.

Your Eyes

.

.

Disclaimer :

Naruto belongs to Masashi Kishimoto-dono ever after

Unconditionally song by Katy Perry-san

And oh yeah, the nice cover picture this fic is not mine, unfortunately :(

.

Pairing : NaruHina

Warning : AU, OOC maybe, Typos

.

.

.

Chapter 3. Unconditionally

.

Oh no, did I get too close?
Oh, did I almost see?
What's really on the inside
All your insecurities
All the dirty laundry
Never made me blink one time

.

"...dan kami berharap Konoha Gakuen Anniversary Festival kali ini bisa menjadi salah satu titik balik semangat juang kita. Semangat juang demi bakti kita kepada sekolah kita tercinta. Inilah ajang kita mengeluarkan seluruh potensi dan kreativitas kita demi nama harum Konoha Gakuen. So finally... Last present from us before graduate from here... This is it... Konoha Gakuen Anniversary Festival !"

Tepuk tangan riuh membahana menyusul Sang Ketua OSIS mengakhiri sambutannya. Seperti biasa pidato yang berapi – api. Seperti biasa pula mataku tak pernah lepas menatapnya. Hanya saja kali ini aku memilih barisan paling belakang yang cukup tersembunyi. Berusaha sebisa mungkin tak tertangkap iris Blue Sapphire-nya.

Semenjak hari itu aku memang agak menghindarinya. Tak membiarkan kami hanya berdua saja di satu tempat. Yang anehnya kesempatan itu banyak sekali bermunculan. Aku mencurigai adanya penyalahgunaan jabatan untuk sangat banyaknya kesempatan – kesempatan itu. Kesempatan yang dulu sangat ku perjuangkan tapi tidak kali ini. Bukannya aku takut atau membenci dirinya. Hanya saja ...

"Aku menyukaimu, Senpai. Aku sudah menyukaimu sejak dulu..."

"... Meskipun begitu, bolehkah aku sedikit berharap, Senpai ? Sudikah Senpai kenali aku dulu ? Kenali aku sebagai seorang wanita yang menyukai seorang laki - laki. Bukan sebagai seorang adik kepada kakaknya. Tak bisakah, Senpai?"

AAARRRGGHHHH! Tolong bunuh aku sekarang! Ingin sekali mengubur diri sendiri hidup – hidup jika aku mengingat kata – kataku dua hari lalu. BAGAIMANA BISA SEORANG HINATA HYUUGA MEMBUAT PERNYATAAN CINTA SEFRONTAL ITU TANPA BERPIKIR PANJANG?! God, tak kusangka ternyata diriku se-impulsif itu!

Karin bahkan terang – terangan melongo dengan mulut terbuka lebar mendengar ceritaku keesokan harinya. Meskipun setelah itu dia langsung memelukku over excited dan menyarankan menagih jawaban Naruto-senpai sesegera mungkin. Kalau perlu tempeli dia kemana – mana seperti perangko mulai detik ini juga. Sungguh kebalikan dengan yang kulakukan sekarang. Membuat Karin mencak – mencak gemas tentu saja.

Apa boleh buat. Aku terlalu malu bahkan untuk sekedar menatap wajahnya. Aku juga belum siap mendengar jawabannya.

Hari ini adalah hari ketiga sekaligus hari terakhir festival dan sejauh ini aku selalu berhasil menghindari Naruto-senpai. Disamping karena festival ini memang menguras seluruh kesibukan,-Belum lagi kelasku yang penuh orang gila itu ngotot ingin menyulap kelas kami menjadi Maid Caffe, kau tahu?! Dan aku sang Hinata yang punya kelainan tidak-bisa-berkata-tidak harus menjadi salah satu Maid! Untung hanya sebentar karena Karin segera menyelamatkanku dengan alasan rapat panitia festival- aku juga punya cara jitu menghindari berduaan dengannya.

"Nata-chan, kau sudah selesai mengecek presensi stan tiap kelas?" tanya Kiba.

