Never Enough

By: Pingmoo

Warning: Boyxboy, YAOI, TYPO, DLDR. MATURE FIC.

Pairing: Chanbaek, Hunhan

.

.

.


-Chapter 4-

Luhan tidak pernah merasa serendah ini dalam hidupnya. Sebentar lagi dia harus rela melebarkan kakinya untuk seseorang yang baru saja dia kenal dan membiarkan orang itu menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang tidak seharusnya disentuh oleh orang lain. Mencumbu dirinya seolah dirinya adalah seorang jalang murahan, seakan semua norma-norma yang dia pelajari selama ini tidak ada artinya. Semua ini dilakukannya demi adiknya satu-satunya yang dia miliki. Keluarganya yang paling berharga yang harus selalu ia jaga.

Baekhyun.

Ya, semua ini demi Baekhyun. Park Yunho dengan terang-terangan mengancamnya akan memutuskan sekolah Baekhyun bila dia menolak syarat yang diajukan oleh Wu Shixun untuk menjalin kontrak kerja sama ini, tidur dengan Luhan. Luhan yang naif merasa begitu terkejut akan penawaran—yang lebih tepat disebut pemaksaan ini. Tuan Park pun mencemooh Luhan dengan segala pemikiran naifnya. Bahwa dunia kerja itu kotor dan tidak semuanya indah seperti yang terlihat diluar. Untuk mencapai kesuksesan, cara kotor harus digunakan. Menjual tubuh untuk melancarkan terjalinnya kerja sama merupakan hal yang sangat lumrah dalam dunia bisnis.

Entah mengapa Wu Shixun sangat tertarik kepadanya. Pria yang terkenal dingin dan tidak mau menjalin hubungan setelah istrinya meninggal itu menunjukkan rasa ketertarikan yang sangat tinggi pada Luhan yang tidak sengaja ditemuinya di lobi perusahaan miliknya. Saat itu Luhan sedang menemani atasannya untuk membuat janji meeting dengan pihak management perusahaan, entah apa yang terjadi pihak Odult Corp mengatakan mereka bisa langsung bertemu dengan CEO Odult Corp yang terkenal sibuknya itu. Atasannya pun langsung menghubungi Park Yunho sebagai CEO Park Corp untuk menyampaikan kabar ini.

Park Yunho pun menghubungi langsung CEO Odult Corp yang langsung membuat penawaran perjanjian kerja sama dengan Luhan sebagai imbalannya. Yang tentu saja langsung diiyakan oleh Park Yunho. Satu ancaman pada Luhan dan semua pun berjalan sesuai dengan keinginan Park Yunho. Kontrak kerja sama itu sudah dipastikan jatuh ke tangannya.

Luhan hanya bisa pasrah dengan semua ini. Lagi pula, ia seorang lelaki. Rasanya tidak akan ada masalah membiarkan lelaki lain menjamah tubuhnya. Dia tidak akan hamil, tidak ada selaput dara yang robek sebagai tanda keperawanan yang telah hilang. Harga diri pun tidak berarti banyak demi satu-satunya keluarga yang tertinggal bukan?

"Sudah selesai menyusun berkasnya, Xiao Lu?" tanya pemilik suara yang membuatnya merasa gugup sedari tadi.

Wu Shixun.

"Ah, Tuan Wu. Sebentar lagi." Ujar Luhan. Sebenarnya berkas seperti ini dapat Luhan susun hanya dalam waktu beberapa menit saja, namun Luhan sengaja memperlambat prosesnya karena dia ingin mengulur-ngulur waktu saja.

"Aku sudah bilang padamu jika sedang berdua saja jangan panggil aku dengan sebutan Tuan Wu. Panggil aku dengan nama Koreaku, Sehun." Balas Sehun sambil menatap wajah Luhan dengan intense. Wu Shixun memiliki kesamaan dengan Luhan, dia juga merupakan blasteran China-Korea. Namun dia memiliki nama China dan nama Korea yang digunakannya dengan kalangan-kalangan tertentu. Orang-orang di perusahaan Chinanya memanggilnya dengan nama Chinanya sementara orang yang dekat dengannya menggunakan nama Koreanya.

Luhan mengalihkan pandangannya dan memilih menyusun berkas lagi, tidak sanggup membalas tatapan tajam milik Sehun yang seolah ingin menerkam dirinya. Demi apapun itu dia belum siap sama sekali. Tidak pernah menjalin hubungan apa pun dengan siapa pun selama 22 tahun hidupnya dan sekarang dia harus menyerahkan seluruh tubuhnya untuk seorang pria yang usianya terlampau jauh darinya. Seorang duda beranak satu pula!

"Xiao Lu." Sehun merendahkan suaranya. Ada perasaan tidak suka diacuhkan seperti ini.

"Sehun-ssi, saya—saya belum siap." Luhan meletakkan semua berkas yang dari tadi digenggamnya ke atas meja. Mata rusanya menatap takut ke arah wajah Sehun yang menatapnya lapar.

"Ini pertama kalinya bagimu?"

Luhan mengangguk keras. Pipinya memerah.

"Aku hanya akan mencicipimu sedikit saja untuk saat ini, Xiao Lu." Sehun tersenyum senang mendengarnya. Dia akan memastikan bahwa Luhan hanya akan melayaninya seorang saja.

