari anak itu.
"Terima kasih V" Baekhyun tersenyum tipis lalu memejamkan mata, Ia tau... bocah itu sangat peduli di balik sikap anehnya itu.
.
.
.
("Nee yeobbseyo Vii..? bukankah ini belum waktunya istirahat? wae—)
" Aku di rumah" Jawab Taehyung santai, seraya mengacak isi lemari esnya.
("YACK! KAU MELEWATKAN SEKOLAHMU?!") Teriak Luhan dalam sambungan telefon itu
"Bukan seperti itu Hyung!"
("APALAGI?KAU JELAS-JELAS—)
"AISSHH! BERHENTI BERTERIAK PADAKU! BAEKHYUN DI RUMAH!" jerit Taehyung tak kalah keras
("Baekhyun? Benarkah? Ah baiklahHyung usahakan pulang cepat...jaga rumah baik-baik, mengerti?")
Taehyung mengernyit jengkel kala menatap layar smmart phone miliknya, ada apa dengan cara bicara yang meledak manis itu. Menyebalkan sekali. Pikir Taehyung.. Ia mematikan sambungan telfon itu secara sepihak. lalu beralih menelfon seseorang.
"MOOM! BUANG LUHAN HYUNG! TUKAR DIA DENGAN YANG BARU!"
("O-ommo? Kau bicara apa sayang?")
.
.
.
Sementara itu di tempat lain
Drrrtt...Drrttt
Chanyeol berdecak kesal, begitu ponsel miliknya begetar keras di atas meja nakasnya. Ia menutup mata dengan sebelah tangannya dan mencoba mengabaikan panggilan itu, namun semakin dirinya acuh ... panggilan telfon itu semakin intens dan itu benar-benar membuatnya terusik. Pria itu beralih bangkit, berniat melepas battry smartphone tersebut...namun urung Ia lakukan begitu melihat Ibunya yang menghubunginya kali ini.
"Hnn..." Jawabnya malas begitu mengangkat panggilan tersebut.
("Chanyeollie...mengapa lama sekali mengangkat telfon Ibueum?")
Chanyeol hanya menghela nafas mendengarnya. "Biarkan aku tidur Ibu"
("Sayang, apa kau sakit?Mengapa suaramu terdengar berbeda?")
"Tidak...aku ingin tidur"
("Ah...Ibuakan mengunjungimu . Aissh...bocah tak tau diri itu pasti yang membuatmu sakit")
"Anak itu sudah pergi, tak perlu—
("Pergi? Benarkah? OKAY! Itu yang Ibu inginkan!...Ahahaha...ibu akan mengunjungimu Yeollie")
"Tak perlu Ib—
Tuuut...tuuut...tuuut
Chanyeol berdecak keras lalu membuang asal ponselnya , dan bangkit berdiri...memandang kosong pada potret besar yang tersemat di dinding kamarnya. Ah sungguh! Ia merasa gusar meski Baekhyun telah enyah dari rumahnya, bahkan rasanya semakin membuatnya kacau
Dan Ia benar-benar benci dengan perasaan seperti ini.
"Bukankah kepergiannya adalah yang terbaik ?" Gumam Chanyeol, seolah tengah berbincang dengan Bai Xian. Meski nyatanya itu hanyalah potret mati.
.
.
.
Pria tinggi itu beralih melangkah keluar dari kamarnya, meneguk secangkir kopi mungkin pilihan yang tepat untuk meredakan suasana batinnya. Ya! Chanyeol yakin itu.
"Tsk!" Decaknya begitu menyadari tak ada setetespun air panas di dapurnya. Ah! Ia lupa...seseorang yang selalu membuat kopi untuknya selama beberapa hari ini telah pergi.
Chanyeol beralih memanaskan air...terasa membosankan dengan hanya melihat asap yang mengepul dari air yang hampir mendidih itu. Chanyeol ingat benar...selama lebih 1 minggu lamanya, Ia selalu me ndengar seseorang bersenandung merdu dari ruang dapurnya. Belum lagi dengan aroma kopi hangat yang menguar ...ah! Ia masih mengingat dengan baik, aroma pagi itu.
Tapi rasanya...Ia baru menyadari ada yang berbeda di pagi ini. Semua terasa hambar...ya...benar-benar hambar, seperti—hari di mana Bai Xian meninggalkannya.
"Merepotkan" Gumamnya seraya menuangkan air panas itu ke dalam cangkirnya, namun tiba-tiba saja pandangannya tersita pada cangkir dan peralatan dapur yang tersusun rapih.
"Bocah itu yang melakukannya?" Gumamnya lagi, namun itu membuatnya lupa, Chanyeol masih menuang air panas...hingga tumpah dan mengenai sebelah tangannya.
"AH!"
Pekiknya seraya mengibas tangan kirinya, dan mendesis nyeri kala melihat telapak tangannya telah memerah.
FLASH BACK ON
"Tuan... aku telah menyiapkan kopi untuk anda"
"Siapa yang menyuruhmu memasuki kamarku?"
"Ah...aku hanya ingin meletakkannya saja. Permisi Tuan"
.
.
"Biarkan aku saja yang mengupasnya untuk anda" Baekhyun memaksa mengambil buah apel dan pisau dari tangan Chanyeol. Terlalu kebas melihat Dokter muda itu terlihat asal-asalan mengupas buah ranum itu.
"Apa yang kau lakukan?!"
"B-berikan padaku...aku tak ingin kau melukai tanganmu dengan pisau itu"
Chanyeol tak menghiraukannya, dan tetap kekeuh melakukannya sendiri. "Tsk! Kau meremehkan— ouch!"
"Kubilang juga apa! Lihat...sekarang anda berdarah seperti ini!" Gerutu Baekhyun, seraya meraih telunjuk Chanyeol dan menyesap darah dari luka sayat itu dengan bibirnya.
"Y-Ya! Kau—
"Ssshh" Desis Baekhyun lalukembali menyesap rembasan darah di telunjuk Chanyeol.
FLASH BACK OFF
Chanyeol terkekeh, merasa penggalan hari itu bersama Baekhyun... kembali membuatnya mengenang kekasih kecilnya... ya, Bai Xian selalu menujukkan sikap cemas berlebih. dan itu sangat menggemaskan...
"Dear... jangan memaksaku melihat sikap manismu. Dia bukan dirimu"
Gumam Chanyeol, sambil memandang redup... meja pantry yang kerap Bai Xian gunakan untuk memasak semasa hidup.
"CHANYEOLIIEEEEEE... IBU DATANG SAYAAAANG"
"Tck! Secepat itu Dia datang?!" Decak Chanyeol sambil membilas tangannya yang memerah
.
.
.
