Taipe, Taiwan
.
Hari menjelang malam dan kelompok 765 Pro diijinkan untuk melakukan kegiatan bebas di kota ini hingga jam 9 malam. Ketiga belas idol tersebut lalu memutuskan untuk pergi ke pusat kota untuk melakukan wisata kuliner dan shopping. Tentu saja Umi Sonoda yang menyamar sebagai Chihaya Kisaragi juga ikut serta dalam rombongan ini.
Sebagaimana hasil kesepakatan yang sudah mereka bicarakan maka mereka menuju ke pusat kota dengan mengenakan baju penyamaran. Chihaya a.k.a Umi menyamarkan rambut panjangnya dengan menggulungnya hingga pendek lalu menutupnya dengan topi putih yang biasa dia bawa. Sementara itu mereka kemudian berpencar bersama grup kecil mereka sendiri.
Pada kesempatan kali ini Miki tidak ikut bersama Umi dan Haruka karena bersama dengan Produser-san dengan sangat mesra sebagai gantinya Takane Shiijou, gadis berambut putih perak berlogat Kyoto itu menemani mereka. Bagaimanapun juga Umi agak was-was karena takut identitasnya terungkap karena perkara ini sehingga dia tidak terlalu banyak bicara dan terus menempel bersama dengan Haruka.
"Hmm... Kalian ini akrab sekali yah? Enak yah punya teman yang bisa diandalkan?" gadis itu membuka suara.
"Ehh, ini... Ehehehe... Yah, begitulah..." jawab Haruka ragu-ragu.
"Ah, Shiijou-san, kalau dipikir-pikir kita jarang ngobrol bareng yah? oh, iya.. Kamu itu berasal dari mana yah?"
"Tempat asalku?"
"Ahh, tidak ada yang menarik kok dari tempat asalku. Cuma suatu daerah perkampungan lokal yang sederhana?"
"Hmm? Apakah itu di Kyoto? Aku bisa mendengar logat Kyoto dari ucapanmu itu" timpal Umi menanggapi mereka.
"Ahh? Kyoto yah? Hmm, itu adalah kota yang indah. Mungkin saja daerah itu terletak di sekitar itu yah?"
"Ehh?" lagi-lagi kedua orang itu dibuat bingung dengan perkataanya yang misterius.
"Ngomong-ngomong, Chihaya pernah kesana?"
"Ahh, tidak. Aku mendengar itu dari kakakku."
"Ehh, Chihaya punya kakak? Aku pikir kamu hanya punya adik saja? Dan bukankah adikmu itu sudah..."
"T-Tunggu sebentar, m-maksudku itu bukan kakak kandung tapi kakak kelas... ah iya, kakak kelas!"
"Oh begitu..." Haruka yang panik menjadi sedikit lega ketika Takane menerima jawaban tersebut namun itu tidak berlangsung lama. "Hmm, tapi ini hal yang baru juga yah mendengar Chihaya bisa bergaul dengan kakak kelasnya di sekolah, yah kan, Haruka-san?"
"Ehh... I-Iya... hahahahaha... aku juga tidak tahu tentang itu juga yah... ha ha ha ha ha..." keringat dingin menyertai Haruka saat mengatakan hal tersebut. sementara itu Haruka menegur Umi dengan berbisik supaya dia jangan keceplosan saat ngomong.
"N-Nahh, kalau gitu kita makan aja yuk.. Ahh, itu ada tahu busuk! Beli yuk?!"
Malam haripun dimulai dan H-1 itu dimanfaatkan dengan baik oleh para idol 765 Pro All Star tersebut.
.
.
Kyoto, Jepang.
.
"Ah, teman-teman kita akhiri latihan kita sekarang. Setelah ini kita kembali ke penginapan untuk mandi dan setelah itu kalian bebas untuk main ataupun tidur" ujar Eli memberi komando.
"Ahhh... capeknya!"
"Honoka-chan, abis ini kita mandi bareng yuk?" ajak Kotori kepada Honoka yang rebah di lantai.
