Love by Accident

Cerita cinta yang berisi tentang cinta pertama, sakit hati, bahkan cinta yang bersemi karena sebuah insiden yang tidak disengaja./Tahukah kau terkadang orang yang paling sering membuatmu tertawa adalah orang yang paling bisa membuatmu menangis?/GS!/NEW!

Cast :

EXO member

And other cameo

Kelas pagi ini dihebohkan dengan berita teman sekelas Baekhyun yang tidak masuk sekolah dan dirawat di rumah sakit. Namanya Krystal. Baekhyun tidak terlalu dekat dengannya, karena ia tidak suka kelompok yang hobi bergosip seperti Krystal dan teman-temannya. Krystal masuk rumah sakit karena kasus pemukulan tepat kemarin malam saat ia pulang dari supermarket sendirian. Saat melewati jalan sepi dengan penerangan minim, ia mendapat pukulan di belakang kepala. Beruntung seorang kakek melihatnya dan berteriak minta tolong. Jadi Krystal bisa segera diselamatkan. Akhir-akhir ini, wanita muda Korea seperti diteror. Kasus pemukulan sampai pelecahan seksual semakin meningkat. Ini cukup memprihatinkan dan mengerikan.

Baekhyun melirik Tao lewat ekor matanya. Sedetik kemudian ia menghela nafas. Entah mengapa sejak pagi Tao yang biasanya ceria lebih banyak diam. Ia hanya membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Baekhyun. Itu pun hanya di jawab dengan kata-kata standar yaitu "Ya" dan "Tidak".

"Tao, aku akan ke tempat kerja Kyungsoo nanti, apa kau mau ikut? Makanan manis mungkin akan memperbaiki suasana hatimu", ucap Baekhyun sambil membereskan buku-buku pelajarannya. Sekarang waktunya pergantian kelas.

Tao menggeleng lemas. "Aku mau langsung pulang", jawab Tao acuh. Oh, ini kalimat terpanjang yang Tao ucapkan hari ini.

Baekhyun berhenti berkemas. Ia memutar tubuhnya menghadap Tao. "Katakan padaku apa yang terjadi? Apa Kris melakukan sesuatu yang buruk padamu kemarin?", tanya Baekhyun dengan nada lembut.

Tao lagi-lagi menggeleng. Baekhyun menunggu. Ia pikir Tao akan bicara sesuatu tapi temannya itu malah meringkuk di bangkunya. Ya Tuhan!

Anak laki-laki tinggi masuk ke dalam kelas dengan angkuh. Itu adalah Kris. Penampilannya jauh dari kata rapi. Kemejanya sengaja dikeluarkan dari celana, dengan dua kancing teratas yang terbuka juga tanpa dasi. Rambut pirangnya dibiarkan berantakan namun itu justru menambah kesan segera duduk tegap. Pandangannya fokus memperhatikan anak laki-laki itu sampai duduk di bangku paling pojok.

"Syukurlah dia sekolah walau membolos di pelajaran pertama", kata Baekhyun.

Baekhyun menoleh kearah Tao dan berdehem cukup keras membuat Tao buru-buru menoleh padanya.

"Haruskah aku bicara sekarang?"

"Apa?", tanya Tao tidak mengerti.

Baekhyun melirik Kris. Pacarnya itu tengah tidur dengan earphone terpasang di telinganya. Dulu Baekhyun akan berkata bahwa Kris terlihat tampan tapi sekarang sudah berbeda cerita. Rasanya ia ingin mendorong kursinya hingga laki-laki itu terpental dan terpaksa bangun dari mimpi indahnya.

"Akan kuakhiri semuanya sekarang", Baekhyun buru-buru bangkit berdiri dan berjalan kearah meja belakang. Tao hanya memandang punggung Baekhyun. Saat ia melihat Baekhyun sudah berdiri di depan meja Kris, Tao baru tau apa artinya. Secepat kilat ia menyusul Baekhyun.

"Kris, bangun dan bicaralah denganku", kata Baekhyun.

Tidak ada respon. Pria itu masih meringkuk dengan nyaman.

"Kris—!"

"Baekhyun!"

Baekhyun sedikit menjerit saat Tao menarik lengannya paksa agar menjauh dari Kris. Ralat. Ini bukan menarik melainkan menyeret.

"Ada apa denganmu?!", sembur Baekhyun tepat saat Tao melepaskan lengannya. Tarikan yang cukup kuat dan Baekhyun merasa lengannya panas sekarang. Sekuat apa Tao mencengkramnya? Ya ampun Baekhyun lupa Tao adalah atlet bela diri.

Tao terlihat melirik Kris sekilas lalu bernafas lega saat melihat Kris masih tidak bergerak. Itu artinya ia tertidur dengan lelap bukan?

"Baekhyun, ini tidak tepat", jawab Tao.

Baekhyun mengernyit heran. "Apa yang tidak tepat? Aku sudah terlalu baik padanya dan dia justru berpikir yang kurang ajar tentangku", ucap Baekhyun jengkel.

"Maksudku…", Tao menggantung kalimatnya. Alasan apa yang harus ia berikan? Apakah ia harus terus terang tentang keluarga Kris? Pacarmu sedang memiliki masalah, jangan mempersulitnya, bicarakan tentang hubungan kalian nanti. Atau kau akan menyakiti perasaannya. Haruskah Tao mengatakan itu?

"Apa?", tanya Baekhyun dengan tidak sabar.

"Begini… kau tidak berpikir memutuskannya di sini kan? Di dalam kelas dengan puluhan pasang mata yang menyaksikannya. Oh bagus sekali, kau yang sudah populer akan semakin populer bila itu terjadi."

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Ia baru sadar perkataan Tao benar. Baekhyun terlalu dibutakan oleh amarah sehingga ia tidak bisa berpikir jernih. Kelas ini nyaris penuh. Apa jadinya bila ia membicarakan soal pribadi disini?

"Selamat pagi anak-anak, kembali ke tempat duduk kalian", seorang guru perempuan muda masuk ke dalam kelas. Ia meletakkan tumpukan buku di meja. Matanya mengawasi kelas. Oh baiklah, Baekhyun akan memikirkan hubungannya nanti.

-Love by Accident-

Hari ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Baekhyun duduk makan siang dengan Oh Sehun. Entah bagaimana Oh Sehun tiba-tiba menaruh nampan di meja Baekhyun. Membuat Baekhyun mau tidak mau membiarkannya duduk bersamanya. Baekhyun harusnya makan siang dengan Tao, tapi anak itu menghilang setelah bel berbunyi. Dia bilang ada urusan.

