Venus
Original Story by Phoebe
Starring:
Kim Jongin (GS) & Oh Sehun
with Park Chanyeol
Summary:
Jongin adalah sang venus dan Sehun adalah diplomat muda yang brengsek. Sehun yang membenci komitmen dan Jongin yang benci berbagi apa yang telah menjadi miliknya. Dan mereka berdua di satukan oleh sebuah tradisi kolot bernama perjodohan.
.
.
This is remake novel by Phoebe with the same tittle
.
.
~ Previous Chapter ~
.
.
Jongin tidak mungkin pingsan hanya karena kurang tidur. Pekerjaanya sudah terlalu sering membuatnya melalaikan waktu tidur. Tapi Lelah karena tidak melakukan apa-apa sama sekali tidak sama dengan lelah karena mengerjakan tugas yang menumpuk.
Sehun masih cukup kagum karena gadis itu terus bertahan dengan egonya hingga akhirnya Ia merebahkan kepalanya untuk bersandar di dada Sehun. Jongin tertidur sambil merangkul bahunya sendiri. Ia pasti kedinginan.
Lalu apa yang Sehun lakukan? Kenapa tiba-tiba saja Ia terpesona pada Jongin? Setiap hembusan nafas Jongin benar-benar membuatnya terlena dalam gelombang gairah yang aneh. Bibir lembut itu seakan menyedotnya untuk terus mendekat sampai akhirnya Sehun hanya bisa mematung menyadari apa yang akan Ia lakukan.
Wajah Jongin mengingatkanya kembali pada kekecewaan yang di tunjukkan gadis itu beberapa saat yang lalu. Sehun tidak akan melakukanya, Ia menjauhkan kembali bibirnya yang sudah sangat dekat dengan pelarung dahaga yang sangat di inginkanya.
Jongin yang kedinginan tidak membutuhkan ciuman, Sehun melajukkan kudanya agar kembali berjalan dengan sangat perlahan dengan sekali hentakan. Ia menyerahkan semua kendali pada tangan kanan dan membiarkan tangan kirinya merangkul gadis itu agar lebih rapat kepadanya.
.
.
~ Happy Reading ~
.
.
Bab 14
Who is He Actually?
.
.
Jongin tidak menemukan jaketnya, tapi Ia sama sekali tidak mau bertanya kepada Sehun tentang hal itu. Ia bahkan tidak bertegur sapa dengan Sehun pada saat pertemuan keluarga tadi malam karena masih merasa kesal dengan kelakuanya.
Di tambah lagi bila mengingat dirinya terbangun dalam pelukan Sehun kemarin. Siapa yang tau, apa saja yang sudah Sehun lakukan kepadanya saat Ia tidur?
Meskipun begitu, Jongin sangat berlega hati dengan sikap Appa Sehun yang tidak berbeda dengan Eommanya. Laki-laki itu bersikap hangat seperti seorang Appa yang sudah lama tidak di milikinya.
Karena itu dengan senang hati pagi ini Jongin melayani sarapan Tuan Oh sebelum laki-laki itu meninggalkan rumah seperti yang biasa di lakukanya.
"Kalian jadi ke Seoul hari ini?" Tuan Oh bertanya dengan nada suara yang penuh wibawa. Ia sudah siap untuk pergi dan sekarang mereka sedang berdiri di pintu depan. Jongin, Tuan Oh dan Istrinya tercinta.
"Iya. Nanti sore." Suara Jongin terdengar berat. Ia sangat ingin memanggil laki-laki itu dengan sebutan Appa, tapi masih sulit. Memanggil tuan Oh dengan sebutan itu jauh lebih sulit bila di bandingkan dengan memanggil istrinya dengan sebutan Eomma.
"Kalau begitu hati-hati di jalan. Bersabarlah dengan sikap Sehun."
"Baiklah."
"Appa pergi dulu." Tuan Oh kemudian benar-benar pergi.
Bersabarlah dengan sikap Sehun? Jongin selalu berusaha untuk bersabar dan Ia sama sekali tidak tau sampai kapan bisa bertahan dengan hal itu.
Oh Sehun dan dirinya memiliki selang usia tidak kurang dari tujuh tahun, tapi sikapnya bahkan lebih kekanak-kanakan di bandingkan Jongin yang baru berusia dua puluh lima tahun.
Nyonya Oh masuk ke rumah lebih dulu dan Jongin menyusul di belakangnya, Ia baru saja hendak menutup pintu kembali saat wanita itu menyebut namanya dengan suara pelan.
"Ya, Eomma?" Jongin hanya mampu merespon dengan itu.