"Umm, boleh aja... minna, ada yang mau bareng?"
"Aku nanti aja deh... masih capek. Kalian duluan aja deh." respon Nico bersama beberapa gadis kelas satu lainnya. Sementara Eli, Nozomi mengikuti mereka berdua.
"Ya udah, kalau begitu kita duluan yah. Eli-chan, Nozomi-chan... dan Chihaya-san. Mau bareng?"
"Err... gak apa-apa? Aku gak punya baju ganti."
"Pinjam punyanya Umi saja. Aku yakin dia disana juga pasti memakai bajumu" balas Honoka seenaknya.
"Oh iya, ngomong-ngomong kamu gak mau kasih tau mereka?"
"Aku maunya begitu sih... tapi mau nelpon siapa?"
"Kamu gak ingat nomer telepon temanmu?"
"I-Ingat kok.. bahkan aku bawa HP-ku sendiri."
Tapi belum sempat Chihaya membuka HP-nya tiba-tiba ponsel itu berdering. Satu kontak nama tertera di layar HP tersebut. itu adalah nama orang yang dikenalnya yaitu Produser-san.
.
.
Taipe, Taiwan
.
"Ah, capeknya...!"
"Otsukare.. Umi-chan" salam Haruka setelah kedua orang itu sampai ke kamar hotel mereka. Umi nampak sangat kelelahan setelah perjalanan wisata panjang bersama grup barunya ini di luar negari. Untunglah Taiwan merupakan negara yang bersahabat dengan Jepang sehingga tidak terlalu menyulitkan bagi wisatawan Jepang seperti mereka untuk mengenali daerah ini.
"Apakah kalian sudah terbiasa dengan situasi seperti tadi?" keluh Umi setengah mendongakkan kepala ke atas.
"Ehehehe... enggak juga sih. Sebenarnya baru kali ini kami berada di Taiwan dan aku tidak menyangka akan dikejar-kejar oleh para fans seperti itu"
Umi di atas kasur yang dia tiduri mengingat kembali aksi kejar-kejaran karena identitas rahasia mereka terungkap oleh fans ketika melintasi jalan dan pada waktu singkat segerombolan orang langsung mengerubungi mereka untuk meminta tanda tangan. Khususnya bagi Chihaya alias Umi yang paling kerepotan untuk mengatasi fansnya yang lumayan liar untuk meminta perhatian dari idolanya.
"Yah sudahlah. Aku mau mandi. Apakah kamu mau ikut Umi-chan?" tanya Haruka.
"Err, enggak deh. Hari ini aku nggak mandi saja tapi aku mau keluar sebentar buat cari minuman dingin."
"Masih punya uang?"
"Tenang saja. Uang bekal yang diberikan Ritsuko-san masih banyak kok. Kamu mandi aja duluan. Aku bisa beli sendiri kok."
"Kamu yakin?" Haruka menanyai Umi dengan nada ragu namun Umi meyakinkannya bahwa dia baik-baik saja karena sudah cukup mengenal orang-orang di 765 Pro All Star. "Kalau ada apa-apa kamu telepon aku yah?"
"Ehh, kamu mau bawa HP ke kamar mandi?"
"Ehh, nggak bisa yah... hehehe..."
Kemudian Haruka dan Umi keluar dari kamar bersama-sama menuju arah yang berbeda. Pada kesempatan itu Umi menjadi rindu untuk menggunakan ponselnya dan menghubungi teman-temannya namun dia tidak segera melakukan itu karena masih ada di luar kamar.
Sambil menimang-nimang tentang kepada siapa dan bagaimana dia hendak menjelaskan alasan yang paling masuk akal kepada anggota µ's tiba-tiba dia berpapasan dengan Produser-san yang sedang panik menelepon seseorang. Dia berusaha menghindari kontak mata dengan orang itu namun lelaki berkacamata itu tiba-tiba mengejarnya dengan langkah cepat.
