:: Remember Me ::

::

::

KookV

::

::

.

.

.

.

.

.

.

Minggu terakhir bulan Januari terasa berbeda dari biasanya, setidaknya itu yang dirasakan oleh pemuda manis yang masih setia duduk menghadap jendela di salah satu kamar apartemen Park Jimin. Kim Taehyung, sejak insiden dimana dia kembali bertemu dengan pujaan hati, sosok yang selalu dirindukan oleh nya –Jungkook- Taehyung menjadi lebih pendiam. Diam menghabiskan banyak waktu didalam kamar. Hatinya terlalu sakit mendapatkan kejutan dari Tuhan yang begitu luar biasa ini. Perasaannya seperti dilambungkan kelangit tertinggi saat melihat Jungkook, tapi langsung dijatuhkan begitu saja mengingat kenyataan bahwa dia dilupakan oleh Jungkook. Pemuda manis itu terlihat semakin kurus dengan wajah pucat, lingkaran hitam di mata indahnya pun terlihat jelas. Membuat dua orang sahabatnya merasa cemas dengan keadaan Taehyung. Yoongi dan Jimin merasa sudah berkali-kali menghibur Taehyung, tapi tetap tidak ada hasil. Mereka hanya mendapatkan senyum kecil penuh putus asa dari Taehyung. Keduanya juga tahu, bukan hiburan yang dibutuhkan Taehyung saat ini. Anak itu sudah menunggu Jungkook begitu lama, menggantungkan harapan dan kepercayaannya selama bertahun-tahun.

"Tae.."

Yoongi menghela napas saat panggilannya tidak mendapat respon dari Taehyung sama sekali. Pemuda berkulic pucat itu menghampiri Taehyung yang duduk menghadap jendela, menampilkan langit pagi kota Seoul yang begitu bersih.

"Taetae.." Yoongi menepuk pundak Taehyung pelan, membuat pemuda itu sedikit tersentak, sadar dari lamunannya. Kemudian mendongak, menatap Yoongi.

"Antar hyung belanja yuk?"

"Belanja?"

"Ne. Jimin sudah pergi ke kantor, jadi hyung tidak punya pilihan lain selain mengajakmu."

Kemudian Yoongi menampilkan senyum manis khasnya. "Sekalian kita menikmati suasana pagi Seoul. Kau paling sudak musim dingin kan?"

Taehyung mengangguk, kini seulas senyum tampak diwajah lesunya.

"Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan?"

Taehyung menggangguk. Membuat Yoongi tanpa sadar menghela napas lega. Yoongi takut Taehyung akan kembali menolak permintaannya untuk keluar rumah.

Kini keduanya berjalan santai menyusuri jalan menuju supermarket terdekat apartemen Jimin. Yoongi terus menggenggam tangan kiri Taehyung. Takut jika Taehyung kembali melamun dan terjadi sesuatu. Sementara Taehyung menatap Yoongi dengan perasaan bersalah. Dia kembali membuat hyung kesayangannya itu repot. Setiap saat menghiburnya, memaksanya untuk makan, mengajaknya berbincang –apapun- agar dia tidak lagi melamun.

"Hyung.."

Yoongi menghentikan langkahnya.

"Hm? Apa kau perlu sesuatu?"

"Ani.. aku hanya ingin meminta maaf.."

"Maaf? Pada siapa? Untuk apa?"

Taehyung tersenyum mendengar rentetan kalimat Yoongi

"Minta maaf pada hyungie karena aku telah merepotkanmu dan membuatmu cemas." Jawab Taehyung sembari tersenyum "Ah! Pada Jimin juga.. hehe…"

Yoongi terdiam dengan wajah datar andalannya. Membuat Taehyung heran.

"Hyung? Ada… apa?"

"Anak nakal!"

"Aaaaakkkk~~ Hyung! Hyung! Appooo~~"

Teriakan tidak bisa terelakan saat Yoongi dengan santai menarik telinga kiri Taehyung, menjewer Taehyung.

