Summary : In the distant future where supernatural power is commonly found. Len Kagamine, a boy with the power of ESP, along with Kaito Shion, who is also an Esper, thrown into the world that they were never seen. The world where fairies live.
Vocairy no Sekai
.
Disclaimer : I don't own Vocaloid, except this story.
.
Warning : Gaje , Typo, pendek, Typo, aneh, Typo, ajaib, Typo, bahasa gahol ada disini (mungkin), Typo, ada OC yang gaje kepemilikan nya, Typo, dll. dst. dsb.
(Yuki : kebanyakan typo... -_-)
.
.
Don't like? Must Like! Hahahaha...
#gue serius!
.
[ All in normal PoV ]
Ruang bawah tanah – Kerajaan Kagamine...
Setelah beberapa penjelasan gaje dan pengulangan (untuk Kaito) akhirnya Len dan Kaito mengerti.
"Jadi, kami ada di dunia lain, tepatnya di dunia Vocairy. Kalian yang mengirim surat gaje itu yang membuat kami jatuh dari langit dan kalian adalah... peri?" Ucap Len tidak yakin. Rin, Miku, Rei, Rui, dan Meiko mengangguk.
"Lalu dimana sayap kalian?" tanya Len heran.
Rin dan Miku saling pandang lalu tertawa.
"Apa yang lucu?" tanya Len lagi.
"Ah, tidak. Hanya saja itu... hahaha." Jawab Miku masih tertawa.
"..." Len hanya diam.
"Maaf. Karena baru pertama kali kami mendapat pertanyaan seperti itu." Ucap Rin setelah berhenti tertawa.
"Kami memang peri, tapi bukan berarti kami harus memiliki sayap untuk terbang." Lanjut sang Tuan Putri sambil melayang di udara. Len dan Kaito cengo di tempat.
"Peri tanpa sayap?" gumam Kaito.
"Jadi, kalian ingin meminta bantuan kami?" tanya Len.
"Itu benar." Jawab Rei.
"Bagaimana menurut mu Kaito?" Len menoleh ke arah Kaito yang masih cengo.
PLAK!
"Uh, ya... terserah kau saja. Aku hanya mengikuti mu karena hal-hal yang menarik selalu terjadi di sekitar mu, hehe." Jawab Kaito sambil menggosok pipi nya yang mendapat 'hadiah' dari Len.
"Baiklah. Kami akan membantu." Ucap Len.
"Sebelum itu, maaf. Apa kalian bisa bertarung?" tanya Rei yang kembali serius.
"Kalau soal bertarung, dia lah orang nya." Jawab Len dan Kaito bersamaan sambil menunjuk ke arah masing-masing. "Heh?"
"Kalau begitu ikut aku." Ucap Rei sambil berdiri. "Aku ingin mengetes kekuatan kalian." Lanjut nya.
-0o0-
"Tempat apa ini?" tanya Len. Dia dan Kaito dibawa ke sebuah arena pertarungan yang mirip Colosseum.
"Tempat ini adalah Muessoloc. Tempat untuk mengetes kekuatan prajurit dan mengadakan pertarungan." Jawab Rei. Rin, Miku, dan Rui berada di atas tempat duduk khusus angota Kerajaan. Meiko tidak ikut, jadi dia masih di ruang bawah tanah.
"Sekarang, siapa diantara kalian yang ingin maju duluan?" tanya Rei. Len yang suka bertarung melangkah maju, tapi Kaito menghentikan nya.
"Kau duduk saja dulu, biar aku yang maju duluan." Ucap Kaito.
"Terserah kau saja." Kemudian Len berjalan ke arah tepi arena. Kemudian Rei dan Kaito maju ke tengah arena.
"Kau tidak megambil senjata di sana?" tanya Rei heran karena Kaito tidak membawa senjata apa pun. Sedangkan Rei sendiri lengkap dengan baju zirah dan sebuah pedang berwarna putih plus perisai berwarna emas. Di tepi arena terdapat rak yang berisi semua jenis senjata.
"Tidak, aku tidak butuh senjata." Ucap Kaito tenang.
"Kau meremehkan ku?" tanya Rei. Dia tau kalau lawan nya tidak membawa senjata artinya hanya ada tiga. Lawan nya benar-benar kuat, terlalu percaya diri, atau memang benar-benar baka. Sayangnya dalam kasus ini, Kaito itu ketiganya. :D
"Tidak juga. Aku punya prinsip untuk tidak bertarung menggunakan senjata." Jawab Kaito sambil mengangkat kedua tangan nya ke depan.