Yap. Kiba adalah salah satu cara jitu yang aku bicarakan. Dia partner satu sie ku dalam kepanitiaan festival. Jika radarku menangkap situasi membahayakan, aku segera menyeret Kiba untuk menemaniku. Sehingga tak ada kesempatan Naruto-senpai membicarakan hal di luar masalah festival. Fufufu...

Inuzuka Kiba adalah salah satu sahabat baikku, selain Karin tentu saja. Kami teman masa kecil karena kami bertetangga. Yahh... walaupun di SMA ini aku lebih sering main dengan Karin saat butuh merumpikan hal – hal yang berbau tentang 'woman'. But still, He's my bestfriend. Dia dan Shino-sahabat masa kecilku yang lain- seperti kakak laki – lakiku yang kedua dan ketiga. Dia tak tahu tentang perasaanku kepada Naruto-senpai. Meski aku curiga dia mencurigai sesuatu tentang hal itu.

"Ehm, sepertinya ada lima kelas yang belum menyerahkan presensi pengunjung stan mereka. Nanti pulang sekolah aku akan menagihnya ke ketua kelas mereka. Kau mau menemaniku kan, Kiba-kun?" Aku melayangkan jurus puppy eyes andalanku. Well, tagih menagih bukan keahlianku jujur saja.

Kiba yang melihat wajah melasku karena tahu alasannya pun terkekeh geli.

"Haha, tentu Nata-chan! Ck, kapan kau akan mandiri tanpa aku dan Shino heh?" Tangannya terulur mengacak poniku berantakan.

"Cih, katakan saja kalau kau tak mau. Aku akan meminta Shino mene-"

"Ehem!" Suara deheman tiba – tiba menginterupsi kalimatku.

Aku membeku. Se-sepertinya a-aku kenal suara ini.

"Bukankah kau harus mengecek perlengkapan untuk penutupan sebentar lagi, Kiba? Biar aku saja yang menemani Hinata ke para Ketua Kelas,"

Takut - takut aku melirik sang pemilik suara. Benar saja. Dia bersandar di pintu kelas dengan tangan besedekap tanpa senyuman. Ekspresinya tak terbaca. Se-sepertinya aku dalam masalah.

"Uhm...." Kiba beberapa kali menoleh bergantian ke arahku dan Naruto-senpai sebelum menjawab, "Baiklah Senpai. Aku akan segera ke Aula."

Kiba mengacak pelan poniku sekali lagi dan sedikit mencondongkan kepala ke telingaku untuk berbisik.

"Sorry Nata-chan, sepertinya kali ini aku tak bisa jadi perisaimu. Hehe... Ganbatte nee!"

GLEK! Aku susah payah meneguk ludah. Huwaaaa Kiba-kun jahaaaat!

Ugh keheningan yang canggung. Bisa jelas ku rasakan tatapan intensnya me-rontgen diriku.

"A-ano, se-sepe-per-ti-tinya a-aku ha-harus pergi ju-juga ke aula. Sa-sampai ju-jumpa, Se-senpai,"

Dengan tergesa aku merapikan berkas di tanganku dan segera beranjak pergi. Aku harus segera pergi. Aku berhasil melewatinya yang masih saja diam. Sedikit la-

GREP

Sebuah tangan menahan lenganku. Menghentikan langkahku seketika.

"Se-senpai?" lirihku menoleh ke belakang. Berusaha tidak menatap langsung ke matanya.

"Sampai kapan kau akan menghindariku, Hinata? Kita harus bicara,"

"A-aku tidak me-menghindari Sen-senpai. Ha-hanya saja a-aku... Well, a-akhir ini aku me-memang sedang sibuk. Setelah i-ini aku juga harus menemui para ke-ketua kelas. Jadi bisakah kita bicaranya be-besok saja, Se-senpai?"

Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangannya di lenganku. Namun gagal. Dia malah menyeretku-nyaris harfiah- menuju parkiran sekolah.

"Ck, bagaimana mungkin kesibukan anak buah mengalahkan kesibukan Ketua OSIS-nya, hm?" ujarnya terdengar setengah galak setengah geli.

"Ta-tapi..."

"Bahkan demi kau aku membawa motor lamaku ke sekolah, kau tahu?"