Baekhyun baru saja memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya dan belum sempat menelannya. Tapi Oh Sehun ini sudah mengajaknya bicara. Benar-benar sopan.

"Akhir-akhir ini aku jarang melihat noona di kelas musik", Sehun si bocah albino itu sempat menyedot air dinginnya sebelum bicara.

Ya, Baekhyun memang mengikuti kelas musik sebagai kegiatan pengembangan diri. Oh Sehun adalah salah satu juniornya karena Sehun berada di kelas satu dan Baekhyun satu tingkat diatasnya. Sehun sangat bagus dalam menari sedangkan Baekhyun cukup terkenal karena suara emasnya. Ia selalu menjadi rival Luhan kakak kelasnya yang cantik.

Baekhyun butuh waktu beberapa detik sebelum menjawabnya. Ia harus melakukan mekanisme pencernaan dengan benar. Mengunyah, menelan, dan membiarkan makanan itu melewati kerongkongannya. Setelah itu ia membuka mulutnya. "Ada banyak sekali tugas dan sulit untuk mencari waktu untuk sekedar melakukan hobiku"

Sehun mengangguk pelan. "Tapi kau harus datang, kami akan mengadakan pertunjukkan musik pada musim semi nanti. Kelas musik dan teater akan mengadakan kolaborasi. Akan ada audisi minggu ini untuk pemilihan pemain. Kau harus ikut", ujar Sehun dengan raut wajah yang kentara antusias.

"Pertunjukan?", Baekhyun bertanya dengan tidak yakin.

Sehun lagi-lagi mengangguk. "Kurasa menyambut ulang tahun sekolah. Kau harus ikut audisi!", seru Sehun dengan nada yang mendesak.

Baekhyun terlihat berpikir lalu menggeleng. "Tidak bisa Sehun-ah, aku sibuk."

Sehun menarik tangan Baekhyun membuat Baekhyun mendelik karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba Sehun.

"Oh, ayolah noona", bujuk Sehun dengan suara manja yang dibuat-buat. Ini membuat Baekhyun geli melihat eskpresi wajah Sehun.

"Aku tidak mau", bantah Baekhyun. Ia menarik tangannya mundur namun Sehun dengan cepat meraihnya lagi.

"Noona kumohon", Sehun memasang wajah seakan-akan ia akan menangis. Baekhyun memutar mata malas.

"Mengapa kau begitu memaksaku?", akhirnya Baekhyun jengah juga diperlakukan seperti ini.

"Kau harus membantuku. Kau harus ikut audisi dan jadi pemeran utama wanita. Suaramu cukup bagus untuk pertunjukan musikal. Kau pasti terpilih", ujar Sehun penuh keyakinan.

Baekhyun menghela nafas. Nyaris putus asa. "Itu bukan jawaban Sehun-ah, aku tanya mengapa kau begitu ingin aku jadi pemeran utama? Apa untungnya bagimu?"

Sehun mendadak murung. Kepalanya menunduk dengan lemas. Suaranya pelan nyaris berbisik, membuat Baekhyun mau tidak mau harus mendekatkan kepalanya kearah Sehun agar mendengarnya dengan jelas. Merepotkan.

"Luhan bersikeras ingin menjadi pemeran utama. Itu membuatku frustasi", jawab Sehun.

Eh? Baekhyun kebingungan. Jadi apa hubungannya pemeran utama, Baekhyun, dan Luhan. Sehun membuat semua ini berbelit-belit.

"Bukankah itu bagus? Tanpa perlu audisi Luhan sunbae memang yang paling cocok", Baekhyun mengangguk-angguk kecil tanda setuju dengan pendapatnya sendiri.

Sehun menegakkan kepalanya dan menghujani Baekhyun dengan tatapan tajamnya yang dingin. Baekhyun bergidik ngeri. Sebenarnya ada apa sih dengan bocah ini?

"NOONA!", panggil Sehun dengan suara keras. Baekhyun bahkan harus memundurkan tubuhnya karena terlalu terkejut.

"Mengapa kau tidak mengerti perasaanku?", Sehun merengek seperti bayi.

Huh.

"Menurutmu apa yang terjadi jika Luhan yang menjadi pemeran utama?", tanya Sehun.

Baekhyun membuang pandangannya asal. "Musikalnya pasti akan sukses. Luhan sangat bagus dalam bernyanyi, ia juga cukup baik dalam akting dan parasnya juga cantik. Benar kan?"

"Tidak! Semua akan tamat noona! Tamat!", balas Sehun cepat. Ia menggerakkan tangannya disekitar leher seakan berlagak sedang memotong lehernya sendiri.

Baekhyun mengerutkan dahinya. Ia melihat Sehun menghela nafas dengan gaya dramatis.

"Kau tidak tau pemeran utama wanitanya mendapat adegan yang paling aku benci bila itu terjadi pada bambiku"

"Bambi?", potong Baekhyun. Sekarang adakah orang baru selain Baekhyun dan Luhan dalam pembicaraan ini.

"Ya, Luhan. Bambiku", jawab Sehun. Ia memandang Baekhyun seakan-akan mengatakan 'JANGAN-PROTES-TENTANG-PANGGILAN-KESAYANGANKU' dan Baekhyun kelihatannya mengerti. Walau dari ekspresi wajahnya terlihat sekali ia meringis.

Sehun menghela nafas sebelum kembali membuka mulut. "Audisinya belum dimulai tapi Luhan sudah latihan dari jauh-jauh hari. Dia terobsesi dengan peran utama wanitanya. Aku bahkan tersingkirkan karena dia terlalu sibuk dengan naskahnya. Kau juga harus tau, ada adegan ciuman antara pemeran utama wanita dan prianya. Aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuh bibir Luhan. Tidak akan pernah", ujar Sehun panjang lebar.

Mendengar penjelasan Sehun, Baekhyun merasa ia seperti kambing hitam. Sehun ingin menyelamatkan Luhan dan menggantikannya dengan melempar Baekhyun ke dalam api.

"Itu artinya kau menyuruhku menggantikan Luhan mencium pria yang bahkan aku tidak tau siapa, begitu? Kau bocah tengik!", Baekhyun melayangkan tangan kanannya seakan ingin memukul kepala Sehun, namun Sehun meringkuk melindungi kepalanya membuat Baekhyun menatapnya kasihan. Jadi ia membatalkan pukulannya dan hanya mendesah kasar. Ia bahkan sudah kehilangan selera makan karena Oh Sehun.

