Warning : Alternate Universe, Out of Character, mary-sue, slight chara bashing (Bukan disengaja. Hanya untuk keperluan cerita), shoujo-ai, character death, plus bumbu kegajean dan keabalan tingkat tinggi.. =_=' Yang gak suka, silakan klik 'back'.


The Legend of The Wishing Stairs

Naruto © Kishimoto Masashi

Yeogo goedam 3: Yeowoo gyedan © Yun Jae-yeon

Bagian 3


"Sudah sampai!" Gadis itu memutar tubuhnya sehingga berdiri berhadapan dengan pemuda tampan di sebelahnya. Senyum ceria yang tersungging di wajahnya masih sama seperti siang tadi, seakan berjalan-jalan beberapa jam bersama kekasihnya sama sekali tidak membuatnya lelah. Ia menarik napas, mengambil udara malam yang dingin masuk ke paru-parunya. "Terimakasih sudah mengantar sampai rumah, Sasuke-kun!"

"Aa…" sang pemuda membalas datar. Seringai tipis tersungging di wajahnya yang pucat tertimpa cahaya temaram lampu jalan. Mata hitamnya sejenak melirik ke arah kediaman megah dengan plat nama Yamanaka di sisi jalan itu, sebelum kembali memandang gadis pirang di depannya.

Seakan mengerti apa arti tatapan si pemuda, Ino menghela napas, memutar matanya. "Baiklah…" Ia meletakkan sebelah tangannya yang bebas tas biola di bahu Sasuke, mendorongnya sedikit sehingga posisinya kini memunggungi arah rumah. Gadis itu berjingkat, mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke –lalu berhenti. "Gomenasai ne, Sasuke-kun." Dengan gerakan cepat, kecupan ringan mendarat di sisi wajah pemuda di depannya.

Ekspresi pemuda itu tak berubah saat Ino menarik dirinya mundur dan berjalan menuju gerbang depan rumahnya.

"Ino," panggil Sasuke sebelum Ino menutup gerbangnya.

"Hm?"

Seulas senyum –senyum, bukan sekedar seringaian seperti yang biasa diberikannya pada Ino—tersungging di wajahnya. "Arigatou."

Selama beberapa saat Ino hanya berdiri di sana, memandang pemuda itu dengan tatapan tak terbaca. Sebelum kemudian ia membalas dengan senyum yang tak mencapai matanya yang berwarna biru aqua. "Tidak perlu berterimakasih, Sasuke-kun. Oyasumi."

"Oyasumi."

Ino pun berbalik dan berlari menuju undakan rumahnya.

"Tadaima," ucapnya bosan saat ia melangkah masuk ke dalam rumah setelah seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

"Okaeri, Ino-chan," balas seorang wanita berambut pirang terang yang tengah duduk di sofa besar nyaman di tengah-tengah ruangan beratap tinggi itu. Wanita itu beranjak, menampilkan profilnya yang jangkung dan langsing –seperti halnya Ino, hanya saja dalam versi yang lebih tua. Duduk di kursi berlengan tunggal di dekat sofa, seorang pria yang juga berambut pirang yang sedang menyesap secangkir teh hijau yang masih mengepul.

"Okaasan, Otousan, belum tidur?" tanya Ino berbasa-basi seraya melangkah ke arah tangga megah menuju lantai dua –kamarnya.

"Kami baru membicarakanmu, Nak," sahut Ibunya dengan sukses menghentikan langkah gadis itu ketika baru sampai anak tangga kedua. "Kau tahu Otogakure University of Music akan mengadakan kompetisi biola untuk tingkat sekolah menengah? Pemenangnya akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan undangan untuk belajar di sana. Kau tahu kan, sekolah itu…"

"Ya, Okaasan, tentu saja," sela Ino seraya memutar tubuhnya, memandang kedua orang tuanya, "Tempat terbaik untuk belajar musik. Almamater Okaasan dan Otousan, bukan begitu?"

"Baguslah kalau kau sudah tahu, Sayang," jeda sejenak sementara mata sang ibu menatap putrinya penuh harap, "Kami harap kau bisa mengambil bagian dalam kompetisi itu."

