Diclaimer: the great and powerful Square Enix

"Look at the stars. Look how they shine for you and everything you do. Yeah, they were all yellow." —Coldplay

chapter 4


Aku memulai hari pagi dengan lamban, menyadari aku sudah telat untuk masuk sekolah, mandi terlalu lama, dan berakhir memakan sarapanku sambil menyetir mobilku. Sora yang ikut telat karena bangun kesiangan (terlalu banyak minum bir semalam), sepertinya tidak terlalu peduli lagi dan memiliki alasan yang sama denganku. Tidak peduli.

"Man, tidak kusangka Selphie membiarkan Seifer menyelundupkan 212 lebih bir semalam," Sora mengeluh sambil menaruh kepalanya di atas dashboard mobil. "Ugh, ingin muntah rasanya."

Aku menyeringai ketika aku menekan gas lalu mengeremnya sehingga membuat tubuh Sora terbentur ke belakang. Ia memberiku tatapan tidak percaya, "Serius, Roxas? Real mature. Ini hobimu sekarang, senang melihatku sengsara?"

"Wow, dude. Bukan salahku kau meminum bir sebanyak itu."

"Yeah, memang. Salahmu kalau kau membuat gadis-gadis itu sampai menangis semalam."

"Lucunya aku tidak merasa bersalah sama sekali. Dan kau," Aku menekan gas lagi lalu mengeremnya begitu ia tidur di atas dashboard mobilku lagi ,"berhentilah tidur di atas dashboardku."

"Ingatkan aku untuk tidak pergi ke sekolah lagi bersamamu."

"Sudah kucoba sejak dulu dan kau tak pernah tahu."

Sesampainya di sekolah, seperti biasa Sora langsung keluar dari mobilku dan masuk ke dalam sedangkan aku mencari tempat parkir untuk mobilku. Itu hal bagus karena sejak tadi ia terus membicarakan prom dan Kairi, membuatku ingin cepat-cepat sampai sekolah ketika ia memulainya di tengah jalan. Selesai memarkir mobil, aku tidak punya niat lagi untuk pergi ke sekolah, melihat situasi aku akan segera dihukum kalau tidak masuk ke dalam sekolah sekarang. Well, bel masuk sekolah telah berakhir lima menit yang lalu, tepat setelah Sora masuk. Jadi aku memutuskan mengambil ponselku, menekan beberapa nomor, lalu menunggu panggilanku diangkat.

"Berhenti menelepon dan masuk ke dalam sekolah sialan ini, Roxas," suara Sora terdengar melalui ponselku. "Kau akan membuatku tertangkap basah."

"Bro, aku sedang tidak mood untuk masuk ke dalam. Katakan aku sedang sakit atau apalah."

"Dunno, bro. Apa kau tidak ingin ketemu Namine hari ini?" Sora bertanya dengan berbisik. Aku mendengar suara guru yang sedang mengajar (kutebak ia sedang berada di kelas Studi Bisnis) dan aku yakin Namine berada di ruangan itu. Aku jadi teringat ketika aku sekelas dengannya di kelas Biologi, melihatnya disiram air oleh para murid sekelas.

Tentunya aku tidak ingin hal itu terjadi lagi.

"Dammit, Sora. Always changed my mind," kudengar suara Sora tertawa lalu menutup telepon. Well, saatnya aku masuk ke sekolah. Aku menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya perlahan sebelum keluar dari mobil. Peringatan dari sekolah pun kudapat, tapi itu sangat sepadan dengan tindakanku untuk melindungi Namine.

Setelah akhirnya aku berhasil masuk ke dalam kelas, aku langsung mengambil tempat dudukku di belakang Sora. Setidaknya dari sudut ini, aku dapat menoleh untuk mengecek Namine. Seperti biasa, ia duduk dengan kedua tangannya di bawah meja dan menatap guru mengajar dengan kedua matanya yang seperti boneka. Tidak basah. Itu bagus.

Akhirnya aku menghabiskan waktuku untuk mengisi notesku dengan materi hari ini untuk ujian yang akan datang, sampai bel ganti mata pelajaran akhirnya berbunyi. Lama sekali aku menunggu bel sialan itu untuk berbunyi karena aku ingin segera berbicara dengan Namine. Sora menggidik sikutnya ke lenganku lalu ketika ia berhasil mendapatkan perhatianku, ia menganggukkan kepalanya ke arah bangku Namine.