"Noona, kumohon", Sehun mengintip Baekhyun dengan takut.

Baekhyun memandang Sehun sengit."Kenapa tidak kau saja yang jadi pemeran utama prianya? Nah, dengan begitu Luhan akan senang mendapat peran utama dan kau akan senang karena dia tidak akan mencium pria lain. Selesai", jawab Baekhyun enteng. Ia rasa itu solusi paling bagus untuk keselamatan semua pihak. Baekhyun, Luhan, dan Sehun.

Sehun semakin menunduk. "Ini tidak semudah yang kau pikirkan. Masalahnya aku tidak bisa akting", jawab Sehun dengan nada sedih.

"Nah, berlatihlah. Bukankah pertunjukannya di awal musim semi? Itu artinya masih tiga bulan lagi", balas Baekhyun.

Sehun menggeleng. "Aku memiliki agoraphobia", jawab Sehun lemah.

Baekhyun terkenal sebagai murid pintar. Ia memiliki wawasan dan pengetahuan luas. Jadi ia tahu apa itu agoraphobia. "Kau takut keramaian?", tanya Baekhyun memastikan tebakannya.

Sehun mengangguk lemah. "Aku tidak bisa berdiri di kerumunan orang yang menontonku. Saat itu juga aku akan merasa pusing dan mual. Aku bahkan pernah pingsan saat pertunjukan menari dua tahun lalu", ucap Sehun.

Baekhyun menganga di tempatnya. Seorang Sehun yang hyperaktif seperti tupai, banyak bicara, bersikap manja, dan memiliki banyak aegyo memiliki agoraphobia? Oh, yang benar saja.

Sehun meremas tangan Baekhyun lalu memasang tampang paling menyedihkan. "Noona… tolonglah aku, ikutlah audisi, kumohon"

Baekhyun menatap Sehun dengan serba salah. Baekhyun memang disibukkan dengan tugas tapi itu tidak sesibuk seperti yang ia katakan hingga nyaris tidak memiliki waktu. Ia hanya malas ke kelas musik. Terlalu banyak pikiran tentang urusan pribadi membuatnya lebih suka mengurung diri di kamar dan menangis. Haruskah ia menolong Sehun? Tentu akan ada resikonya. Yang pertama, Baekhyun akan disibukkan dengan latihan drama bila ia benar terpilih (Baekhyun harap itu tidak terjadi). Yang kedua, Luhan pasti akan membenci Baekhyun karena mengambil peran yang sangat ia inginkan. Dan yang terakhir… Haruskah Baekhyun kehilangan ciuman pertamanya hanya karena pertunjukan musikal? Itu konyol.

Sehun semakin merengek membuat Baekhyun ingin meledak. Bocah lelaki ini bersikap menyedihkan membuat Baekhyun tidak tahan.

"Noona, kumohon…", Sehun terus saja mengganggu Baekhyun.

Baekhyun merutuk dalam hati. Harusnya ia curiga saat Sehun yang tidak begitu dekat dengannya tiba-tiba duduk satu meja dengannya dan memohon seperti bayi. Baekhyun akan terlihat seperti ibu tiri yang kejam bila menolak permintaannya bukan?

"Noona…", panggil Sehun dengan suara parau. Ia memohon seakan ini adalah hidup dan matinya.

Baekhyun bersumpah serapah atas nama Oh Sehun sebelum ia mengatakan, "Baiklah, aku akan ikut audisi"

Sehun yang mendengar itu langsung terlonjak girang. Kemana ekspresi menyedihkannya tadi? Oh, Baekhyun merasa ditipu. Tapi ia tidak mungkin menarik kembali kata-katanya. Karena itu artinya ia akan membiarkan Sehun kembali merengek padanya.

"Tapi—", Baekhyun membuat Sehun diam. Bocah itu menjadi pendiam saat mendengar kata 'Tapi'.Kedengarannya buruk.

"Apa?", Sehun terlihat penasaran.

"Aku hanya akan ikut audisi. Aku tidak bisa menjamin langsung diterima menjadi pemeran utama, keputusannya ada pada juri bukan?"

Sehun diam. Ia berpikir. Benar juga. Tapi setelah itu ia memasang tampang baik-baik saja. "Aku setuju! Yang penting noona harus ikut audisinya. Janji?", Sehun mengangkat kelingkingnya mengajak Baekhyun membuat janji. Ini kekanakan. Baekhyun sempat melirik ke sekitarnya dengan menahan malu saat menautkan jari kelingkingnya dengan Oh Sehun.

"YA OH SEHUUUNNN!", suara cempreng seorang anak perempuan membuat Baekhyun dan Sehun menoleh kearah suara. Disamping meja mereka sudah ada Luhan yang berdiri dengan wajah menyeramkan, tapi ia tetap terlihat menggemaskan.

"Jauhkan tanganmu dari Baekhyun! Jauhkan matamu dari Baekhyun! Menjauh! Menjauh! Cepat!", seru Luhan heboh.

Baekhyun yang sadar apa maksudnya, langsung menarik tangannya mundur. Baekhyun menghadiahi Sehun tatapan membunuh saat terjadi kontak mata diantara mereka berdua. Kalau saja Luhan melakukan sesuatu pada Baekhyun karena Sehun (menarik rambutnya contohnya), Baekhyun tidak akan mengampuni Sehun.

Dengan jengkel, Luhan menarik kursi di samping Sehun dan duduk dengan cepat. Baekhyun merasa menjadi pihak yang paling tidak diingkinkan disini. Haruskah ia pergi? Tapi kenapa harus dia? Bukankah Baekhyun duluan yang mendapatkan meja ini? Ini semua gara-gara Oh Sehun. Keterlaluan.

Baekhyun menoleh ke sampingnya saat mendengar suara kursi diseret. Chanyeol sudah duduk disana. Dengan santai, anak baru itu bersandar pada kursinya dan meluruskan kakinya. Baekhyun sampai lupa tadi Luhan datang dengan Chanyeol. Hubungan mereka dekat sekali sampai-sampai harus makan siang berduaan.

