Previous Chap

DUAR!

Jauh di ujung gang, terdengar suara ledakan yang mampu mengejutkan mobil-mobil yang terparkir di sampingnya. Bunyi alarm kendaraan menjerit berkali-kali. Gaara mendengus.

"Terlambat." Ia berujar. Kakinya—yang dilapisi celana panjang berbahan katun putih—bergerak pelan, menuju sebuah mobil yang terparkir di ujung jalan. "Sambil ke Tokyo Edifice, kita pikirkan cara lain untuk membunuhnya."

Sakura menghela nafas dan mengikutinya.

"Riwayat hidup Hinata Hyuuga harus segera ditamatkan."

.

.

"Kita sudah sampai di Tokyo Edifice..."

Suara Naruto membuat Hinata refleks menoleh ke arah jendela. Dia perhatikan sebuah bangunan besar yang baru saja mereka datangi. Keempat roda mobil berhenti tepat di depan sebuah jalan masuk menuju gedung.

Hinata menelan ludah. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Hinata ke sini. Ia cuma mendadak gugup karena mengingat tujuan awalnya ke Tokyo Aula—nama salah satu ruangan di dalam Tokyo Edifice yang akan dipakai CEC. Tempat yang akan menjadi saksi bahwa dirinya akan diangkat dan disahkan menjadi ketua organisasi pro-rakyat ini.

Tokyo Edifice memang salah satu gedung terbesar yang ruangannya biasa disewakan ke pejabat atau penguasa besar sih.

"Tidak turun?"

Terlalu lama menunggu Hinata yang belum turun-turun, Naruto menoleh ke belakang dan menemukan Hinata yang memandang lurus kepadanya. Sedetik kemudian wanita itu memalingkan wajah.

"Ki-Kita parkir dulu."

"Kenapa? Bukannya atasanmu menunggumu di dalam?"

"Aku... turun bersamamu saja."

"Wah, nanti kita dikira sepasang kekasih—"

"Ti-Tidak akan!" Hinata menjawab cepat. Naruto tertawa. Wanita itu semakin merasakan keadaan mencekam yang memperkeruh keadaannya. Karena terus terang saja, seorang Hinata Hyuuga takut jika dirinya berjalan sendirian barang sedetik pun. Ia tidak mau menghadapi kematian.

"Oke." Sedikit tidak tega, Naruto mengangguk geli. Ia menginjak gas dan berujar. "Semangat, Nona Hinata."

Hinata mengadahkan wajah. Sambil merasakan Naruto telah memajukan mobil, ia menatap kedua mata Naruto—yang sedang fokus ke depan—lewat kaca di tengah kabin mobil.

"Tenangkan dirimu. Ambil nafas dan keluarkan..." Pria itu berujar saat mobil memasuki basement parkir. Ia terkekeh. "Firasatku kau akan hidup lama. Jadi tenanglah sedikit."

Ternyata dia tau apa yang kukhawatirkan—batin Hinata.

Ia tidak tau apakah kalimat Naruto itu hanya sekedar penyemangat atau memang kenyataannya, tapi mau percaya atau tidak, Hinata merasa kepercayadiriannya mulai bangkit. Ia tersenyum dan mengangguk.

Kini bebannya sedikit terlepas.

"Iya. Terima kasih."

.

.

.

1ST ONESHOOT

"1st Oneshoot" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga]

Action, Crime, Romance, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

(anggap LAJ sebagai DPR dan CEC sebagai KPK)

.

.

FOURTH. Interaksi

.

.

Tokyo Edifice, Tokyo.

"Tokyo Aula-nya berada di lantai lima. Perlu di antar, Tuan?"

Naruto mengangkat telapak tangannya, isyarat ke resepsionis gedung bahwa dia dan Hinata—yang berada di belakangnya—bisa ke sana sendiri. Kemudian pria berjas rapi itu berbalik dan memandang nonanya. "Ayo."

"Mm..." Hinata mengangguk.

"Apa aku perlu berjalan di belakangmu?" Naruto menawarkan diri.

"Tidak. Kau saja yang di depan."

"Baiklah."

Sambil melangkah, pria jabrik itu mengenakan sebuah kacamata hitam yang biasa dikenakan oleh bodyguard-bodyguard kala bertugas. Sedangkan Hinata hanya berjalan sambil menunduk, memandangi langkah kaki Naruto yang berada semeter di depannya.