"Tadi pagi ia sempat menanyakanmu," gumam Sora. "Sampai aku mendapat telepon darimu."

"Benarkah?" aku bertanya sedikit senang.

"Yeah, sebaiknya katakan kalau kau tidak apa-apa karena ia sangat mengkhawatirkanmu. Ia mengira kau tidak masuk karena mungkin kau banyak minum bir padahal kenyataannya akulah yang kebanyakan minum bir."

Aku mengangguk lalu berjalan menuju ke tempat Namine. Selesai merapikan mejanya, ia menatapku lalu bertanya sebelum aku sempat menyapanya dan menjelaskan, "Katakan kalau kau tidak minum bir semalam. Katakan kalau kau tidak dalam keadaan mabuk ketika kita chatting semalam."

"Tidak dan tidak," jawabku singkat lalu berjalan bersamanya keluar dari kelas. "Aku memang kesiangan tapi alasanku berbeda dengan Sora. Sora mungkin mabuk semalam, tapi aku tidak. Setelah chatting denganmu, aku harus menjemput si bodoh itu karena ia sangat mabuk untuk kembali ke rumah. Setidaknya itulah yang dikatakan Kairi."

Namine menghela nafas lega. "Well, kau sangat populer. Jadi, kukira..."

"Nah, ada saat di mana aku tidak mood untuk minum bir," kataku sambil menyeringai, memperoleh pukulan pelan dari Namine (walaupun ia memukulku keras sekalipun, pukulannya terasa sangat pelan). "Apa? Aku tidak mungkin meminum bir lebih dari empat kaleng."

"But still..."

"Oke, oke," kataku. "Aku akan mencoba. Nah, kata Sora kau menanyakanku tadi. Apakah lebih dari sekadar menanyakan keadaanku?"

Namine terdiam sebentar. Aku tidak mengharapkannya terdiam selama ini, tapi ketika aku menoleh untuk melihat wajahnya, wajahnya terlihat merah. Ia merona. "Nam?" tanyaku khawatir karena mungkin ia mendapat demam mendadak.

"Aku sering bercerita tentangmu kepada ibuku," kata Namine kemudian sambil memainkan jemari kurusnya yang ia gunakan untuk membawa bukunya. "Dan... ia sangat ingin bertemu denganmu."

"Lalu?" tanyaku penasaran dengan ke mana topik ini berlanjut.

"...Umm..," Namine menggigit bagian bawah bibirnya, membuatku tersenyum sedikit melihat kegugupannya. "Apa kau mau datang ke rumahku malam ini? Ibuku mengadakan... makan malam dengan roast turkey. Ka-kalau kau tidak bisa, tidak apa. Sungguh."

Aku mengangkat kedua alisku sambil tertawa kecil. Jadi, dari lima belas menit tadi ia berusaha untuk bertanya tentang itu? Aku mengangguk sambil menaruh kedua tanganku ke dalam kantung celana jeansku. "Sure, Nam. Aku akan datang."

Ia mengangkat kepalanya menatapku. "Benarkah?"

"Tentu saja. Lagipula, sepertinya roast turkey buatan ibumu sangat menggoda," kataku tertawa, memperoleh pukulan darinya lagi yang kemudian pada akhirnya ia ikut tertawa.

Bel masuk pelajaran telah berbunyi, dan aku segera masuk ke kelas Seni. Namine berkata bahwa ia akan menyusul karena ia pergi ke toilet terlebih dahulu. Di tengah jalan, aku tidak bertemu dengan Axel. Aku sadar aku tidak melihat Axel sejak tadi. Speak of the devil, ponselku bergetar di saku celanaku. Ketika aku melihat caller IDnya, aku langsung mengangkat telepon tersebut.

"Good morning, hedgehog," kataku. "Kutebak kau telat masuk sekolah hari ini?"

"Uggggg, brooo kau tidak tahu semalam sudah seperti rimba," kata Axel. "Oh, God, sakit sekali. Aku sampai berdoa selama dua jam lebih untuk meminta pengampunan. UGGGG."

