Chandelier
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura sedang melanjutkan sketsa gambar yang ia tinggalkan beberapa waktu lalu dan hampir saja sampai pada masa tenggangnya. Ino sudah menyempurnakannya dan Sakura merasa, ada sesuatu yang kurang di dalam sana dalam penempatan tata letak dan beberapa titik bangunan hotel.
Sketsa ini milik Rei Gaara, seorang pengusaha hotel berbintang lima yang ada di Jepang. Cabang hotel ini sudah tersebar luas di beberapa titik kota Jepang dan yang Sakura tahu, hotel yang dimilikinya bukanlah hotel kelas bawah.
Bunyi pintu diketuk membuatnya menghentikan kegiatannya sebentar. Setelah menggumamkan kata masuk dengan cukup keras, pintu kembali terbuka. Menampilkan sosok Rei Gaara dalam balutan jas merah dengan celana bahan hitam.
"Sakura, apa kau sedang sibuk?"
Sakura menggeleng dengan senyum. Ia menunjuk kursi di hadapannya dengan dagunya, menyuruh sang tamu untuk duduk di sana.
Gaara menurutinya dengan diam. Ia menarik kursi di sana, memperhatikan kertas-kertas yang tertumpuk di meja wanita itu.
"Apa sketsa milikku sudah selesai?" tanyanya.
Sakura mengangguk. Ia mengambil kertas pertama yang ada di tumpukan. "Apa ini sesuai dengan keinginanmu?" tanya Sakura ketika ia menunjukkan kertas itu di hadapan Gaara.
Gaara mengangguk dengan senyum. Ia mengambil kertas berisi sketsa gedung miliknya ketika Sakura memberikannya.
"Ini sesuai dengan kesepakatan dan … oh ini benar-benar sempurna," Gaara berkata takjub. Ia berkali-kali melemparkan tatapannya pada sketsa gedung itu lalu bergantian pada Sakura.
Sakura tersenyum lebar. "Kepuasan pelanggan adalah prioritas kami, Rei Gaara," Sakura terkekeh geli. "Kau tidak usah terlalu berlebihan seperti itu. Kita sudah sering bekerjasama dalam hal ini."
Gaara memberikannya senyum malu karena terlalu berlebihan mengekspresikan rasa senangnya. Kemudian, ia menyimpan kertas itu ke dalam map yang dibawanya. Irisnya bergulir menatap Sakura yang masih fokus padanya.
"Apa benar kau sudah menikah?" Sakura memperhatikan wajah Gaara yang tidak memandang ke arahnya ketika bertanya. Wanita itu mengangguk sebagai jawaban, memperlihatkan cincin cantik berlapiskan berlian putih yang melingkar di jari manisnya.
"Ya."
Gaara menahan napas panjangnya. "Dengan?"
"Dengan?" Alis Sakura bertaut, tetapi sesaat kemudian ia tertawa menyadari kebodohannya. "Uchiha Sasuke. Kau pasti mengenalnya."
Gaara tersenyum masam. "Ya. Kami pernah berada di satu klub yang sama. Klub memanah untuk anak-anak orang kaya."
"Aku tahu," Sakura menjawab dengan gumaman. "Sasuke memang terlahir sebagai anak emas. Itu sudah menjadi berita sejak dulu."
"Kau benar." Gaara menimpali.
Lama mereka terdiam dan Sakura tidak menyukai situasi seperti ini. Keheningan terasa semakin menyesakkan kala ia terus berdekatan dengan Rei Gaara yang sempat memiliki hubungan dengannya dulu. Ini tidak baik, Sakura sudah melupakannya dan ia tidak pernah ingin mengingatnya lagi.
"Kupikir kita masih bisa memperbaiki hubungan yang lama," Gaara terlihat ragu-ragu ketika iris hijaunya menatapnya dari balik meja besar yang membatasi mereka berdua. "Kau tahu, ini tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Status kita hanyalah teman dan kupikir aku bisa memperbaikinya lebih dari sekedar itu."
Sakura menghela napas panjang. Ia mencoba menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, tapi tidak. Yang ia lakukan hanya memandang Gaara dengan pandangan kosong tak terbaca.
"Kita sudah selesai. Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi, Gaara," Sakura menjawab dengan tenang. Ia tidak ingin semua yang sudah dibangun hancur begitu saja dalam sekejap. "Hubungan kita hanyalah sebatas teman. Kau sudah menyetujuinya selama ini. Kupikir itu tidak masalah."
"Lagipula..," Sakura menggantungkan ucapan selanjutnya. Ia menatap Gaara dengan sebuah senyum terpetak di wajah ayunya. "Aku mencintai suamiku. Ini seharusnya menjadi mudah untuk kita berdua."
Gaara mengangguk mengerti. Ia beranjak dari tempat duduknya. Tersenyum samar ketika Sakura ikut bangkit bersamanya dan memutari meja untuk menghampirinya. "Aku minta maaf, seharusnya aku datang ke pernikahanmu."
Sakura menggeleng dengan senyum. "Asistenmu bilang padaku kalau kau memiliki urusan lain di luar kota selama beberapa minggu. Aku belum sempat bertemu denganmu selama itu. Jadi, tidak apa. Tidak usah dipikirkan."
Gaara melangkah menuju pintu dengan Sakura yang mengikuti di belakangnya. Lelaki itu menarik napas panjang sebelum berbalik sekali lagi untuk menatap Sakura.
