.
*Kriiing...*
.
*Brak!*
.
Tanpa merasa bersalah, Naruto langsung menepis jam wekernya yang sudah berisik pagi-pagi. Ia pun kembali tidur setelah melakukan itu.
.
*Tap! Tap! Tap!*
.
*Brak!*
.
Tiba-tiba saja pintu kamar Naruto langsung dibuka secara paksa oleh seorang wanita bersurai merah. Wanita yang masih dikategorikan 'ibu muda' karena masih berusia 35 tahun. Muda bagi seorang ibu, bukan? Hal ini disebabkan karena wanita bernama Uzumaki Kushina yang sekarang bernama Namikaze Kushina ini menikah di usia 19 tahun.
"Naruto! Bangun!" Teriak sang ibu bagaikan raungan singa yang langsung membuat Naruto merinding.
.
*Sreet...*
.
Kushina pun mengenyampingkan gorden jingga yang sehingga sinar matahari masuk ke kamar Naruto. Kamar bernuansa kuning yang dipadu dengan warna jingga.
"Sebentar lagi, kaa-san" kata Naruto lalu menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Bocah ini..." Geram Kushina tertahan mengingat ia sedang berhadapan dengan putra satu-satunya.
"Sebentar lagi, bu. Tidurku baru 3 jam, kaa-san" ucap Naruto memelas.
"Bangun" kata Kushina dengan urat menyembul di lehernya sambil menarik telinga Naruto.
"Ittai!"
.
.
.
.
Di lain sisi, sosok Hyuuga Hinata sedang memasang pakaian sekolahnya. Ia hanya memperlihatkan wajah datarnya. Orang lain tidak akan tahu apa yang ia pikirkan. Namun, berbeda dengan orang yang dekat dengannya. Mereka akan tahu apa yang dipikirkan oleh gadis lavender ini.
"Sudah seminggu, ya?" Gumam Hinata
.
.
KAZEHIRO TATSUYA
PRESENT
Title :
I Got You!
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Created By :
Kazehiro Tatsuya
Pair :
Naruto X Hinata
Warning :
Segala ide cerita, latar, dialog, narasi, sifat, sikap, dan settingan lainnya murni ide Author sendiri. Jika ada kesamaan dengan fanfic Author lain, maka hanya sebuah kebetulan. Mohon dimengerti
.
My First Romance Fic, Gajeness, OOC, OC figuran, AU, Typo, EBI gak jelas, alur kecepetan (karena ane gak bisa bikin lebih detail), bahasa ancur (mungkin), bikin sakit mata, masalah lainnya, dan terpenting DLDR
Rated :
M
Genre :
Romance, Drama, Humour (maybe), dan Hurt/Comfort
.
.
"Hooaam..."
Seorang pemuda bersurai pirang acak-acakan baru saja menguap di pagi hari. Tidak biasanya ia seperti ini. Padahal beberapa hari belakangan ini ia selalu bangun pagi-pagi buta. Apa yang membuatnya susah tidur?
"Bagaimana caranya akrab dengan Hinata-senpai?" Batin Naruto.
Itulah yang dipikirkan Naruto semalaman seminggu setelah menghadiri pemakamannya CEO Konoha Foundation, Otsutsuki Toneri.
"Dan juga..." Gumam Naruto mengingat bukan itu saja yang ia pikirkan.
"Huaaa! Momen langka!" Teriak Naruto tiba-tiba saat ia sudah berada didalam kawasan Konoha High School.
Naruto langsung mengeluarkan kamera DSLR-nya dari dalam tas khusus lalu berlari dan bersembunyi tidak jauh dari 2 sosok manusia berbeda gender. Mereka adalah Inuzuka Kiba dan gadis yang namanya tidak diketahui.
.
*Ckrek*
.
Naruto memotret dengan detail setiap apa yang mereka berdua lakukan. Di pagi hari seperti ini ternyata sudah ada yang berduaan. Apalagi pemuda kuning ini baru pertama kalinya mendapati seorang gadis begitu tertarik dengan Kiba.
.
*Ckrek*
.
"Fufufufu...akan kuperlihatkan padanya nanti. Jika ia minta hasilnya, maka dia harus bayar. Jika ia minta agar foto ini dihapus, maka dia juga harus bayar. Fufufufu..." Batin Naruto dengan seringaian tipis di wajahnya. Kelicikan memang sangat dibutuhkan ketika ekonomi mulai menipis.
"Apa yang kau lakukan?"
Pemuda kuning ini tiba-tiba saja mendengar suara dingin yang menakutkan hingga berhasil membuatnya terdiam.
