POLARIS (Northern Star)
.
.
.
"Kau tau Polaris?"
"Aku pernah mendengarnya."
"Sebuah bintang di langit Kutub Utara. Sebuah bintang yang tidak akan pernah berpindah dari tempatnya."
"Lalu?"
"Aku telah menemukan Polaris-ku."
.
.
.
Aku mendudukkan diri di sofa berwarna dark brown di ruang tengah. Tak ada televisi di ruangan ini, hanya sebuah lemari kayu tanpa pintu berisikan beberapa CD dan sebuah CD Player di level kedua dari atas.
Coffee table didepanku dan sebuah piano di sudut kanan ruangan, di temani beberapa gambar di tembok. Hanya gambar dari coretan pensil ku rasa. Hanya menggambarkan seorang pria dari arah belakang menghadap matahari tenggelam di sebuah pantai, di taman dan di dalam hutan.
Tak ada warna terang di ruangan ini, karena seluruhnya di dominasi warna cokelat, dan hitam. Tapi warna-warna basic memang punya nilai estetika tersendiri.
Penglihatanku kemudian berhenti padanya yang datang dengan dua buah botol beer ditangan kanannya sementara tangan kirinya memegang sebatang rokok yang menyala. Sudah batang rokok ke tiga sejak kami bertemu di depan Vending Machine tadi.
Ia duduk di seberangku, sembari membuka tutup beer untuk kami berdua ia menawarkan rokoknya padaku, "Maaf, tapi aku tidak merokok."
"Good."
Rokok itu ia hisap kuat, menikmati beberapa detik zat nikotin didalam rongga mulutnya sebelum menghembuskannya keluar melalui belah bibirnya secara perlahan.
Kepulan asap memenuhi sebagian wajahnya yang kelewat tampan itu, mata birunya terbias sedikit sisa cahaya matahari yang masuk dari celah jendela. Hanya sedikit, karena langit kian gelap. Stubble dibagian atas bibirnya dan di bagian dagu memberikan kesan bahwa ia adalah pria yang tidak begitu mengkhawatirkan penampilannya.
Dan tanpa sadar aku terus memandang wajahnya. Ia hanya tersenyum miring, melihatku yang tanpa sadar ini terus melihat wajahnya.
Ku akui memang orientasi seksual berbeda, sebut saja aku ini gay, tapi tak pernah aku begitu tertarik dengan pria sebelumnya, tidak pernah setertarik ini. Maksudku, aku pernah suka pada seorang pria tapi hanya sekedar 'Dia tampan, baik dan aku suka'.
Berbeda dengan kali ini. Ada rasa menggelitik di dada dan debaran jantungku seakan 2 kali lebih cepat dari biasanya.
Aku salah tingkah dibuatnya. Membuang muka, melihat yang lain selain wajahnya adalah yang ku lakukan, sementara ia menenggak beer.
"Jadi, kalau aku tidak salah dengar kau ini dari Korea Selatan ?"
"Iya."
"Wow, ibuku dari sana. Tapi sejak aku lahir, aku tak pernah ke sana."
"Tidak pernah?"
"Ibuku mengganti kewarganegaraannya, memilih untuk tinggal dan hidup disini." jelasnya.
Dan itu cukup menjawab rasa ingin tahuku, mengapa ia yang berwajah asia namun dengan mata biru jernihnya hanya mampu berbahasa Perancis dan Inggris.
Setelahnya kami hanya diam untuk beberapa saat, tak kurang dari 10 menit ia menyalakan rokok keempatnya. Ku rasa ia tak bisa lepas dari rokok dan beer, sejujurnya aku tak suka perokok dan pemabuk.
Tapi aku rasa, dia adalah pengecualian.
"Apa kau keberatan kalau ku putar musik?"
"Hm, no. It's okay."
Ia bangkit dari duduknya, memilih salah satu CD dan meletakkannya didalam CD Player. Lantunan musik dari grup metal yang sama sekali tidak aku kenalmemenuhi ruangan. Raut wajahnya berubah, ia menikmati lagu itu.
Mengikuti liriknya dan ikut bernyanyi di beberapa bait, dan aku hanya duduk memperhatikannya. Ada rasa senang dalam diriku melihat dia tersenyum lebar karena lagu yang ia putar. Dan yang aku tahu, aku suka melihatnya tersenyum dan aku ingin tahu bagaimana ia tertawa. Aku ingin lebih sering melihatnya tertawa.
Percakapan kami kemudian berlanjut dengan topik seputar musik, dan beberapa pertanyaan darinya mengenai Korea Selatan. Bagaimana ia ingin sekali pergi kesana, melihat budaya orang Asia karena pada dasarnya, darah Asia mengalir ditubuhnya maka aku tak heran kalau dia punya keinginan untuk kesana. Namun sayangnya tak ada kesempatan untuknya, saat ini.
Menurutku seharusnya ibunya tidak sepenuhnya merubah jati diri anaknya yang lahir dari orang tua beda kebangsaan. Seharusnya ada sedikit bahasa atay sedikit budaya dari pihak ibu yang ia tahu, walau hanya sedikit. Tapi ia mengatakan sejak ia dilahirkan, hanya bahasa Perancis lah yang selalu ia dengar dan ucapkan.
Tapi bagaimanapun, aku tak punya hak untuk mengutarakan itu padanya. Terdengar sangat tidak sopan kalau aku bersikeras.
.
Teringat dengan piano di sudut ruangan, aku bangkit dari sofa dan meminta ijin padanya, "Boleh?"
"Ya, tentu. Kau bias memainkannya?"
"Hm, hanya yang mudah saja."
"Good, kalau kau mau aku bias memainkan Fur Elise atau soundtrack Star Wars?"