Benar saja. Kami sudah berada di samping sebuah Ducati merah jingga milik Naruto-senpai yang sangan jarang sekali dia bawa ke sekolah. Dia lebih sering menggunakan sepedanya.

Dia menyodorkan sebuah helm ke arahku setelah dirinya sendiri naik dan memakai helm.

"Ki-kita mau ke-kemana? Lagipula tasku masih-"

"Tenanglah, Ketua OSIS-mu ini punya banyak anak buah," Jawabnya tak nyambung. Apa hubungan dia punya banyak anak buah dan tasku masih di sekolah?

"Ta-tapi..."

"Hinata," panggilnya penuh peringatan.

Aku meneguh ludah," Ba-baiklah, Senpai,"

Dengan enggan aku menerima helm darinya dan melangkahkan kakiku menaiki Ducati sialan ini. Ups maaf! Hyuuga tidak boleh mengumpat.

.

.

.

.

.

.


.

"Jadi?"

"Jadi?" ulangku tak mengerti dengan pertanyaannya.

Kami berdua berada di sebuah caffe di dekat sekolah. Latte di depannya tak tersentuh karena dia lebih tertarik merontgenku dengan Blue Sapphire miliknya. Sedangkan aku memilih mengaduk – aduk gugup Vanilla Ice Cream di depanku demi menghindari tatapannya.

"Kau tak menginginkan jawaban dariku, Hinata-chan?"

Oh, 'chan' itu sudah kembali lagi rupanya. "Uhmm..." Ingin sih. Tapi kalau itu sebuah 'No' nggak jadi aja deh, terimakasih.

Dia menghela nafas mendapati aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Hhh, baru kali ini aku tahu orang yang di tembak mengejar – ngejar orang yang menembaknya untuk memberikan jawaban," ujarnya setengah geli setengah pasrah.

"Kalau begitu kenapa kau memaksa memberikan jawaban?" gumamku yang ternyata terdengar olehnya.

"Kau adalah adik dari salah satu sahabat baikku, Hinata. Aku menyayangimu, sungguh. Aku tahu begitu menyakitkannya menunggu jawaban dari seseorang yang engkau sukai. Aku tak mau menggantungmu dari perasaan tak pasti seperti itu,"

Adik? Jadi beneran 'No' nih?

"Berhenti," lirihku. Berhenti melihatku hanya sebagai seorang adik!

Aku memberanikan diri mendongak menatapnya.

"A-apakah aku tak boleh me-menyukaimu, Senpai?"

Dia menatapku dalam.

"Aku menyukai orang lain, Hinata. Aku tak tahu bagaimana kau tahu siapa yang aku sukai. Tapi dugaanmu benar. Orang yang aku sukai adalah Sakura-chan. Aku telah jatuh cinta padanya sejak kami masih kecil,"

DEG

Sebuah tangan tak kasat mata membetot jantungku dari dalam.

"Haha, memang sih Sakura-chan menyukai Sasuke-teme. Dia sangat menyukai Sasuke malah. Sekeras apa pun aku mencoba merebut hatinya, selalu ada di sisinya saat ia kesepian, menghiburnya saat ia sedih, tapi tetap Sakura-chan tak pernah membalas perasaanku. Dia tak pernah menatap ke arahku," kata Naruto-senpai, tersenyum sendu.

"Lalu kenapa, Senpai?" kataku menatap Blue Sapphire-nya dalam, "Kenapa kau masih mempertahankan cinta menyakitkan seperti itu?"

Naruto-senpai menggelang pelan. Masih tetap tersenyum.

"Aku tidak bisa, Hinata. Aku sudah pernah mencobanya tapi nihil. Sekeras apa pun aku berpaling darinya perasaan ini tak mau hilang. Still,I'd throw my hand on a blade for her. Tak ada yang bisa menyerat perasaan ini pergi dariku,"

"Begitu pun denganku, Senpai," Aku berhenti sejenak menatap matanya," Tak ada yang bisa menyerat pergi perasaanku padamu,"

.

