Title : Unbeatable (Imperfection)
Author : Enma R. Eyes
Rating : T
Genre : Romance, fluff, sad, hurt/comfort, friendship, and lil bit humor (gagal)
Casts : Akashi Seijuurou x OC (You) x Aomine Daiki
Generation of Miracle
Disclaimer : Kurobas milik Fujimaki Tadatoshi, this plot is mine
Setting : Disini anak GoM satu SMA ya yaitu SMA Teikou dan mereka tetap menjadi tim terbaik di Jepang fufufu~ #okeitubenerbenerkeinginanauthor #slapp
Warning : FF Nista, bener ini cuma khayalan edan yang harus author tulis kalo ga bakal runyam(?), intinya ini khayalan semau author, apresiasi buat perasaan dilema antara cinta Akashi atau Aomine #authorcurhat
yang paling penting OOC-ness pasti ada, typo(s) juga mungkin haha but overall happy (rebonding) reading pecinta (akamine) kurobas! ^v^
Previous:
..
..
"Apa kau tak mau memenangkan event 'Best Deskmate' itu, Aomine-kun?"
"Hmm, tidak terlalu.."
"Bagaimana jika kau bisa mengerjakan tugasmu dengan benar, aku akan memberikanmu bento lagi?"
"Kau... apakah kau bisa masak? Bagaimana jika aku berhasil, kau sendiri yang membuatkanku bento?"
"Kalau begitu, aku tidak akan tanggung-tanggung... 50-50, bagaimana? Berani, kan?"
"Kau meremehkanku? Yang bisa mengalahkanku hanya aku seorang!"
..
..
chapter 4: I've Warned You
– Reader POV –
Semua berjalan dengan mulus. Seperti apa yang telah aku yakini sebelumnya. Ya semenjak kejadian di ruang atap tempo lalu semuanya menjadi berubah. Kerja samaku dengan Aomine semakin baik dan tentu kami berhasil masuk ke posisi lima besar malah lebih baik lagi, sekarang kami berada di posisi ke-3 berkat penilaian hari ini.
PROKK! PROKK! PROKK! Suara tepuk tangan memenuhi ruang kesenian. Aku hanya dapat tersenyum pada semua teman-temanku, guru kesenianku, Inoue sensei dan rekanku, Aomine Daiki.
"Penampilan yang sangat bagus, semuanya terdengar sempurna. Tidak ada yang miss atau fals sedikitpun, kalau begitu kalian berhasil mendapatkan skor sempurna 4" ucap Inoue sensei senang terhadap penampilanku dan Aomine.
Hari ini adalah penilaian untuk mata pelajaran kesenian. Aku dan Aomine memilih untuk menyanyi sembari bermain instrumen musik. Aku memainkan piano dan Aomine yang memainkan gitar. Lagu yang kami bawakan berjudul 'Kokoro no Wakusei', salah satu lagu favoritku setelah Long Kiss Goodbye milik Halcali.
.
.
"Nih bentonya.." aku memberikan sekotak bento buatanku tadi pagi padanya.
Ia segera mengambil dan membuka kotak makan itu cepat, tak lupa ia berkata, "Terima kasih! Ini nih yang ditunggu. Ittadakimasu~" ia pun segera melahap bento itu cepat.
"Hati-hati, awas tersedak! Nih minumnya" tak lupa aku juga memberikan sebotol minuman mineral padanya. Ia hanya melihat botol minuman itu sekilas lalu tersenyum dan mengangguk padaku.
Sekarang sedang berlangsung jam istirahat untuk makan siang. Seperti biasa, tempatku dan Aomine sekarang adalah di ruang atap. Entah kenapa ruang ini menjadi seperti ruang favorit kami sekaligus menjadi base home untuk kami berdua.
Aku memandangnya. Apa ia tak pernah merasa bosan dengan bentoku? Mungkin ini sudah bento ke-14 yang ia makan setelah insiden di ruang atap yang mengubah kami untuk lebih bekerja keras demi mengejar ketertinggalan kami... and see? It works!