"Aku ikut bahagia. Tapi, ah sudahlah. Sampai jumpa."
Sakura mengerutkan dahinya ketika sosok Gaara menjauh dari pintu ruangannya dan pergi menuju lift dengan Ino yang mengantarnya.
.
.
"Kau tidak pernah menceritakan apa-apa padaku tentang dirimu."
Sakura mendongakkan kepalanya untuk menatap mata suaminya yang kini hanya fokus padanya. Mereka tengah duduk bersama sembari menyaksikan acara televisi malam hari yang biasa mereka lakukan bersama akhir-akhir ini.
Sakura mengangkat bahunya dengan acuh, "Apa yang harus kau ketahui?"
"Apa saja."
Sakura mengambil bantal yang ada di sofa ruangan dan memeluknya erat. Ia tidak tahu harus memulai darimana untuk menceritakan segalanya. Ini terasa rumit dan ia tidak terbiasa bercerita panjang lebar seperti yang ia lakukan pada Ino dan hanya wanita itu yang bisa mengerti dirinya dengan baik.
"Kau masih belum percaya padaku," Sasuke mengamatinya dari seberang sofa tempatnya duduk. Lelaki itu menyesap kopinya dalam diam dan memandangnya dari balik tepi cangkir.
"Bukan begitu."
"Lalu?"
Sakura menghembuskan napas berat seraya mendesah. "Ini terlalu sulit untuk diceritakan. Kau tahu beberapa hal yang aku sembunyikan dari dunia luar. Seperti video itu misalnya." Sakura merasa kata-kata itu keluar dari tenggorokannya bagai sebilah pisau yang tidak sengaja tertelan ke dalam perutnya dan ia berusaha mengeluarkannya dengan susah payah.
Wajah Sasuke tampak mengeras saat Sakura meliriknya. Namun, pembawaannya tetap tenang. Sasuke tidak menunjukkan apapun yang membuatnya bergerak untuk mundur dan memilih untuk memendam sendiri lukanya.
"Kalau begitu," Sakura mengalihkan tatapannya pada sang suami seluruhnya. Bahkan suara sang reporter pembawa berita tidak lagi terdengar di telinganya. "Ada hubungan apa kau dengan Rei Gaara?"
Sakura merasa ada ribuan beton besar yang menimpa kepalanya dengan keras berasal dari langit-langit di atasnya. Ia menatap mata sang suami dengan pandangan terkejut. Seharusnya Sasuke tidak mengetahui hubungannya sejauh ini.
"Apa maksudmu?"
Hanya itu yang bisa ia keluarkan sebagai jawaban. Lidahnya terasa kelu dan napasnya terasa berat mengiringi degub jantungnya yang kian menggila.
"Kau tidak bodoh. Kau mengerti kata-kataku, Sakura. Jangan sembunyikan apa-apa dariku," sanggah Sasuke.
Sakura mengusap dahinya yang berkeringat kasar. Ia mengambil gelas yang berisikan air putih di atas meja dan meminumnya hingga tandas. Memperhatikan sang suami yang masih setia menunggu jawabannya dengan tenang.
Tangan Sakura bergetar ketika memegang gelas itu. Haruskah ia menceritakan hubungan ini?
Gelas yang digenggamnya bergetar. Sakura menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan-lahan.
"Aku dan Gaara sempat memiliki hubungan terlarang waktu lalu," Sakura memutar matanya, berpikir keras. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan bagaimana diriku. Aku sudah kotor sejak lama."
Sasuke masih diam dan mendengarkan penjelasannya.
"Gaara sedang menjalin kasih dengan Karin, sepupuku, mereka sering berkencan di hari Sabtu dan aku sering melihat mereka ketika aku keluar untuk berbelanja bersama Ayahku."
Iris kelam suaminya semakin menggelap ketika Sakura mencoba menatapnya dan mempertahankan pandangannya di dalam mata itu. Mencoba menenggelamkan diri untuk mencari-cari arti tatapan mata Sasuke padanya.
"Dan entah bagaimana, aku merasa kalau aku juga menyukainya. Karin memiliki hubungan yang buruk denganku, tapi tidak dengan Ayahku. Mereka sering berbicara di belakangku sebagai Paman dan keponakan. Aku menganggapnya seperti itu," bahu Sakura bergetar ketika mencoba menggali kembali ingatan lamanya. "Lalu, hubungan kami berlanjut menjadi sesuatu yang kotor. Aku tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi. Aku menyerahkan diriku pada Gaara tepat dimana satu bulan kami berkencan tanpa sepengetahuan Karin."
Sorot mata Sasuke semakin menggelap dan Sakura semakin takut untuk hanya sekedar meliriknya. Ia memilih untuk menatap cairan bening dari dalam gelasnya. Menumpahkan segala emosi yang tersembunyi di dalam matanya ke dalam cairan itu.
"Gaara bilang kalau ia mencintaiku setiap kami melakukannya. Ayahku tidak tahu akan hal ini. Ia tidak tahu kalau putrinya sudah kehilangan keperawanannya sejak lama dan bukan karena video itu," Sakura tersenyum masam ketika ia mencoba untuk memandang wajah suaminya. "Tapi setidaknya Gaara tidak bersalah untuk kasus pelecehan seksual yang aku alami. Ia sangat baik. Aku menyukainya karena ia berbeda dari laki-laki lain."
