Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning : OOC, Modern-AU, Shounen Ai, YAOI, typo(s),dll DON'T LIKE DON'T READ!
D E S T I N Y
-Chapter 4: The Truth–
Naruto's Room, Rasengan Interprize. 09.42 a.m.
Seorang pria berambut pirang terlihat sedang membaringkan tubuhnya di sebuah sofa panjang yang terdapat di ruang kerjanya. Tangan kanan pria itu menjuntai ke bawah sementara tangan kirinya terlihat menutupi wajahnya. Dasi berwarna hitam miliknya terikat asal-asalan dengan dua buah kancing kemeja teratasnya yang terbuka. Jas kerja yang beberapa saat lalu ia kenakan terlihat teronggok begitu saja di atas lantai marmer yang dingin. Boleh dikatakan penampilannya yang sekarang tidak mencerminkan seorang Namikaze Naruto yang biasanya terlihat rapi.
Kelopak mata kecokelatan milik pria itu terbuka setelah beberapa lama terpejam menampilkan iris berwarna biru cerah. Pria itu kemudian melirik tumpukan tabloid dan majalah yang tertumpuk asal-asalan di atas meja di samping sofa itu.
Naruto tersenyum sinis membaca sebuah judul berwarna hitam yang tercetak di salah satu halaman sebuah majalah gosip yang terbuka lebar.
"'Namikaze Naruto seorang gay', huh!" eja Naruto membaca judul tersebut. "Memangnya kenapa? Memangnya kenapa kalau aku seorang gay?"
Pria berambut pirang itu bangkit dan mendudukkan dirinya. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran sofa yang tersedia. Tangan tan-nya meraih sebuah majalah di atas meja dan mulai membaca isi artikel tersebut.
'Tidak ada yang menyangka, seorang Namikaze Naruto (27). Pemilik dan pemimpin Rasengan Interprize, sebuah perusahaan raksasa yang saat ini ramai menjadi bahan perbincangan karena kesuksesannya sehingga menjadikan dirinya salah satu orang berpengaruh di dunia ternyata memiliki kelainan orientasi seksual. Kemarin (21/10) Naruto tertangkap kamera tengah bermesraan dengan Uchiha Sasuke (27)-salah satu pewaris Sharingan Corp.-di sebuah pesta salah satu pejabat tinggi di Jepang,' batin Naruto membaca artikel itu.
Pria berambut pirang itu mendecak keras. Ia sama sekali tidak berniat melanjutkan membaca artikel sepanjang satu halaman penuh tersebut.
Dengan kasar, dilemparnya majalah yang memuat berita tentang dirinya itu sembarangan. Tangan kiri pria itu kini beralih mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau berita tentang dirinya akan menyebar secepat ini.
Pagi tadi saat ia tiba di kantornya, ia dibuat heran dengan tatapan karyawan-karyawan di kantornya. Ada yang secara terang-terangan berbisik-bisik saat ia berjalan melewati mereka. Barulah ia tahu apa yang menyebabkan mereka bersikap aneh saat tanpa sengaja seorang karyawannya terlihat membawa sebuah majalah dan membacanya bersama beberapa teman-temannya.
Naruto merampas majalah itu dan terkejut saat melihat foto dirinya dan Sasuke menghiasi halaman depan majalah tersebut beserta sebuah judul yang dicetak dengan huruf tebal. Segera saja ia memerintahkan security yang bekerja di perusahaan itu untuk menyita semua media cetak dalam bentuk apapun yang memuat berita tentang dirinya tanpa menyisakan satu eksemplar pun.
"Naruto-sama..."
Naruto menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Terlihat Hinata tengah berdiri di sampingnya dengan raut wajah cemas. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak menyadari kedatangan wanita itu.
"Ada apa?" tanya Naruto dengan nada lemah.
"Perintah Anda untuk menarik semua majalah yang memuat berita Anda sudah saya lakukan. Penerbit majalah itu juga sudah diminta untuk tidak memuat berita mengenai Anda lagi. Semua majalah juga sudah dikumpulkan dan dimusnahkan. Tapi..." Hinata berhenti berbicara dan hanya menatap atasannya itu.