Selama itu pula, Aomine berhasil mengerjakan tugasnya dan membuatku untuk selalu memasakkan bento untuknya. Empat belas hari berlalu yang mengubah semuanya. Meski untuk pelajaran akademik, ia selalu melibatkanku dalam mengerjakan tugasnya karena ia memang tak bisa mengerjakannya sendirian terlebih aku membagi tugas menjadi 50-50 sesuai dengan perjanjian tapi ia tetap bisa mengerjakannya meski aku harus bekerja ekstra menjelaskan kembali materi yang mungkin tak ia ikuti. Tapi sudahlah, semua penilaian untuk pelajaran akademik telah usai. Dari mengerjakan tugas bersama, membuat makalah, presentasi, bahkan melakukan penelitian bersama. Sekarang tinggal satu mata pelajaran lagi dan semuanya berakhir.
"Selesai!" serunya memecah lamunanku. Kotak makanan berwarna biru itu kosong. Dia benar-benar telah menghabiskan makanannya.
GLEKK! GLEKK! Segera ia meneguk minumannya dan sepertinya ia akan menghabiskannya saat itu juga dan benar, botol minuman itu telah kosong. Nafsu makan yang besar, sesuai dengan tubuh atletisnya.
"Kau tidak bosan apa makan bentoku hampir setiap hari?" tanyaku iseng.
"Tidak, sepertinya bento buatanmu masuk list makanan favoritku" ia membalas sambil menunjukkan cengiran gajenya.
Aku hanya terdiam. Otakku masih berpikir akan hal lain.
"Kenapa? Sepertinya kau terlihat gusar?" ia bertanya padaku.
"Oh? Hehe tidak, hanya saja aku tadi berpikir. Pelajaran terakhir... olahraga, kan?"
Ia mengangguk lalu melihat ke arah lain dan kembali melihatku, "Lari estafet, basket dan lari bersama..?" ia menyebutkan serentetan penilaian yang menjadi penentu tim kami bisa menang atau tidak karena memang hanya pelajaran itulah yang terakhir.
"Aku tak terlalu pintar dalam olahraga. Maksudku aku bisa berlari, melompat, dan melakukan apapun dalam olahraga tapi jika dibandingkan denganmu, sepertinya itu bukan apa-apa" akhirnya aku mengutarakan pikiran yang menggangguku sedari tadi.
Sebuah senyuman terlihat olehku, baru saja ia tersenyum?
"Ini kan hanya masalah kerja sama..."
"Karena itu! Karena ini tentang kerja sama, makanya aku takut kekuatan kita yang berbeda ja-"
"Psst! Kau terlalu takut, nona.. Tenanglah, kita masih punya waktu untuk latihan bersama. Kalau perlu aku akan melatih tubuh lemahmu itu." ia memandangku rendah. Aku tidak selemah itu tapi sudahlah, aku sedang tak ingin berdebat dengannya.
"Baiklah aku akan bekerja keras kalau begitu, ganbarimasu~!" aku menundukkan kepalaku berusaha memberi hormat padanya seperti kebiasaan orang Jepang pada umumnya.
"Apa-apaan kau ini? Jangan merendah seperti itu! Mataku jadi sakit melihatnya, tahu!" dan BUKK! Aku meninju perutnya seperti yang pernah kulakukan padanya dulu. Baru dihormati sedikit lagaknya sudah seenaknya seperti itu, dasar hentai!
"AARRGH! Apa yang kau lakukan? Aku baru selesai makan! Kau mau apa nanti aku muntah?" ia segera menatapku penuh dengan luapan emosi. Aku hanya menggeleng cepat, "Maaf" dan raut wajahnya pun berubah, tidak jadi marah.
Terlihat ia menghela nafas, "Sudahlah, aku mau baca majalah Mai-chan untuk edisi bulan ini" dan aku pun hanya terdiam. Pikiranku kembali pada penilaian olahraga yang berlangsung empat hari lagi. Oh? Waktu latihan berarti hanya 3 hari?
"Aomine-kun, waktu kita latihan hanya tiga hari? Sekarang sudah tanggal 27 dan penilaiannya tanggal 31?"
