Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : NaruHina, Slight SasuHina
Genre : Angst/Hurt/Comfort
Warning : AU, Typo(maybe), maybe OOC, gaje, abal, ide pasaran, dll lah… masih belum paham*plak*
Summary : Uzumaki Naruto, seorang anak yang menderita penyakit kanker harus dirawat di luar kota selama setahun. Tetapi setelah kepulangannya, bukan kesembuhan yang didapat malah penyakitnya bertambah parah.
Don't like don't read
And don't flame ^^.
.
.
.
.
.
Really Hurts
Chapter 4
.
.
.
.
BLAM
Setelah menutup pintu kamar Sasuke dengan cukup keras, Hinata berlari menuju kamarnya sendiri. Lalu, ia langsung menutup pintu kamar dan menangis disana. Menumpahkan segala kesedihan dan sakit hati yang ada. Ia tidak peduli dengan luka di jari manisnya yang masih saja mengeluarkan darah.
"Hiks..hiks..Naruto-kun.. gomenasai hiks… gomenasai, gomenasai..hiks.." Begitu seterusnya. Hinata menangis sambil mengucapkan kata maaf untuk Naruto. Meski Naruto tidak bisa mendengarnya, tentu saja karena Naruto tidak sedang berada di sana.
"Gomen… la- lagi-lagi hiks.. aku.. lagi-lagi aku mengingkari janjiku padamu Naruto-kun…" Lagi, Hinata mengucapkan kata maaf. Hinata terus menangis sampai ia tidak sadar bahwa ada seseorang yang telah masuk ke dalam kamarnya. Rupanya Hinata lupa untuk mengunci pintu kamar.
Sosok itu mengucapkan sebuah kata yang dapat membuat Hinata terbelalak kaget. Satu kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam.
"Maaf." ucap seseorang, tapi kali ini bukan Hinata yang mengucapkan kata maaf. Melainkan seorang lelaki berambut raven hitam dengan mata berwarna oniks dan tatapan tajam.
"Sa– Sasuke-kun?" Hinata kaget mendengar perkataan Sasuke. Ada apa ini? Sasuke meminta maaf? Meski permintaan maafnya masih terkesan datar dan dingin, tapi Hinata masih bisa menangkap ketulusan dalam ucapannya.
Sasuke tidak menghiraukan Hinata yang masih belum mengerti keadaan. Dia mendekati Hinata lalu digenggamnya tangan Hinata lembut. Diraba saku celananya, mencoba mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. Setelah menemukan sesuatu yang dicarinya, segera ia tarik tangan yang berada di sakunya, kemudian meletakkan benda yang digenggamnya di atas tangan Hinata.
Hinata merasakan ada benda asing ditangannya. Segera saja Hinata tarik tangan yang digenggam Sasuke untuk melihat apa yang Sasuke letakkan di tangannya.
'I-.. ini…?' batin Hinata. Ternyata apa yang telah Sasuke berikan adalah sebuah cincin. Sebuah cincin yang sangat berharga bagi Hinata. Cincin itu, cincin pemberian dari kekasihnya-ralat- mantan kekasihnya, Uzumaki Naruto.
"Kenapa?" tanya Hinata yang sukses membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa kau mengembalikan cincin ini Sasuke-kun?" Hinata kembali bertanya lirih. Bulir-bulir air mata kembali membasahi mata lavendernya. Hinata benar-benar tidak mengerti akan jalan pikiran Sasuke.
Sasuke menghela nafas. Lagi-lagi dia membuat Hinata menangis. Ia benar-benar tidak tega melihat Hinata seperti ini. Hatinya sakit saat melihat Hinata menangis karenanya.
"Itu cincinmu. Aku tidak berhak mengambilnya darimu." jawab Sasuke sekenanya. Jujur, ia juga bingung mengapa ia mengembalikan cincin itu? Sebenarnya Sasuke hampir membuang cincin itu, tapi begitu mengingat Hinata bersikeras untuk tidak melepaskan cincin itu, Sasuke jadi tidak berniat untuk membuangnya. Malah Sasuke ingin mengembalikan cincin itu pada Hinata.
"A- arigatou." ucap Hinata yang masih dalam keadaan menangis. Sasuke semakin tidak tega. Diambilnya kotak P3K yang tersedia di kamar Hinata. Setelah menemukan apa yang Sasuke cari, ia kembali menghampiri Hinata lalu menggenggam tangan kiri Hinata yang terluka. Dioleskannya obat merah ke jari Hinata.
"Tahan sedikit. Kau ini, kalau terluka lebih baik diobati dulu! Bisa-bisa kau terkena infeksi." Ucap Sasuke sambil mengoleskan obat merah. Walaupun luka itu adalah hasil dari perbuatan Sasuke sendiri, ia tidak peduli. Seakan-akan luka itu bukan luka buatannya.
DEG
'Kata-kata itu…'
"Hinata-chan, sedang apa kau?"
"Eh? Naru- aw!"
"Hei, kau tidak apa-apa? Jarimu berdarah. Sinih aku obati!"
"Ti- tidak apa-apa Naruto-kun. Ini hanya luka kecil, tidak perlu dioba- aaw..sakit."
"Tahan sedikit. Kau ini, kalau terluka lebih baik diobati dulu! Bisa-bisa kau terkena infeksi."
"Ugh..I- iya."
Bulir-bulir air mata kembali mengalir dari mata Hinata. Kata-kata Sasuke tadi sama persis dengan kata-kata Naruto yang dulu mengobati lukanya.
Sasuke yang melihat Hinata kembali menangis jadi sedikit panik. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Apa karena luka yang telah ia buat? Atau karena Hinata tidak terima dengan perlakuan Sasuke?
"He- hei.. kenapa kau menangis?" Sasuke bertanya dengan panik.
"Hiks…hiks…hiks…" bukanya menjawab, tangisan Hinata malah bertambah kencang. Hal ini tentu saja membuat Sasuke semakin panik. Akhirnya tanpa pikir panjang Sasuke segera merengkuh Hinata dalam pelukannya. Juga membisikkan kata-kata yang membuat Hinata menangis semakin kencang.
"Tenangkan dirimu. Menangislah! Ada aku yang akan selalu berada di sisimu."
"Huwaaa….." tangis Hinata. Bukan, bukan karena Sasuke menyuruhnya menangis. Tetapi karena lagi-lagi Sasuke mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan kata-kata Naruto dulu.
"Hiks…hiks…"
"Hei, kenapa kau menangis?"
"Hiks..hiks.. Naruto-kun, a– aku-.. hiks…"
"Sudahlah Hinata-chan, ada apa sebenarnya?"
"Hiks…hiks…hiks…"
"Tenangkan dirimu! Menangislah Hinata-chan, ada aku yang akan selalu berada di sisimu."
Hinata sudah tidak tahan lagi. Kata-kata Sasuke yang seharusnya menenangkan, malah membuat hatinya bertambah sakit. Hinata segera melepaskan pelukan Sasuke darinya. Kemudian ia berlari keluar, meninggalkan Sasuke yang menatap kepergian Hinata dengan tatapan nanar.
"Hinata."
Oooo00oooO
Hinata berlari keluar tanpa tujuan. Yang dibutuhkannya saat ini hanyalah ketenangan. Dia harus menenangkan hatinya yang semakin sakit.
Hinata terus berlari sampai dia sampai di sebuah taman. Setelah menemukan bangku taman, Hinata segera duduk dan menangis disana. Mencoba menenangkan dirinya dengan menangis. Meskipun tanpa Naruto yang memeluknya saat menangis, tapi Hinata sudah merasa sedikit tenang. Padahal ini sudah malam, tapi Hinata tidak peduli. Ia hanya ingin menangis, menghiraukan angin malam yang menusuk kulit putihnya.
Setelah beberapa saat menangis, Hinata sudah mulai tenang, tapi kali ini ia merasa haus. Jelas saja, selesai makan malam Hinata belum sempat minum. Ia mencoba mencari pedagang yang menjual minum. Tapi, mana ada seseorang yang menjual minum malam-malam begini? Hinata menghela napas berat. Dilangkahkannya kaki jenjang itu menuju kediamannya.
Sebenarnya Hinata enggan untuk pulang kerumah, tapi mau bagaimana lagi? Ia benar-benar haus. Yah mungkin dia bisa saja kerumah temannya. Tapi, pergi ke rumah teman hanya untuk meminta air minum? Memalukan.
Padahal Hinata merasa berjalan dengan sangat lambat, tapi rasanya cepat sekali ia sampai di kediamannya. Disinilah Hinata sekarang, Mansion Hyuga.
Setelah memantapkan hatinya, Hinata segera masuk ke dalam. Ia berharap tidak bertemu dengan Sasuke nanti. Dan sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Karena sampai saat ini ia masih belum bertemu dengan Sasuke. Bahkan ketika sampai di dapur dia juga tidak melihat Sasuke.
Di dapur Hinata segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Segar, rasanya benar-benar segar. Merasa cukup, Hinata segera meletakkan gelas tempatnya minum di atas meja. Tapi sebelum Hinata berhasil meletakkan gelasnya ke atas meja, gelas itu terjatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
PRANK
Perasaan Hinata tiba-tiba tidak enak. Perasaan ini, perasaan yang sama saat Hinata dan Sasuke berjalan-jalan ke taman tadi sore. Perasaan cemas kepada seseorang yang telah Hinata rindukan.
"Naruto-kun."
Oooo00oooO
Sementara itu di Rumah Sakit Konoha
"Tidak mungkin. Ini TIDAK MUNGKIN BISA TERJADI!" Gaara berteriak kencang, ia tidak bisa lagi memasang wajah stoic miliknya setelah mendengar tentang kodisi Naruto –sahabat Gaara–. Ia tidak bisa mempercayainya, stadium tiga? Itu berarti penyakit Naruto benar-benar sudah parah. Apa sebentar lagi Naruto akan pergi? Apa Naruto tidak akan kembali ke dunia ini untuk menemani Gaara yang selalu kesepian?
Tidak.
Ia belum siap menerima semua itu. Selama ini Narutolah yang selalu ada di sampingnya sebagai seorang sahabat. Narutolah yang membuat ia mengerti seberapa berharganya teman itu. Dulu, Gaara hanya menganggap teman adalah sesuatu yang tidak penting, sampai ia bertemu Naruto dan menyadari apa arti ikatan pertemanan yang sebenarnya.
Gaara tidak memiliki banyak teman. Selama ini yang bisa mengertinya hanya Naruto seorang. Naruto mampu membuat hidupnya lebih berwarna.
Kedatangan Naruto mampu mengubah hidupnya menjadi berwarna dalam sekejap. Dan mungkin, kepergian Naruto mampu mengubah hidupnya menjadi kelam dalam sekejap pula.
"Ra…Gaara… oi Gaara..tenangkan dirimu!" ucapan Kiba membuat Gaara tersadar dari lamunannya. Dan tanpa disadari, Gaara telah jatuh berlutut di depan pintu ruang UGD.
"Ah maaf." ucap Gaara datar. Ia sudah bisa mengontrol emosinya lagi.
"Sebaiknya kita pergi ke ruang rawat Naruto sekarang." Minato berbicara setelah beberapa saat mereka terdiam. Sedangkan Kushina masih menangis di pelukan Minato.
"Ah, gomen minna… tapi saya harus pulang karena hari sudah malam." Kiba menolak dengan halus ajakan dari Minato.
Dan Minato bisa memaklumi itu. Hari memang sudah malam, dan mereka juga butuh istirahat.
"Ah baiklah..kami mengerti. Bagaimana denganmu Gaara? Apakah kau juga mau pulang?"
"Aku akan tetap disini." ucap Gaara datar.
"Ah.. baiklah saya permisi." Kiba akhirnya pergi dari rumah sakit itu. Sehingga kini hanya tinggal Minato, Kushina dan Gaara yang tertinggal. Merekapun segera menuju ke tempat Naruto beristirahat.
Tapi Minato tidak bisa berlama-lama di rumah sakit itu karena ia khawatir dengan istrinya yang sepertinya merasa kelelahan. Beruntung Gaara mau berbaik hati untuk menemani Naruto malam ini, sehingga Minato bisa pulang dengan tenang.
Seperginya Minato dan Kushina dari rumah sakit, Gaaara segera duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang tempat Naruto terbaring. Dipandangi wajah Naruto lekat-lekat.
Pucat.
Ya, wajah tan milik Naruto kini berubah pucat. Dengan selang infuse yang melekat di pergelangan tangannya, juga terdapat semacam yang berfungsi untuk membantunya bernafas terpasang di sekitar hidungnya.
Menyedihkan.
Gaara benar-benar tidak tahan melihat keadaan Naruto saat ini. Raut wajahnya –meskipun dalam keadaan pingsan– menyiratkan keputus asaan yang mendalam. Matanya, walaupun tertutup tapi Gaara yakin saat Naruto membuka kelopak mata tersebut, kesedihan dan kehampaanlah yang terpancar dalam mata blue sapphire milik Naruto.
Perlahan rasa kantuk menyerang Gaara. Mungkin ia sudah terlalu lelah hari ini. Perlahan mata zambrud itu tertutup, dengan kepala yang ia sandarkan di pinggiran tempat tidur yang di tempati Naruto saat ini.
Oooo00oooO
Pagi yang cerah datang. Tapi lelaki Sabaku itu masih saja terlalep dalam tidurnya. Ia masih akan melanjutkan mimpinya kalau saja tidak ada sesuatu yang mengganggu di atas kepalanya. Ya, sesuatu bergerak-gerak di sekitar kepalanya. Dengan enggan Gaara membuka kelopak matanya perlahan. Tapi kelopak mata itu langsung terbuka lebar ketika ia mendengar sebuah suara yang sangat familiar di telinganya.
"Gaa–… Gaara-…"
Suara ini, ya tidak salah lagi. Suara ini adalah suara milik…
"Naruto..!" ucap Gaara senang. Ia benar-benar senang melihat sahabat baiknya telah sadar.
"Naruto..kau sudah sadar? Syukurlah."
"Dimana a-..aku? Apa aku ma– masih hidup?" tanya Naruto dengan terbata-bata.
"Apa yang kau bicarakan? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja kau masih hidup. Sekarang kau berada di rumah sakit." Gaara berkata sedikit geram. Ia benar-benar tidak habis pikir. Apa Naruto memang ingin mati? Bisa-bisanya ia berkata begitu. Yah, hanya seorang Hyuga Hinatalah yang bisa membuat sahabatnya begini.
"…" tidak ada jawaban dari sang Uzumaki. Ia hanya terdiam, tak mampu berkata-kata lagi. Entah apa yang dipikirkannya sampai-sampai ia berkeinginan untuk mati saja. Yang ia tahu, ini semua karena Hinata. Ya, karena Hyuga Hinata.
Ia terlalu mencintai Hinata.
Memang jika kita terlalu mencintai seseorang itu tidak baik. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Naruto terlalu mencintai Hinata. Sangat mencintainya.
Hening
Gaara menghela nafas. Jujur, ia tidak suka dengan suasana hening yang mencekam ini. Ia sudah terbiasa dengan suasana ramai dan hangat jika bersama Naruto. Tapi kali ini suasananya begitu mencekam.
Merasa tidak tahan lagi dengan suasana ini, Gaara berinisiatif untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Bukan bermaksud untuk meninggalkan Naruto sendirian, ia hanya ingin mencari udara segar. Perutnya juga sudah lapar mengingat ia belum makan apapun dari semalam. Gaara yakin Naruto tidak akan melakukan hal-hal bodoh seperti bunuh diri.
"Aku lapar. Aku akan mencari makanan di luar. Kau jangan melakukan hal bodoh ok?"
"…" Naruto masih tidak menjawab. Kembali menghela napas, Gaara berjalan keluar ruangan.
BLAM
Pintu ditutup. Naruto sedang memikirkan sesuatu. Dia harus melakukan sesuatu. Dia harus menemui Hinata.
"Aku harus menemui Hinata." ucapnya pada diri sendiri. Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari sesuatu yang berguna. Dan ketemu, sebuah handphone milik Gaara. Beruntung Gaara meninggalkan handphone-nya, sehingga Naruto bisa menghubungi Hinata.
Oooo00oooO
Drrrtttttt….
"Enggghh…"
Hinata sedikit menggeliat saat dirasa ada sesuatu yang bergetar di sakunya. Dengan malas, dibukanya kelopak mata miliknya perlahan. Menampakkan sepasang iris berwarna lavender yang sangat indah. Hinata mengerjap-ngerjapkan mata untuk melihat sekeliling. Mencoba mencari tahu di mana ia tertidur semalam. Dan ternyata Hinata tertidur di meja makan yang ada di dapur.
Masih dalam keadaan mengantuk, Hinata meraba saku celananya. Mencari sebuah benda yang tadi bergetar dan membuatnya terbangun. Dan yap, dirinya menemukan sebuah Handphone berwarna lavender, Handphone miliknya. Ada satu ketak masuk disana. Melihat nama yang tertera di Handphone-nya membuat Hinata mengangkat sebelah alisnya heran.
"Gaara? Tumben sekali dia sms. Ada apa ya?" tanya Hinata pada dirinya sendiri. Dengan rasa penasaran yang membuncah, segera saja ia buka pesan dari Gaara itu.
Jantung Hinata berdetak lebih kencang dari biasanya. Tiba-tiba perasaan gugup menyerangnya, wajahnya juga telah dihiasi warna merah setelah membaca pesan tersebut.
From : Gaara
Numb : 088321098xxx
Temui aku di taman siang ini.
Naruto
Ternyata pesan itu bukanlah pesan dari Gaara melainkan dari orang yang sangat dirindukannya. Baru mendapat pesan darinya saja sudah membuatnya gugup begini. Apalagi jika bertemu dengannya? Oh semoga saja ia tidak pingsan.
Karena tidak mau datang terlambat, Hinata segera menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi yang ada di dapur. Selesai mandi Hinata langsung bergegas menuju ke kamarnya, sambil berharap bahwa Sasuke tidak berada di kamarnya saat ini. Dan syukurlah Sasuke memang tidak berada di sana. Hinata segera masuk dan memilih baju yang cocok untuknya sebelum pergi untuk menemui Naruto.
Gelisah
Ya, saat ini Hinata merasa gelisah. Selesai memakai baju dan bersiap-siap, ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Janjinya dengan Naruto memang nanti siang, tapi Naruto sama sekali tidak memberi tahu jam berapa mereka akan bertemu. Karena tidak mau terlambat –walau masih pagi– Hinata memutuskan untuk datang ke taman sekarang.
Hinata pergi dengan mengendap-endap. Ia tidak mau Sasuke sampai tahu jika Ia akan menemui Naruto. Kalau sampai Sasuke tahu bisa gawat nantinya. Masih dengan mengendap-endap, Hinata menuju keluar rumah. Dan sepertinya ia tidak melihat keberadaan Sasuke. Tapi Hinata tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedari tadi mengawasinya.
Oooo00oooO
Taman
Disinilah Hinata sekarang. Ia ingin mencari bangku taman yang kosong untuk menunggu Naruto disana. Tak berapa lama ia melihat sebuah bangku, tapi sepertinya ada seseorang yang sedang duduk di sana. Matanya melebar tatkala mengetahui siapa seseorang yang duduk di sana.
Naruto
Rupanya dia sudah berada di sini.
Wajah Hinata sontak memerah. Lelaki itu masih nampak keren di matanya. Tapi ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, Hinata bisa merasakan itu. Sesuatu yang membuat dirinya mengingat Sasuke.
Sedangkan Naruto yang merasa diperhatikan segera menolehkan kepalanya. Mencoba memastikan siapa yang memperhatikannya. Ia kenal betul siapa yang berdiri di sana. Sosok itu adalah sosok yang paling dirindukannya sejak dulu. Sosok yang tidak bisa dipeluknya lagi. Sosok yang telah menjadi milik orang lain.
"Hinata-chan." panggil Naruto.
Hinata yang sedang hanyut dalam pikirannya sendiri tersentak kaget mendengar suara Naruto yang menyebut namanya. Dilihatnya Naruto dengan malu-malu, dan Naruto tengah tersenyum melihatnya. Hinata jadi semakin blushing melihat senyum Naruto. Tapi lagi-lagi Hinata melihat ada perbedaan di senyum Naruto senyum itu terkesan…
Dingin dan dipaksakan.
Hinata mencoba mengabaikan apa yang dipikirkannya. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Mencoba tersenyum, Hinata berjalan menghampiri Naruto.
"Naruto-kun, apa kabar? Ada apa kau memanggilku?"Hinata mencoba sekuat tenaga agar ia tidak terbata-bata saat berbicara dengan Naruto.
"Aah.. seperti yang kau lihat Hinata-chan."
Hinata memperhatikan Naruto dari atas ke bawah. Hatinya seperti teriris saat melihat keadaan Naruto. Penampilannya berantakan, terdapat lingkaran di kedua matanya. Dan yang paling membuat hati Hinata sakit adalah wajah Naruto yang terlihat pucat.
"Na– Naruto-kun apa kau sakit?"
DEG
Bagaimana Hinata tahu? Naruto merasa kaget. Hanya dengan melihat penampilannya saja Hinata sudah bisa menebak kalau Naruto sedang sakit. Tapi Naruto tidak ingin membuat Hinata khawatir.
"Ah tidak. Aku sehat Hinata-chan~..!" Naruto mencoba terlihat bersemangat di hadapan Hinata. Tapi tetap saja Hinata tau Naruto sedang tidak baik sekarang.
"Apa benar? Tapi wajahmu pucat Naruto-kun."
"Aku bilang aku baik-baik sa- arrgghh…" Naruto tidak sempat menyelesaikan kata-katanya saat tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Ia merintih kecil, berusaha agar Hinata tidak mendengarnya. Ingin sekali ia pegang kepalanya untuk menahan rasa sakit itu. Sekali lagi, ia tidak ingin Hinata mengetahuinya.
"Naruto-kun, kau baik-baik saja? Ada apa?" Hinata sedikit panik saat ia mendengar Naruto merintih kecil. Ternyata Hinata masih bisa mendengar rintihan Naruto walaupun Naruto dengan sekuat tenaga menahan rintihannya.
"A- aku… baik-baik saja… sung- sungguh." ucap Naruto terbata-bata.
Hinata mendekati Naruto yang terlihat semakin pucat. Ia ingin mengetahui kondisi Naruto yang sesungguhnya. Di ulurkannya tangan kanannya untuk menyentuh Naruto. Tapi sebelum tangan Hinata berhasil menyentuh wajah Naruto, seseorang menarik tangan kirinya dari belakang. Sontak Hinata menolehkan kepalanya dan betapa kagetnya dia saat mgengetahui siapa yang menarik tangannya.
"Sasuke-kun." ucap Hinata masih terkejut. Setahunya Sasuke tidak mengetahui kalau Hinata pergi ke taman. Tapi sepertinya ia salah. Sasuke mengikutinya dari tadi.
"Ayo pulang." Sasuke berkata datar sambil menarik Hinata menjauhi Naruto.
Naruto tidak bisa melakukan apapun. Kepalanya terasa sakit sekali. Naruto mencoba untuk menjangkau Hinata yang semakin menjauhinya. Tapi tubuhnya tidak bisa menopang berat badannya lagi, itu menyebabkan Naruto terjatuh dan menimbulkan bunyi yang cukup keras.
BUK
Hinata mendengarnya, ia mendengar seperti ada sesuatu yang terjatuh ke tanah. Saat ia akan menolehkan kepalanya untuk melihat Naruto, Sasuke mengatakan sesuatu yang langsung membuat Hinata bergidik ngeri.
"Jika kau tolehkan kepalamu, aku tidak segan-segan untuk mematahkan lehermu."
Hinata tidak bisa melawan. Ia benar-benar takut Sasuke akan mematahkan lehernya jika ia menoleh. Ia masih ingin hidup.
"Hinata." Naruto menggumamkan nama Hinata pelan sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.
"Naruto-kun, gomenasai."
TBC
WAAAA….. Akhirnya selesai juga.
Haduh gomen telat. Nessa dapet musibah.
Sebenernya chapter ini uda bisa di publish Minggu kemaren. Pas hampir selesai, eh Lappy Nessa ngerestart dg sendirinya. Mana yg 4 lembar blom si save lgi… Jadinya ilang deh T.T Nessa jadi harus ngetik ulang dan muter otak lagi… Huhuhu T.T
9 pages tinggal 5 pages… Capek kalau harus ngetik ulang yang 4 pages .
Masih pendek? Gomen Nessa capek ==" *Plak*
Dan karena Nessa uda capek banget, jadi sekali lagi gomen. Nessa kali ini ga bisa bales review dari kalian… Gomen~
Yosh arigatou bagi yang uda repot-repot baca and ngereview fict Nessa..
Mind to RnR again? ^^