Ino menyunggingkan senyum hambar, berusaha menutupi ketidakpeduliannya. "Tentu, Okaasan."

Sorot kebanggaan terpancar dari wajahnya saat ia memandang putrinya, "Itu baru putri Okaasan."

Anak gadisnya meringis, sekuat tenaga menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Baru beberapa langkah Ino menaiki tangga marmer itu ketika suara ibunya memanggilnya lagi. Ia lantas berhenti dan berbalik, memandang wanita itu dengan tatapan malas.

"Ya, Okaasan?"

"Bagaimana kencanmu dengan Sasuke-kun, Sayang? Apa menyenangkan?"

Gadis itu mengeluarkan dengusan sinis yang tak sampai ke telinga ibunya. "Kalau Okaasan menyuruh orang mengawasi kami, seharusnya Okaasan tahu," sahutnya dengan nada dingin, membuat mata biru ibunya sedikit membulat. Kemudian melesat menuju kamarnya di ujung koridor, sama sekali tidak menghiraukan panggilan ibunya kali ini. Suara pintu yang dibanting menutup menyusul kemudian.

"Haah… Anak itu! Sejak kapan jadi kasar begitu?"

"Yare yare… Sudah kubilang kau tidak perlu melakukan itu, Hitomi…" ujar Tuan Yamanaka seraya sekali lagi menyesap tehnya dengan tenang. "Kau seharusnya tahu sifat gadis remaja yang suka memberontak itu. Seperti tidak pernah remaja saja…" ia menambahkan dalam gumaman pelan –yang sayangnya tidak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh sang istri.

Yamanaka Hitomi memandang gusar ke arahnya. Kedua lengannya yang terbungkus sweter mahal terlipat di depan dada. "Aku hanya mengkhawatirkan putriku, Inoichi!"


Ino membanting pintu kamarnya menutup. Tanpa repot-repot menyalakan lampu kamr, gadis itu melempar kotak biola dan tasnya ke atas ranjangnya yang besar dengan sikap tak sabaran. Tangannya menyisir rambut pirangnya kasar ke belakang, membuat kucir kudanya terlepas dari ikatannya.

Ingin rasanya ia berteriak saat itu, melepaskan segala frustasi atas sikap orang tuanya –terutama ibunya—yang terlalu mengendalikan hidupnya. Seakan ia sendiri tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupannya sendiri.

Tentu saja gadis itu mengerti bahwa dirinya adalah pewaris tunggal keluarga Yamanaka, yang diharapkan akan meneruskan nama besar kedua orang tuanya sebagai seorang musisi kelas wahid dan segala macam lagi. Semuanya sudah diatur oleh kedua orangtuanya –semuanya tanpa terkecuali, termasuk lelaki yang menjadi calon pendampingnya. Dan Ino yakin bahwa kompetisi biola itu juga sudah diatur untuknya.

Orangtuanya selalu memilihkan yang terbaik, namun kadang-kadang Ino merasa mereka melakukan itu bukan untuknya, melainkan untuk diri mereka sendiri.

Aku juga ingin memiliki kehidupanku sendiri, Okasan… Otousan… Termasuk memilih orang yang kucintai…

Dan Sasuke…

Helaan napas berat keluar dari bibir gadis itu tatkala ia teringat kencan-nya tadi sore. Bukannya kencannya dengan Sasuke tidak menyenangkan atau apa, justru sebaliknya. Meskipun ia tahu Sasuke juga tidak begitu menikmati hubungan mereka, namun pemuda itu toh selalu memperlakukannya dengan semestinya. Sedikit dingin, tapi cukup baik. Mereka kerap melewatkan waktu membicarakan banyak hal –Sasuke biasanya membiarkan Ino yang mendominasi sementara ia hanya mendengarkan saja—makan, jalan-jalan, nonton, bahkan menemaninya ke salon. Begitu pula dengan kencan mereka beberapa saat yang lalu.

Hanya saja… ada satu hal yang membuat Ino merasa tak tenang.

