Ex-Prisoner

By: Kei Tsukiyomi

.

.

.

Author's Note: Halo, saya kembali. Semoga chapter ini tidak membosankan.

Warning: AU, OOC, Typos, BL, dll DLDR! Don't copy without my permission!

Disclaimer: Eunhyuk milik saya! /ditimpuk/

Rate: T+ (untuk jaga-jaga)

Play: No body's home- Avril Lavigne, Home is in your eyes- Greyson, Wish You Were Here-Avril, All I Ask-Adelle, Lindsay- Confession of broken heart.

Happy Reading~

.

.

.

There's an empty world deep in my heart,

Save me

I wanna reset, I wanna reset, I wanna reset

Lonely eyes trapped in darkness

Is there anyone to hold my hand?

I wanna reset, I wanna reset, I wanna reset

(Tiger J.K ft Jins_Reset)

.

Sekuat apapun seseorang, sekokoh apapun hati seseorang, walaupun sekokoh batu karang sekalipun, terkadang seseorang itu tetaplah membutuhkan tempat bersandar. Membutuhkan tangan lembut untuk menghapus airmatanya. Karena bisa jadi, orang paling kuat itulah yang justru paling kesepian, paling menderita, dan paling lemah. Karena sesungguhnya manusia itu adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan keberadaan satu-sama lain.

Seperti sekarang, sekuat apapun Donghae itu hanya terlihat di luar. Nyatanya dia juga membutuhkan bahu untuk bersandar. Membutuhkan seseorang untuk menjadi penopangnya. Lengan kuat sekaligus rapuh miliknya ia lingkarkan di tubuh Eunhyuk. Memeluknya erat. Menyandarkan kepalanya di bahu kecil Eunhyuk, mencium aromanya yang menenangkan. Donghae menyukainya, aromanya sangat manis. Donghae sangat membutuhkan orang seperti Eunhyuk di hidupnya. Sangat. Di tengah masyarakat yang konservatif dan terus memojokkannya dengan tatapan mencela, Donghae membutuhkan antibiotik seperti Eunhyuk. Yang tidak membuat lukanya semakin membusuk dengan tatapan sebelah mata, yang tidak serta merta mencelanya tanpa mau repot-repot melihat dirinya yang sesungguhnya. Eunhyuk memberinya ketenangan, dan yang paling penting, Eunhyuk memberinya kesempatan yang tidak pernah diberikan oleh oranglain.

Eunhyuk mengelus punggungnya lembut penuh kehati-hatian. Pundaknya yang naik karena beban kini perlahan mulai turun. Merilekskan ototnya yang menegang. Pelukannya merenggang. Eunhyuk tersenyum manis pada Donghae. Mengelus kerutan di dahinya yang terbentuk bukti penderitaan yang dialaminya bukanlah hal sepele.

"Hae Hyung harus lebih bersemangat lagi. Aku tahu itu tidak mudah, tapi jika dari diri sendiri tidak mempunyai tekad, sampai kapanpun kau tidak bisa melampauinya. Kau tahu? Musuh yang paling berbahaya itu adalah bimbang dan keragu-raguan. Jika kau terus berpikir, apakah aku akan berhasil, apakah aku bisa melakukannya, apa hasil yang kudapatkan nanti memuaskan? Kau tidak akan pernah menemukan jawabannya. Yang harus kau lakukan adalah terus mencoba. Karena dari mencoba kau akan mendapat pengalaman yang berharga. Kau harus yakin pada dirimu sendiri." Donghae tertegun di tempatnya. Takjub akan kata-kata yang keluar dari bibir mungil di depannya. Bagaimana seorang yang masih sangat belia mampu berkata-kata penuh kebijakan seperti itu. Di saat orang-orang yang jauh lebih tua darinya justru berpikiran pendek dan mengikuti ego. Bersikap kekanakkan. Donghae yakin apa yang diucapkan Eunhyuk bukanlah sekedar kalimat penyemangat. Dari sorot matanya Donghae tahu Eunhyuk juga menyimpan luka.

"Aku tidak peduli kau mantan Narapidana. Memangnya kenapa? Nyatanya kau sudah berubah. Kalau tidak mungkin saat ini kau sudah menyakitiku, dan aku pasti sudah berteriak meminta tolong." Ada nada bercanda di akhir kalimatnya, membuat Donghae tersenyum. Beban di hatinya sedikit telah terangkat berkat kehadiran Eunhyuk. Dia bersyukur bisa dipertemukan dengan Eunhyuk. Eunhyuk beranjak dari duduknya, mengambil obat yang langsung disodorkan di depan wajah Donghae yang mengerut bingung.

