Hydrangea

[ A flowers that look like oversized light blue-flowered pom-poms ]


Suara langkah kakinya menggema ke seluruh ruangan, memecah hening yang sangat terasa di dalam rumahnya pada pukul 9 malam. Jemarinya yang pucat menggenggam erat rangkaian bunga yang terlihat sangat cantik dengan pita berwarna merah, dan iris hitamnya terfokus pada salah satu pintu kayu berukir di sudut ruangan.

Ruangan yang membuat perasaanya campur aduk, setiap kali ia berada di dalamnya.

Ia memutar knop pintu, lalu mendorongnya perlahan, udara sejuk yang berasal dari pendingin ruangan menyapu lembut kulitnya yang berwarna pucat. Ia melangkah masuk, lalu seorang pria paruh baya bersurai hitam dengan raut wajah datar menyambutnya dengan pertanyaan dari sudut ruangan.

"Apa kau membawanya?"

Sasuke bergumam pelan, ia melirik sekilas ke arah rangkaian bunga di dalam genggaman tangannya sebelum melangkah mendekat. "Aku membawa apa yang kau inginkan."

Pria paruh baya melangkah ke arah sebuah meja yang tidak jauh dari tempatnya, ia meletakan rangkaian bunga berpita merah tepat di sebelah bingkai foto seorang wanita bersurai hitam yang sedang tersenyum lembut. "Mikoto pasti senang." Jemarinya menyentuh foto di dalam bingkai dengan lembut, raut wajahnya nampak datar, namun sorot matanya terlihat begitu sedih. "Putra kesayangannya membawakan bunga kesukaannya setiap hari."

"Hn, Ibu pasti senang memiliki seseorang yang sangat mencintainya sepertimu Ayah."

Fugaku tersenyum tipis. "Aku tahu kau sudah dewasa, sama seperti Itachi." Ia melangkah mendekati Sasuke, dengan kedua alis yang mengernyit. "Tetapi mendengarmu berbicara seperti itu rasanya sangat aneh." Ia tertawa.

Sudut bibir Sasuke terangkat, membentuk senyuman tipis. Setelah Mikoto pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, baru kali ini ia melihat Fugaku tertawa hingga kerutan di matanya terlihat sangat jelas.

"Tertawa membuatku lelah." Fugaku menyeka sudut matanya, wajahnya kembali datar tanpa emosi, seperti biasa. "Ini sudah larut, kau seharusnya juga beristirahat." Iris hitamnya menatap ke arah Sasuke, lalu terfokus pada rangkaian bunga berwarna kuning yang berada di genggaman tangan kirinya. "Apa kau yang membeli bunga itu?"

"Tidak," sahutnya datar. "Seseorang memberikan bunga ini padaku."

"Hyacinth," ujar Fugaku datar. "Aku ingat, Mikoto pernah memberikanku bunga itu saat wanita lain berusaha mendekatiku." Ia menoleh ke arah bingkai foto di atas meja. "Bunga itu melambangkan arti cemburu, siapapun kekasihmu, kau tidak seharusnya membuatnya merasa seperti itu."

Sasuke mengernyitkan alisnya tidak mengerti, ia terdiam sesaat sebelum membuka mulutnya. "Cemburu?" gumamnya pelan, menatap rangkaian bunga berwarna kuning di genggaman tangan kirinya. "Dia? Tidak mungkin." Ia menggeleng pelan, lalu tertawa sinis seraya melangkah keluar ruangan. "Itu tidak mungkin benar."

Fugaku menatap bayangan Sasuke yang perlahan menghilang dari balik pintu, lalu ia menoleh ke arah bingkai foto di hadapannya. "Kurasa putra kesayanganmu itu sedang menghadapi persoalan cinta yang cukup rumit, dan sejujurnya aku tidak menyangka jika ada seseorang di luar sana yang benar-benar mencintai pria sepertinya," ujarnya tersenyum lembut. Ia mengusap wajah seorang wanita di dalam bingkai foto. "Jika kau ada di sini, kau pasti sudah marah karena aku mengejek putra kesayanganmu, bukankah itu benar, Mikoto?"

.

Sasuke menatap pantulan wajahnya di cermin, rambutnya tertata, dan pakaian yang ia kenakan juga terlihat rapih, penampilannya terlihat sempurna, sama seperti biasa, namun lingkaran hitam di bawah matanya berkata lain.

Semalaman penuh ia duduk di atas kasurnya, mempelajari banyak hal tentang bunga layaknya ilmu yang sangat berharga, dan ia tahu, itu semua terjadi karena Naruto, seorang pria pemilik toko bunga, yang senang mencurahkan isi hatinya melalui setangkai bunga.

"Dasar kau brengsek Naruto," geramnya menatap rangkaian bunga berwarna kuning yang mulai layu tergeletak di atas meja.

Ia melangkah meninggalkan kamarnya, menuruni tangga, lalu berlari ke arah garasi. Pria yang bekerja sebagai supirnya memanggilnya berulang kali, menanyakan ke mana ia akan pergi, namun ia tidak merespon, dan cepat-cepat menyalahkan mesin mobil, seraya merogoh saku celana, untuk mengambil ponsel miliknya. "Aku tidak akan pergi ke kantor, katakan pada Itachi ada yang harus kukerjakan." Belum sempat mendengar jawaban, ia sudah terlebih dahulu mematikan ponselnya lalu melemparnya ke sembarang tempat. Seharusnya ia pergi bekerja hari ini, namun ada beberapa hal yang ia ingin pastikan terlebih dahulu.