Panggilan itu terasa begitu intim. Luhan merasa seperti dihadapkan dengan seorang predator yang siap menerkamnya kapan saja. Sehun menarik tangan Luhan hingga Luhan terjengkal ke pangkuannya. Muka Luhan sudah mulai memerah seperti tomat ketika Sehun mulai mengusap-usap bokongnya dengan satu tangannya. Sementara itu, tangannya yang satu lagi pun menuntun dagu Luhan mendekati wajahnya hingga kedua bibir mereka saling bertaut satu sama lain. Tautan itu berubah menjadi lumatan. Lidah Sehun pun menerobos masuk tanpa izin ke dalam rongga mulut milik Luhan, menyapa lidahnya yang baru pertama kali ini bertemu dengan lidah yang lain.

Lidah Sehun bermain di mulutnya, menggoda lidahnya. Sungguh sebuah ciuman yang sangat intim untuk ciuman pertama Luhan. Seolah diarahkan oleh instingnya, Luhan mengalungkan kedua lengannya di leher Sehun mendekatkan tubuh mereka berdua. Luhan begitu terbuai dengan semua pengalaman baru ini.

Tangan Sehun pun mejalar ke arah bokong dan pinggangnya. Tangan itu memegang pinggangnya sementara tangan yang satunya lagi meremas bokongnya membuatnya mengerang kecil ke dalam ciuman itu. Bisa dirasakannya seringaian Sehun dibibirnya.

"Lu-ge?"

Sebuah suara teriakan dari suara bass yang sangat dikenalnya menyadarkan Luhan dari kegiatan yang sedang dilakukannya. Wajahnya menoleh dengan cepat dan bisa dilihatnya Chanyeol yang sedang berdiri di pintu masuk ruang rapat tadi dengan wajah yang menunjukkan keterkejutan dan tatapan itu berubah menjadi tatapan tajam.

"Cha—Chanyeol?" Luhan bertanya dengan gugup. Sungguh dunia tidak berpihak dengannya. Padahal dia tidak ingin Chanyeol mengetahui hal ini. Cukup antara dia, Sehun dan Tuan Park saja yang tahu, tapi tampaknya Tuhan berkehendak lain.

"Apa yang kau lakukan, Ge?" suara Chanyeol tampak marah dan Luhan hanya bisa memandang wajah marah Chanyeol dengan wajah pucat. Dia dapat melihat kemarahan Chanyeol yang terpancar jelas. Baru dia hendak mengucapkan sesuatu, Yunho datang dan menarik tangan Chanyeol kasar.

Tubuh Chanyeol ditarik paksa oleh Yunho yang kemudian membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan. Sebegitu khawatirnya kah dia Sehun akan membatalkan kontrak kerja sama yang baru saja disepakati?

Muka Luhan tampak begitu pucat. Suasana yang terbangun di antara mereka runtuh begitu saja. Sehun yang menyadari perubahan raut wajah Luhan pun hanya mampu berdecih kesal. Diturunkannya Luhan dari pangkuannya, Luhan pun turun perlahan dan berdiri dengan wajah tertunduk, tak sanggup menatap ke wajah Sehun yang sedang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hembusan napas dalam dapat terdengar dari Sehun.

"Kita lanjutkan di rumahku saja."

Luhan mendongakkan kepalanya terkejut. Matanya membesar dan menatap wajah Sehun yang menatapnya dengan tajam. Ditundukkannya wajahnya kemudian mengangguk pelan. Sehun mengulurkan tangannya, kemudian disambut pelan oleh Luhan. Dengan tangan saling bertautan, mereka keluar dari ruang rapat itu menuju lift khusus yang disediakan hanya untuk Sehun dan sekretarisnya untuk ke basement tempat mobil Sehun diparkirkan.

Sehun mengirimkan pesan singkat kepada sekretarisnya bahwa ia tidak akan kembali lagi ke kantor sehabis ini. Sehun menjalankan mesin mobilnya dan membawa mobilnya keluar dari tempat parkir perusahaan miliknya dan membawa Luhan ke kediamannya.


.

.

.

.


Sudah dua hari Chanyeol tidak bertemu dengan Luhan yang membuat Chanyeol gelisah. Besok dia akan kembali ke Korea dan dia tidak ingin kembali dengan perasaan bersalah seperti ini. Ponsel Luhan sudah dua hari tidak bisa dihubungi dan akhirnya Chanyeol mengutarakan keinginannya untuk menemui Luhan yang ditolak mentah-mentah oleh ayahnya. Luhan sedang sibuk, itu alasan yang selalu dilontarkan oleh ayahnya.

Sibuk?

Chanyeol bukan anak kecil yang tidak tahu dengan sibuk apa yang dimaksud oleh ayahnya itu. Pemikiran yang membuat Chanyeol makin menggeram kesal.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, yang langsung dibukanya dengan terburu-buru begitu dia melihat siapa yang mengirimnya.

From: Luhan-Ge

Hai, Chanyeol-ah. Maaf baru bisa menghubungimu sekarang.

Bisakah kita bertemu sekarang?

Lu.