"Kalau begitu jangan membuatku cemas lagi! Kau tahu aku benar-benar frustasi dengan kau yang seperti ini!"

"Hehe.. maafkan aku.. aku kan hanya sedang sedih.." bela Taehyung

"Kookie tidak mengingatku.. apa yang bisa kulakukan selain bersedih?"

Yoongi menatap miris Taehyung yang sedang mengeluh ini itu tentang Jungkook yang melupakannya. Meskipun Taehyung berbicara seperti sedang mengeluhkan PR dari guru, Yoongi yakin hati adiknya itu sakit bukan main.

"Kita bisa menanyakan tentang ini pada Jungkook, atau pada Seokjin hyung.."

"Hyung ini.. dimana kita bisa bertemu dengan mereka?"

"Kita bisa minta bantuan Jimin untuk mencari mereka. Kau tahukan koneksi anak pendek itu?"

"Anak pendek?" seru Taehyung sangsi.

Yoongi mengangguk mantap.

"Hyung juga pendek. Eh?"

"Mwo? Yak! Kau ingin ku jewer lagi?"

"Ampun hyung!"

Taehyung berlari mengindari amukan Yoongi. Yoongi jika sedang marah akan sangat berbahaya. Seperti singa betina. Itu lah julukan Taehyung pada Yoongi jika pemuda berkulit pucat itu sedang dalam mode marah.

"Taetae… Yoong?"

Keduanya berhenti dari acara kejar-kejaran mereka. Taehyung membeku melihat siapa yang memanggil mereka. Sementara Yoongi membulatkan mata sipitnya, sedikit tidak percaya dengan siapa yang memanggil mereka.

.

.

.

.

.

.

.

Blue Café.

Taehyung dan Yoongi masih terdiam saat mereka sudah berada di café dengan warna dominasi biru langit itu. Taehyung yang menunduk dan memilih menatap kedua tangannya yang ia tempatkan dikedua lututnya. Yoongi yang masih menatap sosok didepannya. Sebenarnya dia ingin melampiaskan kemarahannya pada sosok itu, pada Kim Seokjin. Tapi, rasa rindu lebih menguasai perasaannya saat melihat sosok kakak yang sangat ia sayangi itu. Yoongi memang sudah menganggap Seokjin kakaknya sendiri, mengingat saat dipanti dialah yang menjadi anak tertua. Jadi, saat sosok Seokjin datang, bukan hanya Jungkook atau Taehyung yang menjadikan Seokjin kakak. Tapi dia juga. Tidak jarang Yoongi bercerita panjang lebar tentang semua yang dialami dan dirasakannya pada Seokjin.

"Jadi, selama ini Seokjin hyung kemana saja?" Yoongi bertanya setelah mereka terdiam selama beberapa menit. Yoongi pikir, dia dan Taehyung harus tahu apa yang terjadi.

"Kami ada di Amerika.." suara lembut dan menenangkan terdengar. Membuat Yoongi kembali merasakan rasa rindu pada sosok didepannya.

"Lalu, kenapa hyung tidak pernah memberi kabar pada kami? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?"

Yoongi melihatnya. Bagaimana perubahan ekspresi Seokjin yang menegang. Yoongi semakin yakin ada sesuatu yang telah terjadi pada Seokjin dan Jungkook.

Seokjin, setelah berusaha menenangkan diri, dibantu dengan pemuda tampan disampingnya yang terus menggenggam tangan Seokjin. Seokjin akhirnya mengangguk. "Ya, sesuatu yang besar terjadi padaku, pada Jungkook."

Akhirnya semua pertanyaan yang ada dalam benak Taehyung dan Yoongi terjawab. Seokjin, dengan tangan yang bergetar digenggaman Kim Namjoon, menceritakan semuanya. Semua yang telah dia dan Jungkook lewati sampai sekarang.