Sakura tidak lagi memandangi wajah suaminya setelah itu. Ia tidak memerhatikan bagaimana ketika Sasuke memandangnya dari seberang sofa.
"Lalu, setelah beberapa lama kami menjalin hubungan itu, kurasa Karin mengetahuinya. Ia tampak tidak suka dan marah ketika melihatku. Ia membenciku."
Sakura meremas tautan tangannya di atas bantal.
"Aku tidak ingin mempunyai masalah dengan siapapun termasuk saudaraku sendiri. Hubunganku dan Karin semakin merenggang sejak saat itu. Ayahku terkadang berusaha menyatukan kami kembali, tapi semua sia-sia," Sakura menghela napas panjang. "Aku dan Gaara akhirnya memilih untuk berteman dan tidak melakukan hal lain di belakang Karin lagi setelah itu."
"Hanya itu?"
Alis Sakura terangkat. "Ya," ia menatap mata Sasuke dengan sorot pandangan bingung. "Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak," Sasuke menjawab tenang. Seolah yang diceritakan Sakura tidak berarti apa-apa untuknya. "Apa kau berpikir kalau Gaara berkaitan dengan video itu?"
Sakura mengalihkan pandangan seluruhnya ke arah suaminya. Sasuke mengucapkannya tanpa rasa bingung atau memikirkan perasaan Sakura lebih lanjut lagi. Mungkin saja Sasuke mengetahui sesuatu tapi dia tidak tahu? Seingatnya, Sasuke tidak ingin membahas video itu lebih lanjut lagi.
"Kenapa?"Alis Sakura terangkat satu, "bukankah kau bilang kau tidak ingin membahas masalah video itu lagi?"
Sasuke mengusap wajahnya dan Sakura menangkap ia sempat melemparkan ekspresi menyesal karena menanyakan hal tabu ini padanya. Sakura berusaha untuk melupakannya dan mempercayakan hal ini sekali lagi pada Sai. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Aku minta maaf." Hanya itu yang bisa Sasuke katakan saat ini.
Sakura menggeleng dengan senyum yang ia paksakan. Ia tidak ingin masalah ini semakin bertambah rumit dengan adanya campur tangan Sasuke. "Aku sangat yakin kalau Gaara tidak ada kaitannya dengan video itu." Sakura menjawab dengan nada yang cukup lantang yang membuat Sasuke harus mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?"
Sakura tersenyum samar. "Walaupun aku mabuk dan tidak sadarkan diri, aku masih percaya kalau dibalik video itu bukanlah Gaara, Sasuke."
Sakura bangkit dari sofanya dan masuk ke kamar tanpa mengucapkan kalimat apapun seperti yang ia lakukan beberapa waktu belakangan ini. Meninggalkan Sasuke dengan puluhan emosi yang dipendam lelaki itu sendiri.
.
.
Ini masih pagi sekali saat Sakura menyempatkan diri untuk pergi ke pemakaman untuk menjenguk sang Ayah yang telah berpulang lebih dulu mendahuluinya.
Sakura membawakan seikat bunga cantik kesukaan sang Ayah. Menaruhnya tepat di depan batu nisan milik sang Ayah. Memejamkan matanya untuk menahan air mata yang siap meluncur bebas menuruni wajahnya.
"Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi saat ini, Ayah. Apa kau tahu sesuatu?" Sakura bergumam di depan makam sang Ayah dengan kedua tangan saling bertaut.
Air mata tidak lagi bisa dibendungnya, meluncur bebas dari sudut matanya, bergerak membasahi pipi mulusnya dan Sakura membiarkannya. Hanya ini satu-satunya cara untuk bisa mengungkapkan segala emosi di hatinya.
"Aku tidak pernah bertemu dengan Ibu sejak umurku lima belas. Ia meninggalkanku dan Ayah di saat Ayah benar-benar membutuhkannya. Mengapa Ibu begitu kejam pada kita?"
Angin pagi hari membelai rambut panjang terurainya dengan lembut. Suasana pemakaman sangatlah sepi. Sakura bisa merasakan suaranya sendiri di tengah luasnya pemakaman saat ini.
"Ayah, apa yang Ayah sembunyikan dariku tentang Karin? Apa yang coba Ayah sembunyikan tentang dirinya? Kenapa Ayah berusaha melindunginya di saat Ayah menuliskan surat padaku untuk berhati-hati dengannya? Ayah tidak pernah mengatakan hal itu padaku secara langsung," Sakura kembali menangis. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa Ayah lakukan ini padaku…"
Sakura kembali terisak dan menangisi dirinya sendiri. Hatinya begitu kacau. Perasaannya tidaklah membaik sejak semalam. Yang bisa ia lakukan hanya berdiam diri dan tidak berusaha untuk memperbaiki suasana yang sedang rusak. Pikirannya berkecamuk di antara pikiran yang lain. Bahkan Sasuke dengan menyesalnya berulang kali meminta maaf dan yang ia lakukan hanyalah diam. Tidak menjawab apapun.
Di sisi lain, ada seseorang yang tengah memandangi sosok dirinya yang duduk berjongkok sembari menangis di sebuah makam yang bertuliskan Haruno Kizashi dengan wajah sendu dan penuh kebencian. Ia menyembunyikan kepalan tangannya pada saku mantel musim dinginnya. Mencoba menghalau rasa sakit yang perlahan-lahan menyusup ke dalam hatinya dan berlalu pergi dari sana.
.
.