Chanyeol langsung membalas pesan tersebut dan mengiyakan permintaan Luhan. Mereka pun membuat janji untuk bertemu di cafe dekat hotel tempat Chanyeol menginap. Luhan akan menunggu Chanyeol di cafe itu dan Luhan meminta pada Chanyeol untuk datang seorang diri saja. Chanyeol mendengus membaca pesan tersebut. Dia memang tidak akan sudi untuk mengajak ayahnya untuk menemui Luhan.

Chanyeol pun bergegas menuju cafe yang disebutkan oleh Luhan. Begitu memasuki cafe itu, dia bisa melihat Luhan yang duduk di pojok cafe itu seorang diri dengan segelas bubble tea di depannya.

"Lu-ge." Sapa Chanyeol.

Luhan mendongak dan memberi Chanyeol senyuman kecil. Chanyeol memperhatikan penampilan keseluruhan Luhan. Bibirnya nampak lebam dan Luhan mengenakan baju yang menutupi lehernya meskipun cuaca tidak sedingin itu sampai harus mengenakan pakaian turtle neck. Chanyeol mengatupkan bibirnya. Dia juga sering membuat Baekhyun harus mengenakan turtle neck meskipun cuaca sedang panas.

"Siang, Chanyeol-ah. Bagaimana kabarmu? Sudah makan siang? Makanan di cafe ini enak sekali, loh. Kau harus mencoba—" sapa Luhan dengan nada ceria seperti biasa namun perkataannya dipotong oleh Chanyeol.

"Lu-ge!" bentak Chanyeol.

Luhan terdiam menatap Chanyeol dengan pandangan terluka kemudian dia menundukkan kepalanya.

"Kau jijik padaku sekarang?" tanya Luhan dengan suara bergetar. Chanyeol terdiam mendengarnya.

"Jangan berkata yang tidak-tidak seperti itu! Mana mungkin aku merasa jijik padamu!" bisik Chanyeol dengan penuh emosi.

"Aku merasa jijik dengan ayahku sendiri yang berani-beraninya memanfaatkan padamu seperti ini." Kalau ini bukan di tempat umum mungkin Chanyeol sudah akan menggebrak meja di depannya.

"Keluarga kami banyak berhutang budi pada keluargamu, Chanyeol. Ayahmu juga turut membawa Baekhyun ke dalam masalah ini. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan Baekhyun. Hanya dia satu-satunya keluarga yang kumiliki sekarang. Inilah realita hidup yang sebenarnya." Jawab Luhan.

"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Chanyeol-ah. Itu yang disampaikan ayahmu padaku." Luhan menyambung perkataannya. Chanyeol pun sudah hapal dengan perkataan ini.

"Katakan padaku, Lu-ge. Apakah perjanjian ini..hanya untuk sekali saja atau—?" tanya Chanyeol hati-hati.

"Kemarin Tuan Wu memintaku menjadi kekasih permanent-nya." Jawab Luhan.

Chanyeol tertegun mendengarnya. Apabila Luhan menjadi kekasih permanent CEO Wu salah satu ketakutan Chanyeol mengenai ayahnya akan menggunakan Luhan untuk melobi para petinggi perusahaan lain sirna. Karena CEO Odult Corp pasti tidak akan senang jika kekasihnya dibiarkan tidur dengan orang lain.

"Kenapa?"

"Aku mirip dengan mendiang istrinya yang telah meninggal." Luhan mengeluarkan sebuah foto seorang wanita yang membuat Chanyeol membelalakkan matanya. Wajah wanita itu betul-betul mirip dengan Luhan. Luhan termasuk dalam kategori seseorang yang memiliki wajah yang cantik untuk seorang pria, hanya saja wajah Luhan masih menampakkan garis kemaskulinan seorang pria. Namun apabila Luhan seorang wanita dia akan terlihat seperti wanita ini.

"Namanya Song Jihyo. Dia orang Korea sementara Tuan Wu itu blasteran China-Korea. Mereka bertemu di China ketika mendiang nyonya Song sedang melanjutkan pendidikannya di China. Meninggal tak lama setelah melahirkan anak mereka, Wu Haowen yang sekarang sudah berusia 6 tahun." Luhan menunjukkan sebuah foto lain yang menampakkan seorang anak kecil yang memiliki paras wajah begitu serupa dengan CEO Wu.

"Tuan Wu merasa aku adalah kesempatan keduanya." Sambung Luhan.

"Dalam apa? Dia menjadikanmu pengganti istrinya!"

"Dalam membahagiakan istrinya, anaknya, entahlah aku tidak mengerti jalan pikirnya. Semua ini terlalu tiba-tiba untukku. Yang aku pikirkan hanyalah Baekhyun, aku tidak bisa memikirkan diriku sendiri, Chanyeol." Luhan berbicara dengan penuh kesabaran pada Chanyeol berusaha menjelaskan situasinya.

Dan yang Baekhyun pikirkan pun hanya dirimu, Lu-ge.


.

.

.

.


"Terima kasih datang kembali!" teriak Baekhyun girang. Dia betul-betul menikmati aktifitas terbarunya ini. Sepeninggal Chanyeol ke China, Baekhyun langsung menyibukkan dirinya dengan menyebarkan resume ke sana ke mari. Dan nampaknya keberuntungan sedang berada di pihaknya, keesokan harinya salah satu tempat kerja tempat dia melamar meneleponnya dan dia bisa langsung memulai pekerjaannya.

