"Ino! Ino! Hei, piiigg~!" Sakura berteriak memanggil nama sahabatnya. Yang dipanggil hanya mendelik serta menutup kedua telinganya.
"Aduh, forehead! Apa-apaan sih kau ini? pagi-pagi sudah berteriak seperti itu!" Omelnya.
Sakura mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan mendekat pada Ino sembari sedikit menghentakkan kakinya. Saat didepan Ino, ekspresi wajahnya seketika berubah cemerlang dengan senyum lebar yang bertengger dikedua belah bibirnya. "Kau tahu? Cara ketiga ternyata benar-benar ampuuuhhh~!" Ia memekik girang sambil mengguncang bahu Ino.
Ino melupakan kekesalannya tadi dan ikut tersenyum lebar. "Benarkah? Cepat ceritakan padaku, forehead!"
Naruto © Masashi Kishimoto
Notice Me, Please, Senpai!
Chapter 4 : Step Four! Gift
Namikaze Naruto x Haruno Sakura
WARNING! Probably contain OOC, possible typo, EYD yang tidak sesuai, tema yang pasaran dan semua kekurangan yang ada di fanfic ini. I'm sorry, I'm not perfect, guys~ And don't like don't read!
SO ENJOY~
"Aaaaah~ kau sungguh beruntung, Sakura!" Ino mendengus. Sedangkan Sakura tergelak.
Tapi sesaat kemudian, tawa Sakura mereda digantikan dengan bibirnya yang kembali memaju beberapa senti. "Tapi apakah Naruto-senpai benar-benar akan me notice ku, ya, Ino?" Cicitnya sembari menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Kau ini bagaimana sih, forehead? Kau harus semangat! Dan kurasa sebentar lagi Naruto-senpai akan me notice mu! Jadi kau tenang saja, tidak usah khawatir seperti itu. Yamanaka Ino itu selalu benar jika masalah seperti ini~" Ino mencoba memberikan semangat pada sahabat pink nya.
Diam-diam Sakura tersenyum. Ia bersyukur mempunyai sahabat seperti Ino. "Ya! Kau benar. Haruno Sakura itu tidak mengenal kata menyerah! Shannaroooo!" Sakura berteriak semangat sembari mengepalkan kedua tangannya ke udara. Bahkan Ino sempat berdelusi bahwa ia melihat kobaran api di kedua mata hijau Sakura. Ckckck, ada-ada saja kau ini, Ino.
"Itu baru forehead yang kukenal!" Dan kemudian terdengarlah gelak tawa dari dua gadis tersebut.
"Ne, forehead. Coba lihat langkah selanjutnya. Aku penasaran dengan step four." Ino terkikik. Sakura menganggukkan kepalanya dan mengambil majalah didalam tas sekolahnya. Kemudian membuka artikel yang dimaksud.
Cara keempat : Hadiah.
Berikan hadiah sebuah barang yang ia suka pada saat ia berulang tahun. Ataupun sesuatu yang sedang ia butuhkan. Ia pasti akan sangat terkesan padamu. Dan kau semakin mempunyai sebuah kemungkinan ia akan balik menyukaimu.
"Hmm… Memberikan hadiah ya? Ulang tahun Naruto-senpai kapan, forehead?" Tanya Ino.
"10 oktober!" Jawab Sakura dengan cepat. Sepertinya kau sudah sangat hafal tentang tanggal lahir Naruto, ya, Sakura? Ckckck.
Ino membulatkan kedua bola matanya. "Kau serius?" Sakura mengangguk yakin. "Astaga! Sekarang sudah tanggal 8 oktober, Sakuraaaa!" Ino berkata dengan panik.
Sakura menggebrak mejanya dan berdiri. "Kau serius, Ino?!" Tanyanya dengan nada horror. "TIDAAAAAAKKK! Aku harus apa, Ino-piiiiggggg?" Kemudian ia berteriak histeris sembari mengacak-aak surai merah mudanya.
Teriakan Sakura sukses membuat teman sekelasnya mendelik padanya serta Ino. Meski begitu, Sakura sama sekali tidak mempedulikan mereka semua. Yang ada dipikirannya saat ini adalah… Panik! Ia bahkan belum mempersiapkan apapun untuk hadiah ulang tahun Naruto.
Ino membekap mulut sahabat merah mudanya. "Sssst, diamlah, forehead!" Desisnya. Sakura kembali berusaha tenang.
"Bagaimana ini, Inoooo?" Cicitnya frustasi.
"Sekarang kutanya padamu. Apa barang kesukaan Naruto?" Tanya Ino sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
"Naruto suka dengan kamera! Serta apapun yang berhubungan dengan fotografi dan basket." Jawab Sakura antusias.
Ino menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Kalau begitu belikan saja dia kamera atau tiket pertandingan basket!" Usul gadis pirang tersebut.
