And in the night, I could be helpless
I could be lonely, sleeping without you
And in the day, everything's complex
There's nothing simple, when I'm not around you
"When You're Gone – The Cranberries"
-o-
-o-
-o-
Between You and Me
Disclaimer : Vampire Knight – Matsuri Hino
-o-
-o-
-o-
Zero berdiri di pojok aula, menyendiri. Ia malas berbaur dengan tamu undangan yang datang, enggan mendapat kerepotan oleh ucapan selamat ulang tahun dan jabatan tangan mereka. Sejenak ia menatap tumpukan kado dan kue ulang tahun besar di tengah aula, lalu mengalihkan pandangannya ke seluruh penjuru, mencari satu sosok yang tidak dilihatnya sejak tadi siang.
Di mana Yuen? Bukankah gadis itu yang paling bersemangat menyambut pesta ini?
Tiba-tiba Kaien berjalan mendekatinya sambil membawa dua gelas wine, lalu menyodorkan segelas ke hadapannya. Zero menghela nafasnya yang terasa berat, dan segera meneguk habis minuman itu. Entah ilham datang dari mana, Kaien dengan sendirinya menyadari kerisauan Zero.
"Semua akan baik-baik saja," Kaien mengumpat habis-habisan dalam hati, lagi-lagi ia mengucapkan lima kata itu.
Zero terdiam. Matanya menatap nyalang ke dalam mata Kaien. "Kau pasti tahu sesuatu," gumamnya. "Di mana Yuen?"
Kaien membalas tatapan mata Zero. Dadanya terasa perih. Ya, tentu saja Kaien tahu, sebab ia sendiri yang membawa Yuen ke rumah sakit saat jatuh pingsan di kantornya tadi siang. Ia enggan meninggalkan gadis itu seorang diri di rumah sakit, namun Yuen memaksa Kaien untuk tetap datang ke pesta. Sama seperti Zero, kini ia pun tengah dilanda kerisauan yang amat sangat. Keadaan Yuen semakin memburuk, bahkan untuk bangun dari tempat tidur saja ia sudah tidak mampu lagi. Dokter sendiri sudah mengambil keputusan akhir, hanya keajaiban yang mampu memberi api kehidupan bagi raga yang tengah sekarat itu.
Dada Kaien bergejolak. Jantungnya berdegup laksana dentuman palu malaikat kematian yang tengah mengintai di dekat gadis itu. Ia nyaris gila memikirkan keadaan Yuen saat ini.
"Dia sekarat."
Tiba-tiba hatinya lega. Kini ia telah mengucapkannya, hal yang selama ini terus menjadi beban pikirannya. Dan hanya dengan dua kata itu, Zero mulai mengerti. Ia membelalakkan matanya, berusaha mencari kesungguhan dalam sorot mata Kaien. Sayangnya, memang hanya ada sorot kesungguhan di sana, sama sekali tidak ada sorot penuh canda seperti yang ia harapkan.
"Sekarat…?" lidah Zero seakan membeku saat mengucapkan kata itu.
"Leukemia, Kiryuu-kun. Dokter bilang, tak ada harapan hidup lagi," Kaien bernafas lega, kini semuanya telah lepas dan mengalir dengan begitu lancar dari bibirnya.
Zero mematung. Pandangannya kosong, menyiratkan bahwa jiwa di dalam sana tengah tergoncang dengan begitu hebatnya. Suara alunan musik yang lembut berubah menjadi dentuman nyaring yang berisik dan memekakkan telinga. Kakinya lemas dan gemetar. Sementara, isi lambungnya menggelegak tak tentu arah. Sesuatu menggumpal dalam tenggorokannya, menyesakkan aliran pernafasan. Sungguh, kenyataan ini benar-benar belum siap diterima oleh seorang Zero Kiryuu.
Leukemia.
Leukemia.
Leukemia.
Satu kata dengan delapan huruf itu terus berputar-putar dalam kepala Zero. Bagaikan palu godam yang meluluhlantakkan akal sehatnya, perlahan-lahan Zero merasa hanyut ke dalam kegelapan. Gejolak keperihan mendadak menguasai dirinya. Pandangannya perlahan mengabur, digantikan oleh bayangan wajah gadis yang tengah meregang nyawa itu.
-o-
OOO
-o-
"Zero…."
Zero tersentak saat Yuen memanggil namanya dengan bisikan lirih. Ia mengangkat kepalanya, dan memandang mata gadis yang tengah berbaring dengan tenang di depannya itu. Sudah hampir 30 menit mereka berdua terperangkap dalam kesunyian sebelum Yuen akhirnya memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Kenapa kau diam saja…?" suara Yuen yang lembut menggema dalam ruangan yang sunyi itu.
