Chapter 4
"Mana kalungnya?" tanyanya parau. Aku hanya diam tak mengerti. Hening untuk saat yang lama, tapi justru sangat menegangkan.
Aku menggeleng. Pria didepanku ini berbadan tinggi besar, mempunyai jenggot yang lumayan panjang dan pakaian jubah khas penyihir dipadu pakaian khas bangsawan jaman dulu. Sekarang aku berspekulasi bahwa ia adalah makhluk yang sama seperti Kyuhyun, penyihir!
"Jangan coba-coba berbohong padaku, nak, kau tidak dalam keadaan aman." Ia menyeringai mengerikan. Jenggotnya bergerak-gerak dalam keremangan.
Mungkin benar, aku hanya pura-pura tidak tahu. buktinya aku tahu bahwa kalungku terasa menghangat. Kalung berbandul batu segenggaman tangan bayi berwarna hitam pekat tapi berkilau yang ayahku berikan padaku saat ulang tahunku yang ketujuh aku menyukainya karena bentuknya yang sangat unik dan akan berpendar jika terkena sinar matahari.
"Masih tidak mau mengaku?" kembali suara paraunya terdengar. Kali ini lebih dingin dan lebih mengerikan,"jangan buat usahaku gagal lagi setelah tujuh tahun sebelumnya dan tujuh tahun sebelumnya lagi aku gagal mengambilnya."
Aku memundurkan langkahku. Tiba-tiba aku ingat pria di depanku ini; orang yang sama yang tujuh tahun yang lalu hendak merampas kalungku di malam hari yang pekat. Haruskah aku menyebutnya? Kakek sihir!
Si kakek sihir itu tidak main-main rupanya, sekarang dia mulai melangkah mendekatiku. Pelan langkahnya sambil membawa tongkat di tangannya. Bunyi tok-tok terdengar begitu jelas karena suasana yang sangat sepi. Jantungku berdebar sesuai irama tok-tok dari tongkatnya. Handle tongkatnya berkilau oleh seberkas cahaya di ujung jalan. Kini jarak kami hanya tinggal beberapa langkah, tangannya yang panjang seolah bisa menyentuhku dengan jarak ini.
Entah ini efek si kakek sihir atau semata karena ketakutanku, aku tak bisa melangkahkan kakiku. Kakiku terpaku di tanah, ya Tuhan! Sekarang yang bisa kulakukan hanya menutup mataku, semoga keajaiban yang terjadi di tahun-tahun kelipatan tujuh itu terulang kembali; terbangun di tempat tidur. Tapi aku bersumpah mimpi kali ini terasa begitu nyata, bukan, ini hanya mimpi. Aku kembali menafikan kejadian ini, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ketika tangan kakek tua itu hampir menyentuh leherku tiba-tiba dari arah yang tak terduga sesuatu menyambar kakek tua itu dan membuatnya terpental menjauh. Merasakan angin yang berembus akibat efek benda tadi aku membuka mataku. Sosok tinggi kurus yang sangat familier berdiri di depanku. Aku sungguh mengenali perawakannya, tiba-tiba sebuah nama terlintas di benakku; Kyuhyun. Dia-kah namja itu? Sosok yang kini tengah berdiri gagah di depanku?
Kyuhyun mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya kemudian menebarkannya di depan kakek tua itu dan…bush! Asap putih memenuhi gang sempit itu. Aku memjamkan mataku, takut asap putih itu akan melukai peglihatanku. Kyuhyun menarik tanganku dan memelukku erat, kemudian aku merasa segala berputar di sekitarku, aku masih tak berani membuka mataku, tahu-tahu aku sudah bediri di sebuah ruangan dengan posisi Kyuhyun memelukku erat, seolah aku akan terbang jika dia melongggarkanku sedikit saja.
"Kau tak apa?" kecemasan memancar dari mata beningnya, baru kali ini aku menyadari bahwa mata bening itu begitu indah. Sebuah ketulusan memancar dari sana, menjebakku agar terus menatapnya.