Ino menggeram pelan seraya sekali lagi menyisir rambut pirangnya ke belakang ketika perasaan menyesal atas tindakannya tadi sore menyerangnya. Kakinya membawanya berjalan mondar-mandir di tengah-tengah kamarnya yang luas sementara mulutnya sibut menggerigiti ujung kukunya hingga terasa sakit –tapi ia tidak peduli.

Sekarang ia mulai takut. Sangat takut.

Takut kehilangan.

Mata biru aqua-nya kemudian menemukan ponsel di atas ranjang, sepertinya tak sengaja terlempar keluar saat ia menjatuhkan ranselnya di sana. Dengan tergesa ia meraih ponsel itu. Tanpa memedulikan fakta bahwa saat itu malam sudah larut, jemarinya lincah menekan nomor yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala.

Nomor seseorang yang ia tahu bisa membuatnya merasa jauh lebih baik.

Saku-chan.

Tuut… Tuut…

Namun tampaknya ia harus menahan kekecewaan saat mendengar yang menjawab panggilannya hanyalah nada sibuk dari seberang. Sembari mengerang tidak puas, Ino melempar dirinya berbaring di atas ranjangnya yang besar. Mata birunya memandang kosong ke langit-langit kamarnya. Barangkali Sakura-chan sedang ditelepon orang tuanya, pikirnya.

Lama ia berbaring di sana, diam, seraya mendengarkan suara-suara yang terdengar samar dari luar kamarnya. Ayah dan ibunya sepertinya masih ada di ruang keluarga. Langkah kaki pelayan yang bekerja di rumahnya pun beberapa kali terdengar melintas di depan pintu. Sampai akhirnya semuanya mulai tenang menjelang tengah malam. Dentang jam besar dari arah perpustakaan rumahnya menggema di seisi rumah, ditingkahi suara kerikan jangkrik yang berasal dari luar. Angin malam musim gugur yang dingin menggigit berhembus perlahan dari jendela kamar yang masih terbuka, mengibarkan tirainya yang berwarna putih.

Tapi sang gadis pemilik kamar tampaknya tidak tergerak sama sekali untuk menutupnya. Bukan karena ia telah jatuh tertidur. Sebaliknya, bola mata bening itu belum tertutup sejak tadi. Dan sekarang tengah menatap ke arah jendela. Bulan purnama menggantung rendah di langit malam yang bersih tanpa bintang. Bersinar sendirian. Kesepian –seperti dirinya.

Tepat ketika dentang keduabelas berbunyi, ia menarik tubuhnya ke posisi duduk. Rambut pirang yang terjuntai di wajahnya sedikit tersibak oleh hembusan angin dari luar. Seulas senyum penuh arti melengkung di bibir tipis sang gadis.

Sebentar lagi aku tidak akan kesepian lagi…


Malam itu seperti malam-malam biasanya di asrama putri Konoha Art Institute. Selepas makan malam, suasana ruang aula asrama yang biasanya suram itu dipenuhi suara-suara riuh para gadis yang berebut remote televisi. Tidak heran, karena itu bisa dibilang menjadi satu-satunya sarana hiburan di tempat itu selain radio yang sudah lama sekali tidak pernah digunakan. Dan seperti biasa pula, segala keramaian itu tidak menarik minat gadis berambut merah muda itu. Ia lebih senang duduk di sofa butut favoritnya di sudut, tenggelam dalam bukunya dengan earphone tersumpal di kedua telinganya, sama sekali tidak menghiraukan keributan kecil di depannya.

"Tidak bergabung, Sakura-chan?"

Sakura merasakan sofa yang didudukinya sedikit melesak ketika seorang gadis bercepol menghenyakkan diri di sampingnya, membawa sebungkus keripik kentang. Perhatiannya otomatis teralih pada temannya yang baru datang itu. Ia menarik lepas sebelah earphone dari telinganya.

"Huh?"

"Tidak bergabung?" ulang Tenten mengendik ke arah teman-teman mereka yang sedang berteriak-teriak ramai di depan televisi sembari memasukkan sekeping keripik ke dalam mulutnya.

