-_ Ui Present _-

000 SUBTITUTE LOVE 000

Pairing : KyuWook, YeWook

Disclaimer : Mereka milik Tuhan YME dan diri mereka sendiri

Warning : Gendreswitch, AU, OOC maybe, serta kekurangan kekurangan lain yang tak bisa dihindarkan

Rated : T aja

Summary :

READ N RIVIEW PLEASE

DON'T LIKE READ

...

..

.

4. Big Brother's Love

FLASHBACK

"Nah sekarang Wookie senang, tak marah lagi pada Eomma hmm?" Tanya seorang wanita cantik berambut coklat yang tengah duduk di belakang kemudi. Jemari lentiknya menelusuri surai coklat sang anak yang sempat ngambek karena permintaannya tak dituruti. Kini mereka tengah dalam perjalanan pulang setelah pergi untuk memenuhi keinginan anak manisnya.

"Wookie senang sekali Eomma, setelah ini Ryeowookie janji akan giat belajar jadi bisa lulus dengan nilai memuaskan. Agar bisa membanggakan Eomma dan Appa juga bisa pamer pada Heechul Oppa, he..he.." Janji bocah berusia 11 tahun itu pada sang Eomma, perasaannya sangat bahagia karena sang ibu menurutinya untuk mengikuti kontes menyanyi yang diselenggarakan oleh sebuah mall besar itu meski sang ayah menentang keras hobi menyanyinya. Setidaknya eommanya mengerti keinginan dan cita-citanya untuk bernyanyi meski harus menentang sang appa.

"Tapi Eomma bangga sekali lho sama Ryeowookie, Wookie bisa mengalahkan banyak peserta dan keluar sebagai juara. Eomma bangga sekali…." Ucap wanita yang bernama Park Jung Soo atau biasa dipanggil Leeteuk sembari mengecup pipi chubby sang putri tunggalnya.

"Apa Appa juga bangga padaku Eomma?" Tanya Ryeowook lirih, ia menatap piala yang dipangkunya sedih. Sang ayah tak pernah menyukainya menyanyi sejak dulu, bahkan untuk menyanyi disekolah sekalipun sang ayah tak pernah setuju. Ia tak tahu apa yang salah dari hobby menyanyinya dimata ayahnya, ia tak merasa hal ini negatif untuk kehidupannya.

"Appa juga pasti bangga denganmu chagi, Otousan kan sangat sayang pada Wookie." Ucap Leeteuk berusaha membesarkan hati sang anak, sejujurnya ia juga tak mengerti mengapa Kangin suaminya sangat menentang keinginan putri tunggal mereka ini. Ia merasa tak ada yang salah dari menyanyi namun Kangin bersikeras untuk tak mengizinkan nyanyian masuk dalam kehidupan anaknya.

Ketenangan yang damai itu terpecah dengan adanya bunyi sebuah tembakan disertai laju mobil yang tak lagi normal. Leeteuk yang sadar terjadi sesuatu yang aneh memeluk Ryeowook erat, sang supir mencoba menginjak rem untuk menghentikan laju mobil itu gagal karena rem mobil ternyata blong. Mobil itu terus melaju tanpa kendali hingga tembakan kedua terdengar nampak sang sopir kini telah tak bernyawa dengan luka tembak didadanya. Ryeowook hanya memandang wajah ibunya yang panik, ia hanya bisa mengeratkan pelukannya pada sang ibu.

"Semua akan baik-baik saja chagiya. Tenang saja, ada Eomma disini, Eomma akan mejagamu." Ucap Leeteuk menenangkan sang buah hati yang mulai ketakutan. Sejujurnya ia takut, ia takut tak bisa lagi bersama suami dan kedua buah hatinya. Leeteuk menutup matanya merasakan laju mobil yang semakin tak terkendali hingga sebuah truk tampak melaju kencang dari arah berlawanan dan menghantam mobil yang mereka tumpangi dengan keras.