Sakura kembali membelalakkan matanya. "Kau gila! Tidak setiap hari ada pertandingan basket, Ino! Dan juga kamera itu mahal! Uang saku ku selama sebulan pun tidak akan cukup! Lagipula Naruto sudah punya banyak kamera. Sekitar…" Sakura membuka sebuah buku catatan kecilnya. "Dia punya sekitar 3 kamera dirumahnya!" Lanjutnya.
Ino menganga saat mendengar penjelasan Sakura. "Kau ini benar-benar seorang stalker, forehead." Komentarnya.
Mata Sakura berkedut kesal. "Ayolah, pig! Aku sedang serius!"
"Aku juga serius, Sakura!" Bantah Ino. Sakura menggembungkan pipinya disertai raut muka kesal. Ino tergelak sesaat. "Baiklah, maafkan aku." Kemudian ia terdiam untuk berpikir. "Kalau begitu, benda yang sedang ia butuhkan?"
Sakura ikut terdiam. "Mana kutahu. Aku 'kan tidak setiap saat bersamanya." Jawabnya.
"Kalau begitu, kau harus mengikutinya lagi hari ini, forehead!" Sakura menatap Ino tak percaya. Lantas mulai membuka mulutnya untuk menyampaikan sebuah protes. Tapi ternyata setelah ia pikir-pikir lagi, usul Ino memang benar. Ia harus mengikuti Naruto lagi untuk mengetahui benda apa saja yang sedang sangat dibutuhkan oleh pemuda itu. Akhirnya Sakura menganggukkan kepalanya lemas.
.
.
Hari ini juga, sepulang sekolah, Sakura berniat akan kembali mengikuti Naruto. Setelah bel pulang berbunyi, gadis itu buru-buru merapihkan barang-barangnya.
"Pig, Aku duluan." Ujarnya sembari menutup resleting tasnya lalu menyampirkannya di bahu kanan.
Ino mengangguk. "Ganbatte, forehead!" Sakura mengangguk dan berlari keluar kelas.
Karena kelasnya dilantai tiga, sedangkan kelas Naruto dilantai dua, Sakura berlari menuruni tangga. Saat sudah mendekati lantai dua, tak disangka-sangka, orang yang dicari Sakura telah menunjukkan batang hidungnya. Naruto terlihat berjalan bersama teman-temannya—yang tidak Sakura kenal.
Sakura lantas berhenti dan memperhatikan mereka dari jauh. Ah, ternyata mereka masuk ke ruang osis. Tunggu, kenapa ruang osis terlihat ramai? Apakah ada rapat hari ini? Batin Sakura bertanya-tanya.
Dan tepat pada saat itulah, seorang anggota osis—yang Sakura tahu namanya— berjalan didepan Sakura. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung bertanya padanya. "Anoo, Kiba-senpai? Hari ini ada rapat osis ya?" Tanyanya sembari tersenyum canggung.
Kiba terdiam melihat orang didepannya. Dari raut wajahnya, terlihat sekali pemuda yang mempunyai tato segitiga terbalik berwarna merah itu sedang berpikir. "Kau anak kelas satu yang waktu itu terjatuh saat terlambat upacara penerimaan siswa baru itu, 'kan? Ah iya, sekarang rapat osis nya akan dimulai. Ada apa?" Tutur Kiba.
Sakura tertawa hambar mendengar penuturan Kiba yang mengingatkannya saat ia terjatuh. "Tidak apa-apa, senpai." Jawabnya.
"Kalau begitu aku duluan ya." Lalu Kiba berjalan memasuki ruang osis.
Sakura terdiam memperhatikan pintu didepannya yang tertutup rapat. Lalu menghela napas panjang. "Jadi aku harus menunggu ya?" Kemudian ia duduk di kursi yang berada tepat didepan ruang osis.
.
.
"—ra! Sakura!" Sakura tersentak dan langsung bangun dari tidurnya. Mengerjapkan bola hijau nya beberapa kali. Dan barulah netra nya melihat sepasang mata sapphire menatapnya cemas. Tak sampai sedetik kemudian, Sakura membulatkan kedua matanya dan memekik.
"Heee? Naruto-senpaaaai?" Iris nya bergerak linglung—memperhatikan keadaan sekitar. Sekolah? Aku masih di sekolah dan tidak sengaja tertidur didepan ruang osis? Batinnya yang masih bingung.
"Akhirnya kau bangun juga, Sakura! Saat aku keluar dari ruang osis, aku melihatmu tertidur disini. Kenapa kau belum pulang? Ini sudah jam 4 sore, dattebayo." Suara Naruto membuat manik emerald Sakura kembali terfokus pada pemuda didepannya. Jam 4? Berarti aku tertidur sekitar satu jam? Sakura mengernyitkan keningnya samar.