"AAHHH RUMAH INI BENAR-BENAR TERASA MENYEGARKAN TANPA ANAK ITU" Teriak Heechul lagi, seraya terkikik dan berputar-putar mencari Chanyeol.
.
.
Sementara itu Di Tempat lain
"Kau harus memegangnya seperti ini" Ujar Taehyung, mencoba membimbing Baekhyun memegang Joy sticknya.
"Uhm...benda apa ini?"
Taehyung membulatkan mata lebar, heran sekaligus takjub...Baekhyun tak berasal dari zaman Jeoseon bukan?
"Yyaa...kau tak pernah bermain game dengan ini?"
Baekhyun menunduk, dan menggeleng lemah...bagaimana Ia bisa tau benda apa di tangannya kini. Ia buta semenjak kecil tentu semua yang dilihatnya benar-benar terasa asing.
"Whoaa daebaak...kau manusia kuno huh? Lihat...kau hanya perlu menekannya seperti ini dan BOOOM! Kau mati" Celoteh Taehyung antusias, sambil menunjukkan karakter dalam gamenya membunuh musuhnya dengan dynamite.
"Seperti ini?"
Ctak...tak..tak..ctak
Baekhyun berusaha meniru apa yang dilakukan Taehyung menekan asal semua tombol Joy sticknya , tapi dalam layar besar itu Ia sama sekali tak bisa menggerakkan apapun. Hanya asap hitam legam yang mengepul di dalamnya. Aneh sekali...
"Yyaa...dia sudah hangus...mati, tak bisa bermain lagi"
"Ahh...jadi seperti itu. Dia bodoh sekali" Gumam Baekhyun masih memandangi karakternya yang tewas.
Bocah manis di sisinya hahya mengerjap, dan menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin untuk sementara ini, ia memang harus mengajarkan banyak hal pada teman barunya itu. Taehyung melirik Baekhyun. "Apa kau benar-benar tak tau benda semacam ini?"
"A-aku but—
"Viiii...Baekhyun~ah, aku pulaaang!"
Keduanya seketika berjengit, begitu suara yang mereka kenal memanggil dari arah pintu utama...Taehyung melengos malas, lalu beralih tengkurap di lantai..berpura-pura tidur.
"Luhan hyung Datang—
"Katakan aku tidur" Ucap Taehyung sambil mengibas-ngibaskan tangannya
"Di lantai?"
"Oho"
Baekhyun hanya menghela nafas, dan beralih bangkit berdiri...berniat menemui Luhan.
.
.
.
"Hyungg—" Kedua caramel eyes itu seketika membulat lebar, begitu melihat seekor anak anjing tampak melompat-lompat di bawah kaki Luhan. Meminta makanan.
"Kyeoptaaa"
"Ah! kau menyukainya Baekhyun?"
"N-ne Hyung, lucu sekali" Ucap Baekhyun sambil menangkup kepala bulat itu, menggelengkkannya ke kanan dan ke kiri hengga ekornya mengibas antusias.
'Woof...Wooff...Woff'
"Ahaha..lihat sepertinya Dia menyukaimu Baekkie"
"YACK! Anjing...aku mendengar anjing di sini!" Taehyung berjalan menghentak keluar dan mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Ige mwoya?! (Apa ini)?!" Pekik Taehyung seraya menunjuk-nujuk anak anjing yang menggeliat di bawah kakinya.
"Aku baru saja mengambilnya...lucu bukan?"
"Mwooo?! Aku melarangmu menginjakkan kaki di rumah ini! Pergi kau dari sini!" Bentak Taehyung, sambil menunjuk pintu seolah tengah mengusir seseorang.
Anak anjing itupun tampak menunduk takut dengan telinga terkatup. Lalu beringsut-ingsut mendekati Baekhyun.
"Aiyyah! Bicara apa kau ini?! Chocho akan menemani Baekhyun di rumah saat Hyung bekerja"
"Aku yang akan menemaninya!" Sergah Taehyung kesal.
"Aha...dan bagaimana saat kau pergi ke sekolah?"
Bocah manis itu hanya berdengus, dan menggerutu dalam hati. Ia tak akan mungkin memaksakan keinginannya pada penguasa rumah itu.
"Chocho? Nama macam apa itu? lebih baik beri nama gaedong (kotoran) saja, itu lebih cocok untuknya!"
.
.
"jangan pedulikan anak itu, dia memang setiap hari seperti itu. Bermainlah bersama Anak anjing ini di luar Baekhyun...aku rasa itu akan sangat menyenangkan" Ujar Luhan, seraya mengeluarkan beberapa buah dan sayur segar dari paper bag.
"Uhm Hyung.."
Luhan tersenyum tipis melihat anggukan manis itu, namun senyumnya seketika pudar begitu melihat luka lebam di pergelangan tangan dan betis Baekhyun.
"Tunggu.." Ucapnya cepat, seraya menahan tangan Baekhyun.
"Luka ini—" Luhan membulatkan mata lebar. "Bagaimana bisa kau mendapat luka seperti ini?" Ia mulai panik menelisik kaki Baekhyun.
"T-tidak apa Hyung... aku terjatuh kemarin"
Luhan berdecak keras, ini bukan kali pertama dirinya mendapati Baekhyun terluka...bahkan sebelumnya kedua tangan anak itu dipenuhi luka serpihan keramik. dan sekarang...luka memar yang benar-benar kontras di kulit putihnya.
Dokter muda itu beralih memegang kedua bahu Baekhyun, sedikit merunduk demi menatap lekat wajah bocah mungil itu.
"Apa seseorang mengancammu?"
Baekhyun terbelalak, lalu menggeleng cepat. Namun Luhan dapat melihat dengan jelas, rasa takut itu terbias dari manik caramelnya.
"Dengar Baekhyun~ah, aku tentu tau...luka di tangan dan kakimu ini bukan luka terjatuh seperti yang kau katakan"
Baekhyun hanya diam tertunduk, benar! Itu memang bukan luka terjatuh...tapi tentu tak mungkin menjelaskannya secara lugas apa yang dialaminya di malam itu bukan?
"Chanyeol yang melakukannya?" Sergah Luhan, membuat namja mungil di hadapannya berjengit dan mengalihkan pandangan darinya.
Luhan kembali berdecak, dan memijit keningnya. "Seharusnya aku sudah menduganya dari awal dan tak membiarkanmu tinggal bersamanya Baek" Ujarnya kemudian.
"T-tidak...bukan Tuan Chan—
"Tak perlu melindunginya! apa saja yang telah Dia lakukan terhadapmu selama ini?" Luhan mulai tersulut emosi.
"..."