Sakura memandang ke arah teman-temannya, mengernyit saat melihat seorang gadis berambut merah menyala dengan kacamata yang berbingkai senada dengan warna rambutnya merebut remote dari salah satu gadis. Kernyitannya berubah menjadi ringisan saat ia menoleh pada Tenten yang sedang terkekeh menonton keributan baru itu.

"Kau tahu aku tidak begitu cocok cakar-cakaran begitu, Ten-chan…"

Tenten tergelak. Ia menawarkan bungkus keripik kentangnya ke arah Sakura yang langsung mengambil beberapa dan melahapnya.

"Tapi aku yakin Karin tidak akan berani macam-macam padamu," komentar Tenten, masih nyengir, "Dengan putri pemilik yayasan ini sebagai backup-mu, dia tidak akan berani."

Mendengar itu, cengiran di wajah Sakura memudar. Gadis itu tidak berkomentar apa-apa.

Cukup lama kedua gadis itu terdiam.

"Hei, Sakura," Tenten bersuara setelah menghabiskan keripik kentangnya.

"Hm?"

"Sudah dengar tentang kompetisi biola Otogakure University of Music?"

Informasi baru ini mengembalikan perhatian Sakura sepenuhnya pada Tenten. Gadis itu menutup bukunya dan membalik tubuhnya, melipat kakinya di atas sofa sehingga ia duduk berhadapan dengan si gadis bercepol.

"Otogakure University of Music?" ia bertanya antusias. "Kompetisi macam apa?"

Tenten balas menatap kawannya tak percaya. "Jadi kau belum mendengar?" –Sakura menggeleng—"Astaga, kukira dengan menempel terus dengan Ino kemana-mana kau akan tahu berita ini."

Sakura mengibaskan tangannya tak sabar. "Berisik ah. Jadi kompetisinya seperti apa, eh?"

"Dari yang kudengar, ini adalah kompetisi biola antar sekolah. Jadi setiap akademi musik mengirimkan satu perwakilannya untuk bertanding di kompetisi itu dan pemenangnya akan mendapat kehormatan untuk melanjutkan sekolah di sana. Keren, kan?"

Sakura tidak tahu harus merasa senang atau kecewa mendengar berita ini. Hanya ada satu perwakilan setiap sekolah, pikirnya. Dan ia tahu betul apa artinya itu. Mereka akan memilih siswa terbaik di sekolah dan siapa lagi kalau bukan Yamanaka Ino? Hampir bisa dipastikan bahwa bintang sekolah itulah yang akan mendapatkan tempat kehormatan itu.

"Tidak ada gunanya," gumamnya, kehilangan minat sama sekali.

Melihat ekspresi di wajah Sakura, Tenten menyeringai. "Aku tahu apa yang kau pikirkan," ujarnya sambil menghela napas. "Memang mustahil kalau saingannya adalah Ino-chan. Aku juga langsung kehilangan minat waktu dengar perwakilannya hanya satu orang. Haah… padahal itu kesempatan bagus untuk bisa debut sebagai soloist. Atau paling tidak, lebih dekat untuk bisa masuk ke Hidden Leaf Orchestra."

Dan juga untuk mewujudkan impianku sebagai seorang musisi… OUM… Andai saja aku juga bisa ikut maju dalam kompetisi itu…

Getaran ponsel dari saku celananya, membuyarkan lamunan gadis bermata emerald itu. Ada panggilan masuk. Kedua alisnya terangkat saat ia melihat deretan nomor yang tidak ia kenal. "Eh? Siapa?"

"Ino-chan?" tebak Tenten, melirik ponsel Sakura.

"Bukan. Sebentar—Moshi moshi?"

Suara maskulin yang kemudian terdengar dari seberang seakan membuat gadis itu membeku. Ia menahan napasnya. Suara ini…

"S—Sasuke-kun?"

"Aah…" pemuda di seberang terdengar agak terkejut. Sunyi sesaat sementara yang terdengar hanyalah suara samar-samar kerikan jangkrik dari seberang –sepertinya Sasuke masih berada di luar rumah. "Kau mengenali suaraku rupanya."