"Eomma bangun, Eomma bangun. Wookie takut Eomma." Ryeowook menggoncang tubuh ibunya pelan, ia bisa melihat kepala Leeteuk banyak mengeluarkan darah. Sedangkan ia baik-baik saja karena Leeteuk yang mendekapnya erat, ia hanya mendapat luka kecil dari kecelakaan yang baru saja ia alami.

"Wookie..Ryeo..wookie..cha..gi, ka..mu..ha..rus..ba..ha..gia ya, un..tuk..Eom..ma?." Ucap Leeteuk lalu mencium kening sang anak dalam untuk terakhir kalinya. Ryeowook menatap nanar wajah sang ibu,mata coklat hangat yang biasa menatapnya penuh cinta kini telah tertutup, dan tak ada hembusan hangat dari napas sang ibu. Ia hanya bisa menatap kosong wajah ibunya yang terbalut cairan merah, ia tak bisa lagi merasakan apa-apa hingga akhirnya kegelapan menyapanya.

FLAHBACK END

Ryeowook menangis dalam diam, air deras yang mengucur dari shower kamar mandinya deras bercampur dengan air asin yang tak mau berhenti dari kedua belah matanya. Ia menggenggam erat seragam sailor yang masih melekat lengkap pada tubuhnya. Sakit hanya satu rasa itu saja yang menyeruak keluar tak terkendali lagi ketika mengingat kenangan masa lalunya, masa dimana ia ingin mati menyusul sang ibu daripada merasakan luka yang tak terperi ini.

'Eomma aku tidak bahagia, kenapa Eomma tak mengajakku juga saat itu, setidaknya aku tak akan sesakit ini Eomma. Aku sakit Eomma, disini sangat sakit.' Air mata itu mengalir lebih deras lagi, ia semakin mengeratkan cengkaraman tangannya didada, berharap rasa sakit akan berkurang disana. Tak dihiraukannya bibir yang hampir membiru beku. Sepulang dari pantai tadi ia segera mengurung diri dalam kamar mandi, kebiasaan yang selalu ia lakukan di awal kepergian sang Eomma.

Mungkin Appanya benar, Ia yang telah membunuh Eommanya sehingga sang Eomma memilih membiarkannya hidup dan tersiksa. Mungkin ini balasan dari Tuhan untuknya, karena jika ia tak memaksa mengikuti kontes menyanyi impiannya sang ibu masih didunia ini, bersamanya, memeluknya dalam hangat.

'Apa ini hukuman untuk pendosa sepertiku Tuhan? Apa sudah tak ada lagi bahagia yang tersisa untukku? Mengapa semua yang ku cintai meninggalkan ku Tuhan, ku mohon bebaskan aku Tuhan.' Ryeowook menggenggam kalung Rosario bermanik biru hadiah dari Heechul 2 tahun lalu erat, hingga akhirnya kegelapan menyergapnya tapi sebelum itu ia masih bisa melihat manik hitam sang kakak menatapnya khawatir.

"Op..pa."

.

/..

/..

.

Heechul POV

"Op..pa." Aku masih bisa mendengar panggilannya ketika sebelum ia benar-benar pingsan di pelukanku. Segera ku angkat tubuhnya yang sudah benar-benar basah ketempat tidurnya dan segera berlari ke luar menuju ruang tengah tempat kedua sahabatku berada.

"Sungmin-ah bantu aku." Ucapku pada gadis berambut hitam yang tampak bingung melihat penampilanku yang acak-acakan dan basah. Namun akhirnya ia mengangguk dan mengikutiku disusul dengan Hankyung dibelakangnya.

Kami berlari cukup cepat kearah kamar Ryeowook berada, aku khawatir jika aku meninggalkannya terlalu lama sesuatu yang buruk akan terjadi.

"Astaga Wookie-ah, apa yang terjadi Oppa?" Tanya Sungmin padaku melihat keadaan Ryeowook basah dan begitu pucat, ia segera mengambil handuk dan mengeringkan rambut Ryeowook.

"Aku akan mengganti bajunya, kalian keluarlah." Perintah Sungmin, aku hanya bisa mengangguk dan melangkah keluar diikuti Hankyung yang sejak tadi hanya diam tak bersuara sedikitpun.