Sekarang ini dia berada di Subway di daerah gangnam yang pelanggannya berasal dari kalangan anak sekolahan, mahasiswa dan pekerja kantoran. Toko tempat dia bekerja pun sedikit sibuk jadi Baekhyun beruntung bisa mendapatkan shift dengan jam yang lumayan panjang. Setelah bernegosiasi dengan manager Subway, manager tersebut memutuskan Baekhyun dapat bekerja pada weekend lunch shift dan dua weekday dinner shift sepulang sekolah karena Baekhyun masih merupakan anak sekolah menengah atas.

Baekhyun pun langsung diajari cara menyusun sandwich dan melayani pelanggan, serta cara mengoperasikan mesin register oleh seniornya di tempat kerja yang bernama Kim Minseok. Minseok merupakan senior yang baik dan sangat telaten dalam menjalankan pekerjaannya. Dalam hati Baekhyun bersyukur mendapatkan pekerjaan yang baik dengan senior yang baik pula.

Sekarang sudah hari ketiga dia bekerja sebagai sandwich artist, dan Minseok merasa dia tidak perlu lagi mendampingi Baekhyun untuk menerima orderan pelanggan. Semua dikarenakan Baekhyun dapat mengingat semua nama produk yang mereka jual dengan sangat baik serta komposisi apa yang ada dalam sandwich tersebut. Semua dihapal Baekhyun hanya dalam waktu sehari saja.

Baekhyun merasa percaya diri dan semangat dengan pekerjaan yang dilakoninya, sampai dua suara berisik yang sering didengarnya mendekati tempat bekerjanya. Demi Tuhan, mereka bahkan belum menginjakkan kaki dalam Subway ini dan Baekhyun sudah dapat mendengarkan suara mereka dari kejauhan.

"Membosankan sekali, Chanyeol bahkan tidak membalas pesanku selama dia ada di China. Teman macam apa itu, hah?"

"Bodoh, dia itu sibuk! Tidak sepertimu yang hanya main perempuan saja!"

"Kenapa kau selalu menyinggung hal itu? Apa kau iri karena perempuan takut dengan muka kotakmu?"

"Yak, kkamjong! Aku juga memiliki fans perempuan!"

Baekhyun menepuk jidatnya keras-keras dalam imajinasinya. Ini baru hari ketiga dia bekerja dan dia sudah harus bertemu dengan teman kelasnya—yang merupakan bagian dari gengnya Chanyeol! Kenapa Tuhan seperti tidak pernah memuluskan jalan hidupnya, ingin rasanya dia bersembunyi di dapur saja, tapi tidak mungkin karena dia ditempatkan sebagai front liner yang artinya dia harus sering bertatap muka dengan pelanggan. Menghembuskan napas, Baekhyun pun maju dan menyapa Kim Jongin.

"Selamat malam, mau pesan apa?" sapa Baekhyun.

"Aku mau pesan—Byun Baekhyun!?" Jongin nampak begitu terkejut dengan kehadiran Baekhyun di tempat ini.

"Ne—mau pesan apa?" Baekhyun mengiyakan. Dalam hati Baekhyun merasa sedikit terkejut, dia tidak menyangka Kim Jongin akan mengingat namanya. Namun setelah Baekhyun pikirkan, wajar saja Kim Jongin mengingat namanya mengingat mereka satu kelas sudah selama 4-5 tahun lamanya hanya tidak pernah bertegur sapa.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jongin.

"Menunggumu mengorder sandwich?" Baekhyun memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan Jongin.

"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" Jongin kembali bertanya bukannya menyebutkan pesanannya.

"Cepatlah!" Baekhyun mulai kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan Jongin, dan antrian pelanggan yang ingin mengorder pun sudah mulai menumpuk di belakang Jongin dan Jongdae.

"Baekhyun-ssi, kau baik-baik saja?" tanya Minseok yang muncul dari balik dapur dan terkejut melihat antrian pelanggan yang menumpuk.

"Orang ini memilih sandwichnya lama sekali." Jawab Baekhyun kesal sambil menunjuk Jongin.

"Ah, tuan. Jika anda belum siap memesan mungkin anda bisa melihat menunya terlebih dahulu dan membiarkan kami menerima order dari pelanggan di belakang anda." Ujar Minseok pelan.

"Tidak, tidak, aku sudah siap mengorder! Aku mau order satu Roasted Chicken Subway!" jawab Jongin terburu-buru. Baekhyun hanya bisa mendelik kesal.

"Mau pakai roti apa?"

"Whole wheat saja."

"6-inch atau footlong?"

"Footlong. Aku lapar!"

Siapa yang nanya? Baekhyun menundukkan kepalanya hanya untuk memutar bola matanya.

"Mau pakai keju apa?" tanya Baekhyun lagi.

"Cheddar." Jawab Jongin. Wajahnya tersenyum memperhatikan Baekhyun yang sedang menyusun sandwichnya.

"Mau pakai sayuran?" tanya Baekhyun.

"Masukkan saja semuanya." Jongin membalasnya lagi dan Baekhyun agak kesal dengan permintaan yang satu ini. Sangat sulit untuk menyusun semua pilihan sayuran yang ada ke dalam sandwich ini, dan Baekhyun baru bekerja tiga hari.

