A/N: Buat yang dulu pernah baca fic ini, please read Author's note di chapter 1. Danke

.

Harry Potter © J.K. Rowling

.

.

CallyxCorolla present

Tour of Love chapter 4

La Tour Eiffel

.

.

.

Suara gedoran di pintulah yang membangunkan penghuni kamar kami pagi ini. Kami semua langsung berloncatan dari tempat tidur masing-masing.

Ketika gedoran di pintu terdengar lagi, yang bisa kami lakukan adalah mengobrak abrik seisi kamar untuk mencari kartu kunci pintu, hanya untuk menyadari kartu itu masih terpasang di tempatnya. Melangkah melompat-lompat untuk menghindari barang-barang yang baru saja terlempar di lantai, aku bergerak kearah pintu, nyaris terpeleset bantal Emily Finch-Fletchley, teman sekamarku. Membuka pintu sesedikit mungkin untuk menutupi kekacauan separuh kamar, aku mengintip dan menemukan Profesor Abbott berkacak pinggang tak sabar.

"Kita berangkat pukul tujuh, Miss Weasley. Pastikan sudah berkumpul di lobi membawa barang-barang seperlunya saja. Oh, ya, dan sudah sarapan di ruang makan hotel."

Belum sempat aku menjawab, Profesor Abbott sudah berlalu.

Aku membanting pintu menutup.

"Apa yang—" pertanyaan Zabini terpotong oleh suara gedoran di kamar sebelah yang terdengar sampai ke kamar kami. Kemudian terdengar suara gaduh di kamar sebelah yang menandakan penghuninya tengah melakukan kebodohan yang tadi kami lakukan.

Dasar penyihir kampungan.

"Kita berangkat pukul tujuh," aku menyampaikan.

"Dan pukul berapa sekarang?" Maggie, teman sekamarku yang lain bertanya. Sontak mata kami semua tertuju pada jam di dinding. Pukul lima.

Tanpa dikomando kami semua berebutan mencari alat mandi masing-masing –kecuali Zabini. Dan yang berhasil membobol pintu kamar mandi terlebih dahulu adalah Emily. Menyerah, aku telungkup di tempat tidur, memejamkan mata. Sementara Zabini duduk di sisi lainnya, membolak-balik katalog gaun penyihir.

"Kau lagi ngapain, sih?" gumamku. Dia tak menjawab.

Giliran mandi kedua adalah Maggie, dan setelah selesai mandi, dia dan Emily keluar kamar, meninggalkan aku dan Zabini.

"Mandi cepat-cepat, Weasley," Zabini berseru saat aku menutup pintu kamar mandi.

Aku mandi lama-lama, tentu saja. Sambil menyanyikan lagu penyihir jadul keras-keras.

"Dance like a hypogriff. Dance like a hypogriff."

"Because my love's like hyp—"

"Berhenti menyanyi dan cepat selesaikan mandimu!"

Aku memperkeras volume suaraku. "Dance like nanan—"

"Diam, Weasley!"

Mana mau aku menuruti perintahnya.

Aku keluar kamar mandi dengan rambut setengah basah, mendapati Zabini yang menatapku kesal, membanting menutup majalah fashionnya dan masuk ke kamar mandi sambil menggerutu. Mencibir, aku membuka lemari di sudut mencari baju yang kemarin sudah kukeluarkan dari koper. Kaos. Rok selutut. Sepatu kets. Sempurna.

Baru saja aku selesai berpakaian, Zabini keluar dari kamar mandi. Rambut cokelatnya juga basah. Dia mengambil sesuatu dari kopernya dan aku menatapnya curiga. Sebuah gaun, Demi Merlin! Aku merebutnya.

"Hei—"

"Kau mau pakai ini?" aku menatapnya tidak percaya.

"Itu gaun musim panas, Weasley."

"Ya, kalau musim panasmu indoor dengan jamuan di ruang makan mewah. Tapi tidak untuk jalan-jalan di Paris muggle, Zabini."

Dia mencoba merebutnya lagi dariku, tapi aku menyembunyikannya di balik punggungku.

"Okay, terserah. Kau boleh ambil itu kalau kau suka. Aku akan pakai yang lain."

Mendengar itu aku menyambar kopernya dan sebelum dia sempat menariknya, aku mengacungkan tongkat sihirku pada benda itu.

"Apa yang kau lakukan?"

"Coba merebutnya dan aku akan membakar koper ini. Zabini, apa kau tidak punya baju yang santai? Kaos? Jeans?"

Dia menggeleng dan aku rasanya mau mati saja.

"Dengar, Zab. Kau anggota kelompokku dan aku yang akan mati karena malu kalau kau memakai gaun itu. Kau akan memakai bajuku."