"Kasusmu sama seperti Sora. Get your damned ass right here right now you numbnuts. Sora bahkan lebih kuat darimu."

"Oh, kau kira berapa banyak kaleng bir yang Sora habiskan Roxas, huh? Berapa, Roxas, berapa? Kau bisa tebak berapa tapi kau tak bisa tebak berapa banyak milikku. Bayangkan, oke, bayangkan, baiklah ini dia: lima belas bir, ROXAS, LIMA BELAS. Nah, apa suaraku kurang jelas, Nabradia?"

Aku tidak tahu apa dia masih mabuk atau tidak, tapi dilihat dari situasinya, mungkin ia memang masih mabuk. Maksudku, semalam ia meminum lima belas kaleng bir dan kuyakin khasiatnya cukup kuat sampai pagi ini. "Baiklah, aku akan memberitahu kalau kau sakit. Tapi jangan harap kau," sebelum sempat aku menyelesaikan kalimatku, aku sadar Axel telah menutup teleponku. Ia menutup teleponku. Asshole.

Aku menaruh ponselku kembali ke dalam saku celanaku sambil memasuki ruangan kelas. Ms. Rapunzel, guru Seni kami masuk sambil membawa banyak gulungan kertas di tangannya dan menaruhnya di atas mejanya. Ia menerangkan arti-arti warna. Yang menarik perhatianku adalah yellow. Bukan banana yellow, tapi warna yellow bunga matahari. Aku terus mendengarkan penjelasannya sampai aku sadar bahwa aku mencorat-coret notesku dengan apa yang diterangkan. Lalu ia menyadari sesuatu yang belum kusadari.

"Ah, Namine Fleuret tidak terlihat hari ini," sahut Ms. Rapunzel sambil melihat ke belakangku di mana tersedia bangku kosong. "Apa dia membolos atau sakit? Sayang sekali, padahal ia murid favoritku." Tak lama kemudian, guru itu meminta kami untuk melukis di atas sketsa yang ia berikan kepada kami.

Aku mengambil ponselku lalu mengirim teks kepada Namine.

Kau di mana?

Dan sampai pelajaran selesai, aku tidak mendapat balasannya.


Aku menghabiskan waktuku mencari Namine di sekolah, dan sampai detik ini aku tidak menemukannya. Ada apa dengannya? Sebelumnya ia terlihat baik-baik saja ketika berbicara dengannya, kenapa saat ini ia tiba-tiba menghilang? Apa saat aku luput dari pandanganku, ia dikerjai oleh seseorang?

Aku menunggu bel berbunyi lagi sampai lorong sekolah kosong dari siswa-siswi Twilight High. Aku tahu tempat yang belum kucari. Sebelum masuk kelas Seni, ia bilang akan pergi ke toilet. Mungkin saja, ia mengurung dirinya di sana. Aku berjalan sampai di depan toilet perempuan, dan karena sedang kosong (semua siswi masuk ke kelas) aku masuk ke dalam toilet tersebut. Aku benar.

Aku mendengar tangisan.

Aku menghela nafas sambil mencoba mendengarkan tiap pintu stall kamar mandi dari mana suara itu berada. Suara tangisan itu terdengar di stall kamar mandi paling kiri, dekat dengan dinding. Aku berkata dengan pelan sambil mengetuknya dua kali, "Namine?" Tangisan itu berhenti. "Ini Roxas, umm... boleh aku masuk?" Oke, mungkin itu adalah hal terbodoh yang dilakukan seorang laki-laki di toilet perempuan, tapi Namine menangis, dan aku harus tahu kenapa sebelum aku yang masuk atau dia yang keluar.

Aku menunggu selama lima menit sebelum aku mendengar suara pintu stall dibuka, memperlihatkan Namine dengan wajah dan mata merah yang pernah kulihat. Sudah berapa lama ia menangis? Aku berani bertaruh sejak pelajaran Seni dimulai. Ia tidak keluar, jadi mungkin ia menginginkanku untuk masuk ke dalam. Ia menutup pintu stall dan duduk. Aku duduk di sebelahnya.