Dengan gerakan patah-patah, Naruto pun memutar kepalanya ke arah suara yang akrab itu. Ia juga tak lupa memasang wajah senyum tak berdosanya.
"Ohayou, Hinata-senpai"
Yang disapa hanya diam sambil memandang Naruto dengan sorotan angkuhnya.
"Kau...stalker" kata Hinata.
.
*Jleb!*
.
Ucapan Hinata berhasil menohok hatinya. Ia tidak terima ucapan itu walaupun ia sendiri mengakui bahwa ia memang sedang menguntit tadinya. Hanya saja...ini hanya keperluan bisnis!
Hinata pun membuang muka dan melanjutkan langkahnya dengan anggun. Naruto yang tahu Hinata akan pergi, pemuda ini langsung berdiri dan menahan tangan Hinata.
"Lepaskan"
"..."
Naruto hanya diam disaat Hinata mendesis tak suka. Gadis manis itu tetap tidak menoleh ke Naruto. Naruto juga sudah memasang wajah seriusnya.
"Apa kabarmu, senpai?"
Rahang Hinata mengeras. Ia tak tahan dengan apa yang dilakukan Naruto. Menahannya dan mencoba menyampaikan kekhawatiran? Hinata tidak akan percaya setelah mengetahui kebenarannya.
"Apa maumu sebenarnya, Namikaze?" Tanya Hinata dingin dan sudah menatap manik biru Naruto dengan tajam.
"Apa yang ku mau? Tidak ada. Aku hanya mengkhawatir-"
"Lepas"
Naruto tersentak kaget karena gadis itu dengan kasar menepis tangannya. Naruto melihat gadis tersebut melangkahkan kakinya menjauh. Tidak ada niat mengejar terbesit di hati Naruto. Pemuda itu hanya memandangi Hinata yang menjauh sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sepertinya apa yang dikatakan Toneri beberapa waktu yang lalu masih berbekas di benaknya" gumam Naruto yang menganggap bahwa Hinata masih memikirkan ucapan Toneri yang memandang Hinata sebagai adiknya.
"Jangan katakan kalau kau trauma dengan laki-laki, Hinata" batin Naruto tidak melekatkan panggilan 'senpai'nya.
Di lain sisi, seorang Hinata kini sedang berjalan menuju kelasnya karena sebentar lagi jadwal belajar akan segera dimulai. Sebagai ketua Dewan Kedisiplinan, ia harus menjadi teladan yang baik.
"Apa yang dia pikirkan?" Batin Hinata sambil membayangkan sosok Naruto.
.
-_I Got You!_-
.
"Kenyangnya..." Ucap Naruto saat ia baru saja menyelesaikan makan bento yang ia bawa dari rumah. Masakan ibunya memang selalu nikmat. Tidak ada yang lebih nikmat ketimbang masakan seorang ibu.
"Waah...masakan Kushina-baa-san memang selalu enak" kagum Sasuke.
Mereka bertiga memang sudah mengenal saat masih kecil. Mereka dulunya bertetangga hingga akhirnya keluarga Uchiha pindah rumah. Tak lama setelah itu keluarga Inuzuka juga melakukan hal yang sama.
"Aku baru ingat!" Ucap Naruto lalu mengeluarkan kamera kesayangannya. Otomatis Sasuke dan Kiba menghampirinya.
"Apa? Kau dapat foto yang bagus?" Tanya Kiba.
"Hm! Hm! Sangat bagus!" Jawab Naruto lalu memasuki galeri penyimpanannya yang ada di kamera DSLR.
Kiba pun mulai antusias. Saking antusiasnya, ia tidak tahu foto siapa yang dimaksud oleh Naruto. Sasuke yang mengerti maksud dari seringaian tipis Naruto pun mulai tertawa nista didalam hati.
"Gawat!" Batin Kiba saat menemukan foto-fotonya hasil potretan Naruto secara diam-diam. Kiba semakin salah tingkah karena foto-foto tersebut adalah saat ia mengobrol dengan gadis yang ia sukai.
"..."
"..."
"..."
.
1
.
2
.
3
.
"BERIKAN PADAKU!"
Naruto pun menahan kepala Naruto dan menjauhkan kamera kesayangannya dari jangkauan Kiba. Sasuke juga membantu dengan pitingan diantara kedua ketiak Kiba. Naruto dan Sasuke memperlihatkan seringaian jahilnya.
"Kau harus membelinya" ucap Naruto.