Zero tersentak, tidak mampu berkata-kata, sebab ia tidak mengerti makna di balik senyuman yang kini tengah diberikan Yuen padanya.
Senyum Yuen tidak memudar meski Zero terus membisu. Ia mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh pemuda itu. "Maaf, aku merahasiakan semuanya, tapi ini demi kebaikanmu—"
"Tidak ada hal baik di balik sesuatu yang kau sembunyikan," Zero memotong kata-kata Yuen.
Yuen tertegun. "Aku tahu…," jawabnya lemah.
"Kalau kau tahu, kenapa selama ini diam saja?" Zero menundukkan kepalanya dengan putus asa.
Yuen kembali tersenyum. Ia tahu, sulit bagi Zero untuk memahami semua ini, apalagi jika Yuen menjawab dengan dua kata sederhana: 'karena cinta'. Oleh sebab itu, ia tidak berniat menjelaskan apa-apa pada Zero. Membiarkan pemuda itu menyelami pikirannya sendiri untuk menemukan jawaban yang tepat adalah tindakan paling bijaksana yang bisa dipikirkan Yuen saat ini.
"Zero, ini sudah larut malam," suara Yuen semakin melemah, ia bahkan terbatuk beberapa kali ketika mencoba melanjutkan kata-katanya.
"Hei, biar aku panggilkan dokter," kata Zero gugup.
"Jangan, aku baik-baik saja. Pulanglah. Besok pagi kau bisa kembali lagi kemari. Kau pasti lelah setelah pesta tadi."
Kata-kata Yuen membangkitkan amarah Zero. "Sudah kubilang, aku tidak akan pulang," Zero menekankan ucapannya. "Aku akan tinggal di sini sampai keadaanmu membaik."
"Kalau begitu, sudah saatnya bagimu untuk pulang. Aku sudah merasa baikan. Lagipula, ada Paman Kaien yang akan menemaniku," jawab Yuen.
Zero tetap mematung, memutuskan untuk berpura-pura tak mendengar apa yang dikatakan Yuen. Ia memalingkan wajahnya dari gadis itu. Yuen menghela nafas. Ia benar-benar berharap Zero tak ada di sampingnya saat ia tengah merasa amat sakit seperti ini. Tapi Zero ternyata bisa jauh lebih keras kepala dari perkiraannya.
Yuen meraih tangan Zero, dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Zero. "Aku janji saat kau kembali besok pagi, aku akan ada di sini untuk menunggumu," bisik Yuen.
Zero termenung. Matanya menatap jemari yang saling terpaut itu, lalu beralih pada wajah Yuen. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa perih. Dipikir berapa kali pun, Zero tetap tidak bisa memahaminya, kenapa Yuen bisa terus tersenyum hangat sementara keadaan segenting ini. Apa orang sekarat selalu melakukan hal-hal konyol, seperti berpura-pura bahagia dan tersenyum lebar sambil menahan sakit? Apa mereka tidak pernah mengerti, betapa perih yang dirasakan orang lain ketika melihat mereka berakting seperti itu?
"Hei, Zero. Kumohon, pulanglah. Kau percaya pada janjiku, 'kan?"
Zero menatap mata Yuen yang berkilat. Ia tak mampu menahannya lagi, luluh oleh guratan pedih yang kini tertera jelas dalam sorot mata Yuen.
"Kau berjanji," bisik Zero dengan suara parau, "besok pagi akan menungguku di sini?"
Yuen tersenyum. "Aku janji."
Zero tak mengatakan apa-apa lagi. Ia beranjak dari kursinya, melangkah keluar, dan pulang ke rumah. Sepanjang jalan, Zero tidak mampu memikirkan apapun. Pikirannya seakan melayang, masih tertinggal di ruang perawatan Yuen, sementara raganya kembali ke rumah. Dia tak pernah merasa sekacau ini sebelumnya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia merasa remuk dan hancur. Entah apa yang tengah meracuninya saat ini, hingga membuatnya nyaris gila.
Zero tiba di rumah, melangkah masuk ke ruang tengah, dan berbaring di sofa untuk sekedar mengistirahatkan kakinya. Ia segera menutup mata, berharap bisa segera tertidur, dan saat bangun nanti ternyata semua ini hanya mimpi khayalan belaka. Namun, ia selalu terbangun 5 menit kemudian, membuka mata dengan cepat sambil berharap jarum jam sudah menunjukkan setidaknya pukul 07.00 pagi. Lalu, dilanjutkan dengan desahan kesal karena jarum jam bahkan belum mencapai angka 01.00.
Benar-benar tidak tenang!
Akhirnya, pemuda itu beranjak dari sofa, lalu melangkah ke kamar Yuen. Ia sedang tidak tertarik untuk melakukan apapun, namun juga tidak bisa berdiam diri. Pikirannya terlalu kacau untuk dibawa santai. Ia harus mencari kesibukan lain yang bisa memberinya ketenangan, mungkin menghirup wangi madu di kamar Yuen bisa sedikit membantunya.