"Apakah kau dan Sehun sedang ada masalah? Appa mengkhawatirkan hal itu makanya Ia mengatakan hal-hal tadi. Meskipun kau selalu menyembunyikanya tapi Appa mungkin bisa merasakanya. Ia sudah melakukan apa padamu?"
"Tidak ada. Kami tidak punya masalah apa-apa, mungkin cuma kelelahan makanya terkesan seperti itu." Jongin menghela nafas, sangat berat baginya untuk mengatakan ini tapi Ia tetap mengatakanya. "Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menggangguku. Semuanya normal."
"Benar begitu?"
"Tentu saja."
"Baiklah kalau begitu Eomma bisa lega. Kau mau bantu Eomma untuk membangunkan Sehun kan? Sekarang sudah hampir siang dan Ia belum juga bangun sampai sekarang. Bukanya kalian harus siap-siap? Kalau Ia sudah bangun, katakan kalau Eomma menunggu kalian di dapur. Kalian berdua belum sarapan kan? Kau sibuk melayani Appamu sejak tadi pagi." Nyonya Oh terus bergumam tentang alasanya meminta Jongin dan Sehun segera kedapur sambil terus melangkah kebelakang.
Membangunkan Sehun? Akhirnya, Jongin harus tetap bicara dengan Oh Sehun meskipun egonya menolak. Ia harus berusaha menyimpan kekecewaannya untuk beberapa waktu. Dengan berat hati Jongin mengetuk pintu kamar Sehun dan harus menanggung rasa kesal karena laki-laki itu tidak menjawab.
Mungkinkah Ia harus beteriak? Moodnya terlalu buruk untuk berteriak-teriak sekarang. Jongin lebih memilih untuk membuka pintu dan berharap Sehun tidak menguncinya. Dan harapanya terkabul, Sehun tidak mengunci pintunya.
Apa yang sedang Jongin fikirkan dengan memasuki kamar Sehun? Bagaimana bila Sehun melakukan hal yang lebih parah dari yang sudah-sudah? Jongin hendak melangkah keluar kamar tapi Ia membatalkan niatnya dan kembali memandang Sehun yang tidur sambil memeluk jaket vest yang di cari-carinya.
Dengan kewaspadaan tinggi Jongin mendekat dan duduk di pinggir ranjang lalu menatap laki-laki itu lebih dalam. Wajah yang sama sekali berbeda, Sehun yang sedang tidur terlihat sangat manis. Sikap kekanak-kanakanya membuat wajahnya masih terlihat sangat muda, Ia tampan dan menenangkan.
Jongin mengerjapkan matanya beberapa kali. Ini bukan saatnya untuk terpesona kan?
"Hei, Tuan Muda. Ini sudah siang, kau mau tidur sampai jam berapa?"
Sehun tidak bergeming. Ia masih terlelap dan tidak peduli dengan suara Jongin.
Jongin mengeluh. "Oh, ayo bangun."
Kali ini Ia hanya menggeliat. Jongin mulai mengusahakan banyak cara untuk membangunkanya, memanggil-manggilnya dengan keras dan kasar, menggoyang-goyangkan tubuhnya, bahkan sampai mengancam akan membanjirinya dengan air. Tapi Sehun kelihatanya tidak ingin bangun.
"Sehun." Jongin mulai kehabisan akal. Ini adalah pertama kalinya Ia memanggil Sehun dengan namanya. "Bangunlah, aku harus bagaimana lagi? Kau harusnya tau ini sulit untukku. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, aku sangat membencimu dan…" Jongin melanjutkan kata-katanya dengan teriakan kecil saat merasakan tangan Sehun menarik lenganya dengan kuat dan dalam tempo yang sangat cepat tubuhnya sudah berada di bawah tubuh Sehun, wajah mereka sangat dekat tinggal beberapa inchi lagi sebelum bibir Sehun menyentuh Bibirnya.
"Diamlah." Sehun berkata parau, Ia lalu meninggalkan tubuh Jongin dan membaringkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu. "Biarkan aku tidur sebentar lagi."
Semua yang begitu tiba-tiba ini membuat Jongin shock untuk kesekian kalinya. Ia bahkan sudah berniat untuk berteriak minta tolong jika laki-laki itu bertingkah lagi.
Tapi Sehun tidak melakukanya, Ia hanya meminta Jongin untuk diam dengan cara yang sudah pasti akan membuat gadis itu tutup mulut. Jongin berusaha bangun dan duduk dengan baik, Oh Sehun adalah laki-laki pertama yang tidur di pangkuanya seperti ini, bahkan beberapa laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya tidak pernah melakukan hal itu padanya.