Aomine yang awalnya mulai asyik membaca majalah pornonya kembali menghela nafas lalu menutup sejenak majalahnya, "Masih merasa khawatir? Tenang saja, aku yakin kemampuan fisikmu tidak selemah itu. Kalau perlu akan kuberikan latihan ekstra. Oh iya kau tinggal bersama Akashi, kan? Coba juga belajar padanya, dia hobi sekali memberiku porsi latihan ekstra" ungkapnya.
"Bukannya itu karena salah Aomine sendiri yang suka terlambat atau bolos latihan ya?" timpalku cepat.
"Ah... itu, sudahlah pokoknya kau tenang saja! Ikuti saranku dan kita pasti menang" ucapannya membuatku lebih tenang. Aku tidak tahu kenapa hanya saja aku merasa kembali yakin setelah mendengar ucapannya barusan. Aku pun tersenyum simpul. Ya yang kuperlukan hanya rasa percaya diri dan berlatih lebih keras lagi.
Aku memandangnya, 'Domo arigatou, Aomine-kun' ucapku dalam hati.
Tiba-tiba saja ia melihatku seakan dengan pandangan tak mengerti tapi ia segera kembali melanjutkan aktivitasnya, ya memenuhi nafsu liarnya dengan membaca majalah porno model kesukaanya, Horikita Mai.
.
.
PIIP! PIIP! Aku sedang berlari di lintasan treadmill. "Haah.. Haah.." aku terus berlari meski nafasku sudah mulai terburu. Sesuai dengan saran Aomine, aku meminta Akashi untuk melatihku.
## Flash back ##
Seusai pulang sekolah, aku segera mandi lalu makan malam bersama keluarga Akashi. Sebenarnya hanya aku berdua bersama Seijuurou berhubung ayah Akashi adalah orang yang sibuk terlebih ia kadang suka pergi ke luar negeri untuk mengurusi bisnis atau pulang sampai larut. Satu-satunya waktu bertemu adalah disaat sarapan pagi atau weekend. Meski itu juga jarang. Ibu Akashi? Beliau telah meninggal, setidaknya itu yang kutahu saat umurku sebelas tahun.
"Sei-chan..." aku memanggil pemuda bersurai scarlet itu.
"Hemm?" tanyanya sembari masih memotong ikan tunanya.
"Apa kau mau melatihku? Aku ada penilaian olahraga dan aku butuh latihan untuk itu"
"Apa kau yakin? Porsi latihan buatanku cukup keras, aku tidak yakin kau bisa"
"Tidak apa-apa, aku mohon... aku akan berusaha keras, Sei-chan" pintaku padanya.
"Baiklah, jam tujuh kita ke ruang fitness. Aku akan melatihmu kalau kau memaksa, tapi aku sudah memperingatkan ya? Jangan mengeluh nanti!" ia tersenyum padaku. Senyum yang menakutkan seakan ingin menghancurkan mentalmu tapi aku hanya mengangguk. Aku bisa, pasti bisa...!
## Flash back end ##
"Sudah selesai. Lihat wajahmu mulai memucat" ujar Akashi cukup khawatir.
"Tidak, masih belum.. Ini masih belum cukup, Sei-chan" PIIP! PIIP! Aku menambah kecepatan treadmill itu. Keringat sudah membasahi tubuhku tapi aku merasa aku bahkan belum cukup kuat untuk bisa menyamai kemampuan Aomine.
"Sudah kubilang, latihannya sudah selesai." dan PIIP! Dengan sekali menekan tombol, alat treadmill itu pun langsung berhenti. Aku hampir terjatuh kalau saja kedua tanganku tidak memegang pada pegangan treadmill dan badanku yang ditahan oleh Akashi.
"Ah maaf, terima kasih, Sei-chan" aku langsung tersenyum padanya. Sedangkan ia hanya memandangku dengan tatapan khawatir.
"Sekarang ayo istirahat!" segera ia membantuku untuk berdiri dan membawaku untuk beristirahat tak jauh dari letak alat treadmill itu berada. "Luruskan kakimu, dan minum ini" sebuah botol berisi cairan berwarna merah ia berikan padaku.
"Apa ini?" aku bertanya penasaran.
"Vitamin water agar kau tak dehidrasi" promosi Akashi kayak di tipi-oke coret- jawabnya cepat.