"Apa yang membuatmu berpikir aku mau memakai bajumu?"

"Karena koper ini akan kubakar kalau kau menolak. Aku bisa menggantinya dengan galleon, tapi gaun-gaun cantikmu tidak akan kembali."

"Sialan kau."

Oh, wow. Tuan puteri ternyata bisa memaki.

Aku melemparkan sepotong kaos dan rok ke arahnya. Dengan memasang wajah jijik, Zabini melemparnya ke tempat tidur.

"Zabini, pakai!" aku berteriak. "Tidak bisakah kau berlaku seperti gadis normal?"

"Aku berlaku seperti penyihir darah murni normal."

"Tidak ada muggle yang akan kita temui nanti yang peduli akan hal itu. Dan mereka juga tidak peduli aku membakar kopermu."

Memaki dengan kata makian yang aku heran bisa keluar dari mulutnya yang biasanya anggun, Zabini akhirnya menyerah dan memakainya. Well, dia terlihat lebih normal sekarang.

"Okay, Zab, sekarang kita sudah terlihat seperti sepasang gadis remaja normal yang cantik. Ayo pergi."

Zabini menatapku kritis. "Apa kau meluruskan rambutmu?"

"Tidak," aku menggeleng. "Hanya merapikannya."

"Pasti karena Scorpius, kan?" dia menatapku penuh arti.

Sial. Kenapa dia harus mengingatkannya. Padahal yang kulakukan sepagian ini adalah berusaha tidak memikirkannya.

"Terserah, Zab. Ayo berangkat, kita sudah kesiangan."

"Berhenti memanggilku dengan kata Zab!"

.

xxx

.

Semalam aku memang tidak berharap Scorpius menyusulku.

Enak saja dia mengataiku tidak punya daya tarik. Tidak secara langsung, memang, tapi kan tetap saja. Dan jadilah permainan gila itu diputuskan. Aku tahu ini mungkin keputusan yang akan kami berdua sesali, tapi Weasley dan Malfoy, mana ada sih yang mau mengalah satu sama lain?

Dan semalam memang bukan Scorpius yang menyusulku, tapi Al.

"Kau tahu George dan pacarnya itu tidak waras."

"Hmm."

"Dan kau mengikuti jejak mereka? Siapa yang lebih tidak waras?"

Aku mencibir padanya. "Kau kenapa, sih? Ini kan hanya saat liburan."

"Dan kalau kau menang lalu apa, hah?"

"Membuktikan bahwa daya tarikku lebih tinggi dari Scorpius."

"Apa kau mau pacaran dengan orang yang daya tariknya rendah?"

Aku menggeleng.

"Itu artinya kau mengakui kalau daya tarik Malfoy tinggi. Dan Malfoy selalu bilang kalau seleranya tinggi. Itu artinya dia menganggapmu berkelas tinggi. Kalian menyukai satu sama lain dan kalian sama-sama tinggi, terserahlah. Lalu masalahnya apa?"

"Masalahnya adalah," aku mengetuk dahinya. "Kau bukan pacar Scorpius Malfoy, jadi tidak akan mengerti."

xxx

Rombongan sudah hampir berangkat ketika aku dan Zabini sampai di lobi hotel. Profesor Thomas sudah meneriaki kami dengan pengeras suara agar cepat.

Kami menemukan Al dan Scorpius di barisan belakang rombongan. Mereka menatap kami berdua dengan aneh. Al menunjuk Zabini. "Bukankah itu baju—"

"Jangan bicara," potong Zabini dan dia melangkah mendahului kami.

Aku mengedip pada Al.

Kami keluar dari hotel dan berjalan menyusuri jalanan Paris pagi yang menenangkan. Para penjual baru saja membuka kios mereka, menampilkan senyum ramah pada para pejalan kaki. Orang-orang lari pagi, bercakap-cakap dengan temannya, beberapa menaiki sepeda. Ya, kami akan jalan kaki alih-alih naik bus menuju tempat tujuan pertama kami hari ini.

"Rose."

Aku melirik Scorpius.

"Rose, kau tahu tadi malam adalah keputusan yang bodoh—"

"Apa kau mau menyerah sebelum bertanding? Mengaku kalah, hah?"

Scorpius mencibir. "Tidak. Aku hanya mengingatkan untuk jangan menangis kalau kau kalah."

Setelah beberapa langkah berjalan, aku bicara padanya lagi.