Come just as you are to me
Don't need apologies
Know that you are all worthy
I'll take your bad days with your good
Walk through the storm I would
I do it all because I love you
I love you

.

Naruto-senpai terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya. Namun aku pun tak peduli. Dadaku sudah sesak dari tadi.

"Me too, Senpai. I'd catch a grenade for you. So, why not you try me,? Mari kita coba saja. Perasaan siapa yang menang dan bertahan dan siapa yang menyerah kalah. Why dont you try open your heart for me. Jadilah kekasihku, Naruto-senpai!"

Cep!

Hening.

1 detik.

3 detik.

7 detik.

.

.

.

AARRRRGHHHH! APA YANG KAU LAKUKAN, BAKA HINATA?! APAKAH KAU BARU SAJA MENEMBAKNYA UNTUK YANG KEDUA KALINYA?! Teriak Inner-ku melempariku dengan kursi – kursi caffe.

Hiks...Hiks... A-aku tidak ta-tahu. Mulutku bergerak sendiri sebelum bisa ku cegah.

"Pppfft... Hahaha," tawa Naruto-senpai memegangi perutnya.

Blush! Aku menunduk menahan malu. Oh siapa saja, bunuh aku sekarang!

"Baiklah, aku bersedia,"

Ehh?

Aku mendongak. Naruto-senpai sedang bertumpu dengan salah satu tangannya yang ada di atas meja. Tersenyum lebar secerah mentari. Blue Sapphire-nya bersinar memukauku. Membuatku terhipnotis lagi lagi dan lagi.

"Ehm, maksudku bagaimana kalau kita simulasikan dulu?"

"Si-simulasi?"

"Jujur, aku belum bisa membalas perasaanmu sebesar yang kau berikan padaku. Aku juga tak janji bisa melupakan begitu saja perasaanku pada Sakura-chan. Tapi aku akan mencoba. Aku akan berusaha membalas perasaanmu. Jadi sampai saat itu tiba, bagaimana kalau kita jalani dulu 'Masa Percobaan Pacaran'? Dan seperti katamu kita akan lihat perasaan siapa yang akan menang? Perasaanku pada Sakura-chan atau perasaanmu padaku. Bagaimana?" ujarnya masih tersenyum lebar.

A-apakah a-aku bermimpi? Simulasi atau Masa Percobaan atau apapun itu aku tak peduli asalkan aku bisa menjadi kekasih Naruto-senpai. Kyaaa~

"A-aku mau. A-aku mau, Senpai," jawabku tergagap.

Oh ku harap aku tak akan pingsan saking bahagianya. Apalagi saat ku rasakan tangan Naruto-senpai terulur mengacak poniku pelan.

.

So open up your heart and just let it begin
Open up your heart and just let it begin
Open up your heart
Acceptance is the key to be
To be truly free
Will you do the same for me?

.

.

.

.

.

.


.

Nanana~

Tiada henti – hentinya aku bersenandung ria. Padahal seminggu sudah berlalu. Namun senyum tak pernah lepas dari wajahku. Nyaris membuat semua orang terdekatku menyerngit bingung dengan sikapku yang agak out of character ini.

Karin bahkan dengan kurang ajarnya meletakkan telapak tangannya di dahiku untuk mengecek suhu tubuh sambil searching nama psikiater terkenal di Konoha city. Dia bilang dia hanya ingin memastikan apakah aku masih waras atau tidak.

Hehe. Aku tak peduli. Yang pasti seminggu ini adalah seminggu paling membahagiakan dalam hidupku. Aku jadi kekasih Naruto-senpai.

Kyaaa~

Aku senang sekali waktu kebersamaan kami kini makin banyak. Dia selalu mengantarku pulang. Semakin sering menelpon untuk mengobrol dan mengirimiku pesan. Entah itu via sms, email, atau hanya sekedar stiker - stiker lucu Line. Bento buatanku selalu ia terima dengan senyum lebar secerah mentari. Tak lupa acakan pelan di poniku yang membuatku ber-blushing ria.

Apakah aku sudah selangkah lebih maju memenangkan perasaannya?