Ketika berjalan memasuki kamar gadis itu, langkah Zero terhenti hanya beberapa kaki dari pintu kamar. Bukan wangi madu sesuai harapannya yang melesak melalui indera penciuman, malah bau darah yang samar-samar menguar di hidung Zero.
Zero berjalan ke kamar mandi. Pandangannya diedarkan ke penjuru kamar mandi. Ia terkejut saat kakinya tanpa sengaja menabrak tempat sampah di dekat pintu kamar mandi. Ia membelalak saat isi tempat sampah itu terserak ke luar. Ia merasa salah lihat, namun dipelototi berapa lama pun, nyatanya tidak ada yang berubah dari benda-benda itu. Selusin tissue dengan noda darah, dan ratusan, mungkin ribuan helai rambut coklat, yang dikenal jelas oleh Zero sebagai rambut Yuen.
Kaki Zero semakin lemas. Dengan gugup, ia membereskan tempat sampah itu seperti sedia kala. Tangannya gemetar ketika meraup berhelai-helai rambut dan memasukkannya lagi ke dalam tempat sampah. Zero segera menutup pintu kamar mandi dengan nafas terengah. Perutnya mual mengingat jumlah helaian rambut di dalam tempat sampah itu.
Zero berjalan dengan langkah gontai. Langkahnya terhenti di dekat meja rias Yuen. Matanya menatap lurus ke laci ketiga, yang tidak boleh dibuka oleh orang lain. Tangannya meraih pegangan laci itu dengan sedikit ragu. Perasaannya tidak begitu enak saat membuka laci itu. Dan benar saja. Nafas Zero langsung sesak ketika melihat puluhan botol obat untuk leukemia tertata rapi di dalam sana.
Ia termenung, tak mampu memerikan respon yang berarti. Dengan tangan gemetar, Zero segera menutup rapat laci itu, mengenyahkan pemandangan puluhan botol obat leukemia dari pandangan matanya. Kini kaki yang tadinya lemas, tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuh Zero merosot di dinding kamar Yuen. Tenaganya seolah lenyap begitu saja. Ia merasa sendi-sendinya meleleh, dan tulang-tulangnya remuk. Ia terdiam, membisu menatap langit malam melalui jendela kamar. Kegelapan seolah menyakiti kulitnya.
Zero tidak pernah tahu, bahwa Yuen ternyata semenderita ini. Kini ia benar-benar merasa amat bodoh. Harusnya, ia menyadari semuanya, tahu dengan sendirinya meski Yuen tidak mengatakan apa-apa. Tentu saja, Yuen akan membungkam mulutnya rapat-rapat. Tapi kenapa seorang Zero Kiryuu, yang mampu mencetak nilai-nilai terbaik di akademi, tidak mampu menyadari hal yang sebenarnya amat remeh? Kenapa ia jadi begitu buta di depan waktu yang telah memberi banyak petunjuk sebelum ini? Bekas suntikan, wajah pucat, sorot mata penuh keputusasaan…
Ah, entahlah.
Semua sudah terlalu terlambat untuk sebuah penyesalan. Dan semakin Zero memikirkannya, semakin sesak gumpalan kepedihan yang memenuhi dadanya.
-o-
OOO
-o-
Jarum jam menunjukkan pukul 04.20 subuh. Zero sama sekali tidak tidur sepanjang malam. Matanya terus terpaku ke langit yang masih tampak gelap dan dingin, memandang melalui jendela kamar Yuen dalam kesenyapan yang mengitarinya. Ia ingin segera menemui Yuen, melihat wajahnya lagi. Atau mungkin memeluknya dengan erat, memastikan bahwa Yuen akan selalu berada di sampingnya.
Zero menatap pesan singkat di layar handphone-nya yang masuk 30 menit lalu. Kemudian, membacanya entah untuk keberapa kali. Matanya nanar menatap pesan dari Kaien itu, berharap tulisannya akan berubah meski hanya satu kata saja.
Kiryuu-kun, Yuen sudah pergi.
Hanya empat kata, tanpa basa-basi, Kaien mengungkapkan segalanya.
Yuen sudah pergi.
Pikiran Zero buntu. Dadanya perih seakan ada jemari yang tengah mencengkeram erat jantungnya. Ia nyaris tak mampu bernafas, tenggorokannya terasa amat sesak.
Yuen sudah pergi.
Tubuhnya menggigil, gemetar menahan dingin yang mendadak menyergap sekujur tubuhnya, merambat hingga membekukan ujung-ujung jari.
Yuen sudah pergi.