"Aku baru ingat sesuatu. Pacar baru kita harus bukan murid Hogwarts. Kalau cewek-cewek itu menyukaimu bukan karena dirimu tapi karena nama Malfoymu, itu tidak adil—"

Scorpius berhenti dan menatapku, ada pandangan sakit hati di sana. "Kau menyukaiku karena nama Malfoyku?"

Tentu saja tidak, bodoh.

"Kalau aku melihatmu dengan namamu, aku sudah menendangmu jauh-jauh. Seperti kau tidak tahu saja apa pandangan keluargaku akan nama keluargamu," aku menghela napas.

"Benar juga."

Aku berjalan mendahului Scorpius, tidak mau terlibat percakapan aneh dengannya saat kami sedang kesal pada satu sama lain.

Dan aku tidak perlu menunggu lama, karena tujuan pertama kami hari ini sudah nampak di depan mata.

"Selamat datang di La Tour Eiffel, Menara Eiffel yang melegenda."

Menara berkaki empat itu berdiri anggun di sana. Tubuhnya yang semampai menjulang tinggi seakan menantang langit musim panas yang tidak berawan. Sungai Seine berlutut patuh, membelah raganya untuk memeluk kaki-kakinya yang kokoh mencium hamparan rumput yang tertiup angin. Lehernya yang jenjang menopang puncaknya yang bermahkotakan sinar matahari pagi.

Mumpung kami masih cukup jauh sehingga bisa menangkap penuh-penuh sang lady itu, beberapa anak mengeluarkan kameranya, termasuk aku. Profesor Thomas sendiri sudah menyita beberapa kamera sihir tadi pagi. Kami hanya boleh menggunakan kamera muggle atau ponsel.

Para guru sudah menyewa seorang pemandu wisata untuk mengantar kami berkeliling. Dan aku menatapnya kasihan di sepanjang perjalanan kami menuju dasar menara, karena murid-murid terus menanyakan hal-hal sepel e yang harusnya semua muggle sudah tahu.

Akhirnya—

"Ini adalah lantai dasar. Bagian yang mengawali pembangunan menara ini pada tahun—"

"Tidak bolehkah kita berkeliling sendirian?" Scorpius bertanya padaku.

"Sana pergi sendiri. Kalau yakin tidak akan nyasar," balasku ketus.

Melengos, Scorpius kembali mengalihkan pandangan pada si pemandu wisata yang mengajak kami berkeliling lantai dasar. Harusnya kami tetap bersama kelompok masing-masing, tapi aku memilih berada di barisan depan, mendengarkan penjelasan si pemandu wisata sementara Scorpius dan Zabini memandang sekeliling dengan bosan. Al sendiri bergabung dengan gerombolan cowok Gryffindor.

"Kita naik ke lantai dua," terdengar suara Profesor Thomas. "Semua bergabung dengan kelompok masing-masing."

Al menghampiri kami bertiga lagi, dan kami mengikuti yang lain menuju tangga, naik ke lantai dua.

"Kalau kau seperti Potter dan memilih bergabung dengan cowok-cowok Slytherin meninggalkanku, aku akan membunuhmu," Zabini mengancam Scorpius.

Di tingkat dua, pemandangannya luar biasa. Kau bisa melihat sebagian Kota Paris di bawah sana. Atap-atap bangunan yang bernuansakan warna pastel.

Aku melihat sebuah toko souvenir di sini dan menyeret Scorpius memasukinya, karena Al sudah menggelengkan kepala kuat-kuat. Ada beraneka barang di sini, dan leherku mau patah rasanya karena ingin melihat semuanya sekaligus.

"Bagus ini atau ini?" aku mengacungkan dua buah gantungan berbentuk Eiffel pada Scorpius. Yang satu berwarna perunggu, sementara yang satunya perak.

"Perak. Cocok dengan mata birumu."

Aku mendengus, tidak tertipu dengan kalimat manisnya. Tapi pada akhirnya aku memang memilih yang perak, dan menggantungkannya di braceletku. Manis, aku memuji diri sendiri.

Sementara di tingkat tiga, segalanya spektakuler. Paris terlihat lebih indah di sini. Semua bangunan terlihat kecil, dan jalan-jalan yang membelah kota ini terlihat berwarna-warni oleh kendaraan yang nampak begitu mungil.

Ada beberapa teropong pengamatan juga di sini. Aku sedang bergerak hendak mendekati salah satunya ketika suara asing menghentikan kelompok kami.

"Bonjour."

Aku yang menjawabnya, karena tiga rekanku hanya diam saja. Zabini menggumamkan sesuatu seperti, "Tidak mau bicara dengan orang asing," dan mengalihkan pandangan. Sementara Al dan Scorpius hanya memandangi si penyapa. Yah, aku tahu kenapa.