Tak ada jawaban, Baekhyun lebih memilih diam dengan kepala tertunduk. Membuat Luhan semakin menyadari...ada perubahan dalam diri Baekhyun.
Ya! Ia tau benar...anak itu memiliki pribadi yang ceria. Namun apa yang dilihatnya kini benar-benar bertolak sangat jauh. Baekhyun lebih banyak diam...bahkan bicarapun sesekali tersendat, seakan tak memiliki nyali untuk menyuarakannya.
Dan sungguh...Ia benar-benar tak ingin membuat anak itu semakin tertekan. 'Lain kali saja aku menanyakannya' Gumam Luhan dalam hati.
Dan Baekhyun hanya menggeleng pelan mendengarnya. Benar-benar tak menginginkan Dokter itu mengungkit masalah tersebut baik saat ini ataupun lain kali.
"Baiklah...tak perlu membicarakan masalah ini lagi. Kemarilah...biar aku mengobati lukamu. Lalu kau boleh bermain bersamanya" Ucap Luhan lembut sambil menepuk kepala anak anjing dalam gendongan Baekhyun.
.
.
.
.
.
"Ahhh...ini benar-benar menawan, sangat pas di tubuhmu...kau tak ingin mencobanya Yeollie?" Gumam Heechul, usai mengambil jas medis yang tersimpan di almari Putranya. Memandanginya dengan antusias, bahkan hingga memberi parfume milikinya berkali-kali.
"..." Pemuda tampan itu hanya meliriknya sekilas, lalu kembali berkutat dengan buku tebal di tangannya.
"Yyaaa~...dengarkan Ibu saat bicara"
"Ibu kemari hanya untuk mengatakan itu bukan?"
"Tidaaaak... Ibu datang karena benar-benar merindukanmu. Ahhh aku benar-benar merindukan putraku yang penuh kharisma itu, setiap orang memujinya...dan semakin terlihat tampan dengan jas medis ini. Bagaimana ini.. Ibu merindukannya setengah mati" Rengek Heechul sambil mengguncang pundak Chanyeol, namun apa yang dilakukannya membuat Chanyeol tersedak kopi yang diminumnya, bahkan sebagian tumpah mengenai perban di tangan kananya.
"Uhukk~...Ib—uu"
"O-ommona!... kau baik-baik saja sayang? apa terasa sakit?" Racau Heechul begitu panik memegangi tangan Chanyeol.
"Ssshh..." Desis Chanyeol seraya menahan tangan Heechul, memberikan isyarat untuk tak bersikap berlebihan seperti itu. "Aku baik-baik saja.." ucapnya, kali ini dengan membuka lilitan perbannya.
"Aisshh! Semua ini karna bocah tak tau diri itu ...sampai-sampai kau terluka seperti ini. Apa dia tak tau...Putraku seorang Dokter, tangannya tentu sangat berharga dibandingkan dengan—
"Ibu!" Bentak Chanyeol, tak habis pikir Ibunya masih saja menyudutkan Baekhyun, bahkan setelah anak itu pergi dari rumahnya.
"W-waeeee...mengapa kau membentak Ibu?"
Semua benar-benar penat, hingga berbicara dengan ibunyapun rasanya serasa membuat kepalanya pecah. Entahlah...kali ini Ia merasa terlalu tersinggung, jika Heechul kembali menyalahkan Baekhyun.
"Aku akan membersihkan tanganku" Ucap Chanyeol sembari bangkit, dan melangkah menuju ruang dapur.
"Y-yya berikan pada Ibu saja, biar Ibu yang membersihkannya"
"..."
"Yeollie?"
'RRINGGG...RRINGG'
"Aishh mengejutkan saja! siapa yang menelfon hmm?" Gerutu Heechul, dan mengurungkan niatnya mengejar Chanyeol demi mengangkat telfon rumah itu.
.
.
.
Berkali-kali Pria itu berdecak..kala dirinya menyeka telapak tangannya dengan cairan antiseptik. Ah sungguh bukan karna luka di tangan itu yang membuatnya gusar seperti ini, tapi entahlah...Ia merasa akan lebih baik jika Baekhyun di rumahnya daripada Ibunya yang datang berkunjung.
'Woof...Woofff'
"Choco...apa yang kau bawa?"
Namun tiba-tiba saja Ia mengernyit begitu mendengar suara yang tak asing untuknya, Ia beralih bangkit mendekati teralis jendela dapur untuk melihat ke luar, dan benar saja...Ia terbelalak lebar begitu melihat sosok mungil yang berlarian dengan seekor anjing kecil di halaman sebuah rumah.
"Baek—Hyun" Gumamnya tak mengerti, bagaimana bisa anak itu di sana. Mungkinkah seseorang telah menampungnya?
"YACK! ANJING ITU MENGAMBIL CELANAKU BAEK!"
"What the f—...anak itu!" gerutu Chanyeol jengkel saat melihat Taehyung merangsak keluar dari rumah tersebut, tanpa mengenakan celana. Ah! tentu Ia tak bisa melupakan begitu saja, sikap lancang bocah itu terhadapnya.
Apa ini? mungkinkah itu rumahnya?
Chanyeol kembali melihat keluar, mengamati dengan seksama tingkah dua bocah tak jauh dari rumahnya itu. ah sungguh! ini benar-benar aneh...apa hubungan anak itu dengan Baekhyun sebenarnya?
"Ahahaha...lepaskan itu"
'Wooff...Woff!'
DEG
Ia terpana begitu saja, dan beralih membuka lebih lebar tirai jendelanya. Entahlah...sesuatu dalam dirinya serasa berdenyut lebih cepat kala melihat Baekhyun tertawa selepas itu. Hingga tanpa tersadar...Ia betah berlama-lama menduduki meja pantry hanya untuk mengamati sosok mungil itu.
"Manis sekali.." Gumamnya tanpa sadar. Sesekali Ia terkekeh kecil, melihat Baekhyun kembali tertawa keras dan berguling-guling dengan seekor anak anjing.
Sempat Ia memanggil nama Bai Xian dalam batinnya, apa yang dilihatnya kini tentu, membuat kenangan itu kembali menyeruak. Tapi anak itu bukan Bai Xian, melainkan sosok yang berbeda yang mungkin benar memiliki banyak kesamaan dengan kekasihnya. Tapi sekali lagi...Baekhyun bukanlah Bai Xian.
Bagaiman bisa Ia memegang hatinya? dan sungguh Ia benar-benar tak ingin dipermainkan dengan perasaan rindu seperti ini.