"Hae hyung harus minum obat agar demamnya sembuh." Donghae kembali tersenyum, menerima obatnya dan segera meminumnya.

"Terimakasih banyak. Kau orang baik. Tuhan memberkatimu." Eunhyuk tersenyum malu mendengarnya. Dia sudah sering mendengar pujian seperti itu tapi saat Donghae yang mengucapkannya entah kenapa membuat hatinya berbunga.

"Hae hyung sebaiknya istirahat lagi. Wajahmu masih pucat. Kau bahkan belum bercukur. Lihat, kumismu mulai tumbuh." Telunjuk Eunhyuk terangkat menunjuk daerah bawah hidung Donghae. Donghae merabanya. Benar, permukaan kulitnya terasa kasar. Ada bulu-bulu pendek yang menghiasi. Wajahnya pasti terlihat sangat buruk sekarang.

"Apa kau ingin mencuci muka?" bukan ide yang buruk. Setidaknya Donghae bisa membersihkan wajahnya dan melihat sendiri pantulan wajahnya. Anggukan diberikan, Eunhyuk membantu Donghae untuk berdiri.

Suara bantingan benda berat maupun kaca tiba-tiba terdengar memekakkan telinga. Tubuh Eunhyuk sedikit menegang. Telinganya menangkap suara makian setelahnya. Jangan lagi, batinnya berharap. Setidaknya jangan di hadapan Donghae. Eunhyuk tidak mau kehidupan suramnya diketahui. Suara itu semakin keras menggema, Eunhyuk menutup matanya dengan bibir bawah yang digigit. Berusaha mengabaikan. Dia membuka mata saat merasakan sesuatu menyentuh telinganya. Menutup lubang pendengarannya guna menghalau suara masuk.

"Jangan didengarkan jika kau tidak mau mendengar." Donghae menutup kedua telinganya dengan tangannya. Berucap lembut penuh pengertian. Lelaki itu tidak bertanya apa-apa juga tidak berusaha mencari tahu. Dari ekspresinya mengatakan kalau dia mengerti. Eunhyuk merasa sesuatu di sudut hatinya menghangat mendapat perlakuan lembut Donghae. Selama ini tidak ada yang melakukan seperti yang Donghae lakukan. Tentu Junsu, bahkan beberapa pekerja di rumah ini menyemangatinya tapi hanya sebatas itu. Donghae melepaskan tangannya, memegang pundaknya kemudian.

"Ayo bantu aku berjalan. Wajahku sudah terasa lengket." Eunhyuk tersenyum, berusaha mengabaikan teriakan-teriakan yang sudah biasa ia dengar. Membantu Donghae menuju kamar mandi. Eunhyuk menyiapkan air hangat dan beberapa keperluan lainnya.

"Nah Donghae hyung, kau bisa membersihkan wajahmu sekarang. Atau kau ingin sekalian mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Donghae berpikir sebentar dan kemudian mengangguk. Sudah beberapa hari ini dia tidak mandi dengan benar. Dia jadi merasa khawatir Eunhyuk bisa menangkap aroma tak sedap dari tubuhnya. Memalukan.

"Baiklah, aku akan menyiapkan bajumu. Err… sebelumnya aku minta maaf karena sudah lancang. Kemarin aku membuka tasmu. Tapi aku tidak bermaksud macam-macam kok. Aku hanya ingin mencari kartu identitasmu untuk menghubungi kerabatmu. Dan… aku mencuci bajumu karena… emm…" Eunhyuk tampak kebingungan menjelaskannya agar Donghae tak tersinggung. Dia tidak punya maksud jelek, sungguh. Hanya saja, baju Donghae yang tidak seberapa itu tampak lusuh. Eunhyuk yang asalnya memang cinta kebersihan tanpa berpikir ulang langsung mencucinya dan menyesalinya kemudian karena belum meminta ijin dari yang empunya. Semoga Donghae tidak marah. Donghae hanya tersenyum dan menepuk kepalanya singkat.

