Baru sadar kalau saya nulis butler itu bulter. Well, setting laptop saya yang pake bahasa Jepang emang kadang-kadang suka aneh.. Terimakasih buat corrected-nya. ^^

Eh, iya sama ada yang nanya ke saya.. pas di chapter 2 kenapa Sebastian nyebut nama si Ceciella pakai "Shoujo" kenapa ga pake "Ko" aja? Alasannya, bagi saya kalau pake "Ko" 「子」kesannya untuk anak-anak 12 tahun kebawah. Makanya, saya pake "Shoujo" 「少女」sih.. Alasan kedua, kalau "Ko" kesannya si Sebastian-nya udah tua banget XDD

Jaa, karena saya ga terlalu pintar berbasa-basi kita mulai aja ceritanya.


黒執事:Re-Turn

Chapter IV.I : Sapphire and Ruby

..

..

.

"Aku bukan manusia normal pada umumnya, aku.. sedikit berbeda.." ucapnya lagi, "Ta..pi.. Aku juga bukan iblis sepertimu, Sebastian.." lanjutnya lagi dengan nada sedikit lirih.

'Eh? Bukan manusia normal?' perlahan aku menengok ke arahnya, "My, my.. sepertinya ini akan menjadi menarik ya, nona?" kataku sambil tersenyum lagi pada gadis itu.

"Eh?" Ceciella pun kembali binggung dengan apa yang kukatakan, semua itu terbaca dari matanya. Iris birunya terlihat membesar, ketika ia sedang bingung.

Tapi, perlukah aku menjawah pertanyaan barunya ini? Tentunya tidak! Karena kalau dia tau.. ini bukanlah sesuatu yang menarik lagi. Ya kan?

"Baiklah Nona, saya akan menjawab pertanyaan Anda tadi.." kataku sambil membuka kunciran yang ada dirambutnya. "Saya, tau nama Anda.. karena.." lalu, perlahan aku menarik tali yang melilit di pinggang gadis itu, "Watakushi wa akuma desu, shitsuji desukara." ucapku di tengah kebingungannya.

...

..

.

Normal POV

Perlahan butler serba hitam itu pun membuka ikatan obi yang melilit di pinggang gadis mungil berambut kelabu gelap itu. Perlahan iris sapphire-nya terbuka lebar saat menyadari si pria bermbut raven itu sedang membuka pakaiannya?

'Apa maksudnya ini?' batin gadis itu.

Sedangkan si mata ruby hanya menatapnya datar, "Jangan salah paham, Nona.." ucapnya seakan ia mengerti pikiran gadis itu untuk yang kesekian kalinya. "Saya tidak bermaksud kurang ajar pada Anda.." lanjutnya sambil mengambil sapu tangan yang ada di saku jas-nya sambil mengikatkanya untuk menutup kedua mata ruby itu.

"Anda tahu? Kalau memakai pakaian setipis ini.. Anda bisa sakit.." ucapnya lagi setelah membuka seluruh pakaian gadis itu. Lalu, ia mengambil gaun tidur yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Seperti orang yang tidak menutup matanya, butler kakkoii itu dengan cekatannya memakaikan gaun tidur pada gadis itu. Sampai terbesit dibenak si gadis, "Kau? Apa benar kau menutup matamu?" tanyanya dengan nada canggung.

Dan, seringai kecil pun ke luar dari pria kakkoii itu, "Eh? Anda tidak percaya?"tanyanya dengan nada menggoda. "Apakah saya perlu membuka penutup mata ini untuk membuat Anda percaya?" tanyanya lagi sambil mengarahkan tangannya pada sapu tangan yang ia gunakan untuk menutup matanya.

Dengan cepat gadis mungil itu pun menarik tangan Sebastian, "Kau.. ini.." ucap gadis itu dengan kesal dan sedikit malu. Sementera itu, si butler serba hitam itu hanya tersenyum saja ketika Nonanya itu salah tingkah.

"Baiklah, sudah selesai ojou-sama.." ucap Sebastian sambil membuka penutup matanya, "Saya akan membawakan teh untuk Anda, selamat beristirahat.." ucapnya sambil berjalan menuju pintu.

Tap.. Tap.. Tap..

Terdengar suara langkah kaki di lorong nan sepi itu, tampaklah sosok pria serba hitam yang sedang menuruni tangga dengan membawa lampu lilin. Pria berkulit pucat it uterus menuruni anak tangga itu dan terus melangkah hingga sampailah ia di depan sebuah pintu. Dengan sebelah tangannya ia membuka pintu tersebut. Dan..

TAA~~RAA~~

Dapur yang tadi ia tinggalkan dengan keadaan berantakan kini berubah menjadi sangat mengenaskan, bahkan keadaan tempat yang bernama 'Dapur' itu lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan..

GREEPP! Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Sebastian dari belakang dengan eratnya. Dengan segera pria kakkoii itu melepaskan diri dari sosok serba merah itu. Lalu dengan wajah gusarnya ia melirik sadis pria jadi-jadian yang ada dihadapannya.

"AH~~ Sebasu-chan, jangan tatap aku dengan tatapan seperti itu.." ucap makhluk berkacamata serba merah itu, "Kalau, ka uterus memandangiku seperti itu.. bisa-bisa~ A-KU me-le-leh HO~NEY~~" lanjutnya dengan menekankan setiap perkataannya.