"Gwaenchana?" pertanyaan kedua kali ini diikuti guncangan pada bahuku membuatku kembali ke alam nyata.
"Ya." Jawabku singkat diikuti anggukan mendesah lega.
Segala ketakutan yang tadi nyaris membunuhku seketika lenyap oleh senyumnya yang biasanya kunamai 'senyum konyol'.
Tiba-tiba aku sadar bahwa tangannya masih mencengkram erat bahuku dan merasakan sakit akibat cengkraman itu. Aku memandang memohon lalu seketika ia kembali tersenyum konyol dan melepaskan tangannya.
Perasaan canggung merayapi kami. Demi membuang perasaan itu kuedarkan pandanganku ke sekitar. Rumah yang asing dengan interior yang menawan di setiap sudutnya. Dari berbagai sudut kurasa rumah ini bergaya gotik kental. Benar-benar rumah yang menawan.
"Rumahmu?" tanyaku. Sekarang aku benar-benar lupa pada sosok kakek sihir tua itu.
"Rumahmu." Jawabnya sambil tersenyum.
"Tidak, tidak. Aku tidak punya rumah, aku hanya menyewa apartemen kecil di pinggir kota."
"Kau akan tinggal di sini agar lebih aman. Apartemenmu biar aku yang tempati."
Aku masih belum bereaksi. Dan setelah loading cukup lama otakku mengambil sebuah kesimpulan yang tak ingin aku percaya.
"Maksudmu aku tinggal di sini dan kau tinggal di tempatku? Kita bertukar tempat tinggal?"
Kyuhyun mengangguk. Kemudian matanya menelusuri setiap sudut rumah ini, "Tempat ini adalah yang paling aman dari si kakek tua."
"Kenapa?" tanyaku polos.
"Karena dia tidak bisa masuk ke sini." Suaranya tenang mendominasi udara,"aku pasang sesuatu agar dia tidak bisa menemukanmu di sini."
"Aku tidak mau." Kataku tegas.
Kyuhyun mengernyit. Sekarang giliran dia yang bertanya dengan nada polos, "Kenapa?"
Aku diam. Bukan berarti aku bingung dengan alasan masuk akal agar aku tidak tinggal di sini. Tapi sebuah alasan yang paling masuk akal yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi padaku dan kenapa aku harus tinggal di sini dan bersembunyi.
"Aku tidak mau merepotkanmu."
Kyuhyun tertawa keras, cukup lama hingga setitik airmata menghiasi sudut matanya. Aku bingung, apanya yang lucu?
"Apa aku belum pernah bilang bahwa aku calon suamimu?" tanyanya setelah tawanya agak reda sambil mengusap airmatanya.
Aku diam (lagi) tak mengerti kemana arah pembicaraannya.
"Sebagai calon suami yang baik sudah sepantasnya untukku melindungimu." Katanya sambil tersenyum.
"Dari..?"
"Dari penyihir jahat Mon Jisong." Kali ini ekspresinya didominasi perasaan…apa ya? Marah, mungkin,… atau khawatir?
Aku mencoba mencerna kata-kata tak masuk akalnya. Sedikit banyak aku mulai paham dengan kata-kata konyol dan khayali itu. Sebulan dengan dia di sekitarku membuatku mengerti dan mulai mempercayai setiap ucapannya. Sejujurnya aku masih tidak ingin gila, tapi kata-katanya entah mengapa bisa menjamah akal sehatku. Hatiku merasa bahwa dia tidak berbohong dan aku selalu mempercayai hatiku.
"Siapa dia?" tanpa bisa kucegah pertanyaan itu meluncur seperti papan salju di gunung es.
"Dia adalah salah satu…harus kusebut apa ya?" ia memasang ekspresi ceria (apa-apaan ini?), "semacam panglima, lah."
Aku mangut-mangut sok mengerti, lalu tersadar oleh sebuah pertanyaan yang tiba-tiba melintas di otakku.
"Panglima dari siapa?"
"Kim Young woon." Ekspresinya tiba-tiba menjadi gelisah, ia menggaruk tengkuknya dan mengerak-gerakkan kakinya. Sebegitu mengerikannyakah si Kim Youngwoon itu?
"Dia adalah ketua—dan anak buahnya memanggilnya sang raja—dari sebuah perkumpulan penyihir hitam." Kyuhyun memberi penjelasan tanpa kuminta.
Karena tak banyak mengerti apalagi ingin tahu lebih banyak, maka aku diam, begitu juga dengan Kyuhyun. Hasilnya keheningan menyeruak diantara kami. Dan omong-omong aku ingat soal keputusan sepihaknya yang menyuruhku tinggal di rumah besar dan mengerikan ini.
"Soal rumah ini, aku menolaknya. Aku tidak mau tinggal di sini. Aku merasa tidak nyaman kalau tinggal di rumah orang lain, dan apalagi rumah ini sangat besar. Aku takut." Akuku sedikit merasa bersalah. Sejak kapan aku jadi lemah di depan Cho Kyuhyun. Kemana sikap ketusku yang dulu?
Demi mendengar pengakuanku, Kyuhyun melotot tak suka, aku ngeri sendiri. Dia mencengkram bahuku kuat. Aku mengerang sakit tapi sepertinya ia lebih tidak peduli padaku dari pada omonganku barusan.
"Apa kau masih tidak mengeti juga?" ia mencengkram bahuku dan menatapku dalam-dalam, " ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini masalah keselamatanmu."
Ia membuang pandangannya dan melepas cengkramannya.
"Kupikir kau tadi sudah mengerti dengan kejadian kakek tua dan penjelasanku. Tak kusangka ternyata otakmu itu begitu bebal!"
Sadis sekali omongannya. Aku menahan diriku agar tak melayangkan tinju atau mencekik lehernya supaya dia sadar bahwa ucapannya barusan sangat menyakitiku. Ada sesuatu yang mendesak keluar dari kantong mataku. Sesuatu yang kutahan kuat-kuat agar tak jatuh di depannya dengan mencengkram ujung bajuku. Tapi usahaku sia-sia, air mataku tetap jatuh dan membuat sebuah stempel kelemahan bagiku.
Kyuhyun terkejut dengan air mataku. Kira-kira di otaknya ynag absurd itu apa yang dipikirkannya? Buru-buru kuhapus air mata itu dan menundukkan wajahku; malu. Sempat kulihat Kyuhyun tersenyum kecil, ya ampun moodnya benar-benar angin-anginan, sebentar begini sebentar begitu, apa sih maunya?
"Kau menangis karena kubilang bebal?" tangannya bergerak menyentuh daguku tapi cepat-cepat kutepis.
"Tidak."
"Lalu?"
"Kau itu tidak tahu apa-apa soal perasaanku. Kenapa kau seenaknya saja menyuruhku pergi dari rumahku sendiri?"
"Kau menyewanya." Kata Kyuhyun mengoreksi.
"Pokoknya aku tidak mau tinggal di sini. Titik." Aku tidak peduli.
Aku berniat pergi, tapi sebelum langkahku berhasil kuayunkan aku ingat aku tidak tahu sedang ada dimana. Tapi aku harus pulang, siapa yang jaga rumah kalau aku dan Kyuhyun secara bersamaan ada di sini bukannya dia bilang mau menjaga rumahku. Aku masih ingat aku punya beberapa barang yang lumayan berharga. Demi rumahku agar tidak kecolongan aku harus minta namja angin-anginan di sampingku untuk mengantarku pulang.
Syukurlah angin jiwanya sedang bagus jadi dia mau mengantarku tanpa memberi sebuah ejekan atau sindiran apapun. Tentunya dengan jalan yang tak kusukai—berputar-putar. Aku bersyukur tidak muntah setelahnya; bikin malu saja.
"Mau kuantar sampai dalam?" tawarnya dengan nada datar setelah kami sampai.
"Tidak. Terima kasih." Tidak akan kubiarkan namja ini masuk dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, aku cukup pintar untuk tahu modusnya.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati."
Kami terdiam. Kenapa? Aku tidak tahu alasannya masih berdiri di depan pintu, tapi aku tahu alasanku (tentu saja!); memastikan dia tidak mengintipku lewat lubang kunci. Kegiatan apa yang bisa diintip hanya lewat lubang kunci? Astaga aku hampir lupa—dia tidak normal!
Beberapa detik berlalu, Kyuhyun masih berdiri mematung di depan pintu apartemenku. Aku masih punya hati nurani untuk tidak mengusirnya. Sebenarnya apa mau namja ini?
"Kenapa masih di sini?"
"Memastikan kau benar-benar aman." Katanya masih dengan posisi yang sama.
"Paranoid."
Dia sama sekali tidak terpengaruh kata-kataku, bahkan kali ini ia berusaha merangsek masuk. Brengsek benar namja ini!
Sebelum ia benar-benar menyentuh ganggang pintu aku sudah lebih dulu menahannya, namja tidak tahu sopan santun ini harus diberi pelajaran sekali-kali.
"Minggir." Ucapnya dingin.
Aku tidak mengerti, seharian ini sikapnya begitu dingin, aku saja bisa menggigil kalau lama-lama di dekatnya. Jangan-jangan dia punya kepribadian ganda atau semacamnya. Mengerikan.
"Ada apa denganmu?" alih-alih memarahinya aku lebih khawatir dia benar-benar mengidap sindrom kepribadian ganda.
"Aku bisa mencium sesuatu yang tidak beres."
"Memangnya kau anjing?"
Tepat ketika aku melipat tanganku di dada Kyuhyun masuk ke dalam. Dan dia masuk begitu saja. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang ganjil dengan kata-kataku barusan—dia masuk begitu saja—berarti pintunya tidak terkunci! Padahal aku yakin betul aku menguncinya sebelum pergi ke minimarket, tapi kenapa Kyuhyun bisa masuk begitu saja? Apa dia menggunakan sihirnya?
Kyuhyun berkeliling ke seluruh sudut rumahku, membuka semua pintu dan matanya jelalatan mencari sesuatu. Seperti anjing pelacak yang sedang mencari targetnya hanya saja dia tidak mengendus apapun kecuali menghirup napas dalam-dalam.
"Kau cari apa?" tanyaku mau tak mau ikut khawatir. Jangan –jangan yang dikatakan Kyuhyun ada benarnya walaupun aku menyangsikan kalau dia bisa mencium adanya bahaya, memangnya bahaya ada baunya?
"Seseorang." Jawabnya tanpa memandangku.
Kemudian matanya berhenti pada pintu dapur yang menuju ke balkon, ia sempat menatapnya lama seolah pandangannya bisa menembus pintu itu. Perlahan ia mendekati pintu itu, langkahnya pelan nyaris tanpa bunyi padahal tadi dia begitu berisik.
Entah dia punya insting hewan atau dia memang bisa menerawang pintu itu tapi setelah Kyuhyun membukanya di baliknya memang berdiri seorang laki-laki tinggi tegap, rambutnya yang ikal agak panjang dibiarkan tergerai menyentuh bahu, meskipun ia membelakangi kami aku seakan tahu bahwa ia menyeringai, seringai yang begitu menakutkan. Angin berembus membawa suasana dingin yang begitu aneh dan menusuk tulang. Jadi ini yang Kyuhyun maksud dengan bahaya? Terdengar masuk akal memang dilihat dari perawakan dan pakaiannya yang begitu formal dia mungkin saja salah satu agen rahasia atau semacamnya, tapi untuk apa seorang agen rahasia mencariku? Sepertinya aku mulai ngelantur.
Pria itu akhirnya berbalik dan aku bisa melihat kumis tebalnya yang tampak seram. Aku sedikit terkejut ketika mendapati tangannya memegang—entah itu belati atau pedang, panjangnya tidak sampai 30 senti dan gagang kayu yang diukir dengan ukiran yang sangat indah serta gambar timbul dari timah atau apalah aku tidak tahu pastinya tapi gambar timbul itu tampak bersinar dengan bantuan sinar lampu di balkonku.
"Apa kabar Cho Kyuhyun. Lama tidak berjumpa ya?"
Aku melirik Kyuhyun untuk tahu reaksinya, tangannya mengepal keras-keras meskipun wajahnya tampak tenang. Namja ini apa dia sedang bertingkah sok keren di depanku? Yang benar saja!
"Ne, ajjushi." Kyuhyun menyunggingkan senyum aneh (sebenarnya lebih pantas disebut seringai sih.) aku sedikit terkejut dia juga punya seringai mengerikan. Selama ini ia tidak pernah menyunggingkan senyum itu di hadapanku, ia selalu bertindak sok keren saja.
"Ngomong-ngomong aku hanya mau mampir sebentar untuk memberimu kabar baik. Mau dengar?"
Kyuhyun diam, perlahan tangannya yang dingin menyentuh tanganku, kemudian menggenggamnya erat, memberikan rasa aman tersendiri bagiku. Biasanya aku akan merasa risih tapi untuk kali ini aku menyerah pada egoku. Aku benar-benar menikmatinya, darahku berdesir aneh, ya ampun! Kenapa aku ini?
"Baiklah, kurasa kau juga penasaran," pria itu kembali menyeringai, " aku sudah menemukan apa yang selama ini aku cari dan lagi, aku dapat timing yang sangat bagus."
"Selamat ajjushi. Tapi sayang, sepertinya kau tidak akan bisa mendapatkannya."
"Benarkah? Aku punya banyak waktu untuk 'mengambil hakku' sampai purnama ini, Kyu."
Dalam waktu sepersekian detik pria itu sudah mendekapku dan menempelkan pisaunya di leherku, aku bahkan tidak melihatnya berpindah tempat. Dan aku simpulkan bahwa pria itu juga sejenis dengan Kyuhyun dan dengan aksi menempelkan pisau di leherku yang innocent dan tidak berdosa ini, dia adalah pria jahat.
Pisau dingin itu menempel erat di leherku seolah jika aku bergerak sedikit saja pisau itu pasti bisa memotong leherku. Seluruh tubuhku menegang saat pria itu sedikit menekannya. Kyuhyun melihat tidak suka hal itu, matanya penuh dengan kemarahan. Kyuhyun-ah, kau biasanya bertindak bodoh, tolong kali ini bertindaklah dengan menggunakan akalmu!
Entah Kyuhyun bisa membaca pikiranku atau ini hanya sebuah kebetulan belaka, ia perlahan mundur. Kau jangan maju Kyu, atau leherku akan putus. Tapi seberkas cahaya tahu-tahu muncul dari tangannya yang disembunyikan, aku menutup mataku erat-erat, berharap kalau leherku akhirnya harus putus di tangan pria asing ini aku tidak akan merasakan banyak sakit.
Tapi sampai beberapa detik tidak terjadi apapun. Malah aku merasa ada yang memelukku erat, bukan pelukan dingin yang menempelkan pisau di leherku, tapi pelukan… hangat? Kurasa itu.
Tangan seputih mayat itu melingkari tubuhku. Seketika aroma segar vanilla memenuhi indra penciumanku, memberikan sensasi aneh yang menggelitik perutku. Aku bisa merasakan darahku mengalir lebih cepat. Astaga!
"Kau tak apa, yeobo?"
Yeobo? Dia ini sedang mengigau atau apa? seenaknya saja memanggilku yeobo. Tapi sebelum aku sempat bereaksi pun Kyuhyun buru-buru melepas pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di balik punggungnya. Tangannya yang ternyata juga sudah memegang pedang menghunus pria itu.
"Kau berani padaku, nak? Jangan hanya karena kau punya mainan baru, kau mau bermain bersamaku yang sudah lama mengusainya. Kau terlalu cepat seratus tahun untuk bisa mengalahkanku. Hehehe.." seringai aneh tampak dari pria itu.
Aku sama sekali tak bisa bicara walaupun aku ingin berteriak mengusirnya, tapi sesuatu menahanku. Kyuhyun tetap dengan tenang menghunuskan pedangnya, sedang pria di depannya kini malah tertawa keras. Tawa yang terdengar mengerikan. Bulu kudukku meremang.
"Aku tak punya banyak waktu untuk bercanda denganmu ajjushi. Tolong pulanglah dan hiduplah dengan tenang. Jangan ganggu dia ataupun aku." Kata Kyuhyun tenang.
"Aku akan pulang setelah mendapat kalungnya, Kyu. Kau tenang saja."Ujar pria itu sambil menatapku mengerikan.
Mendengar pria itu menyebut kalung aku refleks memegang kalung yang melingkar di leherku. Tiba-tiba aku merasa kalung itu menghangat, memancarkan sinar redup yang membuat hatiku merasa nyaman.
"Aku tak akan pernah memberikannya!" teriakku keras, entah dapat dari mana energi itu.
Lalu aku segera menyesalinya. Pria itu kini menatapku tajam, begitu tajam dan dalam. Rasanya aku ingin segera lari dan menelpon polisi atau apalah, seseorang yang bisa menyelamatkanku.
Tahu-tahu Kyuhyun menebaskan pedangnya. Darah memuncrat seketika dan sedikit mengenai bajuku. Apa yang dilakukan bocah itu?
Pria itu memegang lengannya yang terluka. Lalu menghilang setelah memberi tatapan tajam kepadaku. Baguslah, pergi saja pak tua, sekalian saja lenyaplah dari dunia ini! Kutukku dalam hati.
Otakku berjalan terlalu lamban sepertinya, aku masih belum menyadari keadaan sekitarku sampai Kyuhyun menepuk pundakku.
"Gwaenchana?" tanyanya lembut di telingaku.
Aku menoleh untuk memastikan bahwa yang mengatakannya benar-benar Kyuhyun. Bukan pria jahat itu atau siapapun. Aku ingin benar-benar Kyuhyun yang mengucapkannya padaku.
"Kau tak apa?" ulangnya ketika aku tak kunjung menjawab.
Aku hanya menggumam sambil mengangguk kecil. Sekarang aku takut, amat takut, bahkan aku lebih takut dari ketika pria itu ada di sini. Aku takut ketika dia datang lagi, Kyuhyun tak berada di sampingku. Tapi aku tak mengatakan apapun pada Kyuhyun dan lebih memilih masuk. Berada terus di luar membuatku terus terinagt kejadian tadi.
Author pov;
Di sebuah ruangan bergaya gotik kental dengan dengan pencahayaan lilin yang remang-remang masuklah seorang pria baya sambil memegang lengannya yang terluka, dialah Kim young woon, pemimpin perkumpulakn sihir hitam.
"Jendral!" seorang pria berjubah kemudian menyusul dengan ekspresi takut bercampur bingung.
"Jangan katakan apapun!"
"Apa yang terjadi jendral?"
Kim young woon mendelik tak suka dengan pertanyaan panglimanya. Matanya merah menahan amarah yang kini telah mencapai ubun-ubun. Ia merasa terhina dengan serangan Kyuhyun semalam.
"Kalau kau berhasih mendapatkan kalungnya semalam, aku tak akan jadi begini." Desisnya membuat Mon Jisong merunduk takut.
"Aku kehilangan mereka, tuan. Tapi besok aku pasti bisa mendapatkannya!" serunya penuh percaya diri.
"Waktumu tinggal tiga hari, Mon."
"Saya mengerti." Pria berjubah itu berjalan mundur sambil menunduk hormat.
Kim Young woo perlahan mengusap lengannya yang berlumuran darah kemudian menjilat darah di tangan dan lengannya sambil tersenyum jahat, senyum yang mengandung sejuta kelicikan, dan kebencian, kemudian lengan itu kembali bersih tanpa darah maupun luka apapun.
"Aku takkan memnbiarkanmu lolos, Cho."
TBC