Gigi Zero bergemeretak. Tiba-tiba ada hentakan tak terlihat yang menghantam sudut hatinya.
Yuen sudah pergi, berarti tak ada lagi yang setia menanti Zero pulang ke rumah. Yuen sudah pergi, berarti tak bisa lagi melihat senyum hangat dan ucapan selamat paginya setiap hari. Yuen sudah pergi, berarti tak ada lagi tubuh ramping yang akan menyusup ke ranjang Zero saat malam tiba.
Zero hendak menjerit memikirkan begitu banyak hal yang akan berubah setelah ini. Padahal, hanya kehilangan seseorang yang selama ini tak pernah dipedulikannya, tapi kenapa perasaannya jadi sekacau ini. Hidupnya akan kembali seperti semula, tenang dan bebas, tapi kenapa ia sama sekali tak merasakan ketenangan. Padahal, hanya seorang Yuen Kisaragi yang menghilang dari kehidupannya.
Hati Zero semakin sakit. Rasa sepi dan takut mencekik dadanya. Ia gemetar karena dadanya seakan membeku dan mengejang. Saat matahari terbit nanti, beberapa jam lagi, hidupnya akan segera berubah. Bagaimana mungkin ia bisa menahan semua perasaan ini? Baru beberapa jam ia tidak melihat wajah gadis itu, hatinya sudah dicekam rasa sepi dan kerinduan yang amat sangat. Sungguh, tidak pernah terbayang oleh Zero hal ini akan terlintas dalam kepalanya, bahwa mungkin ia akan segera mati menyusul Yuen hanya karena rasa rindu dan sepi.
Buku-buku jari pemuda itu kaku. Memikirkan rasa rindu meledak-ledak yang mungkin harus ditahan dan dipendamnya seumur hidup membuat Zero semakin menggigil ngeri. Ini pertama kalinya ia merasakan sensasi seperti ini. Sesuatu menggerogoti jantungnya hingga terasa nyeri dan sesak, namun Zero tak mampu mengekspresikan perasaannya sendiri. Tidak dengan kata-kata, tidak dengan tindakan, tidak dengan apapun juga yang ia tahu ada di muka bumi ini.
Tiba-tiba dinginnya lantai merayapi tubuhnya, menyergap jalinan tulang belakang, merambat sampai ke rusuk, membuat paru-parunya semakin membeku. Gigi Zero bergemeretak kencang menahan dingin kesepian yang mendadak menjeratnya. Perasaan itu semakin membuncah dan menjadi-jadi dalam rongga dadanya, berusaha keras memberontak keluar. Zero membuka mulutnya, berharap perasaan yang begitu menyiksa ini dapat segera tersalurkan.
"Yuen…."
Hanya satu kata itu, satu-satunya gema bisikan lirih yang sanggup ia ucapkan. Dan tiba-tiba saja semua jadi terasa ringan. Lega. Dan tenang.
Zero termenung. Matanya menatap lurus ke dalam kegelapan. Sesuatu yang sejak tadi terasa membakar pelupuk matanya, kini mengalir melintasi pipinya, meninggalkan jejak-jejak yang hangat. Seiring ingatannya yang samar-samar akan senyuman gadis itu, Zero sadar, untuk saat ini, hanya air mata yang mampu memberi ketenangan pada hatinya yang remuk.
Dan sepanjang waktu itu, ia menangis seorang diri dalam kesunyian langit yang masih gelap, berusaha memuaskan dirinya sendiri akan segala kenangan yang pernah ia miliki tentang gadis itu.
-o-
to be continued
-o-
Yuuuhhhhuuuuuu! *loncat dari tali ke tali ala tarzan mania*
Selamat datang, saudara-saudara. Kembali lagi dengan saia, author gak tau malu yang tetap aja nekat nge-publish fic gaje. Hari ini, saia membawakan chapter terbaru dari cerita fic saia yang akan membuat air mata anda menetes *saking gajenya, sampe orang lain ikut prihatin sama saia, hiks* (TAT)
Yang bikin saia bingung, fic ini genrenya romance, tapi sampe update chapter 4 romancenya gak nonggol-nonggol. Sembunyi di mana dia, hayoo? *PLAKK!*
Yah, gak taulah. Otak saia lagi gosong mungkin, gak tau mesti bikin yang kayak gimana lagi. Asal ngetik aja, tau-tau langsung jadi fic ini. Mungkin kalo saya lagi mood bikin romance, suatu saat bakal muncul deh romancenya. Tunggu aja, yaa? *didemo massa, dasar author gak bertanggung jawab!*.
Okelah. Maap kalo ternyata update-nya lama. Hehe.
Yang mau review, silakan. Yang mau numpang lewat doang, juga gak apa-apa. Tapi jangan lupa mampir di review dulu, yaaa! \(^o^)/