Tapi tunggu sebentar. Apa maksudnya ini? Kalau Chanyeol dan Luhan pacaran, bagaimana dengan Sehun? Memang yang Baekhyun tahu, Sehun menyukai Luhan dan sepertinya Luhan juga menyukainya. Hanya saja mereka tidak—atau mungkin belum meresmikan hubungan mereka. Tapi Chanyeol? Apa ini perselingkuhan? Tapi tidak mungkin kan mereka duduk di meja yang sama seakan tidak terjadi apa-apa. Ah, Baekhyun merasa kepalanya berdenyut karena berpikir terlalu keras.

"Apa yang kau lakukan dengan Baekhyun disini?", suara Luhan meninggi. Sehun hanya tersenyum. Membuat Baekhyun yang melihat, ingin melempar wajah Sehun dengan kursi sekarang juga. Tapi Baekhyun masih cukup waras untuk tidak melakukan itu.

"Hmm… hanya bernegosiasi", jawab Sehun santai. Ia melirik Baekhyun dengan senyum jahil.

"Bernegosiasi tentang apa?", tanya Luhan dengan tidak sabar. Pandangan gadis manis itu masih lekat pada Sehun.

"Tentang keselamatan bambiku", Sehun terkekeh pelan saat melihat Luhan merengut dengan ekspresi lucu.

"Bambi? Ada apa dengan bambi?", tanya Luhan.

"Kaulah bambinya. Kami sedang merancang rencana bagus untuk menyelamatkan bambi dari binatang buas"

"Sehun… bambi itu rusa", Luhan sepertinya tidak begitu menyukai panggilan yang Sehun buat untuknya.

"Kau menggemaskan seperti rusa. Tidak tahu?", Sehun mencubit kedua pipi Luhan dengan gemas. Pipi Luhan memerah. Baekhyun memutar matanya malas. Dia bisa diabetes melihat pemandangan semacam ini.

Tak lama, pasangan itu sudah tersenyum satu sama lain. Saling merangkul dan itu artinya ini sudah membaik. Baekhyun heran masih ada pasangan seperti ini di sekitarnya. Baru lima menit yang lalu mereka berargumen dan sekarang mereka melakukan lovey dovey yang membuat manusia single manapun malas melihatnya.

"Sudah selesai?", suara berat Chanyeol berhasil menarik perhatian tiga orang yang sedang duduk satu meja dengannya. Oh! Baekhyun lupa soal Chanyeol. Bagaimana perasaannya setelah melihat ini? Patah hati? Tapi Chanyeol terlihat biasa-biasa saja. Acuh. Masa bodo. Tidak peduli.

"Yeolli, berhenti menggerutu!", seru Luhan.

"Hyung, tidakkah kau pikir kami manis?", tanya Sehun pada Chanyeol.

Hyung? Hyung? Hyung?

Baekhyun merasa ia satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa disini. Sehun memanggil Chanyeol dengan Hyung? Jadi mereka sudah saling mengenal? Jadi Sehun sudah tahu Luhan dan Chanyeol—pacaran? Dan Sehun baik-baik saja? Ini gila.

Chanyeol bertingkah seakan ia mau muntah saat mendengar Sehun bicara. "Mengapa kalian tidak pacaran saja?", tanya Chanyeol cuek.

Baekhyun langsung membuang pandangannya kearah Chanyeol. Dia menyuruh Luhan dan Sehun pacaran? Dan sepertinya Chanyeol sadar bahwa Baekhyun sedang memelototinya. Chanyeol ingin tertawa saat melihat wajah Baekhyun. Kedua matanya membulat sempurna.

"Apa yang kau lihat?", tanya Chanyeol.

Baekhyun buru-buru membuang pandangannya ke tempat lain. Sial.

"Aku tahu aku tampan"

Mendengar ucapan Chanyeol yang terlalu percaya diri membuat Baekhyun memandangnya dengan tatapan meringis.

"Oh, bukankah kalian teman sekelas?", tanya Luhan tiba-tiba.

Sehun menoleh kearah Chanyeol dan Baekhyun bergantian. "Oh benarkah? Aku tidak tahu"

"Wah, aku baru sadar kalian terlihat serasi duduk berdampingan seperti itu", goda Sehun. Baekhyun langsung menatapnya tajam. Sehun buru-buru menutup mulutnya.

Chanyeol kelihatannya tidak keberatan. Diam-diam ia menyembunyikan senyumnya yang tentunya tidak disadari Baekhyun. Gadis mungil itu terlalu sibuk berpikir ingin memukul kepala Sehun dengan apa.

Bel tanda istirahat berakhir terdengar nyaring. Seluruh murid yang berada di kantin buru-buru meninggalkan tempat mereka dan berhamburan keluar kantin untuk mencari kelas masing-masing. Tak terkecuali Baekhyun, Chanyeol, Sehun dan Luhan.

Sehun dan Luhan jalan beriringan. Mereka melambai sebelum berjalan berlawanan arah dengan Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun mau tidak mau harus berjalan beriringan juga dengan Chanyeol. Karena tujuan mereka berdua adalah tempat yang sama.

"Apa hubunganmu dan Luhan?", tanya Baekhyun tiba-tiba. Ia terlalu penasaran dengan hubungan macam apa antara tiga orang itu.

Chanyeol mengernyit heran. Namun ia menjawabnya juga. "Dia adalah orang yang harus ku lindungi"

"Memangnya kau bodyguardnya?", suara Baekhyun terdengar sewot.

"Bukan", jawab Chanyeol singkat.

"Lalu mengapa kau harus melindunginya?"

"Lalu mengapa kau begitu penasaran?", balas Chanyeol tak mau kalah.

Baekhyun merasa jengkel karena Chanyeol tidak memberikan jawaban jelas. "Paradise Pattisier sepulang sekolah. Telat semenit, kau ku keluarkan!"

Dengan kesal, Baekhyun berjalan lebih cepat meninggalkan Chanyeol di belakangnya. Namun Chanyeol hanya tersenyum. Baekhyun terlalu menggemaskan.

Pelajaran hari itu selesai. Tao mengenakan ranselnya dengan buru-buru.

"Kau mau kemana?", tanya Baekhyun heran. Tidak biasanya Tao bertingkah seperti ini. Mengapa Baekhyun merasa sikap Tao berubah aneh sejak pagi ya?

"Ehm… Aku… Ah! Ibuku menyuruhku cepat pulang", jawab Tao dengan terbata-bata.

"Benarkah? Tumben sekali", Baekhyun merasa kalau Tao aneh.

Tao bergerak gelisah. Matanya sibuk melihat keluar jendela seperti mengawasi sesuatu. Baekhyun ikut melihat keluar jendela. Siluet pria tinggi berjalan melewati koridor. Tapi Baekhyun tidak yakin itu siapa. Karena siluet itu menghilang dengan cepat.

