[ Darling, Don't Be Scared ]
By Michi D Rebels

H. Sakura x U Sasuke
Dark Romance / Rated T / Indonesian

OOC, AU, Gaje, Typo(s), dan masih banyak lagi [?]

: : :

Naruto © Masashi Kishimoto

: : :

Chapter 4 / Interactions with Sasuke
"Aku sudah punya pacar."

: : :

Sasuke kaget saat merasakan getaran dari dalam kantongnya. Matanya mendapati Sakura sedang menelepon sambil melihat sekitar termasuk dirinya. Jangan-jangan… Sasuke langsung meraih handphone miliknya dari kantong dan melihat tulisan My Princess tertera dengan jelas di layar. Sakura memang pintar. Sasuke pun tidak mau kalah; ia tau pujaan hatinya sedang memandanginya dengan penasaran. Ia langsung bangun dari tempat duduknya dan pura-pura mengangkat panggilan agar tidak terlihat mencurigakan.

"Halo? Oh, Ibu, ada apa?" Sasuke sangat bersyukur handphonenya tidak diberi ringtone – hanya bergetar – sehingga Sakura tidak akan menyadari jika ini benar atau tidak.

Dari pinggir mata, Sasuke sadar bahwa pujaan hatinya sudah menurunkan handphonenya dari telinga dan menempatkan handphone itu di meja. Ini bukan saatnya, Sakura. Ini masih belum saatnya. Ia masih terdiam memandangi perempuan berambur merah muda itu dari belakang sebelum akhirnya sadar bahwa ia harus segera menyelesaikan sandiwara "di telepon oleh ibunya" ini.

"Aku sudah titipkan pada bibi. Ibu ke sana saja ya. Aku masih di sekolah… Iya, aku juga sayang padamu."

Setelah itu, Sasuke kembali duduk ditempat. Matanya tidak meninggalkan sosok Sakura sama sekali daritadi. Gadis itu tampak tidak tenang dan masih penasaran. Sasuke langsung mengetik sebuah pesan di handphone miliknya. Sakura sepertinya ketakutan, mungkin

[ Kau kenapa? Kau ingin aku datang kepadamu sekarang untuk membuatmu sedikit lebih nyaman? ]

Terdengar sebuah suara datang dari arah Sakura. Sasuke tau handphone milik Sakura lah yang berbunyi yang tandanya pesannya sudah masuk. Aku penasaran apa yang akan dia lakukan sekarang… hmm. Tak lama, Sasuke merasakan handphone nya bergetar. Ia tanpa menunggu lama langsung membuka pesan yang baru saja ia terima.

Kalau memang itu mau mu, kenapa kau tidak datang saja sekarang? Aku ingin tau siapa kau sebenarnya.

Keberanian yang tinggi hm? Sasuke hanya bisa tersenyum diam-diam. Ia merasa senang akhirnya mendapat balasan – tapi saat ia akan mendatangi Sakura – beberapa orang masuk ke dalam kelas dan menghancurkan rencananya.

Sasuke langsung berpura-pura maju ke depan kelas untuk menghapus papan tulis yang kebetulan belum di bersihkan. Bel tak lama berbunyi menandakan kelas akan segera dimulai. Mungkin memang tidak seharusnya Sakura mengetahui siapa stalkernya sekarang. Usai menghapus papan, Sasuke kembali ke tempat duduknya dengan tangan yang di masukkan ke kantong. Pintu kembali terbuka dengan sejumlah murid berhamburan masuk ke kelas dan seorang guru psikologi di belakang mereka yang langsung menyodorkan sejumlah kertas. "Shikamaru, tolong bagikan kertas-kertas ini."

"Baik." Jawab Shikamaru sambil meraih kertas itu dan berjalan ke meja teman-temannya. Ia menyadari Sasuke saat ini masih memandangi Sakura dan sebuah ide masuk ke kepalanya: menghampiri Sakura dan mengajaknya bicara. Tempat duduk mereka tidak begitu jauh, jadi pasti temannya itu dapat mendengar pembicaraan mereka. "Emmm.. Hei, Sakura. Apa kau punya pacar? Atau kau sedang menyukai seseorang saat ini?"