Gadis itu mengusap tengkuknya kaku. "A-ah, aku belum dijemput." Jawabnya dengan agak ragu. Kemudian disusul dengan cengiran yang terlihat dipaksakan dari Sakura.
Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya. "Sekarang pun masih belum dijemput?" Tanyanya lagi sembari ikut duduk disamping Sakura.
Si kepala merah muda terdiam beberapa detik. Dan dengan canggung mengeluarkan ponselnya—berpura-pura mengechek apakah ada pesan atau tidak. "Kurasa belum, senpai." Jawabnya. Ia masukkan kembali ponsel putih itu ke dalam saku jas nya. Astaga, lihatlah tangannya! Karena Naruto duduk disamping Sakura, tangan gadis Haruno itu menjadi agak gemetar. Bahkan jantungnya pun sudah bertalu-talu kencang.
"Kalau begitu, mau menemaniku bermain basket sebentar di gym? Kebetulan hari ini gym sedang kosong. Bagaimana?" Tanya Naruto disertai sebuah cengiran lebar.
Ping-pong! Sakura tidak bisa menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Apalagi yang bisa ia harapkan saat senpai idamannya memberinya cengiran lebar—yang menurut gadis itu sangat mempesona— dan juga dimintai untuk menemani sang senpai bermain basket? Tentulah ia tidak bisa—dan tidak akan— menolaknya.
Tanpa kau minta aku juga akan menemanimu, Naru-senpaaaai! InnerSakura memekik kegirangan.
Sakura pun mengangguk penuh ke-antusias-an. Sungguh, ia tak peduli lagi jika pipinya yang memerah ini akan terlihat oleh Naruto ataupun orang lain. Yang ia pikirkan kini hanya bisa-berduaan-dengan-Naruto.
Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju gymnasium dilantai satu. Percakapan-percakapan yang sesekali diiringi gelak tawa pun tak luput dari mereka. Naruto yang jahil dan pada akhirnya menerima sebuah pukulan ringan dari Sakura. Sampai Sakura yang beberapa kali terlihat kesal—meski hanya berpura-pura— karena terus menerus digoda oleh Naruto.
"Yap! Kita sudah sampai, Sakura." Naruto sengaja membukakan pintu gym untuk Sakura. Dan menarik tangannya memasuki ruangan tersebut. Lalu Naruto langsung berlari mengambil sebuah bola oranye ditengah lapangan dan men dribble nya. "Kau bisa bermain basket?"
Sakura tersentak dengan pertanyaan Naruto. Ia alihkan matanya pada pemuda bersurai pirang didepannya. Lantas menggelengkan kepala singkat. "Tidak. Aku tidak bisa." Kemudian duduk di bench yang berada dipinggir lapangan.
"Mau kuajari caranya?" Naruto kembali bertanya sembari melempar bola basket tersebut kedalam ring. Sakura terperangah karena dua hal. Pertama, ia kagum melihat Naruto dapat memasukkan bola oranye itu kedalam ring yang padahal Naruto sendiri berada diluar garis three-point. Kedua, saat mendengar perkataan Naruto yang menawarkan diri secara gratis untuk mengajari Sakura bermain basket.
Oh God… Sakura serasa ingin menjerit girang sekarang juga.
"Tentu saja aku mau, Senpai!" Sakura tersenyum lebar. Bahkan matanya ikut menyipit karena senyumnya yang kebangetan lebar. Duh, hati-hati pipimu jangan sampai robek ya, Sakura-chan. Saking lebarnya senyummu itu. Hihihi.
Naruto kembali melempar bola basketnya. Tidak. Kali ini bukan ke ring, melainkan kearah Sakura. Untunglah Sakura mempunyai refleks yang lumayan. Ia langsung menangkap bola yang menuju kearahnya meski dengan agak gugup. Jadinya ia tak perlu mendapatkan ciuman gratis dari bola yang dilempar Naruto.
Naruto nyengir. Kemudian tertawa renyah. "Ternyata kau punya refleks yang bagus ya." Puji nya pada Sakura. Sang gadis mendengus angkuh. Mengabaikan jantungnya yang berdetak sangat cepat karena pujian Naruto barusan.
"Kau jangan meremehkanku, Naruto-senpai!" Ucapnya. Lantas ia mencoba men dribble bola ditangannya menuju Naruto. Meski tangannya masih kaku sehingga bola itu beberapa kali menggelinding. "Uuuhh. Akhirnya aku sampai juga didepanmu." Keluhnya.
Sang ketua osis terbahak. Membuat Sakura meninju bahunya dan memasang wajah garang. "Ahahaha. Maaf maaf. Habisnya kau ini lucu sekali." Ucap Naruto disela-sela tertawanya.
"Berhentilah tertawa atau aku akan benar-benar memukulmu, Senpai!" Ancam Sakura. Dan ternyata sukses untuk membuat Naruto bungkam.