"Katakan," perintah Naruto.
"...Saya tidak bisa menghentikan berita-berita yang beredar di internet. Berita itu sudah tersebar luas di dunia maya."
Naruto menghela nafasnya. Ia menopangkan kedua tangannya di atas meja.
"Apa pelaku pemotretan itu sudah kau dapatkan?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk. "Sudah. Saya sudah menyita kamera dan memusnahkan foto aslinya. Ia juga sudah menandatangani surat perjanjian untuk tidak menyebarkan berita itu lagi."
"Siapa pelakunya?"
"Salah satu wartawan dari majalah Men in Businness. Sepertinya ia tidak terima saat Anda menolak wawancara darinya sehingga ia mengikuti Anda ke pesta itu untuk mendapatkan berita. Menurut informasi yang saya terima, ia melihat Anda sedang bertengkar dengan Uchiha-san sampai akhirnya Ia melihat Uchiha-san..." Hinata tidak melanjutkan. Ia hanya diam sambil melihat reaksi dari atasannya.
Naruto mengumpat pelan. Dibenamkannya kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di meja. Ia mengutuki seorang gadis berambut pirang yang tempo hari datang menemuinya untuk mengajukan tawaran wawancara pribadi dengannya.
"Yamanaka Ino?" gumam Naruto.
"Ya, Naruto-sama."
Setelah itu, Naruto meminta Hinata untuk meninggalkannya sendirian di ruangannya. Pria berambut pirang itu tampak sedang memikirkan beberapa hal. Mulai dari pertemuannya dengan Sasuke sewaktu rapat kemarin, kemudian bertemu lagi dengannya di pesta Shikamaru, berita tentang dirinya yang diberitakan oleh media. Di antara semua itu, pemberitaan tentang dirinyalah yang paling membuatnya cemas.
Ia sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang lain tentang orientasi seksualnya. Ia tidak perduli dengan semua itu. Yang ia perdulikan sekaligus ia takutkan adalah bagaimana seandainya berita tentang dirinya itu sampai di telinga Ayah dan Ibunya? Bagaimana kalau berita ini sampai ke telinga orang itu?
Naruto sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan kedua orang tuanya. Apakah mereka akan marah? Tentu saja. Kedua orang tuanya adalah orang-orang yang sama sekali tidak akan menerima kalau sampai tahu putra mereka memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Naruto tahu itu, makanya dulu ia sama sekali tidak pernah sekalipun menyinggung atau mengatakan kalau ia mempunyai hubungan khusus dengan Sasuke.
Naruto mendengus kesal. Sekarang ini ia hanya bisa berharap kalau kedua orang tuanya belum mendengar berita tersebut.
Ya, semoga saja...
Mata safir pria itu kini beralih ke sebuah telepon di atas meja kerjanya. Dilangkahkannya kakinya ke benda itu. Meraih gagang telepon lalu menekan sebuah tombol.
"Segera menghadap ke ruanganku, Kakashi-san."
...
Meeting Room, Rasengan Interprize. 10.07 a.m.
"Kau benar-benar gila, Sasuke," kata Sai kepada sepupunya.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruangan rapat di Rasengan. Seperti kemarin, mereka berdua sedang menunggu seseorang dan melanjutkan lobi kerjasama antara Sharingan dan Rasengan. Sambil menunggu orang yang tidak lain adalah Naruto, Sai memberondong Sasuke dengan beberapa pertanyaan mengenai berita yang ia baca tadi pagi.
Pria bermata oniks yang duduk di samping Sai hanya diam sambil memainkan sebuah pena di tangannya. Ia sudah bosan terus-terusan dibombardir dengan pertanyaan dari sekitarnya mengenai berita di majalah.
"Sasuke. Apa kau sadar apa yang kau lakukan dengan Naruto? Bagaimana kalau sampai Fugaku-Ji-san mendengar berita ini?"
"Sai!" bentak Sasuke karena tidak tahan lagi. "Berhenti mengerecokiku tentang hal itu. Kami tidak ada hubungan apa-apa, kau mengerti?"
"Kau pikir aku ini bodoh? Aku ini hanya sedikit orang yang tahu hubungan kalian dulu. Kau ingat itu."
Sasuke menatap tajam ke arah Sai. Pria berambut raven itu sadar betul apa yang dikatakan sepupunya.
"Dengar Sasuke, aku di sini bukan untuk mengguruimu. Aku mengerti bagaimana perasaanmu pada Naruto. Tapi kau harus juga harus sadar. Hubungan apa pun yang kau jalin dengan Naruto sekarang ini, bukanlah hubungan yang wajar. Banyak orang yang tidak akan menyetujui apa yang akan kalian lakukan."
Sasuke menggeretakkan giginya sambil melemparkan tatapan membunuh.
"Kau yang harusnya mendengarkan aku, Uchiha Sai," kata Sasuke dengan penekanan di akhir kalimatnya. "Apapun yang kulakukan dengan Naruto, apapun hubungan kami, itu semua bukan urusanmu! Urusi saja masalahmu, oke!"
Sai mendecak mendengar jawaban keras kepala yang dilontarkan sepupunya. Padahal ia hanya bermaksud memberi nasehat kepada sepupunya. Ia sama sekali tidak ingin sepupu yang dua tahun lebih muda darinya itu menderita. Ia tahu bahwa hubungan apapun yang sedang dijalin oleh Sasuke dengan pria berambut pirang itu suatu saat akan menyakiti mereka. Sama seperti dulu...
Suara pintu yang terbuka pelan menginterupsi kedua orang yang saat itu saling melemparkan tatapan tajam. Kedua orang itu pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu di mana seorang tengah berdiri.
"Selamat pagi, Uchiha-san," kata orang itu.
Uchiha Sasuke mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti saat melihat seorang pria berambut perak duduk di seberang meja sambil membaca sebuah dokumen. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Hatake Kakashi. Direktur Cabang Rasengan Interprize, sekaligus orang yang diberi wewenang untuk mengurus kerjasama ini selanjutnya.
"Baiklah Uchiha-"
"Di mana Naruto?" potong Sasuke yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sai.
"Oh, maafkan saya, Uchiha-san," kata Kakashi sambil tersenyum di balik masker putih yang menutupi wajahnya. "Naruto-sama saat ini tidak bisa menangani kerjasama ini karena sesuatu hal. Untuk selanjutnya, sayalah yang akan mengurus semuanya."
"Lalu di mana dia?"
"Di mana pun atasan saya saat ini, itu tidak ada hubungannya dengan Anda, Uchiha-san," kata Kakashi sambil tersenyum. "Bisa kita lanjutkan urusan kita?"
"Tentu saja, Hatake-san," kata Sai sambil tersenyum kepada pria berambut perak itu.
.
.
.
Sebuah mobil Ferrari 360 berwarna kuning cerah terlihat melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Jepang. Dengan lincah, mobil tersebut menyalip satu demi satu kendaraan didepannya. Menghiraukan bunyi klakson-klakson mobil yang dilewati, pemilik mobil tersebut memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Barulah pemilik mobil itu menurunkan kecepatan mobilnya saat tiba di sebuah pantai berpasir putih. Diparkirkannya mobil itu di sebuah jalan raya yang tidak jauh dari pantai tersebut.
Naruto berjalan santai ke arah pantai di depannya tanpa menggunakan alas kaki. Pakaian yang ia kenakan masih pakaian yang dipakainya ke kantor tadi. Sebuah kemeja bergaris-garis berwarna merah yang lengannya digulung setengah dengan sebuah celana panjang berwarna hitam.
Pria berambut pirang itu kemudian mendudukkan dirinya di hamparan pasir yang luas sambil memandangi langit mendung pertanda akan turun hujan di atasnya.
"Sudah lama aku tidak ke sini," kata Naruto pada dirinya sendiri. Memang benar kalau sudah lama sekali ia tidak ke tempat itu. Dulu sekali, ia sering ke pantai itu untuk berlibur dan juga untuk mencari inspirasi ataupun saat ia sedang banyak pikiran.
Luasnya lautan dan hamparan pasir putih sering kali menjadi obat mujarab baginya untuk menghilangkan stress. Suara deburan ombak yang menghantam bibir pantai menjadi musik tersendiri baginya.
Mata birunya menyapu kini keadaan sekitar. Terlihat banyak orang yang sedang berada di pantai tidak bernama itu. Beberapa anak-anak terlihat sedang bermain-main membuat istana pasir di dekat Naruto duduk. Ada juga beberapa pemuda yang sedang asyik berselancar di laut bertarung dengan besarnya ombak yang datang.
Naruto tersenyum tipis mengingat kalau ia juga pernah mencoba berselancar di pantai waktu masih kelas 2 SMA dulu. Sayangnya ia selalu gagal sehingga tidak jarang ia termakan gulungan ombak.
Selama dua jam lebih pria berambut pirang itu memandangi laut biru di hadapannya sampai akhirnya rintik-rintik hujan menerpa wajah tan-nya. Pria itu mengamati orang-orang yang saat ini berlarian dari arah pantai untuk mencari tempat berteduh. Tapi tidak seperti kebanyakan orang, Naruto masih tetap duduk ditempatnya dan membiarkan saja rintik-rintik hujan yang turun semakin deras itu mengguyur tubuhnya.
Pria berambut pirang itu kini menutup kelopak matanya kemudian menengadahkan kepalanya agar air hujan menerpa dirinya semakin banyak. Ia sama sekali tidak peduli kalau nantinya ia jatuh sakit. Walau sakit pun, asal ia bisa melupakan pria bermata oniks itu sebentar saja tidak masalah baginya.
"Kau mau membuat dirimu jatuh sakit, Dobe?"
Sontak, Naruto membuka matanya saat suara yang begitu familiar itu menyapa gendang telinganya. Ia sedikit menyipitkan matanya untuk melihat orang yang memanggil namanya karena derasnya hujan yang menerpa.
"SEDANG APA KAU DI SINI!" bentak Naruto saat melihat orang yang paling tidak ingin ia temui ternyata berdiri di sebelahnya dengan payung berwarna biru yang menaungi tubuhnya.
"Hn,"
Naruto mendecak keras seraya berdiri. Ia hendak pergi dari tempat itu sebelum akhirnya tangan putih pucat menarik lengannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Sasuke sambil memayungi tubuh Naruto.
"Pergi ke tempat yang tidak ada kau sama sekali!" seru Naruto. Ia menyentak tangan yang memegangi lengannya. Pria berambut pirang itu pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
"SAMPAI KAPAN KAU MAU MELARIKAN DIRI SEPERTI ITU TERUS, NARUTO!"
Teriakan Sasuke tadi membuat langkah kaki Naruto terhenti. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap pria berambut raven yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya.
"AKU SAMA SEKALI TIDAK BERNIAT KABUR DARIMU!" teriak Naruto tidak kalah keras untuk mengimbangi suara hujan di sekitar mereka yang kini turun semakin deras menandakan akan adanya badai yang akan segera menghantam pesisir pantai itu.
"KALAU BUKAN MELARIKAN DIRI, APA NAMANYA YANG KAU LAKUKAN SEKARANG, HAH!"
Naruto tidak menjawab. Ia hanya diam memandang pria di depannya yang saat ini sudah menanggalkan payung yang dipakainya tadi sehingga mereka sama-sama basah kuyup.
Sasuke menghela nafasnya setelah tidak mendapat tanggapan dari pria di depannya. Pria bermata onyx itu berjalan semakin mendekat ke arah Naruto.
"Dengar, Naruto," kata Sasuke. "Kali ini saja, tolong dengarkan penjelasanku. Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Aku mohon kali ini dengarkan aku walau hanya sebentar. Setelah itu, aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi."
Naruto tampak berpikir sejenak. Tanpa berkata apapun, pria itu membalikkan tubuhnya kemudian berjalan menjauh menuju sebuah penginapan yang terletak tidak jauh dari pantai.
.
.
"Aku pesan dua kamar," kata Naruto kepada seorang pemuda berumur belasan tahun yang duduk di belakang meja resepsionis penginapan itu. Pemuda itu awalnya menatap heran pria pirang di depannya yang basah kuyup. Tapi, setelah mendapat tatapan tajam dari Naruto, pemuda itu akhirnya mengangguk singkat kemudian memeriksa sebuah buku tebal di hadapannya.
"Maaf Tuan," kata pemuda berkacamata itu. "Kamar yang tersisa di tempat ini hanya tinggal satu saja. Semuanya sudah penuh dan beberapa sudah dipesan."
Naruto mendengus kencang. Bisa-bisanya ia mengalami nasib sial seperti ini.
"Tidak apa-apa. Kami ambil itu saja," kata Sasuke yang sedari tadi berada di belakang Naruto.
Pria berambut pirang itu melayangkan tatapan tidak setujunya kepada Sasuke yang sama sekali tidak digubris oleh pria berambut raven itu. Setelah menerima kunci kamar penginapan, Sasuke meminta pemuda berkacamata yang bernama Kabuto itu untuk mencarikan dua setel pakaian kering untuknya. Tidak sampai sepuluh menit, Kabuto kembali ke kamar tempat mereka menginap sambil menyerahkan dua buah yukata cokelat bercorak garis-garis bergelombang kepada kedua orang tersebut.
"Kau pakai saja kamar mandinya," kata Sasuke kepada Naruto yang masih berdiri di ambang pintu kamar itu. Seperti sebelumnya, Naruto tidak menjawab. Pria itu meraih sebuah yukata yang terlipat rapi di satu-satunya tempat tidur di kamar itu dan cepat-cepat memasuki kamar mandi.
Sasuke yang melihat kelakuan Naruto, hanya bisa menghela nafasnya. Pria berambut raven itu kemudian mengambil yukata yang tersisa lalu mulai melucuti pakaiannya yang basah dan menggantinya dengan yukata tersebut. Dilempanya begitu saja pakaian basah tersebut ke sudut ruangan kemudian meraih sebuah handuk kering dari dalam lemari kecil di ruangan itu.
Sambil menunggu Naruto keluar dari kamar mandi, Sasuke mendudukkan dirinya di atas tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Pria itu teringat bagaimana ia bisa sampai ke tempat ini.
Flashback...
"Di mana pun atasan saya saat ini, itu tidak ada hubungannya dengan Anda, Uchiha-san," kata Kakashi sambil tersenyum. "Bisa kita lanjutkan urusan kita?"
"Tentu saja, Hatake-san," kata Sai sambil tersenyum kepada pria berambut perak itu. Tatapan pria bermata oniksitu kini beralih ke arah sepupunya.
"Jangan kacaukan rapat ini, Sasuke," kata Sai dengan nada mengancam. Tapi bukan Uchiha Sasuke namanya kalau takut hanya dengan ancaman seperti itu. Malah, pria berambut raven itu berdiri dengan tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah Sai.
"Maaf, Hatake-san," kata Sasuke. "Saya ada urusan mendadak. Silahkan kalian lanjutkan saja rapat ini tanpa saya. Saya mohon diri dulu."
Bersamaan dengan itu, Sasuke beranjak keluar dari ruang rapat meninggalkan kedua orang yang saat itu melayangkan tatapan heran ke arahnya. Dilangkahkannya kakinya menyusuri lantai gedung Rasengan Interprize. Yang ada di pikiran Sasuke sekarang hanyalah bertemu dengan Naruto bagaimanapun caranya.
Ya, bagaimanapun caranya Sasuke harus bertemu dengan pria berambut pirang itu dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi sepuluh tahun lalu. Walau kejadian itu sudah lama terjadi, tapi masalah di dalamnya belumlah usai. Dan Sasuke perlu menjelaskan semua itu pada Naruto walau yang bersangkutan menolak mendengarkan.
Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Saat sosok berambut pirang itu berada begitu dekat dengannya, ia sama sekali tidak bisa menggapainya. Segala kesalahpahaman ini membuatnya harus kehilangan sosok itu. Sosok yang begitu dirindukannya. Sosok yang selalu menempati hatinya.
"Di mana ruang kerja Namikaze Naruto?" tanya Sasuke kepada seorang wanita berambut panjang bergelombang bermata merah gelap yang tidak sengaja ia temui di koridor lantai itu.