Tao buru-buru meminta Baekhyun menyingkir sedikit karena ia harus keluar. Ia memang duduk di tempat yang berhimpitan dengan tembok membuat jalan satu-satunya hanya menunggu Baekhyun bangkit dari posisi duduknya.

Walau sedikit kebingungan, Baekhyun hanya menurut. Dan secepat kilat, Tao berlari keluar kelas tanpa melambai. Ada apa dengannya?

Baekhyun tidak punya waktu untuk mengikuti Tao. Ia punya urusan lain. Lebih baik ia bertanya pada Tao besok.

Baekhyun sudah sampai di kafe tempat ia bertemu dengan Chanyeol. Baekhyun melihat Kyungsoo sibuk melayani pelanggan. Kyungsoo melihat Baekhyun dan tersenyum. Ia mengisyaratkan Baekhyun untuk duduk di tengah. Baekhyun melihat meja itu sudah terisi dengan seorang pria tinggi yang sangat dia kenal dan… Jongin? Ada apa Jongin berada disini? Aneh sekali.

Baekhyun memang memilih untuk datang terpisah. Ia tidak ingin naik motor Chanyeol lagi. Tidak ada helm. Tidak ada keselamatan. Mengerikan. Jadi ia lebih memilih jalan kaki. Mengingat Chanyeol datang kesini dengan motor, pantas saja ia sampai lebih dulu.

Jongin yang melihat Baekhyun, melambai dengan antusias. Baekhyun hanya membalasnya acuh. Mengapa bocah itu bahagia sekali melihatnya? Mereka bahkan tidak dekat walau kenyataannya mereka teman sekelas.

"Kau sudah datang", sapa Jongin. Pria itu menarik kursi untuk Baekhyun membuat Baekhyun canggung. Sebenarnya dia bisa duduk sendiri.

"Kau terlambat delapan menit", suara berat Chanyeol terdengar mengintimidasi.

Kentara sekali Baekhyun mendapat sambutan berbeda dari Jongin dan Chanyeol. Untuk beberapa alasan, Baekhyun berpikir ia menyukai Jongin—sebagai teman sekelas tentu saja.

"Aku tidak punya baling-baling bambu, tentu saja aku harus jalan kaki", sindir Baekhyun.

"Salahmu sendiri menolak motorku", jawab Chanyeol.

"Aku masih ingin hidup, kau tahu?"

Chanyeol memutar matanya. "Apa kau sedang bicara dengan hantu sekarang? Aku bahkan masih hidup setelah datang kesini dengan motor merah yang kau bilang tidak memiliki keselamatan itu"

"Ya, sekarang kau sedang beruntung. Malaikat pelindungmu mungkin saja masih bersamamu. Bagaimana besok?", tanya Baekhyun.

"Jadi kau mendoakan agar aku mati begitu?", Chanyeol menaikkan nada suaranya.

"Aku hanya bicara soal kemungkinan yang terjadi", jawab Baekhyun cuek.

Jongin melipat kedua tangannya dengan manis. Memasang kedua telinganya untuk mendengar pertengkaran kecil itu walaupun ia pura-pura bermain dengan ponselnya.

"Sudahlah, aku sedang malas adu argumen denganmu", Chanyeol mengibaskan tangannya dengan malas.

Baekhyun memilih menutup mulutnya. Ia menoleh kearah meja kasir untuk melihat Kyungsoo. Temannya itu sedang melayani seorang pelanggan. Tak lama, pelanggan itu mencari meja dan Kyungsoo sedang kosong. Baekhyun segera melambai dan Kyungsoo melihatnya. Gadis itu mendekati meja Baekhyun dengan riang.

"Selamat sore nona manis, tuan tampan, dan—", Kyungsoo menggantung kalimatnya saat melihat Jongin. Ia tidak pernah melihat Jongin sebelumnya.

"Teman nona manis", sambung Kyungsoo dengan senyum ramah.

Baekhyun buru-buru mengkoreksi. "Namanya Kim Jongin"

Kyungsoo mengangguk dengan senyum manisnya. "Senang bertemu denganmu Kim Jongin. Namaku Do Kyungsoo, bekerja di bagian kasir"

Jongin terpaku di tempatnya saat melihat Kyungsoo tersenyum kearahnya. Senyum itu menghipnotis dunianya. Gadis mungil dengan poni depan itu terlihat imut. Wajahnya bersih dan ceria. Tubuhnya ramping terawat. Celana jeans ketat yang dikenakan memperjelas bentuk kakinya yang indah. Rambut hitamnya tergerai hingga melewati pundaknya. Ia terlihat cocok dengan kaos berkerah warna putih di tambah celemek warna coklat yang bertuliskan 'Paradise Pattisier'.

"Kalian ingin pesan apa?", Kyungsoo sudah siap dengan note dan pulpen. Tidak biasanya ia akan mencatat pesanan di meja pelanggan. Biasanya ia akan menerima pesanan di meja kasir. Tapi ini teman-temannya ditambah teman barunya. Ia ingin memperlakukan mereka secara spesial. Berharap mereka tidak bosan bermain kesini dan melihatnya. Jadi Kyungsoo tidak akan kesepian bekerja sendirian.

Baekhyun yang sudah hafal menu kafe ini, menjawab lebih dulu. "Aku ingin black forest dan susu strawberry" Sepertinya cairan berwarna merah muda itu menjadi minuman wajib setiap Baekhyun kemari.

"Itu kombinasi yang buruk", celoteh Chanyeol. Sejurus kemudian Baekhyun menatap Chanyeol kesal. "Daripada berkomentar, lebih baik kau gunakan mulutmu untuk mengunyah makanan"

Kyungsoo menepuk bahu Baekhyun pelan mengisyaratkan agar dia tidak berkelahi seperti anak kecil dengan Chanyeol di kafe tempatnya bekerja.

"Chanyeol, kau ingin sesuatu?", tanya Kyungsoo lembut. Jongin melirik Chanyeol dengan pandangan tidak suka. Bagaimana bisa gadis manis ini terlihat akrab dengan Chanyeol? Teman sebangkunya ini ternyata selangkah lebih cepat. Bahaya.

"Ada rekomendasi?"

"Kau mau macaroon? Makanan itu cukup terkenal akhir-akhir ini", kata Kyungsoo dengan meyakinkan.