"Baiklah, maaf. Kali ini aku akan mulai serius, Sakura." Ujar Naruto. Lalu ia melepas jam tangan yang tadinya melekat ditangan kirinya. Dan memasukkannya ke saku celana miliknya.
Sakura memiringkan kepalanya. "Kenapa jamnya dilepas dan disimpan?"
Naruto mengalihkan netranya pada Sakura. "Tidak nyaman bermain basket menggunakan jam tangan." Jawabnya sembari tersenyum. Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Coba kau lempar bola nya ke ring, ttebayo. Aku ingin lihat kau bisa memasukkannya atau tidak." Titah Naruto sembari menyeringai jahil.
Mata hijau Sakura membulat. "Apa? Lempar dari sini? Senpai! Kau gila?" Tanya Sakura dengan nada horror. Naruto memicingkan matanya. Membuat Sakura mau tak mau mengikuti perintah Naruto.
Sakura mulai mengambil ancang-ancang. Ia tutup mata kanannya dan memfokuskan mata kirinya pada ring. Tangannya menggenggam erat bola basket. Ah, entah kenapa telapak tangannya berkeringat dingin. Saat merasa semuanya sudah perfect, ia langsung melempar bola itu kearah ring dengan sekuat tenaga.
Apakah berhasil? Apakah berhasil? Batin Sakura harap-harap cemas.
DUUKK!
Bola yang telah dilemparnya dengan sekuat tenaga itu ternyata tidak masuk ke ring. Tetapi membentur ring dan membuat bolanya berbalik arah. Sayangnya, bola tersebut melesat kencang kearah Naruto. Dan lebih sayangnya lagi, Naruto tidak melihat bola yang sedang menuju kearahnya karena ia sibuk memperhatikan setiap ekspresi yang Sakura keluarkan.
"Naruto awaasss!" Sakura memekik tertahan sembari tangannya menunjuk bola yang sedang melesat. Naruto yang bingung hanya mengikuti arah jari Sakura. Seketika itu juga, ia membelalakkan matanya saat melihat bola basket tepat didepan matanya. Benar benar tepat didepan matanya.
DUAGH!
Ouch. Naruto langsung terkapar setelah terkena ciuman mendadak dari bola basketnya. Sakura memekik histeris dan berlari kearah Naruto. Dan ngenesnya, jam tangan Naruto ikut terjatuh lalu tak sengaja Sakura injak sampai kaca jam itu pecah tak berbentuk. Sakura semakin memekik histeris. Bahkan rasanya ia ingin menangis.
BAKAAAA SAKURAAAA! APA YANG KAU LAKUKAAAN? Kau membuat Naruto-senpai terkapar. Dan sekarang kau menginjak jam tangannya! Dasar baka! Inner Sakura mengamuk. Semakin membuat Sakura ingin menangis rasanya.
"Senpaaai! Maaf! Maaf! Maaaaafff!" Sakura mengguncang-guncang bahu Naruto. Tak lama kemudian, Naruto membuka matanya dan meringis kesakitan. Tangannya mengusap-usap hidungnya yang memerah. "Senpai! Hontou ni gomennasai!" Cicit Sakura.
"Tidak apa. Namanya juga masih belajar." Jawab Naruto dengan suara serak. Ia bahkan masih bisa tersenyum. Membuat Sakura semakin merasa bersalah.
"Ta-tapi aku juga merusak jam tanganmu." Sakura memperlihatkan jam tangan Naruto yang sudah rusak. Uuh, jika didepan Sakura ada lubang besar, sudah dipastikan ia akan langsung melompat kedalam lubang tersebut. Dia benar-benar merasa malu dan bodoh.
Sesaat tak ada suara dari Naruto. Membuat Sakura memejamkan kedua matanya erat. Dia takut. Takut Naruto marah besar padanya. Dan tak akan mau berbicara bahkan bertemu dengannya lagi.
Tiba-tiba terdengar suara kekehan Naruto. Lalu Sakura merasakan sebuah tangan yang mengacak-acak rambutnya. "Sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula aku memang berniat membeli jam tangan baru." Hibur Naruto. Secara perlahan, Sakura membuka matanya dan melihat cengiran Naruto yang seperti biasa.
"Senpai tidak benci padaku, 'kan? Masih mau berteman denganku?" Tanya Sakura ragu-ragu.
Naruto tergelak. "Tentu saja. Ayolah, jangan murung seperti itu. Lagipula ini sudah sore. Lebih baik kau pulang kerumahmu sekarang, ttebayo. Kau pasti sudah dijemput, 'kan? Terima kasih sudah menemaniku ya."
"Tidak. Harusnya aku yang berterima kasih pada Senpai. Dan aku benar-benar minta maaf!"