Sehun sepertinya hanya ingin bermanja. Sedangkan Sehun, Ia tidak benar-benar tidur. Suara Jongin yang pertama sudah membangunkanya tapi kelelahan membuatnya membiarkan Jongin ribut-ribut seorang diri.
Kali ini Ia benar-benar ingin tidur di pangkuan Jongin meskipun hanya untuk beberapa saat. Kenapa? Itu yang selalu bergema di dalam otaknya.
Ia hanya menyukai tubuh Jongin yang hangat, tidak tubuh Jongin tidak hanya hangat, tapi panas, sangat panas. Sehun merasakan hawa panas itu saat telapak tangan Jongin menyentuh keningnya, menyelimuti tubuhnya dan membelai rambutnya. Semuanya benar-benar membuatnya ingin seperti itu lebih lama.
.
.
Bab 15
Back to Seoul
.
.
Sehun dan Jongin sedang menuju Seoul dengan kereta api, padatnya penumpang membuat mereka harus rela untuk berdiri. Untungnya mereka berdua tidak membawa barang yang banyak sehingga itu tidak terlalu mengganggu.
Tapi selama di jalan suasana benar-benar beku karena tidak ada satu orangpun di antara mereka yang berani bicara. Bahkan saat tanpa sengaja keduanya beradu pandang, Jongin akan membuang wajah lebih dulu sehingga Sehun merasa tidak ada hal lain yang harus di lakukan selain melakuan hal yang sama.
Kekakuan itu berlangsung cukup lama sampai akhirnya senggolan misterius dari penumpang lain yang berpindah tempat hampir membuat Jongin jatuh dan Sehun beraksi cepat meraih pinggangnya. "Keep Your Hand." Bisik Jongin geram.
Reaksi yang membangkitkan semangat Sehun kembali. "Sebaiknya biarkan aku terus seperti ini karena sangat banyak orang yang berniat menyentuhmu dan bertindak seolah-olah mereka tidak sengaja melakukanya."
"Lalu apa bedanya denganmu?"
"Venusku sayang, aku memang sangat suka menyentuhmu tapi aku tidak pernah berpura-pura kan? Aku akan menyentuhmu kapanpun aku suka." Kali ini Sehun merapatkan tubuh Jongin kepadanya, melingkarkan kedua tanganya dan membelai perut Jongin yang datar, semuanya benar-benar membuat Jongin merinding.
"Selama kau memakai cincin itu, kau adalah milikku. Jadi hanya aku yang boleh menyentuhmu."
Jongin menggenggam kedua tangan Sehun yang terus menjelajahi perutnya agar berhenti bergerak. "Baiklah, tapi tetap seperti ini karena aku tidak suka dengan aksimu meraba tubuhku di depan orang banyak seperti sekarang."
Sehun tersenyum senang. Kali ini Jongin mengizinkanya melakukan hal seperti ini meskipun dengan sebuah syarat.
Panas tubuh Jongin benar-benar sudah merasukinya, Ia bisa mencium aroma parfum yang sangat manis merebak dari tubuhnya dan rambut coklat yang selembut sutra itu memiliki aroma yang lain lagi tapi sangat serasi.
Kedua lenganya yang melingkari tubuh Jongin dapat merasakan kalau gadis itu gugup dengan hal ini, gugup karena mereka begitu dekat, karena dada Sehun menempel di punggunya sehingga bisa merasakan detak jantungnya dan karena pandangan banyak orang yang selalu tertuju pada mereka berdua.
Sehun mempererat rangkulanya dan Jongin menggeliat, Ia masih berusaha mengamankan diri dengan berbagai cara. Dengan posisi yang seperti ini, tidak saling bicara bukanlah masalah lagi. Detak jantung mereka yang saling berbicara, berusaha saling menyamai ritme kerjanya di dalam tubuh.
Kereta berhenti dengan tidak terasa, para penumpang yang sejak tadi melirik kearah mereka berdua pada akhirnya menghentikan pandangan irinya dan keluar dengan segera.
Kim Jongin berusaha melepaskan diri dari Sehun dan keluar lebih dulu dengan membawa tasnya. Sementara Sehun masih berusaha menyusul gadis yang beberapa menit lalu berada dalam pelukannya dan mengiringi langkahnya.
Jongin cukup lama mengungguli egonya dan berusaha mendahului Sehun, tapi kemudian menyerah harus menjadi pilihan karena Ia tetap tidak tau harus pergi kemana mereka setelah ini.
"Apa tidak bisa aku pulang ke London lebih dulu?" Tanya Jongin setelah langkahnya semakin memelan dan mereka berdua bisa berjalan bersisian dengan lebih santai.