Bagaimana tentang kecelakaan hebat yang dia alami bersama keluarganya saat mereka menuju rumah keluarga besar mereka setelah dari bandara. Kecelakaan yang ternyata didalangi oleh paman kesayangan Seokjin. Kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya, membuat Jungkook kehilangan semua ingatannya, membuat Seokjin mengalami trauma berkepanjangan. Dengan mata yang memerah, dan suara yang tercekat menahan tangis. Seokjin kembali menceritakan sang paman yang entah bagaimana bisa membuat semua harta yang dimiliki orang tuanya berpindah padanya. Bagaimana dengan kejamnya sang paman yang amat dipercayai oleh ayah dan ibunya mengusir Seokjin dan Jungkook.

"Hyung.."

Taehyung tidak bisa menahan airmatanya mendengar semua penuturan Seokjin. Dia ingin Seokjin berhenti menceritakan semuanya jika itu membuat Seokjin merasa tertekan. Tapi Seokjin menolak, dia ingin menceritakan semuanya pada kedua orang dihadapannya.

"Kami.. kami.. kami akhirnya bertemu dengan keluarga Namjoon. Ayahnya sahabat ayah dan ibuku. Aku bersyukur karena mereka memperlakukan kami layaknya keluarga mereka. Ayah Namjoon juga lah yang membantu ku merebut kembali semua yang telah dicuri oleh pamanku."

Senyum lembut Seokjin mengakhiri cerita hidupnya yang menyedihkan.

"Tapi, sekarang hyung baik-baik saja kan?" Yoongi bertanya dengan wajah yang penuh kecemasan. Dia memang tidak menangis, tapi matanya memerah. Ada raut amarah dalam mata sipit itu, bagaimana bisa orang sebaik Seokjin bisa mengalami hal itu. Ingin sekali Yoongi memukul paman Seokjin itu.

"Aku baik-baik saja. Setidaknya sudah jauh lebih baik dari dulu."

"Lalu, paman hyung bagaimana?"

Seokjin tersenyum, menatap Namjoon sekilas. "Berkat bantuan pengacara hebat ini, pamanku mendapatkan balasan yang setimpal. Dia memiliki rumah baru, setidaknya sampai akhir tahun nanti." Jawabnya.

Yoongi mengangguk mengerti apa yang dimaksud Seokjin. Paman itu dipenjara.

"Baguslah. Tapi, bagaimana jika paman hyung kembali melakukan hal yang buruk pada kalian?"

"Tenang saja Yoong.. ada orang-orang yang mampu menjagaku dengan baik. Salah satunya yang duduk disampingku."

Namjoon tersenyum dengan tangan yang mengusap pundak Seokjin. Yoongi melihat keduanya, dan tersenyum lega. Yoongi bersyukur, setidaknya, meskipun Seokjin dan Jungkook mengalami hal yang menyakitkan itu, ada sosok yang mampu menjaga mereka.

Tak lama, Yoongi mengarahkan pandangannya pada Taehyung yang terdiam sejak tadi.

"Taetae.. kau oke?"

Taehyung tidak langsung menjawab, netra indahnya menatap Seokjin.

"Jadi.. Jungkook benar-benar tidak mengingatku lagi hyung?"

Pandangan sedih langsung terpancar dari tiga orang itu. Namjoon sudah tahu siapa Taehyung kini berkat penjelasan Seokjin tadi malam.

"Menurut dokter, amnesia yang diderita Jungkook tidak permanen. Artinya dia bisa kembali mendapatkan ingatannya." Jelas Namjoon. Memperdengarkan suara bass nya untuk pertama kalinya sejak mereka di café.

"Tae, kau tenang saja. Hyung yakin, Jungkook pasti akan kembali mengingatmu. Apalagi sekarang dia ada di Korea. Pasti banyak hal yang mampu membuatnya bisa mengingat kembali."

Taehyung tersenyum menenangkan. Kini, harapan kembali Taehyung gantungkan. Harapan untuk bisa membuat Jungkook kembali mengingatnya.

"Jin hyung! Namjoon hyung!"