Aku segera menggeleng - gelengkan kepala mengusir lamunanku. Berdiri menunggu di dekat gerbang memang rawan membuat pikiranku melantur kemana – mana.

Sigh, aku melirik sekali lagi jam yang tertera di pergelangan tanganku. Setengah jam sudah berlalu selagi aku menunggu Naruto-senpai. Kami memang berjanji pulang bersama lagi hari ini. Dia memintaku menunggunya sebentar karena ada sedikit urusan OSIS yang harus di urusnya.

Aku lagi - lagi tersenyum sendiri membayangkan aku akan pulang bersama Naruto-senpai lagi. Kalau aku beruntung mungkin dia akan mengajakku ke festival musim panas nanti malam. Ah lebih baik aku samperin langsung saja ke Sekretariat OSIS sambil membawakan minuman dingin untuknya. Aha! Itu adalah ide brilliant. Aku pun melangkah dengan riang menuju kantin. Tak akan menyangka sebelumnya bahwa aku akan kembali terhempas ke bumi setelah terbang setinggi ini.

Aku membeku menatap pemandangan di depanku. Aku meremas kuat - kuat jus kaleng yang baru saja aku beli di kantin. Berharap dengan begitu aku bisa mencegah air mataku jatuh.

Aku melihat Naruto-senpai dan Sakura-senpai dari jendela sekretariat OSIS. Hanya berdua.

Mereka tampak sedang berbicara serius. Aku tak begitu bisa melihat ekspresi seperti apa yang di tunjukan Naruto-senpai karena posisinya yang agak sedikit membelakangiku.

Haruskah aku menghampiri mereka? Apakah aku akan mengganggu jika aku kesana? Atau harusnya aku memang kesana untuk mengganggu? Bukankah aku pacar Naruto-senpai?

Ah, aku lupa. Aku hanya pacar simulasi.

Inner-ku meringis miris-

DEG!

-dan semakin teriris saat ku lihat sepasang lengan tan menarik gadis di depannya mendekat. Mendekap gadis musim semi itu erat.

TES

Aku berbalik dan menghapus air mataku cepat. Aku tidak boleh menangis. Aku harus bertahan. Bukankah aku sendiri yang berujar akan mengadu perasaanku dengannya. Aku harusnya tahu ini tak akan mudah.

TES TES

Ugh, air mataku tak mau berhenti. Kulangkahkan kakiku menjauh.

Tenang, Senpai. Aku belum menyerah.

Tapi. . .

Setidaknya beri aku waku untuk menyambung hatiku yang patah ini dulu.

Ku rogoh handphone di kantongku untuk mengirim pesan singkat. Sepertinya aku harus membatalkan acara pulang bersama kami.

.

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

.

.

.

.

.

.


.

"Niisan, aku kan sudah bilang aku nggak mau ikut. Aku lagi nggak mood ikut matsuri macam ini!" gerutuku sambil menghentak - hentakan yukata ungu ini. Salah satu yukata favoritku sebenarnya. Warna dasar ungu muda dengan corak lili - lili putih yang cantik. Tapi sesayang apapun aku pada yukata ini aku tetap rela kok menghentak - hentakannya jika sedang bad mood maksimal. Seperti saat ini misalnya.

"Ck, sudahlah ikut saja. Daripada kau menyendiri menggalau ria di kamarmu itu sambil menangis,"

"Si-siapa yang galau sambil me-menangis?"

Crap! Darimana Neji-niisan tahu aku menangis? Oh, ku harap mataku tidak bengkak. Lagipula sejak kapan Neji-niisan jadi serewel ini sih. Tiba - tiba memaksaku memakai yukata cantik dan menyeretku ikut dengannya ke festival Tanabata. Alasannya karena dia sendirian dan perlu teman jalan. Katanya. Tapi aku tak percaya.

"Sudahlah, neesan. Tak rugi juga kok kalau ikut. Kita jadi bisa lihat teman kencan Neji-niisan. Ku dengar mereka janjian disini, hihi," ujar Hanabi terkikik, "Ah, sepertinya aku melihat Ayame-chan! Ayame-chan! Ayame-chan!" tambahnya sambil melambai - lambaikan tangan kepada seseorang di depan sana.