Kududukan tubuhku disofa ruang baca yang tepat didepan kamar Ryeowook dan kamarku. Aku mendongak sejenak, merebahkan kepalaku pada sandaran kursi berwarna pastel kesukaan Ryeowook. Aku mengusap wajahku keras, aku merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik yang seharusnya melindungi dan menjaga adikku seperti janjiku di depan makam Eomma dulu. Aku seharusnya mampu menjaga Ryeowookie, melindunginya dari keterpurukan, namun apa? aku sekarang harus melihat lagi adik kesayanganku terpuruk untuk kesekian kalinya. Dan aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa menjadi penonton, aku tak bisa melindungi Ryeoweookimaafkan aku Eomma, maafkan ketidakmampuanku.

Aku menutup mukaku mencoba menghalau perasaan sakit yang mulai mendera setiap aku gagal melindungi Ryeowook, aku merasakan sebuah tepukan menyapa punggungku. Aku tahu pasti Hankyung sahabat terbaikku, dapat ku rasa sebuah perasaan hangat melingkupiku ketika sahabatku dari kecil memelukku, mencoba mengurangi beban dari pundakku.

"Semua akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkanku.

Heechul POV END

.

/..

/..

.

"Mengapa Wookie-ah seperti ini lagi?" Tanya Sungmin setelah ia selesai mengganti baju Ryeowook dan menempelkan plester turun panas, ia mendudukan dirinya dihadapan kedua sahabatnya.

"Aku tak tahu, ia masih baik-baik saja tadi pagi." Ucap Heechul, ia sungguh tak tahu mengapa Ryeowook seperti ini lagi. Terakhir kali Ryeowook seperti ini tepat peringatan satu tahun kematian sang ibu karena setelahnya ada Yesung yang selalu disamping Ryeowook melindunginya dari semua rasa terpuruk yang mendera Ryeowook.

"Kau harus lebih memperhatikannya, ia membutuhkanmu untuk menguatkan hatinya." Ucap Hankyung, menepuk bahu sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri yang kini tampak sangat rapuh. Ini adalah sosok Heechul yang sebenarnya, yang selama ini ia lihat dan Heechul tunjukkan hanya sebuah topeng, topeng keangkuhan yang menutupi kelemahannya.

"Lebih baik kami pulang, kau butuh istirahat Oppa. Dan jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku, mengerti, aku akan datang secepat yang aku bisa?" Ucap Sungmin sembari memeluk Heechul ringan layaknya seorang ibu pada anaknya.

"Kau juga bisa menghubungiku sobat, atau mungkin aku harus menginap disini malam ini?" Tanya Hankyung..

"Tidak perlu Hankyung-ah, Terima kasih." Ucap Heechul tulus, ia memang hanya menampakkan kerapuhannya pada kedua sahabatnya ini. Sahabat yang selalu menemaninya meski ia sedang susah ataupun senang. Sahabat yang menjadi penopangnya saat ia putus asa yang selalu memberikannya semangat.

Heechul melangkahkan kakinya kearah kamar adik kecilnya sepeninggal kedua sahabatnya pulang, sebuah kamar sederhana bercatkan kuning pucat dengan perabotan seperlunya. ia melangkah lebih gelap, ia menatap dalam wajah pucat adiknya yang tampak tenang dalam tidurnya. Tak ada wajah terluka ataupun kesakitan disana, itulah mengapa Heechul sangat menyukai wajah tidur sang adik.

"Apa yang membuatmu seperti ini lagi Wookie-ah?"

"Jangan buat aku tampak seperti kakak yang tak berguna untukmu." Heechul mengusap pelan surai coklat sang adik yang dibiarkan panjang dibanding dengan beberapa tahun lalu yang hanya sebatas pundak.

Heechul tak beranjak dari sana,bahkan ia merebahkan dirinya disamping Ryeowook, sungguh ia tak bisa meninggalkan Ryeowook walau selangkah. Ia tak mau kehilangan lagi, tidak lagi saat ini hanya Ryeowook yang ia miliki.