"Hmm, baiklah kalau begitu." Ucap Rei bersiap dengan posisi nya. Kaito melakukan hal yang sama.
"Pertarungan antara Kapten Rei Kagene melawan Kaito Shion dimulai!" seru Miku sambil berdiri.
-0o0-
Rei mengambil langkah pertama. Dia mengayunkan pedang nya dari kanan bawah ke kiri atas, namun Kaito menghindari dengan mudah. Rei mengayunkan kembali pedang nya dari kiri ke kanan, dan lagi-lagi Kaito bisa menghindar dengan sedikit melompat ke belakang. Kemudian dilanjutkan dengan serangan zig-zag dari Kapten Rei. Kaito sedikit kewalahan karena dia bukan petarung tipe kecepatan, melainkan hindaran dan serangan.
ZRAAT
"Ah!" seru Miku kaget.
"Tenang saja Hatsune-san, dia tidak apa-apa." Ucap Len yang tiba-tiba berada di samping Miku.
"Huh? Kapan kau berada di sisi?" tanya Miku heran.
"Dari tadi." Jawab Len santai.
"Kau tidak diizinkan berada di sini. Tempat ini hanya untuk anggota Kerajaan." Ucap Miku mengusir keberadaan Len.
"Tidak apa-apa Miku." Ucap Rin tersenyum. Miku mengalah.
"Baiklah kalau Putri yang minta." Ucap Miku lalu mengamati pertarungan lagi.
Di arena pertarungan, Rei dan Kaito masih saling menyerang dan menghindar. Rei menyerang dengan pedang di tangan kanan nya sedangkan Kaito menghindar dengan lincah.
"Hmm, ini mulai membosankan." Ucap Len. Rin dan Miku menatap nya heran.
"Apa maksud mu/Anda?" tanya Miku dan Rin kompak.
"Kaito tidak serius, dia hanya bermain-main saja. Dia tidak menggunakan kekuatan nya untuk menyerang." Jawab Len.
"Tapi Rei Kagene adalah seorang Kapten dari pasukan terbaik Kerajaan, bagaimana bisa teman mu itu tidak serius? Mungkin dia ketakutan untuk menyerang?" tanya Miku merendahkan Kaito. Len menatap nya sedikit kesal.
"Oi... Aku adalah sahabat nya jadi aku tau apa yang bisa dia lakukan. Dan jangan merendahkan sahabat ku." Ucap Len. Miku tidak bisa membalas dan memilih diam.
'Sahabat...' Batin Rin yang mendengar pembicaraan Miku dan Len sambil melihat ke arah Moessoloc dimana Kaito masih menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Kapten Rei.
"Selain itu..." Len melanjutkan. Rin menoleh ke arah nya. "Dia akan bertarung dengan serius kalau ada yang harus dilindungi nya." Ucap nya lagi.
Arena pertarungan...
"Kalau kau terus menghindar seperti itu, kapan kau akan menyerang?" tanya Rei sambil menyerang Kaito.
"Aku akan menunggu saat nya tiba." Jawab Kaito sambil menunduk, menghindari tebasan pedang Kapten Rei.
'Menunggu sebelum menyerang... pintar.' Batin Rei kagum. (Yuki : WHAT! Kaito dibilang pintar?)
"Baiklah. Bagaimana kalau ini." Kemudian Rei mengangkat pedang nya ke atas. Tiba-tiba petir berwarna kuning 'menari' di pedang itu.
"Petir?" Ucap Kaito heran.
"Oh, apa ini pertama kali nya kau melihat petir?" tanya Rei.
"Sebenarnya aku sudah melihat petir, bahkan setiap hari." Jawab Kaito.
"Lalu, apa kau pernah tersambar petir?" tanya Rei lagi. Kaito menggaruk belakang kepala nya dan menjawab.
"Hehe, sebenarnya hampir tiap hari, hehehe." Jawab Kaito dengan senyum gaje nya.
'Si baka itu...' Batin Len sweatdrop.
"Baguslah. Dengan begitu aku tidak perlu menjelaskan bagaimana rasanya tersambar petir." Ucap Rei sambil memasang kuda-kuda.
"Tamesu!" seru Kaito bersiap.