"Tidak apa-apa, seharusnya kau tidak perlu repot-repot." Sejujurnya Donghae sedikit marah. Bagaimanapun itu adalah barang pribadinya tapi dia berusaha memakluminya. Dia percaya Eunhyuk tidak mempunyai maksud untuk mengejeknya. Eunhyuk berbeda dengan yang lain.

"Sekali lagi aku minta maaf. Baiklah aku keluar dulu, nanti aku kembali lagi." Pintu kamar mandi tertutup, menyisakan Donghae seorang diri di dalamnya. Mengedarkan hazelnya ke sekelilingnya. Kamar mandi ini cukup luas dan juga rapih. Juga wangi. Donghae bisa melihat shampoo dengan gambar stroberi sebagai pembungkusnya. Eunhyuk memang menggemaskan. Tak mau membuang waktu Donghae segera membuka bajunya. Bersiap untuk membersihkan diri.

.

.

.

Donghae mengerutkan dahinya bingung melihat benda elektronik di tangan Eunhyuk yang belum diketahuinya. Bentuknya tidak terlalu besar. Hanya segenggaman tangan Eunhyuk.

"Apa itu?"

"Ini alat pencukur, hyung. Kau tidak tahu?" sedikitnya ucapan Eunhyuk menampar batinnya. Sudah lama dia mendekam di penjara. Jaman terus berkembang dan Donghae hanya bisa terdiam dan terisolasi dari dunia luar. Tak mengetahui apapun. Hanya samar-samar jika tak sengaja mendengar obrolan para sipir yang bertugas. Membicarakan teknologi yang semakin maju. Donghae tahu yang ada di depannya hanya contoh kecil. Masih banyak lagi teknologi canggih yang tercipta. Dia tersenyum miris. Menyesali hidupnya yang tidak berguna. Eunhyuk menyadari raut wajah Donghae yang berubah keruh.

"Hae hyung, ayo bercukur dulu. Jangan memikirkan hal yang terlalu berat. Nanti kuberi tahu beberapa alat lainnya." Donghae menurut. Membiarkan Eunhyuk menyentuh wajahnya. Suara dengungan kecil terdengar dari alat tersebut. Dengan hati-hati Eunhyuk mencukur di sekitar bawah hidung dan dagunya selembut mungkin. Membersihkan wajahnya dengan handuk begitu selesai.

"Donghae hyung kau terlihat tampan." Eunhyuk terkekeh pelan. Begitu kagum dengan wajah Donghae yang terlihat segar. Jauh berbeda dari yang dilihatnya tempo hari. Donghae memiliki wajah yang tampan. Hanya saja selama ini tertutupi dengan beban yang ditanggungnya. Membuatnya terlihat kusam. Jejak-jejak lelah terpancar jelas di wajahnya. Menutupi sinarnya.

"Terimakasih, kau juga manis."

"Aku tampan, hyung!" protesnya tak terima. Bibirnya mengerucut sebal. Donghae terkekeh. Dalam hatinya dia tidak percaya bisa merasakan moment seperti ini. Moment sederhana namun begitu menyenangkan. Donghae ingin selalu dapat merasakannya. Untuk seterusnya. Tapi dia tahu kalau itu tidak bisa. Donghae harus segera pergi. Dia tidak mau lebih banyak lagi menyusahkan Eunhyuk. Dia tidak mau menjadi benalu.

"Baiklah tuan tampan." Eunhyuk tertawa senang. Dia menarik lengan Donghae untuk kembali merebah di tempat tidur.

"Nah, Donghae hyung harus kembali istirahat." Menarik selimut untuk menutupi tubuh Donghae. Menghalaunya dari udara dingin.

"Kau tidak sekolah? Apa ini hari libur?" sedaritadi Donghae perhatikan, Eunhyuk selalu bersamanya. Tidak pergi kemanapun selain untuk mengambil makan atau keperluan lainnya.

"Ya ini hari libur. Besok baru aku akan berangkat sekolah. Omong-omong kenapa hyung tahu aku masih pelajar?" Donghae menunjuk blazer biru navy yang tergeletak di atas kursi dekat meja belajar. Eunhyuk mengikuti arah telunjuk Donghae dan mengerti kemudian.

"Donghae hyung tidur saja. Aku ingin menemui temanku dulu. Sejak tadi dia sudah rewel minta ditemani." Eunhyuk tersenyum lucu. Merapihkan selimut Donghae sekali lagi sebelum beranjak pergi. Menutup pintunya pelan. Donghae merebahkan kepalanya di bantal. Menutup matanya. Suatu saat nanti Donghae pasti akan membalas kebaikan Eunhyuk.