"...Kau tak perlu datang malam ini kalau kau tak mau, Roxas," gumam Namine. "Sungguh. Aku tidak memaksamu."

Aku mendesah. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

"Aku tidak selevel denganmu," Namine menatapku. "Aku tidak sepopuler dirimu. Aku tidak pantas menjadi temanmu."

"Apa ada orang yang mengatakan semua omong kosong itu padamu?" tanyaku sedikit geram. Namine terdiam. Ia tidak menjawab. Aku melanjutkan, "Aku sedikit kesal kau mengatakan itu padaku, Namine."

"Karena semua itu memang benar," Namine menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ya kan?"

"Tidak!" kataku tiba-tiba, mengagetkannya. "Tidak. Ketika kau mengajakku untuk makan malam di rumahmu, Nam, jujur saja aku sangat senang. Aku bisa mengenalmu dan keluargamu. Aku ingin datang makan malam di rumahmu. Dan mendengarmu mengatakan hal tadi, membuatku sakit hati."

Namine menelan ludahnya. Ia tidak lagi menangis. Tapi ia justru bertanya, "Kenapa kau selalu baik padaku, Roxas? Apa karena aku adalah Blueocean73? Padahal, sebelum Blueocean73 ada, kau tidak pernah menyadari keeksistensiku sama sekali. Kalau Blueocean73 tidak ada, apa kau masih mau dekat denganku?"

Aku terdiam. Kalau Blueocean73 tidak ada, apa aku masih mau dekat dengan Namine? Aku menatap ke arah Namine, memandangi wajahnya. Aku memang tahu kalau Namine adalah gadis yang tidak punya banyak teman di Twilight High dan kenyataan bahwa aku adalah satu-satu temannya membuatku sedikit senang.

Seakan-akan hanya aku orang yang sangat dekat dengannya. Bukan orang lain. Seakan-akan Namine adalah milikku, padahal ia bukan milik siapa-siapa kecuali Namine sendiri. Aku hanya temannya.

"Dulu aku berpikir seperti itu," jawabku jujur. "Tapi sekarang, semuanya berbeda. Aku akan jujur, Nam, aku bukanlah orang yang mudah peduli dengan lingkungan sekitar kecuali Axel dan orang tuaku menyuruhku. Semua orang ini, walaupun kau melihatnya sebagai teman-temanku, sebenarnya bukan. Aku tidak kenal siapa mereka, kecuali Axel dan Sora sendiri. Itulah kelemahanku. Itulah keburukanku."

Namine tidak berkata apa-apa jadi aku melanjutkan, "Maafkan aku, kalau aku tidak menyadarinya secepat itu. Kalau aku lebih peduli lagi dengan sekitar, mungkin aku bisa bertemu denganmu, tanpa melalui online, tanpa melalui Blueocean73. Tapi melaluimu."

Aku menunggu keheningan kami selama sepuluh menit sebelum ia mulai tersenyum dan tertawa kecil, "Apa aku perlu mengatakan kalau 'aku bodoh dan aku minta maaf'?"

"Ya, kau perlu."

Namine tertawa. Senang melihatnya tertawa lagi. Ia menaruh kepalanya di atas bahu kananku lalu berkata, "Aku bodoh dan aku minta maaf." Aku tersenyum sebelum ia melanjutkan, "Aku terlalu terbawa oleh perkataan mereka ketika mereka mencegatku di depan toilet. Maaf, aku meragukanmu."

Aku tahu yang Namine maksud dengan mereka adalah mereka. Mereka, yang mengerjai Namine, mengatai Namine, dan apapun yang para bully lakukan kepada korban mereka. Aku tidak suka. Aku memang suka bermain bersama teman-temanku dulu yang populer, merasakan bagaimana rasanya dipuja setiap kali bertemu di lorong sekolah. Namun aku sadar, bahwa aku lebih senang di sini, bersamanya. Bersama Namine.

"Aku akan jujur padamu," kataku. "Aku suka bersamamu, Namine."

Dan untuk pertama kalinya setelah aku mengatakan hal itu padanya, ia menjawab, "Aku juga. Sangat."