"Mau saos apa?" tanyanya agak ketus setelah kesulitan dengan menyusun sayuran ke sandwich Jongin.

"Hmm.. pilihan yang sulit! Yang manis-manis saja!" balas Jongin.

Baekhyun pun terang-terangan memutar bola matanya tidak perduli lagi walaupun Jongin melihatnya dan asal mengambil saos yang ada dan menuangkannya di atas sandwich Jongin. Jongin hanya tersenyum lebar melihat itu semua.

"Mau garam dan merica?" tanya Baekhyun.

"Please!" senyum Jongin begitu lebar sampai Baekhyun bertanya-tanya apakah pipinya tidak sakit.

Huh, akhirnya selesai juga. Kenapa juga sistem pengorderan di Subway harus serumit ini. Rutuk Baekhyun dalam hatinya. Seumur hidupnya mengenal Kim Jongin, ini pertama kalinya mereka berbicara sebanyak ini. Setelah menyebutkan berapa nominal yang harus Kim Jongin bayar dan menyerahkan pesanan Jongin, Baekhyun kembali melayani pelanggan setelah Jongdae yang telah dilayani oleh Minseok. Mereka berdua melayani pelanggan yang tersisa dengan tempo yang lumayan cepat.

Sementara itu Jongin dan Jongdae yang memilih duduk tidak jauh dari counter menatap kedua sosok itu dengan tatapan yang sama.

"Aku rasa aku akan sering mampir ke sini." Jongdae membuka suara kemudian menggigit sandwichnya namun matanya masih menatap sosok di samping Baekhyun.

"Aku juga." Balas Jongin.

"Maksudmu—" Jongdae membulatkan matanya.

"Yeah." Jongin tersenyum lalu memakan sandwichnya dengan perasaan senang.

"Jangan lupa ajak aku kalau kau mampir ke sini!"

Jongin hanya tersenyum membalasnya.


.

.

.

.


Baekhyun baru saja pulang dari pekerjaan sambilannya ketika dilihatnya Chanyeol sedang tiduran di atas ranjang miliknya di kamarnya. Baekhyun membelalakkan matanya. Dia benar-benar lupa bahwa Chanyeol akan pulang hari Sabtu ini.

"Cha—Chanyeol, kau sudah pulang?" tanya Baekhyun gugup sambil melepaskan tasnya dari pundaknya.

"Ke mana saja kau?" tanya Chanyeol tidak suka sambil bangkit dari tempat tidur milik Baekhyun.

"Dari perpustakaan, aku mengembalikan buku yang masa pinjamnya sudah mau berakhir." Bohong Baekhyun. Suaranya terdengar begitu stabil, entah sejak kapan dia jadi pandai berbohong seperti ini.

"Aku menunggumu sudah tiga jam lebih." Chanyeol menatap Baekhyun curiga. Chanyeol bisa merasakan bahwa ada yang disembunyikan oleh Baekhyun.

"Aku juga melihat-lihat buku yang lain." Balas Baekhyun sambil menanggalkan coat yang dikenakannya.

Chanyeol terdiam mendengar perkataan Baekhyun. Begitu dia mendarat di Korea dia langsung bergegas ingin pulang ke mansionnya untuk menemui Baekhyun sementara ayahnya langsung menuju kantor lagi untuk menyelesaikan berkas yang tertunda sementara mereka berada di China. Namun begitu dia pulang dia tidak bisa menemukan Baekhyun di mana pun. Ditanyakannya mengenai hal ini pada Heechul namun Heechul hanya menjawab bahwa Baekhyun ada urusan sebentaran di luar namun tidak menyebutkan urusan apa yang akan dilakukannya.

Tidak biasanya hal ini terjadi. Biasanya Baekhyun selalu diam di rumah dan belajar karena dia tidak memiliki teman di sekolah, baginya tidak ada alasan untuk keluar dan hangout seperti yang kadang Chanyeol lakukan dengan teman sekelasnya.

Mata bulatnya menatap penuh curiga sementara Baekhyun berusaha menghindari tatapan itu dan berjalan menuju meja belajarnya dan meletakkan tasnya. Baekhyun hanya berharap Chanyeol tidak membuka tasnya sebab di dalam tasnya dia menyimpan baju seragam tempat dia bekerja sambilan.

"Lu-ge menitipkan sesuatu untukmu." Kata Chanyeol sambil memegang sebuah kantung kertas kecil.

"Benarkah?" suara Baekhyun mendadak berubah lebih ceria dan matanya berbinar-binar mendengarkan hal ini. Dia berjalan riang menuju ke arah Chanyeol hendak meraih kantung kertas kecil itu sebelum Chanyeol mengangkat tangan yang memegang kantung kertas itu tinggi-tinggi.

"Hey!" protes Baekhyun kesal.

"Tidak secepat itu." Ujar Chanyeol dengan wajah datarnya.

"Apa maksudmu? Ish! Milikku! Kemarikannn!" Baekhyun melompat-lompat berusaha menggapain kantung kertas yang masih diangkat tinggi-tinggi oleh Chanyeol. Namun sia-sia karena perbedaan tinggi mereka yang begitu jauh.

"Chanyeol!" Baekhyun menggeram kesal sambil menghentakkan satu kakinya.