Sejenak dokter muda itu memang terusik dengan perasaannya, namun lagi-lagi Ia kembali dibuat tertawa kecil dengan tingkah bocah mungil itu. dan perlahan Chanyeol mulai menyadari...Baekhyun memiliki senyum yang berbeda
"Aissh YACK! Mengapa bocah tengik itu menariknya seperti itu!" Gerutu Chanyeol spontan, saat melihat Taehyung menarik Baekhyun hingga keduanya jatuh di atas rerumputan. Ah sungguh! ia benar-benar kesal melihatnya.
"Ada apa di luar? Apa yang sedang kau lihat umm? Kau berteriak pada siapa?"
'SRAKKK'
Chanyeol menutup cepat tirai jendelanya, begitu ibunya tiba-tiba saja datang. "A-anak anjing"
"Mwo? Puppy? Biar Eomma melihat—
"Aisshh! sepertinya aku harus memiliki seekor anak anjing" Sergah Chanyeol cepat, seraya memutar tubuh ibunya dan memaksanya menjauhi jendela tersebut.
"Yyaa...mengapa kau menjadi aneh seperti ini? bukankah kau sangat membenci hewan peliharaan? bagaimana—
"Waktunya Ibu pulang"
"Ah waeee...kau mengusir Ibuuu—
Heechul mempoutkan bibir begitu Chanyeol menunjukkan pukul 5 sore pada jam tangannya.
"Sudah waktunya bukan?"
"Aisshh kau ini ...mengapa sangat kejam pada ibumu sendiri"
Chanyeol hanya tersenyum mendengar ibunya terus menerus bersungut di depannya, ya Ia tau...Heechul memang satu-satunya wanita yang paling banyak bicara dan kerap membuatnya jengkel tapi tentu saja satu-satunya Wanita yang paling Ia kasihi di dunia ini.
.
.
"Jangan mengenakan pakaian setipis ini. Berapa kali aku harus mengatakannya huh?!" gerutu Chanyeol sembari mengenakan jaket tebal milikinya di tubuh Heechul.
"Yya!...apa kau tak ingin Ibumu terlihat sexy dan Hottt?"
"Tsk" Chanyeol hanya mengulum senyum sembari menggelengkan kepalanya, tak habis pikir Ibunya lebih kekanakan dibandingkan dengan anak muda saat ini.
"Pulang dan jangan pergi kemanapun...arrasseo?" Usai melilitkan syal Heechul.
"Poppo—Chupp. Heechul bergerak cepat mencuri kecupan di bibir Chanyeol.
"Aisshh.. Ibu! aku bukan anak kecil lagi!" Sungut Chanyeol sambil mengusap bibirnya.
Heechul hanya terkikik mendengarnya. Dan melenggang santai menuju pintu utama. "Kau tetap Chanyeol kecil Ibu... Yeollie"
.
.
.
"Ibu sudah menyiapkan makan malam di dalam kulkas, kau hanya perlu memanaskannya Sayang"
"Hn.." Gumam Chanyeol sembari mengibas-kibaskan tangan, meminta Heechul agar segera memasuki mobilnya.
"Isshh.." Desis Heechul, namun tetap mengulas senyum dan melambaikan tangan pada putra kesayangannya itu.
.
.
Chanyeol menghela nafas pelan, selepas perginya mobil putih itu dari rumahnya. Namun kedua obsidian itu terlihat tak sabaran melihat sebuah rumah tak jauh dari kediamannya. Ya...sebuah rumah di mana dirinya melihat Baekhyun berkeliaran di dalamnya.
Lalu berdehem pelan, merasa mungkin memang sebaiknya semua berjalan seperti ini, tak ada yang perlu Ia cemaskan mengenai kondisi Baekhyun. lagipula sepertinya...anak itu telah menemukan tempat tinggal. Tapi mengapa bukan bersama Sooyoung? Ah terserah...
Semua akan baik-baik saja, dan hidupnya tentu akan kembali tenang seperti semula. Pikir Chanyeol seraya memasukki kediamannya.
.
.
.
Malam kian berangsur larut, kedua mata yang seharusya terpejam itu ...tetap terjaga tanpa alasan. begitu sosok seorang bocah manis, rasanya tak jemu bermain dalam bnaknya.
"Hhhh..." helanya seraya merentangkan kedua tanganya, dan menjadikannya bantalan di sandaran sofanya... sejenak Ia mengedarkan pandangan ke sekitar lalu menatap langit-langit rumah. ...entahlah...rasanya rumah ini benar-benar terasa luas dan senyap.
"Ehem..." Dehemnya berusaha memecah hening.
Ah...suaranya saja tentu tak akan berpengaruh apapun. Rumahnya tetap saja bisu tak berkelakar apapun di malam ini.
Biasanya ia selalu mendengar suara kecil Baekhyun bahkan hingga denting perkakas masak di dapur...tapi kini jangankan derap langkah yang kerap rusuh, helaan nafas namja mungil itupun tak lagi didengarnya.
Biar saja...memang hanya ketenangan ini yang diinginkannya. Hanya Dia dan Bai Xian..ya seperti itu. pikirnya sembari memejamkan mata.
"Ahahaha"
Namun tak berlangsung lama...Ia kembali membuka mata begitu mendengar suara tawa yang keras dari sebuah rumah tak jauh dari kediamannya.
Itu Baekhyun yang tertawa! Ya! Ia yakin itu... bahkan setelah anak itu angkat kaki dari rumahnya...Ia masih mendengarnya. Ah! mengapa Baekhyun di mana-mana.
"Tck!" Decaknya seraya kembali memejamkan mata dan memaksa untuk tidur.
.
.
Esoknya..
Terlalu pagi untuk menyentak lelapnya kali ini, tapi memang semua karna Ia tak mendapat tidurnya semalam. Ah! Ia hampir gila hanya karna tawa seorang bocah yang menyusup masuk dalam mimpinya.
Chanyeol bergegas turun, berniat mengambil air mineral dan mendadak gusar begitu mendapati dapur dan ruang tamunya tampak terang benderang.
"Baekhyun! Berapa kali ku katakan...jangan menyalakan lampu jika—
Chanyeol stagnan, memandang kosong ke depan. Apa yang baru saja dipikirkannya? Baekhyun telah pergi..bagaimana bisa Ia bicara demikian?. Rasanya...ia memang terbiasa dengan kehadiran Baekhyun di rumah ini.
.
"Sedang apa kau di sana?" Gumam Chanyeol seraya meneguk air mineralnya. Ia tau...pikirannya tengah bermasalah memikirkan Baekhyun di dalam rumah itu.
.
.
Beberapa Hari Kemudian
"Mengapa Kau mengusirnya? Kau tak harus melakukan semua ini!" Geram Siwon, begitu tau... Baekhyun telah pergi dari kediaman putranya. Dan parahnya terlambat terdengar olehnya
"Dia aman bersama penghuni rumah itu, apa masalahnya?" Ujar Chanyeol penuh emosi, menyadari ayahnya datang berkunjung dan menyentaknya hanya untuk menumpukan semua kesalahan karna telah mengusir Baekhyun.