Aku pun hanya tersenyum dan meneguk minuman itu. Segar~
"Kau tak berubah, masih saja suka keras kepala dan fisikmu yang masih lemah itu," ia melihatku dan aku hanya tersenyum padanya.
"Hehe ya mau bagaimana lagi, aku memanglah bukan seorang atlet sepertimu" jawabku sembari menghapus buliran keringat yang membasahi dahiku.
"Pakai ini!" Akashi segera memberiku sebuah handuk merah yang ada di tangannya. Lagi-lagi aku tersenyum. "Siapa pasanganmu? Ini semua pasti untuk penilaian olahraga 'Best Deskmate' itu, kan?"
Aku sempat terdiam. Pertanyaan yang bahkan tak ingin kujawab sebenarnya. Ya tak ingin kujawab jika yang memberi pertanyaan itu adalah dia, Akashi Seijuurou. "Aomine Daiki, teman basketmu" aku melihat ada sedikit ekspresi kaget di matanya. Pupilnya sejenak membesar lalu kembali mengecil.
"Bodoh jika kau ingin mengimbangi kekuatannya. Kau tak perlu bersusah payah sampai sejauh itu. Cukup fokus pada bagianmu, lakukan sebaik yang kau bisa, sisanya berikan padanya. Ia selalu unggul pada pelajaran olahraga" tak kusangka Akashi memberiku nasehat kupikir dia akan...
"Ah sou desuka? Hai! Yokatta.. Kalau pasangan Sei-chan sendiri siapa?" tanyaku juga ingin tahu.
"Shintarou" jawabnya pendek.
"Ah, begitu..." aku mulai kehabisan topik pembicaraan.
"Nanti masih latihan bersama?" tanyanya tiba-tiba.
"Ah, ehm... ya hehe" jawabku tidak lancar. Ada apa ini?
"Kudengar dari bibi, hampir setiap hari ini kau selalu memasak bento, itu untuknya?" k-kenapa? Kenapa dia bisa tahu?
Aku pun hanya mengangguk. Seperti mendapatkan serangan telak.
"Kalau begitu, buatkan untukku juga besok" dia berbicara sembari melihat ke arah kaca jendela.
"Tentu saja, aku akan membuatkan untuk Sei-chan juga kalau Sei-chan mau" entah ini sudah senyuman yang keberapa kali yang kutunjukkan padanya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke ruang keluarga. Jangan lupa bawa semua barang-barangmu, jangan sampai ada yang tertinggal!" ia berjalan mendahuluiku. Aku hanya dapat memandangi punggungnya yang berjalan diantara alat-alat fitness yang ada di ruangan ini.
Sesuai dengan intruksinya, aku pun segera merapikan barang-barang seperti botol minuman dan handuk merahnya lalu berjalan menyusulnya. Saat ia sudah berdiri bersandar pada pintu masuk, ia terus melihatku. Ia masih menantiku rupanya.
"Ayo, Sei-chan!" ajakku.
Ia pun segera mematikan lampu di ruang fitness itu setelah aku keluar lebih dulu dan tiba-tiba, "Besok cukup buat satu untukku. Besok tidak ada lagi penilaian, kan? Jadi, tidak usah buat untuk Daiki dan makanlah bersamaku besok." pemuda bersurai scarlet yang mengenakan kaos putih dan celana pendek hitam itu pun segera berjalan mendahuiku lagi. Kini aku terpatung di depan ruang fitness.
Kata-katanya barusan... apa dia mengetahui segala hal tentangku? Atau dia bisa membaca pikiranku..? Akashi Seijuurou, kau menakutkan.
– Reader POV end –
.
.
– Author POV –
Esoknya...
"Mau pergi kemana kau?" tanya Aomine pada gadis yang memakai bando berwarna hitam dengan manik abu-abu dan rambut yang dikepang ke samping.
"Oh, aku akan pergi ke kelas Sei-chan. Dia ingin makan siang bersamaku. Aku pergi ya, jaa~" gadis itu terlihat terburu-buru tapi masih sempat tersenyum pada teman sebangkunya.
"Oii! Jangan lupa nanti setelah pulang sekolah, kita latihan!" ujar Aomine lagi padanya. Yang diberitahu pun hanya menunjukkan jempol tangan kirinya, tanda setuju.
.