Ia menatap teduh wajah sang adik disampingnya, ia kecup dalam kening hangat Ryeowook yang terlapisi plester turun panas. Dan mulai memejamkan mata, ia merasa sangat lelah dengan semuanya pada takdir yang mempermainkan kehidupan mereka. Tangan hangatnya ia tautkan erat dengan tangan kecil yang dulu selalu digandengnya. Dan kegelapan melelapkannya, meringkankan semua rasa sakitnya walau sejenak.

.

.

.

/..

/..

.

.

.

Kyuhyun menatap langit gelap diatas sana tak ada satupun bintang yang tampak dilangit Seoul malam ini, ia menghela napas pelan saat bayangan Ryeowook saat ia mengantarnya pulang muncul diingatannya. Ia bisa melihat luka yangdalam dimata coklat yang nampak memerah karena menangis saat bermain piano dibibir pantai.

'Hyung apa aku salah?' Tanya Kyuhyun pada angin berharap angin akan mengantarkan kegundahan hatinya pada sosok sepupu yang ia cintai. Kyuhyun menatap kalung ditangannya, kalung milik Yesung sepupunya, ia masih ingat saat Yesung pulang ke Busan 2 tahun lalu. Bagaimana pancaran kebahagiaan diwajah sepupunya saat ia menceritakan sosok seorang gadis yang ia cintai.

FLASHBACK ON

"Kyuhyun-ah apa kau tahu mencintai itu akan seindah ini?" Tanya Yesung saat ini ia tengah menginap di rumah sepupunya di Busan tempat kelahirannya.

"Tidak, memang ia seperti apa hingga hyung begitu mencintainya. Aku jadi cemburu." Jawab Kyuhyun tanpa melihat Yesung yang berbaring disampingnya, ia terlalu fokus pada kotak hitam yang ada ditangannya.

"Kau tak perlu cemburu Kyunie, kau akan tetap menjadi adik kesayangan hyung." Jawab Yesung sambil mengacak rambut Kyuhyun sejenak. Yesung mengubah posisi tangannya sebagai bantal kepalanya, ia menerawang jauh.

"Kau tahu Kyunie, ia gadis yang sangat manis. Suaranya sangat indah bagaikan nyanyian surga, tapi ada luka disana dan aku berjanji akan menghapus luka itu."

"Eh, ia penyakitan hyung?" Tanya Kyuhyun pada Yesung namun sebuah jitakanlah yang menjadi jawabannya.

"Bukan begitu Kyuhyun pabbo, maksudku ia punya masa lalu yang buruk." Jawab Yesung sebelum akhirnya kembali menatap langit-langit kamar Kyuhyun.

"Owh, aku tak tahu hyung. Lebih baik aku berpacaran dengan kekasihku ini." Jawab Kyuhyun sembari memamerkan kekasihnya yang setia digenggamannya.

"Haish kau ini, suatu saat kau akan tahu setelah merasakan cinta. Kau mau mendengar semua kisahku bersamanya kan Kyu?" Tanya Yesung.

"Terserah kau saja hyung, meski aku melarang kau pasti akan tetap menceritakannya." Keluhan Kyuhyun itu hanya disambut tawa dari Yesung.

FLASHBACK END

Kyuhyun menutup matanya ketika ingatan masa lalunya tentang Yesung menyeruak dalam otaknya, ia menahan rasa sakit itu sedikit dengan memeluk erat kalung pemberian Yesung. Hingga sebuah suara familiar menyapanya.

"Kau sedang apa Kyuhyun-ah?" Tanya Siwon yang melihat Kyuhyun duduk termenung dibalkon apartement mereka. Ia mendudukan diri di samping Kyuhyun, Siwon tersenyum miris menatap kalung yang ada digenggaman Kyuhyun.

"Kau merindukannya Kyuhyun-ah?" Tanya Siwon, pertanyaan yang bodoh memang tanpa ia Tanya sekalipun ia tahu jawabannya karena ia juga merasakan hal yang sama.