Shikamaru, walau tidak melihat Sasuke dengan jelas, dapat menyadari bahwa pria itu sedang memandangi mereka dengan tatapan yang tajam. "Huh?" Sakura agak kaget dan langsung melihat ke belakang; lebih tepatnya ke arah Sasuke. Shikamaru juga ikut melihat temannya lagi. Sasuke ternyata mengalihkan pandangannya dengan cara yang agak kasar; seakan tidak tertarik mendengar pembicaraan mereka.

Kenapa hatiku jadi sakit begini melihat dia seperti itu? Sakura berpikir dalam hatinya. Mungkin aku harus membalasnya. Dengan berani, gadis berambut merah muda itu langsung menjawab tanpa ragu-ragu. "Aku sudah punya pacar," jawab Sakura sambil sedikit menaikkan volumenya. "Memang kenapa Shikamaru?"

"Sayang sekali, aku ingin mengajakmu jalan-jalan malam ini." Shikamaru mengangkat bahunya dan memasang wajah malu sambil menghela nafasnya, lalu ekspresinya berubah menjadi ceria lagi sembari tertawa kecil. "Yasudah, mungkin lain kali saja saat kau sudah tidak memiliki pacar."

Sakura hanya tertawa untuk membalas perkataan Shikamaru barusan.

"Bantu aku membagikan ini…ya?" Shikamaru bertanya sambil memberikannya beberapa kertas dan langsung pergi ke meja-meja bagian lain. Untung meja Sasuke tidak disentuhnya.

Sakura menganggukan kepalanya senang; ia sangat senang bahwa ia akan berjalan mendekati pangeran pujaannya sambil membagikan kertas. Sesampainya di depan meja Sasuke, Sakura menempatkan kertas itu di atas mejanya dan tidak sengaja menyentuh tangan pria berambut hitam itu. Hangat sekali, apa dia sedang tidak enak badan? Atau… marah? Kalau memang marah, berarti daritadi Sasuke mendengarkan pembicaraannya dengan Shikamaru.

Akhirnya Sakura memilih untuk pergi sekarang untuk membagikan kertas kepada teman yang lain sekaligus meninggalkan kesan misterius setelah menyentuh tangannya.

"Sakura," panggilnya.

Apa ini mimpi? Sakura mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata hitam kelam milik Sasuke. Jantungnya akan benar-benar copot sekarang; setelah dipanggil, ia juga dapat bertatapan dengan pujaan hatinya dengan jarak yang bisa di bilang tidak terlalu jauh. "Hm?" jawabnya dengan nada monoton.

"Apa…kau percaya tentang cinta pandangan pertama? Apa kau percaya bahwa cinta harus di cari terlebih dahulu?" Pertanyaan Sasuke agak terdengar klise di telinga Sakura karena sering menonton film dan membaca buku roman yang penuh dengan kutipan klise dimana-mana.

Mengapa kau bertanya tentang hal ini? Apa kau suka padaku?

Sakura mencoba untuk menutupi rasa senangnya dan hanya menjawab dengan seadanya, dingin dan tanpa ekspresi. "Tidak, aku hanya percaya jodoh itu di tangan tuhan."

"Oh." Sasuke menjawab dengan nada yang terdengar pahit. Sama seperti gadis di hadapannya, ekspresinya dingin dan tidak menunjukkan perasaan apapun. Sakura akhirnya pergi meninggalkannya seperti tidak bersalah. Walau aku tau kau hanya ingin mengujiku, aku merasa sakit. Mungkin nanti ia akan membalas rasa sakitnya.