"Sekarang? Aku takut tidak akan bisa. Kita harus menghadiri pernikahan Kim Minseok karena kakakku pasti ada disana. Meskipun aku tidak memberi tahu kepadanya tentangmu, Eomma pasti sudah memberi tau."
"Lalu setelah ini kita harus kemana?"
"Apartement Kim Minseok. Kita akan kerumah mempelai wanita, tapi ku rasa calon pengantin pria juga ada disana. Ada hubungan yang rumit yang membuat mereka semua harus berada dalam satu rumah malam ini juga." Dan semuanya mengalir. Sehun menceritakan semuanya. Menceritakan hubungan persahabatanya dengan Minseok dan calon suaminya Luhan, tentang keduanya yang memiliki satu orang kakak bernama Yifan, juga tentang sebab mengapa kakak perempuan Sehun bisa berada disana.
Sepanjang perjalanan benar-benar di penuhi cerita-cerita yang menarik, Sehun terus berbicara dan Jongin mendengarkan dengan baik, sesekali gadis itu bertanya tentang hal-hal yang membuatnya merasa heran lalu Sehun akan menjawabnya dengan tepat dan baik.
Kali ini tanpa sadar keduanya sudah berbicara dengan nyaman dan untuk pertama kali tidak berisi cacian Jongin atau kata-kata penuh gairah dari mulut Sehun.
Semuanya kenyamanan itu terus bertahan bahkan saat mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sehun dan Jongin memasuki lift dan dalam waktu yang singkat keduanya akan sampai di apartement dimana semua orang berkumpul.
"Jadi kakak iparmu, adalah orang Kanada?"
"Kim Minseok, Appa dan Lay jelas-jelas berdarah Korea, tapi Eomma tiri Minseok, adalah orang Kanada dan Yifan adalah campuran dari keduanya."
"Bagaimana mereka bertemu, maksudku kakakmu dan Yifan."
Sehun angakat bahu. "Aku rasa semuanya dimulai saat Minseok sakit dan harus di jemput di sekolah. Saat itu ku kira yang menjemputnya adalah Lay, tapi ternyata Yifan lebih dulu tahu dan memberi tahu Lay begitu Ia sampai di sekolah."
Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali dalam gerakan yang samar. Bunyi dentingan halus membuat perhatian mereka segera beralih ke pintu yang terbuka. Beberapa orang masuk setelah Jongin dan Sehun keluar dari dalam lift.
Tidak perlu berjalan jauh lagi, keduanya sudah sampai di depan pintu dan Joonmyun menyambut adiknya dengan gembira.
Keberadaan Jongin juga sangat menarik hatinya, dalam waktu singkat Ia memandangi Jongin dari unjung kaki hingga kepala lalu tersenyum diiringi pandangan dengan kilatan yang misterius. "Kau Jongin? Astaga, kau sangat sempurna. Benar-benar masuk kedalam kriteria idaman semua orang dan Sehun juga tentunya." Joonmyun kemudian tersenyum lalu menoleh kepada adiknya. "Aku benarkan?"
"Biarkan kami masuk dulu, baru kita bicara di dalam." Elak Sehun.
"Jawab dulu pertanyaanku, calon istri yang kau pilih adalah wanita idamanmu?"
Sehun melirik Jongin sesaat. "Kau gila? Untuk apa bertanya lagi. Lihat dadanya yang besar, pinggulnya yang bulat, perut yang rata, bukan hanya menarik untuk di lihat. Ciumanya juga sangat luar biasa."
Jongin mengerang dalam hati. Sehun sedang memujinya? Ia hanya menyebutkan bagian-bagian tubuh Jongin yang sudah disentuh olehnya. Bagaimana mungkin Sehun bisa mengatakan hal-sevulgar itu di depan saudara perempuannya?
"Kalau Ia menikah denganku, Ia harus berhenti jadi pengacara." Sehun melanjutkan ucapanya sambil memandang Jongin dengan pandangan serius, beberapa saat kemudian laki-laki itu tersenyum kepada calon istrinya yang sedang jadi topic pembicaraan. "Karena Ia tidak akan ku biarkan turun dari ranjangku."
Joonmyun melotot mendengar pernyataan adiknya, Ia lalu menoleh kepada Jongin yang menggigit bibir dan agak menundukkan wajah, sebelah tanganya menggosok-gosok tengkuknya perlahan. Jongin sedang merasa tidak enak karena ucapan Sehun yang seharusnya hanya menjadi konsumsi mereka berdua secara pribadi.
"Jongin, apa Appaku sudah mengatakan padamu untuk bersabar terhadapnya? Aku mengerti kau pasti merasa sangat sial sekali karena harus menikah dengan orang ini."