"Chihaya! Chihaya-san! Tunggu sebentar!"
Umi pada awalnya tidak berniat menanggapinya namun karena dia tidak ingin membuat orang lain curiga maka dia menghentikan langkahnya dan menanggapi panggilan sang Produser. Namun belum sempat dia membuka suara segera saja kedua tangan lelaki itu menggapai pundaknya dan memegangnya erat-erat.
"K-Kamu tidak apa-apa kan?! Kamu tidak terluka kan? Atau para fans disini ada yang sempat mengancam kalian?!" Lelaki itu begitu panik sehingga kesulitan merangkai kata-kata pertanyaan yang baik. "Maaf, ini adalah kesalahanku karena membiarkan kalian pergi berpencar sendirian. Seharusnya kalian tetap bersama-sama dan aku menyertai kalian sepanjang perjalanan ini. tolong maafkan aku!"
"Ehh, p-pak.. umm, P-Produser-san. Aku nggak apa-apa kok! Sungguh! Aku memang tadi sempat dikejar-kejar oleh warga disini namun aku bisa lolos dari mereka tanpa kendala berarti kok."
"Sungguh?! Kalau begitu kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?!"
Pada saat itu posisi HP Produser-san masih dalam posisi menghubungi nomer Chihaya. Sementara itu Umi sedang memegang HP dalam kondisi stand by.
Celaka! Pikir Umi karena sosoknya akan segera terungkap karena kecerobohan remeh seperti ini. Namun tiba-tiba Umi merasakan tangannya sedang dipegang oleh seseorang yang menariknya begitu saja. Dia menoleh dan mengetahui orang yang baru saja menarik perhatiannya. Dia adalah Miki Hoshii.
.
.
Kyoto, Jepang.
.
"Fyuh, akhirnya panggilan ini berhenti juga..." ujar Chihaya membuang nafas lega setelah HP-nya berhenti berdering. Pada saat itu bukan Chihaya saja yang merasa lega namun juga para anggota µ's lainnya.
"Nah, kalau begitu ada baiknya kamu mematikan HP-mu saja, Chihaya-san?" usul Rin.
"Hmm, jangan! Justru kalau begitu bakal membuat orang disana menjadi curiga karena nomer itu tiba-tiba tidak aktif dan tidak bisa dihubungi lagi. Lebih baik kamu biarkan saja HP itu dalam kondisi silent sehingga tidak terlalu menganggumu, kan?" usul Maki
Pada saat itu Chihaya menerima usul Maki dengan baik. Kemudian dia memutuskan untuk mandi bersama mereka. Setelah itu dia akan berusaha menghubungi sahabatnya di Taiwan supaya bisa menemukan jalan keluarnya.
Dan sesi mandi di pemandian umum dimulai.
Pada saat itu mereka saling bermain-main ketika di dalam kolam air meskipun para gadis itu tidak berusaha menganggu Chihaya. Meskipun demikian keadaan ini cukup membuat Chihaya risih apalagi ketika dia berurusan dengan anak kelas tiga yang berusaha mengajaknya bicara, Eli dan Nozomi.
Oh Tuhan, diantara para gadis lainnya justru kedua orang itulah yang paling tidak ingin ditemui Chihaya pada saat ini. Dia benar-benar terganggu dengan kehadiran mereka berdua. Khususnya bagian buah dada mereka yang terlalu besar dibandingkan lainnya. Sialnya, bahkan lebih besar daripada milik Miki yang sudah cukup membuatnya risih dulu.
.
.
Taipe, Taiwan
.
"Honey! Kamu mau ngapain?! Mau mesum yah?!"
"Ehh, nggak.. nggak begitu Miki-san. Kamu salah sangka! Aku cuma khawatir dengan keadaan Chihaya. Itu saja?! Makanya aku tanya mengapa dia tidak menjawab teleponnya.