"Namikaze Naruto"
Naruto dan Sasuke secara serentak menghentikan kegiatan menjahili Kiba. Kiba pun juga begitu. Ia tidak lagi mencoba meraih kameranya Naruto. Mereka menoleh ke asal suara. Yaitu Hinata yang sedang berdiri di ambang pintu kelas.
Naruto mengeluarkan keringat dinginnya. Dilihat dari logatnya Hinata, sepertinya gadis itu sedang berlagak ketua Dewan Kedisiplinan.
"Iya, senpai?" Sahut Naruto.
"Ikut aku ke ruanganku sekarang juga!" Kata Hinata lalu pergi begitu saja. Benar dugaan Naruto.
"Kau ada masalah, Naruto?" Tanya Sasuke.
"Heh? Mu-mungkin?" Jawab Naruto ragu.
"Souka! Mungkin masalahmu adalah karena tertidur didalam kelas tadi!" Ujar Kiba.
"Maji desu?!" Tanya Naruto dengan ekspresi terkejut.
"Hm! Begitulah salahsatu misi Dewan Kedisiplinan. Yaitu merintis siswa pemalas" jawab Kiba.
Naruto pun berubah drastis menjadi lesu. Pemuda itu mulai melangkahkan kakinya menuju ruang Dewan Kedisiplinan. Ia tidak peduli dengan jam pelajaran yang akan segera dimulai. Toh Hinata selaku ketuanya malah akan menceramahinya ketimbang belajar saat jam pelajaran dimulai.
.
*Cklek*
.
Naruto pun masuk tanpa permisi seolah biasa-biasa saja. Naruto terkejut saat gadis yang dikenalnya sebagai Temari malah menatapnya dengan tajam.
"Ko-Konnichiwa" sapa Naruto.
"Duduklah" kata Hinata.
Naruto pun duduk di atas bangku di depan mejanya Hinata. Temari sedaritadi masih setia berdiri di samping Hinata.
"Temari-san adalah asistenku" ujar Hinata menjawab pikiran Naruto yang heran sedaritadi melototi Temari.
"Jadi, ada apa, senpai?" Tanya Naruto.
"..."
"Senpai?"
"..."
Melihat Hinata yang diam saja sepertinya ada yang salah dalam pengucapannya. Naruto sudah berpengalaman dalam hal itu. Apalagi pengalaman yang mengesalkan baginya. Pasti akan selalu ia ingat.
Naruto menghela nafas panjang terlebih dahulu. Gadis ini permintaannya memang selalu banyak. Apalagi jika kita salah mengkaprahnya, ia lebih memilih diam dibanding mengoreksi. Sungguh menjengkelkan.
"Ada apa, kaichou?"
Hinata pun akhirnya tersenyum. Dugaan Naruto benar. Gadis ini benar-benar berhasil menguji kesabarannya.
"Langsung saja. Kenapa kau tertidur dalam kelas?"
"Hm? Kau mengkhawatirkanku?"
"Tidak mungkin aku mengkhawatirkanmu. Aku hanya mendapat laporan dari sensei yang mengajar saat itu"
"Souka..." Gumam Naruto. Terbesit sedikit rasa kecewa di relung hatinya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia berhadapan dengan Hinata yang pandai berakting.
"..."
"..."
"..."
"Aku hanya begadang memikirkan sesuatu" ujar Naruto yang tidak ingin berlama-lama dalam berdebat dengan Hinata.
"Memikirkan apa?" Tanya Hinata.
"2 minggu lagi aku akan mengikuti event fotografi dan aku belum memikirkan foto apa yang akan ku pamerkan" jawab Naruto. Ia hanya menjawab salahsatu alasan mengapa ia begadang. Ia terlalu gugup untuk mengatakan alasan keduanya.
"Souka..." Gumam Hinata memutar kursi putarnya ke arah belakang membelakangi Naruto.
"Kau boleh pergi. Pesanku, pikirkan matang-matang lalu tidurlah dengan cukup. Tidur dapat memengaruhi kesehatanmu, Namikaze" ucap Hinata.
Tanpa merespon ucapan Hinata, Naruto pun membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari Hinata dan Temari. Urusannya sudah selesai. Proses pembelajaran pun sedang dimulai. Sepertinya bolos 1 mata pelajaran saja cukup.
"Jangan coba-coba bolos, Namikaze" kata Hinata dingin seolah bisa membaca pikirannya Naruto.
Naruto sepenuhnya telah meninggalkan ruangan Dewan Kedisiplinan meninggalkan Hinata dan Temari.
"Kau sendiri bagaimana, kaichou? Tidak ke kelas?" Tanya Temari kepada sahabat yang lebih muda setahun itu.
"Hahahaha gomen!" Jawab Hinata lalu berdiri dari bangkunya. Bahkan ia sendiri lupa untuk kembali ke kelasnya.
.
.
*Ckrek*
.
*Ckrek*
.
"Whoaahaa...!" Seru Naruto dengan mata berbinar memotret burung merpati yang sedang memakan sisa-sisa roti.
Disaat jam pelajaran telah usai, Naruto dengan penuh semangatnya mulai berburu objek. Memotret memang hobinya. Kebetulan pula klub Jurnalis sedang tidak ada kegiatan.
Suasana di taman belakang gedung utama Konoha High School memang menakjubkan. Karangan bunga turut memperindah taman tersebut. Bahkan ada sebuah air pancuran bundar yang menjadi pusat taman. Ada pohon rindang, bangku taman, dan sebagainya.
Tiba-tiba saja Naruto merasa aneh. Sepertinya ada yang mengawasinya dari jauh. Firasatnya mengatakan seperti itu. Naruto pun celingak-celinguk. Ia tidak menemukan siapapun yang tampak mencurigakan. Orang-orang disekitarnya beraktivitas seperti biasanya.
"Aku baru ingat" batin Naruto yang baru ingat bahwa kantor Dewan Kedisiplinan dengan tempatnya sekarang terhubung oleh sebuah jendela. Naruto pun menoleh ke belakang.
Tada! Ia menemukan sosok Hinata mengawasinya dari sana. Ia pun melambai-lambaikan tangannya menyapa gadis pecinta bunga lavender itu.
Di sisi Hinata, gadis itu malah membuang muka saat Naruto menemukan keberadaannya. Gadis ini kembali duduk di bangku kerjanya. Tumpukan dokumen membuat dirinya sibuk sebagai ketua Dewan Kedisiplinan. Padahal ia harus berlatih bersama klub koreografinya.
"Bisa-bisanya Namikaze sesantai itu ketika ada kegiatan klub" gumam Hinata yang kembali fokus menangani tumpukan dokumennya.
.
.
.
Di hari berikutnya dan di tempat yang sama, Naruto kembali menemukan sosok Hyuuga Hinata mengawasinya dari kejauhan. Sudah 2 kali Naruto menemukannya seperti itu.
"Stalker, heh?" Gumam Naruto sweatdrop.
Seperti kemaren, Hinata kembali duduk di bangkunya dan kembali mengerjakan tugasnya sebagai ketua Dewan Kedisiplinan.
Pandangan Naruto tidak beralih sedikit'pun dari jendela dimana Hinata tadi berada. Ia tampak berpikir.
"Ada apa dengan Hinata-senpai?" Batin Naruto yang menyadari ada kejanggalan.
Hinata menghela nafas. Ada setipis senyuman di wajahnya ketika tumpukan dokumen itu sudah menipis. Ia harus segera menyelesaikannya. Jika tidak, mungkin saja tumpukan lainnya akan segera menyiksanya.
.
*Tok! Tok! Tok!*
.
*Deg!*
.
Jantung Hinata langsung memompa abnormal saat menyadari siapa yang mengetuk pintu. Badan Hinata pun langsung merinding. Dengan perasaan was-was, Hinata pun mempersilahkannya untuk masuk.
"Masuk" kata Hinata.
.
*Cklek*
.
*Sreeet...*
.
"Hinata, aku datang membawakan doku-" ucapan Temari terpotong saat menyadari sahabatnya itu sudah menyandarkan kepalanya di atas meja dengan asap yang mengepul di atas kepalanya.
"Hinata?"
Temari berjalan mendekat dengan tumpukan dokumen setinggi dagunya di pangkuannya. Dokumen ini merupakan laporan keuangan masing-masing klub dan permintaan-permintaan fasilitas baru oleh klub tertentu.
"Aku tidak kuat lagi..." Gumam Hinata.
.
*Cklek*
.
*Sreet..*
.
"Waktu yang tepat!" Ujar Naruto yang tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu. Temari pun menoleh diikuti Hinata dengan gerakan patah-patah.
"Hinata-senpai" Panggil Naruto dan menghampiri Hinata.
"Ha?" Sahut Hinata dengan juteknya. Ternyata Hinata sudah kembali ke mode angkuhnya saat berhadapan dengan Naruto. Naruto hanya tersenyum sweatdrop mendapati respon Hinata.
"Bagaimana dengan refreshing? Aku akan menemanimu?" Tawar Naruto membuat Temari memikirkan ide yang sama.
"Aku sedang sibuk, Namikaze" jawab Hinata kembali menyembunyikan wajahnya.
"Sudah pergi saja dulu, Hinata. Kau bisa mengerjakan sisanya di lain waktu. Besok, mungkin?" Kata Temari.
"Tapi..." Kata Hinata tampak memelas. Ia berusaha menolak pergi dengan pemuda pirang ini.
"Ayo senpai!" Kata Naruto dan mengenggam tangan gadis itu lalu menariknya (baca:menyeret) pergi.
.
.
.
Jam tangannya Naruto masih menunjukkan pukul 5 lewat 2 menit. Saat ini ia dan Hinata berada di atas bus umum. Hinata hanya memandangi kota Tokyo lewat jendela bus sementara Naruto sedaritadi memerhatikan apa yang dilakukan Hinata.
"Kau akan membawaku kemana, Naruto?" Tanya Hinata.
"Mendaki bukit" jawab Naruto watados.
"Apa?! Kau akan membuatku letih, baka!" Pekik Hinata pelan sambil meninju pelan bahu Naruto.
"Hai' hai'...aku akan menggendongmu bila kau keletihan, Hime-sama" ucap Naruto tulus dengan senyuman mengambang di wajahnya. Hal ini berhasil membuat Hinata terdiam.
30 menit berlalu, tepatnya pada pukul 17.32 akhirnya Naruto dan Hinata sampai di dasar bukit. Perjalanan dari pusat kota Tokyo hingga ke kawasan perbukitan memang membutuhkan waktu yang cukup lama.
Mereka harus menaiki anak tangga yang jumlahnya sampai ribuan itu agar bisa sampai ke puncak. Hinata menatap nanar tangga-tangga itu.
"Ayo, senpai. Kau tak akan menyesalinya" ajak Naruto yang sudah menginjak tangga pertama dengan kaki kanannya.
"Aku tidak mau" tolak Hinata.
"Ayolah. Kita sudah sejauh ini, senpai"
"Aku tetap tidak mau. Aku terlalu letih untuk menaikinya"
Perkataan Hinata seperti lampu hijau bagi Naruto. Pemuda ini pun menghela nafas lalu menghampiri Hinata. Ia memperlihatkan punggungnya pada Hinata dalam keadaan setengah jongkok.
"Naiklah. Aku akan menggendongmu, senpai"
Apa yang dilakukan Naruto berhasil membuat wajahnya memerah. Hinata hanya diam di tempatnya. Ada niat untuk menerima tawaran Naruto. Tapi gengsinya terlalu tinggi.
"Ayolah, senpai. Jika terlalu lama, nanti hari akan gelap"
"Baiklah jika kau memaksaku"
Naruto pun tersenyum. Akhirnya Hinata tidak gengsi lagi dengan alibi Naruto memaksanya. Oke, Naruto tidak mempermasalahkan itu. Hinata mulai meletakkan kakinya diantara badan Naruto. Kedua tangan Naruto langsung menahan paha bawah Hinata. Muka gadis cantik ini langsung memerah. Hinata pun mengenggam kedua bahu Naruto agar tidak terjatuh.
"Yosh"
Naruto pun mulai berdiri. Mata Hinata berbinar. Akhirnya ia bisa merasakan apa rasanya menjadi orang jangkung seperti Naruto yang tingginya mencapai 185 cm.
"Baru merasakan menjadi orang tinggi, senpai?" Tanya Naruto dengan nada mengejek.
"Apa katamu?" Kata Hinata geram lalu memiting leher Naruto.
"Ma-maaf!"
Hinata kembali mengenggam kedua bahu Naruto dengan kedua tangannya. Naruto mulai berjalan lalu menaiki tangga satu per satu.
.
-_I Got You!_-
.
"Kuso! Aku mati kebosanan!" Teriak seorang pemuda gemuk di ruangan klub jurnalis di gedung khusus klub Konoha High School.
"Kenapa kau tidak pulang saja, Chouji? Kegiatan klub sudah berakhir setengah jam yang lalu" kata Sai.
"Sai benar. Lalu, kenapa kita semua masih disini?" Tanya Sasuke berhasil membuat seluruh penghuni ruangan terdiam.
"..."
"..."
"..."
"Krik. Krik. Krik"
"SFX aneh apa itu?!" Geram Kiba ketika Shikamaru membuat suara latar yang aneh.
Neji menghela nafas. Ia tidak tahu kenapa ia terjebak dengan sekelompok orang-orang aneh. Neji melihat sekitarnya. Ia mendapati Kankuro bermain dengan boneka, Sai membuat lukisan sekelompok gads yang memperlihatkan celana dalamnya, Tenten mengasah pisau dapur, Lee melakukan gerakan beladiri, Chouji berguling-guling diatas lantai karena kebosanan, Gaara yang tertidur, Shino yang sedang mengamati barisan semut di tembok ruangan klub, Kiba yang bergelut dengan Sasuke karena memperlihatkan foto Kiba bersama gadis, dan Shikamaru yang menatap bosan ke arah Chouji.
"Apa aku yang normal disini?" Gumam Neji.
"Oh iya aku baru ingat" kata Kiba lalu menghentikan acara merebut foto dirinya dari Sasuke.
Kiba pun berjalan menghampiri Neji yang sedang duduk dibangku depan komputer. Neji hanya memandangi Kiba tanpa bertanya 'kenapa'.
"Neji-senpai, aku menemukan ini di tengah jalan. Apa kau mau?" Tawar Kiba sambil merogoh tasnya..
.
*Set*
.
Neji membulatkan matanya saat Kiba menyodorkan sebuah majalah po*no bertema S&M. Neji langsung merebut majalah itu dari tangan Kiba dengan mata yang berbinar.
Kiba sweatdrop melihat Neji yang tampak beringas melihat majalah po*no menyimpang itu. Anggota klub jurnalis lainnya juga menyadari ekspresi Neji.
"Aku memberikannya padamu karena aku tidak suka melihatnya. Disana si laki-laki terlalu menyiksa si perempuan dalam 'bermain'" ujar Kiba dengan polosnya.
Neji mengangkat majalahnya tinggi-tinggi.
"I love S&M!"
.
-_I Got You!_-
.
*Tap...Tap...Tap*
.
Akhirnya Naruto dan Hinata berhasil sampai di spot yang telah ditentukan oleh Naruto. Hinata yang berada dalam gendongan Naruto menatap dengan binar ke matahari terbenam. Tempat ini adalah tempat yang tepat jika ingin melihat matahari terbenam.
Hinata semakin kagum karena menyadari pemandangan yang ada. Ia bisa melihat seluruh Tokyo dari atas sana ditemani cahaya jingga khas petang.
Naruto tersenyum menatap wajah bahagia Hinata. Ia berhasil membuat gadis itu tersenyum setelah kematian Otsutsuki Toneri. Jujur saja, ada terbesit rasa suka di hatinya saat melihat wajah bahagianya Hinata.
Dengan senyum yang masih merekah, Hinata menoleh ke arah Naruto. Mereka berdua sama-sama tersentak. Dengan muka memerah malu, Hinata pun membuang muka.
"Aku tidak akan berterimakasih" kata Hinata membuat Naruto tersenyum sweatdrop.
"Iya. Hahahaha"
Hinata kembali tersenyum dan memejamkan matanya. Mukanya masih memerah karena menyadari betapa baik dan tulusnya seorang Namikaze Naruto.
.
.
.
Keesokan harinya, Hinata kembali bergelut dengan tumpukan dokumen. Disaat sudah sore sekitar pukul 4, Naruto selalu datang mengunjunginya dan menawarkan Hinata untuk refreshing. Hinata selalu kewalahan menolak ajakan Naruto karena pemuda itu beraliansi dengan Sabaku Temari. Kegiatan ini berlangsung dari senin hingga jum'at. Tanpa Hinata sadari, sedikit demi sedikit ia mulai menerima keberadaan Naruto.
.
-_I Got You!_-
.
"Aduh...bosannya" gumam Hinata dengan kepala yang sudah mengepulkan asap dikarenakan banyak pikiran.
Tumpukan kertas banyak tersedia diatas meja kerjanya sebagai ketua Dewan Kedisiplinan. Baca sana, baca sini, tanda tangan sana, tanda tangan sini. Hinata lelah dengan itu semua. Ia harus teliti membaca kertas-kertas itu. Jika ia asal baca dan langsung memberi tanda tangan, ada kemungkinan laporan yang diterimanya tidak sesuai dengan visi dan misi Konoha High School. Sudah masuk hari ke-6 ia mengerjakan semua ini. Bahkan Hinata sendiri tidak tahu bahwa sekarang adalah hari sabtu karena saking sibuknya.
Hinata menatap jam dinding yang terletak di tembok. Sudah pukul 16.12. Sudah berlalu 12 menit dari jam biasanya. Padahal biasanya Naruto akan selalu mengunjunginya ketika sudah pukul 4 sore.
"Are? Kenapa aku memikirkannya?!" Batin Hinata tidak terima lalu kembali bergelut dengan tanda tangan.
.
*Tap...Tap...Tap...*
.
*Cklek*
.
Hinata langsung memejamkan matanya kala pelipisnya terasa berdenyut-denyut. Apalagi atas kedatangan tamu tak diundang dan tidak meminta izin itu.
"Sudah berapa kali kubilang, Naruto? Aku tidak bisa ke-"
"Hinata"
Hinata menghentikan ucapannya ketika menyadari bukan suara bariton yang menyapanya. Tetapi suara nyaring khas perempuan. Hinata pun membuka matanya dan menatap Temari.
"Ada apa, Temari-senpai?" Tanya Hinata heran melihat kedatangan Temari yang terkesan tiba-tiba dan tidak memanggilnya sebagai 'ketua'.
"Ini soal Naruto" jawab Temari masih di ambang pintu.
"Oh Naruto" gumam Hinata kembali mengerjakan kegiatannya.
"Dia di UKS sekarang. Baru saja pingsan karena kelelahan"
Entah kenapa, tubuh Hinata tiba-tiba saja merespon agar ia berdiri sekarang juga setelah mendengar kabar pemuda pirang itu. Entah kenapa, terbesit rasa khawatir di relung hati terdalamnya.
"Permisi" kata Hinata lalu berlari dengan kaki kecilnya.
Temari menatap kepergian Hinata. Sebuah senyum tulus nan tipis merekah di bibir gadis Sabaku ini.
"Semoga kau menemukan cinta sejatimu, Hinata"
.
.
*Tap! Tap! Tap!*
.
Hinata berlari di sepanjang koridor dengan perasaan gelisah menggerayapi hatinya. Ia tidak tahu kenapa ia sendiri merasakan perasaan gelisah seperti ini ketika mendengar keadaan Naruto.
"Hinata?" Gumam Neji saat menemukan adik sepupunya berlari ke arah berlawanan.
"Are? Ada apa dengannya?" Tanya Sasuke kepada Neji.
"Entahlah" jawab Neji.
Sekelompok anggota klub ini baru saja mengantarkan Naruto ke UKS. Mereka semua baru saja menjenguk pemuda sosialis itu beberapa menit yang lalu.
"Hum...hum...mungkin kaichou ingin menjenguk Naruto?" Ujar Tenten berhipotesis. Mungkin saja karena arah ke UKS memang ke sana.
"Aku mengenal adik sepupuku, Tenten. Ia bukanlah orang yang seperti itu" kata Neji lalu melanjutkan jalannya diikuti yang lain.
.
*Tap! Tap*
.
*Cklek*
.
Hinata membuka pintu UKS itu. Memasuki lebih dalam dan menemukan seorang guru biologi yang dipercayakan pihak sekolah sebagai pengurus UKS.
"Sensei, dimana-"
"Naruto, bukan? Dia di ranjang paling ujung. Aku tinggal ya, Hinata. Jangan berbuat hal yang 'diinginkan'" kata Shizune lalu mengedip genit dan meninggalkan Hinata.
Hinata menahan wajahnya agar tidak memerah. Sensei-nya yang bernama Shizune itu dikenal sebagai guru hot yang genit. Mungkin saja dia telah menggoda Naruto berulang kali.
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ujung ruangan. Hinata menemukannya. Hinata menyibakkan tirai yang membatasi itu lalu masuk dan menemukan Naruto tengah terlelap dengan kantung mata di kantung matanya.
Hinata menghampiri Naruto yang terlelap dalam pakaian sekolah itu. Ia lihat wajah pemuda itu baik-baik. Hinata tersenyum saat menyadari Naruto adalah pria tertampan yang pernah ia kenal selama ini. Diluar ketampanannya, Naruto juga pemuda baik hati yang selalu berhasil menghiburnya walaupun sifat gengsinya tidak hilang.
Rasa khawatir kembali menghampiri Hinata. Dilihat dari adanya kantung mata dibawah mata Naruto, dapat dipastikan pemuda itu kekurangan waktu tidur. Apa ini ada hubungannya dengan event fotografinya yang akan diadakan seminggu lagi?
"Ternyata benar. Tanpa sadar aku sudah mulai menerima keberadaan baka-Naru ini" batin Hinata dengan senyumnya.
Ia bersyukur dengan adanya sosok Naruto. Kenangan-kenangannya bersama Toneri memang tidaklah hilang. Tapi Naruto telah membantunya menemukan hal-hal baru yang menyenangkan lainnya. Bahkan hanya butuh seminggu agar dapat menyamankan diri dengan pemuda pirang itu. Berbeda saat bersama Toneri. Ia mengenal pria itu semenjak ia berusia 2 tahun. Ketika berusia 5 tahun, Hinata baru merasa akrab dengan pria beda 4 tahun lebih tua itu.