Mereka menuju lift yang terletak di ujung koridor. Saat itu keduanya terdiam, tak ada obrolan atau apapun. Hanya ada suara samar dari orang-orang asing yang berlalulalang. Wajar ada banyak orang di lantai dasar, gedung multifungsi ini memang sengaja dibuat untuk banyak hal.

Seperti contohnya di bagian atas Tokyo Edifice ini juga ada ratusan kamar apartemen, minimarket, restoran dan fasilitas umum lain sih. Sedangkan bagian bawahnya digunakan untuk kepentingan kerja; seperti lounge, meeting room, ballroom, sampai ke grand convention hall. Dan destinasi mereka berdua apalagi kalau bukan ke grand convention hall-nya—yang sengaja diberi nama Tokyo Aula.

Dan di sini, Naruto jadi teringat suatu hal saat ia masih aktif menjadi agen. Saat itu ia dibawa Jiraiya juga ke sini, Tokyo Edifice, untuk menemui seseorang. Seseorang yang—sudah dari dulu—membuat dirinya muak dengan para pengusaha besar yang begitu egois dan seenaknya.

Dan hebatnya, orang yang barusan ia pikirkan barusan... juga bermarga Hyuuga.

Tapi bukan Hinata Hyuuga. Orang itu laki-laki. Dan sifatnya jauh berbeda dari Hinata. Dia angkuh, sombong dan licik.

Untung ia menolak tawaran kerja untuk membantu orang tersebut.

"...kaze-san..."

"Namikaze-san..."

Di dalam lift Hinata berkali-kali memanggil. Naruto yang memunggunginya tak menanggapi. Wanita itu pun meremas pelan jari tangan Naruto.

"Namikaze-san!" Saat Hinata baru berani mengeraskan suara, barulah Naruto menoleh dengan tatapan kaget.

"Ya? Apa?"

"Dari tadi aku memanggil namamu..."

"Maaf, aku sedikit melamun. Dan juga aku tidak terbiasa dipanggil Namikaze." Ucapnya. "Suaramu tidak kedengaran."

"Memangnya... kau lebih sering dipanggil apa?"

"Naruto. Hanya Naruto." Pria itu tersenyum ke arahnya. "Mau memanggilku dengan sebutan itu?"

Hinata berpikir sebentar. "Ng... boleh?"

"Ya."

"Baiklah."

Ting!

Bersamaan dengan itu, pintu lift terbuka. Mereka keluar sambil terus berbicara.

"Dan karena kau boleh memanggil nama kecilku, aku akan memanggilmu dengan sebutan Hinata. Tapi aku akan tetap menyertakan sebutan Nona jika kau menyebalkan."

Hinata menghela nafas. Seharusnya Naruto lebih banyak berkaca—bukannya dia yang lebih menyebalkan dan semaunya?

Yah, setidaknya berbicara dengan Naruto membuat ia lebih rileks.

"Oh, ya. Tadi kau kenapa memanggilku? Butuh apa?"

Hinata terdiam sebentar, lalu ia menggeleng kecil.

"Mm... tidak. Tidak jadi." Ujarnya. "Nanti saja."

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Otto Park, Tokyo.

Di kejauhan, sebuah mobil berwarna biru metalik melintas di jalan raya. Gaara yang memegang kemudi memutar stir, memarkirkan mobilnya di sebuah taman hijau yang terletak dua ratus meter dari gedung Tokyo Edifice, lalu menarik rem tangan. Sakura berdesis kesakitan. Gaara berhenti mendadak saat ia lagi memasang soft lense hitam—untuk menutupi iris gioknya—karena itulah jarinya ikut mencolok sudut matanya karena gerakan tadi.

"Apa kau tidak bisa menyetir tanpa terburu-buru seperti itu, Gaara? Aku sedang dandan..." Sakura menasihati sambil mengelap setitik air mata yang keluar dengan tisu.

"Kau yang terlalu lama. Seharusnya kau sudah menyempurnakan penyamaranmu sebelum naik ke mobil."

"Terus saja menyalahkan orang lain..." Sakura berdecak.

"Kau duluan yang menyalahkanku."

Malas mengurusi Gaara, Sakura menyelesaikan riasan matanya dan mengambil salah satu wig yang berserakkan di jok belakang. "Gaara, kau kan juga harus menyamar. Jangan cuma diam saja dong. Padahal kau juga belum siap apa-apa..."

"Berisik." Pria yang saat ini berkacamata hitam itu mengabaikannya. Sakura membuang muka. "Sebentar lagi kita turun."