Ooh, siapa yang tidak kenal kalau hampir setiap malam aku selalu memimpikannya dalam tidurku?

"I—Ie…" Sakura tak bisa menahan cengiran di wajahnya yang mulai merona. Ia melompat berdiri dari sofa dan meninggalkan Tenten yang kebingungan menuju koridor yang lebih lengang, jauh dari suara bising di ruang tengah. "D-Dari mana kau tahu nomorku?" tanya Sakura, berusaha agar tidak terdengar terlalu gugup –atau terlalu antusias.

"Seseorang... er… tapi itu tidak terlalu penting. Apa aku mengganggumu?"

"T—tidak, kau tidak menggangguku sama sekali," sahut Sakura cepat-cepat.

"Aah…"

Keheningan yang canggung menyusul kemudian. Sakura menggigit bibir bawahnya dengan sikap gugup, tidak tahu harus berkata apa pada pemuda di seberang. Dan Sasuke pun tampaknya tidak berhasil menemukan topik untuk dibicarakan. Setidaknya sampai beberapa waktu sebelum akhirnya suaranya yang dalam kembali terdengar.

"Kau sedang apa?"

"Oh, aku… um…"

Sakura menarik-narik ujung rambutnya. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, pintu kamar di belakangnya mendadak terbuka. Sakura memutar tubuhnya dan terlonjak kaget mendapati sosok berambut hitam panjang terjurai berantakan menutupi wajahnya yang tertunduk.

"KIN?!" pekik Sakura saat ia mengenali sosok di depannya.

Kin mengangkat wajahnya dengan terkejut, menyibak tirai rambut hitam yang menutupi wajahnya yang bulat sehingga Sakura bisa melihat bekas cat coreng-moreng di sana.

"Haah… kau ini mengagetkan orang saja!" Sakura menukas jengkel.

"G-Gomenasai…" ucap Kin terbata seraya merunduk, membuat rambut hitamnya kembali jatuh menutupi wajahnya dengan cara yang menyeramkan. Seperti hantu di film-film saja. Gadis itu pun bergegas melewati Sakura setelah menutup pintu kamarnya, lalu pergi ke arah kamar mandi di ujung koridor suram itu.

Sakura menunggu sampai pintu kamar mandi ditutup sebelum meletakkan kembali ponselnya di telinga. Ia bisa mendengar suara Sasuke –"Moshi moshi? Moshi moshi?"

"I-Iya, Sasuke-kun?"

"Ada apa? Kenapa berteriak?"

"A—Ano… itu tadi temanku…"

Dari arah ruang tengah, terdengar teriakan Anko-sensei, yang juga menjadi penanggungjawab asrama itu, menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing. Ditingkahi suara-suara protes para gadis itu yang sepertinya masih enggan beranjak dari sana. Sakura cepat-cepat melangkahkan kakinya meninggalkan koridor itu, menuju tangga menuju lantai dua tempat di mana kamarnya berada, dengan ponsel masih tertempel di telinganya.

"Di asrama sepertinya sedang ramai, eh?" Tidak diragukan lagi, Sasuke bisa mendengar keributan di belakang suara Sakura.

Sakura tertawa gugup. "Yah… kalau sudah jam segini, Sensei biasanya suka berteriak menyuruh kami tidur."

"Begitu…"

"Hmm…" Sakura segera mengunci pintu setelah akhirnya sampai di kamarnya, tempat di mana ia bebas melompat-lompat melampiaskan kegembiraannya karena bisa mendengar suara pemuda yang sudah lama ditaksirnya sejak ia menginjakkan kaki di Konoha tanpa perlu khawatir dilihat orang lain.

"Kalau begitu kau sudah mau tidur sekarang?" Suara Sasuke terdengar agak kecewa.

"Aa—tidak. Aku belum terlalu… um… mengantuk," sahut Sakura cepat.

"Souka," Sasuke terdiam beberapa saat. "Sebenarnya sejak dulu aku ingin sekali menghubungimu, Sakura."

"Eh?"