Naruto tersenyum. "Sudah kubilang tidak apa-apa, 'kan! Pulanglah." Titahnya. Sakura terdiam meliat Naruto selama beberapa detik. Lantas mengangguk lemah.
"Ayo." Sakura mengulurkan tangannya. Naruto melemparkan cengiran dan menyambut tangan Sakura. Lalu ia berusaha berdiri dengan dibantu oleh Sakura.
.
.
Saat sudah dirumah pun, Sakura terus saja merutuki kebodohannya. Ia menutupi wajahnya dengan bantal sembari berguling-guling diranjangnya.
"Baka. Baka. Baka. Sakura no baka!" Umpatnya pada dirinya sendiri. "Doushiyo?"
Tiba-tiba Sakura teringat tentang step keempat dan pembicaraannya tadi pagi bersama Ino. Memberikannya hadiah. Memberikannya hadiah. Suatu barang yang sedang dibutuhkannya. Barang yang sedang dibutuhkannya…
Sakura langsung bangkit duduk dan membulatkan matanya. "Aku tahu!" Ujarnya sembari menjentikkan jarinya. Sebuah senyum lebar mulai menghiasi bibirnya. Ia bergegas turun dari kasurnya dan membuka laci meja belajarnya. Mencari sesuatu yang menurutnya sangat penting.
"Ketemu!" Ia memekik girang. Ditangannya tergenggam sebuah dompet berwarna baby blue dihiasi pita pink ditengahnya. Manik gioknya berkilat senang. Langsung ia buka dompetnya dan melihat isi didalamnya. Lalu sebuah helaan napas keluar dari mulutnya dilanjutkan sebuah senyuman. "Kuharap ini cukup."
~OoO~
"Kau benar-benar parah, forehead." Kata-kata Ino membuat Sakura menelungkupkan wajahnya dimeja. Pagi ini saat telah sampai disekolah, Sakura langsung menceritakan kejadian kemarin dengan se detail-detailnya pada Ino. Ia yang tadinya berharap akan dihibur oleh Ino. Tetapi pada akhirnya Ino malah mengatakan hal yang membuatnya kembali down.
"Makanya itu piiigg! Hari ini temani aku yaaa? Aku ingin membelikan hadiah untuk Naruto." Pintanya dengan nada memelas. Ah, dan jangan lupakan juga matanya yang menatap Ino penuh pengharapan. Membuat Ino tak bisa menolaknya.
"Baiklah. Akan kutemani asal kau mentraktirku ice cream. Bagaimana?" Tawar Ino. Tanpa pikir panjang, Sakura menganggukkan kepalanya senang. Lalu memeluk Ino.
"Terima kasih, Ino! Kau yang terbaik!" Sakura mengucapkannya disertai senyum cemerlang. "Eh, tapi bukankah sekarang sudah musim gugur? Dan kau masih mau ice cream?" Sakura menatap Ino tak percaya.
Ino tertawa kecil. "Memangnya kenapa? Pokoknya kau harus mentraktirku ice cream!"
Dan Sakura hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh.
.
.
Dan disinilah kedua sahabat itu berada kini. Sepulang sekolah mereka langsung pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari hadiah ulang tahun Naruto. Terus menjelajah dari satu toko ke toko lainnya.
"Masih belum bisa memutuskan, forehead?" Tanya Ino sembari menjilati ice cream pemberian sahabat pinkish nya.
Sakura menggeleng. "Aku belum menemukan jam tangan yang cocok untuk Naruto, Inoooo." Jawab Sakura. Bibirnya pun maju beberapa senti.
Ino menghela napas lelah. "Kita sudah berputar-putar disini selama satu jam, Sakura." Ino mengingatkan.
"Aku tahu." Gumam Sakura. Matanya terfokus pada satu jam tangan di etalase sebuah toko yang terlihat mewah. Lalu ia menepuk bahu Ino dan mengarahkan telunjuknya pada jam yang dimaksud. "Menurutmu jam itu cocok untuk Naruto?" Tanya Sakura.
Ino memperhatikan jam yang ditunjuk Sakura dengan cermat. Lantas mengangguk antusias. "Cocok!"
Satu kata itu membuat Sakura kembali tersenyum cemerlang. Ia menarik tangan Ino memasuki toko tersebut.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu, Nona-nona?" Baru saja memasuki toko jam, sudah ada pelayan yang menyapa mereka. Sakura tersenyum manis.
"Anoo… Jam tangan itu berapa harganya?" Tanyanya sembari menunjuk jam tangan yang menurutnya cocok untuk Naruto.
Sang pelayan tersenyum dan mengambil jam yang dimaksud Sakura. "20.000 yen, Nona."
Sakura dan Ino terpana dengan harganya. "20.000 yen? Mahalnya…" Desis Ino.
"Baiklah. Kubeli yang itu. Dan tolong bungkus dengan kertas kado serta pitanya ya." Ucap Sakura mantap. Sang pelayan tersenyum cerah dan menganggukkan kepalanya.