Chanyeol mengangguk kecil. "Boleh"

"Kalau begitu akan kupesankan setiap varian rasa untukmu. Bagaimana?", tanya Kyungsoo.

Chanyeol hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Ah, aku ingin tropical ice. Kafe ini punya kan?", tanya Chanyeol memastikan.

Kyungsoo tersenyum. "Tentu saja"

Chanyeol terlihat puas. Ia sedang mengidam-idamkan minuman itu sejak kemarin.

"Dan… maaf, siapa namamu?", Kyungsoo tertawa canggung pada Jongin. Ia merasa bersalah melupakan nama teman barunya. Padahal belum lewat satu jam mereka berkenalan.

"Kim Jongin", jawab Baekhyun. Kyungsoo menatap Baekhyun tajam. Tatapannya sama persis seperti pertama kali Kyungsoo bertemu Chanyeol. Dan Baekhyun selalu bersikap sok tau menjawab semuanya.

"Baiklah, maaf", ucap Baekhyun saat mengerti tatapan mencekam dari Kyungsoo.

"Kim Jongin, kau ingin pesan sesuatu?", tanya Kyungsoo.

Jongin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Chanyeol seakan minta bantuan namun Chanyeol hanya menatapnya balik seakan mengatakan 'Apa?' lewat matanya.

Kyungsoo tertawa pelan. Sepertinya ia satu-satunya orang yang mengerti bahasa isyarat Jongin. "Ah, aku lupa kau baru pertama kali kemari. Haruskah kubawakan daftar menu untukmu?", tanya Kyungsoo seramah mungkin.

Jongin menggeleng lalu tersenyum dengan cengiran lebar. "Pesankan apa saja, aku percaya padamu"

Chanyeol dan Baekhyun menatap Jongin dengan tatapan mengejek. Jongin menatap kedua orang itu bergantian. "Apa?"

Baekhyun hanya mengangkat bahunya cuek dan Chanyeol kembali bersandar pada kursinya.

Kyungsoo menutup note-nya. "Akan kupesankan menu spesial untuk teman baruku", ujar Kyungsoo sebelum ijin pergi kembali untuk bekerja. Jongin terlihat kecewa saat Kyungsoo pergi, padahal ia ingin bicara dengan gadis itu lebih lama tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Jongin harus pasrah terjebak di satu meja dengan dua manusia yang selalu berdebat setiap waktu. Menyebalkan.

Baekhyun yang penasaran mengapa Jongin bisa berada disini akhirnya mendapat jawaban. Jongin langsung datang kemari saat Chanyeol memberitahunya. Ia perlu mengambil flashdisk yang ia pinjamkan pada Chanyeol. Ia meminjamkan catatan pelajaran elektroniknya pada Chanyeol. Ia tidak ingin Chanyeol ketinggalan pelajaran. Bukankah dia teman yang baik?

Baekhyun dan Chanyeol mengerjakan tugas kelompoknya dan Jongin sibuk mengunyah kuenya. Baekhyun sempat heran mengapa Jongin begitu santai dengan tugasnya dan Jongin beralasan teman satu kelompoknya, sudah menyelesaikan untuknya. Beruntung bukan?

Hari itu mereka selesai pukul sembilan malam. Ini lebih lama dari yang Baekhyun duga. Baekhyun membereskan meja yang berserakan kertas-kertas tugasnya. Walau ini cukup larut untuk pulang, setidaknya ia bernafas lega karena tugas portofolionya sudah selesai. Baekhyun khawatir dengan Tao yang mengomel soal tugasnya. Apa Kris mempersulitnya? Baekhyun menghela nafas berat memikirkan nama Kris.

Jongin sudah menghilang entah kemana. Baekhyun tidak terlalu peduli. Chanyeol tiba-tiba menyodorkan kertas kecil kearah Baekhyun membuat gadis mungil itu menaikkan sebelah alisnya kebingungan. "Apa ini?", Baekhyun membuka lipatan kertas itu lalu mengernyit saat melihat deretan angka ditulis tangan.

"Nomor teleponku", jawab Chanyeol enteng.

"Apa?", Baekhyun melotot kearah Chanyeol. Untuk apa Chanyeol memberikan ini?

"Aku tidak membutuhkannya", Baekhyun meletakkan kertas itu di meja dengan asal.

Chanyeol mendesah berat lalu memaksa Baekhyun menerimanya. Alhasil, kertas kecil itu sudah berpindah tangan ke Baekhyun.

"Apa sulitnya menyimpannya? Mungkin saja kau membutuhkanku sewaktu-waktu", ujar Chanyeol.

Baekhyun menghela nafas. Pada akhirnya ia menyimpan kertas itu di saku kemejanya walau sebelumnya keberatan.

Mereka berdua berjalan keluar kafe untuk pulang tapi langkah mereka terhenti saat melihat Jongin berdiri di depan meja kasir. Baekhyun pikir anak itu sudah pulang. Tapi ia malah disana sibuk menggoda Kyungsoo.

"Boleh aku minta nomor teleponmu?", tanya Jongin dengan nada membujuk.

Kyungsoo tidak langsung memberikan atau menolak. Ia justru tertawa pelan. "Untuk apa?"

"Hmm… mungkin aku akan memesan kue nanti", jawabnya asal.

Kyungsoo menunjuk papan reklame. "Ada nomor telepon disana, catatlah"

Jongin melirik reklame itu dengan tidak minat. Ia tidak butuh nomor telepon seperti itu. Ia hanya butuh nomor telepon Kyungsoo.

"Bukan nomor telepon kafe, tapi nomor teleponmu", jawab Jongin salah tingkah.

"Mengapa? Kau bisa memesan kue dengan nomor itu", jawab Kyungsoo.

Jongin menghela nafas. Menyerah untuk berbohong. Dia tidak peduli kue manis. "Sebenarnya aku ingin lebih mengenalmu. Bisakah kau memberi nomormu?", Jongin melirik Kyungsoo. Ingin tau ekspresi seperti apa yang Kyungsoo berikan untuknya.

"Tapi kalau kau keberatan—"

"010-2711****", Kyungsoo menyebut nomornya dengan cepat. Setelah melihat wajah Jongin yang kebingungan, Kyungsoo tertawa renyah.

"Kau sudah mencatatnya?", tanya Kyungsoo. Walau ia tau Jongin tidak mungkin mengingatnya.

Jongin mengeluarkan ponselnya dan bersiap mencatat. Seakan-akan besok adalah hari kiamat bila ia melawatkan satu angka pun.