"Tapi baru sekarang berhasil mendapatkan nomormu." Jeda beberapa saat. "Pertandingan waktu itu… aku senang kau datang."

"Kau melihatku?" Sakura tak bisa menahan nada gembira dalam suaranya dan ketika ia menyadarinya, wajahnya memanas. Baka! Baka! Baka!!

Namun Sasuke tampaknya tidak begitu memperhatikan. "Aku melihatmu," sahutnya. "Dan aku juga ingin melihatmu sekarang."

"Huh?" Sakura mengerjap bingung.

"Hn…" suara pemuda itu terdengar agak ragu, "Bisakah kau melihat ke luar jendela, Sakura?"

"Jendela?"

Didorong rasa penasaran, Sakura berjalan mendekati jendela kamarnya yang tertutup tirai hijau usang, menariknya terbuka. Ia masih tidak bisa melihat keluar karena kaca pelapisnya terbuat dari kaca buram. Maka dengan ponsel terjepit antara telinga dan bahunya, Sakura mendorong daun jendela geser itu ke atas. Sedikit susah karena jendela itu memang kerap macet jika dibuka, tapi akhirnya ia berhasil membukanya dan hembusan angin yang dingin langsung menerpa wajahnya.

Namun rasa dingin itu seketika terabaikan saat matanya menangkap sesosok jangkung yang sedang berdiri di luar pagar asrama, tepat di bawah siraman cahaya lampu jalan yang temaram. Sakura tidak bisa melihat wajah sosok itu dalam jarak sejauh itu. Tapi dari seragam Hidden Leaf High yang dikenakannya dan ponsel yang tergenggam di tangannya, ia cukup yakin bahwa sosok itu adalah orang yang sama yang sedang meneleponnya saat ini.

Hatinya mencelos.

Sasuke-kun…

Segaris senyum terulas di bibir gadis bermata hijau itu. Ia melambaikan tangannya dan pemuda di bawah sana balas melambai.

"Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya nyaris berbisik.

"Bukankah tadi sudah kubilang… Aku ingin melihatmu."

Jawaban yang diberikan Sasuke tak pelak membuatnya bertambah merah –untung saja pemuda itu tidak bisa melihatnya.

"Arigatou…" ucap Sasuke selang beberapa lama, "Karena sudah mau keluar sehingga aku bisa melihatmu."

Sakura tidak tahu harus menyahut apa maka gadis itu hanya diam, tersenyum pada sosok yang tengah menatap ke arahnya itu.

Suara ketukan kasar di pintu kamarnya membuat gadis itu terlonjak. Sejenak perhatiannya teralih.

"Haruno! Sudah saatnya mematikan lampu!" terdengar suara Anko-sensei dari luar kamar.

"Hai', Sensei!" ia menyahut sebelum kembali menoleh ke jendela. "Gomenasai, Sasuke-kun. Sensei sudah menyuruh kami mematikan lampu."

"Aah… Masuklah kalau begitu. Sangat dingin di luar."

Sakura tertawa kecil. "Seharusnya aku yang bilang begitu karena kau yang berada di luar saat ini."

"Yeah, kau benar," kekeh Sasuke. "Oyasumi, kalau begitu, Sakura…"

"Oyasumi..."

"Sakura?" sela Sasuke lagi sebelum Sakura memutuskan sambungan.

"Hm?"

"Apa besok pagi… aku bisa melihatmu lagi?"

Dan dengan membawa janji untuk bertemu lagi esok, Sakura menutup kembali jendela kamarnya, memblokir angin malam yang kian dingin menggigit. Suasana hatinya yang semula tidak terlalu baik berbalik seratus delapan puluh derajat. Gadis itu tertawa, melompat, menari-nari kegirangan di tengah kamarnya yang sempit seraya memeluk ponselnya.

Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan…

"HARUNO!!"

"H—Hai', Sensei!!"

Sembari masih cekikikan, gadis itu bergegas mengganti pakaiannya dengan gaun tidur dan mematikan lampu. Kemudian menyusup ke bawah selimutnya, melindunginya dari udara dingin yang masih tersisa di ruangan itu sejak ia membuka jendela beberapa saat yang lalu.

Detik demi detik berlalu. Sunyi… Namun kantuk tampaknya masih enggan merasuki gadis yang tengah berbunga-bunga itu. Tidak peduli berapa kali ia berguling, mencari posisi nyaman untuk bisa terlelap, tapi usahanya sia-sia saja. Sampai akhirnya ia menyerah. Ia masih terlalu dipenuhi energi untuk bisa tidur. Sakura menghela napasnya sembari memposisikan tubuhnya berbaring terlentang. Matanya menatap kosong langit-langit kamarnya yang gelap sementara pikirannya kembali pada percakapan singkatnya dengan sang pemuda impian. Ia tersenyum lagi.

Suara lonceng dari menara tua di belakang asrama penanda waktu sudah menginjak tepat tengah malam berdentang membelah kesunyian. Suaranya menggema mengerikan di sepanjang koridor yang gelap, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang.

Sakura merapatkan selimut dan memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa kantuk baru saja menghinggapinya tatkala ia mendengar sesuatu dari arah jendelanya.

Greek… greek…

Gadis itu menahan napasnya, mendadak teringat cerita salah satu kawan asramanya yang katanya pernah melihat penampakan hantu tangga permohonan di depan asrama mereka. Selama ini Sakura tidak pernah percaya pada hal-hal seperti itu, tapi sekarang…

Greek.. Greek…

Suara aneh itu kian jelas terdengar dan Sakura yakin itu bukan hanya khayalannya saja. Ia terlonjak bangun dari tempat tidurnya ketika tiba-tiba saja seperti ada sesuatu yang memukul-mukul jendelanya dengan keras dari luar. Jantungnya mulai berpacu cepat, namun ia merasakan wajahnya justru berubah pias, mati rasa. Gemetar, Sakura memberanikan diri menoleh ke arah jendelanya. Napasnya tertahan saat melihat bayangan gelap di depan jendelanya.

Dak dak dak!!

Sakura beringsut mundur menjauhi jendela, lalu terguling jatuh dari tempat tidurnya. Ingin rasanya ia berteriak saat itu, tapi suaranya tak mau keluar. Tubuhnya yang gemetar merapat ke dinding. Matanya membeliak.

Daun jendela perlahan bergeser dengan suara kasar ke atas, membuka, membawa hembusan angin dingin masuk ke dalam kamar, membuat tirai jendelanya berkibar membuka. Dan sosok gelap itu muncul di sana, merangsek masuk. Rambutnya yang panjang tersibak diterpa angin di sekelilingnya, berkilau tertimpa cahaya bulan dari luar.

Dan Sakura bisa melihat wajahnya dengan cukup jelas sekarang. Juga mata biru aqua-nya yang berkilat-kilat.

"Sakura-chan!" seru Ino dalam bisikan yang terdengar jelas.

"INOOOOO!!!" Sakura berteriak sebal. Jantungnya yang sedari tadi serasa naik ke leher, mendadak seperti merosot ke perutnya.

"Sssstt… Jangan berisik! Nanti aku ketahuan!" desis Ino. Gadis itu mencoba menarik dirinya masuk –tampaknya ia sedikit kesulitan. "Sakura-chan, bantu aku naik!"

Masih menggerutu sebal, Sakura beranjak dari lantai dan bergegas membantu Ino masuk. "Kau menakutiku!" pekiknya memprotes.

"Sakura-chan… suaramu itu bisa membangunkan seisi asrama, tahu!" Ino mendesis seraya menarik kedua kakinya masuk sementara Sakura memeganginya agar tidak jatuh.

"Habis…" Sakura memasang tampang cemberut, "Kau kabur lagi dari rumah? Geez, Ino-chan… Ada apa denganmu?"

Ino mengabaikannya. Gadis itu melompat turun dari jendela. "Tidak apa-apa kan, aku bermalam di sini lagi?" tanyanya sementara Sakura kembali menutup jendela kamarnya.