"Hey, Hanabi, tunggu jangan lari - lari di keramaian!" seru Neji-niisan berusaha menyusul Hanabi yang kini tengah berlari – lari kecil sambil mencincing yukata biru mudanya.

Teman kencan? Great! Ternyata Neji-niisan beneran berbohong kepadaku. Sendirian apanya?! Dia hanya ingin mengerjaiku pasti. Ck, awas saja nanti Neji baka-

DUK!

"Ah, ma-maaf. Maaf. Hontou ni sumimasen," ujarku membungkuk 90° sangat menyesal.

Are – are, Hinata kau membuat masalah lagi. Karena terlalu sibuk mengumpat dan menghentak – hentakan kaki kesal, aku berjalan tanpa melihat kedepan. Alhasil aku pun menabrak seseorang di depanku.

Aku beberapa kali membungkuk meminta maaf dan menutup mataku ketakutan. Semoga orang itu tidak marah.

"Hehe, kau masih tetap ceroboh seperti biasanya ya, Hinata-chan," suara baritone semerdu beludru menyapa pendengaranku.

Aku melotot kaget melihat orang di depanku.

"Na-naruto-senpai,"

"Kau harus melihat ke depan saat berjalan Hinata-chan," katanya dengan senyum secerah mentari favoritku. Tangannya terulur ke depan dan mencubit pipi kananku.

"Aaauww, Sakit Senpai!" protesku cemberut. Emang dia pikir pipiku pipi macam apa. Setelah dia menghancurkan hatiku kini dia ingin menghancurkan pipiku huh?

"Hahaha, kalau terus cemberut nanti cantiknya hilang lho. Daripada cemberut wanna join with me, hime?"

Aku melongo dengan tidak elit menatap tangannya yang terulur ke depan.

A-apa pi-pikiran kalian sama dengan denganku? Apakah dia sedang menunggu uluran tanganku menyambutnya?

"Ck, kau lama sekali, Hinata-chan,"

Sebelum aku bisa merespon lebih jauh dia sudah menarik tanganku dan menggenggamnya. Akhirnya kami menyusuri jalanan festival sambil berpegangan tangan.

Hangat dan besar. Aku tak tahu kalau telapak tangan laki – laki bisa sebesar dan sehangat ini. Namun bukannya tidak nyaman. Sangat nyaman dan hangat. Kehangatannya menjalar dari tanganku menuju ke leher terus ke wajahku. Ku rasa wajahku sudah sewarna kepiting rebus saat ini.

Diam – diam aku melirik ke arahnya. Menatap wajahnya yang sedang tersenyum dari samping. Dia memakai kaos orange berlengan pendek dan jumper tanpa lengan berwarna hitam-jingga. Terlihat sangat tampan.

Tiba – tiba saja tanpa peringatan dia menoleh ke arahku dan menatap mataku. Dia tersenyum semakin lebar. Aku tak kuasa memalingkan wajah. Terlalu terkunci di kedalaman matanya. Dan gemuruh ramai suasana festival serasa terdengar dari tempat nun jauh disana. Hingga hanya ada aku dan dia disini. Hanya aku dan dia.

.

Unconditional, unconditionally
I will love you unconditionally
There is no fear now
Let go and just be free
I will love you unconditionally

.

.

.


Chapter 4. End


.

.

.

A/N:

Aihh, akhirnya update juga. Apakah kalian menunggu - nunggu fic ini? #plak /Tidak ada yang menunggu baka!

Oh ya, Taqabballahu minna wa minkum Shiyamanaa wa shiyamakum

Happy Eid 1436 H

Mohon maaf lahir batin :)

Aku juga cukup puas dgn chap ini apalagi scene Naruhina di caffe. Aih~

Hehe, tapi kayaknya rasa romance nya kurang ya?

Kebanyakan Hurt nya kah? Kagak kan? hahaha

Semoga tetap fic rasa romance, tanpa drama.. hahaha...