Setelah itu, kami menghabiskan waktu kami di sana sampai mata pelajaran terakhir. Kelas terakhirku adalah ICT, jadi aku tidak satu kelas dengan Namine. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung merapikan bukuku dan memakai ranselku sebelum lari keluar kelas secepat mungkin dan menunggu di tangga dekat pintu keluar sekolah. Mungkin aku yang terlalu cepat keluar kelas, karena Namine lama sekali. Aku memutuskan untuk menghabiskan sisa pizza dari kantin tadi siang sebelum mengelap kedua tanganku yang penuh minyak pizza ke celana jeans.

Aku berdiri dan menunggu tepat di pintu keluar, sambil menaruh kedua tanganku ke dalam saku celana. Pada akhirnya, aku melihat Namine keluar. Ia tersenyum sambil berlari ke arahku. "Whoa, sabar, Nam. Kau bisa terjatuh kalau lari. Apa yang membuatmu lama?"

"Ibuku menelepon ketika aku masih di depan lokerku. Maaf membuatmu lama, ayo!" Ia meraih tanganku seperti anak kecil yang meminta permen. Sedangkan aku? Tertawa melihat tindakannya. Terkadang, lucu juga mengingat bahwa sebelumnya gadis ini menangis dan saat ini justru terlihat senang.

Aku membawanya ke mobilku sebelum aku menyadari bahwa aku melupakan sesuatu. "Damn."

"Apa?" tanya Namine khawatir.

"Aku lupa Sora," kataku sambil meraih ponselku keluar dari sakuku. "Aku akan mengiriminya teks."

Sora, aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku bersama Namine, kau bisa pulang sendiri?

Aku menunggu jawaban, tapi Sora sama sekali tidak menjawab. "Well, kurasa ia tidak akan menjawab pesanku sama sekali. Ayo."

"Apa Sora akan baik-baik saja?"

"Tenang, Sora tidak terlalu peduli—" Sora meneleponku. "Halo?"

"ROXAS NABRADIA YOU BETTER GET YOUR SKINNY ASS RIGHT HERE OR YOU ARE IN SO MUCH TROUB—" Aku langsung mematikannya. Sorry, bro, kalau kau jadi aku, kau pasti mengerti.

Tiga puluh menit mengendarai mobil bersama Namine, akhirnya kami berdua tiba di rumahnya. Namine melepas seatbeltnya sebelum keluar dari mobil bersamaku. Ia mengantarku sampai ke depan pintu rumahnya sebelum berkata dengan sangat amat pelan, "Umm... Ibuku sangat senang mendengarmu datang, jadi kalau ia bertanya hal-hal yang... mengganggu, kau pun tidak perlu menjawabnya. Terkadang ia suka terlalu penasaran."

"Oke."

Namine membuka pintu. "Mom, aku pulang."

"Namine!" Seorang wanita berambut pirang (tidak sepucat Namine) datang ke arah kami dengan menggunakan celemek yang penuh dengan noda. "Ah, ini pasti Roxas yang sering dibicarakan Namine."

"Mom!"

"Perkenalkan, kau pasti sudah tahu kalau aku ibunya Namine. Panggil aku Stella," katanya sambil menyodorkan tangannya yang bersih padaku dan aku membalasnya.

"Roxas Nabradia. Anda pasti sudah tahu banyak tentang saya dari putri Anda," kataku sambil menyeringai dan melirik Namine, mendapati wajah rona Namine yang berusaha ia sembunyikan.

"Namine, ayo ajak temanmu makan! Roast turkeynya sudah siap!" seru Stella sambil berjalan ke arah dapur. Namine mempersilahkanku duduk, lalu pergi untuk membantu ibunya. Ketika melihat banyak makanan yang belum tersedia di atas meja, aku memutuskan untuk ikut membantunya.

"Roxas! Kau tidak perlu melakukannya, kau adalah tamu di sini. Duduk saja dan nikmati makan malamnya," kata Stella sambil tersenyum. "Aku menghargai usahamu, kau adalah pria yang baik. Tak diherankan putriku selalu membicarakanmu."