Jongin berusaha tersenyum. Menikah dengan orang itu? Entahlah. Sehun masuk kedalam apartement tanpa di suruh lagi, Ia membawa tas Jongin juga meskipun meninggalkan pemiliknya di pintu bersama kakaknya. Sedangkan Joonmyun masih berusaha berbicara kepada Jongin mengenai sesuatu.
"Jongin, Sehun memang seorang laki-laki yang penuh dengan gairah, tapi membicarakanmu dengan cara seperti itu sedikit banyak Ia sudah menunjukkan kalau Ia sedang memujamu. Sekarang masuklah, kau akan tidur di kamar para perempuan malam ini."
.
.
Bab 16
Shocking Attack for Goddess
.
.
"Luhan tidak pernah menyentuhku lebih dari sebuah genggaman tangan, Ia memelukku beberapa kali dan menciumku hanya sekali." Kim Minseok bersungut-sungut saat semua wanita yang berada di rumah itu berkumpul di kamarnya.
Ada Alice Kim istri kakak sulungnya Lay, Joonmyun yang merupakan istri dari Yifan, Eommanya dan juga Jongin. Semua laki-laki sedang berkumpul di kamar lain dan anak-anak sudah tidur di kamar yang berbeda juga.
Pembicaraan menjelang hari-hari pernikahan selalu menjadi topik yang seru, tapi tidak bagi Jongin. Ia masih sangat lelah dan benar-benar mengantuk. Saat tiba di London nanti Jongin akan memastikan kalau dirinya bisa tidur seharian dan tidak ada seorangpun yang boleh mengganggu.
"Apa yang harus kulakukan nanti?" Lanjutnya, matanya yang bening berbinar-binar bahagia, Ia akan memasuki kehidupan baru bersama laki-laki yang dicintainya.
Jongin mendesah. Baginya pernikahan hanya beban, sejak kecil Ia bisa berpacaran dengan siapa saja tapi tidak pernah terfikir untuk menikah. Tapi di usia yang ke dua puluh lima tahun, Ia harus mendapatkan suami karena Eommanya yang masih berfikir dengan cara yang sangat Asia itu tidak menginginkan putrinya jadi perawan tua.
Itu yang menyebabkan Jongin selalu menjalani miai dan selalu mengusahakan agar pria-pria itu menolak perjodohan mereka. Park Chanyeol, seharusnya menjadi satu-satunya laki-laki yang akan di biarkanya menjalani miai secara normal denganya, karena Chanyeol cukup di kenal dan pernah di kaguminya.
Sayangnya Jongin harus menelan pahit saat mengetahui kalau dirinya di jodohkan dengan laki-laki yang paling dibencinya di seluruh dunia.
Jongin tidak pernah menolak perjodohan, tapi Ia selalu berhasil membuat pihak laki-laki yang melakukanya. Sehun seharusnya juga, tapi laki-laki gila itu cukup mampu bertahan hingga sekarang hanya karena Ia menyukai tubuh Jongin, hanya karena Jongin adalah sumber gairah yang bisa membuatnya berapi-api di semua tempat.
Jongin meraba perutnya yang Sehun sentuh, payudaranya yang diremas, dan lehernya. Sehun juga sudah menyentuh kaki-kakinya, membelai paha, meremas pinggul. Astaga. Meskipun bukan dalam satu waktu, nyaris semua anggota tubuhnya sudah pernah di jamah oleh laki-laki itu.
"Jongin." Joonmyun memanggilnya. Seluruh bayangannya tentang Oh Sehun buyar begitu saja.
"Kau baik-baik saja?" Lanjut Joonmyun.
"Iya, tentu saja. Ada apa?"
"Tadi aku bertanya, bagaimana denganmu dan Sehun. Kalian sudah melakukan apa saja? Sudah tidur bersama?"
Mata Jongin membesar mendengarkan pertanyaan seperti itu. "Tidak, kami tidak pernah sampai kesitu. Aku mengatakan kepadanya untuk tetap memakai celananya saat sedang bersamaku."
Spontan tawa membahana di ruangan itu. Joonmyun yang reda lebih cepat bertanya lagi. "Benarkah? Sehun adalah anak yang sangat gigih, apa lagi menyangkut sesuatu yang tidak bisa ditahan seperti gairah. Mengapa kau bisa mengatakan hal itu? Bagaimana Ia bisa bertahan sampai sekarang?"
"Karena saat itu dia…" Jongin gugup, haruskah Ia mengatakanya?
"Ayolah, katakan saja."