Seperti reflek. Kepala Taehyung langsung menoleh kesumber suara. Suara Jungkook. Suara yang selalu ia rindukan. Senyum indahnya mengiasi paras cantiknya melihat Jungkook yang begitu tampan, Jungkook yang begitu berbeda dengan Kookie dalam benaknya. Kookie yang menggemaskan kini berubah menjadi Jungkook yang mengesankan, tampan dengan tubuh tegapnya.

"Hyung sedang apa disini? Kenapa dia ada disini? Apa dia membuat hyung-"

"Tidak Jungkook-ie.. hyung tidak apa-apa.." potong Seokjin cepat sebelum Jungkook mengeluarkan kalimat yang mungkin akan menyakiti Taehyung.

"Lalu, hyung sedang apa disini?" tanya Jungkook yang kini sudah menarik satu kursi dan ditempatkan disamping Seokjin.

"Hyung mengunjungi adik hyung.. kau juga harus sering bertemu dengan mereka.."

"Maksud hyung?"

Seokjin tersenyum

"Dia, Min Yoongi. Kakakmu."

"Kakak ku?"

"Kau pasti tidak lupa saat aku menceritakan kalau kau memiliki dua orang terdekat dari panti asuhan."

Jungkook mengangguk. Seokjin memang pernah menceritakan darimana ia berasal, siapa saja orang terdekatnya. Tapi Seokjin hanya mengatakan ada dua orang terdekatnya dari panti asuhan, tidak disertai dengan nama.

"Satu, Min Yoongi."

Jungkook hanya menatap Yoongi datar, membuat Yoongi berdecak sebal.

"Wah, menyebalkan sekali. Kau, benar-benar tidak mengingatku, kelinci?"

"Kelinci?!" Jungkook berjengit mendengar panggilan dari pemuda berkulit pucat itu.

"Iya, ke-lin-ci. Saat dipanti aku sering memanggilmu seperti itu. Ku harap kau ingat."

Jungkook berdecak sebal. Sedangkan Seokjin tertawa kecil. Dia tahu maksud dari Yoongi itu apa. Meski diucapkan dengan nada datar yang menyebalkan, tapi Seokjin tahu, Yoongi hanya sedang berusaha membantu Jungkook mendapatkan ingatannya. Dan Seokjin benar-benar paham, akhir kalimat yang diucapkan Yoongi adalah harapan Yoongi sebenarnya.

"Dan, dia adalah Kim Taehyung."

Jungkook menelan ludah kasar. Perasaan itu kembali menggerayangi hatinya. Perasaan seperti dia sudah kembali ke jalan yang seharusnya. Seperti perasaan yang terasa kosong kini terasa penuh. Ada secercah rasa bahagia didalam relung hatinya saat melihat wajah manis Taehyung.

"Halo Kookie. Mmm.. saat dipanti, kau selalu memanggilku dengan Taetae.. Taetae hyung.."

Jungkook mengerjapkan matanya berkali-kali kala ada sekelebat bayangan yang mampir dalam pikirannya.

..

"Taetae hyuuuung~~~"

"Kookie mau ikut Taetae hyung ke sekolah!"

..

"Taetae.."

"Ne!" Taehyung tersenyum begitu lebar saat mendengar Jungkook menggumamkan nama panggilannya. Perasaan bahagia membuncah didalam hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa kembali mendengar Jungkook memanggil nama panggilannya itu.

"Meski sekarang kau belum mengingat siapa aku. Aku harap kita bisa berhubungan dengan baik. Menjadi teman mungkin?"

Tanpa Jungkook sadari, kepalanya mengangguk mengiyakan ajakan Taehyung. Membuat Taehyung kembali tersenyum bahagia.

"Jungkook-ie… kenapa lama sekali?"

Taehyung dan Yoongi menatap heran wanita berparas cantik yang kini berdiri disamping Jungkook. Seokjin yang melihat wanita itu merasa cemas. Cemas akan reaksi Taehyung saat tahu siapa wanita itu. Seokjin tahu dari pandangan Taehyung, bahwa Taehyung mencintai Jungkook, sangat mencintai adiknya.

"Aigoo~~ mianhae.."