"Ku harap kau bisa menghindari ini." Ucap Rei sambil mengayunkan pedang nya ke arah Kaito dari kanan ke kiri. Kemudian dari ujung pedang nya keluar petir berwarna kuning yang melesat ke arah Kaito dengan cepat.
'Ini akan menarik.' Baitn Kaito sambil melompat ke atas untuk menghindari petir yang menuju ke arah nya.
Rin dan Miku berada...
"Waw, dia bisa menghindari serangan Kapten Rei dengan mudah!" seru Miku. Ada sedikit rasa kagum di hati nya.
"Hmm... dia masih belum serius." Ucap Len manghancurkan perasaan Miku. Miku menatap nya cengo.
"Apa Anda bisa membuat Shion-san serius, Kagamine-san?" tanya Rin sedikit aneh karena serasa memanggil nama nya sendiri dan Len menyadari itu.
"Tentu, dengan senang hati. Dan panggil saja aku Len, Rin-hime-sama." Ucap Len dengan senyum nya. Rin blushing lalu mengalihkan pandangan nya ke arena.
Kemudian Len berdiri dari kursinya dan berteriak. "OI BAKAITO! KALAU KAU TIDAK SERIUS, KU BAKAR SEMUA ES KRIM MU!"
Arena pertarungan...
"!" Kaito yang mendengarnya pun kaget dan hampir terkena serangan.
"Heh, kau tidak perlu mengancam ku untuk serius." Ucap Kaito meng-glare ke arah Len.
'Dia tidak serius tadi?' Batin Rei kaget. Tapi sebuah senyuman di wajah nya berkata lain.
"Kalau begitu, apa kau bisa menghindari yang satu ini." Ucap Rei. Kemudian Rei mengangkat pedang nya ke samping kanan. Kaito bersiap.
"Rai no Dageki!" seru Rei lalu mengayunkan pedang nya. Kali ini serangan yang labih kuat mengarah ke Kaito yang tersenyum.
BLAAAARRRR
Serangan dari Rei tepat mengenai Kaito.
Rin dan Miku berada...
"Oh tidak!" seru Miku panik.
"Tenang saja Hatsune-san, lihat ke atas." Ucap Len yang melihat ke atas. Miku menoleh dan melihat ke atas arena.
Rei yang ada di arena juga kaget karena Kaito berhasil menghindari serangan nya.
"Di-dia terbang!" seru Miku kaget. Begitu pula Rin dan Rui yang mengamati.
"Tidak, dia hanya melompat saja." Ucap Len.
"Kagami-"
"Len!" potong Len sebelum Rin selesai berbicara. Miku meng-glare nya.
"Em, Len-sa-"
"Len!" potong Len lagi. Miku memberinya death glare.
"Em, Len... sebenarnya apa kekuatan Shion-san?" tanya Rin penasaran.
Len tersenyum dan menjawab. "Kekuatan si baka itu adalah..."
Arena pertarungan...
"Fuuton!" seru Kaito sambil menarik nafas.
'Elemen angin!' Batin Rei kaget.
"Kazeryuu no Hõkõ!" seru Kaito melepaskan energi yang terkumpul di mulut nya dalam bentuk angin tornado ke arah Kapten Rei yang kaget.
BOOOM
Kepulan asap menyelimuti arena pertarungan. Kaito mendarat dan menggunakan kekuatan elemen angin nya untuk menghilangkan asap di arena pertarungan. Memperlihatlkan Kapten Rei yang tergeletak di atas tanah.
"Di-dia mengalahkan Kapten Rei!" seru Rin kaget.
"Heh..." Ucap Len.
"Pe-pertarungan selesai, pemenang nya Kaito Shion." Ucap Miku yang juga kaget.
Kemudian Kaito berjalan ke arah Rei dan membantu nya berdiri.
"Pertarungan yang menarik, sudah lama aku tidak bertarung seperti ini selain melawan sahabat ku sendiri." Ucap Kaito.
"Heh..." Rei berdiri dibantu Kaito. "Kau bisa mengalahkan ku dengan mudah, aku yakin kau belum menggunakan semua kekuatan mu." Ucap nya. Kaito hanya tertawa gaje.
"Pertarungan selanjutnya antara Wakil Kapten Mikuo Hatsune melawan Len Kagamine segera dimulai." Miku mengumumkan. Kedua orang yang di panggil menuju arena pertarungan.
Arena pertarungan...