"Benar! Apa salahnya? Putra kita memilih langkah yang tepat dengan mengusir bocah tak tau diri itu" Imbuh Heechul, mendukung penuh keputusan Chanyeol
"Kau akan menyesalinya Chanyeol!"
"Justru kehadiran anak itu yang akan membuatku menyesal!"
"Aku akan membawa anak itu kembali!" Siwon memilih beranjak pergi, tak berkomentar apapun bahkan untuk sekedar membujuk istrinya turut pergi bersamanya.
"W-wonnie? Kau ingin pergi?"
"..."
"Bagaimana denganku? Wonnie...Yyaaa! Wonnieeee!"
.
.
Dokter muda itu kembali menghela nafas jengah selepas kepergian kedua orang tuanya, tak habis pikir dengan semua ini. tak bisakah Ayahnya lepas tangan dengan kehidupan pribadinya?
Apa hebatnya...hidup bersama bocah itu? hanya menyulut amarah dan emosinya saja bukan?
.
.
Sementara itu Di tempat Lain
"Baek! berhenti bermain dengan anjing itu!" Seru Taehyung kesal seraya memakai sepatunya serampangan.
Tapi Baekhyun terlihat acuh ... tetap antusias bermain bersama anjing kecil itu.
"Yya! temani aku keluar ppaliii!" Rengek Taehyung lagi, sambil menghentak kaki.
"V! jangan membawa Baekhyun keluar semalam ini!" Sayup sayup terdengar teriakan Luhan dari dalam kamarnya.
Taehyung berdecak, ada sesuatu yang harus dibelinya kali ini. dan itu... mendadak.
Tanpa menghiraukan seruan Luhan, bocah itu memaksa melilitkan syal di leher Baekhyun lalu, menariknya untuk beranjak berdiri.
"Cepatlah berdiri dan ikut aku!"
"Tapi Luhan Hyung—
"Aishh! jangan dengarkan dia" Taehyung beralih membuka pintu.
CKLEK
Namun mendadak berjengit terkejut begitu melihat seorang pria besar, telah berdiri tegap di ambang pintunya.
"A—ahjjussi Siapa?"
Pria itu hanya balas tersenyum ramah, namun dibanding menjawab pertanyaan Taehyung. Ia lebih tersita pada sosok manis di belakang.
"Baekhyun..." panggilnya seraya melambaikan tangan pada bocah yang tampak terkejut melihatnya itu.
"T—tuan Park" Baekhyun menundukkan wajah, lalu sedikt berjalan gemetar ke belakang.
"Baekhyun, kau mengenal Ahjjusii ini?" Tanya Taehyung penuh selidik.
Tapi... Baekhyun tetap diam tertunduk, seakan kelu untuk sekedar memandangnya, lebih-lebih berbicara untuk menjawabnya. Untuk apa Siwon kemari? Ia tak sedang melakukan kesalahan apapun bukan? pikir Baekhyun
'Tempatmu bukan di sini Nak, kembalilah... aku akan membawamu kembali'
Baekhyun terlonjak begitu mendengar suara batin itu, apa maksud dari kata kembali itu? mungkinkah Pria itu ingin membawanya kembali pada Chanyeol dan membiarkannya mendapat cacian itu lagi dan lagi? tidak! Ia tak ingin mengulangnya
Bocah manis itu makin tergagap menyudutkan dirinya ke dinding, berusaha menjauhi Siwon.
"Ahjjussi! Siapa?! Kau membuat Baekhyun takut!" Pekik Taehyung sambil membentangkan tangannya.
DRAP...DRAP
Suara langkah seorang mulai tergesa panik menuruni anak tangganya, dan sosok itu—
"Vi! mengapa berteriak semalam ini eohhh!" Seru Luhan jengkel.
"Bagaimana jika semua tetangga rumah mendengar dan—
Namun racauan Luhan mendadak bisu, begitu melihat seorang pria di depan pintunya.
"D-direktur Park" Gagap Luhan seraya membungkuk dalam.
Siwon tersenyum ramah, dan beralih mengelus kepala Taehyung.
"Tak kusangka, rumahmu berdekatan dengan rumah Putraku"
"A-ah... kami baru saja pindah... K-karena kurasa tempat ini jauh lebih dekat dengan sekolah Nae dongsaeng" Ujarnya masih dengan menaruh sungkan, bahkan mulai menerka was-was... kedatangan Siwon mungkin berhubungan dengan Baekhyun. "Silahkan masuk Direktur Park" Lanjutnya lagi sambil menarik lengan Taehyung agar tak menghalangi Siwon.
Pria itu hanya menatapnya lekat. "Aku kemari untuk Baekhyun" Lugasnya tanpa basa-basi.
Membuat Baekhyun yang masih meringkuk di sudut dinding itu tersentak dengan tubuh gemetarm bahkan sesekali terlihat menggelengkan kepala.
Luhan terkekeh pelan. "Baekhyun? Ah... anda tak perlu mencemaskannya, Baekhyun tinggal bersama kami dan kami bisa menjaga Baekhyun dengan sangat—
"ini bukan tempatnya, anak itu harus bersama Putraku" Siwon, beralih melangkah masuk mendekati Baekhyun.
Luhan mengeras. "T—tapi Direktur Park—
"Mata yang kini dimilikinya, tentu tak semerta diberikan begitu saja" Siwon beralih melihat Luhan. "Dia membawa pesan dalam mata itu... "
"A—apa anda berharap Baekhyun menjadi pengganti—
"Ya, demi putraku... dan pemilik mata itu pun menginginkannya" Ucapnya seraya menyentuh pundak Baekhyun.
"Baekhyun... akan tetap tinggal di rumah Chanyeol"
"Hks..." Baekhyun mendadak terisak sambil menutup wajahnya. Membuat Luhan mengernyit getir, Ia tau apa yang dirasakan anak itu saat ini. Takut dan mungkin bimbang untuk memilih.
"Tapi Direktur Park... Beberapa kali kami melihat luka memar di tubuh Baekhyun, Chanyeol sepertinya—
"Haruskah aku mengulang ucapanku kembali?"
Luhan lekas terdiam dan lebih memilih menundukkan kepala, mustahil menyentak pemegang jabatan tertinggi itu... jika dirinya tak ingin ancaman mutasi.
"Mengapa menangis? bukankah kau bahagia dengan kedua matamu ini?" Bisik Siwon seraya menyeka air mata Baekhyun. "Bai Xian memberi mata ini, bukan untuk kau nikmati seorang diri Baekhyun"
Tapi kalimat itu terdengar... lebih menyakitkan dari serpihan keramik yang sempat melukainya. Mengapa Siwon merubah perangai?
Mengapa menyinggung mata itu?
Bahkan, Ia pun tak berharap menerima mata itu... jika nyatanya Ia hanya hidup di pandang sebelah mata.
"Apa kau memang ingin mengambil keuntungan dari mata Bai—
"TIDAK!" Baekhyun berseru keras, sambil mengusap kasar air matanya.
"A—aku tidak— hks! Aku tak pernah mengambil keuntungan apapun!" Racaunya lagi, kian terisak.
Siwon menatap getir, dan beralih bersimpuh untuk memeluk bocah mungil itu. "Kembalilah.." Bisiknya seraya mengelus punggung Baekhyun.
"Bukankah kau berjanji, dengan kedua mata itu... kau akan menjaga Putraku? Temani Dia hingga menemukan jati dirinya kembali"
Bocah mungil itu makin tergugu dan meremas kuat kemeja Siwon, tak peduli air matanya mungkin telah membuat kemeja mahal itu kebas.
"T—tapi, Tuan Chanyeol... s—selalu melihatku sebagai B—bai Xian" Isaknya tersendat-sendat, berusaha mengadu.
"Kau...memang penggantinya. Seharusnya kau berterima kasih... takdir telah memilih hidupmu di bandingkan anak malang itu"
DEG
Baekhyun terbelalak lebar, nyaris Ia mengharapkan perlindungan dari sosok pria itu. Namun semua tertepis... kala kalimat penuh sesal itu mengalun dengan sangat lugas. Tapi itu bukan untuknya... semua perhatian itu hanya untuk Bai Xian!
Tak bisakah Siwon melihat dirinya yang sebenarnya malang di sini?
Tapi Mereka hanya mencintai Bai Xian!
Seakan dirinya yang hidup ini, telah tersingkir dalam sosok yang telah lebih dulu mengisi hati mereka.
"Hks..." Baekhyun hanya tertunduk sambil mengepalkan tangannya sendiri, membiarkan air mata itu lolos... menyertai betapa remuk jantung itu berdetak.
"Tunjukkan balas budimu... Baekhyun~ah" Gumam Siwon, sambil menggengam tangan mungil itu untuk dibimbingnya keluar. Tak peduli... Baekhyun makin terisak, tak tau... kemana ia harus menumpukan hidupnya saat ini.
.
.
Luhan meremas tangan kuat-kuat, di saat seperti ini... mengapa semua mendadak kelu. Ia hanya ingin melindungi anak itu... tapi mengapa Ia tak berdaya untuk sekedar menarik Baekhyun dari Siwon.
"Maaf..." Lirihnya seraya menundukkan kepala. "Maafkan aku Baekhyun"
"HYUNG! Mengapa diam saja?!" Bawa Baekhyun kembali Hyung!" Racau Taehyung sambil mengguncang tubuh kurus Luhan.
"A—ahjjussi itu membawanya kembali ke rumah mengerikan itu!" Teriaknya lagi sambil berlari keluar. "Hyung! Baekhyun tinggal bersama kita! Aku akan membawanya kemba—
"Tidak!" Luhan meraih tangan Taehyung dan mendekapnya erat. "Jangan ke sana" Bisiknya pelan.
"WAEE?!"
"D-dengar Vi. K—kita pikirkan cara terbaik untuk membawa Baekhyun bersama kita. Tidak saat ini Ne" Bujuknya seraya menangkup pipi Taehyung. "Ahjjussi yang kau lihat, bukan orang yang sebanding untukku"
"Kapan Hyung?! Sebelum Baekhyun mati di sana hah?!"
"D—diam, Hyung mohon"
.
.
.
.
"Cha...masuklah, semua akan baik-baik saja" Ujar Siwon, membimbing Baekhyun agar lekas melangkah memasuki rumah megah itu.
Tak seorang pun di dalamnya, suasana tetap gelap dan hening... mungkin benar, sepertinya Chanyeol tengah pergi atau memang telah terlelap di kamarnya.
"T—tuan" Baekhyun memberatkan langkah, dan kembali menatap Siwon ragu.
"Ada yang kau inginkan dariku?"
"B—bisakah aku hidup b-bersamamu saja Tuan?" Lirih Baekhyun sambil meremas ujung bajunya sendiri.
Siwon terkekeh pelan, lalu merunduk untuk mengamati lekat kedua mata Baekhyun. "Bagaimana bisa kau merubah Putraku, jika kau tinggal bersamaku"
"Tapi Tuan, bagaimana jia aku tak bisa melakukannya? Bagaimana jika Tuan Chanyeol tetap membenciku?"
"Kau belum mencobanya Baekhyun..." Tegas Siwon, kali ini dengan menarik tangan kecil itu hingga benar-benar masuk ke dalam, bahkan hingga mengantarnya menuju sebuah kamar yang sempat ditempatinya.
.
.
"Aku tak memiliki waktu lebih... hiduplah dengan baik bersama Putraku. dan jangan pikirkan apapun yang membuatmu ragu" Ujar Siwon sebelum akhirnya memutar tubuh untuk meninggalkannya.
"Tunggu Tuan—
'Mengapa aku membawamu? karna aku hanya melihatmu sebagai anak itu'
Baekhyun kembali diam, dan terduduk di ranjangnya kala mendengar suara hati Pria itu. Membuatnya urung untuk memanggil atau bahkan kembali menahan Siwon untuk pergi.
.
.
Tak banyak yang Baekhyun lakukan hanya menatap nanar mobil hitam yang telah melaju pergi, dari balik tirai kamar itu.
Meninggalkan dirinya, yang detik ini tak tau untuk bersikap paska Chanyeol telah mengusirnya dari rumah ini.
CKLEK
Seseorang seperti menutup pintu, membuat Baekhyun lekas berlari keluar. Mungkin saja itu Chanyeol... bukankah lebih baik jika Ia menyapa terlebih dulu dan menjelaskan semuanya pada Pria itu?
.
.
Dan di sanalah Ia melihat pemuda tinggi itu tengah berjalan perlahan menapaki satu persatu anak tangganya.
Baekhyun berjalan ragu, tapi Ia tetap membawa langkah kecilnya untuk selangkah lebih dekat.
"T—tuan" Panggilnya kemudian.
membuat sorang Pria yang nyaris memasuki kamarnya itu, mendadak menghentikan langkahnya.
"M—maaf Tuan... aku—
Baekhyun membulatkan mata terkejut, begitu melihat Chanyeol berjalan tergesa menuruni tangga. Membuatnya... tergagap turut melangkah mundur kebelakang.