"Ruangan Naruto-sama?" ulang wanita itu. "Ruangannya ada dua lantai di atas lantai ini. Tapi-"
Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah berjalan meninggalkan wanita itu tanpa berkata sepatah kata sebagai ucapan terima kasih. Dengan sedikit terburu-buru, Sasuke berjalan ke arah sebuah lift yang kebetulan sedang terbuka. Saat ia sudah sampai di dalam ruangan kecil tersebut, ia menekankan jemari putihnya ke sebuah tombol yang menuju ke lantai di mana ruangan Naruto berada.
TING!
Sebuah suara yang menandakn lantai yang dituju menggema di dalam lift tersebut. Sebelum pintu lift terbuka seluruhnya, Sasuke sudah melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu. Mata onyx miliknya menyusuri tempat luas tersebut. Tiba-tiba saja matanya terpaku saat melihat sosok yang Ia ingat sering bersama dengan Naruto.
"Hyuuga-san," sapa Sasuke kepada wanita yang sedang berbicara dengan seorang wanita bercepol di sebuah meja resepsionis.
Hinata menoleh kearah orang yang memanggil namanya. Jelas sekali Ia terkejut saat menyadari siapa yang memanggilnya tadi. Tapi wanita itu cepat-cepat mengembalikan ekspresi wajahnya dengan tersenyum kepada orang itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Uchiha-san?" tanya Hinata.
"Aku ingin bertemu Naruto," jawab Sasuke to the point.
Wanita bermata lavender itu sudah menduga kalau pria didepannya akan bertanya seperti itu.
"Sayangnya Naruto-sama saat ini sedang tidak ada di tempat. Kalau Anda ingin bertemu, Anda harus membuat janji dahulu, Uchiha-san," kata Hinata masih dengan tersenyum kepada pria di depannya.
"Jangan berbohong padaku," kata Sasuke dengan nada tidak percaya.
"Untuk apa saya berbohong kepada Anda. Saya tidak mendapat keuntungan dengan berbuat seperti itu."
Sasuke tampak berpikir sebentar.
"Hn. Kalau begitu di mana Naruto sekarang?" tanya Sasuke dengan nada datar walau sebenarnya saat ini ia sudah kesal setengah mati.
"Sayangnya saya tidak tahu," jawab Hinata.
Kali ini, Sasuke benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan emosinya lagi mendengar perkataan dari Hinata. Dengan kesal, pria berambut raven itu membalikkan tubuhnya seraya meninggalkan Hinata.
Dengan gerutuan kecil yang keluar dari mulutnya, Sasuke berjalan ke pelataran parkir yang terletak di basement gedung itu dan mencari di mana mobilnya diparkirkan. Sasuke kemudian menghidupkan mobilnya dan melesat meninggalkan gedung itu tanpa mengindahkan Sai yang sedang mengurus rapat dengan Kakahi. Ia juga tidak memperdulikan prihal bagaimana Sai akan kembali ke kantor karena ia tinggal begitu saja.
Selama perjalanan, Sasuke terus memikirkan di mana Naruto berada saat ini. Ia harus menemui pria pirang itu sekarang juga.
'Jangan-jangan,' batin Sasuke saat ia mengingat sebuah tempat yang sering Naruto kunjungi kalau sedang punya banyak pikiran.
End of Flashback...
"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan."
Suara yang sangat dikenal Sasuke menyadarkannya dari lamunannya. Pria berambut raven itu menolehkan kepalanya menatap sosok yang berdiri tidak jauh darinya. Nafasnya tercekat saat melihat penampilan Naruto yang hanya memakai yukata dengan bagian atasnya yang tidak tertutup rapat sehingga memamerkan dada bidang pria itu. Rambutnya yang biasa berdiri kini terjuntai menutupi wajahnya karena basah.
"Apa yang kau lihat!" bentak Naruto saat merasa dirinya diperhatikan.
"Hn," komentar Sasuke sekenanya kemudian mengalihkan pandangannya dari Naruto. Mata onyx miliknya kini beralih ke luar jendela di mana hujan masih turun dengan derasnya. Bahkan kini, suara angin kencang yang bertiup ikut mengiringi besarnya badai yang datang.