Sakura yang sudah mengenakan wig panjang berwarna cokelat itu menoleh, memandang gedung Tokyo Edifice yang tidak begitu jauh dari letak mobil. "Target utama kita Hinata Hyuuga, kan?"

"Hm."

"Nanti siapa yang membunuhnya? Aku atau kau?"

"Kau. Aku yang akan mengisi rencana B jika kau gagal. Taruh senapan kalibermu di kotak biola." Jawabnya. Ia naikan kacamatanya di kepala dan memeriksa ulang perintah yang sebelumnya diberikan Sasuke via email. "Untuk penyamaran, kita akan pura-pura menjadi paman dan keponakan yang diundang di salah satu acara keluarga di ballroom. Tapi nanti kita masuk ke grand convention hall, lebih tepatnya ke salah satu balkon indoor tak terpakai. Di sana kau bidik kepalanya, tunggu aba-aba dariku, lalu tembak."

"Oke, aku mengerti. Tapi kenapa tidak pakai sniper rifle dan menembaknya dari gedung sebelahnya saja—seperti saat kita membunuh Mitarashi Tenten? Bukannya itu jauh lebih aman dan cepat?"

"Tokyo Aula tidak memiliki jendela, jadi kita tidak bisa menembaknya dari luar gedung."

"Ya sudah, sekarang kemarikan wajahmu."

Gaara menoleh. Sakura yang sudah membuka kotak make up menatapnya.

"Apa? Kenapa mukamu seperti itu? Bukannya kita berdua akan menyamar sebagai paman dan keponakan?"

"Tsk." Gaara berdecak, tapi mau tidak mau ia tetap harus dirias. Maka dari itu ia kuas make up Sakura mewarnai kulit wajahnya. "Jangan buat yang aneh-aneh."

Di saat inilah bagian favorit Sakura saat bekerja dengan Gaara.

"Iya, iyaa."

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Tokyo Aula, Tokyo Edifice 5F.

Pintu aula sengaja dibukakan oleh dua petugas yang tengah berjaga. Hinata masuk didampingi oleh Naruto yang kini berada di belakangnya. Tak jauh di dalam ruangan yang sedikit ramai, berdirilah beberapa orang yang sangat familiar di mata Hinata. Segera, ia menghampiri mereka dengan raut wajah ceria.

"Tsunade-sama..."

Ia yang dipanggil menoleh dan balas tersenyum. Ia menepuk pelan pundak Hinata dengan bangga. "Kau datang lebih cepat, rupanya..." Katanya. "Apa jangan-jangan kau sudah sangat siap ya untuk jabatan baru ini?"

Wajah tenang Hinata sedikit tertekuk. Telak, kalimat Tsunade sedikit menyadarkannya pada sebuah kenyataan yang harus dia hadapi. Hinata menggeleng, lalu kepalan tangannya menyentuh dada. "Sebenarnya... a-aku masih belum siap..."

Tsunade menghela nafas maklum. Ia menggenggam Hinata erat. "Tidak apa. Prosesi pengangkatannya masih lama, sekitar satu jam lagi. Kau tenangkan dirimu dulu. Jadi saat nanti kau berbicara pada umum, kau tidak akan terbata."

Hinata mengiyakan. Setelah perbincangan kecil di antara mereka selesai, Hinata menyapa pelan salah satu rekannya di CEC. Shizune Tonuki. Mereka tampak akrab—selayaknya teman sendiri. Menyadari bahwa ada bodyguard Hinata yang juga merupakan bawahan dari saudara jauhnya, Jiraiya Senju, Tsunade menatap Naruto. Ia ber-ojigi singkat dan kemudian berucap pelan.

"Bagaimana? Apa Hinata baik-baik saja di pengawasanmu?"

Naruto menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Selalu."

"Kau sendiri bagaimana, Hinata? Merasa aman dengannya?"

Hinata menoleh. Ia pandangi dulu wajah Naruto dan Tsunade secara bergantian. Lalu ia berpikir. Inginnya ia mengenang jasa-jasa Naruto terhadap dirinya, namun yang terpikir malah segala candaan kotor yang sering pria itu layangkan kepadanya.

"I-Iya, sepertinya."

"Baguslah. Kuharap tak akan ada orang yang berani macam-macam denganmu. Kau terlalu lembut untuk melawan sih..."

Hinata mengeluarkan senyum—sekedar menghargai kalimat Tsunade.

"Karena situasi di sini lagi aman, boleh kutinggal kalian sebentar?" Naruto tiba-tiba menginterupsi dengan gaya bicara yang lumayan sopan. Sangat berbeda dari tutur kalimatnya yang biasa ia tunjukan saat hanya ada Hinata di depannya.