.
"Lebih cepat lagi! Ayo kau pasti bisa!" teriak Aomine dari sisi lapangan.
"H-hai!" jawab gadis itu sambil berlari mengitari lintasan lari.
..
..
"Arahkan yang benar! Kau harus memberi operan yang tepat agar aku bisa menangkapnya, seperti ini" BUKK! Aomine sedang memberi operan pada gadis bermanik abu-abu itu.
"Ah, baik!" gadis itu menerima operan bola basket dari Aomine, mendriblle-nya dan kembali memberi operan yang lagi-lagi salah arah membuat rekannya frustasi.
"Woy! Oper yang benar! Kau ini..."
"Maaf..."
..
..
"Kau harus berlari dan menyamakan irama. Sesuaikan langkah kakimu denganku. Ayolah kali ini pasti bisa!" ujar Aomine lagi penuh motivasi.
"Ya!"
Dan setelah keduanya tiba di ujung lapangan basket outdoor, keduanya pun langsung berhenti. Gadis itu kelihatan sangat lelah dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Aomine hanya bisa memandanginya. Salah satu kaki mereka masih terikat satu sama lain. Ya, sekarang mereka sedang latihan untuk lari bersama.
"Nih!" Aomine memberikan handuk berwarna biru tua.
"Oh thanks~ Hei, handukmu bau!" tak lama setelah gadis itu menerima dan mengusap keringatnya sejenak dengan handuk itu, ia pun segera mengembalikan barang kotor(?) itu pada pemiliknya.
"Oh ya? Hehe maaf" Aomine hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sekarang keduanya telah sama-sama berdiri. Sebelumnya gadis itu sempat memegangi kedua lututnya dengan kedua tangannya. Tapi gadis itu kembali duduk dan melepas tali hitam yang mengikat kaki kanannya dengan kaki kiri Aomine. Ikatan tali itu pun terlepas, membuatnya bisa duduk selonjoran.
"Bisa dibilang badanmu memang lemah sih..." ucapan Aomine menggantung, gadis dengan rambut hitam kemerahan itu pun hanya mendongak melihat rekannya yang seakan makin tinggi karena berdiri, "...tapi tidak apa-apa, kita pasti bisa menang. Kau hanya perlu bekerja keras untuk bagianmu, dan mungkin masalah kita sekarang adalah lari bersama ini" gadis itu hanya terdiam, tak mengomentari perkataan Aomine meski pemuda bersurai navy blue itu kini melihatnya.
"Ah masih ada waktu untuk latihan bersama, 2 hari lagi kan...? Untuk dribble dan operan kau bisa belajar sendiri, minta bantuan Akashi juga boleh. Lari estafet bisa dilatih dengan latihan lari di treadmill" Aomine memberi banyak saran untuk gadis yang daritadi melihatnya.
Tak jauh dari tempat pasangan sebangku itu berada, rupanya sepasang mata heterokromatik terus mengawasi gadisnya.
"Sudah selesai latihannya? Ayo kita pulang!" sosok pemuda yang tak asing bagi teman sebangku itu hadir diantara mereka.
"Oh Sei-chan...?" gadis itu langsung berdiri melihat orang yang special untuknya dengan sesekali melirik Aomine bingung.
"Sudah selesai, kau boleh pulang" Aomine memberitahu gadis itu untuk segera pulang.
"Ah Sei-chan, kalau begitu aku akan mengambil barang-barangku di loker. Kau mau tunggu disini, kan?" gadis itu segera berdiri di hadapan ketua tim basket SMA Teikou. Yang ditanyai pun hanya mengangguk dan gadis itu segera berlari meninggalkan mereka berdua, ya meninggalkan sang emperor dan Ace.
Hening.
Sejenak tak ada yang bersuara. Baik sang kapten maupun sang penyumbang skor terbanyak untuk tim basket SMA Teikou.
"Jangan terlalu memaksanya untuk latihan keras. Dia memang tidak memiliki kondisi fisik yang kuat sepertimu" ujar sang emperor membuka obrolan.
"Aku sudah tahu. Tenang saja, tidak usah khawatir. Aku yang akan memenangkan penilaian itu" balas Aomine.