"Karena saat itu Ia hampir melakukanya, untungnya Chanyeol datang dan aku bisa bernafas lega sampai hari ini." Jongin menatap jam di dinding, waktu benar-benar sudah lewat tengah malam.
"Bolehkah aku tidur sekarang?"
"Aku masih ingin mendengar ceritamu tentang Sehun." Minseok merengek.
"Tidurlah." Joonmyun memberi izin. Lalu berbicara kepada Kim Minseok yang kelihatanya kecewa. "Dia harus kembali ke London besok siang, jangan sampai Jongin kurang istirahat."
Jongin berdiri dari tempat duduknya, sebelum tidur dirinya ingin kekamar mandi dulu. Sebelum keluar dari pintu kamar, Ia berkata kepada Minseok. "Sebaiknya Eonni juga tidur. Jika tidak, akan ada kantung mata menggelayuti wajahmu besok pagi. Bergadang bisa merusak kecantikanmu."
"Ah, ya baiklah. Aku akan tidur sebentar lagi" Jawab Minseok sambil menarik bantal ke pangkuannya.
Berjalan ke kamar mandi sebenarnya tidak harus membuatnya melewati kamar para pria, tapi melihat cahaya lampu menyeruak dari sela-sela pintu kamar menarik perhatianya lebih lanjut.
Jongin mendekat dan ingin tau apa yang terjadi di dalam dan tidak perlu waktu lama untuk menyadari kalau mereka sedang melakukan hal yang sama dengan yang perempuan lakukan. Oh Sehun bahkan tampak sangat bersemangat memberi kuliah seksnya saat ini seolah-olah dirinya sedang mengajarkan tekhnik berperang.
Jongin menghembuskan tawa kecil lalu kembali beranjak ke kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air hangat membuatnya semakin mengantuk dan mempercepat kerjanya untuk menggosok gigi dan mencuci kaki tanganya agar bisa segera tidur, setelah semuanya selesai, Jongin berjalan keluar dengan langkah yang agak sempoyongan.
Seseorang mendorong tubuhnya masuk kembali kekamar mandi membuat tubuhnya merasa nyeri karena terhempas ke dinding.
Oh Sehun lagi dan kini dirinya sudah ada dalam rangkulan laki-laki itu. Sebelah tangan Sehun melingkari pinggangnya dengan erat sehingga tubuh Jongin benar-benar dalam kuasanya dan yang sebelah lagi membantunya memegangi leher gadis itu agar Jongin tidak bisa melarikan diri dari ciumannya yang penuh gairah.
Jongin berusaha berontak dengan cara mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga, Ia tau itu tidak akan berhasil dan pasti akan sia-sia, tapi Sehun tidak menyentuh bibirnya meskipun jaraknya sudah sangat dekat, tinggal beberapa inci lagi.
"Apa yang kalian bicarakan di dalam?" Sehun bertanya, suaranya terdengar seperti sedang mendesah membuat Jongin di jalari kegugupan yang luar biasa.
"Umm… Kurasa sama dengan apa yang kalian bicarakan."
"Lalu apa kau tidak merindukanku? Membicarakan hal itu membuatku merasa bergairah dan aku selalu mengingatmu."
"Ya, aku tau, jika tidak kau tidak akan seperti ini. Sepertinya…" Jongin segerap menutup mulutnya, bagaimana mungkin Ia mengatakan itu seolah-olah menerima semua perbuatan Sehun telah menjadi ke biasaan baginya lalu apa yang akan Ia katakanya tadi? Sepertinya aku sempat merasakan hal yang sama. Karena itukah Ia merasa sangat tertarik untuk melintasi kamar para pria tadi? Jongin menggelengkan kepalanya pelan.
"Sepertinya kau harus kecewa karena aku sudah sangat mengantuk dan ingin tidur. Jadi lepaskan aku sekarang."
"Kalau begitu berikan aku ciuman selamat malam."
"Kalau aku tidak mau? Kau akan memaksaku dengan cara apa lagi? Menggerayangiku seperti saat kita di TESCo? Atau meremas payudaraku seperti waktu itu?"
Sehun terkekeh. "Kau sudah sangat hafal dengan watakku. Aku tidak akan melakukan hal yang sama kecuali saat kita berada di atas tempat tidur. Jadi ku rasa aku akan melakukan hal lain yang belum pernah ku lakukan seperti…"
Jongin memotong ucapan Sehun dengan teriakan panjang yang tertahan, satu jari Sehun yang tadi berada di bahunyanya kini sudah menerobos masuk ke bagian terdalam dirinya yang panas.
Tubuh Jongin bergetar hebat karena kesakitan yang luar biasa sehingga membuatnya mencakar dada Sehun dan meremas pakaianya kuat-kuat.