"Kalau kau menginginkan ini tentu kau tahu ini tidak gratis."

"Hah? Itu milikku! Kau sendiri yang mengatakan bahwa Lu-ge menitipkan sesuatu untukku!" Baekhyun kesal bukan main. Chanyeol selalu berhasil menyulut emosinya, betul-betul berbeda dengan Chanyeol yang dulu yang selalu membuatnya tersenyum dan tertawa.

"Kau pikir jasa kurirku dari China ke Korea itu gratis?" sindir Chanyeol.

"Sejak kapan kau sepelit ini?" sindir Baekhyun balik.

"Kau harus tahu di dunia ini tidak ada yang gratis, Baek—"

Chanyeol belum menyelesaikan perkataannya dan Baekhyun sudah meraih wajahnya dengan kedua tangannya dan menyatukan bibir mereka berdua. Chanyeol pun merengkuh pinggang Baekhyun dengan satu tangan dan memperdalam ciuman mereka berdua. Dilemparnya asal kantong kertas itu ke bagian atas ranjang dan dia menggunakan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Baekhyun dan memperdalam ciuman mereka.

Bibir keduanya saling melumat satu sama lain. Lidah Chanyeol menerobos masuk ke dalam mulut Baekhyun dan bermain dengan lidah Baekhyun. Sensasi yang amat sangat dia rindukan seminggu terakhir ini. Air liur mereka saling bercampur satu sama lain, membuat gairah Chanyeol semakin tinggi. Diperdalamnya ciuman itu, dicengkramnya wajah Baekhyun dan dimasukkannya lidahnya lebih dalam lagi, menyapa bagian dalam mulut Baekhyun.

Tak selang berapa lama, bibir mereka berdua terlepas dan Chanyeol memeluk Baekhyun dan menenggelamkan hidungnya di tengkuk leher Baekhyun. Rasa bersalah dan takut seolah bercampur menjadi satu. Chanyeol selalu merutuki dirinya yang masih duduk di bangku SMA dan masih patuh dengan kuasa ayahnya. Ia ingin menjadi orang yang memegang kekuasaan.

Ada ketakutan dalam diri Chanyeol yang menyebabkan dirinya begitu posesif terhadap diri Baekhyun seperti sekarang ini. Sepanjang perjalanan pulang ayahnya tak berhenti menyinggung soal dirinya yang begitu lembek. Hanya karena dia akrab dengan Luhan dan Baekhyun hingga harus membela mereka seperti ini.

Yunho berpendapat bahwa dia sudah berbaik hati mau mengasuh Luhan dan Baekhyun semenjak kecil sejak orang tua mereka meninggal, memberi mereka tempat tinggal di mansion mereka, menyekolahkan mereka di sekolah terbaik, memberin mereka makanan yang sama dengan Chanyeol santap setiap harinya padahal mereka bukanlah siapa-siapa. Jadi wajar saja kalau Luhan mengabdikan dirinya kepada perusahaan. Toh, Luhan bukan anak di bawah umur dan dapat membuat keputusannya sendiri sebagai seorang pria dewasa.

Rahang Chanyeol mengeras dan dia setengah mati berusaha menahan dirinya untuk tidak membunuh ayahnya di tempat begitu dia mendengar ayahnya menyinggung soal Baekhyun dan masa depan Baekhyun. Ayahnya masih berpikir apakah sebaiknya Baekhyun ditempatkan di cabang Korea atau cabang China, namun ayahnya berpikiran untuk melebarkan cabang di Jepang juga. Dengan paras Baekhyun yang cantik rasanya tidak akan susah untuk menggaet investor Jepang, canda ayahnya. Chanyeol tidak akan membiarkan ayahnya memanfaatkan Baekhyun sama seperti ia memanfaatkan Luhan. Baekhyun hanya miliknya. Semuanya harus berjalan sesuai dengan rencana Chanyeol yang telah ia susun. Chanyeol hanya perlu mengulur waktu dan jika waktunya sudah tiba, semua akan berjalan sesuai dengan rencananya.

"Chanyeol?" suara kecil Baekhyun menyadarkan Chanyeol dari lamunannya.

Baekhyun menatap Chanyeol bingung. Sikap Chanyeol terasa begitu aneh hari ini. Mungkinkah terjadi sesuatu di China? Baekhyun bertanya dalam hatinya.

"Kau hanya milikku, Baekhyun."

"Eh?"

"Aku tidak akan membiarkan seorang pun mengambilmu dariku!"

Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan melempar tubuh Baekhyun ke atas ranjang.

"Chanyeol!" ronta Baekhyun saat Chanyeol menindihnya. Baekhyun ingin meronta lebih keras lagi, namun dia teringat akan kata-kata Chanyeol barusan. Dan apabila dia meronta kemungkinan Chanyeol menyetubuhinya dengan kasar akan lebih besar. Sungguh dia tidak ingin mengulang kejadian tempo hari di mana dalamnya sampai berdarah dan lecet karena Chanyeol bermain terlalu kasar.