"Oh, itu... Jadi gini, pada waktu kami jalan-jalan tadi, kami sempat beli HP baru buat Chihaya supaya bisa berteleponan dari negara ini makanya Produser-san tadi gak bisa menghubungi dia."
"Gitu yah? tapi sebetulnya kamu tidak perlu melakukan itu, kan? Bukankah provider jaringan telepon di Jepang bisa sampai ke negara ini?!"
"Ehehehe... maafkan aku Produser-san. Aku cuma kepengen beli saja tadi makanya aku ganti HP baru sekarang."
"Yah sudahlah, kalau begitu aku minta nomer kontakmu yang baru. Jadi kejadian seperti ini tidak terulang lagi."
"Ehh, Honey! Kamu terlalu posesif deh! gak mungkin banget lah kejadian ini bakalan terulang lagi. Lagian ada aku kan yang menjaga dia!" Miki berusaha menjauhkan Umi dari Produser-san namun lelaki itu semakin membentaknya.
"TAPI INI SUDAH JADI TUGASNYA PRODUSER UNTUK MELINDUNGI IDOLANYA! KARENA ITU...!"
"S-sudahlah, Miki-chan.. lagipula ini tidak akan menimbulkan masalah kok." Kata Umi dengan suara rendah mencoba menyela perdebatan Miki dan Produser. "Baiklah, Produser-san. Nyalakan Infra Red-nya jadi kita bisa bertukar kontak."
Kemudian kedua orang itu saling membagi nomor kontak ke HP masing-masing. Dan setelah itu Umi memasuki kamarnya untuk segera tidur. Sebelum itu dia berusaha menyalakan kembali HP-nya untuk menghubungi seseorang.
"H-Halo?!"
"H-Halo, Umi-chan! Ini Umi-chan kan?! Kenapa kamu baru menelepon sekarang?! Yang lebih penting, kamu tidak apa-apa kan?! Bagaimana rasanya berada di 765 Pro?!"
"Ehh, H-Honoka! Kamu sudah tahu itu?!"
"Humm, tentu saja! Coba tebak, siapa yang menggantikanmu disini?!"
"Ehh, jangan-jangan..."
"Yups, Chihaya-san ada bersama kami! sebentar, aku putus dulu yah?"
"ehh, Honoka! Honoka!" tidak berselang lama panggilan masuk Umi terima namun kali ini bukan berbentuk panggilan suara melainkan panggilan video.
"Honoka, kenapa kamu mematikan teleponku?! Dan... Kyaaa! Kenapa kalian semua telanjang sekarang?!"
"Hai, Umi-chan...! gomen-gomen... kami lagi mandi sekarang. Kamu sedang apa sekarang?! Kami baru saja selesai latihan lho!" jawab Honoka dengan video call-nya. Setelah itu dia memutarkan HP tersebut sehingga setiap member µ's bisa berinteraksi dengannya. "Umi-chan! Kamu baik-baik saja kan?! Huft, Bikin panik orang saja! Kalau pulang ke Jepang bawakan oleh-oleh yang banyak yah?! Umi, tenang saja yah? kami baik-baik saja kok. Araa... aku tidak tahu harus bilang apakah kamu itu bernasib mujur atau sial sekarang karena terpisah dari kami namun bisa berangkat ke luar negeri sekarang."
"Minna... maaf yah sudah membuat kalian khawatir. Aku juga tidak menyangka akan bernasib seperti ini namun bagaimanapun alasanku mengikuti mereka karena aku tidak ingin membuat jelek nama Chihaya-san?!"
"Tenang saja, kami bisa ngerti kok. Yah, kan Chihaya-san?!" Honoka mengganti arah video call tersebut kepada seseorang yang sama-sama berambut biru gelap di sudut kolam. "Kyaa, jangan bawa-bawa kamera kesini dong! Iya-iya.. aku nggak masalah kok."
Sementara Honoka mengubah fokus kameranya, di kamar hotel Taipe tempat Umi menginap telah kedatangan seseorang yang baru saja masuk. Gadis itu tidak sengaja menonton isi video call tersebut.