Ia tidak membutuhkan jawaban, sebenarnya, karena ia tahu Sakura tidak akan menolaknya. Lagipula ini bukan pertama kalinya Ino kabur dari rumah dan menyelinap ke kamar asrama sahabatnya itu. Ino mengedarkan pandangnya berkeliling kamar yang gelap itu, sebelum memandang Sakura yang masih berdiri mematung di jendela. Cengiran jahil muncul di wajahnya yang cantik.

"Kenapa mukamu pucat begitu, Saku-chan? Apa aku benar-benar membuatmu takut?"

"Tidak usah ditanya," Sakura menukas, cemberut.

Tawa si gadis pirang pecah berderai melihat ekspresi sahabatnya itu. Tubuhnya sampai berguncang-guncang dan ia kemudian kolaps ke tempat tidur Sakura sambil memegangi perutnya yang nyeri karena terlalu heboh tertawa. "Aduh perutku… Hahaha…"

"Tidak lucu, Ino-chan…" rajuk Sakura. Tapi mau tidak mau gadis itu ikut tertawa juga.


"Sakura-chan?"

"Hm?"

"Kau tahu kenapa Okaasan-ku berkeras menyuruhku mempelajari biola?"

Ino menoleh ke belakangnya, di mana Sakura sedang duduk bersila di atas ranjang sembari menyisiri rambut pirangnya yang panjang dan halus. Gadis itu menghentikan gerakannya sejenak, namun tidak berkata apa-apa. Maka Ino pun melanjutkan,

"Itu karena sewaktu muda dulu Okaasan ingin sekali menjadi seorang violinist, tapi kecelakaan yang dialaminya membuatnya tidak bisa bermain biola dan akhirnya berbelok menjadi seorang penyanyi opera. Dan sekarang, dia ingin aku melanjutkan mimpinya dan di sinilah aku," Ino mengangkat bahunya. Ia menghela napas sejenak. Nada suaranya terdengar sedih, "Hidupku ini sudah diatur oleh orangtuaku. Bahkan… jodohku pun mereka sudah memilihkannya… Kadang-kadang aku berharap bisa lepas dari semua itu, Sakura-chan. Hidup di suatu tempat yang jauh dari keluargaku dan biola."

"Hmm…"

"Kalau nanti kita sudah dewasa, bagaimana kalau kita tinggal bersama-sama saja? Membeli rumah yang bagus di pinggir kota, jauh dari polusi dan keramaian, pasti sangat nyaman dan bebas. Kau mau, kan?"

Sakura tidak menjawabnya. Tangannya masih sibuk menggerakkan sisir di atas rambut Ino, tapi matanya seperti menerawang.

"Saku-chan… Jawab aku!" Ino menyenggol kaki Sakura dengan sikunya tak sabar, membuat sahabatnya itu mengerjap, seperti baru tersadar dari lamunan.

"Aa—Iya, iya…" Sakura menyisir rambut panjang Ino ke samping. "Rambutmu ini halus sekali, Ino-chan… Pasti sering dirawat."

"Pastinya…" Gadis itu kembali menoleh, nyengir. "Aku tadi baru creambath."

"Souka?" Sakura beranjak dari ranjangnya untuk meletakkan sisirnya di meja rias, lalu menguap lebar-lebar. "Sebaiknya kita tidur. Sudah hampir subuh…"

"Hmm…" Ino pun naik ke tempat tidur yang sempit, sedikit merapat ke pinggir sehingga masih ada tempat untuk Sakura berbaring di sampingnya.

Sakura kembali mematikan lampu sebelum bergabung dengan Ino, berbaring memunggunginya. Ia menaikkan selimut dan tidak terkejut ketika merasakan tangan Ino menyusup ke pinggangnya, memeluknya dari belakang. Ia sudah terbiasa. Tapi entah mengapa kali ini perasaannya sedikit lain –seperti kebas. Mendengar Ino menyebut-nyebut soal biola lagi kembali mengingatkannya pada kompetisi itu.

Perasaan cemburu itu merasuk lagi.

Mereka sudah menyiapkan tempat itu untuk Ino. Bukan untuk yang lain…


Bersambung…


Makasih sudah membaca… ^_^

Maaf sudah menyampah di sini…