Sakura menghela nafasnya sambil membagikan kertas terakhir pada temannya sebelum kembali ke tempat duduk miliknya sendiri. Handphone yang ada di kantongnya tiba-tiba berbunyi. Tangannya masuk ke kantong untuk meraih handphone tersebut dan membuka notifikasi yang ada di layar kacanya. Sebuah pesan…lagi. Yang tadinya Sakura merasa lega sudah tidak mendapat pesan, sekarang kembali tidak tenang saat membaca isi pesan tersebut.

Mengapa kau berbohong kepada Shikamaru soal pacar? Bukankah kau mencintai ku? Sayang, jangan percaya siapa-siapa selain diriku. Dunia ini jahat, begitu juga orang di dalamnya.

From: Unknown Number

Sakura langsung menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Stalkernya adalah seseorang yang ada di dalam kelas ini. Sepertinya…stalkerku benar-benar bagian dari murid-murid mesum yang kerjanya berbincang tentang hal aneh di pojok kelas. Kini, Sakura makin gugup dan ketakutan. Ia tidak berani melihat sekitar karena takut bertatapan dengan orang yang sedang mengintainya sekarang.

Jangan takut, sayang. Tak lama lagi kita akan bersama. Selamanya.

From: Unknown Number

Haruskah aku merasa semakin takut? Sakura hanya dapat berpikir sendiri dalam ketakutan dan kegelisahannya. Setelah menarik nafas panjang, ia memutuskan untuk fokus ke tugas yang sudah di beri guru psikologinya dan mulai menulis di kertas kosong yang ada di atas mejanya.

: : :

Sakura saat ini sedang makan di meja kantin…sendirian. Matanya hanya memandangi pemandangan sekitarnya. Sakura sudah terbiasa sendirian sejak pertama ia masuk sekolah. Bergaul dengan teman sekolahnya bukan hal favoritnya; walau memang kadang teman datang sendiri ke hadapannya sehingga membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain berteman dengan mereka. Setelah di pikir-pikir, berteman tidak begitu sakit.

"Hey, Sakura," panggil seseorang dari arah samping.

Sakura dengan refleks langsung melihat ke sampingnya dan mengangkat alisnya sedikit, terlambat menutupi rasa kaget yang sedikit mengonsumsi tubuhnya tadi. Kini hanya ada rasa gelisah karena…. "N-neji."

"Adik ku bilang kau terjebak di toilet tadi. Apa benar?" tanya Neji penasaran sambil memegang lengan lalu tangan milik Sakura. "Apa kau terluka? Ada apa sebenarnya? Tolong beritahu aku–"

Apa-apaan ini. Sakura langsung melepaskan tangannya dari genggaman pria yang tadi mencium pipinya. "Kau sebabnya aku terjebak di toilet itu tau!"

"Apa maksudmu? Aku daritadi di kelas–"

"Sudahlah diam saja." Sakura memotong perkataannya sambil menghabiskan makanan yang ada di meja. Matanya kini kembali melihat sekitar dan tiba-tiba terbelalak saat melihat pangerannya sedang makan dengan seorang perempuan berambut pirang pucat di sebelahnya. Yang membuatnya makin marah adalah gadis itu mulai menyentuh bahu Sasuke seakan sedang memijitnya. Ino… kau akan mati di tanganku.

"Sakura, wajahmu kenapa? Apa kau sakit?" Neji langsung menempatkan kedua tangannya di bahu milik Sakura dan mencoba menganalisa ekspresi wajahnya, memastikan bahwa gadis disebelahnya itu tidak sedang merasa sakit saat ini.

Sakura hanya terdiam tidak menjawab. Mukanya memerah saat melihat Ino memberikan sebuah kertas kepada Sasuke yang mengangguk dan tersenyum senang; ditambah dengan Ino yang mengacak rambut Sasuke sebelum pergi. A-apa mereka sudah pacaran? Tidak mungkin! Aku pasti akan tau jika memang iya. Dan Ino pasti akan sudah mati ditanganku sejak lama. Sakura masih tidak percaya Sasuke sebegitu senangnya disebelah perempuan itu.