"Chihaya!"
"ehh, suara itu?!" tiba-tiba Chihaya dibuat kaget dengan suara panggilan di HP Honoka. Suara yang sangat familiar baginya. Dia adalah Haruka Amami. "Haruka?!" tiba-tiba Chihaya segera meraih hp itu memastikan sumber suara tersebut dan benar! Gadis itu, sahabatnya di negeri seberang sedang menangis di depan layar HP tersebut.
"Haruka... gomen ne! Aku tidak bisa bersama kalian saat ini."
"enggak apa-apa kok. Yang penting aku bisa memastikanmu baik-baik saja sekarang. Aku yakin kamu pasti memiliki pemikiran yang sama dengan Umi-chan kan? Kamu tidak mau membuat reputasi anak ini hancur dengan grup idol school mereka kan?"
"Yah, begitulah... Hei, Haruka. Sudah... jangan menangis lagi!"
"S-Siapa yang nangis?! Kau bercanda yah?!" katanya sembari menghapus air mata. "Kalau ada hal yang bisa membuatku bersedih saat ini itu karena Oppai-mu. Kenapa Oppai-mu itu gak besar-besar?"
Sementara itu Chihaya baru menyadari bahwa bagian atasnya masih terbuka bebas dan dengan itu dia melemparkan HP itu dan cepat-cepat menyembunyikan badannya ke air kolam. Untunglah, Kotori dengan sigap menyelamatkan HP tersebut sebelum jatuh ke dalam air.
"Nah, begitulah. Jadi, kita sepertinya sudah bisa mengerti apa yang akan dilakukan kedua orang ini, kan? Hehehe... Kalau begitu, mohon kerja samanya untuk mendukung Umi-chan, yah?!" salam hormat Kotori kepada pemimpin 765 Pro tersebut.
Sementara itu dari negeri seberang, gadis itu tertawa dan kagum dengan solidaritas kedelapan gadis SMA ini. matanya berkaca-kaca namun dia menahan perasaannya sembari juga turut berkata "Aku juga... Mohon kerja samanya untuk mendukung Chihaya-san, yah?!"
"Aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi namun aku sekarang lega setelah melihat Chihaya ada bersama dengan gadis baik seperti kalian. Aku harap kita bisa bertemu lagi di waktu berikutnya namun bukan dalam keadaan seperti ini melainkan sebagai sesama idol."
"Umm... aku menantikan itu!" kata Honoka, ketua µ's dengan antusias.
"Aku juga... perkenalkan namaku adalah Haruka Amami dari 765 Pro"
"Namaku adalah Honoka Kousaka dari µ's, senang berkenalan denganmu. Haruka-san."
"Nah, kalau begitu selamat tinggal."
"Umm, sampai jumpa lagi.. Byeeee~~~" video call itu lantas ditutup dengan sorakan para gadis di tempat pemandian itu dengan kompak dan suasana kamar menjadi hening kembali.
"Chi... haya!" seruan pelan dari gadis itu bahkan hampir tidak terdengar namun Umi tetap mendengar itu sebagai sebuah panggilan tulus yang tidak terelakkan. Dia tahu perasaan apa yang sedang menerpa gadis itu ketika menyerukan perkataan tersebut.
Dia merindukan teman sejatinya yang kini tiada disisinya. Seperti apapun Umi mirip dan bertingkah seperti Chihaya namun Umi Sonoda tetaplah Umi Sonoda dan itu tidak akan pernah berubah.
Di dalam keheningan dua anak dara itu saling mendekatkan diri dan berpelukan. Mereka saling berbagi rasa kehilangan yang tidak mungkin dapat mudah tergantikan. Mereka tahu bahwa ini sama sekali tidak membantu apa-apa namun mereka tidak dapat menahan rasa untuk saling membutuhkan dan senantiasa menutupi rasa kekosongan ini dengan tambatan hati sementara untuk beberapa hari selanjutnya.
.
.
Bersambung