"Kau membelinya? Kau sudah gila ya?" Ino bertanya sembari menatap Sakura tak percaya.
"Tentu saja aku tak gila, Ino." Bantah Sakura dengan suara tenang. Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mata hijaunya menatap antusias jam tangan hadiahnya untuk Naruto.
Tak lama, sang pelayan kembali kehadapan Sakura sembari tangannya menggenggam sebuah kotak kecil yang dilapisi kertas berwarna biru serta pita merah muda. Senyum gadis musim semi itu semakin lebar. Tanpa pikir panjang, ia memberikan dua lembar uang 10.000 yen dan langsung mengambil kotak incarannya.
"Terima kasih atas pembeliannya, Nona." Ujar sang pelayan sembari tersenyum bisnis. Sakura mengangguk dan lantas menarik tangan Ino untuk keluar dari toko. Ino terus menatap Sakura tak percaya. Sungguh. Ia tidak percaya sahabatnya itu membeli jam tangan seharga 20.000 yen. Astaga…
"Aku tidak percaya kau benar-benar membelinya, forehead." Gumam Ino sembari berjalan disamping Sakura. Gadis disampingnya menghela napas.
"Habisnya hanya jam ini yang menarik perhatianku, pig. Lagipula sekarang sudah sore. Aku ingin cepat pulang." Jawabnya. Ino mengalihkan netranya kedepan.
"Baiklah, terserah kau saja."
.
.
.
Saat ini Sakura sedang berjalan di koridor sekolahnya menuju kantin sekolah. Ditangan kanannya, ia terlihat sedang menggenggam sebuah paper bag berwarna merah. Sedangkan di bahu kiri, tergantung tas sekolah hitamnya. Sesekali ia membalas sapaan teman-temannya disepanjang koridor. Dibelokan terakhir sebelum benar-benar mencapai kantin, gadis bermarga Haruno itu terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Terus seperti itu selama beberapa kali. Uuuh, bahkan jantungnya terus saja berdetak tak karuan.
"Semangat, Sakura!" Desisnya pada dirinya sendiri. Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya dengan mantap. Dan memasang wajah setenang mungkin.
Tunggu-tunggu. Sakura kenapa sih? Ada yang tahu? Nggak ada? Oke. Mau dikasih tau?
Jadi sebenarnya, kemarin, setelah kado untuk Naruto sudah sangat siap, Sakura mengirim e-mail untuk sang senpai pujaan. Yang beriisi ajakan dari Sakura untuk makan di kantin sekolah saat pulang sekolah. Tadinya Naruto agak sungkan, tapi setelah dibujuk—diancam— oleh Sakura, akhirnya Naruto meng-iya-kannya.
Dan yaaak! Sakura berniat memberikan kado special darinya untuk Naruto. Apalagi hari ini Naruto tengah berulang tahun. Terakhir, Sakura hanya berharap satu. Yaitu hadiahnya akan diterima senang hati oleh Naruto, Naruto tidak akan membencinya, step keempat ini berjalan lancar, dan gadis dengan surai gulali itu bisa semakin dekat dengan senpai yang selalu terlihat ceria itu. Eeeh, itu lebih dari satu ya? Maaf deh maaf. Sakura 'kan juga manusia biasa, bisa khilaf juga. Fufufu.
Saat itulah iris green forest milik Sakura bertubrukkan dengan manik ocean blue Naruto. Sempat bertatapan selama beberapa detik hingga Sakura memutuskan kontak tersebut dengan tersenyum lebar disertai teriakkannya yang tidak terlalu kencang. "Naruto-senpai!"
Naruto ikut memperlihatkan cengiran rubahnya. Ia melambaikan tangannya. Dan Sakura segera berlari kecil menghampiri meja Naruto. "Maaf membuatmu menunggu, senpai." Sahut Sakura sembari duduk didepan Naruto. Ia letakkan tas dan paper bag nya dikursi sebelahnya.
Naruto terkekeh dan mengibaskan tangan kanannya. "Tidak apa."
"Ah iya," Naruto memiringkan kepalanya saat mendengar Sakura memulai berbicara. "Hari ini ulang tahunmu, 'kan? Otanjoubi omedetou, senpai." Sakura mengucapkannya disertai senyum manis—sangat manis.
Kini semburat-semburat merah tipis mulai muncul dikedua pipi Naruto. Bola birunya bergerak tak tentu arah. Sangat terlihat jika ia tengah salah tingkah. Man, Naruto salah tingkah? Ckckck. Ah, bahkan jantungnya mulai berdetak kencang. Juga ia semacam merasakan ribuan kupu-kupu sedang mengepak-ngepakkan sayap mereka dirongga dadanya.