"Aku merindukan kekasihku." Chanyeol meraup lapar bibir Baekhyun lagi. Tangan Chanyeol dengan lincah membuka kemeja yang dikenakan Baekhyun dan melepas kaitan celana Baekhyun sebelum menarik celana itu lepas dari tubuh Baekhyun. Ditatapnya tubuh Baekhyun dengan kemeja terbuka yang menampilkan dada Baekhyun yang mulus dan paha putihnya dengan lapar. Seminggu tidak menyentuh tubuh Baekhyun membuat bercak-bercak yang ditinggalkan Chanyeol sudah mulai memudar. Sementara Baekhyun kali ini memilih diam, sebab ia sadar jika ia melawan lebih banyak maka Chanyeol akan bermain kasar dan dia takut dia tidak bisa bekerja keesokan harinya.

Chanyeol meraih pegangan laci di meja belajar yang terletak di samping tempat tidur Baekhyun dan dikeluarkannya botol pelumas yang disediakannya di kamar Baekhyun. Ditariknya celana dalam milik Baekhyun yang disertai protes oleh Baekhyun yang tidak diperdulikan oleh Chanyeol.

Chanyeol menuangkan pelumas itu ke jarinya dan melebarkan paha Baekhyun dengan tangan satunya. Tanpa aba-aba Chanyeol langsung memasukkan dua jari ke dalam liang hangat Baekhyun.

"Dingin!" pekik Baekhyun. Badannya terkejut dengan jari Chanyeol dan pelumas yang terasa dingin itu. Cuaca yang dingin akhir-akhir ini mengakibatkan suhu pelumas itu lebih dingin dari biasanya.

"Tahan sedikit, Baekhyun." Chanyeol memaju mundurkan jarinya dan perlahan pelumas itu mulai menghangat mengikuti suhu tubuh Baekhyun.

"Hnngh—" Baekhyun memejamkan matanya dan mengulum bibirnya menahan sensasi di bawah tubuhnya. Jari-jari milik Chanyeol selalu tahu bagaimana cara memanjakan dirinya. Baekhyun mulai menikmati sensasi jari-jari Chanyeol yang menyeruak masuk mencari titik nikmatnya.

Baekhyun menggelinjang hebat saat jari tengah Chanyeol menemukan prostat miliknya. Jari Chanyeol ditekuk dan menekan-nekan titik nikmat itu terus menerus yang menyebabkan Baekhyun berusaha mendorong tubuh Chanyeol menjauh karena rangsangan yang terlalu kuat itu membuat Baekhyun tak tahan dengan kenikmatan yang melanda tubuhnya. Chanyeol memasukkan satu jari lagi ke dalam tubuh Baekhyun dan bermain di dalam sana sementara Baekhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya keras, menahan pekikan yang meronta ingin keluar dari tenggorokannya.

Chanyeol mengeluarkan jemarinya dari anus Baekhyun dan membuka celana miliknya. Dikeluarkannya penisnya yang sudah mengeras sedari tadi dan dituangkannya pelumas tambahan di tangannya dan diusap-usapkannya ke penisnya. Mata Baekhyun menatap penis Chanyeol dan wajanhnya memerah. Sudah puluhan kali mereka melakukan hal ini namun Baekhyun masih tetap saja malu setiap kali akan dimasuki oleh Chanyeol. Bagaimana penis sebesar itu bisa masuk dan mengacaukan dirinya masih menjadi sebuah pertanyaan bagi Baekhyun.

Chanyeol tersenyum kecil menatap Baekhyun yang tampak lebih jinak malam ini.

"Bisa kau tuntun dia ke sarangnya?" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun. Wajah Baekhyun seperti terbakar namun dia menyanggupi permintaan Chanyeol. Kedua pahanya direntangkannya dan diraihnya penih Chanyeol perlahan, digenggamnya dan dikocoknya pelan sebelum di dekatkan ke liang miliknya.

"Chanyeol—" Baekhyun memprotes kecil. Demi apapun ini posisi ini sangat memalukan. Kaki yang terbuka lebar dan tangannya sedang memegang penis milik Chanyeol yang sudah sangat siap memasuki lubangnya. Baekhyun hanya perlu memundurkan tangannya sedikit lagi, dan kepala penis milik Chanyeol akan masuk ke dalam lubangnya.

"Baekhyun." suara Chanyeol terdengar begitu berat. Napasnya menderu, tak sabar ingin menghantamkan miliknya ke dalam Baekhyun, namun dia ingin Baekhyun sendiri yang memasukkan miliknya ke dalam Baekhyun.

Baekhyun menggigit bibirnya frustasi, alih-alih memajukan penis Chanyeol ke arah liangnya, Baekhyun memajukan pantat miliknya ke arah penis Chanyeol. Kepala penis milik Chanyeol pun amblas memasuki liang sempit milik Baekhyun. Liang anal itu langsung berkedut-kedut memanjakan kepala penis milik Chanyeol, mereka berdua sama-sama mendesis menikmati sensasi yang ditimbulkan.

Perlahan demi perlahan Baekhyun memasukkan penis Chanyeol ke dalam diriya, menikmati sensasi dirinya membuka diri menyambut penis Chanyeol dalam tubuhnya. Setiap inchi yang berhasil dimasukkannya membuat napasnya tersengal-sengal. Akhirnya seluruh penis Chanyeol berhasil ia masukkan sendiri ke dalam tubuhnya. Baekhyun bisa merasakan penis Chanyeol yang berkedut-kedut di dalam dirinya dan tanpa sadar dirinya memijat-mijat penis itu dengan otot-otot liangnya, menikmati sensasi panas dan penuh bagian bawah tubuhnya.