"Kita jadi pergi kan?"

"Tentu saja. Hyung, kami pergi dulu ya?"

"Eng.. Jungkook-ie,, dia siapa?" dengan keberanian, Taehyung bertanya.

Jungkook menatap Taehyung lekat. Entah kenapa ada perasaan ragu untuk memberitahukan siapa wanita disampingnya ini. Ada penolakan dari dalam hatinya, untuk tidak memperkenalkan calon istri nya.

"Annyeonghaseyo.. Namaku Min Ah, tunangan Jungkook."

Dan Jungkook begitu frustasi dengan hatinya yang berdetak lebih cepat saat melihat raut kaget bercampur sedih dari Taehyung. Ada apa dengannya? Kenapa dia merasa seperti mendapatkan pukulan yang hebat melihat wajah sedih Taehyung? Kenapa ada rasa sesal saat tidak bisa menghentikan Min Ah memperkenalkan dirinya? Biasanya, dia akan memperkenalkan wanita disampingnya ini dengan bangga pada orang lain. Tapi kenapa pada Taehyung berbeda? Ada apa dengannya? Kenapa seperti ini?

.

.

.

.

.

.

.

Jungkook duduk disalah satu kursi kayu ditaman kota, matanya menatap wanita berparas cantik yang sedang membeli makanan ringan disalah satu kedai di taman itu. Memang, matanya menatap kearah calon istrinya, tapi, tatapan itu kosong. Berbeda sekali dengan dulu, saat Jungkook menatap Min Ah penuh dengan rasa cinta, kekaguman, seolah tidak ada lagi yang bisa mengalihkan dunianya. Tapi sekarang, ada yang mengganggu pikirannya sehingga binar cinta di mata Jungkook berangsur menghilang. Pikirannya terus memikirkan apa hubungannya dengan pemuda manis bernama Taehyung. Apa hubungannya sedekat itu dengan Taehyung? Hatinya alih-alih merasa senang menghabiskan waktu bersama Min Ah, hatinya malah merasa semakin kosong saat kakinya melangkah semakin menjauhi Taehyung.

"Hyuuuung-ie~~~"

Kepala Jungkook menoleh pelan kearah samping, mata mempesona itu kini terfokus pada dua anak kecil yang masing-masing tangannya memegang satu cup es krim.

"Ada apa Taemin-ie?"

"Hyung, aku mau coba es krim hyung.." anak kecil dengan rambut jamur itu menatap anak kecil yang lebih tinggi dengan memelas.

"Mmm? Katanya tadi tidak mau rasa coklat.."

"Hehe.."

Jungkook tersenyum tipis melihat anak yang lebih tinggi menyuapkan satu sendok es krim rasa coklat miliknya. Tapi senyum itu langsung menghilang saat sekelebat ingatan kembali menghantam kepalanya.

..

"Taetae hyung-ie… kookie mau es krim hyung.. boleh ya? ya? ya?"

"Eeii~ siapa yang tadi bilang tidak mau es krim coklat, huh?"

"Itu kan tadi.. sekarang Kookie mauuuuuu~~"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Ish! Taetae banyak nanya! Pokoknya Kookie mau, mau, mau, mauuuuu!"

"Ya! Taehyung-ie, beri saja dia es krim mu. Nanti nangis, jadi berisik tau?"

"Iya, iya Yoongi hyung. Ini.."

"Hehehe…"

..

Jungkook menggelengkan kepalanya berkali-kali. Apalagi itu? Apa itu ingatan masa lalu nya?

"Taetae…"

Ya Tuhan, Jungkook benar-benar ingin menangis. Dia tidak mengerti dengan semuanya. Jika memang orang bernama Taehyung itu berarti, sangat berarti baginya, Jungkook mohon kembalikan ingatannya dengan cepat.

"Jungkook-ie? Kau tidak apa-apa? Kepalamu sakit?"