"Bonjour. Ada yang bisa kami bantu?"

Si penyapa tersenyum dan aku memaki dalam hati. Dia adalah seorang gadis Perancis yang cantik. Rambutnya juga pirang panjang, mengingkatkanku pada si pelayan restoran tadi malam. Hidungnya runcing dan bibirnya merah, mata cokelatnya berbinar.

Tuh, kan, aku jadi terlihat seperti cewek cemburuan. Tapi memang apa salahku dan Zabini sampai orang yang mendatangi kami selalu adalah gadis-gadis hot yang membuat cowok ingin menelannya bulat-bulat

"Kurasa kau menjatuhkan ini,"dia mengulurkan sesuatu pada Scorpius. Dan aku mau mati saja melihat apa itu.

"Oh, terimakasih," Scorpius menerimanya. "Dimana kau menemukannya?"

"Di toko souvenir. Aku melihatnya jatuh dari dompetmu."

Oke, si gadis Perancis ini memang bicara dengan bahasa Inggris. Tapi logat Perancisya kental sekali. Sengau seperti –ah, intinya, sangat menggoda.

"Dan kau mau mencariku sampai ke tingkat tiga? Wow."

"Kupikir itu penting buatmu. Karena," dia menunjuk benda di tangan Scorpius, "ada inisialnya. Mungkin itu kau dengan tunanganmu?"

Scorpius tertawa kecil. "Bukan. Teman baikku."

Okay. Aku akan membunuhmu nanti Scorpius.

Benda itu adalah cincin konyol yang Scorpius beli saat kunjungan ke Hogsmeade, Valentine kemarin. Bukannya kami penggila Valentine, tapi ada diskon untuk barang-barang aneh dan tak berguna, dan kami memutuskan tidak ada ruginya membeli salah satu. Itu cincin pasangan dan kami menambahi inisial M&W di dua benda itu. Hei, bertingkah seperti anak kelas empat ingusan yang sedang kasmaran tidak ada salahnya, kan?

Jadi Scorpius menaruhnya di dompetnya, dan aku mengaitkannya dengan kalung di leherku.

Itu dibeli dengan niatan sebagai cincin pasangan kekasih, lho. Dan aku baru tahu barusan kalau aku sudah berganti status menjadi teman baik.

Iya aku tahu, kami sedang pura-pura putus.

Tapi tetap saja kalung di leherku ini rasanya seperti sedang mencakar-cakar kulitku.

"Oh, ngomong-ngomong, aku Ariadne."

Al yang mengulurkan tangan. "Al," katanya. Kemudian dia mengedik, "Zabini. Scorpius. Rose."

"Namaku Dave," Zabini menyahut dengan nada datar.

"Okay, guys. Senang bertemu kalian. Aku membantu berjualan di toko souvenir yang tadi, sebenarnya. Dan aku belum melihat Al dan Zabini. Mungkin kalian mau mampir lagi nanti?"

Diiringi lambaian Al dan anggukan Scorpius, si Mademoiselle itu berlalu dari pandangan kami.

Aku melepas kalungku.

"Kau mau apa?"

"Kau kan menaruhnya di dompetmu dan tidak ada yang bisa melihatnya. Sedangkan aku, siapapun bisa melihatnya di leherku dan bertanya-tanya inisial siapa itu," jelasku sambil melepas cincin itu dari kalung dan memakai lagi kalungnya.

"Haruskah kusimpan ini di saku rokku," aku mengacungkannya pada Scorpius. "Atau harus kulempar saja dari sini ke Sungai Seine, teman baik?" aku mengangkat sebelah alis.

"Rose, perjanjian pura-pura putus kita tadi malam, kita berdua, lho yang memutuskan. Bukan cuma aku. Jadi tidak seharusnya kau kesal padaku."

Aku mengangkat bahu. "Aku tahu. Aku hanya sedang silau habis melihat gadis cantik." Kemudian aku beralih ke Zabini dan menggandeng tangannya, "Bisakah kita jadi teman baik untuk hari ini dan berkeliling berdua, Mademoiselle Zabini?"

Kukira Zabini akan menampar lenganku dan menatapku dengan pandangan jijik lalu pergi ke ujung dunia. Tapi dia hanya mendengus dan berkata, "Kau gila," dan kami berdua melangkah menjauhi dua makhluk di belakang kami.

"Apa kau naksir Al?" aku berbisik pada Zabini.

"Bagaimana mungkin aku menolak dijodohkan dengan seorang darah murni Perancis dan memilih untuk naksir Al Potter."

"Kutebak si darah murni Perancis ini lebih menyebalkan dari Scorpius. Ada apa dengan semua cowok dan tingkah arogan dan menyebalkan dan selalu mau menang sendiri?"