"Kau.." Chanyeol beralih meremas kedua lengan Baekhyun. "Mengapa kau disini?! Bukankah aku telah mengusirmu?! mengapa kau kembali!"
"S—sakit! Tuan—
"Apa kau memang menginginkan semua ini?! Memaksaku berlaku keras dan menyakitimu?! aku sudah memintamu pergi! Mengapa kau tetap kembali HAH?!"
Baekhyun menciut, bahkan semakin terisak hebat mendapat gertakan sekeras itu. Jangankan untuk melugaskan segalanya, sekedar mengangkat wajahpun Ia tak mampu... jika Chanyeol menyentaknya demikian.
"T—tapi... hks..Tapi Ayah a—anda—
"PERSETAN DENGANNYA!"
Baekyun terlonjak, kedua kaki mungil itupun makin melemas payah... bahkan hampir merosot jika Chanyeol tak menahan tubuhnya dan mencengkeramnya kasar.
"Aku selalu melihatmu seperti Bai Xian... aku tau aku menyakitmu! karna itu... aku memintamu untuk pergi. Tapi mengapa kau—ARGHH! SHIT!"
Chanyeol beralih menghempas tubuh mungil itu di sofanya, memasungnya tanpa bisa berkutik sedikitpun selain menangis... dan merintih ketakutan.
"Kau memang menginginkannya bukan? Kau tau semua sikapku dan kau tetap kemari, karna kau memang menginginkannya Hah?!"
"Hks..Tidak T-tuan!" Baekhyun menggeleng kasar, seraya meronta untuk melepaskan diri.
"Kau ingin menggodaku...right? Puaskan aku malam ini! Kau dengar itu?!" Chanyeol beralih mengoyak paksa baju merah muda itu, menariknya kasar hingga nyaris terlepas dan menggantung di lengan Baekhyun.
Tak pelak membuat Baekhyun makin menjerit histeris, dengan kaki tak pernah berhenti menjejak apapun.
Tidak sebelum...
SRAT
Tangan kekar itu menarik celananya dan membuangnya asal ke lantai.
"Tidak! j-jangan lakukan ini Tuan! Andwaeyooo!"
"Kali ini aku memang tak sedang mabuk... Baekhyun" Desis Chanyeol, sambil merunduk... lalu mengklaim nipple kecil kemerahan itu.
Mengulumnya sebelum akhirnya digigitnya keras, hingga membuat bocah manis itu menjerit dalam tangisnya.
"ACKH! AHH!.. Hks... S—sakit!" Jerit Baekhyun ... meronta payah. Meski demikian semua hanya terabai oleh Pria itu. Chanyeol tetap memasungnya, dengan melilitkan baju merah muda itu di kedua tanganya hingga Ia tak bisa melakukan gerakan apapun.
"Hks... Kumohon lepaskan! AH!" Tubuh mungil itu kembali terlonjak, begitu lidah bsah itu mulai menjilat turun, melumuri sebagian perutnya.
Baekhyun menggigil... terlalu takut ... namun tubuhnya sendiri seakan melawannya. Tetap menggelinjang kala Pria itu beralih membuka lebar kedua kakinya, dan mencumbu sesuatu yang masih terbungkus celana dalam itu.
"Mmhaah! Ahh! Hen—tikhan! Ughh!"
"Tch! Jangan bicara seolah aku memaksamu, lihat... kau benar-benar basah di sini" Bisiknya seduktif seraya menggigit turun ujung celana dalam itu, hingga genital mungil di dalamnya menyeruak keluar.
"A—ahh! Hks... Andwaeyoo! Ja—jangan Tuan! Ku Mohoonn!" Baekhyun tak berhenti menangis, tetap berharap Pria itu sedikit memberi iba dan membiarkannya lepas. Sungguh demi apapun itu... Ia benar-benar tak menginginkan semua ini.
"A—aku akan pergi... jika—mpfthhh!" Namja mungil itu terbelalak lebar, begitu bibir tebal itu memagut bibirnya. Melumatnya kasar... hingga samar Ia bisa merasakan gigi pria itu membuat lecet bibir bawahnya.
"Ughmm!" Namun, semua hanya bisa di tahannya. Baekhyun memejamkan mata erat... meski sesekali mencoba mengais nafas dengan payah dari sela-sela pagutan itu.
"Mh! Mhahhmmm! Le—phasmmmm!" Ia mencengkeram kuat-kuat jemarinya sendiri, kala pagutan itu semakin dalam, membuatnya benar-benar tercekik tak bisa bernafas.
Chanyeol sedikit mengernyit mendengar isakkan samar itu, Ia beralih membuka mata...dan terbelalak lebar menadapati air mata kembali mengalir di kedua pipi halus itu.
"K-kau menangis?" Tanyanya terkejut, usai melepas ciumannya. Sepersekian detik, Ia mulai melihat sosok yang terisak itu adalah Bai Xian kecilnya
"Hhahhh!...hhhahhh...Nghaah" Engah Baekhyun, sambil memalingkan wajahnya. Namun nafas yang tersengal payah itu, kembali menarik sadarnya... dan membuatnya berang.
"Mangapa kau menangis?! aku tak melakukan hal salah padamu?!" Bentak Chanyeol emosi,
Tapi Baekhyun tetap terisak, dan hanya memalingkan wajah tak ingin menatap Chanyeol.
"BICARALAH! BAI XIAN TAK PERNAH MENANGIS SEPERTI DIRIMU!"
Namja kecil itu kembali memejamkan mata erat, Ia mencoba tak peduli dan berusaha menggeliat... melepaskan lilitan kuat di tangannya.
Tapi apa yang dilakukannya, hanya menyulut emosi pria yang masih mengungkungnya itu. Membuat Chanyeol kalap hingga... membuka paksa kedua kaki Baekhyun dan—
BLESHH
Baekhyun menengadah hebat dengan bibir terbuka, kala penis besar itu dipaksa melesak masuk, menusuk rektumnya.
"A—AAAA—
"BICARALAH! KAU MENYUKAI INI BUKAN?!" Sentak Chanyeol seraya mendorong kasar sisa penisnya, tak peduli wajah manis itu berangsur pasi. Bahkan terlihat mengejang di bawahnya.
"AARGHTTT~ SA—KIT! HKS! SAKIIT!" Jerit Baekhyun pilu, Ia mencoba membusungkan dada untuk bangkit, namun semakin Ia mencoba... semakin kuat pula Pria itu menahannya.
"Mengapa menolaknya sayang? tidakkah kau kemari untuk ini?" Bisik Chanyeol seraya menarik keluar penisnya...hingga membuat darah segar itu merembas keluar, bahkan sebagian menetes mengotori sofa.