"Ino tidak pernah mengatakannya padaku tentang hal ini. Kurasa, Ino tidak tahu akan hal ini, Sasuke."
Mereka berdua tengah berbicara mengenai masalah video itu. Sasuke menceritakan segalanya apa yang Sakura ceritakan padanya dan tidak berniat untuk membeberkannya pada siapapun selain Sai yang secara langsung diberi kepercayaan untuk mengorek segala informasi yang ada mengenai kasus ini.
Sasuke tidak lagi meragukan kemampuan Sai yang sudah melampaui di atas rata-rata itu. Ia sudah berulang kali menyelidiki masalah yang sama di saat kepolisian tidak lagi bisa menangani masalah rumit ini. Di sinilah tugasnya sangat diperlukan. Terlahir dari keluarga intel dan detektif hebat, membuatnya sangat mahir melakukan hal ini.
"Tapi siapa sosok lain di video itu selain Gaara?" gumam Sai ketika ia mencoba meneliti sekali lagi potongan-potongan video itu di dalam data miliknya.
Sasuke mengangkat bahunya. Ia bukan dari kalangan intel seperti Sai tau terlahir dengan bakat hebat sebagai seorang detektif, ia tidak bisa melakukan ini lebih jauh lagi.
"Aku pernah melihat Gaara menyembunyikan sesuatu dariku saat aku berkunjung ke kantornya kemarin. Ini sangat aneh," Sasuke menopang wajahnya dengan salah satu tangannya. Arah pandangannya ia alihkan pada jendela kaca ruangannya dan memilih untuk menatap awan kelabu Jepang di pagi hari.
Sai menyimak ketika Sasuke menceritakan beberapa clue untuknya.
"Beberapa bingkai foto di sana bergambar Haruno Sakura. Aku sangat marah waktu itu dan tidak ingin membahasnya lebih jauh. Aku pergi dan Gaara sepertinya menyembunyikannya."
"Benarkah?" tanya Sai tak percaya.
Sasuke mengangguk dengan wajah masam. "Aku serius. Itu urusanmu, Sai. Lakukan apa yang harus kau lakukan."
Sai segera mengangguk dan ia pamit undur diri darisana. Sasuke menyalakan televisi ruangannya. Layar langsung menampilkan sosok Uchiha Fugaku yang tengah berpidato bersama beberapa anak buahnya yang mendukung kampanye besarnya. Tentu saja, pria itu membuang uangnya hanya untuk kampanye bodohnya yang membosankan.
Sasuke kembali mematikan televisi itu. Menyembunyikan wajahnya di atas lipatan tangannya. Memikirkan segala kemungkinan yang ada di sana. Dan menyesali apa yang baru saja ia perbuat pada istrinya semalam.
.
.
Sakura menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah sakit setelah mengabari Ino tentang dirinya yang akan datang setelah makan siang selesai.
Ibu Sasuke masih dalam pengawasan intensif sang dokter dan beberapa anak buahnya yang berjaga di sekitar pintu. Maka ketika Sakura melangkah mendekati pintu, mereka dengan serempak menjauh dan membiarkan Sakura untuk masuk.
Sakura mengambil tempat di samping Nyonya Uchiha itu terbaring. Wajahnya pucat semakin pucat ketika ia perlahan-lahan membuka matanya. Selang yang memberikannya kehidupan masih setia menemaninya. Sakura tidak tega hanya dengan memandanginya saja. Ia mengambil tangan rapuh itu dan menggenggamnya lembut.
"Apa kabar?" Sakura tersenyum ketika kedua iris jelaga itu beralih menatapnya.
Uchiha Mikoto menarik sudut bibirnya. "Aku baik-baik saja. Aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya."
Sakura tidak bisa menahan senyumnya lebih lebar lagi. Genggamannya semakin mengerat seiring Ibu Sasuke menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan.
"Bagaimana kabar Sasuke? Apa dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja. Seperti yang kau tahu, dia memiliki segudang pekerjaan yang menumpuk dan ia sangatlah sibuk," Sakura tersenyum ketika melihat Ibu Sasuke tengah tersenyum mendengarkan. "Dia menyayangimu. Kau tidak perlu cemas. Bahkan dia rela jika harus mengorbankan nyawanya untukmu."
Senyumnya perlahan menghilang ketika melihat kepala Ibu Sasuke menggeleng sebagai jawaban. Senyum yang diperlihatkan Ibu mertuanya padanya sangatlah berbeda. Tatapan mata yang biasanya menyimpan luka itu kini memandangnya dengan berbinar penuh harapan.
"Bukan diriku, tapi dirimu," Sakura mencoba tersenyum ketika iris hitam segelap malam itu masih memandangnya. "Anakku rela mati demi dirimu."
"Itu tidak seperti yang kau bayangkan," Sakura masih tidak mengerti apa yang dibicarakan Ibu Sasuke padanya. "Sasuke menyayangimu. Dia memilikimu sampai kapanpun. Sasuke akan hidup lagi ketika kau sembuh. Karena itu, sembuhlah untuk kami."
Setetes air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam. Sakura merasa bersalah karena berbicaranya yang sudah terlalu jauh menyinggung perasaannya. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya, mengulurkan tangan yang lain untuk menghapus air mata itu.
"Ini terlalu rumit, Sakura," Mikoto membuka matanya dan air mata itu tidak henti-hentinya mengalir. "Jika aku mati nanti, ia tidak akan memiliki siapapun selain dirimu."