"Bisa kau ulangi? Aku benar-benar akan mencatatnya sekarang", Jongin memasang ekspresi serius.

Kyungsoo tersenyum geli. Ia menoleh kearah Baekhyun dan temannya itu hanya mengangkat bahu.

Kyungsoo akhirnya menarik ponsel Jongin dan mengetik beberapa deret angka. Setelah itu mengembalikannya pada Jongin.

"Sudah tersimpan dengan nama Do Kyungsoo", ujar Kyungsoo saat mengembalikannya.

Jongin tersenyum lebar. Ia melambai kearah Kyungsoo dengan malu-malu sebelum pergi.

"Kalian hati-hatilah di jalan", teriak Kyungsoo dari arah meja kasir saat ketiga temannya sudah berada di pintu untuk keluar.

"Ne, kau juga", balas Baekhyun. Setelah itu ia keluar disusul Chanyeol dan Jongin yang terakhir karena ia sibuk melambai kearah Kyungsoo. Kyungsoo harus tersenyum berkali-kali melihat Jongin yang nyaris terjatuh saat menuruni anak tangga karena ia sibuk melihat ke belakang. Jongin benar-benar lucu.

Chanyeol berencana mengantar Baekhyun pulang, tapi Jongin sudah merengek meminta Chanyeol mengantarnya pulang. Baekhyun mengatakan bahwa ia bisa pulang dengan bus tapi Chanyeol tetap memaksanya.

"Jadi kau akan membonceng Jongin dan aku?", kata-kata Baekhyun membuat Chanyeol sadar itu tidak mungkin. Dalam hati ia merutuki tingkah teman sebangkunya ini. Bukankah dia seorang pria? Harusnya ia yang pulang naik Jongin mengeluh bahwa ia mengantuk dan ingin cepat pulang. Menyusahkan.

Baekhyun berjalan kaki menuju rumahnya setelah turun di halte. Ia sudah biasa pulang sendirian sekalipun malam hari. Tapi entah mengapa Baekhyun merasa malam ini berbeda. Saat ia melewati gang menuju rumahnya, suasana terasa mencekam. Ia merasa seseorang sedang mengikutinya tapi setiap ia berbalik, Baekhyun tidak menemukan siapapun. Baekhyun menatap gang itu dengan waspada. Ia baru sadar tempat ini terlalu sepi. Lampu jalan juga tidak terlalu terang. Baekhyun juga ingat tidak ada CCTV disini.

Baekhyun teringat pembicaraan pagi ini. Soal teman sekelasnya Krystal yang mengalami kasus pemukulan. Ya Tuhan, Baekhyun langsung gemetar. Jantungnya berdegup cepat karena ketakutan. Keringat mulai muncul di sekitar pelipisnya. Baekhyun menggenggam pegangan ranselnya erat-erat.

Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini akan baik-baik saja, Baekhyun berjalan lagi dengan langkah pelan. Tapi suara kaki mengikutinya dari belakang kembali terdengar. Baekhyun menggigit bibir bawahnya was-was. Dengan cepat, ia memutar tubuhnya kebelakang dan tetap tidak ada siapapun.

Mulai panik, Baekhyun segera mengeluarkan ponselnya. Matanya sibuk mengawasi sekitar dan sesekali mengutak-atik kontaknya. Baekhyun menekan panggilan dengan nama 'Rumah'. Ponselnya berdering cukup lama namun tidak ada jawaban. Dimana ibunya disaat seperti ini? Mengapa tidak ada yang mengangkat panggilannya?

Dengan gemetar, Baekhyun mencari nomor lain. Tao. Nomor itu terdengar berdering namun tidak ada yang menjawab. Dimana Tao?! Baekhyun ingin menangis sekarang. Haruskah ia menelpon Kyungsoo? Ah, itu akan mengganggu. Temannya sedang bekerja.

Siapa lagi yang bisa Baekhyun hubungi? Kris? Nama itu tiba-tiba muncul. Tapi mengingat bagaimana Kris berbicara buruk tentangnya, membuat Baekhyun menggeleng. Wajah Chanyeol tiba-tiba melintas di kepalanya. Ia ingat Chanyeol memberinya kertas tadi. Baekhyun buru-buru merogoh sakunya. Dengan tangan gemetar, ia mengetik deretan angka itu dan menekan tombol hijau. Kumohon angkatlah, Baekhyun terus menggumam.

"Yeoboseyo?", betapa leganya Baekhyun saat mendengar suara berat yang biasanya menyebalkan itu.

"C-chanyeol…", Baekhyun berucap dengan suara parau.

"Baekhyun?", suara Chanyeol terdengar tidak yakin. Cukup hebat, Chanyeol mengenalinya dengan cepat.

"Chanyeol…", Baekhyun bisa merasakan suaranya sendiri bergetar karena ketakutan. Pandangan mata Baekhyun masih sibuk mengawasi gang gelap itu.

Di tempat lain, Chanyeol dibungkus rasa khawatir. Bagaimana tidak? Baekhyun menelponnya tapi hanya bicara dengan memanggil namanya. Ditambah lagi suaranya bergetar dan parau. Chanyeol merasa hatinya sakit saat itu.

"Ya ini aku, ada apa?", tanya Chanyeol dengan tidak sabar.

Baekhyun memegang ponselnya erat. Buku-bukunya bahkan memutih. Wajah Baekhyun pasti pucat sekarang.

"Kurasa seseorang mengikutiku", Baekhyun mengucapkan kalimat itu dengan susah payah. Seakan sesuatu tersangkut di tenggorokannya.

"Kau dimana?", Chanyeol bicara dengan suara tinggi terdengar cemas. Tapi Baekhyun tidak menyadarinya. Ia terlalu takut dan tidak sempat menebak-nebak apakah Chanyeol khawatir atau tidak.

"Di gang menuju rumahku. Aku takut… seseorang terus mengikutiku…", Chanyeol bisa mendengar Baekhyun nyaris menangis. Argh! Chanyeol merasa frustasi.

"Kau tenanglah, aku kesana sekarang, oke?", Chanyeol segera mengenakan helmnya. Ponselnya masih terselip di telinganya. Ia mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ia terus mengajak Baekhyun bicara memastikan Baekhyun baik-baik saja. Tapi saat Chanyeol sudah hampir sampai, panggilan itu terputus. Seperti orang gila, Chanyeol tidak peduli kalau ia bisa saja mati bila berkendara dengan cara seperti ini. Menyalip kendaraan lain tanpa pikir panjang dan kecepatan tinggi.

Baekhyun mulai panik saat ponselnya mati. Batere ponselnya habis. Sial.

Baekhyun tidak bisa menunggu Chanyeol datang kan? Apa ia akan berdiri disini sepanjang malam? Tidak.

Baekhyun menengok ke sekitarnya dengan was-was namun ia meyakinkan dirinya sendiri ini akan baik-baik saja. Jarak ke rumahnya tinggal lima puluh meter lagi. Jika ia berlari, maka ia akan segera sampai kan?

Dengan memaksa keberaniannya, Baekhyun kembali melanjutkan perjalanannya. Awalnya ia berjalan lambat, dan suara langkah kaki itu kembali terdengar. Baekhyun terlalu takut menoleh ke belakang. Baekhyun menambah kecepatannya, ia melangkah lebar-lebar, dan suara kaki itu terasa semakin dekat. Baekhyun menahan air matanya. Ia dibawah tekanan sekarang. Pikirannya tidak fokus, dan rasanya seperti ia akan pingsan sekarang karena kakinya yang terasa lemas.

Baekhyun berlari. Berlari. Berlari. Dan suara kaki itu terdengar semakin jelas. Seperti dipaksa terseret-seret. Lalu suara mesin terdengar bising. Suaranya terdengar semakin dekat dan suara langkah kaki itu menghilang. Baekhyun berhenti. Ia menoleh ke belakang, tidak ada siapapun. Tapi ia bisa melihat cahaya dari jauh. Menyilaukan. Namun semakin dekat cahaya itu, semua terasa semakin jelas.

Itu Chanyeol.

Untuk beberapa alasan, Baekhyun berterimakasih pada Chanyeol. Pria itu buru-buru melepas helmnya dan turun dari motor. Raut wajahnya kentara khawatir. Ia melihat wajah Baekhyun yang sudah pucat dan berkeringat. Sial. Siapa yang membuat Baekhyun seperti ini?

Tanpa sadar, Baekhyun memeluk Chanyeol erat-erat. Ia memejamkan matanya. Air mata langsung meleleh begitu saja. Perasaan lega merambat hingga paru-parunya. Dia selamat. Chanyeol terkejut. Tentu saja terkejut. Baekhyun bersembunyi di dadanya. Memeluk pinggangnya erat. Meremas bagian belakang seragamnya. Chanyeol bisa merasakan tubuh Baehyun bergetar. Setakut apa Baekhyun sampai gadis cerewet yang suka berdebat dengannya berubah menjadi menyedihkan seperti ini. Rasanya Chanyeol ingin mencari orang itu dan meninjunya hingga babak belur.

Chanyeol menyipitkan matanya, siluet seseorang berlari dibawah penerangan minim. Chanyeol membulatkan matanya saat sadar ada yang tidak beres dengan orang itu. "Berhenti disana!", teriak Chanyeol. Namun siluet itu semakin jauh.

Baekhyun melepas pelukannya, ia melihat bayangan itu dengan ketakutan. Apa orang itu yang mengikutinya? Apa yang ingin ia lakukan? Apa ia pelaku kriminal? Baekhyun terkejut saat Chanyeol tiba-tiba bergerak seakan ingin mengejar bayangan itu. Baekhyun buru-buru menarik lengan Chanyeol membuat Chanyeol menoleh padanya.

"Baekhyun, aku harus menangkapnya!", seru Chanyeol. Namun ia sadar ini bukan waktu yang tepat. Lihat saja ekspresi Baekhyun yang ketakutan dan wajahnya yang basah karena menangis. Chanyeol melihat bayangan itu yang sudah menjauh. Sial.

"Jangan pergi, aku takut", Baekhyun meremas ujung kemeja Chanyeol erat-erat. Chanyeol menghela nafas panjang. Ia mendekati Baekhyun dan memegang kedua bahunya lalu tersenyum menenangkan.

"Tenanglah, aku disini bukan?", hibur Chanyeol.

Baekhyun mengangguk lemah. Pandangannya kosong. Ia hanya melihat Chanyeol lurus-lurus.

Chanyeol melepas jaket kulitnya dan mengenakannya pada Baekhyun. Ia tersenyum saat melihat tubuh Baekhyun sudah terbungkus.

"Nah, sekarang naiklah. Akan kuantar kau pulang", Chanyeol sudah berada diatas motornya lebih dulu. Ia menunggu Baekhyun naik, tapi gadis itu masih mematung di tempatnya.

Chanyeol menatap Baekhyun. Namun setelah itu ia terkekeh, "Ah, apa ini soal keselamatan lagi?", tanya Chanyeol.

"Jadi kau ingin jalan kaki demi keselamatan?", sambung Chanyeol. Sebenarnya alasan keselamatan yang Baekhyun katakan tidak beralasan. Buktinya ia hampir menjadi korban kejahatan kriminal karena prinsipnya soal keselamatan berkendara.

Baekhyun menunduk. Ia sama sekali tidak bisa tertawa sekalipun ia tau Chanyeol sedang berusaha menghiburnya.

"Terimakasih", gumam Baekhyun pelan.

Chanyeol membeku di tempatnya. Baekhyun mengadahkan kepalanya. Manik mata mereka saling bertemu.

"Chanyeol, terimakasih", ulang Baekhyun dengan suara yang lebih keras. Ia tidak tau apa yang akan terjadi bila saja Chanyeol tidak memaksanya menerima nomor teleponnya. Mungkin sesuatu yang buruk sudah terjadi. Memikirkannya saja sudah membuat Baekhyun ngeri.

Chanyeol mematung. Wajah itu kembali membuat jantungnya berdetak cepat setelah lama tidak merasakannya. Masih dengan orang sama. Jantungnya berdebar cepat karena orang yang sama. Chanyeol tidak tau perasaan apa ini…

Byun Baekhyun, apakah aku menyukaimu?

-000-

-000-

-000-

TBC!

-000-

-000-

-000-

Setelah cukup lama, akhirnya ff ini berhasil di publish dengan chapter 4!

Maaf ya, belum ada moment Taoris, mungkin akan ada di chapter depan. Sabar ya ^^

Terimakasih buat yang sudah review dan setia menunggu ff ini.

Jangan lupa review lagi ya. Review kalian adalah honor paling berharga buat saya.

Sekali lagi terimakasih buat segala cinta kalian. See you in next chapter!