Akhirnya Naruto berdehem dan mulai membuka suara. "Terima kasih, Sakura. Aku terkejut tersenyata kau tahu tanggal lahirku." Lalu tertawa canggung. Ia mengacak-acak rambut belakangnya.
Sakura ikut tersenyum canggung. "Tentu saja aku tahu," kemudian tangannya mulai meraih paper bag merahnya dan mengeluarkan kotak yang dibungkus kertas kado berwarna biru. Segera ia sodorkan kepada Naruto. "Dan ini hadiahku untuk senpai."
Naruto mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Lantas menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk kanannya. "Eh? Untukku?" Tanyanya linglung. Sakura mengangguk pasti. Melihat Sakura menganggukkan kepalanya, Naruto meraih kotak tersebut dari tangan Sakura.
"Bukalah sekarang, senpai. Aku ingin tahu kau suka atau tidak." Pinta Sakura. Naruto terlihat menimang-nimangnya terlebih dahulu. Kemudian ia mengangguk singkat.
Tangan tan itu mulai melepas simpul pita merah muda diatas kadonya dengan perlahan. Sakura menautkan kesepuluh jarinya cemas. Naruto menyobek kertas kado sewarna bola matanya. Keringat dingin mulai membasahi pelipis Sakura. Saat kertas kado sudah terlepas sempurna, kini terlihat kotak berwarna putih dengan lambang sebuah merk jam terkenal. Alis Naruto menukik tajam saat melihat lambang tersebut. Membuat Sakura menggigit bibir bawahnya secara tak sadar. Naruto membuka kotak jam—yang terlihat mewah— tersebut. Jantung Sakura semakin kencang berdetak. Dengan perlahan, tangannya mengambil sebuah jam tangan berwarna hitam dari dalam kotak. Sakura menutup kedua matanya.
"… Ini untukku?" Tanya Naruto dengan suara pelan. Sakura membuka kedua matanya. Ia dapat melihat Naruto yang masih memandangi jam pemberiannya.
"Iya, Naruto-senpai." Jawab Sakura tak kalah pelan. Gadis itu tersenyum canggung saat kini bola biru Naruto melihat padanya. "Bagaimana? Senpai suka?" Tanyanya.
"Tentu aku suka," Naruto menjawab. Lalu ia kembali memasukkan jam tersebut kedalam kotaknya. Membuat Sakura memiringkan kepalanya tak mengerti. Kemudian ia letakkan kembali kotak tersebut kehadapan Sakura. "Tapi aku tahu ini pasti mahal. Jadi kurasa aku tidak pantas mendapatkannya dan harus kukembalikan padamu. Meski begitu, aku sangat berterima kasih padamu lho, Sakura." Lanjut Naruto sembari tersenyum lebar.
Sakura mengaga. Mulut serta matanya bahkan terbuka lebar. Ia sungguh tak percaya dengan kata-kata Naruto barusan. Apa? Apaapaapaapa? APAAAAAAA? Inner Sakura berteriak histeris.
Sakura segera menutup mulutnya rapat dan mengerjapkan matanya. "Ta-tapi senpai… Kemarin aku merusak jam tanganmu. Jadi anggap saja ini sebagai permintaan maaf, pengganti jam tangan, dank ado dariku." Bela Sakura.
Naruto tergelak. "Kau masih memikirkan soal jam itu? Astaga, Sakura. Sudah kubilangkan, tidak apa-apa. Dan untuk kado, jam tangan ini terlalu mewah untukku, ttebayo." Jelas Naruto.
Penjelasan Naruto membuat Sakura gemas. Gadis itu langsung menggebrak meja—meski tidak terlalu kencang sih. "Tapi aku sudah memberikan ini padamu, Naruto! Jadi kau harus mengambilnya!" Titahnya. Naruto menghela napas dan tersenyum lebar.
"Tidak, Sakura. Ucapan selamat saja sudah cukup untukku. Kau tidak perlu repot-repot seperti ini." Elaknya. Lalu ia mengambil tas sekolahnya dan bangkit dari kursi. "Maaf ya, aku ada urusan lain setelah ini. aku pulang duluan ya, Sakura. Sampai besok. Dan terima kasih sekali lagi." Pemuda sempat mengacak-acak surai merah muda milik Sakura sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Sakura yang speechless.
"Dia tidak menerima kado dariku? Aku 'kan sudah susah-susah mencari kado untuknya…" Gumam Sakura pelan. Sorot matanya terlihat kosong.
Tiga detik.
Lima detik.
Sepuluh detik.
"DIA BENAR-BENAR TIDAK MENERIMA KADO DARIKUUUUUU? SHANNAROOOOOOO!"
Ups. Sepertinya step four ini… failed ya?
.
.
.