Setika itu pun, Sebastian merasa mual, jijik dan ingin muntah. Namun, Karena ia seorang butler dari 'Phantomhive Manor' mau tak mau ia harus mengadapi 'tamu' nya itu dengan sikap yang wajar. Sekalipun orang yang menjadi lawan bicaranya itu makhluk jadi-jadian.. Yah.. lagi pula Sebastian itu sendiri demon kan? (ga ada hubungannya sih.. *LOL)

"Grell-san, apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya iris ruby itu

Orang yang bernama Grell itu langsung menunujuk dirinya sendiri, "Eh? Aku? Tentu saja menunggumu SE-BA-SU-CHAN~~" jawabnya sambil berlari (?) ke arah Sebastian.

"Grell-san, orang yang kau maksud bisa mengembalikan Bocchan itu—" ucap Sebastian menggantung. Sementara wajah Gerell memasang tampang 'you got it' "Well, sepertinya kau sudah tahu.. Sebby.." ucapnya sambil tersenyum menampakan gigi runcingnya.

"But, untuk caranya.. aku tak tahu.." lanjutnya sambil menggeleng-geleng, "Mungkin, kau harus memikirkan dan menemukannya.. HO-NEY.."

Sebenarnya butler serba hitam itu, sudah jijik karena dari tadi dikelilingi Grell yang notabene-nya seperti cacing kepanasan kalau didekatnya. Yah, apa daya. Demi secercah informasi, walau jijik butler loyal itu tetap menghadapinya.

"Saya sangat berterimakasih dengan informasi yang telah diberikan Grell-san.." ucap Sebastian dengan senyum yang dipaksakan. Seketika itu aura sprakling kira kira bertebaran diubun-ubun Grell, dengan gerakan cepat ia berusaha memeluk butler super kakkoii itu. But, sayangnya Sebastian langsung mengelak dan kini Grell berpelukan dengan pilar dapur.

"Fuuh.. hampir saja.." ucap Sebastian sambil mengelap keringat yang ke luar dari pelipisnya, "Nah, Grell-san.. kalau Anda tidak pergi sekarang.." aura gelap mulai mucul dibelakang si raven itu, "Saya akan menendang Anda dengan senang hati.." lanjutnya sambil mengeluarkan seringai sadisnya.

Grell yang merasa ngeri pun kini beranjak dari pilar itu, "Kau tega, but.. good bye HO-NEY.." ucap makhluk jadi-jadian itu sambil meniupkan goodbye kiss-nya ke arah Sebastian. Dengan segera Sebastian menghindari serangan yang menjijikan itu.

Setelah lima menit berlalu seusai kepergian Grell, butler serba hitam itu pun telah merapihkan dapur yang tadinya super berantakan itu. Kini ia menyiapkan lavender tea dan fruits pudding untuk nona barunya itu. Well, kenapa Sebastian hanya memberikan menu simple untuk menyambut kedatangan nonanya itu? Alasanya, tidak baik seorang Lady makan cake malam-malam.. itu hanya akan membuat kalorinya bertambah. Dan, mengapa lavender tea menjadi pilihan butler satu itu? Yah.. pasalnya lavender itu membuat orang tenang. Alasan Sebastian menyajikan lavender tea agar Nonanya itu bisa tidur dengan nyaman dan tenang di rumah barunya ini.

Dan, sekarang Sebastian telah berdiri tepat di depan pintu kamar Nonanya itu, dengan sebelah tangannya ia mengetuk pintu kamar itu.

TOK TOK

"Masuk.." ucap suara dibalik pintu itu.

CKLEK! Pintu pun terbuka. Tampaklah sosok gadis mungil yang mengintip malam dari tirai yang sedikit terbuka itu.

"My..my, sudah saya duga Anda pasti belum tidur ojou-sama.." ucap Sebastian, "Ini.. saya bawakan Anda sedikit camilan.. saya harap Anda akan menyukainya." Lanjut butler itu sambil meletakan tea dan pudding di atas meja.

Gadis bermanik sapphire itu menyelidik ke arah makanan yang kini ada dihadapannya itu, seperti ada perasaan sedikit curiga pada makanan tak berdosa itu.

Seringai kecil pun muncul dari pria bermata ruby itu, "Well, sepertinya Anda curiga dengan makan yang saya bawa, eh?" tanya Sebastian dengan nada meremehkah.

Seperti mendapat tantangan dari butler itu, Ceciella pun menatap Sebastian dengan kesal. Dengan segera ia menyambar pudding di atas meja dan memasukan makanan itu ke dalam mulut mungilnya. Dan, Sebastian pun tersenyum kecil, 'Well, semakin kesal Anda.. Anda semakin terlihat imut Nona..' batinnya, 'Sifat Anda yang seperti itu juga mirip dengan bocchan.."

SRYUUUP

Ceciella pun menyesap lavender tea-nya, ia meresapi aroma dan rasa lavender yang melewati tenggorokannya dengan tenang dan membuat sapphire-nya itu tertutup rapat masuk ke dalam alam mimpi.

Sebastian yang daritadi masih berdiri dipojok kamar Nonanya itu pun kini mendekati gadis yang terlelap di kursi itu. Tanpa disuruh, ia menggendong gadis mungil itu dan menidurkannya di atas ranjang. Perlahan ia menyentuh wajah gadis itu dengan tangannya.

"Well, kalau Anda ini bukan manusia ataupun demon.. lalu Anda ini apa?" tanya Sebastian pada gadis yang kini berada dalam dunia mimpinya itu.

Lalu, seringai kecil pun kembali menghiasi wajah pria berambut raven itu.. "Maybe, you're Angel's?"


Well, ini dia chapter yang lupa saya publish..

mungkin.. ceritanya sedikit garing? or biasa aja yaa?

But, saya akan merasa sangat senang bila ada yang bersedia mengomentari fic ini ^^

Spesial thanks untuk fetwelve-san.. well, saya hampir berbuat kesalahan fatal di sini..

And for the last, Mind to Review?