Naruto mengamati pria berambut raven yang saat ini sedang duduk di atas tempat tidur sambil memandangi buruknya cuaca di luar sana. Ia benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa Ia mau mengikuti ajakan orang itu. Padahal tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Semuanya sudah jelas. Semuanya sudah berakhir...
Berakhir saat hatinya tersakiti...
"...Mengenai kejadian saat itu," kata Sasuke mengawali. "Semua itu hanya kesalahpahaman saja. Itu sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan, Naruto. Aku dan Sakura tidak punya hubungan apa-apa."
Naruto tersenyum sinis ke arah Sasuke.
"Kau bilang tidak ada hubungan apa-apa?" tanya Naruto.
"Hn,"
"Lalu, apa arti sebuah 'pertunangan' antara kau dan Sakura? Apa sebuah permainan?"
"Maka dari itu, aku ingin menjelaskan padamu, Naruto. Menjelaskan padamu apa yang sebenarnya," kata Sasuke sambil memutar tubuhnya sehingga bisa bertatapan langsung dengan Naruto.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!" bentak Naruto. "Kau pikir aku tidak tahu hubungan kalian berdua? Aku mendengar dengan telingaku sendiri saat Ibumu mengatakan kalau kau sudah bertunangan dengan Sakura! Aku tidak tuli, Sasuke!"
Sasuke membelalakkan matanya mendengar perkataan Naruto barusan. 'Naruto tahu kalau aku dan Sakura bertunangan dari Kaa-san?' batin Sasuke. 'Tapi bagaimana bisa?'
"Kau ingin tahu kenapa aku bisa tahu dari Ibumu?" tanya Naruto seolah-olah mengerti apa pikiran Sasuke saat itu. "Beberapa jam sebelum aku berangkat ke Amerika. Aku sempat datang ke rumahmu berniat untuk meminta maaf karena waktu itu aku sudah memukulmu. Aku tahu saat itu aku terbawa emosi melihatmu mencium Sakura. Aku berpikir kalau mungkin semua itu hanya salah paham...
"Sayangnya saat itu kau tidak ada di rumah dan aku bertemu dengan Ibumu. Kau tahu apa yang Mikoto-san ucapkan padaku?" tanya Naruto yang tidak mendapat jawaban dari Sasuke. "Mikoto-san berkata padaku sambil tersenyum: "Kau tahu Naruto-kun, akhirnya Sasuke dan Sakura-chan bertunangan! Kau tidak bisa bayangkan bagaimana senangnya Fugaku dan aku!"
"Tentu saja saat itu aku sangat terkejut. Bisa-bisanya kau bertunangan dengan gadis lain sementara kita masih menjalin hubungan. Luar biasa sekali, Uchiha-sama," kata Naruto sarkastik sambil menyunggingkan senyum mengejek.
Tanpa sadar, Sasuke mengepalkan tangannya dengan erat sehingga tangannya memucat. Ia tidak pernah menyangka Naruto saat itu akan datang ke rumahnya dan mendengar berita pertunangannya itu dari mulut Ibunya.
Sasuke kembali menghela nafas untuk mengontrol emosinya. Memang susah berbicara dengan orang yang sedang tersulut emosi seperti ini.
"...Memang benar aku bertunangan dengan Sakura," kata Sasuke. "Tapi semua itu bukan kemauanku. Kedua orang tua Kami memutuskan semuanya tanpa persetujuan dariku atau Sakura."
"Kalau memang tidak suka, lalu kenapa kau menyetujuinya?"
"Aku terpaksa melakukannya, Naruto. Kau ingat saat itu keuangan perusahaan keluarga Sakura sedang mengalami krisis?" Naruto tidak menjawab. "Ayahku berjanji akan membantu keuangan keluarga Sakura kalau seandainya orang tua Sakura mau menjodohkan anaknya denganku. Awalnya aku menolak perjodohan itu, tapi aku menyetujuinya karena saat itu Sakura minta bantuan padaku.