.

"Sasuke?"

Iris hitamnya menangkap raut wajah terkejut Naruto saat ia secara tiba-tiba melangkah masuk melalui pintu kaca. Ia juga bisa melihat dengan jelas jika pria bersurai pirang itu sedang membereskan beberapa tangkai bunga, dan memasukannya ke dalam pot yang terbuat dari kaca.

"Kenapa... Kau datang sepagi ini?" ujar Naruto bingung, saat Sasuke melangkah menghampirinya.

"Hyacinth," Iris hitamnya menatap tajam ke arah pria bersurai pirang yang berjarak hanya 10 senti di hadapannya. "Kau cemburu?" ucapnya langsung pada inti.

Naruto memalingkan wajahnya, "Itu..." Sedikit menunduk, ia kembali memasukan beberapa tangkai bunga yang ada di tangannya ke dalam pot. "Sepertinya kau sudah mengetahuinya."

"Jawab pertanyaanku, dan tatap mataku saat kau berbicara," perintahnya datar. "Apa kau cemburu?" lanjutnya lagi.

"Itu benar!" Naruto menggeram. Ia melempar tangkai bunga yang ada di dalam tangannya ke atas meja. "Aku mencintaimu, sejak awal bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu!" Iris birunya menatap lurus ke arah raut wajah datar seorang pria bersurai hitam yang membuat perasaannya campur aduk. "Kau mungkin menganggapku gila," ujarnya. "Aku bahkan tidak tahu jika kau menyukai pria, dan aku tetap mencintaimu." Ia mencengkram kedua bahu Sasuke. "Melihatmu datang setiap hari membuatku sangat senang, tapi aku tahu kau datang bukan karena ingin melihatku, tetapi karena kau menginginkan rangkaian bunga buatanku." Ia menundukkan wajahnya, lalu melepaskan cengkraman kedua tangannya secara perlahan. "Rangkaian bunga yang kau berikan untuk wanitamu."

"Rangkaian bunga itu memang untuk seorang wanita," sahut Sasuke, raut wajahnya tidak berubah, datar dan dingin, sama seperti biasa. "Wanita yang sangat kucintai." Iris hitamnya melihat dengan jelas raut kecewa di wajah Naruto. "Ayahku dan Itachi, juga mencintai wanita itu, sama sepertiku."

Naruto mengangkat wajahnya, Iris birunya menatap Sasuke tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

"Lilacs, Carnations, dan Lilies dengan hiasan pita berwarna merah. Itu adalah bunga kesukaan Ibu," jelas Sasuke. "Sejak dia pergi meninggalkan kami, Ayah memintaku untuk mencari rangkaian bunga segar setiap hari. Itu bukanlah hal yang mudah, dan saat itulah aku menemukanmu. Ayah, menyukai bunga yang berasal dari tokomu, dia tidak menginginkan bunga dari toko lainnya." Iris hitamnya menatap lurus ke arah Naruto. "Bukankah pernah kukatakan padamu? Jika aku tidak mendapatkan bunga dari tokomu, aku tidak akan bisa pulang."

Naruto mengangguk pelan merasa bersalah, bahkan iris birunya tidak mampu menatap Sasuke. "Aku mengerti, dan aku mengingatnya sekarang, maafkan aku."

Sasuke bergumam singkat, lalu melangkah mendekati mesin kasir. "Buatkan aku rangkaian bunga seperti biasa, dan juga buatkan aku rangkaian bunga Hydrangea."

"Tentu," sahut Naruto dengan senyuman lembut yang terlihat memaksa. Ia merangkai kedua rangkaian bunga dengan cekatan, lalu menyerahkannya kepada Sasuke.

Jemari pucat Sasuke meletakan beberapa lembar uang kertas ke atas meja kasir, sebelum mengambil rangkaian bunga di hadapannya. "Naruto," panggilnya pelan.

Pria bersurai pirang di hadapannya menoleh.

"Aku mengatakan semua ini padamu, karena aku tidak ingin kau merasa cemburu," ujarnya datar. "Walaupun aku tidak bisa membalas pernyataan cintamu saat ini, tapi itu bukan berarti aku tidak menyukaimu. Aku tidak bisa mengatakan jika perasaanku untukmu saat ini adalah cinta, tetapi aku merasa nyaman dan senang saat berada di sekitarmu, bukan sebagai pelanggan, namun sebagai Sasuke." Iris hitamnya melirik sekilas ke arah Hydrangea berwarna biru muda di tangannya, lalu ia menyerahkannya pada Naruto. "Ini untukmu, sampai jumpa besok." Cepat-cepat ia melangkah ke arah pintu, meninggalkan pria bersurai pirang yang terdiam, menatap bingung ke arah rangkaian bunga di genggaman tangannya.

"Mengatakan kalimat yang membingungkan, memberikanku bunga, lalu pergi begitu saja." Iris birunya menatap rangkaian bunga berwarna biru muda. "Hydrangea?" gumamnya pelan. "Terima kasih sudah memahamiku." Ia terdiam sesaat, sebelum kembali membuka mulutnya. "Darimana kau tahu arti bunga seperti ini? Apa kau ingin bersaing denganku?" Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Sasuke, kau benar-benar membuatku gila." Ia menundukkan wajahnya, lalu tertawa hingga kedua matanya menutup.

.

Continued