"Hyung juga merindukannya." Ucap Siwon saat melihat adiknya menganggukkan kepala, ia membelai kepala sang adik lembut saat ini mereka hanya tinggal berdua di Seoul sedangkan orang tua mereka di Busan, hingga sudah menjadi kewajibannya untuk menjaga Kyuhyun selama di Seoul.

"Mungkin kita harus pulang ke Busan saat liburan nanti, kau setuju?" Tanya Siwon.

"Ya Hyung." Jawab Kyuhyun sembari menatap ke kota Seoul yang nampak indah dari balkon apartemen mereka.

.

.

.

/..

/..

.

.

.

Sepasang kelopak mata itu terbuka memperlihatkan sepasang bola mata coklat indah yang mengerjap-ngerjap pelan mencoba menyesuaikan dengan cahaya yang masuk dalam matanya. Ia menyadari ada sesuatu yang berat melingkari menolehkan wajahnya, tampak wajah yang selalu menemani harinya. Berada disampangnya, melingkarkan tangan kirinya pada tubuh Ryeowook posesif.

Ryeowook membelai pelan wajah Oppanya yang tampak tenang sekali ketika tidur, siapa sangka wajah tenang ini akan sangat ketus ketika bangun nanti. Ryeowook menyusuri wajah sang kakak, ia dapat melihat dengan jelas raut wajah lelah dan kantung mata yang sedikit menghitam.

"Mianhae Oppa, aku selalu menyusahkanmu." Mata coklat indah itu mulai dihiasi genangan air yang siap meluncur kapan saja. Ryeowook segera saja menghapus air matanya sebelum terjatuh deras.

Ia melepaskan pelukan sang kakak pelan, tapi baru disadari tangan kanan Heechul menggenggam erat tangannya. Ia tersenyum kecil, ia melepaskan genggaman itu perlahan tak ingin membangunkan Heechul yang pasti kelelahan menjaganya.

Ryeowook melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkannya dengan dapur dan ruang tengah makan. Ia melanglahkan kakinya pasti, rumah ini sudah dihuninya dengan Heechul lebih dari 4 tahun bersama. Rumah yang dibeli Heechul dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri.

Setibanya di dapur minimalis ini, segera ia memakai celemek dan mulai melihat isi kulkas. Memutuskan untuk membuat nasi goreng saja karena tak banyak bahan yang tersisa dikulkas. Ryeowook mulai memotong bahan-bahan dengan lincah, dan mencampurkannya di penggorengan.

Jangan heran jika Ryeowook sangat lincah dengan kegiatan memasak, karena memang sejak tinggal dengan Heechul Ryeowooklah yang memasak, meski diawal masakannya sedikit hancur. Namun Heechul tak pernah protes dan tetap memakan masakannya.

Segera saja Ryeowook menghidangkan makanannya di meja tempat mereka merangkai miniature milik Heechul beberapa hari yang lalu. Ryeowook baru saja akan membangunkan Heechul namun nampaknya tak perlu karena Heechul sudah menuruni tangga dengan tampang mengantuk dan rambut acak-acakan.

"Pagi Oppa." Sapa Ryeowook sambil melepaskan celemeknya dan meletakkannya dimeja dapur.

"Pagi, huaah.. ngantuk sekali." Ucap Heeechul disela-sela kegiatan menguap dan peregangan tubuh paginya.

Segera saja Heechul duduk pada Zaisu yang tersedia disusul Ryeowook duduk disampingnya. Mereka makan dengan diam tak ada sepatah kata apalagi candaan yang biasanya terlihat mencoba tidak mengungkit kejadian semalam.

"Hari ini tak usah pergi sekolah, aku akan menghubungi Nenek sihir supaya menijinkanmu tak masuk. Kita akan pergi ke suatu tempat." Ucap Heechul santai tanpa perubahan emosi berarti den melanjutkan makannya dengan tenang.

"Hmm, baiklah. Dan jangan panggil Halmoni seperti itu Oppa." Ucap Ryeowook mengoreksi kebiasaan Heechul yang suka memberikan julukan aneh kepada nenek mereka, keluarga yang masih mau menerima Ryeowook dan tak menyalahkan kematian Leeteuk pada Ryeowook.

"Terserah." Ucap Heechul cuek.

.

.

.

/..

/..

.

.

.

Mereka baru sampai disebuah area pemakaman yang cukup jauh dari keramaian kota, mereka melangkah beriringan menuju sebuah makam yang sudah mereka hapal tempatnya. Angin dingin meniup cukup kencang melambaikan dress biru selutut yang digunakan Ryeowook, ia menata lagi syal kremnya yang berantakan karena tiupan angin sedang Heechul nampak berjalan dengan tenang di sampingnya.

Mereka tiba disebuah pusara dengan nisan marmer putih yang tampak terawat. Terukir jelas disana sebuah nama yang begitu mereka sayangi 'Park Jung Soo'. Mereka membungkukkan tubuh mereka sejenenak memberi penghormatan saat bertemu Sang Eomma Heechul meletakkan lili putih kesukaan sang ibu yang tadi ia bawa. Mereka mengatupkan kedua tangan erat memanjatkan do'a dan kata-kata yang ingin mereka sampaikan pada sang ibu.

'Eomms maafkan aku, aku tak bisa menjaga Ryeowook dengan baik sesuai dengan janjiku. Aku sungguh merindukanmu Eomma, aku janji aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga Ryeowook untukmu. Aku janji padamu Eomma, jadi Eomma tidurlah dengan tenang disana, tunggu hingga kita bersatu lagi. Aku mencintaimu.'

'Eomma aku sungguh merindukanmu .Maafkan aku karena tak bisa bahagia seperti pinta Eomma, semua kebahagiaanku seakan terus terenggut. Tapi Eomma tenang saja, aku akan berusaha bangkit demi Heechul Oppa dan orang-orang yang mencintaiku. Dan mencari kebahagiaan seperti yang Eomma inginkan. Jadi lelaplah dalam lindunganNya Eomma, kami akan baik-baik saja. Aku mencintaimu.'

Mereka membuka mata perlahan, ada raut tenang dalam wajah mereka. Mungkin karena mereka berada begitu dekat dengan Eomma mereka orang yang melahirkan mereka dan memberikan cinta yang tulus dalam tumbuh mereka.

"Bagaimana kalau kita mengunjungi suster Rin, ia pasti senang." Usul Heechul pada sang adik, ia sungguh-sungguh menginginkan jiwa sang adik lebih tenang dengan mengunjungi tempat yang dulu sering mereka kunjungi dengan sang ibunda.

"Ya, aku merindukannya."

Mereka melangkah menjauhi tempat istirahat terakhir salah satu orang yang mereka cintai di iringi angin yang berhembus lembut seakan membisikkan kata penenang.

"Aku mencintai kalian, bersabarlah sayang sebentar lagi bahagia kalian akan datang."

.

.

.

/..

/..

.

.

.

Heechul memarkir mobil merahnya di pelataran panti asuhan 'Protect The Angel', dulu mereka sangat sering datang mengunjungi tempat ini bersama Eomma mereka, mengingat dulu sang ibu juga dibesarkan di panti asuhan ini. Panti asuhan ini sangat asri terletak di dataran tinggi yang menampakkan pemandangan indah.

Ryeowook keluar dari mobilnya disusul dengan Heechul, ia menghirup dalam aroma segar khas dataran tinggi. Mereka melangkahkan kaki menuju sebuah bangunan bercat hijau asri, tempat anak-anak panti asuhan tinggal. Ryeowook membuka perlahan pintu kayu itu perlahan, segera saja ia mendapat serbuan dari anak-anak itu. Sedang Heechul terlebih dulu mengambil bingkisan yang mereka bawa.

"Wookie Eonni- Noona." Ucap mereka serempak berebut memeluk Ryeowook, Ryeowook tersenyum senang melihat tingkah laku adik-adik kecilnya itu ia sungguh merindukan mereka sudah lama ia tak berkunjung disini.