"Tidak. Biar aku, hanya ingin mencoba apa aku masih ingat lagu ini atau tidak."
Memanikan sebuah lagu yang partiturnya sudah ada di luar kepala. Les piano yang pernah aku ambil 2 tahun lalu saat aku masih di Korea, semoga aku masih semahir dulu kalau tidak, sama saja aku mempermalukan diri sendiriku didepannya.
Membuka nada dengan menekan satu persatu tuts piano secara perlahan, "Kalau kau mau, aku punya instrument yang lain."
"Terima kasih, tapi aku hanya tahu piano." Aku mencoba mengingat kembali not balok sebuah lagu dari seorang musisi, adalah Riopy – I love you.
Aku punya ingatan yang cukup baik, tak butuh waktu lama setelah warming up aku mulai memainkan setiap nadanya dengan baik, menurutku.
.
.
Author P.O.V
.
Sebatang rokok yang menyala ia hisap kuat ketika permainan piano Baekhyun semakin intens. Perlahan menegakkan duduk yang semula bersandar di sandaran sofa, sembari menghembukan asapnya perlahan. Sorot mata tajamnya tertuju pada punggung sempit Baekhyun, ia diam. Menikmati bagaimana punggung itu ikut bergerak mengikuti permainan musiknya sendiri.
Chanyeol masih terus menatap kearah Baekhyun, tanpa yang lebih mungil sadari. Memusatkan atensinya pada lelaki asal Korea Selatan itu.
Kantung matanya yang terlihat semakin menghitam kala cahaya lampu menerpa tulang alisnya menimbulkan bayangan diatas kantung matanya, serta tatapan itu seperti memberikan sebuah isyarat pada Baekhyun namun sayangnya lelaki itu masih begitu fokus dengan permainan pianonya tanpa memperdulikan tatapan Chanyeol yang seakan-akan hampir bisa melubangi punggung sempitnya..
Chanyeol meraih botol beer dengan tangan kanannya, menghabiskan sisa cairan beralkohol itu dalam sekali minum. Kemudian kembali memusatkan pandangannya pada Baekhyun hingga permainan piano itu usai.
"Wow."
"Bagaimana? Mungkin tak semahir pemilik lagu itu atau soundtrack Star Wars." ia duduk menyamping, matanya menatap netra biru si Demaury.
"Itu luar biasa, kau mengejutkan."
"Apa itu artinya bagus?"
"Ya."
"Aku suka dengan orang yang penuh kejutan." lanjutnya.
Baekhyun memutar tubuhnya kebelakang sepenuhnya, menghadap Chanyeol yang baru saja menghabiskan rokoknya, "Jadi kau benar-benar tinggal sendiri?"
"Ya. Seperti yang kau lihat."
.
.
Baekhyun P.O.V
.
Senja datang dan perutku mulai berbunyi, meminta makan dan betapa malunya aku hingga Chanyeol mendengarnya. Kami berdua masih begitu betah duduk di sofa, bertukar cerita tentang kehidupanku di Korea dan dia yang hidup di Perancis.
"Kau lapar?"
Well, tentu.
"Ya, aku lapar." Chanyeol meraih botol-botol beer yang memenuhi coffee table. Aku hanya minum satu, sementara dia sudah menghabiskan botol dan 7 batang rokok.
"Okay. Kau mau makan apa?"
"Apa saja."
"Sayangnya tidak ada makanan di dapur, mau ku pesankan pasta? Kau suka pasta?"
"Boleh."
Membawa seluruh botol-botol beer, dan beranjak pergi. Ke dapur, ku rasa.
Aku memutar kembali arah pandanganku ke sekeliling ruangan dan kembali berhenti di beberapa lukisan hasil goresan pensil di kertas yang ia temple di dinding. Masih penasaran dengan maksud dari lukisan yang ia buat.
Ada 5 gambar, dengan main object punggung pria yang menghadap matahari terbenam dari 5 tempat yang berbeda. Matahari terbenam, apa dia sesuka itu pada sunset ? ataukah itu sunrise ?
Saat ku tanya mengapa ia suka menggambar itu, ia hanya bilang kalau itu menenangkan. Hanya itu, dengan hanya alasan itu ia menggambar.
Kemudian di dalam ruangan ini tak kutemukan satu pun foto, gambar apapun selain lukisannya itu. Dinding-dinding kamar ini bersih dari segala bentuk gambar, tidak seperti kamarku yang banyak ku berikan beberapa dekorasi foto yang di dominasi pemandangan sudut kota Paris yang aku ambil tak lama setelah aku menginjakkan kaki di kota paling romantis seantero Eropa.
Dan tiba-tiba Chanyeol sudah kembali, bersandar pada dinding dengan sebotol beer lengkap dengan sorot matanya yang kali ini ku rasa lebih mengintimidasi dari sebelumnya.
Sorot mata itu seakan-akan mampu menarikmu lebih dalam dan jika kau terbawa maka kegelapan seketika akan memelukmu membawamu jatuh dengan debaran jantung yang tak beraturan.
Ia tampan. Memang ku akui dia sangat tampan, dan sudah ku akui itu berkali-kali. Tapi, bukan hanya ketampanannya saja yang membuatku tertarik padanya, karena tanpa benar-benar aku sadari ada sesuatu di balik wajah tampannya. Banyak cerita yang ingin sekali aku tahu, banyak hal yang ingin aku ketahui darinya.
.
.
.
- - to be continued - -
.
.
Note :
Hi!
Ini chapter ke-4 , dan Author Point Of View pertama ada di chapter ini. Karena dari chapter 1 sampai 3 didominasi Baekhyun Point Of View.
.
I hope y'all like it, dan semoga tidak ada typo hahaha
.
Okay, see you next time!
Jangan lupa Follow & Review.
.
Salut!