"Akhirnya giliran ku tiba." Ucap Len santai. "Oh, apa kau punya hubungan dengan Miku?" tanya Len pada seseorang yang berdiri berhadapan dengan nya.
"Aku adalah kakak nya." Jawab orang itu. Len ber-'oh' saja.
"Pertarungan antara Mikuo Hatsune dengan Len Kagamine dimulai!" seru Miku dari atas arena.
"Heh, Kapten Rei beruntung karena mendapat lawan yang sepadan." Ucap Mikuo. Dia memakai baju zirah yang sama dengan Kapten Rei, hanya saja berwarna hijau, sedangkan milik Rei berwarna hitam. Dia memegang dua pedang di kedua tangan nya.
"Jadi kau tidak ingin melawan ku?" tanya Len heran.
"Memang kau bisa apa bocah? Bocah seperti mu harus nya duduk manis dan minum susu." Ucap Mikuo lagi.
"Oi, jaga bicara mu." Ucap Len berusaha sabar.
Rin dan Miku berada...
"Ini buruk." Ucap Kaito yang tiba-tiba berada di samping Miku.
"Hek!" Miku melompat kaget. "Kapan kau berada di sini?" tanya Miku lagi.
"Sejak tadi." Jawab Kaito santai.
'Catatan : Mereka punya kebiasaan muncul tiba-tiba.' Batin Miku.
"Apa maksud anda Shion-san?" tanya Rin heran.
"Oh, Len itu sedikit emosional jika ada yang merendahkan nya." Jawab Kaito.
"Apa dia juga punya kekuatan seperti mu?" tanya Miku. Kaito menoleh ke arah nya lalu tersenyum. Kali ini Miku yang blushing.
"Sebaiknya kau lihat sendiri saja." Ucap Kaito. Miku mengangguk lalu melihat ke arena.
Arena pertarungan...
"Baiklah bocah, akan ku biarkan kau menyerang lebih dulu." Ucap Mikuo.
"Kau yakin?" tanya Len.
"Tentu saja. Memang apa yang bisa dilakukan oleh bocah seperti mu. Oh, biar ku tebak! Kau akan menangis dan melapor ke Ibu mu kan? Hahaha." Ucap Mikuo sambil tertawa.
"Apa kau bilang..." Len masih berusaha bersabar.
"Hah! Apa kau tidak dengar apa yang ku katakan. Dasar shota~." Ucap Mikuo.
"..." Len mulai kehilangan kesabaran.
Rin dan Miku berada...
'Gawat.' Batin Kaito panik karena Mikuo telah menyebut sahabat nya dengan kalimat 'sakral' yang sangat 'disukai' oleh Len.
"..." Rin mengamati Len dalam diam. Entah mengapa dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Len. Kesal, marah, dan... sedih?
"Kenapa dia tidak bergerak?" tanya Miku heran.
"..." Kaito tidak menjawab.
Arena pertarungan...
"Bocah shota seperti mu harusnya duduk di atas sepeda roda tiga sambil minum susu, hahaha!" Mikuo masih merendahkan Len.
"..." Len masih diam.
"Hoi, katakan sesuatu!" seru Mikuo kesal karena dari tadi Len diam saja.
"Hoi, Jawab!" seru Mikuo lagi. Len tetap diam.
"Apa Ibu mu tidak mengajarkan pada mu sopan santun hah?" Mikuo berteriak kesal.
"Oh, apa kau dibuang? Apa Ibu mu tidak mengharap kan kehadiran mu sehingga dia membuang mu, iya kan! Haha-"
BZZRTTTTTT
Len menggunakan kekuatan nya untuk melesat ke arah Mikuo dengan kecepatan luar biasa dengan kaki kanan yang siap menendang.
"O kuchi miru!" seru Len dingin.
BOOM
T~B~C
.
Review boleh, gak reviewgak boleh. :D
#gue duarius!
.
Semua kritik diterima disini.
#gue tigarius!
.
A/N
Pendek lagi~ #plak
Ehem, bales review (login) lewat PM masing-masing.
To Shanvira28 :
Hehe, gomen lama update.
Arigatõ~.
To NRen :
Gak apa-apa, aku aja gak pernah beres. :D
Arigatõ~.
Mikuo ku buat antagonis di sini, Kaito sedikit pintar, dan Len yang emosional.
Dan judulnya ku ganti, hehehe.
Untuk yang menunggu "Mondaiji Gakuen" mungkin akan ku update hari senin, aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Gomen.
Yosh! Review?