Melihat punggung Naruto yang menjauh, Hinata panik sendiri. "E-Eh? Kau mau k-ke mana?"

"Keluar. Berkeliling sambil melihat keadaan." Katanya. "Lagi pula di sini ada banyak anggota CEC, polisi, dan orang-orang lainnya, kan? Kau pasti aman."

Hinata pun menolehkan wajahnya ke sekitar. Ia terusuri satu per satu wajah para penghuni aula ini. Setelah merasa tak ada orang yang mencurigakan, ia membuat lekungan lemah di bibirnya, mengizinkan pria itu pergi. Walau ada perasaan tidak rela. Ia rasa paranoid tersebut akan kembali membuncah apabila tidak ada kehadiran si Namikaze di sampingnya.

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Cklek.

Saat Naruto keluar dari Tokyo Aula, dilihatnya segelintir orang yang baru akan memasuki ruangan. Ia lewati semua orang selayaknya melawan arus. Sampai di langkah ke dua puluh, akhirnya berada di sisi koridor yang cukup sepi.

Trrrr...

Ponsel di saku Naruto bergetar. Lagi-lagi yang menelfonnya ialah Jiraiya, atasannya. Namun untuk saat ini memang itulah yang ia butuhkan.

Pip.

"Bagaimana? Kau sudah menemukan orang-orang yang mencurigakan?"

'Ya.' Jiraiya menjawab. Dari speaker terdengar juga suara ketikan laptop yang menjadi backsound. 'Aku mendapatkan beberapa informasi penting.'

"Apa yang kau dapatkan?" Naruto bertanya sambil berjalan. Kedua mata sebiru langitnya mengawasi tiap sisi dan orang yang dia lalui.

Jiraiya pun menjelaskan secara detail mengenai informasi yang mereka—CEC bagian penyelidik—temui. Terutama dari segala bukti nyata sewaktu mereka menganalisis TKP-TKP pembunuhan ketua CEC yang sebelumnya.

'Kami belum memastikannya secara jelas, karena ini hanyalah dugaan sementara. Tapi sepertinya ada beberapa pihak yang mengikuti kalian.'

"Apa? Siapa? Kau tau identitasnya?"

'Belum. Datanya sulit. Ini masih dicari. Seperti ada sesuatu yang mencegah kami mencari lebih dalam.'

Naruto mengangguk. Pupil matanya bergerak ke kanan atas; ia berpikir. "Tapi tunggu sebentar... katamu, mereka mengikutiku dan Hinata?"

'Hm. Jadi ada kemungkinan besar Hinata diincar di hari ini juga. Kau harus tetap menjaganya, Naruto.'

Naruto menghela nafas. Oke, dia mungkin bisa saja menjaga Hinata. Tapi bagaimana saat prosesi pengangkatan ketua CEC berlangsung? Di ruangan yang sangat luas itu pasti pembunuhnya bisa menyerang dari arah mana pun, kan?

"Pasti yang mengikuti kami adalah G-Parade." Gumamnya. "Di datamu, berapa jumlah pembunuh bayaran itu?"

'Yang paling mencurigakan sekitar dua orang—ah, bukan. Tiga.'

"Sekarang mereka di mana?"

'Sepertinya di dalam gedung.'

"Apa—?"

Brukh!

Naruto tersentak. Ia baru saja menabrak seseorang saat melewati tikungan. Ponsel yang ia pegang sempat terlepas, sedangkan ada gadis yang jatuh terduduk karena tumburan tadi. Kotak biola besar yang ia bawa ikutan terjatuh. Untung lantainya di lapisi karpet, jadi barang-barang yang terbentur alas bisa dipastikan sama sekali tidak rusak.

"Sorry. Aku kurang memperhatikan jalan..." Kata Naruto. Wajahnya mencerminkan raut biasa; tidak malu, bersalah ataupun marah. Ia ulurkan tangan untuk membantunya—perempuan bersurai coklat panjang itu. Gadis itu menggeleng, dan Naruto pun beralih mengambil hard case biolanya yang tergeletak. Namun ketika Naruto mengangkat kotak persegi itu, ada tangan pria lain yang menepisnya untuk menjauh, merebut balik biola si gadis.

"Tidak apa. Dia tidak perlu di bantu."

Naruto sedikit mengadahkan wajah, memandang seorang pria berambut hitam yang memiliki janggut tipis di sekitar bibirnya. Dia bagaikan orang paruh baya yang mudah naik darah. Nada suaranya saja dingin seperti itu.