"Sepertinya kau memang sakit–" Neji langsung kewalahan sambil berdiri dari tempat duduk. Ia makin kewalahan saat melihat air mata keluar dari mata hijau Sakura dan menggaruk kepalanya bingung; apa yang harus ia lakukan karena Sakura sama sekali tidak menjawab pertanyaannya daritadi. Neji tanpa menunggu lama langsung mengangkat Sakura dengan bridal style dan membawanya ke ruang klinik sekolah.

Sakura berteriak kaget saat merasakan tubuhnya digendong. Suaranya serak dan terdengar sedikit aneh karena efek menangis. "Neji, lepaskan aku! Aku tidak apa-apa–"

"Sudah, kau sepertinya demam." Jawab Neji sambil membuka ruang klinik dengan hati-hati dan menempatkan gadis itu di atas kasur.

Saat tau Neji tidak akan kemana-mana, Sakura memilih diam namun tidak ingin tertidur karena gelisah jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Ia meraih handphone dari kantongnya dan mulai membuka kotak pesan; dan mengetik sesuatu untuk dikirim ke pangeran yang telah menghancurkan hatinya.

[ Apa yang akan kau lakukan jika Ino menghilang… pangeranku? Apa kau akan merasa sakit seperti rasa sakit yang aku rasakan saat ini? ]

"Sakura…" panggil pria yang sedang duduk di sofa dekat pintu masuk. "Kau lebih baik tidur agar sakitnya hilang. Muka mu masih memerah."

Sakura hanya mengangguk pelan dan berbalik menghadap ke arah lain dimana pria aneh itu tidak dapat melihatnya. Aku harus tetap terjaga. Semoga saja, Neji tertidur sambil menunggunya di klinik yang nyaman dan ber-AC ini.

Kira-kira setengah jam kemudian, Sakura pelan-pelan menoleh ke sofa dimana Neji sedang duduk dan mendapatinya tertidur. Bagus. Perlahan, ia turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu sambil berharap tidak ketahuan oleh 'penjaga'nya itu. Diluar klinik, koridor sangat sepi. Ada suara datang dari kelas-kelas lain, tapi koridor benar-benar sepi. Entah kemana cleaning service yang sering berjalan di koridor.

Begitu juga keadaan kelas saat Sakura berjalan ke kelasnya dan menyadari bahwa hari ini ada pelajaran olahraga. Pasti mereka sedang dilapangan. Sakura jadi teringat akan pujaan hatinya dan kertas yang tadi di terima dari perempuan dari kelas 3-2 saat istirahat tadi. Mungkin kertasnya ada di tas Sasuke sekarang… Sakura langsung bergegas masuk ke kelasnya dan memastikan tidak ada orang lain sebelum menggeledah tas milik Sasuke untuk mencari kertas tersebut.

Tangannya dengan lincah meraba-raba setiap bagian tas milik pujaan hatinya berharap menemukan kertas yang di berikan Ino agar dapat membaca isinya. Saat tangannya merasakan sebuah gumpalan yang ada di kantong untuk botol minum di tasnya, Sakura langsung mencoba mengambil apa yang ada di dalamnya. Sebuah gumpalan kertas.

Sakura cepat-cepat membuka gumpalan kertas itu untuk membaca isinya. Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah nama pengirim. Ino. Ino Yamanaka. Gadis itu tak akan hidup lama. Sakura mencoba mengendalikan dirinya sendiri dan menarik nafasnya beberapa detik sebelum membaca isi pesan.

Sasuke, karena kau pemilik kaset filmnya, aku yang akan datang kerumahmu sabtu ini! Jam 8 kan? ;D

Tangan Sakura kini berubah menjadi sebuah kepalan yang siap menyakiti seseorang. Ini tidak boleh terjadi! Katanya dalam hati sambil mencoba mengedalikan nafasnya. Sasuke tidak boleh berduaan dengan gadis seperti dia… Sasuke hanya milik ku… Perasaan yang Sakura sedang rasakan sangat campur aduk: gelisah, marah, kecewa dan takut. Ia kali ini takut tentang kekasihnya yang seakan-akan di rebut secara tiba-tiba oleh Ino.