Tapi jujur saya susah bikin romance yang fluffy2 gitu deh, minta sarannya ya minna~

Terimakasih buat yang sudah baca, follow, fav, n mereview

maaf tidak saya jawab via pm hehe tapi jgn kapok mereview yaa, saya sedang belajar bikin fic yang berkualitas dgn tata bahasa yg bagus

krn seperti yang kalian baca tata bahasa n diksi saya kurang sekali, hehehe

.

.

.

wah-wah Hinata-hime nembak duluan? Hinata gk OOC kok, kan klo sudah besar dia(Hinata) memang sudah berani- : Syukur deh kalau Hinata-nya tidak OOC :D walau saya merasa sedikit sih, hihi, apalagi kata2 inner-nya yg hyperaktif. hehe tapi emang saya sengaja kok. hahaha

wkwkwk ngenes adik-kakak zone: Hihi ya nih, Naruto mah gitu orangnya,

Nande? Harus To be continued? Lanjut aja deh... :') : Siap

aku suka cerita ini dan aku yakin yg dipikirkan Naruto adalah Hinata walau masih belum jelas juga sih apa jawaban Naruto: Makasih. Udah tahu kan jawaban Naruto apa. hehe .

puas bgt rasa'a dichp ini hina bisa jujur ttg perasaannya. penasaran apa ya yg akan dilakukan naru?: saya juga puas kok kmren. apalgi skrg. hehe. udah tau yg akan dilakukan narukan ? hehe

Hiks :') naru oh naru sadarlah kau nak :v Semangat thor aku menunggu :v salam manis: Noh, Naru-chan ayo lekas sadar. hehe

Nyut bnaget :') kokora juga ikut sakit hati liat naru-kun gk begitu perhatian sama my himee : hehe, skrg gmn ? dia udah perhatian ke hime kan . dikit. hihihi

Wah puncaknya nih, semoga cepet dilanjut . Penasaran banget . Kira kira bakal sadar gk si narutonya? Argh frustasi ama naruto gk pekak -3- : masih akan ada yg lebih puncak setelah ini. hehehe... tunggu tgl mainnya...

Hinata-chan sabar banget :'u entar buat Naruto-kun sadar yak thor bikin tuh cemburu kalo hinatanya deket cowok lain tapi jangan cemburu yang pasaran-: hehe, ehm... bikin Naruto cemburu yg gak pasaran yaa? ehmm #mikir

Suka bannget sama hinata yang terus terang gini :) : asek. asek.. Tuh Hinata chan ada yg suka ma kamu #lambai2 ke Hinata

Ahah si narutonya bener banget dah, tega amat hinata gk disadarin juga ada dikejadian jatuh itu :v gemes sendiri : mari kita balaskan dendam hinata

Hinata akhirnya jujur dngan prasaan sendiri . Lnjut? : akhirnya... hehe. Siap!

Gk OOC kok masih wajar, akhirnya jujur ama perasaanya ya. Ak suka penulisan author buat cerita :) cepet updtae, semangat: Terimakasih~ Syukur kagak OOC . sebisa mungkin saya memang meminimalkan OOC

Semangat nextnya :D ceritanya bener bener menarik: Makasih Muach :*

Hinatanya akhirnya jujur sama perasaanya dan gk dipendem : Hinata sudah capek jd stalker 1 thn lebih sih... hehe

Weeee, Hinata akhirnya ngungkapin perasaannya ke Naruto! Walaah, terus gimana nih reaksinya Naruto? Sikap dia ke Hinata ... akankah berubah? Huaaa.. pasti nanti bakal ada canggung-canggung gitu, ya? Aduuh, jadi penasaran sama kelanjutannya : nah, sudah tahu kelanjutannya kan? hehe... masih penasaran? hehe

.

.

cc. Byakugan no Hime, , Fury F, Azarya senju, yudi, Nata Chan, piruka15, NHLSya, Kuru Hitsuwa, NNaomiH, XsiguraNH, Hikari24x, ElU, Tomoehsjsa, Guest, Azu-chan NaruHina, etc.

.

.

.

.

.

See ya soon~

:D

Sign,

.

.

.

hikarisyifaa

25.07.2015

.