Hinata menaikkan sebelah alisnya saat poni rambut Naruto menutupi sebelah mata pemuda itu. Hinata pun berniat menyisir rambut Naruto ke belakang dengan tangannya sendiri. Tangan berlapis kulit putih porselin itu mulai terangkat.
.
*Tap*
.
"He?" Gumam Hinata saat tangan mungilnya berhasil ditangkap oleh Naruto. Sekarang kepalan tangan mungilnya sudah berada dalam kepalan tangan lebar milik Naruto.
Hinata menahan kekesalannya saat menyadari senyum jahil Naruto. Ternyata pemuda itu sudah bangun dan pura-pura tidur disaat Hinata datang.
"Mengkhawatirkanku?" Tanya Naruto lalu membuka matanya.
Hinata pun menarik tangannya dengan paksa. Itu dilakukan agar detak jantungnya kembali normal seperti sedia kala.
"Khawatir? Siapa bilang? Kedatanganku hanya ingin menertawakanmu. Hahahahaha" jawab Hinata mengelak dari pertanyaan sensitif Naruto.
"Souka..." Gumam Naruto lalu menatap langit-langit UKS. Naruto tahu apa yang dikatakan gadis disampingnya ini adalah bohong sekaligus akting.
"Aku selalu memikirkan 2 hal di setiap malam. Pertama, aku selalu memikirkan foto apa yang harus kuperlihatkan saat event nanti" ujar Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari langit-langit UKS.
"Kenapa kau bercerita? Aku tidak penasaran dan khawatir sedikitpun denganmu"
"Dan masalah yang kedualah yang selalu membuatku susah tidur. Aku selalu memikirkannya" ujar Naruto tidak menggubris tolakan Hinata. Karena Naruto tahu. Hinata saat ini hanya berakting. Dilihat dari gerak-geriknya, Naruto tahu bahwa Hinata mengkhawatirkannya.
"Sudah kubilang. Aku tidak meng-"
"Aku selalu memikirkan bagaimana cara agar kau menerima keberadaanku, Hinata-senpai"
Hinata terdiam setelah mendengar ucapan Naruto itu. Perkataan Naruto memang tidak mencoba menyatakan cinta. Namun entah kenapa wajah Hinata jadi memerah mendengarnya.
"Cukup ceritanya. Aku tidak penasaran" kata Hinata datar.
"..."
"..."
"..."
Hinata membulatkan matanya. Suara Naruto tidak terdengar. Hinata pun berdiri dan memeriksa keadaan Naruto. Sekarang pemuda itu menutup matanya. Sepertinya pingsan. Hinata yang tadinya sudah mulai tenang kini kembali panik.
"Ba-bagaimana ini? Eto..." Gumam Hinata mencoba menyentuh kening Naruto.
.
*Tap*
.
Hinata langsung memasang wajah datar ketika untuk kedua kalinya tangannya berhasil ditahan Naruto dengan seringai jahil di wajah pemuda pirang itu.
"Benar, bukan? Kau khawatir denganku"
"Bukan!"
.
*PLAK!*
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
AUTHOR NOTE :
Jika ada yang bertanya-tanya, apa itu *plak* tadi, maka jawabannya itu adalah tamparan yang dilakukan Hinata kepada Naruto.
Maaf karena sudah menunggu lama, minna-san. Dikarenakan paket saya habis dan baru sekarang bisa dibeli.
Sepertinya banyak yang menyukai karya saya yang satu ini. Hmmm...arigatou! Saya sangat tersanjung. Padahal baru 3 chapter dan udah nembus Favorites 51, Follows 46, dan Reviews 76. Dan semoga karena udah nambah 1 chapter lagi para peminatnya juga bertambah.
.
Thanks For :
.
dindra510, Eizy No Kitsune, Guest, Musasi, Baenah231 (Guest), vi2NHL, alvinsuprayogo, sarwannamikaze, nurscreation93, x-search (Guest), oni cah paem, Baka no Rudi, SM (Guest), LuluK-chaN473, CR1SH1M4, ryu (Guest), agnisia (Guest), Bo'ink Levi28, NamiKura10, QioQio. P, HHH (Guest), 66, VANDI RAHMAT, reindhar (Guest), vidia (Guest), nawaha (Guest), evill smirk, eren (Guest).
.
.
.
.
.
Silahkan tinggalkan jejak :v
.
.
.
.
.
KAZEHIRO TATSUYA