Ino akan merasakan akibatnya.

Tiba-tiba handphone Sakura berbunyi dan membuyarkan pikirannya. Ini bukan saat yang tepat untuk membaca pesan tak berguna, tapi Sakura memutuskan untuk membuka pesan tersebut yang tak lain datang dari stalkernya.

Mengapa ada ekspresi murung di wajah cantikmu, sayang? Apa Neji melukai mu? :(

Sakura melihat sekitar. Tidak ada siapa-siapa. Penguntitnya lama kelamaan semakin menakutkan karena bisa menemukannya, tapi tidak dapat di temukan sama sekali. Setidaknya itu apa yang dipikirkan Sakura saat ini.

Handphone yang berbunyi kembali membuyarkan pikirannya. Satu pesan baru masuk ke kotak masuknya. Sembari melihat ke segala hal di sekitarnya, Sakura membuka pesan tersebut dan membacanya dalam hati.

Kau tidak akan pernah bisa menemukan aku, sayang. Tapi tenang saja… aku akan terus mengawasimu, dimanapun kau berada, aku akan selalu ada disana bersamamu. Selalu.

: : :

[ To Be Continued ]

Next on Darling, Don't Be Scared

"Sayang, apa hubunganmu dengan laki-laki itu?"

: : :

Author's Notes / Wah wah, 24 reviews… makasih ya! Author makin seneng tiap dapet review dari readers. Makasih juga yang udah follow dan favorite! Author sangat menghargai kalian yang memberi feedback baik lewat review atau sekedar mem-follow atau favorite aja. Semoga chapter ini kalian suka ya… ini author dedikasiin buat semua yang udah baca. Maap kalo agak ngeselin ato gimana gara-gara kehadiran Ino [?]. Author out, good night! XD


Dinda Oba = Happy reading, Dinda-san! Salam kenal ya. Ini udah di lanjut kok. Semoga suka ya sama chapter ini dan makasih lho udah ngereview. Author seneng banget! =D

Shuu-kun = Hi again, Shuu-kun! Boleh banget kok panggil nama juga. Author gak keberatan =) Hmm aku jg suka K-Pop kok! Tapi sebenernya XOXO in this case itu artinya Kiss and Hugs… bukan mewakili nama lagu salah whahaha. XD Makasih ya udah ngereview!

Cherrydevilla93 = Wah okeee siap deh! =) Tapi masih ada yang lebih menantang coming soon nih hehehe. Jadi prepare yourself ya! Kali ini kebalikan dari chapter kemarin nih. Semoga suka ya, cherrydevilla93-san! Makasih udah review :D

Lightflower22 = Whahaha bener. Sasu kelamaan sih, semoga aja gak lama lagi jadian yah. XD Thank you for your review! Semoga suka sama chapter ini. =)

Xolovnanr = Hello again, xolovnanr-san. Boleh kok panggil Michi-chan juga hihi. =) Reviewnya juga bikin senyum2 nih… jadi makin semangat update. Makasih ya reviewnya! ^^

Charlotte Puff = Hello, Charlotte-san! Salam kenal yaaa *bow* makasih banyak atas reviewnyaaa, seneng ada yang makin penasaran sama cerita ini. I hope you like this chapter ya! =)

PIYORIN = Once again, makasih banyak sudah ngereview! =) Makin di review, makin cepet author pengen update. Hihi =') I hope you'll give your thoughts about this chapter, ya, Piyorin-san! Hope you enjoy this update!

Saku chan = Ini sudah di lanjut kok beb. Hehehe, semoga suka yaaa! Thank you for reviewing dan salam kenal dari author *bow* ditunggu feedback selanjutnya! =)


See you in the next chapter,
Michi. XOXO