Butuh waktu yang cukup lama untuk membuatnya merasa tenang meskipun rasa perih membuatnya hampir kehilangan tenaga untuk berdiri.
Jongin menyandarkan seluruh tubuhnya kepada laki-laki itu penuh penyerahan. "Demi Tuhan, kau sudah sangat menyakitiku kali ini." Desis Jongin lemah. "Kau sudah melanggar hak-hak reproduksiku."
"Lalu kau akan menuntutku?" Sehun menekan lagi semakin dalam, Jongin mengerang lagi dan Sehun sangat menyukainya. "Aku masih memakai celanaku, sayang. Meskipun kau harusnya tau kalau itu membuatku kesakitan."
Jongin menengadahkan kepalanya untuk menyerang Sehun dengan tatapanya. "Kalau kau fikir kali ini aku menikmatinya, kau salah. Keluarkan tanganmu, aku bersumpah ini sangat sakit, Oh."
Sehun menekan lebih dalam lagi dan terus berusaha lebih dalam, Ia hanya ingin melihat Jongin merasa kesakitan dan itu sudah pasti.
Jongin sudah mengeluh berkali-kali. Ini pertama kalinya Sehun memaksa seorang perempuan dan Ia menyadari kalau Jongin saat ini sedang tidak merasakan kenikmatan apapun tapi Ia belum ingin berhenti.
"Ku mohon hentikan, aku sudah tidak sanggup lagi menahanya." Tubuh Jongin sudah sangat lemah dan tidak bertenaga.
Sehun melihat sesuatu yang mengalir di pipinya, Jongin menangis? Apakah sesakit itu? Gairahnya padam secara tiba-tiba, Sehun melepaskan Jongin dengan erangan yang tertahan karena gadis itu menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang di keluhkanya.
Jongin terkulai lemah di lantai kamar mandi dengan punggung tersandar di dinding. Ia merapatkan kedua pahanya kuat-kuat sebagai tanda kalau bagian tubuh yang paling di lindunginya tengah didera rasa perih yang luar biasa.
Sehun berusaha untuk tidak hanya memandanginya saja, Ia juga duduk di lantai yang sama sambil menggenggam tangan Jongin yang juga meremas tanganya dengan sangat kuat.
"Antarkan aku kedokter." bisiknya. "Aku benar-benar cidera. Sakitnya tidak bisa hilang." Tangisan Jongin semakin manjadi-jadi, Ia bahkan menekan bagian bawah perutnya dengan kuat sambil meringis di sela-sela sedu sedan yang memilukan.
Gadis itu benar-benar berhasil membuat Sehun merasa takut. Dengan cepat Ia berlari kekamarnya untuk meminjam kunci mobil siapa saja. Beberapa saat kemudian kembali dengan khawatir dan segera menggendong Jongin keluar dari kamar mandi.
Semalaman semua orang menjadi benar-benar gaduh, beberapa orang menemaninya kerumah sakit dan sebagian lagi tinggal di rumah.
ICU menjadi sasaran pertama yang membuat jantung Sehun seakan berhenti berdetak menanti kabar, hingga menjelang pagi semuanya selesai dan Jongin sudah tertidur nyenyak di sebuah ruang rawat rumah sakit.
Joonmyun, Yifan dan Lay yang semalaman menemaninya sudah pulang begitu Jongin di pindahkan keruangan itu karena walau bagaimanapun ini adalah hari pernikahan Luhan dan pernikahan tidak boleh batal karena perbuatanya.
"Anda tidak bisa memaksa pasangan anda untuk melakukan treatment seks pada saat Ia sedang tidak menginginkanya. Itu sangat menyakitinya, hal itu bisa menyebabkan pendarahan seperti sekarang yang dalam dunia kedokteran kita sebut dengan Vaginimus. Tapi anda tidak perlu merasa khawatir karena tidak ada yang terluka. Pasangan anda hanya sedang mengalami stress dan kelelahan. Dan dapat di pastikan akan segera pulih dalam beberapa hari."
Sehun menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia benar-benar tidak tau mengenai Vaginimus atau semacamnya, Ia juga tidak menduga kalau kejadian seperti ini akan terjadi.
Melihat wajah Jongin yang pucat dan di infus dengan kantong darah membuatnya semakin merasa bersalah. Jongin tidak pernah serius menolak, Ia pikir Jongin menikmati semua kelakuanya selama ini dan Jongin hanya berpura-pura tidak suka. Tapi ternyata dugaanya salah.