.

.

.

Hujan turun dengan deras. Petir menyambar-nyambar diiringi gerungan gemuruh yang menakutkan. Lantai putih itu basah oleh jejak kaki dan juga darah yang menetes. Lampu tampak redup karena saklar yang telah terputus. Menambah kesan menegangkan.

"Kau perampok sialan! Mati kau!" dia menghindar dan membalikkan pisau tajam yang seharusnya mengenainya hingga kini tertembus… mengenai orang di depannya. Mata itu terbelalak mengerikan. Lolongan kesakitan menggema setelahnya. Derap langkah dari beberapa kaki mendekat hingga tertangkap indra pendengarannya. Belum sempat melarikan diri orang-orang itu sudah ada dalam jarak pandangnya. Menatap syok pemandangan yang tersaji. Salah seorang itu memanggil polisi dan yang lainnya menarik tangannya. Mengungkungnya agar tak melarikan diri. Menghujaminya dengan pukulan dan makian menusuk hati padanya. Dan tak berapa lama kemudian terdengar suara sirene polisi. Selanjutnya semua seperti bergerak lambat. Saat para polisi membekuknya, mengikat tangannya dengan borgol, mendorongnya memasuki mobil patroli. Dan mimpi buruknya baru saja di mulai.

.

.

.

Donghae terperanjat dari tidurnya. Matanya membuka lebar, deru nafasnya tidak beraturan. Keringat dingin membasahi wajah. Pandangannya serasa tidak fokus. Dia mengepalkan tangannya kemudian mengusap wajahnya kasar. Mimpi buruk itu lagi. Mimpi dari masalalunya yang kelam. Mimpi itu selalu menghantuinya di manapun dan kapanpun. Seakan mengikatnya erat. Tak membiarkannya bernafas dengan mudah. Merasakan pergerakan kecil di sampingnya Donghae menoleh. Eunhyuk. Sejak kapan Eunhyuk ada di sampingnya? Pemuda manis itu kini tengah bergelung nyaman di tempat tidur tepat di sampingnya. Apa Eunhyuk tidur bersamanya? Mungkin saja. Ini kamarnya. Seharusnya Donghae tahu diri. Seharusnya dia tidur di lantai, bukan di kasur lembut ini yang bukan miliknya. Diperhatikannya wajah Enhyuk yang tertidur pulas. Manis. Wajah Eunhyuk sangat manis. Walau mulutnya sedikit terbuka menegeluarkan dengkuran halus, Donghae menemukan itu lucu untuk Eunhyuk. Sebersit perasaan bersalah karena sudah membuat Eunhyuk begitu repot masuk ke relung hati. Donghae tidak bisa begini terus. Dia harus segera pergi. Donghae bangkit dan mencari tasnya. Diliriknya jam yang menunjukkan pukul 05.15 KST. Masih terlalu pagi untuk beraktivitas. Donghae tidak peduli. Dia harus pergi. Kalau menunggu Eunhyuk bangun pasti pemuda imut ini tidak akan membiarkannya dan terus menahannya. Lebih baik pergi sebelum dia bangun. Tidak sopan memang. Sudah ditolong tapi malah pergi begitu saja. Donghae menyakinkan dirinya sendiri untuk membalas kebaikan Eunhyuk nanti, pasti. Dia melirik sekitar, mencari kertas dan pulpen. Begitu menemukannya di meja belajar Eunhyuk, Donghae segera menulis pesan untuknya. Sebuah ungkapan terimakasih dan maaf. Di surat itu juga Donghae mengatakan akan membalas kebaikan Eunhyuk. Jadi dia tidak perlu khawatir. Dan pesan terakhirnya Donghae membubuhkan kalimat penyemangat untuk mereka berdua. Agar mereka bisa hidup dengan lebih baik lagi. Setelah selesai, Donghae menaruh surat itu di tempat yang mudah untuk ditemukan. Dia menghampiri Eunhyuk. Berdiri di samping tempat tidur menatap Eunhyuk lembut. Tangannya terangkat mengusap helai blonde yang begitu halus dan juga wangi stroberi. Tidak salah lagi. Shampoo beraroma stroberi yang ditemukannya di kamar mandi itu adalah milik Eunhyuk.