"Dia memohon padaku agar aku menyetujui pertunangan itu walau hanya berpura-pura sekali pun. Demi kedua orang tuanya, Sakura rela melakukannya walau ia tahu saat itu kita sedang menjalin hubungan. Kami terpaksa melakukannya, Naruto."
"Kau pikir aku bisa percaya semudah itu!" bentak Naruto. Pria berambut pirang itu sama sekali tidak mempercayai semua yang diucapkan Sasuke barusan. Kalau mereka hanya berpura-pura, lalu kenapa Naruto melihat Sasuke mencium Sakura? Kenapa Sasuke mencium gadis itu? Ia bukanlah orang yang bisa dibodohi semudah itu.
"Naruto..." panggil Sasuke sambil berdiri dan berjalan mendekat ke arah Naruto. "Hari itu, saat Kau melihatku mencium Sakura. Itu sama sekali tidak seperti yang kau lihat."
Sasuke berjalan ke arah Naruto dan memaksa pria berambut pirang itu untuk mundur ke belakang sampai akhirnya tubuh Naruto membentur dinding di belakangnya. Sasuke kembali memerangkap Naruto diantara dirinya dan dinding berwarna putih itu.
"Ma-Mau apa lagi kau, Sasuke!" seru Naruto saat menyadari dirinya terjebak. Posisi ini sama saat mereka berada di pesta Shikamaru kemarin.
"Kau tahu, Naruto. Aku sudah lelah dengan semua ini. Sampai kapan kau mau membohongi dirimu sendiri? Sampai kapan kau tidak mau menerima semua hal yang aku katakan padamu. Terkadang aku berpikir apa kau itu memang bodoh sehingga tidak mau mendengarkan kata hatimu sendiri!"
"Jangan bicara seenaknya, Sasuke!"
"AKU TIDAK BICARA SEENAKNYA!" raung pria berambut raven itu. "Aku berbicara yang sejujurnya. Sifat keras kepalamu itu sama sekali tidak berubah!"
Naruto terhenyak saat melihat sorot mata pria di depannya. Sorot mata yang Naruto kenal sebagai sorot mata kesungguhan seorang Uchiha Sasuke. Sorot mata yang menyiratkan kalau pria itu berkata yang sesungguhnya. Ingin rasanya Naruto mempercayai apa yang diucapkan Sasuke. Tapi, sekeras apapun ia mencoba, pikirannya selalu menolak untuk mempercayai orang itu.
"...Kumohon Naruto, kali ini dengarkan kata hatimu..." kata Sasuke lirih. "...dengarkan kata hatimu. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Perasaanku padamu sama sekali tidak berubah. Aku masih mencintaimu sampai sekarang, Naruto..."
-To be Contiued-
Sou`s Note: cuma perasaan saia saja atau memang kenyataannya kalau chapter ini rada aneh ya? *readers: bukan rada aneh, tapi memang aneh!* Umm-gomenne kalau aneh #pasrah #kicked!
Review`s Reply:
Parachipusu: Sebelumnya sedikit koreksi Parachipusu-san, Naru sama Sasu itu memang pernah pacaran tapi sampai lulus SMU saja, abis itu mereka putus dan ga pacaran lagi sejak itu. Bukannya mereka pacaran 10 tahun lho... Makasih untuk ripiu Parachipusu-san dan salam kenal juga... ^_^
Dark Dobe: Yupz, gara-gara itu mereka putus. Untuk kenapa Sasu dan Saku bisa kissing, belum bisa dijelasin di chapter ini. tapi sebenarnya cuma salah paham kok...
Sasu: cuma salah paham katamu?
Sou: ehh, iya... memang cuma salah paham kan?
Sasu: gara2 kau aku dan Naruto harus menderita!
Sou : #chidoried #tepar
makasih untuk ripiunya ya?
NaMIAkaze-kawaii: Umm- makasih untuk review-nya NaMIAkaze-san. Saia ga hiatus kok... ini sudah dilanjutin. Salam kenal juga ya...
Oke, itu balasan ripiu untuk ga login. Untuk yang login, seperti biasa balasannya via PM...
*tengok kanan-kiri* masih adakah yang mau meninggalkan jejak REVIEW?