"Apa kabar semua? Kalian tidak nakal kan selama ini?" ucap Ryewook membimbing mereka untuk kembali ke tempat mereka tadi. Mereka memposisikan diri di sebuah karpet, duduk melingkar bersama Ryeowook.

"Eonni kemana saja? Sudah lama eonni tidak kemari." Ucap Hye Jin salah seorang penghuni panti.

"Wookie noona kok sendiri Ye.." Sebuah sikutan dari Hye Jin menghentikan pertanyaan Ma Ru, disusul tatapan tajam dari seluruh anak panti. Kelihatannya mereka sudah tahu mengenai situasi Ryeowook saat ini.

"Aku datang, ada yang mau makanan?" Ucap Heechul yang datang dengan beberapa kantung plastic dikedua tangannya, melihat itu anak-anak segera saja menghampiri Heechul dan berebutan.

"Wookie-ah." Sapa seorang dari arah belakang. Ryeowook menoleh, tatapannya bertemu dengan seseorang yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri.

"Suster Rin." Ucap Ryeowook dan memeluk suster yang selalu menemaninya bermain ketika kecil itu. Rin yang tahu kegundahan hati Ryeowook mulai mengelus rambut Ryeowook sayang.

"Ada apa anakku? Apa ada yang mengganjal dihatimu?" Ryeowook menggeleng pelan dalam pelukan suster melepaskan pelukannya perlahan dan memandang sahabat ibunya itu, ia memberikan senyum tulus tanda ia baik-baik saja.

"Wookie Eonni, ayo bermain bersama kami." Panggil Hye Jin yang tampak sedang asyik bermain dengan Heechul dan anak panti lain.

"Aku permisi dulu suster." Salam Ryeowook dan melangkahkan kakinya menyusul Hye Jin. Suster Rin mengangguk singkat, ia tahu anaknya ini tengah menghadapi cobaan yang tak kunjung usai.

'Kuatkan dia Tuhan.' Do'a Suster Rin.

.

.

.

/..

/..

.

.

.

Ryeowook tampak khidmat berlutut didepan altar gereja yang berada dalam kompleks panti asuhan. Tautan erat kedua telapak tangannya menghantarkannya dalam do'a khusyuk pada Sang Pencipta. Matanya menatap sendu.

"Tuhan aku berlutut disini, memohon padamu. Berikanlah tempat terindah untuk Eomma disurga, rawat ia seperti dulu ia merawatku dengan cinta."

"Tuhan aku percaya setiap hal adalah jalanMu untukku, setiap langah ini telah kau tulis rapid an indah untukku. Tapi ku mohon, kuatkan aku dalam liku hidup ini. Gandeng tanganku menuju waktu terindah yang Kau beri untukku."

"Tuhan rasa sakit ini, angkatlah dari hatiku. Bukakan mata Appa agar melihat juga kepedihanku, aku mencintainya Tuhan, sungguh meski ia telah menorehkan segala sakit ini dihatiku tapi cinta ini tak akan terkoyak untuknya. Tuhanku berikan jalan terang pada arahku menuju Yesung Oppa, aku merindukannya dengan segenap rasa dan cintai dia Tuhan disana, Aku sungguh mencintainya, Amin."

Ryeowook segera berdiri seusai do'anya, ia melihat jam biru yang melingkar cantik ditangannya. 15.00, sudah 2 jam lalu Heechul pamit karena ada keperluan mendadak di kampusnya, hingga ia harus menunggu disini.

Ia melangkahkan kakinya meninggalkan gereja menuju bukit yang ada disamping gereja, bukit tempat ia dan Yesung dulu menghabiskan waktu bersama ketika mengunjungi panti asuhan ini. Namun seseorang terlebih dulu berdiri di bukit itu, Ryeowook mendekatkan dirinya, mencoba melihat siapa gerangan yang berdiri disana.

"Kyuhyun." Ucap Ryeowook pelan, Kyuhyun yang merasa namanya dipanggil menoleh.