TBC
A/N : Demi avaaaaaaahhhh... Kirari baru bisa update sekarang masaaaaaa... huweeee... /nangis gelindingan/
uuhhh. sekolah benar-benar menyita waktu yaaa. apalagi kurikulum yang sekarang ini. pala owe ucing(?) rasanya. /pegangin kepala/
tapi akhirnyaaaahh... setelah nyuri-nyuri waktu luang berminggu-minggu, chapter 4 nya selese juga hari ini. dan langsung Kirari update. :"3 makanya, gatau deh ini gimana jadinya... dan fic ini kok makin ngalay yaa.. duh... :"""3
hontou ni gomennasai karena fic nya mengecewakan, ne! dan juga jadwal update yang ngaret banget ini. uuhh. liburan lagi kapan ya... /ngeliat langit/ /nak
yaudah deh. yang penting Kirari udah nge update chapter 4 nyaaa. jadi udah rada lega(?) meski Kirari sangat tau, chapter kali ini makin alay. duh. X"3 oh iya, karena update an yang ngaret banget ini, akhirnya Kirari panjangin deh wordnya meski dikit sih. ehehe. apa sudah cukup panjang? atau masih kurang? OwO
yosh. special thanks to : Saladin no jutsu, Ailfrid, lutfisyahrizal, harunami56, Riela nacan, immanuel febriano, Namikaze KahFi ErZA, Saikari Nafiel, langit cerah 184, alvin wijaya 984349, Kei Deiken, Mistic Shadow, Fu A, Sora no aoiro, fadlun-kun, RUE ERU (guest), Nagasaki (guest), Dandi Purnama 524 (guest), NamikazeARES (guest), NSakura38 (guest), AL Blue Blossom, Prisoner Max Bright, dan Ae Hatake.
ah, Kirari minta maaf kalo ada nama yang salah ketik, ne! X"3
dan sekarang seperti biasa, Kirari akan bales review dari guest disini~! kalo yang pake akun, Kirari bales di PM yoo. xD
RUE ERU : kamu suka chapter 3 kemarin? Kirari juga suka sama review kamu kok~! /tebar lopelope/ /nak waah, mau belajar fotografi? semangat, ne! X39 dan yaaa ini sudah dilanjut meski telat banget update nya. heheeh. semoga kamu suka lagi ya chapter 4 nyaaa. arigatou karena sudah review~! /peyuk/
Nagasaki : aaaah, arigatou pujiannya, ne! /blush/ /woi humor? apakah humornya terasa? ehehe. sebenernya Kirari nggak pede lho buat masukkin humor-humor, tapi karena pengen coba sesuatu yang baru, yaudah deh dengan muka temboknya Kirari nekat. Kirari seneeeng banget kalo ada yang suka sama humor yang Kirari masukkin di fic ini. jaa, hontou ni arigatou, ne! /tebar lopelope(?)/ ehem, ini sudah dilanjut meski ngaret banget. hohoho. semoga chapter 4 nya tidak mengecewakan! arigatou! /peyuk/
Dandi Purnama 524 : arigatou karena sudah bilang fic ini baguus~! /tebar lopelope(?)/ dan ini sudah dilanjut. ehehe. semoga suka, neee~! arigatou juga sudah mereview~ /peyuk/
NamikazeARES : arigatou sudah bilang fic ini mantap~ /blush/ /oi ehehehehe. kira-kira Naru suka nggak yaaaa sama Sakuuu? /Kirari digiles sama reader/ okeee, ini sudah dilanjut~ semoga tidak mengecewakan, ne~ terima kasih sudah review~! /peyuk/
NSakura38 : kyaaaah~ arigatou karena sudah bilang kalo ficnya baguus~! /blush/ penasaran yaaaa? hayo hayooo? /colek/ /lusiape yosh! ini sudah dilanjut kok! semoga tidak mengecewakan ya. oh iya, gausah panggil senpai, ne! Kirari juga masih abal-abal kok. fufufu~ arigatou sudah revieewww~ /peyuk/
fyuuhh~ X3 aaah, hampir lupaaa. etto... ada yang mau nyumbang ide buat step selanjutnya? kalo gaada, chapter depan insyaAllah chapter terakhir. ehehe. tapi kalo ada yang mau nyumbang ide-ide cemerlangnya, pasti Kirari pertimbangkan dan kalo udah pas, langsung Kirari pake kok! jadi... ada yang bersedia? Kirari siap menampung kok! XDD /dor
ah, Kirari ngubah ini jadi romance sama humor. salah nggak ya? takuuuttt. X) kalo salah, bilang yoo di review, ntar Kirari ganti lagi genre nya. ehehehee. arigatou~!
yup. kayaknya itu aja deh. duh, ini kok A/n nya panjang banget yaaa... /blush/
sekali lagi, hontou ni arigatoouu, minnacchi! minna, daisukiiii dayoooo~! /tebar lopelope diudara/
eh, Kirari boleh minta review lagi kaaaaan? ;3 /kedip unyu/ /ngeeng