Mereka berdua terdiam untuk sementara, Chanyeol membiarkan Baekhyun terbiasa dulu menerima dirinya di dalam tubuhnya. Dada Baekhyun naik turun menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Saat dirasanya Baekhyun sudah siap, Chanyeol pun mulai bergerak. Dikeluarkannya ¾ penisnya sebelum dihantamkannya masuk kembali menghujam keras prostat milik Baekhyun. Baekhyun memekik dalam tangannya menahan sensasi yang timbul.

Chanyeol mengangkat pinggul Baekhyun agak bisa masuk lebih dalam lagi, mereka bergumul satu sama lain. Saling menikmati tubuh satu sama lain. Sesekali Chanyeol mencuri ciuman dari bibir mungil milik Baekhyun sambil memainkan puting miliknya. Erangan nikmat tertahan pun keluar dari mulut Baekhyun.

Chanyeol pun memeluk tubuh Baekhyun posesif. Dirasakannya dirinya sudah mau sampai, dieratkannya pelukannya pada tubuh Baekhyun. Baekhyun merasa sesak luar biasa, Chanyeol memeluknya terlalu erat hingga ia sulit untuk bernapas. Ditambah lagi dengan tusukan Chanyeol yang terlalu cepat temponya, Baekhyun seperti bisa merasakan sebentar lagi Chanyeol akan keluar di dalamnya. Baekhyun berharap Chanyeol cepat keluar karena dirinya sudah amat sangat lelah dan dia merasa akan kehilangan kesadarannya sebentar lagi.

Satu hentakan pada prostat milik Baekhyun dan Baekhyun pun tidak bisa menahan orgasmenya lebih lama lagi. Liangnya mengetat dan menjepit penis Chanyeol dengan keras. Dikeluarkannya cairan putih miliknya mengotori dada Chanyeol dan dada miliknya. Ditariknya satu napas dalam dan tubuhnya menggelinjang kecil akibat sensasi orgasme yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya menjadi lebih sensitif setelah orgasme namun penis Chanyeol belum juga keluar dan masih terus minta dimanjakan oleh liangnya yang masih mengetat akibat orgasme tadi. Dinding-dinding analnya terasa begitu sensitif sekarang dan terus berkedut-kedut menerima Chanyeol yang masih keluar-masuk di dalamnya.

"Chan—Chanyeollhh—" desah Baekhyun pelan. Dia mulai merasa lelah, wajar saja karena dia sehabis bekerja dan begitu pulang kerja dia langsung melayani kekasihnya yang baru saja balik dari China.

Chanyeol pun mencapai orgasme setelah mendengar Baekhyun mendesahkan namanya. Ditumpahkannya semua benihnya dalam tubuh Baekhyun dan Baekhyun hanya bisa menerima semua benih Chanyeol sambil terbaring lemas. Baekhyun terkulai lemas sementara Chanyeol menghujani wajah Baekhyun dengan ciuman-ciuman kecil sambil memaju-mundurkan pelan pinggulnya hingga dirasanya tak ada lagi sperma yang keluar.

"Aku ingin kau tahu, bahwa apapun yang terjadi kelak.. aku tak akan melepaskanmu.." Bisik Chanyeol ke telinga Baekhyun.

Baekhyun mengangguk lemah, tidak fokus dengan perkataan Chanyeol.

"Baik itu ayahku, maupun Seulgi.. tak akan kubiarkan mereka menghalangiku untuk tetap memilikimu."

Baekhyun pun kehilangan kesadarannya setelah mendengar kalimat itu.


.

.

.

.


TBC

A/N: Hahahaha! Betapa ku kangen Hunhan, Ya Tuhan. :v Kemarin masa saya lagi ngobrol sama teman soal telenovela dan masa kepikiran bikin cerita hunhan yang terinspirasi dari beberapa episode telenovela yang sering saya tonton waktu masih kecil tentang cewek miskin tomboy tapi jago main bola dan orang kaya angkuh dan sombong gitu lah. Biasa cerita telenovela. Hunhan banget kan? /ga

Bhaks. Omongan ga penting, abaikan. :v

Chanyeol pulang dari China bukannya bertobat sikapnya makin mirip Yunho. :V

Makin sinetron ga sih? Wkwkwk! Ditunggu komentarnya ya.

TERIMA KASIH KEPADA

cecilyn, n3208007, gloriadelafenni, mumut, aphroditears, parkbaexh614, Eun810, Puji Hkhs, BabyWolf Jonginnie'Kim, AeriBee61, ChanBaekGAY, dywhut, yousee, deboramichailin, Ellaqomah, mphi, LyWoo, putrinurdianingsih30, Meli Channie, micopark, hyunriyeol, lolliyeol, Guest, kickykeklikler, chanbaekssi, rizkaa, metroxylon, Ricon65, fima, yumiko.f, chanyeolisbaekk, enyak, babybaekhyunee7, Guest(2), , Vinna614, Summer Mei, byunlulu97, Nurfadillah, Hyurien92, xiaobao, Guest(3)

thank you for reading.

Review?