Aku tertawa renyah ketika mendengar Namine memanggil ibunya dari dapur dan aku dapat membayangkan wajahnya yang merona kembali. Tipikal Namine. Beberapa saat kemudian, semua makanan telah tersedia di atas meja makan, Stella dan Namine duduk di kursi mereka. Kami berdoa, lalu setelahnya kami makan. Kegiatannya sama seperti makan malam biasa, tidak ada yang spesial. Hanya saja, saat makan aku ditanyai oleh Stella tentang bagaimana kerja Namine di sekolah, atau sikapnya di sekolahnya, nilai-nilainya.. sampai—

"Kau tahu, Roxas, dari dulu Namine lebih suka menyendiri. Tapi aku senang ia mendapat teman kali ini dan mengajaknya ke rumah. Bagaimana dengan teman-temannya yang lain?" tanya Stella.

Aku melirik ke arah Namine yang memasang tampang memohon padaku untuk tidak menceritakannya. Sepertinya, Stella tidak pernah tahu bahwa Namine sering dikerjai oleh siswa-siswi di sekolah. Walau ibunya tahu bahwa Namine adalah gadis pendiam dan tak punya banyak teman.

"Umm... Mereka cukup baik," aku sedikit geli mengatakannya karena semua itu tidak benar. Dan aku merasa menyesal telah berbohong pada Stella. "Yeah, mereka oke."

"Tapi Roxas jauh lebih baik," Namine menambahkan dengan cepat. Aku dan Stella menatapnya lalu Namine menundukkan kepalanya malu. "Roxas jauh lebih baik, maka dari itu aku hanya mengundangnya sendirian."

"Awww, my lil' girl Namine is growing up!" kata Stella sambil tersenyum.

"Mom!"

"Kalian berdua harus tahu, melihat kalian berdua membuatku nostalgia. Young love itu sangatlah romantis, aku jadi ingin mengalaminya lagi—"

"For God's sake, Mom!"


Di halaman belakang Namine ada ayunan dari jaring berwarna putih yang diikat ke dua pohon. Kami berdua berbaring di sana sambil menunggu Stella membawakan kami makanan pencuci mulut. Es krim. Stella membeli rasa Sea-Salt (rasa favoritku) yang ternyata sengaja dibeli Namine sebelumnya karena ia tahu kudapan favoritku. Kami berdua menghabiskan semangkuk es krim kami sebelum berbaring kembali, menatap langit malam.

"Terima kasih sudah datang untuk makan malam, Roxas," kata Namine. "Sangat berarti bagiku."

"Terima kasih sudah mengajakku, Namine," kataku. "Sangat berarti juga bagiku."

Namine tertawa. "Apa kau harus mengikuti setiap perkataanku?"

"Oh, maaf aku tidak bermaksud," balasku tersenyum. "Mungkin secara refleks aku melakukannya."

Lalu kami berdua terdiam. Berbaring di ayunannya. Merasakan sejuknya angin. Menatap langit yang bertabur bintang. Dan mulai malam ini, aku baru menyadari betapa indahnya bintang-bintang di malam hari. Mereka bersinar terang. Untungnya kami tinggal di Twilight Town, bukan di Dark City. Dark City sudah terkena polusi cahaya, membuat bintang sedikit sulit untuk dilihat.

"Roxas."

"Hm?"

"Aku... tidak pernah merasa sedekat ini dengan seseorang sebelumnya," kata Namine sambil tetap menatap bintang.

"Aku juga."

Namine tertawa. "Bukankah Axel dan Sora termasuk?"

"Ew, mereka laki-laki, Nam. Yang kumaksud: aku juga belum pernah merasa sedekat ini dengan seorang perempuan sebelumnya."

Kami berdua tertawa, sebelum akhirnya kami berdua diam lagi. Kami tak banyak bicara malam itu, kecuali ketika Namine mulai bertanya lagi, "Roxas."

"Hm?"

"Kenapa mereka membenciku?"

Aku mengerti ke mana pembicaraan ini berlanjut. Dan aku tahu yang dimaksud Namine dengan mereka. Aku menghela nafas panjang sambil membetulkan posisiku. Aku menjawab, "Mereka bukan membencimu. Mereka belum mengenalmu, maka dari itu mereka tidak menyukaimu."

"Apa maksudnya?"