"Ayo berdiri, Saki."

"Iya, Jisan..."

Gadis bergaun putih mengangguk cepat. Dia berdiri, dan memeluk erat kotak yang telah pamannya berikan. Kemudian dua orang berpakaian formal tersebut pergi.

Naruto yang ditinggalkan juga mengambil ponselnya. Jiraiya memanggil-manggil namanya dari speaker. Namun bukannya fokus ke pembicaraan serius mereka, Naruto malah terheran.

"Kenapa kotak biolanya berat sih? Kayak bawa barbel besi..." Ia bergumam seraya menggerakkan jemarinya. Lalu mata Naruto beralih ke punggung pria berjas cokelat yang memimpin perjalanan sang gadis menuju lift. "Dan suara pria itu... sedikit mencurigakan."

Ya. Tidak mungkin kan ada pria tua—sekitar empat puluh tahunan—yang memiliki suara se-fresh tadi? Bahkan rasanya nada suara mereka hampir setara.

Hm...

Bukannya itu sesuatu yang ganjil?

'Naruto, kau dengar aku, kan?' Jiraiya memanggil. 'Hei, Naruto!'

Naruto berputar arah. Ia akan mengawasi dua orang tadi, dua orang yang sebenarnya adalah Gaara dan Sakura versi menyamar.

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Hinata terdiam di tengah Tokyo Aula yang bising. Orang-orang CEC, pejabat penting, dan juga pers mulai memenuhi sisi-sisi ruangan. Pengangkatan ketua CEC adalah sebuah berita penting untuk masyarakat Jepang, karena itulah banyak tokoh politik yang datang sebagai saksi.

Wanita bersurai indigo itu menelan ludah. Selagi Tsunade dan Shizune sedang berbicara dengan salah satu mentri yang berperan serta, ia menoleh ke seluruh ruangan. Kedua manik pucatnya mencari sesosok yang beberapa menit terakhir selalu dia harapkan berada di sampingnya; melindunginya.

Tapi sayang, orang itu tidak ada. Naruto belum kembali ke aula.

"Ada apa, Hyuuga-san?"

Hinata menoleh ke arah Shizune. Wanita yang menjabat sebagai sekretaris Tsunade itu tampaknya menyadari gerak-gerik tidak nyamannya.

"Apa Anda mencari seseorang?"

"Ti-Tidak. Sama sekali tidak." Ia buru-buru menggeleng. "Aku... h-hanya gugup. Sebentar lagi acara akan dimulai."

"Tidak apa. cuma memakan waktu beberapa jam saja kok. Anda tidak perlu khawatir."

Hinata tertawa resah—sedikit memeriahkan atmosfir di antara mereka.

Jujur saja wanita Hyuuga itu tidak tenang. Sekalipun suasana aula dipenuhi oleh banyak orang yang dia kenal, Hinata tetap tidak merasa aman. Ia malah semakin takut. Takut apabila ada salah satu di antara mereka—tamu-tamu undangan—yang mengincar nyawanya.

Tidak tahan oleh atmosfer yang tersedia, Hinata berjalan keluar. Ia mau mencari angin.

"Mau ke mana?"

"Ke toilet." Jawabnya pelan saat Tsunade bertanya.

Setelah itu ia pun ke luar. Di sana Hinata memandangi dua jalan yang di pertigaan koridor. Ada yang ke kanan, ada yang ke kiri. Kira-kira tadi Naruto berjalan ke arah mana, ya?

"Eh?"

Menyadari pola pikirnya, Hinata menggeleng. Kenapa tiba-tiba ia malah ingin mencari Naruto—lagi? Bukannya ia harusnya ke toilet?

Sambil menepuk pelan masing-masing pipi, ia memilih kanan. Di gedung besar seperti ini tidak mungkin kan hanya ada satu toilet per lantainya?

Karpet cokelat tua beraksen elegan itu diinjaknya berkali-kali dengan heels yang ia kenakan. Sampai suatu detik, Hinata mendengar kehadiran suara langkah kaki di belakang tubuhnya.

Dari temponya, terbayang jelas bahwa orang itu tengah berjalan dengan kecepatan normal. Namun entah kenapa Hinata menyadari sebuah aura buruk. Seolah kegelapan akan menangkapnya dari belakang.