"Terimakasih Eunhyukie. Maaf merepotkanmu. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi. Dan sampai saat itu datang, aku pasti akan membalasmu." Donghae merunduk. Mencium kening Eunhyuk singkat dan segera pergi. Menutup pintu kamar dengan begitu hati-hati. Tak mau membangunkan Eunhyuk. Punggungnya tertelan kegelapan. Punggung itu terlihat dingin juga rapuh. Tapi Donghae berjanji akan terus berusaha.

.

.

.

Donghae membaringkan tubuhnya di kursi taman. Akhirnya dia kembali menjadi gelandangan. Tak punya rumah, teman, bahkan keluarga. Hanya udara dingin yang mengiringinya. Donghae sedikit tersenyum saat membuka tasnya dia menemukan beberapa roti, minuman, dan juga makanan kecil lainnya. Dari Eunhyuk. Dia tahu itu. Pasti Eunhyuk memasukannya saat dia tertidur kemarin. Sungguh baik hatinya. Seperti malaikat. Tak henti-hentinya dia mengucap syukur dan berterimakasih pada Eunhyuk. Setidaknya beberapa hari ke depan dia tidak akan terlalu kelaparan. Donghae juga harus segera mencari kerja untuk bertahan hidup. Walau dia tidak tahu pekerjaan apa yang akan didapatnya. Donghae hanya mantan Narapidana. Setengah hidupnya ia habiskan di penjara. Tak banyak keahlian yang dia bisa. Hanya pekerjaan kasar dan berat yang dia mampu. Karena sewaktu di penjara dia dan para narapidana lainnya dipekerjakan seperti itu.

Donghae melipat tangan di dada dan menghela nafas panjang. Ini tidak akan mudah. Donghae sadar pekerjaan yang dibutuhkan sekarang adalah orang-orang yang mampu mengoperasikan teknologi. Dan pekerjaan seperti pelayan, kasir, atau lainnya pasti membutuhkan ijazah. Donghae tidak mempunyainya. Donghae tidak punya apa-apa selain dirinya sendiri. Terkadang Donghae ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya menumpahkan segala emosi yang dipendamnya selama ini. Berharap sedikit saja bebannya ini akan terangkat. Berharap oranglain mau memberinya kesempatan. Dia menghela nafas lagi. Percuma berharap jika tidak ada tindakan yang dilakukan. Donghae harus berkeliling lagi untuk mencari pekerjaan. Baru saja ingin beranjak dari duduknya sayup-sayup terdengar suara bentakan dari ujung taman. Donghae memperhatikan seorang lelaki tua dan satu laki-laki paruh baya, mungkin yang di tangannya terdapat kostum berbulu cokelat. Beruang kalau tidak salah. Mereka terlibat perdebatan hingga puncaknya laki-laki paruh baya itu menyerahkan kostum boneka yang dipegangnya pada lelaki tua di depannya. Kemudian melangkah pergi.

Donghae termenung sebentar. Mencerna kejadian yang disaksikannya. Hingga sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Dia tersenyum kecil penuh pengharapan. Bangun dari duduknya. Donghae menghampiri lelaki tua berpakaian cukup rapih tersebut yang tengah menggerutu.

"Permisi tuan."

"Ya?"

.

.

.

Hari ini dilalui Eunhyuk sama seperti hari-hari sebelumnya. Penuh dengan kekelaman hidup. Orangtuanya bertengkar lagi. Saling memaki dengan segala umpatan paling menyakitkan. Eunhyuk tidak tahan. Ingin sekali ia berlari, membiarkan kakinya melangkah ke manapun asalkan jauh dari jangkauan kesedihannya. Berlari sejauh-jauhnya. Dia menerawang jauh seraya mendudukkan tubuhnya di bangku taman. Sekelebat memori menyakitkan tergambar jelas di pikirannya. Belum lagi Donghae yang pergi begitu saja tanpa bilang apapun. Ya walau ada sepucuk surat tergeletak di atas meja. Tetap saja Eunhyuk merasa kurang. Dia sedikit sakit hati. Itu berarti Donghae tidak cukup untuk mempercayainya. Padahal Eunhyuk kira mereka bisa menjadi teman akrab. Usia mereka yang terpaut cukup jauh tidak bisa menjadi penghalang untuk membentuk ikatan pertemanan. Tapi ternyata tidak bisa. Dia tertawa getir.

Bibirnya terasa kelu hanya untuk mengucapkan beberapa kata. Suara tawa anak-anak yang saling berceloteh di ujung sana memperebutkan balon dari seseorang yang memakai kostum beruang besar berwarna cokelat bahkan tak bisa membuatnya tersenyum walau hanya sedikit. Biasanya Eunhyuk akan bergabung dan bermain bersama dengan anak-anak di taman hanya untuk mengalihkan kesedihannya. Tapi nampaknya hari ini minat bersenang-senang Eunhyuk sedang menguap dan terbang jauh. Iris hitamnya hanya menatap kosong sekitarnya. Dari sorot matanya mengatakan keadaan tidak akan berubah menjadi lebih baik. Sayup-sayup suara bising anak-anak terdengar menjauh. Menyebar di berbagai sudut. Eunhyuk lelah dengan kehidupannya. Sangat lelah.

Bayangan yang melingkupi tubuhnya membuat Eunhyuk mendongak. Mendapati badut beruang yang tadi di lihatnya bersama anak-anak kini ada di hadapannya. Dengan senyum lebar yang menghiasi wajah lucunya. Eunhyuk memiringkan kepalanya bingung. Beruang itu melambai padanya, terlihat ceria. Mau tak mau Eunhyuk balas melambai walau agak kaku. Mau apa dia?

Tangan berbulu beruang itu terjulur padanya. Mengulurkan sebuah balon berwarna biru padanya. Masih bingung dengan keadaan tanpa sadar Eunhyuk mengambil balonnya. Setelah itu beruang tersebut melakukan gerakan-gerakan lucu bahkan menari. Melompat-lompat dengan dua jari telunjuk di atas kepalanya yang bergoyang-goyang. Merasa geli, senyum Eunhyuk terbentuk. Menahan tawanya melihat perut besar beruang itu bergoyang saat melompat. Melihat senyum Eunhyuk beruang itu berhenti melompat. Menepuk kepala Eunhyuk pelan dan mengarahkan tangannya ke depan wajah dengan gerakan melengkung. Seperti senyuman. Eunhyuk mengerti, beruang ini menyuruhnya untuk tersenyum. Selanjutnya beruang ini melakukan gerakan seperti menangis dan segera menyilangkan tangannya. Tanda bahwa Eunhyuk tidak boleh menangis. Sesuatu di dalam dirinya terasa tergelitik hingga Eunhyuk ingin tersenyum. Dia terharu, beruang ini mau repot-repot menghilangkan kesedihannya. Padahal mereka tidak saling kenal. Dan mungkin saja kehidupan badut beruang ini lebih suram darinya, tapi dia tetap menyemangati oranglain. Eunhyuk tersenyum lembut. Ya, dia tidak boleh bersedih lagi. Lebih baik menggunakan waktu yang berharga untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Eunhyuk menarik tangan kanan beruang itu dan menggenggamnya erat.

"Terimakasih. Terimakasih karena sudah menyemangatiku. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu," ucapnya tulus dari lubuk hati. Eunhyuk sedikit tersentak begitu tangan beruang itu menyentuh wajahnya. Menarik sedikit sudut bibirnya ke samping hingga terlihat seperti Eunhyuk tengah tersenyum. Eunhyuk langsung tertawa karenanya.

"Baiklah aku akan tersenyum." Eunhyuk tersenyum lebar. Memperlihatkan gusi merahnya dan deretan gigi putihnya yang tersusun rapih.

"Aku sudah tersenyum kan?" tanyanya ceria. Beruang itu menepuk-nepuk kepalanya sayang. Mengepalkan tangannya ke atas dan melambai kemudian. Eunhyuk balas melambai semangat.

"Terimakasih~" serunya sedikit keras. Hah… semangat Eunhyuk jadi bangkit seketika. Beruang itu sangat lucu. Entah siapa yang berada di baliknya. Yang pasti orang itu pasti orang yang berhati baik. Eunhyuk berdoa agar orang itu mendapat balasan yang baik. Dengan riang Eunhyuk melangkahkan kakinya ke luar area taman. Kembali ke rumahnya karena hari sudah sore. Semburat jingga sudah menghiasi langit di temani kepakan burung-burung yang saling bersahutan. Eunhyuk tidak mau memikirkan hal-hal sedih. Dia akan melupakannya sejenak. Dia ingin menikmati udara bebas.

Omong-omong, Eunhyuk jadi teringat Donghae lagi. Semoga saja dia bisa bertemu kembali. Dan semoga saja keadaan Donghae sudah lebih baik.