"Well," aku menggidik bahu tanda tidak tahu sebelum aku melanjutkan, "sama seperti katamu dulu. Banyak orang yang menilai seseorang dari luarnya saja. Don't judge a book by its cover. Mereka sama sekali tidak mengindahkan nasihat itu. Padahal kalau mereka sedikit berusaha untuk mengenalmu, pasti mereka sama sepertiku; senang sepertiku."

"Tapi mereka tetap tidak mau."

"Tepat. Maka dari itu, aku lebih suka agar kau tidak membicarakannya karena setelah apa yang mereka perbuat padamu aku mulai muak dan tak ingin mendengarkannya lagi."

"...Apa karena penampilanku?"

Aku menghela nafas berat sambil menatapnya. "Namine Fleuret. Kumohon. Aku tidak suka melihatmu begini. Kalau mereka tak menyukaimu, itu bukan masalahmu. Jangan sampai mereka membuatmu untuk tidak mencintai dirimu sendiri. Karena aku suka dirimu apa adanya. Jadilah Namine apa adanya. Kau tak perlu make up atau apapun untuk memalsukan penampilanmu dengan kecantikan dari hasil kosmetik itu. Kau adalah kau. Kau adalah Namine. Dan aku peduli padamu."

Kini giliran Namine menatapku. Ia menangis sedikit, tapi ia tidak membiarkan semuanya keluar begitu saja. Ia tersenyum perlahan, terharu. Ia menggenggam tanganku sambil berkata, "Terima kasih. Terima kasih Roxas terima kasih terima kasih terima kasih."

"You're welcome, Nam," kataku sambil memeluknya, membuatnya menangis di pelukanku. Aku tidak bisa membayangkan penderitaannya selama ini di sekolah, sendirian, tak punya teman, dan selalu saja dikerjai. Kalaupun aku membayangkannya, aku dapat menghitung berapa banyak tangisan yang Namine habiskan selama itu. Aku muak. Aku tidak ingin melihatnya lagi. Tangisan ini, kuharap adalah terakhir kalinya ia menangis.

Setelah ia selesai menangis, ia melepas pelukanku dan kembali berbaring bersamaku di atas ayunan itu sambil menatap langit lagi. Aku menatapnya. Wajahnya kembali seperti semula, tidak menangis lagi dan tidak berwarna merah. Wajahnya kembali berwarna putih, wajah milik Namine. Peace, and calm... Aku suka melihatnya tenang. Kurasakan genggamannya semakin erat pada tanganku. Aku melihat tangan kami berdua sebelum kembali menatapnya, menyadari bahwa ia juga balas menatapku sambil tersenyum.

Aku suka senyumannya. Aku suka genggaman tangannya. Aku suka tawanya. Aku suka matanya. Aku suka menjadi satu-satunya orang yang selalu ada untuknya ketika ia perlu pegangan. Aku menyukainya, semua tentangnya. Saat itulah aku sadar akan satu hal.

Kurasa aku jatuh cinta pada Namine.


Ms. Rapunzel's lesson: The Definition of Colors

Temaku adalah yellow. Bukan banana yellow, tapi yellow bunga matahari. I love how it calms me. Interpretasiku: Yellow adalah warna dari apa saja. Cahaya, bunga, matahari, dan bintang-bintang lain. Yellow berarti kebahagiaan, begitu juga kesakitan dalam berbagai arti. Yellow adalah warna yang memiliki banyak arti dan emosi. Yellow memang warna primer, bahkan yellow sendiri adalah warna yang paling simple. Just as true unconditionally love. The real type that everyone wants and deserves. The kind of love that is everything it wants or needs to be.


A/N: oke, sorry guys updet lamanya. sulit buat dapetin hari kosong dan yeah, jadinya chapter ini kurang bahasa inggris, dan saya taruh lebih banyak di bagian akhirnya.

So? how was it? ada yang kurang atau chapter ini terlalu pendek? soalnya saya sendiri ngetikanya capek hahahahahahaa (author macam apa ini)

thanks for the review: Xinon, Eqa Skylight, and of course ugya-kun.

dan jujur, kalau saya di posisi Roxas itu sulit bgt, such as: no man is an island

tunggu for the next chappie yawww Review tentunya diperlukan~

oh dan saya minta saran, untuk quote selanjutnya enaknya apa yaa?

sankyuu