Dan Jungkook merasa sedikit menyesal saat melihat wajah cemas Min Ah yang kini duduk disampingnya, mengelus punggungnya dan menghapus peluh dikeningnya. Bagaimana dia bisa meminta hal seperti itu pada Tuhan disaat dia sudah memiliki wanita sebaik Min Ah? Wanita itu yang selama ini berada disampingnya, menemaninya melalui semua kesulitan yang dia hadapi. Bukan Taehyung. Bukan Kim Taehyung.

.

.

.

.

.

.

.

Sore. Tepatnya dua jam yang lalu Taehyung dan Yoongi pulang ke apartemen Jimin. Dan kini keduanya sedang berada diruang tengah, duduk disofa dengan TV yang menampilkan acara musik. Tapi keduanya hanya terdiam. Biasanya, Taehyung akan sangat aktif jika sudah melihat penampilan girlband, dia akan langsung menari menirukan gerakan girlband itu, bahkan mengajak Yoongi untuk mengikutinya.

"Taetae, kau baik-baik saja?"

Taehyung tersenyum "Aku baik-baik saja."

Yoongi mengela napas, lelah. Tangan kurus berkulit pucat itu menarik bahu Taehyung sampai adik kesayangannya itu berhadapan dengannya.

"Jangan berbohong Tae! Aku tahu kau tidak baik-baik saja." ucap Yoongi, tegas sekaligus cemas.

"Lalu?" Taehyung tersenyum miris "Lalu aku harus bagaimana hyung?"

Yoongi terdiam.

"Menangis? Berteriak pada Jungkook kalau aku mencintainya! Aku merindukannya! Untuk apa?"

Yoongi melihat mata besar Taehyung berair.

"Untuk apa hyung? Jungkook tidak mengingatku. Apalagi.. apalagi sekarang dia sudah memiliki seseorang yang akan selalu berada disampingnya."

"Tae-"

"Hyung, meski nanti Jungkook bisa mengingatku. Mungkin dia akan tetap bersama dengan wanita itu. Karena apa?"

"….."

"Karena, bukan aku yang selama ini berada disampingnya. Bukan aku yang menemaninya menghadapi semua dukanya. Bukan aku. Bukan Kim Taehyung."

Keduanya terdiam. Yoongi tidak bisa membantah apa yang diucapkan oleh Taehyung.

"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Mmm.. aku masih belum tahu.. tapi untuk sekarang, aku, hanya ingin berteman kembali bersama Jungkook." Taehyung mengarahkan pandangannya pada layar televisi lagi "Kedepannya, biar Tuhan yang menentukan." Lanjutnya.

Lama keduanya terdiam sebelum terdengar pintu apartemen terbuka. Menampilkan Jimin dan sosok yang lebih tinggi dari Jimin melangkah mendekat.

"Hello.." suara itu cukup membuat Taehyung dan Yoongi terperanjat. Dan mereka semakin terkejut melihat sosok tinggi yang berdiri disamping Jimin.

"Hyuuuung!"

Taehyung tanpa pikir panjang langsung berlari dan memberikan pelukan erat pada sosok tinggi itu.

"Aigoo~~ uri Taehyung-ie…"

"Kau pulang hyung.."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

..

..

..

..

..

..

..

..

Okeee, chapter ini berakhir sampai disini… hahaha…

.: Maaf ya kalau update nya telat, dan membuat kalian nunggu..

.: Gimana chapter ini? Memuaskan?

.: Siapa ya kira-kira pria yang Taehyung peluk itu? Ada yang mau nebak? Clue nya, dia salah satu pemain hwarang! Hahaha…

.: Happy Birthday my baby Taetae.. semoga sehat selalu, bahagia selalu, hwarangnya sukses..

.: Happy Birthday my superman Ming Lee Sungmin and welcome back! Cepet balik aktivitas lagi sama SJ yaaaa… dan , cepet kasih elf ponakan (?) pasti imut banget deh anaknya Sungmin oppa..

.: Welcome back juga buat my superman Shindong….

.: Happy New Yeat everybody~~~~~ *tiup terompet*

.: Terakhir,,, review juseyooooo~~~