.

.

"Donghae-ssi." Donghae menoleh, mengalihkan perhatiannya yang sedaritadi tertuju pada seorang pemuda berambut blonde di taman, saat seseorang memanggilnya. Seorang lelaki paruh baya bertubuh agak gemuk dan berkumis tebal menghampirinya. Kerutan yang ada di wajahnya menandakan usianya sudah cukup tua. Donghae membungkuk singkat. Membuka kostum kepala beruang yang melekat di tubuhnya. Bisa terlihat keringat cukup banyak berjatuhan. Wajahnya basah oleh keringat, bahkan rambutnya menjadi lepek, menempel di dahinya. Siapa juga yang tidak gerah menggunakan kostum badut yang berat juga tertutup menghalau udara. Bergerak ke sana kemari menghibur anak-anak yang hiperaktif.

"Kerja yang bagus. Pertahankan kinerja baikmu. Ini bayaranmu hari ini." Lelaki yang sekaligus merangkap sebagai bosnya itu menyerahkan beberapa lembar won padanya. Upahnya selama bekerja sebagai badut beruang di taman ini. Donghae mengambil uangnya dengan hati senang. Kerja kerasnya terbayar. Akhirnya Donghae bisa membeli sesuatu untuk makan. Walaupun bayarannya tidak seberapa tapi Donghae tetap bersyukur. Setidaknya dia tidak akan kelaparan di jalan.

"Terimakasih, pak," ucapnya sopan. Bosnya tersenyum kecil. Menepuk lengannya dan berlalu pergi setelah menyuruhnya untuk tidak terlambat besok pagi. Donghae menyanggupi. Mungkin dia akan tidur di taman ini saja. Donghae duduk di bangku taman yang tadi di tempati Eunhyuk. Suasana sudah mulai sepi. Beberapa anak-anak dijemput orangtuanya untuk pulang. Beberapa lagi adalah pasangan kekasih yang bergandengan tangan. Melihatnya Donghae menjadi iri. Di seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan kasih sayang. Kekasihpun dia tak punya. Hanya penderitaan dan kesakitan yang ditanggungnya selama ini. Dia memiliki beberapa teman tapi itu hanya masalalu. Sekarang bahkan Donghae tidak tahu di mana mereka tinggal. Apakah mereka masih mengingatnya atau tidak? Donghae tidak mau tahu karena takut akan jawaban yang diterimanya nanti. Sekarang yang harus dilakukannya adalah terus berusaha sebaik mungkin, menata masa depan yang akan ditapakinya. Tidak mudah memang tapi dia harus berusaha karena itu adalah satu-satunya pilihan yang dia punya. Bayangan wajah Eunhyuk yang tersenyum padanya terlintas di benaknya. Bibir Donghae tertarik ke atas. Donghae menutup matanya merasakan hembusan angin sore menerpanya. Seakan berusaha menyapu kegelisahannya. Menerbangkannya jauh.

"Ayo sama-sama berjuang, Eunhyukie," bisiknya pada angin, berharap bisikannya akan sampai pada sang terkasih.

Donghae akan berjuang lebih keras lagi. Seperti yang Eunhyuk ajarkan padanya. Dia akan membuktikan pada semua orang kalau dia sudah berubah.

Ya, dia akan berusaha.

.

.

To Be Continued

Maaf jika ini membosankan dan terkesan penuh drama. Saya berusaha membuatnya serealistik mungkin dan hanya membubuhkan sedikit drama sebagai pemanis. Bagaimanapun ini hanya fanfict.

Semakin lama reviewnya semakin berkurang. Jujur saya down. Jadi bilang aja ya kalau memang ff ini tidak menarik. Agar saya bisa berhenti membuang waktu untuk hal yang sia-sia. Di chapter sebelumnya readers mengatakan kalau ff ini bagus, keren, minta update cepat, dll. Tapi setelah saya usahakan ternyata reviewnya justru semakin berkurang. Beberapa malah muncul di kotak review lain. Maaf saya memang author baperan, maaf juga jika ada yang tidak suka dengan sikap saya. Tapi inilah saya.

Oke, silahkan tuangkan uneg-uneg kalian mengenai ff ini.

Saya ijin hiatus panjang. Tenang, saya usahakan agar tetap menyelesaikan ff ini.

Terimakasih dan sampai jumpa~

Salam hangat~