Baekhyun menggeleng kasar, teralu perih... bahkan terlalu sakit... kala penis besar itu benar-benar menggesek luka penetrasinya. Ia merintih tanpa suara, memohon sosok kekar itu berhenti melukainya lebih dari ini...namun—
JLEBB
Penis itu kembali dibenamkan, tak peduli rektumnya yang sempit bahkan tak ada pelumas apapun ... menerima hujaman sekasar itu. Baekhyun menjerit... terdengar serak, kala Pria itu menggerakan genital besar itu keluar masuk.
"ARGH! AHTT! SAKIT! HKS! K—KELUARKAN!AAAAHTT!"
Chanyeol tersenyum geitir, Ia beralih merengkuh tubuh mungil itu dan mengecupi leher putihnya. Namun... samar terlihat bulir bening merembas dari sudut mata tegasnya.
"Hks! AHTT!"
Ia sepenuhnya sadar... sosok yang kini disetubuhinya itu bukanlah Bai Xian kecilnya. Bahkan Ia sepenuhnya sadar... dirinya kembali menyakiti Baekhyun lebih dari sebelumnya. Dengan seperti ini... anak itu tak akan kembali.
Lebih baik jika Baekhyun pergi darinya... tanpa harus menerima perlakuan menyakitkan darinya. ya... setelah ini, Baekhyun akan benar-benar membencinya dan pergi darinya.
Pria itu beralih menekuk kaki Baekhyun, sedikit menarik pinggulnya lalu menghujam penis besar itu lebih kuat dan dalam... hingga membuat bocah itu tak bersuara, selain membuka bibir dengan tatapan kosongnya.
.
.
"Engh!" Erang Chanyeol, begitu klimaks itu kembali menyentak... mengisi perut Baekhyun dengan sperma panasnya.
Meski demikian, Ia kembali menggerakkan penisnya keluar masuk... menghentak tubuh kecil itu untuk mengejar klimaks yang lain.
Tapi nafsu yang meradang itu, membuatnya lengah... hingga tak sadar, Bocah yang kini disetubuhinya itu telah jatuh tak sadarkan diri.
"Khh... nik—math!"
.
.
.
.
Beberapa Jam kemudian
Pria itu terengah hebat... begitu melesakkan benih panasnya untuk kesekian kalinya.
Ia beralih menarik keluar penis besar itu... dan mengernyit getir, kala melihat sperma bercampur darah merembas keluar dari rektum merah itu.
Lalu berdecak keras, begitu sadar... dirinya melakukan hal intim itu di sofa seperti ini. Ah! Sial! mengapa Ia seceroboh ini... bagaimana jika seseorang masuk dan melihatnya menyetubuhi anak itu.
Dokter muda itu beralih mengangkat bridal Baekhyun, menapaki satu persatu anak tangga, membawa tubuh Baekhyun menuju kamarnya.
.
.
Sejenak ia mengamati wajah terpejam Baekhyun. menduga... anak itu sepertinya kelelahan dan terlelap pulas... Ia beralih merunduk dan mencium mesra kening Baekhyun.
Sebelum akhirnya beringsut ke dalam selimut, dan memeluk tubuh mungil itu untuk terlelap, Membiarkan tubuh keduanya bertahan dengan aroma khas sex.
.
.
Esoknya
Mentari mulai menyeruak silau... membuat Dokter muda itu berdecak dan mulai menggeliat tak nyaman karna terusik.
Samar... Ia terlihat mengulas senyum, sempat mengingat... apa yang dilakukannya semalam. Hingga tangan kekar itu reflek meraba-raba sampingnya, ingin menggapai tubuh yang semalaman dipeluknya itu.
Tapi...
Tak ada tubuh Baekhyun di sisinya, Membuatnya membuka mata dan terperanjat hebat kala melihat Bocah itu di sudut kamarnya. tapi bukan itu yang membuatnya terbelalak kalap...
Melainkan pada sebilah pisau yang dipegang anak itu.
.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriaknya keras seraya melompat dari ranjang.
Chanyeol menyambar cepat pisau itu dan membuangnya jauh-jauh. Tapi terlambat...darah segar telah mengalir deras dari luka sayat di tangan Baekhyun, membuat pria itu semakin kalut, mendekap erat tubuh mungil itu.
"Nn~ Hks!"
"Te-tenang, tetaplah bernafas tenang...semua akan baik-baik saja" Ucap Chanyeol sembari mengoyak serampangan kemejanya, lalu melilitkannya di tangan Baekhyun.
Baekhyun menggigil...menatap nanar pada rembasan merah pekat itu. Sebelum akhirnya tubuhnya tumbang tak sadarkan diri.
"BAEKHYUN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
TeeeBeeeCheeeeee...
.
Alloohaa Gloomy hadir bawa chapter 4 nyaa
okay karena menunggu Blood On A White Rose yang masih proses ketik, Gloomy update yang ini dulu ya..
Delete or Lanjut...
Review Jusseyoooo. Kalau review banyak... janji update cepet
IG = gloomy_rosemary
Dan untuk:
Flowerinyou, yollie wife, neniFanadicky , realoey614, rimadwis , restikadena90 , AuliyaRchy , Aisyah1, baekberryeol , Yana Sehunn, ambar istrinya suho, byunlovely, chanchannie, veraparkhyun c, winter park chanchan, Loey761 , bbhyn92, Chel VL , VlnChuu, xiaobao, Chanbaekaddict, YaharS, LightPhoenix614, Nara614 , LyWoo, ismaaa45 , kim, Kitukie , Cynta533 , soufi park , Xiaoh04, Hyera832, Alivia625, kinkinkin1204, sehunluhan0905 , chanbaek1597, mutianafsulm, Nam Yeongie, astia631, chanbaekssi , Chogiwagurl , BaekheeChanlove, Minachanbaek, hunhanshin, Baekby, realoey614 , caesarpoo, Byun Na Ra, meliarisky7, bbysmurf , Bbasjtr , Hasil enaena ChanBaek , nisahyun , dewihutasoit61 , byunlovely , Dodio347 , SMLming, kinkinkin1204, Asandra735 , CY PARK , Byun Jaehyunee , Park Shiina, Byun Jaehyunee, kkaiii , berrybyun, zahrazhafira335 , inspirit7starlight, baekkachu09, lilykurniati77, chanhyun , chanbaekshipper, yulis443, selepy, rima, ChanBaekGAY, park chan2 , Chanbaekaddict, realbaek21, annisapuji , byankai , byunbee04, Parkbaexh614, Dan All Guest
Gomawoo atas reviewnya
jangan lupa review lagi...
annyeooong
saraanghaaaee