Pemuda dengan jaket yang berada di kedua pundaknya seakan berubah menjadi sebuah jubah untuknya itu pun tersenyum menyeringai, "Baguslah kalau kau sudah mengetahui hal itu dan jangan sekali-kali berpikir untuk menggunakan kesempatan ini agar kau bisa merebutnya dariku. Dia itu milikku... dan aku bisa membunuhmu, kau juga tahu itu, kan?" CEKRES! Suara gunting yang seakan memotong udara pun terdengar. Rupanya di tangan kirinya, sebuah gunting merah terlihat berkilau sesekali menandakan bahwa gunting itu benar-benar tajam.
Aomine tidak membalas. Ia hanya melihat raut wajah Akashi yang selalu tampak dingin dan penuh dengan aura mengintimidasi itu.
"Ah, Sei-chan! Aku sudah selesai mengambil barang-barangku. Ayo kita pulang! Eh, tapi mana barang-barang Sei-chan? Oh kalian... doushite?" gadis dengan tinggi badan 170 cm itu punya banyak pertanyaan terlebih saat ia berdiri di tengah dan melihat Akashi serta Aomine yang saling menatap satu sama lain.
"Aku akan mengambilnya di gym, ayo kita pulang!" dan tangan Akashi pun segera menggenggam tangan gadis yang terlihat bingung itu. Ia pun tak bisa melakukan apa-apa. Hanya mengikuti langkah kaki Akashi meski sempat ia melihat Aomine dengan tatapan seperti bertanya 'sebenarnya-apa-yang-telah-terjadi' tapi Aomine hanya terdiam, terus melihat Akashi dan teman sebangkunya yang semakin menjauh darinya.
– Author POV end –
##T.B.C##
.
.
– Preview –
"Lihat kita menang! Kita yang menang!"
"Haha kenapa kau ini? Aku sudah tahu, sungguh bersemangat sekali kau..."
..
..
'Aku akan membunuhmu, Daiki! Lihat saja nanti!'
– Preview end –
A/N: oke ini chapter 4 nya, author sengaja bikin lebih pendek karena pengalaman chap kemarin yg menurut author bikin kasian reader jadinya ya banyak ubah planning T.T maap juga kemarin salah pasang preview-nya, harusnya itu preview untuk chap 5 #bunuhsaya ;-;
yasud lah, maafkan tindakan un-professional saya ya readers huhuu~ #nangisdipojokkansamakuroko(?)
well, ga bisa banyak kata sih cuman tetep makasih buat yg udah terus mau baca ini panpik ._.b thanks banget, dan author betul-betul sadar kalo panpik ini tdk bisa dimasukkan dlm panpik yg bagus (banyak kekurangan hee~) tapi karna ini murni utk perasaan dilema antara cinta akashi atau aomine ya jadilah FF Nista ini, hoe~
hmm lagi, maaf kayaknya ga ada komedi sama sekali disini hehew '-' entahlah mungkin lagi pengen serius dgn konflik 3 orang ini, dan next chap smoga bs lebih baik dr ini... arigatou gozaimasu ^^ #bow terus berikan author saran, kritik, blame, apapun untuk membuat fanfict ini semakin lebih baik ya and thanks for read, review, follow and fave, aoethor tjinta kalian, nanodayo!
** ini yg belum dibales via PM (yg lain udh saya bales tuh :D)
aoki: endingnya juga masih belum tau hehe tapi meskipun tau masa mau dibocorin disini, ga seru juga donk? #ditabok :3 hehe ok, maafkan segala kekurangan author nee~ T^T ah tapi ga mungkin aoaka sepertinya, ohplis saya lebih dukung aokise(?) #authorfujoshinyapls haha ^^v ok, ini saya kasih alamat rumah Akashi, ambil sendiri ya(?) #authordisantet lol hehehe *peace~
hmm maaf juga atas kebiasaan author yang suka ngedit seenaknya, jadi kadang reader bisa baca cerita yg berbeda berkat kebiasaan buruk author yg satu ini ;-; termasuk di chap ini saya salah tulis lari estafet dgn lari marathon #baka =o= gomenasai nee~~ #pukpukauthor
ok, c ya readers.. bye bye~~ #tebarhandukakashi(?)