"Wookie-ah, sedang apa kau disini?" Tanya Kyuhyun.

"Aku memang sering kemari sejak kecil, kau sendiri?" Tanya Ryeowook ia melangkah mensejajarkan badannya dengan Kyuhyun sembari memandang pemandangan indah yang disuguhkan di puncak bukit.

"Tak ada, hanya ingin mengunjungi tempat yang diceritakan seseorang." Jawab Kyuhyun pelan.

"Owh." Keheningan menyelimuti mereka, tak ada yang berniat memecah keheningan yang membuat mereka merasa nyaman. Mencoba menikmati semua pemandangan indah dengan angin yang membelai lembut wajah mereka.

"Kau tahu aku suka tempat ini, tempat ini begitu indah dengan segala ketenangannya, denting suara gereja dan kasih sayang yang terpancar jelas dari setiap wajah para suster ditambah dengan keriangan para anak panti. Begitu menyenangkan aku ingin lebih lama disini." Ucap Kyuhyun pelan namun cukup jelas untuk didengar Ryeowook yang berdiri disampingnya.

Ryeowook menatap Kyuhyun terkejut.

'Kata-kata itu.'

"Kau tahu Chagiya , tempat ini begitu indah dengan segala ketenangannya. Denting suara gereja, segala kasih yang terpancar dari para suster dan keriangan anak panti. Semua begitu indah, disertai kau yang ada disisiku."

"Kata-katamu sangat indah, Kyuhyun-ssi." Ucap Ryeowook seraya mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.

'Mungin hanya kebetulan.' Batin Ryeowook mencoba meyakinkan dirinya kalau sosok yang ada dihadapannya adalah sosok yang berbeda.

'Dia bukan Yesung Oppa Ryeowooki, sadarlah.' Ryeowook mencoba meyakinkan dirinya kalau sosok disampingnya memang sosok yang berbeda.

"Oppa Eonni ayo main bersama kami." Ajak Hye Jin, ia menarik tangan Kyuhyun dan Ryeowook mengajak mereka bergabung dalam permainannya dan anak-anak panti lain.

Ryeowook dan Kyuhyunpun larut dalam permainan anak-anak yang mereka lakukan bersama anak-anak panti, mereka saling mengejar terkadang berlari dan bersembunyi hingga berusaha menangkap. Hingga akhirnya Kyuhyun yang saat itu menjadi kucing berhasil menangkap Ryeowook yang lengah, memeluk pinggang Ryeowook dari belakang dan memutarkan tubuhnya dengan tawa yang menghiasi bibirnya dan Ryeowook. Mencoba menikmati hidup yang mereka miliki, melupakan semua luka walau untuk sesaat.

'Setidaknya aku bisa melihat tawamu, Wookie-ah.' Batin Kyuhyun menatap Ryeowook yang berada dalam pelukannya disertai dengan ejekan anak-anak panti karena ia bisa tertangkap.

Heechul menatap Kyuhyun dan Ryeowook dari kejauhan, ia tersenyum melihat tawa lepas Ryeowook yang tak lagi ia lihat belakangan ini. Ia menatap Kyuhyun yang berhasil membuat Ryeowook tertawa lepas.

"Suster Rin siapa laki-laki itu?" Tanya Heechul pada suster Rin yang berdiri disampingnya sembari mengamati anak-anak panti yang tengah bermain.

"Namanya Cho Kyuhyun, ia sering kemari beberapa hari ini." Jawab Suster Rin tawanya sesekali nampak melihat tingkah laku Ryeowook, Kyuhyun dan anak panti.

'Cho Kyuhyun ya.' Batin Heechul.

TBC_-

HAPPY NEW YEAR #PLAK TELAT

Baiklah ini kado buat nae chagy yang ulang tahun semoga kau suka ne^^

Terima kasih buat reader dan reviewer aku harap dukungannya dengan memberikan riview, semakin banyak riview semakin cepat aku update, Gamshahamnida…

RIVIEW PLEASE ^.^V