Sinar Matahari sudah menggantikan cahaya lampu menerangi ruangan, Jongin membuka matanya perlahan dan melihat sebuah bayangan samar yang berbicara denganya, semakin lama semakin jelas dan Ia harus menyadari kalau dirinya sedang berbaring di rumah sakit, semua ingatanya tentang rumah sakit masih sangat jelas.
Saat bagaimana Sehun menggendongnya sambil berlarian di sepanjang koridor rumah sakit dengan wajah yang sangat khawatir dan teriakan-teriakanya yang memanggil dokter jaga.
Ia juga masih bisa mengingat dengan baik saat dirinya di pindahkan ke ruang rawat sebelum akhirnya diberi suntikan penenang untuk kesekian kalinya agar tertidur.
Ia berusaha untuk duduk dan rasa nyeri itu menyerangnya lagi meskipun tidak separah yang di rasakanya semalam, Sehun membantunya dengan teliti dan hati-hati.
"Kau masih disini, Oh?" Suara Jongin terdengar sangat parau. Tenggorokanya terasa sangat kering dan Ia kehausan. "Bisa berikan aku air?"
Dengan tangkas Sehun mengambilkan segelas air dan membantu Jongin untuk memegangi gelasnya saat gadis itu minum. Setelah itu Ia meletakkan kembali gelas di atas meja dan meninggalkan kursinya untuk duduk di atas tempat tidur agar bisa lebih dekat dengan Jongin.
"Kau sudah merasa baikan?"
Jongin mengangguk. "Kau tidak pergi kepesta? Sahabatmu menikah hari ini."
"Aku sudah sangat gila kalau aku meninggalkanmu disini untuk sebuah pesta." Desisnya. "Maafkan aku. Aku sama sekali tidak tau kalau rasa sakit yang kau katakan itu serius. Selama ini kebanyakan perempuan juga mengeluh, tapi…."
"Tapi mereka tidak dalam keadaan di paksa." Potong Jongin cepat.
"Aku kira selama ini kau menikmatinya."
"Sudahlah, Ini tidak di sengaja kan? Aku cuma tidak siap sama sekali tadi malam karena lelah dan mengantuk."
"Walau bagaimanapun aku yang salah."
Jongin tersenyum di sela-sela rasa sakitnya, Ia menggapai tangan Sehun dan menggenggamnya erat. "Mendekatlah, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu."
Sehun mendekat menyediakan telinganya untu di bisiki sesuatu, tapi Ia malah mendapatkan sesuatu yang lain dan tidak terduga.
Jongin mencium bibirnya dengan hangat dan lembut, ciuman yang sudah sangat lama tidak pernah di rasakanya, ciuman yang hanya berisi perasaan bukan gairah. Ciuman yang cukup membuat Sehun terperangah saat Jongin menyentuh pipinya lalu mengalihkan ciumanya menjadi sebuah rangkulan.
Gadis itu menepuk punggungnya beberapa kali sebelum akhirnya di lepaskan dan kembali duduk dengan tenang di posisi semula.
"Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang menyatakan cinta padaku kan?" Tanya Sehun heran.
Jongin tertawa. "Tentu saja tidak. Aku cuma ingin memberi tahu kalau perempuan bukan hanya butuh gairah, tapi juga perasaan. Jadi jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi, bukan hanya padaku tapi juga pada wanita lain."
Sehun masih terkesima dengan apa yang dirasakanya dan apa yang di dengarnya.
"Wanita bukan makhluk yang bisa mendapatkan gairah secara mendadak saat kau memperlakukanya dengan kasar, meskipun saat itu kau sedang menyentuh daerah sensitif di bagian manapun. Berjanjilah Jangan pernah begini lagi terhadapku tanpa izin dariku."
Jongin kemudian tertawa getir. "Seharusnya aku memberikan pengertian tentang ini sejak awal. Selama ini aku salah karena sudah menyikapinya dengan kasar."
Hening sejenak. Jongin menundukkan wajahnya dalam sedangkan Sehun masih berusaha mencerna perkataan Jongin baik-baik, semuanya ini sudah membuat fikiranya menjadi buntu.
"Aku berjanji." Kata Sehun kemudian. "Aku berjanji tidak akan melakukanya tanpa seizinmu lagi. Tapi aku tidak akan memutuskan pertunangan sampai aku bisa membawamu ke tempat tidur."
Wajah Jongin menengadah, sesaat pandanganya terpaku pada wajah Sehun yang nakal. Ia pikir umurnya sudah berapa? Oh Sehun masih bersikap kekanak-kanakan seperti sedia kala.
Kata-kata terakhirnya membuat Jongin menahan tawa, dan semuanya perlahan mulai membaik.
.
.
To be continued
.
.