Sakura mengangkat alisnya, ia mencoba memahami apa yang dikatakan Ibu Sasuke padanya. "Bagaimana dengan Ayahnya? Maksudku Uchiha Fugaku masih sehat dan ia adalah Ayah sah dari Uchiha Sasuke."
Mikoto tersenyum padanya. "Memang, tapi itu tidak seperti yang kau bayangkan."
Sakura ingin menjawabnya namun suara Mikoto yang tenang membuatnya kembali menahan kalimatnya.
"Apa ada yang coba kalian sembunyikan dariku?"
Sakura menggeleng cepat. Ia tersenyum untuk membuat perasaan Ibu Sasuke membaik. Ia tidak ingin membuat wanita itu kembali harus berperang melawan penyakitnya dalam waktu yang lama dan membuat Sasuke kembali berduka.
"Tidak ada. Percayalah, aku dan Sasuke tidak menyembunyikan apa-apa darimu."
Mikoto tersenyum hangat padanya. Genggaman tangannya semakin melemah seiring rasa kantuk yang menyerang wanita itu semakin kuat. "Aku akan menjalani operasi minggu depan karena kondisiku membaik. Sebelum itu terjadi, temui aku terlebih dulu Sakura. Jangan biarkan Sasuke menemanimu. Aku hanya ingin berbicara padamu."
Sakura mengerutkan dahinya sekilas. Tapi kemudian ia mengangguk.
Mikoto memberikannya senyum terakhir sebelum wanita itu jatuh tertidur. "Panggil aku Ibu. Mulai sekarang, aku Ibumu juga."
.
.
Hari ini jadwalnya sangat padat. Sakura harus menebus kesalahannya hari ini untuk menemani Ino belanja bulanan sekaligus menemaninya makan malam yang jelas-jelas harus Sakura lakukan. Dan yang sekarang ia lakukan adalah menghubungi Sasuke untuk meminta izinnya.
Sakura menyuruh Ino untuk masuk terlebih dulu ke dalam supermarket dan mengambil troli untuk mereka. Ia mengambil ponselnya, mencari nomor yang ingin ia hubungi dan menekan tombol hijau.
Dering kedua Sasuke menjawabnya dengan seruan yang agak kencang dan membuatnya harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya beberapa saat.
"Sasuke, aku akan pulang terlambat malam ini. Tidak perlu khawatir, aku sedang bersama Ino dan untuk makan malam … apa kau perlu sesuatu untuk kubawakan pulang?"
Terdengar helaan napas panjang di sana.
"Apa kau masih marah padaku?"
Sakura mendengus pelan. "Ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, Sasuke. Jangan konyol."
"Aku serius, Sakura. Kau tidak mau berbicara padaku semalaman dan pagi tadi kau langsung pergi tanpa berpamitan padaku."
Sakura merasa dirinya benar-benar terpojok sekarang. Ia terlalu konyol pada suaminya sendiri mengenai masalah ini. Ia berlebihan dan Sasuke tidak pantas merasa bersalah terlalu jauh karena ini.
"Dengar, aku minta maaf karena tadi pagi. Aku berkunjung ke makam Ayahku dan setelah itu aku kembali bekerja."
Sakura mulai melangkah memasuki pintu utama supermarket. Mencari Ino yang mulai pergi menuju stage sayuran dan buah-buahan.
"Jangan berbohong padaku."
Sakura memutar matanya. "Baiklah, aku berkunjung ke rumah sakit. Aku ingin tahu kabar Ibumu. Itu saja." Sakura tidak sengaja meninggikan nada suaranya. Helaan napas Sasuke yang panjang sedikit mengganggunya.
"Kau masih marah padaku. Bagaimana aku bisa menebusnya? Aku benar-benar menyesal kau tahu."
"Tidak perlu kaupikirkan, aku tidak lagi marah padamu," Sakura menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Berharap Sasuke bisa merasakannya. "Aku benar-benar harus berbelanja dan bisa kita akhiri ini dan berbicara lagi nanti?"
"Tentu saja. Aku akan menjemputmu setelah makan malam kalau begitu."
Sakura mengerjapkan matanya terkejut ketika Ino tiba-tiba muncul di hadapannya dan berniat menjahilinya.
"Oh tidak perlu, Sasuke. Ino bilang ia akan mengantarku pulang."
"Baiklah, sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Sakura mematikan sambungan telepon mereka dan memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel musim dinginnya. Ino menatapnya penuh selidik dari balik pegangan troli yang dibawanya.
"Kau bertengkar?"
Sakura menggeleng dengan wajah malas. "Tidak."
"Jangan bohong padaku, Nona Uchiha. Wajahmu tidak berkata demikian." Ino menatap Sakura dengan tajam dan hanya dibalas dengan dengusan oleh Sakura.
"Yah, hanya sedikit kesalahpahaman. Itu saja."
Ino mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia kembali menarik Sakura untuk mengikutinya pergi menuju stage bumbu-bumbu masakan.
Sakura memandang troli yang hampir penuh itu dengan tatapan terkejut. Banyak sekali barang kebutuhan yang mereka perlukan untuk satu bulan ke depan. Sebenarnya, yang lebih banyak berbelanja saat ini adalah dirinya. Ino tidak terlalu membeli banyak kebutuhan seperti dirinya.
Saat Sakura beranjak menuju tempat penyimpanan makanan kemasan, ia dikejutkan dengan sosok wanita paruh baya yang kesulitan merapikan kembali barang belanjaannya yang jatuh tercecer ke lantai. Sakura dengan sigap membantu wanita itu kembali merapikan barang belanjaannya.
"Aaa, terimakasih."
Sakura tersenyum ketika ia mendongak dan mendapati wajah wanita itu pucat ketika menatapnya. Tidak berbeda jauh dengan dirinya, tangannya bergetar ketika ia memegang sebungkus makanan kemasan di tangannya.
"Ibu?"
Wanita paruh baya itu segera berbalik untuk menghindari Sakura dan meninggalkan troli-nya begitu saja agar ia bisa berlari secepat mungkin.
Sakura segera tersadar dan secepat mungkin mencoba mengejar wanita yang ia panggil Ibu itu. Wajahnya memerah dan kedua mata beningnya mulai menggenang.
Ia kalah cepat. Wanita itu telah pergi dengan taksi yang sengaja menunggu tak jauh dari halaman supermarket. Sakura merutuki kebodohannya dalam masalah ini. Ia terlalu lamban dalam berpikir mengenai apa yang baru saja dilihatnya. Pikirannya terlalu kacau.
Itu Ibunya. Ibu yang meninggalkannya sejak ia berusia lima belas tahun. Ia masih bisa mengingat jelas sosok Ibunya. Masih terekam jelas di memori kepalanya. Sakura tidak mungkin melupakan wanita yang sangat berjasa di hidupnya.
Ino mengejarnya sampai ke halaman supermarket. Memeluknya yang tengah menangis sembari terduduk di atas aspal yang dingin karena musim dingin telah memasuki waktu Jepang.
"Sakura?"
Ino menggoyangkan tubuh Sakura yang bergetar di pelukannya. Sakura masih menangis, ia memandang kosong pada jalan besar di hadapannya dimana sang Ibu yang pergi meninggalkannya begitu saja bagaikan dirinya wabah yang harus dihindari.
"Sakura, semua akan baik-baik saja."
Ino kembali memeluknya dan tidak memedulikan tatapan para pembeli supermarket yang menatap mereka dengan heran.
Dan Sakura juga tidak memedulikannya. Yang ia pedulikan adalah bagaimana ia bisa menemui Ibunya lagi dan memeluknya. Ia sangat merindukannya melebihi apapun.
.
.
"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Ino ketika mereka berhenti untuk makan malam.
Sakura mengangguk lemah. Ia memandang daging asap yang baru matang dan nasi di mangkuk dengan pandangan kosong. Bahkan Ino yang sejak tadi bergumam lapar tidak berselera memakan makanannya.
"Aku berpikir Ibuku sudah mati. Ayahku selalu bilang kalau Ibuku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Hanya Ayahku yang masih setia di sisiku dan bukan Ibuku. Aku berpikir demikian sampai dimana aku melihatnya secara langsung."
Ino mendengarkan ceritanya tanpa berkomentar apa-apa. Sakura memilih untuk kembali memesan anggur dengan sedikit alkohol agar ia bisa melupakan masalahnya hari ini. Ia terlalu banyak menangis dan ia tidak ingin menangis lagi.
"Sakura, sudahlah. Akan ada dimana kau berjumpa lagi dengan Ibumu. Selama dia masih di bawah langit yang sama denganmu, kalian pasti akan bertemu."
Sakura hanya bisa mendesah berat dan menyembunyikan kepalanya di dalam lipatan tangannya. Malam semakin larut, Sakura harus segera pulang ke rumah dan melupakan semuanya.
.
.
"Hati-hati, Ino. Terimakasih banyak untuk hari ini. Aku mengacaukannya." Sakura tertawa sendu ketika ia mengingat bagaimana ia merusak momen kebersamaan mereka dengan hal konyol tadi siang.
Ino menggeleng dengan senyum. Wanita cantik itu lalu berpamitan dan segera pergi dari sana. Meninggalkan Sakura seorang diri di luar pagar.
Sakura merasa ia belum mabuk sepenuhnya. Tidak sepenuhnya mabuk. Ia masih sadar meskipun sudah dua gelas anggur ia habiskan. Sakura ingin sekali tidur dan melupakan masalahnya. Namun, masih ada satu masalah yang harus ia selesaikan dengan Sasuke secepatnya.
Ketika ia melihat pintu utama terbuka, Sakura tidak sengaja mendengar suara gelas dibanting keras dan itu membuatnya melompat karena terkejut. Ia mengintip dari celah pintu yang terbuka, mencari tahu siapa yang membuat keributan di malam hari.
Matanya menangkap ada sosok Rei Gaara yang tengah berdebat sengit dengan Sasuke yang Sakura yakini kalau dirinya pelaku yang memecahkan gelas tadi.
"Dengar, Sasuke, aku kemari bukan untuk berurusan denganmu. Aku mencari Sakura. Dimana dia?" Seru Gaara.
Sakura mendengarkan pembicaraan mereka diam-diam. Berharap tidak ada yang mengetahui keberadaannya di sini.
Sasuke mendengus. Tatapan matanya sinis memandang Gaara. "Sakura tidak lagi bisa bertemu denganmu. Bukankah urusan kalian sudah selesai?"
Gaara berdecak sebagai jawaban. Ia melayangkan satu pukulan mengenai rahang kiri Sasuke hingga lelaki itu terhuyung ke belakang dan hampir saja menabrak guci besar yang bisa membahayakan dirinya.
Sakura menutup mulutnya ketika Gaara masih mendesak Sasuke agar ia bisa bertemu dengan dirinya.
Dan Sasuke masih bertahan untuk tidak memberitahukan dimana Sakura berada.
"Rei Gaara, apa yang kau coba sembunyikan dariku? Kau masih menginginkan Sakura di hidupmu, begitu? Apa maksud dari foto-foto yang kulihat di ruanganmu waktu lalu? Bisa kau jelaskan?" Sasuke berdecih sinis ketika ia merasakan denyutan perih di rahangnya.
Gaara hanya memandangnya datar tanpa ekspresi. Sakura baru saja ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah jika suara Gaara yang dalam membuat langkahnya terhenti saat itu juga.
"Ya. Aku menginginkannya ada di hidupku dan bukan dirimu. Aku yang mencintainya dan bukan dirimu. Persetan dengan Karin! Aku tidak peduli sama sekali dengannya!" Teriak Gaara.
Sakura mundur perlahan-lahan dan memilih untuk tetap diam di tempatnya. Suara napas Sasuke yang memburu terdengar sampai ke telinganya.
Tatapan Gaara begitu terluka ketika ia memandang iris kelam Sasuke yang menatapnya seakan ingin membunuhnya di tempat saat ini juga.
"Dan Sakura bilang padaku kalau ia mencintaimu. Kau tahu betapa sakitnya itu? Kau tahu Sasuke, ini tidak semudah yang kaupikirkan. Aku mempunyai hubungan yang baik meskipun itu terlarang dengannya. Sedangkan kau?"
Satu pukulan lagi mendarat di sisi kanan Sasuke ketika lelaki itu tidak siap menerima serangan tiba-tiba dari Gaara. Hancur sudah pertahanan Sakura ketika ia melihat Sasuke jatuh dengan menindih guci besar dengan wajah terluka.
"Hentikan!"
Sakura berteriak untuk menghentikan pertengkaran mereka lebih jauh lagi. Sasuke bersiap membalas serangan dan segera ia menahannya ketika melihat Sakura masuk ke dalam ruangan dan mencoba melerai mereka berdua dengan berdiri di antara keduanya.
"Apa yang coba kaulakukan, Gaara?" Sakura menatapnya marah. Ia menganggap Gaara sebagai teman terbaik dan ternyata dia salah. Gaara menyakiti Sasuke di depan matanya hanya karena Sasuke tidak memberitahu dimana dirinya. Dan apa-apaan itu? Gaara masih memiliki perasaan padanya? Seharusnya itu tidak terjadi.
"Kau tahu kita sudah selesai, Gaara. Sudah lama sekali," suara Sakura berubah lirih. Ia melirik Sasuke yang bangkit dengan memegang rahangnya yang memar. "Kau tidak berhak mencampuri urusanku atau apapun. Kau hanyalah teman dan tidak akan pernah menjadi lebih."
Gaara ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya ketika ia melihat tatapan yang Sakura berikan padanya.
"Jangan pernah datang untuk menemuiku lagi. Ingatkan aku satu hal untuk tidak pernah melupakan apa yang terjadi hari ini." Bentak Sakura.
Gaara hanya diam. Ia mengalihkan pandangannya pada Sasuke yang berdiri kaku di belakang punggung Sakura. Jelas saja ia mengganggu Sasuke yang tengah bekerja dan duduk bersantai di rumahnya. Ia datang tanpa sopan santun dan itu membuatnya kembali ke jatuh lubang rasa bersalah.
Sakura memandang punggung Gaara yang perlahan-lahan menghilang dari dalam rumahnya. Suara mobil dan pagar yang terbuka membuatnya menghela napas panjang. Ia memutar tubuhnya, menghadap langsung pada Sasuke yang masih meringis karena luka di wajahnya.
"Untung saja pecahan guci ini tidak melukaimu," Sakura menarik tangan suaminya untuk duduk di atas sofa dan mengambil kotak obat dari ruangan kerja Sasuke. Ia segera bergabung dengan Sasuke dan mengobati wajah lelaki itu hati-hati.
"Apa ini terasa sakit?" tanyanya ketika ia mendengar rintihan sakit Sasuke.
Sasuke hanya mengangguk singkat. Ia membiarkan Sakura mengobati lukanya dan menyentuh wajahnya dengan tangan lembutnya.
"Apa itu benar?"
Sakura mengangkat sebelah alisnya. Ia merapikan peralatan yang dikeluarkan dari dalam kotak dan kembali memasukkannya.
"Apa?" tanya Sakura tak mengerti.
"Yang dikatakan Gaara."
Sakura mendengus kecil. "Aku tidak dengar apapun, Sasuke."
Sasuke menghela napas bosan. "Jangan bohong padaku. Aku mendengar ketika bunyi pagar terbuka dan dirimu yang mencoba mengintip dari balik pintu. Kau mendengar segalanya, Sakura."
Sakura memundurkan tubuhnya ketika Sasuke mencoba menarik pergelangan tangannya agar tidak menjauh darinya. Ia menghela napas panjang, tidak ada gunanya berkata bohong saat ini.
"Aku tidak sengaja mendengarnya."
Kedua alis Sasuke bertaut. "Dan apa itu benar? Yang dikatakan Gaara padaku?"
"Aku tidak tahu." Jawabnya lirih.
Sakura melirik sofa kosong di sisi Sasuke. Disana masih berserakan kertas-kertas kerja dan beberapa dokumen yang berserakan. Sasuke pasti menunggunya sembari bekerja.
"Pasti Gaara datang, lalu ia—
Ucapan Sakura terputus ketika ia merasa tengkuknya ditarik oleh tangan lain dan benda kenyal yang menyentuh bibir tipisnya. Ia membuka matanya, menemukan wajah Sasuke yang kini berada di depannya. Napas hangat Sasuke menerpa wajahnya. Sakura mengepalkan tangannya, mencoba menyentuh pipi tirus lelaki itu dengan perasaan bergejolak.
Ia kembali memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut yang Sasuke berikan padanya di bibirnya. Mulai menerima segala perlakuan Sasuke ketika lelaki itu mencoba menariknya untuk duduk di pangkuannya dan Sakura menurutinya dalam diam.
Tanpa melepas pagutan antar dua bibir berbeda itu, Sakura merasakan cumbuan Sasuke semakin dalam pada area mulutnya. Napasnya semakin menipis di sela-sela ciuman mereka yang semakin dalam.
Sasuke membuka matanya, ia masih tidak menjauhkan wajahnya dari wajah sang istri yang memerah. "Kau mabuk."
Sakura ikut membuka matanya, ia tersenyum samar ketika merasakan tatapan mata Sasuke berulang kali berpindah dari matanya dan bibirnya.
"Tidak terlalu. Aku masih sadar apa yang aku lakukan saat ini," gumamnya serak dengan gerakan tangannya yang berani mengusap lembut rahang suaminya.
Jarak diantara mereka terputus ketika Sasuke kembali menempelkan bibirnya untuk mencicipi rasa manis dari bibir istrinya. Merasakan penerimaan Sakura, ia segera membuka matanya. Melihat bagaimana ketika wajah Sakura yang sangat dekat dengannya, membakar birahinya sebagai lelaki normal yang butuh pemuasan sisi biologisnya.
Sakura ikut membuka matanya dan ciuman mereka terlepas ketika Sakura memundurkan wajahnya. Menatap netra jelaga suaminya yang memabukkan dan hanya dengan menatapnya, semua masalahnya terasa memudar lalu hilang. Yang ada di pikirannya hanyalah Sasuke seorang.
"Jika aku menginginkanmu sekarang, apa kau akan menolaknya?" Sasuke mendekatkan wajahnya kembali, menyatukan kening mereka ketika ia merasakan kepala Sakura menggeleng samar sebagai jawaban.
"Lakukan apa yang ingin kaulakukan, aku tidak akan menolaknya."
Dan itu adalah kata-kata terakhir yang Sakura ucapkan malam ini sebelum ia menyadari kalau dirinya akan menikmati sekali lagi madu dunia yang memabukkan bersama seseorang yang telah sah menjadi suaminya.
Setidaknya, biarkan ia bahagia untuk sementara sebelum kenyataan mengambil semua darinya.
.
.
.
.
.
I was wondering if after all these years
You'd like to meet, to go over everything
They say that time's supposed to heal ya
But, I ain't done much healing
—Hello, Adele
.
.
.
.
.
Author Note:
Well, it's been a long time. I promised you guys to update this fic ASAP when I'm totally heal. And taraa! Almost two chapters again, and its over.
Siapasih laki-laki yang di video itu selain Gaara? Chapter depan ketebak kok.
Gaara sama Karin mencurigakan ya. Mereka pasti ada hubungan kan? Yoi. Dulunya kan pacaran doi berdua.
Gaara terobsesi sama Sakura? Yak. Jatuhnya gitu tapi besok bakalan dijelasin lagi. Doi cinta ceritanya disini.
Sebenarnya ada masalah apa antara Sasuke dan Ayahnya? Terlalu rumit dan yah, besok dijelaskan. Kalau enggak chapter lima ya chapter enam.
Porsi Karin cuma sedikit ya. Kesannya jadi gajelas gitu! Iya emang dibuat gitu. Dua chapter kedepan porsi Karin dibuat banyak karena klimaksnya ya dua chapter itu. Sekalian dibuat tamat biar ga bertele-tele karena chapternya cuma dikit ditargetin.
Gaara antagonis ya? Ya, bisa dibilang. Tapi doi baek kok.
Chapternya dipanjangin dong biar enak dibaca! Yah, kelemahan saya di sana. Saya kalau nulis chapter panjang tergantung mood juga. Punggung saya suka sakit kalau duduk terus depan laptop atau enggak matanya kunang-kunang gitu. Malah makin sakit nanti. Ini benar-benar saya minta maaf ya. 4k+ masih kurang memang ya?
Sakura beradu sama Karin ya disini? Iya, dari awal cerita emang masalahnya di mereka berdua.
Gaara jadi pedhopil ya, nista juga ya thor! Wkwk. Iya maapkeun saya ya wkwkw.
Kenapa Ayah Sasuke mau bunuh istrinya? Agak gangerti sama kospirasi politik sih sebenernya? Agak rumit disitu, nanti dijelaskan satu-satu. Kebongkar semua kokk
Mirip kayak novel trilogy Naked ya? Nyerempet dikit lah tapi beda banget bung.
Beberapa pertanyaan yang masuk saya singkat-singkat saja ya? Terimakasih yang mau baca sampai sini. So, reviewnya sangat ditunggu. Hehe.
Lots of Love
Delevingne