"Aku juga bertanya hal yang sama."

Whoa. Apa Davine Zabini baru saja menyetujui ucapanku? Setelah dia setuju memakai baju muggleku?

Kurasa aku mulai menjalin pertemanan yang aneh dengan si Tuan Puteri.

.

xxx

.

Ketika para guru mengumumkan bahwa waktu berkunjung kami hampir habis, kami berempat memutuskan untuk turun.

Dan tentu saja kami –lebih tepatnya Al dan Scorpius menyempatkan untuk mampir mengunjungi Mademoiselle toko souvenir. Al hanya menyapanya sebentar lalu bergabung denganku dan Zabini yang sedang memilih-milih souvenir, meliriknya pun tidak. Sementara Scorpius, dia dan si Mademoiselle toko souvenir sedang membicarakan entah apa di sana, tertawa-tawa. Dasar playboy.

"Jangan menatapnya begitu. Nanti dia pikir kau cemburu."

"Siapa yang cemburu?" aku menyembur Al.

Dia mengangkat bahu, "Aku hanya bilang."

"Dan Zabini," dia berkata kritis pada Zabini yang sedang memilih bandul kalung, "Yang warna tembaga itu tidak cocok dengan warna rambutmu. Yang perak lebih cocok."

Aku menatapnya heran.

"Siapa yang tanya pendapatmu," Zabini menjawab ketus. Dan dia meletakkan kedua bandul itu, tidak jadi membeli.

"Ada apa sih dengan kalian berdua?"

Ketika Scorpius akhirnya sudah selesai beramah-tamah –shit, itu menjijikkan, dengan si Mademoiselle, kami pun bersiap pergi.

"Terimakasih, Ariadne."

"You're really nice. I'll see you again?"

"Sure."

Bus Ksatria, yang sudah menunggu di pelataran siap mengantar kami ke tempat tujuan berikutnya jadi terlihat jelek seperti wajah Ernie Prang. Dan Museum Louvre, tempat tujuan kami selanjutnya yang harusnya indah pun jadi terlihat seperti Shrieking Shack. Bahkan Monalisa pun seakan mengangkat kedua alisnya mengejek padaku.

Padahal dia tidak punya alis.

.

xxx

.

Malam ini bahkan lebih indah dari kemarin. Dari jendela kamarku di lantai tiga, aku bisa melihat Menara Eiffel di kejauhan, masih berdiri tegak di tengah kota Paris yang terlihat seperti lautan cahaya di malam hari.

Seandainya ada balkon di kamarku.

Aku bisa membayangkan jalanan Paris malam hari yang indah dari tempatku berdiri saat ini. Itu yang kubayangkan saat mengetahui kami akan liburan ke Paris, tahu. Berjalan bergandengan tangan di pinggir jalanan Paris, menyusuri tepi Sungai Seine, makan malam romantis. Candle light dinner di kota cinta.

Dan aku masih menginginkan itu semua.

Scorpius sialan.

"Sudah, ajak dia keluar kalau kau memang ingin," Zabini berkata dari tempat tidur kami.

Aku menghempaskan tubuh ke tempat tidur, mengerang merana. "Kalau dia hanya akan mengejekku?"

Zabini meletakkan majalah yang sejak tadi ia baca, menghela napas, "Kau ini pacarnya, bukan rival Quidditchnya."

Aku memikirkan ucapan Zabini.

Dan sejurus kemudian aku sudah berada di luar kamar Scorpius, sudah mengenakan mantel. Aku mengetuk.

George Jordan yang membukakan pintu.

"Bonjour, Mademoiselle. Mau menginap di sini malam ini?"

"Scorpius mana?"

"Kenapa mencari yang tidak ada? Kenapa tidak mencari aku saja?"

Aku mengacungkan tongkat sihirku.

"Kenapa tidak bisa diajak bercanda sih, Rose?" George memutar bola mata. "Malfoy keluar."

"Keluar kemana?" aku mengerutkan kening.

"Mana kutahu, aku bukan mamanya."

"George—"

"Tadi ada yang meneleponnya. Aku yang mengangkatnya. As –Ad. Adrienne Adrienne siapalah."

"Ariadne?"

"Voila!" George menepukkan kedua tangannya. "Sekarang kau sudah tahu cowokmu selingkuh dengan siapa. Lebih baik kau yang tidur di kamar ini menggantikan dia."

.

xxx

.

— TBC —

Author's tiny note.

Hi, there. Akhirnya chap 4 update juga dan fic abal ini bisa muncul di atas lagi *dor.

Last, Would you like to leave some reviews? J