Meneguk ludah, Hinata mempercepat laju diri. Kedua tungkai kakinya yang sedikit bergetar, menemani jantungnya yang sudah berdetak tak karuan. Tapi sial, sesuai apa yang Hinata pikirkan, orang—di belakang—itu sama-sama mempertinggi kecepatan langkahnya.

Hinata panik. Keringat dingin memenuhi keningnya.

Ia takut.

Namun kala ia akan memasuki toilet perempuan yang sudah di depan mata, pergelangan tangannya ditarik kasar, memaksanya untuk berbalik.

Set.

"Kyaa—mphh!"

Mulut Hinata dibekap. Dengan memejamkan mata Hinata yang panik memberontak. Salah satu tangannya yang bebas dia gunakan untuk memukuli seseorang yang dapat diduga—dari tubuh yang Hinata pukuli—ialah seorang laki-laki.

"Hinata."

Dan akhirnya suara itu membuat ia membuka mata.

"Kenapa kau histeris, hn?"

Hinata tersentak saat mendengar suara familiar itu. Cepat-cepat ia mengerjap. Matanya langsung terbelalak lebar saat dirinya melihat rupa seorang di hadapannya.

Kulit pucat, iris obsidian, serta rambut raven yang membingkai paras sempurnanya.

Sasuke Uchiha.

Salah satu politisi muda yang bekerja di komisi C Legislative Assemblly of Japan. Ia merupakan anak dari Fugaku Uchiha, tersangka utama Kasus Uchiha—sebuah kasus korupsi terbesar di seantero Jepang. Dan dia sedang memandang Hinata dengan tatapan heran.

Dan untuk informasi tambahan, pria itu adalah... mantan kekasihnya.

"A-Ah, Sa-Sasuke-kun?"

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Hahh, aturan fict ini ku-publish minggu lalu loh. Tapi karena ngga sempet (aku lagi mudik), aku baru bisa update sekarang, hehe. Semoga kalian masih suka. Anw, buat yang ngga suka SasuHina, jangan khawatir. Aku memang SHL, tapi aku ngga akan menyediakan romance mutlak selain NaruHina dan GaaSaku di sini :)

.

.

Glosarium

[1] LAJ (Legislative Assembly of Japan): Badan parlemen Jepang yang dianggotai oleh dewan perwakilan rakyat. Mengurus pemerintahan negara.

[2] CEC (Comission Eradication of Coruption): Badan pemerintah yang menangani kasus korupsi. Dipimpin oleh Tsunade Senju.

[3] G-Parade: Nama kelompok pembunuh bayaran yang dianggotai oleh Gaara dan Sakura.

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to

Guest, hyunkjh, REDCAS, rui chan, author-nata, Naru-kun93, bohdong-palacio, Kazahaya Sakazuki, kirei- neko, Guest, utsukushi hana-chan, El Ghashinia, ichirukilover30, Guest, Manguni, Guest, Luca Marvell, Nervous, Yourin Yo, Amu B, Neerval-Li, NarutoisVIP, Nauri Aconituferox, Dewa ares sang dewa perang, bardere, Namikaze Sholkhan, Blue-senpai, Tuxedo Putih, Bunshin Anugrah ET, WhiyaY, flowers lavender, sin hye jung, miikodesu, mangetsuNaru, Yumi Murakami, uchiha yardi, Guest, Benafill McDeemone, Nyanmaru desu, Ayzhar, hahahaha, stillewolfie, Audrey Naylon, Guest, N-n, kobaysen, shinta-minoz-10, Guest, ck mendokusei, Yamanaka Emo, frank, August Atcherryd.

.

.

Pojok Balas Review

Gaara kejam banget. Haha, untung ngga sampe gore, ya. Naruto-nya wow! Terima kasihh. Harusnya pas mobil berhenti Gaara nembak Hinata pake pistol. Pengennya gitu, tapi kayaknya bisa lebih mudah ketauan. Kurang panjang. Masih mending kurang panjang tapi cepet update, kan? :) Feeling Naruto agak lemah. Bukan salah Naruto, haha. Sense of crime dan kasusku kurang, jadi mohon maaf :D Naruto punya masalah apa sama keluarga Hyuuga? Kapan-kapan dibahas. Hinata bisa beladiri? Kayaknya ngga. Ada romance NaruHina? :) Ada firasat GaaSaku bakalan mati di ending. :)

.

.

Warning

Fiksi ini murni karangan—dimulai dari nama tempat, tokoh dan badan organisasi yang disebutkan. Jadi mohon maaf jika ada kemiripan atau kesalahan yang tak sengaja tertulis di dalam sini.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU